3 bulan yang lalu...
Malam itu, benar-benar malam yang indah bagi Kagura dan Sougo. Keduanya benar-benar menikmatinya dan berbahagia. Sougo melakukannya dengan baik. Dunia benar-benar seakan milik mereka berdua malam itu. Namun, saat pergantian hari, Sougo mendapat panggilan darurat. Saat itu, Kagura sudah tertidur dan Sougo benar-benar tidak tega membangunkannya hanya untuk melepas kepergiannya yang sementara.
'Ya, pasti hanya sementara,' pikirnya saat itu.
Malam itu, Sougo tidak pergi dengan seragamnya. Misi rahasia, yang tidak memiliki jejak terhadap campur tangan pemerintah atau 'anjing'nya. Benar-benar rahasia, sampai Kagura saja tidak mengetahuinya. Sangat rahasia, sampai...
Semua yang terlibat dalam misi itu menghilang tanpa jejak.
Sougo pergi meninggalkan Kagura, tanpa mengucap kata-kata perpisahan. Jiwanya berhenti bersinar. Dia menghilang di balik kegelapan malam bersama dinginnya udara saat itu.
.
.
.
Disclaimer
Gintama milik Sorachi Hideaki
OkiKagu's FanFiction. Rate T. Romance/Supernatural. Sorry for OOC, typo(s).
Sarashina Arisa's present
Mizu-Kagami
.
.
.
Kagura terbaring lemah di atas kasur putih. Tubuhnya di pasangkan alat medis dan orang-orang di sekitarnya menatap dengan cemas. Beberapa jam lalu, tubuhnya di temukan tergeletak di pinggiran sungai. Entah keajaiban apa yang terjadi, Kagura tidak meninggal karena kedinginan. Padahal, sekujur tubuhnya telah membiru.
Sampai saat ini, Kagura masih belum sadar sepenuhnya. Bahkan, layar di sampingnya menunjukkan detak jantung yang lemah. Untunglah, dokter berkata bahwa Kagura masih bisa di selamatkan bersama bayinya yang masih di dalam kandungan. Sungguh, wanita yang beruntung.
"Kamui-san, terima kasih telah menemukan Kagura-chan," ujar Shinpachi pada orang yang telah membawa Kagura ke rumah sakit, kakak Kagura sendiri.
"Aku hanya kebetulan sedang mampir ke bumi untuk menemui adikku ini. Tapi, dia sendiri tidak menyambutku dengan baik. Sayang sekali," tutur Kamui. Mungkin bercanda.
"Tetapi, aku selalu bertanya-tanya, apa yang membuat Kagura-chan berada di sana," tambah Gintoki. "Bahkan, tubuhnya seperti sudah tercebur ke dalam sungai."
"Benarkah?" tanya Otae yang sudah jadi bagian dari keluarga Kondo. "Apakah Kagura-chan depresi karena Okita-san tidak kunjung pulang dari misi?"
"Kurasa tidak. Maksudku, Kagura-chan tidak sebodoh itu dalam mengambil tindakan," jawab Shinpachi.
"Kau mungkin benar. Tapi, kau salah besar kalau menilai adikku seperti itu," ujar Kamui. "Dia itu gadis yang sembarangan dan cuek."
Yang lain tidak dapat membantah. Suasana ruangan jadi hening. Dan, saat itulah mereka dapat mendengar Kagura yang memanggil nama seseorang dengan suara yang lemah. "Sougo."
"Ah, sudah kuduga ini ada hubungannya dengan Okita-san," ujar Otae. "Mou, kemana Shinsengumi pergi? Kagura sampai berada di puncak kerinduan."
"Ane-ue juga merindukan Kondo-san," tambah Shinpachi.
"Apa maksudmu, Pattsuan? Sekarang ini Otae-san bisa di panggil Kondo-san juga," ujar Gintoki.
"Sudah, sudah. Kalian semua berisik. Kagura butuh ketenangan saat ini," ujar Soyo.
"Wah, wah... Istriku memang yang terbaik," puji Kamui. Soyo hanya tersenyum mendengarnya.
"Sudahlah kalau begitu, aku mau cari makan di luar." Gintoki berjalan keluar. "Pattsuan, ayo."
.
.
.
"Tetapi pemandangan yang kau lihat sekarang bukanlah pemandangan untuk terakhir kalinya yang kau lihat, Kagura..."
Ya, itulah yang kudengar. Tapi, tak hanya itu. Aku memang mendengar sesuatu sebelum aku tidak sadarkan diri. Tetapi, sangat samar dan aku tidak yakin dengan apa yang aku dengar.
"...dan jangan berputus asa, karena Sougo masih ada untuk melindungimu."
Konyol. Tidak pulang selama tiga bulan dan bahkan tidak ada kabar sama sekali. Siapapun berpikir pasti seluruh anggota Shinsengumi di telan bumi (mati). Tetapi, entah mengapa... Aku sendiri masih meyakini bahwa Sougo akan kembali.
"Lalu, kenapa kau melakukan mizu-kagami?" Muncul pertanyaan dari diriku sendiri. "Dan, bukankah yang kau lihat semalam adalah Okita Sougo?"
Kepercayaan diriku hilang saat aku menerima pertanyaan itu. Di tempat yang serba gelap ini, aku hanya bisa melihat diriku sendiri. Tepat seperti melihat dari cermin. Aku melihat apa yang aku lakukan. Padahal, yang kulihat adalah diriku sendiri.
Sosok yang berdiam di balik cermin itu bertanya lagi, "Kenapa kau terus meyakini bahwa Okita Sougo akan pulang?"
Aku menjawab, "Karena aku percaya padanya."
Ah, apa yang aku katakan? 'Aku percaya?' Padahal aku sudah begitu kacau saat mencari cara untuk bertemu dengan orang yang sudah mati. Bagaimana bisa aku percaya denganmu, Okita Sougo? Aku berdiri di tengah kebingungan. Apa yang aku lakukan? Ini bukan seperti diriku yang biasanya.
"Kalau kau memang percaya padanya, kenapa kau tidak duduk diam saja dirumah?"
.
.
.
Cahaya matahari pagi perlahan menyilaukan di mata Kagura. Wanita itu terbangun dari komanya, di saat semua orang sedang tidak ada di dalam ruangan. Kagura menatap jam dinding berfungsi lebih; menyediakan tanggal dan hari. Sudah enam belas hari semenjak ia tak sadarkan diri.
Saat ia memejamkan matanya lagi, Kagura merasa aneh. Ia merasa tangannya sedang di genggam. "Itukah kau, Sougo?"
Pintu ruangan tergesek dan masuklah Kamui. "Kau ini, jadi memang benar-benar kangen padanya, ya? Sampai berhalusinasi."
Kagura membuka matanya, menatap kakaknya yang kini duduk di sampingnya. "Oh, Kamui. Kau datang ke bumi untuk menjengukku?"
"Tidak sopan sekali, akulah orang yang membawamu kesini," ujar Kamui. "Kau bisa mati kedinginan waktu itu. Kau beruntung saat itu aku baru saja datang."
"Terima kasih," ucap Kagura pelan. Senyuman tulus terulas di wajahnya yang masih pucat.
Kamui diam, tidak tersenyum ataupun cemberut. "Apa yang kau lakukan waktu itu? Melakukan percobaan bunuh diri akibat depresi?"
"Oh, ayolah... Ceritanya sangat panjang karena hal ini tidak bermula dari malam itu-aru," jawab Kagura. "Tapi, maukah kau mendengarkannya?"
"Tidak. Aku hanya ingin mendengar bagian intinya saja," jawab Kamui.
"Aku melakukan ritual mizu-kagami," Kagura memulai ceritanya. "Itu adalah ritual untuk membuka indera keenam agar aku bisa melihat roh dan iblis."
Kamui menatap Kagura heran, "Untuk apa kau lakukan itu? Apa yang ingin kau lihat? Apa kau berpikir Sougo sudah benar-benar pergi?"
Kagura terdiam sejenak dan menundukkan kepalanya, "Aku... hanya ingin memastikannya, tepat seperti yang kau tanyakan, Kamui."
Kamui menghela nafas setelah mendengar pernyataan dari adiknya itu. "Kenapa kau tidak mempercayainya saja? Semua orang saat ini memang tidak melihat jejak dari Shinsengumi. Tapi, kalau seperti ini kau malah seperti sedang memperlakukan suamimu itu seolah dia sudah mati."
"Tapi, malam itu aku melihatnya setelah ritual-aru!" bantah Kagura.
Mata Kamui melebar, "Coba kau ceritakan lebih detail."
"Malam itu, aku memang tidak langsung bertemu dengannya. Aku malah bertemu dengan iblis dan aku terpental ke sungai saat mencoba melawannya-aru," ujar Kagura melanjutkan ceritanya yang sempat dihujani pertanyaan. "Dan, aku merasa bahwa yang membawaku ke permukaan adalah Sougo. Aku sempat melihatnya dan dia mengucapkan beberapa kalimat padaku."
"Apa yang dia katakan?" tanya Kamui, dengan wajah serius.
"Yang pertama, dia bilang kalau pemandangan terakhir yang ia lihat takkan seindah pemandangan yang kulihat. Yang kedua, tapi dia bilang kalau pemandangan yang aku lihat waktu itu bukanlah pemandangan yang aku lihat untuk terakhir kalinya. Dan yang ketiga, aku tidak yakin dengan ucapannya karena mungkin pendengaranku sudah samar."
"Katakan saja," ujar Kamui langsung.
Kagura menelan ludahnya, "Dia bilang, aku tidak boleh putus asa karena Sougo ada untuk melindungiku."
Kamui tidak berbicara lagi setelahnya.
"Ini aneh bukan?" Kagura menatap Kamui dengan ekspresi konyol. "Itu semakin membuatku terbebani."
"Kagura," panggil Kamui. "Aku ingin ikut dalam ritual mizu-kagami. Apa malam ini kau bisa?"
"Eh?" Kagura terkejut. "Y-ya... kita hanya perlu menatap pantulan diri dari permukaan air sampai kita bisa melihat roh dan iblis."
"Berapa lama proses itu berlangsung? 1 jam?" tanya Kamui lagi.
"Umm... tidak secepat itu," jawab Kagura. "Kalau ingin sampai bisa melihat roh dan iblis... mungkin bisa sampai satu bulan. Saat ini aku sudah tidak bisa melihat lagi karena sudah lama tidak melakukan mizu-kagami."
"Baiklah. Aku akan membayar biaya rumah sakitmu dan aku akan menginap di rumahmu sampai aku bisa melihat roh dan iblis itu."
"Ha?" Kagura tak dapat bicara apa-apa lagi setelahnya. Kamui jadi sangat baik di saat seperti ini. Yah, mungkin naluri sebagai seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya.
Kagura tersenyum, "Terima kasih, Kamui."
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Author's note: Aish, saya baru inget kalo ide awal cerita ini dari kisah hidup tragis saya di game The S*ms 4. S*m saya mati sebelum dia nikah dan itu buat tunangannya stress :'v Jadilah ff ini ^^ Yee... *Abaikan
Btw, sebenernya saya udah agak lupa sama perasaan Kagura di sini. Jadi, mungkin penjiwaan saat saya menulis jadi kurang dan sepertinya Kagura agak plin-plan dan Kamui sumpah OOC berat -,- Azz... Maklumi saja yah~ ^^
Salam,
Sarashina Arisa.
