Silver : Chap 2 up! Mau tau siapa sasaran selanjutnya langsung saja, read and learn *geplak*

Disclaimer : Pandora Hearts punya-nya Jun Mochizuki

Warning : Blood, OC, Death Chara's, Typo [maybe], dan hal ajeb[?] lainnya.

Summary : "Salju itu indah ya." / "Benar." / "Tapi lebih indah jika kita menghiasinya dengan warna darah!" / Dua sosok kakak beradik yang akan mengirimkanmu sebuah 'hadiah' dimusim salju / OC & Chara death's demi cerita. Oke judul norak #pundung.

.

Present for you

.

Malam salju selanjutnya, terlihat kedua pasangan adik kakak itu kembali berjalan dilorong-lorong kota yang sepi. Seperti yang mereka duga, banyak sekali yang takut-takut keluar dan kalaupun ada pasti akan bergerombolan, dan itu tidak sedikit melainkan banyak.

"Kak, aku malas kalau tidak mendapatkan 'mainan baru'. Ini sudah jam 1 dan kita belum menemukan siapa-siapa." Ucap sang adik dengan nada sedih, jubah berwarna putih seputih salju membuat mereka berdua sulit terlihat dibawah rintikan salju.

"Sebentar lagi akan ada badai. Bagaimana kalau kita menyambut tamu-tamu kita." Ucap sang kakak sembari menyerigai kepada sang adik.

"Baiklah, sepertinya rumah kosong itu bagus." Ucap sang adik sembari menunjuk sebuah rumah yang pas dan nampak memakai perapian.

Keduanya melangkah kerumah itu, setiap jejak langkah mereka tertutupi oleh butiran salju yang turun dari atas. Saat sampai didalam benar-benar sanggat berantakan, akan tetapi ruang tengahnya tidak. Lalu kakak beradik itu terlihat menghangatkan dirinya sembari sesekali membersihkan tempat itu. Hingga tiba-tiba saja sebuah ketukan terdengar dari rumah itu. Si adik menyerigai sementara sang kakak tersenyum pisikopat. Dengan perlahan sang kakak berjalan menuju kearah pintu dan membukakan pintu, terlihat 5 orang remaja yang terdiri dari 2 cewek 2 cowok dan 1 tidak diketahui identitasnya *ditimpuk balok sama Vincet*.

"Salamat datang, apa ada yang bisa saya bantu." Bagaikan seriga berbulu domba sang kakak berbicara dengan nada yang sopan dan mengenakan bagi mangsa mereka.

"Umm, kami hanya ingin numpang beristirahat." Ucap salah seorang dari mereka yang menggunakan kacamata dengan sopan.

"Nama?" Tanya sang kakak.

"Saya Reo, ini Elliot, Zwei, Echo dan Vincent." Ucap Reo sembari memperkenalkan yang lainnya "Anda sendiri siapa?"

"Panggil saja saya, Soda." Ucap sang kakak, karena hempasan angin terlihat poninya terangkat dan memperlihatkankan mata cokelat cerahnya yang bersinar "Silahkan masuk." Ucapnya saat poninya kembali menutupi matanya.

Kelima orang itu terlihat masuk kedalam dan memandangi isi ruangan itu, rapi, bersih dan nyaman. Persis seperti kamar Reo. Tapi sayangnya mereka tidak mengetahui bahwa kebersihan dikamar itu akan menjadi noda karena darah mereka.

"Eh, one-chan. Mereka siapa?" Seperti biasa sang adik memulai sekenario dengan berbicara manis. Poninya ia biarkan terbuka sebelah hingga memperlihatkan mata emerald-nya yang nampak bersinar cerah.

"Tamu kita. Bagaimana kalau kau mengantarkan kekamar masing-masing." Ucap sang kakak sembari tersenyum kearah sang adik. Lalu terlihat sang adik mengangguk dan menuntut para 'tamu' kekamar mereka masing-masing.

"Maafkan saya, fasilitas disini dibagi menjadi 3 ruang, jadi salah satu dari kalian harus tidur sendiri dan sisanya berdua." Ucap sang adik sembari tersenyum kearah mereka. Udah pasti dong, Echo sama Zwei, sedangkan Elliot udah pasti dijaga Leo. Nah loh, berarti Vincent tidur sendiri, berani ngak dia *plak* [sepertinya ini bakalan menjerumus ke humor *down*]

"Siapa namamu?" Tanya Elliot yang penasaran kepada sang adik. Terlihat sang adik tersenyum dan berbalik melihat Elliot [mang tadi dia munggungi ya?].

"Panggil saja aku Zoda." Ucap sang adik sembari tersenyum kearah Elliot kemudian melanjutkan jalannya dengan sebuah senyum pisikopat dibibir manisnya. Lalu akhirnya ia berkumpul dengan kakaknya yang tengah menyiapkan makanan didapur.

"Zoda? Apakah itu kau?" Tanya sang kakak sembari tertawa pelan.

"Sendiri, Soda?" Ucap sang adik terlihat cemberut.

"Hehehehehe, sepertinya para mangsa kita telah lapar ya." Ucap sang kakak dengan senyum pisikopat angkutnya. Si adik hanya mengangguk sembari memasang wajah senang. Sangat senang malahan karena pada akhirnya mereka bisa mendapatkan mainan baru lagi "Hampir jam 3 waktunya sarapan." Ucap sang kakak.

-:-:-

"Elliot, entah mengapa aku merasa heran dengan dua kakak beradik itu." Ucap Leo membuka pembicaraan, Elliot terlihat bingung "Kau tau, mereka terlihat seperti asing disini. Lagi pula sikap mereka sungguh aneh."

"Ha?" Kali ini Elliot benar-benar terlihat tolol. Leo menepuk jidatnya.

"Anggap saja bahwa mereka sedang merencanakan sesuatu terhadap kita." Ucap Leo.

"Oh." Hanya itulah yang bisa Elliot komentari, karena pelayannya ini sungguh membuatnya, radar, atau malah jadi orang goblok banget [Woy! Jangan jerumus ke Humor! Balik ke Horror!].

-:-:-

Vincent nampak sedang asik dengan dirinya sendiri nampak menikmati kesendiriannya dengan memikirkan keseharian kakaknya, ia membuatnya jauh lebih senang. Lagi pula ia juga akan menuntut kepada Elliot yang telah menyebabkan mereka terkurung dibadai seperti ini.

Tok Tok Tok

"Permisi apakah saya bisa masuk?"

"Tentu." Jawab Vincent, terlihat sang kakak masuk kedalam sana dan nampak menyembunyikan tangan kirinya dibelakangnya.

"Waktunya telah tiba." Ucap sang kakak nampak tersenyum.

"Untuk?" Tanya Vincent.

"Masa kau lupa sih?"

"Aduh cinn, maaf ya eike lupa kalau musti be lekong di lampu merah depan dulu." Ucap Vincent tiba-tiba jadi lekong [#sweetdrop.]

"Yaudah deh cin, ntar kasih stor ke akikah juga ya.." Akhirnya OC author juga jadi naas.

HARAP TUNGGU SEBENTAR

Silver : "KALIAN BERDUA BALIK KE DALAM ADEGAN HORROR JANGAN MALAH JADI HUMOR BEGO! INI HORROR BUKAN HUMOR BEGO!"

All chara's : "*cengok, faceplam, sweetdro, bengong* ..."

Silver : "CEPPAPATT!"

Horro kembali dimulai

"Waktunya telah tiba." Ucap sang kakak nampak tersenyum kearah Vincent.

"Untuk?" Tanya Vincent, seketika jendela terbuka dan menyebabkan angin masuk kedalam. Sang kakak mendekat kearah Vincent dan nampak mengangkat belatihnya.

"Mati."

-:-:-

"Hai ladies. Bagiamana kabar kalian?" Tanya sang adik yang memasuki kamar perempuan, terlihat Echo dan Zwei lagi bersantai ria. Kemudian sang adik masuk dan diam-diam mengunci pintu "Aku bosan nih. Temanin aku bermain ya."

"Main apa?" Tanya Echo datar.

"Permainan hadiah."

-:-:-

"Oy, Leo. Kau yakin dengan ini?" Tanya Elliot sembari mengekori Leo. Terlihat Leo mengangguk kemudian melangkah menuju kearah kamar Vincent.

"Vincent-san." Ucap Leo. Kemudian ia mengetuk pelan pintu itu, akan tetapi tidak ada reaksi. Ia kembali mengetuk pintu itu akan tetapi tidak ada reaksi.

"Sepertinya ia tertidur pulas." Ucap Elliot setengah berbisik keLeo. Akan tetapi Leo yang didarahnya mengalir sebuah darah pelayan [?] dengan kekuatan keberanian dengan tidak sopannya menendang pintu kamar Vincent. Dan terbelalaklah mereka melihat sosok Vincent.

Vincent tergeletak ditanah bersimbah darah, tangannya sudah terpisah dan kini tergeletak dibawah tempat tidur, matanya yang berwarna merah hilang dan hanya menyisakan mata berwarna emas, tubuhnya nampak tersayat dan perutnya terlihat berlubang dengan isinya yang berserak-serakkan, serta terdapat sebuah bekas seperti diguting dibagian kakinya dan rambutnya yang berwarna pirang kini tengah bersatu dengan merah. Parahnya disana terlihat sosok sang kakak tengah memegang sebuah belatih dan nampak menjilat darah yang keluar, tentu saja dengan ujung belatih itu adalah mata merahnya Vincent.

"Oh, para tamu telah datang." Ucap sang kakak lalu nampak mengemut mata itu. Membuat Elliot berusaha untuk menahan nafasnya dan juga rasa mualnya. Dengan sigap Leo menutup pintu itu dan menarik Elliot menuju kekamar wanita. Berharap mereka belum naas juga.

Leo tanpa ba bi bu be bo langsung menendang ruang kamar wanita dimana disana ia melihat mayat Zwei yang bernasib sama seperti Vincent hanya saja tubuhnya yang terpotong hanya kepalanya saja. Selain itu terlihat Echo tengah sekarat dengan organ-organ dalamnya yang telah keluar dan nampak tertusuk-tusuk oleh benda-benda tumpul, bola mata kirinya nampak hilang dan terdapat sayatan pisau ditenggorokkannya.

"Hai. Elliot, Leo..apakah kalian ingin bergabung." Ucap sang adik lalu menoleh kearah Elliot dan Leo "Bergabung bermain bersama kami?" Tanyanya kemudian nampak berdiri. Leo dengan sigap menutup pintu itu kemudian berlari akan tetapi didepan mereka nampak sang kakak langsung datang dan menebas Elliot.

"ELLIOT!" Dengan nekatnya Leo mendorong sang master hingga ialah yang terkenak tebasan itu.

"LEO!"

"Per...gi..lah, kau ha..r..us...selama-t!" Ucap Leo. Elliot yang tidak ingin pergi saat ini terpaksa, karena ia tidak memiliki senjata hanya berlari menuju keluar dari rumah itu "AAAKKHHH!"

"Le-o." Gumannya, dan setelah tidak tidak terdengar lagi teriakkan Leo. Elliot kembali berlari, sesuai perkataan Leo, ia selamat. Dan saat sudah berada cukup jauh tiba-tiba saja, tubuhnya dihantam oleh mobil dan terlontar kurang lebih 100 meter dari tempatnya ditabrak tadi.

Pandangnya mulai memudar, merasakan tubuhnya remuk semua ia hanya menunggu. Menunggu malaikat penyelamat yang akan menyelamatkannya, atau menunggu malaikat kematian yang akan mempertemukannya dengan yang lainnya.

-:-:-

"Yah, kenapa pandanganmu lesuh seperti itu?" Tanya sang kakak kepada sang adik yang saat ini tengah mencengkram-cengkram pergelangan tangan milik Leo.

"Dia berhasil lolos. Padahal aku ingin bermain bersamanya." Ucap sang adik kesal dan sesekali menyayat tangan itu dengan belatihnya.

"Tenanglah adikku sayang. Kita pasti bisa merebutnya kembali. Serahkan saja semua ini kepada one-chan'mu tersayang ini ya. Tidak akan kubiarkan salah satu 'boneka'mu lepas." Ucap sang kakak nampak memeluk sang adik dari belakang.

-:-:-

Mayat kembali ditemukan dirumah kosong dengan keadaan tragis dan diruang tamu terdapat tulisan didinding dekat api unggun, semua orang sontak menahan perasaan mereka untuk tidak mual saat melihat jasad-jasad yang bersatu di ruang tamu itu.

Present from us to you
Vincent-san, Echo-chan, Zwei-chan, dan Leo-kun
I will wait and play with you
Elliot-kun

To Be Continued

KALIAN INI TIDAK BECUS APA HAH!?

All chara's : "*Silver masih marah*..."

Oz : Ngomong-ngomong kapan giliran kami?

Kau terlihat pengen cepat mati deh Oz.

Oz : Bukan, masa sebagai tokoh utama aku tidak masuk sih?

Yah, nanti saja kita bahas itu...nah baiklah, saya akan memberikan kalian dua kata kembali yang mungkin sangat sering kalian dengar karena Silver ngak tau mesti nulis apa lagi.

Review ya~ :3