Hey ! Mi-chan balik lagi !
Seperti yang Mi-chan janjikan...Snow : Chapter 2 udah dibikin
Kayaknya Chapter 2 ini fokus ke masa lalu Miku :D
Okay...Selamat menikmati ~
Disclaimer : VOCALOID hanya milik Yamaha dan cerita ini milik saya tentunya
.
.
.
Musim dingin kali ini berbeda dari sebelumnya...
Karena saljunya telah membekukan hatiku
.
.
.
Snow
Chapter 2
Aku berlari menyusuri koridor. Aku bisa mendengar langkah kaki seseorang yang sedang mengejarku. Aku mengenali suara itu, suara yang memanggil namaku dari belakang, "Mi-chaaan! Tunggu!" Itu Gumi...Dia mengejarku.
"Mi-chaaaan!" Suara Gumi perlahan menjauh dan pada akhirnya aku tak mendengar suara apapun kecuali langkahku menuju atap sekolah. Aku membuka pintu atap sekolah dan begitu terbuka, aku berjalan perlahan. Ku tatap langit kelabu nan kelam...merenung masa lalu yang mengubah hidupku.
"Mi-chan..." suara lembut itu memanggil namaku. Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. "Bisa kau jelaskan, mengapa kau ada di sini ?"
"Pergilah!" air mataku menetes. Aku berbalik badan dan melihat seseorang berambut pendek dengan warna teal, warna yang sama dengan rambutku.
"Kau kenapa?! Akhir-akhir ini kau berubah! Kau berbeda dari yang dulu."
"Jadi Nii-chan ingin tahu kenapa aku berubah? Itu semua gara-gara Nii-chan!" aku berlari meninggalkan Nii-chan sendiri. Air mataku terus mengalir. Aku bersembunyi di balik lemari di dekat pintu menuju atap sekolah. Lalu, aku melihat Gumi yang masih berlari mencariku. Aku yakin dia tidak menyadari bahwa dia telah melewati aku. Aku berusaha menguping pembicaraan mereka.
"Mikuo-kun! Kau lihat Miku?" Gumi menghela nafasnya
"Gumi! Tolong jelaskan padaku...Apa yang sebenarnya terjadi pada Mi-chan? Kau teman dekatnya, pasti kau tahu!" Nii-chan menggoyang-goyangkan tubuh Gumi. Aku harap Gumi tidak membeberkan yang sebenarnya pada Nii-chan. Aku takut Nii-chan khawatir terhadap kondisiku sekarang ini.
"Baiklah. Jadi begini...Saat hari pertama sekolah, aku melihat dirinya duduk sendirian dan aku langsung menebak bahwa dia adalah anak yang pendiam. Aku menghampiri mejanya dan mencoba untuk berbicara dengannya sampai aku menjadi teman dekat pertamanya. Anehnya, dia tak mau berbicara dengan siapapun kecuali aku pada saat itu dan ia jadi dijauhi oleh yang lainnya." Aku mendengar Gumi menceritakan kejadian sebenarnya pada Nii-chan. Aku hanya bisa menunduk dari balik pintu.
"Suatu hari Gakupo, laki-laki paling cool di sekolah menyatakan perasaan cintanya pada Miku, tapi Miku menolaknya mentah-mentah. Semenjak kejadian itu dia dicemooh oleh semua orang di sekolah, termasuk Luka..."
"Luka? Siapa dia?" Nii-chan memotong pembicaraan Gumi.
"Dia anak paling cantik dan populer di sekolah dan dia menyukai Gakupo. Tentu saja dia sangat membenci Miku. Oke, kembali ke topik...Semenjak Gakupo menyatakan cinta pada Miku, Sifat Miku langsung berubah...Ia menjadi dingin. Ia tidak mau berbicara kepada siapapun kecuali aku. aku pernah bertanya padanya...'Mi-chan, mengapa kau menolak Gakupo?' dan ia menjawabnya."
"Apa yang ia jawab?"
"Biar kuingat...Dia menjawab seperti ini, 'Cinta itu menyakitkan. Aku tak mau merasakannya lagi.'"
"Apa maksudnya?" Aku dapat melihat kebingungan di wajah Nii-chan. "Baiklah, nanti kutanyakan padanya."
Saat Nii-chan hampir membuka pintu, aku sudah berlari ke kelas. Aku segera duduk di kursiku. Pelajaran dimulai, dan aku belum berbicara pada siapapun.
"Oke...Pelajaran sudah selesai, ada yang masih belum mengerti ?" Kiyoteru-sensei bertanya, tapi tak ada satu orang pun menjawab. "Baiklah, kala begitu saya anggap kalian sudah bisa. Miku, bisa ikut saya ke kantor ?"
Aku tercengang. "Ba-Baik Sensei!" aku pun mengikuti Kiyoteru-Sensei ke kantor guru. Kiyoteru-Sensei meletakkan buku-bukunya dan duduk.
"Miku, karena prestasimu akhir-akhir ini sangat baik, saya akan mendaftarkanmu ke Olimpiade Matematika,"
"B-Benarkah?!" Aku kaget sekaligus senang mendengar itu.
"Ya, tapi kamu masih harus diseleksi dengan murid-murid yang lain. Seleksi akan dilakukan setelah pulang sekolah. Sekarang kau boleh kembali." Aku pun kembali ke ruang kelas.
"Tumben senyum, biasanya cemberut...Hahaha." Luka menghalangi jalanku.
"Permisi, Luka...Aku mau lewat."
"Sepertinya tidak sopan jika aku tak memberikan selamat kepadamu." Luka mengulurkan tangannya.
"Ah, Terima kasih..." Aku tersenyum dan segera menjabat tangannya. Tiba-tiba ia memelintir tanganku.
"Aww! Luka! Apa maksudnya?!"
"Pikir saja, anak bodoh! Apa kau pikir aku senang kau ikut lomba matematika? Tentu tidak!" Luka memasang wajah dinginnya. "Kita akan menjadi saingan dan aku"
"Itu bukan salah Miku!" Aku melihat seseorang berdiri di belakang Luka. "Tolong lepaskan adikku..."
Luka panik melihat Nii-chan tepat di belakangnya, "E-Eh...Mi-Mikuo-Senpai, tentu sa-saja i-ini bukan sa-salah Miku. Be-Benarkan?"
"Tolong minggir..." Nii-chan langung menarik tanganku dan membawaku ke koridor. "Mi-chan...Jadi selama ini kau dibully?"
"Nii-chan ngomong apa sih? Aku baik-baik saja kok.."
"Gumi sudah beritahu semuanya. Kamu ditindas olehnya bukan?"
"Ya benar, aku ditindas!" Aku mendengus kesal.
"Mi-chan…Kenapa kau tidak beritahu, Nii-chan? Nii-chan bisa bantu Mi-chan untuk pindah ke sekolah lain."
"Tak perlu…Aku tak butuh itu, aku tak butuh Nii-chan! Nii-chan tidak menyayangiku kan?"
Kedua tangan Nii-chan menyentuh pipiku, "Aku tahu penderitaanmu selama di sekolah ini. Lupakan kejadian itu! Itu sudah berlalu," Kemudian, Nii-chan memelukku, "Selama ini Nii-chan sayang sama Mi-chan. Nii-chan gak mau Mi-chan menderita seperti ini. Nii-chan tau kamu tersiksa selama ini."
"Lepaskan aku," Aku melepas pelukan Nii-chan, "Kiyoteru-sensei memanggilku. Drama ini ditunda dulu saja, lagipula aku tak butuh nasihatmu kan. Jadi tolong minggir!"
Aku meninggalkan Nii-chan sendiri di koridor. Sesekali aku menoleh ke belakang. Aku melihat wajah Nii-chan yang penuh kekecewaan.
Bel yang menandakan sekolah telah berakhir pun berdentang. Aku segera ke ruang kelas dimana seleksi lomba diadakan. Kelasnya berada di lantai teratas, jadi aku harus menaiki tangga. Ketika aku sedang berjalan melewati koridor, tiba-tiba…
BRAK!
Seseuatu menghantamku dari belakang, "Hei! Kalau jalan lihat-lihat!" Aku meliha buku-buku yang berserakan di lantai.
"Maafkan aku, Miku…Aku buru-buru."
Aku menoleh ke belakang. Ku pasang tatapan dingin kepada laki-laki berambut biru tua itu, "Apakah maaf cukup untuk ini, Kaito?"
"E-Eh?! Aku harus apa ?" Wajah Kaito mendadak panik.
" Baiklah! kali ini aku memaafkanmu."
"Te-Terima kasih, Miku! Dan sekali lagi, aku mi-minta maaf. Sampai jumpa!" Ia mengambil buku-buku yang berserakan dan berlari pergi. Aku berjalan kembali menuju tempat seleksi. Aku membuka pintu kelasnya dan aku hanya melihat Gakupo dan Luka yang sedang berduaan.
Aku tidak menghiraukan mereka dan duduk di bangku terdekat. Sesekali aku mendengar percakapan mereka. Seperti biasa, mereka membicarakan hal-hal yang tidak penting, tetapi lama-lama mereka membicarakanku.
"Gakupo-kun…Kau ingat, kau pernah menyatakan cinta kepada seseorang dan ia menolakmu mentah-mentah?"
"Tentu saja…Mungkin dia wanita yang bodoh." Gakupo melirikkan matanya padaku. Aku tak tahan lagi. Aku berdiri dan menggebrak meja. Secara bersamaan, Kiyoteru-sensei datang ke kelas.
"Uhh..Ano…Saya minta maaf. Ada kabar buruk, sepertinya sekolah kita mengundurkan diri dari olimpiade itu." Kata Kiyoteru-sensei.
"Apa?! Padahal kami sudah mempersiapkannya dari awal dan kau membatalkannya?!" cetus Gakupo.
Kiyoteru-sensei menjawab, "Maafkan aku, Gakupo tapi ini keputusan sekolah dan aku tidak bisa mengubahnya."
"Buang-buang waktu saja kalau seperti ini. Lebih baik aku pulang. Ayo Gakupo!" Gakupo dan Luka pun meninggalkan kelas. Kiyoteru-sensei terlihat sedih. Aku pun menghampirinya.
"Tak apa, Sensei. Masih ada banyak waktu kok."
"Ah…Terima kasih, Miku. Sebaiknya kau pulang." Aku mengangguk. Aku mengmbil tasku dan segera keluar sekolah. Di luar nampaknya sedang bersalju.
Aku menyentuh salah satu butiran salju yang jatuh dan butiran salju itu pecah, "Sepertinya, musim dingin kali ini berbeda dari sebelumnya. Saljunya telah membekukan segala-galanya."
Aku menggosokkan tanganku agar tidak terasa dingin. Kemudian, aku berjalan pulang…Berharap suatu hal akan mengubah semuanya.
TO BE CONTINUED
Mikuo : Kok gaje fic-nya -_-
Mi-chan : Maap…lgi gak mood nulisnya ~
Mikuo : Yaudah -.- Chapter 3 bikin yang lebih gaje ya(?)
Mi-chan : Iya deh -_-
Lupakan percakapan di atas ._. Chapter 3 coming soon, 'kay ?
RnR please~
