Kimi to Boku © Hotta Kicchi
Bittersweet © kyuujitsu
Shonen-ai hints Yuuki Kaname
.
Chapter two
Kaname membuka mulutnya hendak protes. Enak saja dia tiba-tiba mengajukan permintaan seperti itu padanya. Berani sekali dia, berani sekali, berrr-yah, sudahlah.
.
Tangannya bergerak lambat dan seketika itu terdengar suara garpu yang menancap tajam di potongan cake yang masih tersisa sebagian besar di depannya, disusul dengan helaan napas kesal tak lama sesudahnya. Poni hitam yang menutupi wajahnya bergerak mendayu, menyembunyikan sorotan mata tajam yang seakan siap menelanjangi Yuuki saat itu juga.
.
Di seberangnya, lelaki yang ditatapnya dengan geram malah tersenyum jahil. Rupanya dia tak peduli, atau sengaja, membuat temannya ini kesal. Tak tampak ekspresi bersalah di raut wajahnya.
Yuuki meletakkan manga yang sedari tadi dibacanya dengan perlahan dan hati-hati. Mau bagaimanapun, manga adalah salah satu hartanya yang berharga. Salah satu. Mungkin saja itulah anggapannya sewaktu memandangi kacamata hitam yang sedari tadi memandanginya dengan penuh perasaan tak biasa itu.
Dia tertawa kecil.
.
Hm, hm.
.
"Ka, Kaname-kun!"
.
Marilah hentikan sejenak keadaan penuh perasaan meluap-luap antara Yuuki dan Kaname sejenak dan berpindah pada Shun yang panik dan khawatir kalau-kalau akan ada kejadian tidak disangka di antara mereka.
.
Dia panik.
.
Tangannya menggapai-gapai Kaname. Dia ingin Kaname berhenti menancapkan garpunya, dan menyodorkannya pada Yuuki, dengan penuh sorotan tajam.
.
Makan!
.
"Yuuki-kun!"
.
Matsuoka Shun, berusaha dengan sebaik mungkin untuk memperingatkan temannya, yang sedang disodori garpu dengan secuil cake cokelat di depannya.
.
"Hn?"
.
Kedua bola mata itu menatap dengan seksama saat potongan cake dan ujung garpu itu masuk ke dalam rongga mulut salah satu si kembar. Masuk, begitu saja. Potongan benda yang terbuat dari stainless steel itu dengan mudah dan tanpa gangguan berhasil menyentuh bagian lidah Yuuki. Menyentuhnya.
Yuuki dapat merasakan sensasi dingin tapi manis mulai menjalari lidahnya. Rasa itu lumer bersamaan betapa tak biasanya sorot kedua mata dari lelaki berkacamata di depannya. Ini tak pantas untuk dilewatkan, sungguh tak pantas.
.
"Ah…"
.
Hanya satu kata itu yang terucap dari mulut mungil Shun.
.
"Ini enak, Kaname"
.
Tsk. Respon yang cukup mengesankan, Yuuki.
.
Tapi toh Kaname tak mengucapkan komentar itu. Dia sibuk menarik garpu miliknya dengan gerakan lambat dan kembali duduk di kursinya, setelah sebelumnya dia /terpaksa/ untuk agak membungkuk untuk menyuapi Yuuki.
.
Baiklah. Sudah saatnya Shun untuk menarik napas lega. Tak terjadi apa-apa. Tidak terjadi. Semua hanya hal normal. Satu teman baiknya menyuapi cake cokelat ke teman baiknya yang lain. Helaan napas dan elusan di dada sepertinya cukup membuktikan kalau Shun sudah kembali tenang.
.
Kaname masih juga menggenggam garpu yang digunakannya tadi. Tatapannya juga tak banyak berubah. Diliriknya sepintas batangan itu dan tanpa disadarinya, dia mengecap sisa rasa yang ada.
.
Oh.
.
Benar juga. Cake ini sekarang terasa enak.
