.

.

.

BALLAD

HunHan Fanfiction

Se Hun/Lu Han/Baek Hyun

REMAKE!Ballad, A Gathering of Faerie

by

Maggie Stiefvater

Chara belong to themselves

Yaoi/HunHan broken!HunBaek/Typo's Area/OOC

Happy Reading!

.

.

.

Se Hun

"Se Hun. Se Hun! Kau melihat mereka? Mereka datang karena kau!"

Aku bersusah payah memusatkan perhatian, "siapa mereka?"

Baek Hyun berjalan menjauhiku dan memandang bukit dengan mata menyipit, memperhatikan kegelapan, "para peri. Aku tidak tahu-ada empat? Lima?"

Pemuda itu benar-benar membuatku takut. Dia bergerak begitu cepat tampak dapat terjatuh sewaktu-waktu, "Baiklah, Baek, berhenti. Kau bikin aku mabuk laut. Sekarang apa-peri? Lagi?"

Sesaat Baek Hyun memejamkan matanya. Ketika sepasang netra itu terbuka, dia terlihat seperti dirinya yang sesungguhnya. Tidak seberapa kalut, "bodoh sekali. Kurasa aku bertingkah aneh. Sepertinya aku melihat mereka dimana-mana."

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Melihatnya saja terasa menyakitkan, dan rasa itu sudah kulupakan. Rasanya seperti serpihan-bukan ketika serpihan itu menancap dikulitmu, tetapi rasa sakit yang menjalar perlahan setelah serpihan itu kau cabut.

Dia menggelengkan kepalanya, "bisakah aku lebih bodoh lagi? coba bayangkan, sudah lama aku tidak bertemu denganmu, dan dalam lima menit pertama aku sudah mengeluh. Aku-aku minta maaf karena belum punya waktu menemuimu."

Untuk sesaat aku mengira "aku minta maaf" itu akan diikuti kata-kata lain. Sesuatu yang sangat berarti yang menunjukkan pengakuan bahwa dia telah menyakitiku. Ketika akta-kata itu tidak muncul, rasanya aku benar-benar ingin mencibir dan membuatnya merasa tidak enak, tapi aku tidak berani. Alih-alih, aku malah menyelamatkannya, seperti seorang pemberani. Aku memang seorang idiot yang dihukum cinta, "Yah menurut brosur, luas kampus ini lebih dari lima belas acre. Butuh waktu bertahun-tahun sampai kita bisa bertemu."

Baek Hyun menggigit bibirnya, "aku sama sekali tidak tahu kalau jadwal sekolah sepadat ini. Tapi-wow! Senang sekali rasanya bertemu denganmu."

Untuk beberapa saat lamanya, suasana terasa kikuk. Biasanya kami saling berpelukan dalam suasana kikuk seperti ini, sebelum musim panas lalu. Sebelum lelaki itu muncul, dan jauh sebelum aku mengirimkan pesan singkat itu. Kami berdua tidak bisa melupakannya.

"Kulitmu gelap sekali," kataku. Bohong; kulit Baek Hyun tidak gelap.

Baek Hyun tersenyum, "dan rambutmu pendek."

Aku mengusap satu tangan pada kepala dan jemariku menyentuh sebuah luka diatas telinga. "rambut bagian ini harus dipotong pendek supaya lukanya bisa dijahit. Aku memotong seluruhnya supaya tidak aneh."

Baek Hyun tertawa membuatku ingin bertanya padanya tentang kabarnya, tentang para peri itu, dan tentang pesan singkat, tapi sepertinya aku tidak bisa mengatakan hal-hal penting.

"Apa yang kaulakukan disini?"

Aku dan Baek Hyun berbalik, menatap salah satu guru: Cho Dal Hee. Pemandangan yang dramatis. Dalam keremangan cahaya, dia terlihat seperti sesosok hantu kecil yang pucat. Wajahnya mungkin akan lebih cantik seandainya tidak berekspresi masam, "ini bukan halaman sekolah."

Sesuatu yang salah seolah menyentiku, sekalipun baru beberapa detik lalu aku menyadarinya. Dia datang dari arah bukit, bukan sekolah.

Dal Hee menjulurkan lehernya memandang tajam Baek Hyun, "aku tidak tahu kalian berasal dari sekolah semacam apa. Tapi kami tidak mengizinkan perilaku semacam itu disini."

"Bukan seperti itu, kami hanya menunggumu"

Baek Hyun menatapku dengan sorot tajam, tapi tidak seperti Dal Hee memandangiku. Dia terlihat marah, atau ketakutan? Setelah terdiam beberapa saat, dia akhirnya berkata, "ayo kembali ke asrama dan aku akan melupakannya."

Kurasa aku bukanlah satu-satunya orang yang berlari mengikuti alunan musik itu

~o0o~

Kepada: Se Hun

Dari: Baek Hyun

Tadi malam itu aneh. Aku kangen ngobrol sama kamu seperti dulu. Bukan karena kamu pasti mau mendengarkan apa yang kupikirkan. Seperti dia. Sekarang aku tahu apa artinya sakit hati. Rasanya aku mau muntah jika mengingat

Kirim pesan? Tidak

Simpan pesan? Ya, selama 30 hari

~o0o~

Kepada: Se Hun

Dari: Baek Hyun

Ketika aku melihat para peri itu, kupikir aku akan melihatnya juga. Tapi mereka itu tidak nyata. Aneh rasaya berada di TA. Seolah-olah berpikir kau akan pergi ke surga, tapi ketika tiba ternyata kau berada di Cleveland.

Kirim pesan? Tidak

Simpan pesan? Ya, selama 30 hari

~o0o~

Se Hun

Di TA kami diharuskan mengambil dua kredit mata pelajaran Pertunjukan Musik untuk mengasah kemampuan agar bisa mengesankan perguruan tinggi. Kami wajib mengambil mata pelajaran instrumen pipa sementara di Thornking-Ash sendiri tidak ada guru bagpipe sehingga aku harus bersusah payah mencari seorang instruktur.

Aku memarkir mobil secara pararel di depan toko bertuliskan Evans-Brown Music dan berpikir bahwa membubuhkan tanda hubung pada nama tempat adalah tradisi di kota ini.

Setelah mengeluarkan kotak bagpipe dari jok belakang, aku berjalan menuju toko alat musik itu. Di luar interiornya memuakkan dengan warna hijaunya, ruangan dalam terkesan hangat dan akrab dengan karpet cokelat tua dan panel cokelat keemasan pada dinding deretan gitar. Seorang pria tua yang sepertinya gagal berdandan ala 60-an tengah duduk dibelakang konter dan membaca Rolling Stone.

"Aku kemari untuk pelajaran musik," ujarku.

"Jam berapa? Tiga? Kau datang tepat waktu kalau begitu. Silakan ke lantai atas," si Hippie Tua menunjuk arah belakang toko, "gurumu namanya Tae Young, pelajaran apapun itu. Dia satu-satunya instruktur di sini saat ini."

Aku berterimakasih, menaiki anak tangga berlapis karpet yang mengeluarkan bunyi berderit menuju lantai dua. Di koridor gelap dan sempit terdapat tiga pintu, dan Bill berada dibelakang pintu nomor dua. Aku mendorong pintu dan membukanya sedikit lebih lebar, kemudian melihat bahan peredam suara di dinding, kursi kayu tua yang kelihatannya dipaaki sebagai media latihan mencakar untuk bayi harimau, dan seorang lelaki berambut abu pada salah satu kursi.

"Hola, aku Se Hun." Sapaku.

Dia tidak berdiri, tapi tersenyum dengan cukup bersahabat, menjabat tanganku, dan menunjuk kursi diseberangnya, "aku Tae Young. Bagaimana jika kau mengeluarkan alat musikmu dan memainkan sesuatu untukku, supaya aku mengetahui sampai di mana kemampuanmu?"

Aku menurunkan kotak alat musikku, berlutut disebelahnya, kemudian mengambil pipa dari dalam kotak. Sekilas aku memandang Tae Young. Wajahnya sudah berpaling agak kesamping dan dia membaca stiker-stiker yang menempel di permukaan kotak alat musikku.

"Apa yang akan kau tampilkan?" tanyanya kemudian (setelah mendengus perlahan akibat kotak musikku yang terlihat seperti baru saja memasuki neraka).

Aku menggeleng sesaat sementara Tae Young mengangkat alis memperhatikan aku menyetel nada sekitar duapuluh detik. Dia mendengarkan bagaimana aku menyelaraskan nada sementara menyetelnya.

Awalnya aku akan memulai dengan nada lambat, kemudian mengakhirinya dengan luar biasa sehingga dia akan mencium sepatuku. Tapi bunyinya akan begitu nyaring dan aku ingin mengakhirinya segera. Aku memainkan salah satu permainan favoritku, musik nada minor yang banyak menggunakan teknik rumit dengan jari. Cepat. Bersih. Sempurna.

Dia menggeleng perlahan, "tidak ada yang bisa kuajarkan padamu. Tapi kau tahu itu ketika kesini, kan? Mustahil ada yang bisa mengajarmu disini. Mungkin tidak dengan negara bagian lain. Kau suka ikut kompetisi?"

"Sampai musim panas ini."

"Kenapa berhenti?"

Aku mengendikkan bahu. Untuk beberapa alasan merasa tidak nyaman memberitahunya, "memenangi kejuaraan dan bosan."

"Kau harus mendaftar ke Carnegie Mellon yang memiliki program alat musik pipa setelah sekolahmu disini selesai. Hanya buang-buang waktu kalau cuma mengambil pelajaran di sekolah musik." Ucapnya tegas menutup pertemuan kami.


Seorang gadis berambut pendek tengah duduk dipinggir trotoar ketika aku keluar dari toko musik atau lebih tepatnya dua inci dari mobilku. Kuletakkan pipa dengan suara ribut, dengan anggapan dia akan memahami maksudku.

Tapi, gadis itu tidak bergerak setelah aku membanting pipaku, jadi aku berjalan memutari mobil dan berdiri di depannya.

"Sayangku,"kataku dengan nada bersahabat, "bisakah kau menyingkirkan tungkai panjangmu yang malas itu keselatan dan membiarkannya pergi?"

Matanya terbuka.

Rasanya seolah aku tenggelam di dalam air es. Bulu-bulu halus di kulitku meremang dan kepalaku memainkan nada melodi seram yang mengatakan tidak normal. Tanpa bisa ditahan, kejadian pada musim panas tergambar di kepalaku.

Gadis tomboy itu-jika memang seorang gadis-mengedipkan mata cokelatnya yang membara padaku. Sorot matanya terlihat bosan, "aku sudah menunggumu selamanya"

Sesaat aku melongo, bukan karena ucapannya, melainkan karena suaranya.

Jesus, bagaimana bisa ada lelaki semanis ini?

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N

~Carnegie Mellon:sebuah universitas swasta di Pittsburgh, Pennsylvania. Didirikan tahun 1900 dengan nama Carnegie Technical Scool dan berubah menjadi Carnegie Institute of Technology (CIT) tahun 1912. Tahun 1967, CIT bergabung dengan Mellon Institute of Industrial Research menjadi Carnegie Mellon.