My First Love Story

By Ishikawa Ayica

Naruto miliknya Masashi Kishimoto

This story is Mine.

Rated : T

Warning : AU, OOC, Abal, Nyesek, bikin emosi, kesal dsb

Jangan di baca jika tak berkenan, tetap review jika berkenan. ^_^

Dan sekali lagi, Kisah ini murni imajinasi author, segala kesamaan yang terdapat di dalamnya dengan cerita lainnya adalah kebetulan semata.

Selamat Membaca.


Cintaku tak pernah seperti dia. Ini tak akan pernah sama.

Sasuke mencintaiku sebagai cinta pertamanya yang tak kan mungkin di lepaskannya, dan aku mencintai Sasuke sesuai keadaan hati.

Sudah ku katakan Sasuke bukan cinta pertamaku, dan itu semakin menyakitiku. Terkadang aku menyesal mengapa aku menerimanya kala itu, dan sekarang aku tak bisa melepaskannya. Bukan karena aku ingin memilikinya melainkan karena aku tak ingin menyakitinya, dan ya ku akui dengan begini akan semakin menyakitinya. Sasuke adalah pemuda yang baik, dia sangat menyayangiku dan menjagaku, meski aku begini adanya. Terbesit rasa bersalah di hatiku, karena aku tak begitu mengerti dan aku tak tau apa aku sedang berpura-pura atau aku sedang bersungguh-sungguh. Jika di tanya apa aku mencintainya, maka jawabanku Ya aku memang mencintainya, dan jika di tanya mengapa sikapku sering berubah maka aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu karena hatiku benar-benar berubah sesuai waktu dan keadaan, tapi aku juga tau Sasuke sedang bingung dengan sikapku yang kadang hangat dan kadang dingin.

Semuanya tak terjadi tanpa sebab, hatiku pernah mati sekali ketika ku kecewa waktu itu, sampai akhirnya aku di pertemukan dengan Sasuke, dan semuanya berjalan baik-baik saja. Aku sangat mencintainya, sampai hari itu aku masih sangat mencintainya, hari dimana ia melukaiku tanpa ia sadari, hari dimana hatiku mati kedua kalinya untuk alasan yang sama. Aku percaya padanya, tapi Sasuke menyia-nyiakan kepercayaan itu.

"Sasuke, aku harus pergi. kau mau mengantarku atau?" tanyaku tersenyum selepas bersandar dari bahunya.

"Kau mau kemana?" tanya Sasuke seolah tak rela padaku.

"Aku masih punya janji dengan Naruto." Ucapku gelisah menatap layar ponselku.

/

/

Dia ingin pergi dari sisiku, sekali lagi hanya untuk orang lain. Aku menatapnya yang gelisah menatap ponselnya, entah itu karena waktu yang menunjukan bahwa Sakura telat dari waktu pertemuan, atau mungkin karena pesan dari Naruto.

"Ada hubungan apa antara kau dan Naruto?" tanyaku dingin pada Sakura.

"Dia? Teman, sahabat, dan juga kakak bagiku." Ucap Sakura tersenyum sangat senang padaku. Hanya menatapnya tersenyum sumringah hanya karena aku menanyakan tentang Naruto membuat kecemburuanku tak dapat ku tahan lagi.

"Andai aku jadi dia." Gumamku yang memilih mengalihkan tatapanku dari Sakura. Sakura mendelik mendengar gumamanku barusan.

"Sasuke aku harus pergi sekarang." Ucap Sakura acuh padaku.

"Pergilah. Aku akan selalu menjadi tempat bagimu untuk kembali." Ucapku kemudian meninggalkan Sakura lebih dulu. Aku tak tau apa yang akan di lakukannya, pada akhirnya selalu aku yang akan tersakiti dan itu pasti.

/

/

Selepas perginya Sasuke, Sakura menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh, kemudian Sakura memutuskan untuk meninggalkan taman secepat mungkin.

Sakura dalam perjalanan menuju Naruto di kedai ramen favoritnya, dan sesampainya di sana Naruto sudah menunggu, dengan tiga mangkok kosong menemaninya.

"Kau sudah makan sebanyak ini?" tanya Sakura tercengang tak percaya pada Naruto yang tengah memakan ramen dengan mangkok ke empatnya.

"Bukan aku yang makan terlalu banyak, tapi ini karena seseorang yang berjalan bagai bayi siput sehingga tak terasa waktu sudah berlalu." Ucap Naruto menatap Sakura malas.

"Maaf. Aku baru saja bertemu Sasuke." Ucap Sakura mendesahkan nafas berat kemudian ikut mendudukan dirinya di samping Naruto.

"Lagi? Wah, dia pria yang tangguh." Puji Naruto kemudian melahap suapan terakhir dari ramennya.

"Ya." Ucap Sakura lirih pada Naruto. Naruto menatap Sakura aneh sambil meminum air putih.

"Kau mau pesan sesuatu dulu?" tanya Naruto pada Sakura.

"Tidak. Aku kesini hanya untuk menemanimu." Ucap Sakura menggeleng dan memaksakan senyumannya pada Naruto.

"Kau datang untuk menemaniku, tapi akhirnya kau malah terlambat." Sindir Naruto setengah tertawa pada Sakura.

"Maaf." Ucap Sakura malas pada Naruto.

"Kau tau Sakura? Kau selalu lambat menyadari sesuatu. Baik tentang aku ataupun Sasuke." Ucap Naruto mendengus kemudian menggelengkan kepalanya.

"Maksudmu?" tanya Sakura tak mengerti pada Naruto.

"Kau mencintainya? Apa kau sadar kau hanya semakin membuatnya terluka? Aku juga laki-laki Sakura, dan jika aku yang berdiri di posisi Sasuke, mungkin aku tak akan bertahan selama ini." Ucap Naruto mengabaikan pertanyaan Sakura.

"Aku sudah bilang padamu aku mencintainya, tapi.." ucap Sakura serius kemudian terdiam begitu saja.

"Banyak dari kita yang tersakiti oleh masa lalu, tapi masa kini akan terus berjalan menuju masa depan, jika jiwamu tertinggal di masa lalu, kau tidak akan pernah bisa bahagia." Ucap Naruto tersenyum mengacak rambut Sakura. Sakura hanya diam menunduk mencerna perkataan Naruto.

"Kau tidak mengerti." Ucap Sakura akhirnya tetap bersih keras pada pendapatnya.

"Ya, aku memang tidak mengerti. 3 tahun lalu kau menangis pilu dalam pelukanku karena cinta pertamamu yang brengsek itu, kemudian setahun yang lalu kau memelukku karena bahagia dengan cintamu yang kembali mekar bersama Sasuke, namun kini semuanya hilang. Kau tidak sebahagia saat pertama kalinya kau dan Sasuke bersama, kau tak manja seperti dulu, dan kau benar-benar telah membeku. Menjadi tak perasa dan kejam, sampai kau tak sadar bahwa Sasuke yang sekarang sedang berdiri di posisimu tiga tahun yang lalu. Dan itu sama persis." Ucap Naruto menghakimi Sakura dan menatap Sakura tajam. Sakura terbelalak kaget dan menatap Naruto dalam-dalam. Ia baru menyadarinya, bahwa apa yang dialaminya dulu, sedang di alami Sasuke saat ini.

"Dan sekarang, kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Naruto menyeringai menatap Sakura yang seolah baru sadar dari tidur panjang.

"Kau benar. Terima kasih Naruto, kau telah mengingatkanku. Tapi hatiku, bukan aku yang mengaturnya dengan sengaja. Sasuke juga melakukan hal yang tak seharusnya dia lakukan." Ucap Sakura kembali menatap Naruto dengan tatapan kosong.

"Untuk itu pergilah dan temui dia, bicarakan semuanya agar kau bisa memaafkannya dan dia bisa meminta maaf padamu." Ucap Naruto santai menatap Sakura yang biasa saja.

"Kau tau? Kau terlalu peduli Naruto. Aku beruntung memilikimu." Ucap Sakura tersenyum tulus pada Naruto.

"Entahlah Sakura, kau sudah terlalu banyak memelukku, dan aku khawatir suatu saat nanti aku tidak akan sanggup melepaskan pelukanmu. Aku juga seorang pria Sakura, aku tak tau kapan perasaanku akan benar, perasaan kita bukan kita yang mengaturnya. Yang pasti tidak untuk saat ini, mungkin saja nanti saat aku akan bertarung dengan Sasuke dengan cara yang layak dan seimbang." Ucap Naruto tersenyum dan mencubit pipi Sakura. Sakura terperangah, Naruto hanya mendengus menahan tawa, sampai akhirnya Naruto kembali bersuara menyadarkan Sakura dari keterkejutannya.

"Temuilah dia, jika aku jadi dia, aku tak akan suka kekasihku lebih memilih sahabatnya di banding aku. Meskipun kau akan membenciku aku tetap akan mengurungmu dalam penjaraku, Karena kau tau? Itulah harga dari sebuah keegoisan untuk memilikimu seutuhnya, karena hatimu yang beku dan tak dapat aku ataupun dia mencairkannya untukmu. Kau begitu dingin dan tertutup." Ucap Naruto panjang lebar, kemudian mengecup jidat Sakura dan pergi lebih dulu dari kedai ramen, meninggalkan Sakura yang menunduk sedih.

/

/

Aku keluar dari kedai ramen dengan perasaan yang campur aduk dan tertekan. Naruto mungkin benar, bahwa aku bersikap tak adil pada Sasuke, aku tak tau lagi bagaimana seharusnya aku menyikapinya. Aku mulai berfikir mungkin, hubungan ini tidak akan pernah berhasil. Satu yang ku harapkan tuhan, jangan biarkan Naruto ikut masuk ke dalam lingkaran menyakitkan ini.

.

.

Sakura berjalan pulang menuju rumah, karena Sakura sedang bolos dan tak ada lagi tempat yang ingin dia kunjungi. Sakura begini lagi, semuanya terasa hambar baginya, tak ada yang menarik dari apa yang dia alami, hanya perasaan samar yang takut tuk mencoba karena tak ingin kembali di sakiti dan di kecewakan.

Sakura baru saja tiba di rumah, ketika dia tau Sasuke sedang menunggu di ruang tamu, dia edarkan pandangan secara menyeluruh ke setiap sudut rumah namun tak dia dapati satu orangpun di sana kecuali Sasuke.

"Orang tuamu sedang keluar." Kata Sasuke yang mengerti maksud dari pandangannya. Sakura masuk kemudian duduk di samping Sasuke.

"Sudah lama?" tanya Sakura pada Sasuke

"15 menit." Jawab Sasuke.

"Mau ku buatkan sesuatu? Kau mau minum apa?" tanya Sakura lagi pada Sasuke. Sasuke hanya menatap Sakura dalam, Sakura mengangkat sebelah alisnya ketika tak juga mendapat jawaban dari Sasuke, Sakura berniat bergegas masuk kedalam kamarnya untuk ganti baju, namun niatnya itu terpaksa ia batalkan karena saat dia akan berdiri Sasuke menahan lengannya kemudian Sasuke memeluknya erat.

"Sasuke!" seru Sakura pada Sasuke.

"Untuk sebentar saja tetaplah di sisiku." Kata Sasuke memelas pada Sakura meski Sakura tak bisa menyaksikan ekspresi Sasuke seperti apa.

"Sasuke, kita baru saja bertemu jangan seperti ini dan tolong lepaskan aku." Kata Sakura enggan dan berusaha melepas pelukan Sasuke.

"Aku tidak suka banyak bicara, tapi kenapa aku harus banyak bicara di depanmu? Aku tak terbiasa berterus terang tapi aku merindukanmu, kau sangat dekat sekaligus jauh, ku mohon tinggallah sebentar saja, dan aku akan kembali pada diriku yang sebelumnya, biarkan aku menyampaikan rasa ini untuk yang terakhir kalinya, aku hanya ingin memelukmu." Ucap Sasuke sedih pada Sakura. Sakura yang kaget kemudian berhenti meronta. Sasuke memeluknya semakin erat dan Sakura merasakan sesak. Bukan sesak karena Sasuke memeluknya erat melainkan sesak mendengar kata-kata Sasuke yang mengatakan Dirinya akan kembali seperti sebelumya.

"Itu berarti... Dingin dan tak perasa, cuek juga tak banyak bicara." Gumam Sakura.

"Karena aku tak ingin kehilanganmu, dan aku tak ingin semakin terluka." Ucap Sasuke kemudian melepas pelukannya.

"Ada apa denganmu?" tanya Sakura mulai tak suka dengan perkataan Sasuke.

"Aku tak suka kau selalu pergi bersama orang lain." Kata Sasuke pelan pada Sakura.

"Yang kau sebut orang lain itu Naruto, Sasuke! Dia sahabatku." Ucap Sakura marah dengan suara yang mulai meninggi.

"Dia sahabatmu bukan sahabatku, dimataku dia hanya terlihat sebagai seorang laki-laki yang selalu bersama gadisku." Ucap Sasuke datar pada Sakura.

"Jangan mulai Sasuke!." Ketus Sakura pada Sasuke.

"Kalau aku tak memulai sesuatu bagaimana aku bisa mengerti dirimu? Bisa kau jelaskan apa maumu? Bisa kau katakan apa keinginanmu? Apa yang ada pada Naruto tak ada padaku?" tanya Sasuke yang terpancing emosinya yang memang sudah sangat meletup-letup.

"..." Sakura hanya diam kemudian menundukan kepalanya. Ia tak tau harus menjawab apa ketika Sasuke bertanya, karena bahkan dirinya tak tau harus bagaimana bersikap dan menjawab, karena dia sendiri bahkan tak mengerti apa yang tengah ia rasakan.

"Dan kau selalu diam. Membuatku seolah-olah adalah orang yang selalu bersalah." Ucap Sasuke kesal pada Sakura.

"Maafkan aku.." ucap Sakura merasa bersalah kemudian semakin menunduk.

"Jangan katakan itu, karena saat kau mengatakannya kau akan menjadi orang lain, kau akan berubah lagi dengan semua sifatmu. Maaf jika aku tak mengerti dirimu, aku hanya menyayangimu tapi kau tak terlihat seperti itu. Meskipun aku tau, aku tak ingin kehilanganmu." Ucap Sasuke sedih kemudian mengecup jidat Sakura dan berlalu meninggalkan Sakura sendiri di rumahnya yang besar dengan kesepian, kesedihan di dalam hatinya yang beku.

.

.

Aku menatap punggung Sasuke semakin menjauh, kemudian memijit pelipisku .. aku terlalu lelah untuk memikirkan semua ini, Sasuke dengan perasaan sayang terbesarnya untukku, dan aku dengan perasaan benci terbesarku untuk orang lain, tak tau yang mana, cinta dan benci bersemayam di hatiku, dan aku mulai tak dapat bedakan yang mana cinta dan yang mana benci. Mengapa rasa untuk Sasuke terasa seperti kebencian yang besar? Dan mengapa kebencian untuk 'dia' terasa bagai rindu yang mendalam? Haruskah aku putuskan? Haruskah aku bersembunyi? Tapi Tuhan, sungguh aku tak dapat melepaskan tangan Sasuke, tangan seseorang yang meraihku saat aku jatuh dalam pekatnya kehancuran, tangan yang selalu menepuk pucuk kepalaku dan memelukku. Aku mencintaimu Sasuke, sungguh, tapi perasaan ini seakan bisa meluap saat jarum jam berputar. Jika saja aku bisa kembali, aku akan memilih masa depanku bersamamu yang menjadikanku sebagai cinta pertamamu, cinta pertamamu yang sangat menyakitkan. Terlepas dari semuanya, aku sungguh-sungguh akan dirimu, Uchiha Sasuke.


~TBC~

Yosh, Chap 2 is update!..

Wah,wah.. Pergulatan hati Sakura kayaknya semakin parah aja yah? Yah, saya juga pernah merasa di posisi Sakura sih.. heheh, kok malah curhat yah?

Yosh, Terima Kasih untuk kalian yang sudah menunggu, maaf saya seperti menganak tirikan fict ini karena yang 2 lainnya sudah saya update, tapi sebenarnya nggak kok. Rencananya sih saya mau pending dulu fict ini, tapi saya nggak tega pada semua orang yang sudah menunggu. Dan Terima kasih untuk 9 reviewers pada chap pertama, saya benar-benar menghargai anda. Anda sekalianlah yang menjadi alasan utama saya membatalkan niat saya untuk menunda meng-update cerita selanjutnya dari fict ini. Yosh, tak banyak basa basi lagi ini dia balasan reviewnya.

Milkyways99 : Salam kenal juga ^_^tenang aja, di sini semuanya akan menderita dan galau dengan perasaan masing-masing. Jadi adil merata. Hahahah..sedikit bocoran ntar Sasu juga bakal jaht ke Saku..hehehe. Terima kasih sudah mereview. Maaf sudah membuat kamu menunggu lama.

Rikaochan : Yah, tapi ini dah update lagi kan? Thanks yah dah review.

Eysha 'Cherryblossom : Saya juga bingung dengan si Sakura, jadi orang galau amat yak? Hehehe.. tenang aja, cinta pertama Sakura bakal muncul kok, tapi nanti yah.. Terima kasih sudah mereview.

Guest : Syukur kalau suka. Maaf ya nggak bisa kilat. Thanks dah review..

Sofi asat : Hahaha, Sakura keren yah? Dari mananya? Galau gitu kok. :D tapi Thanks dah review. Maaf yah agak telat updatenya.

Dhita82 : Ya, begitulah. Habisnya saya bosan menjadikan Sasuke sebagai pria paling di puja apalagi oleh Haruno Sakura, sekali-sekali bikin kebalik nggak apa-apa kali yah? Hehehe. Oh ya? Terima kasih kalau begitu. Dan Terima kasih juga sudah mereview.^_^

Guest : Ya, itu juga sedang saya lanjutkan. Terima kasih atas saran dan reviewnya..

Febri feven : Iya say, ini di lanjutin. Makasih dah review ^_^

Namishei : DI lanjut semuanya kok, meskipun agak rada telat sih. Hehe, makasih ya dah mampir dan mereview.

Thanks untuk kalian semua yang sudah mereview.. ^_^