A/N Chapter 2 berhasil diupdate. :D Tapi mungkin masih sedikit membosankan. ._. Ohya, fanfic ini adalah fiksi yang juga diambil dari kehidupan nyata saya. *gananya* Mulai dari sekolah, guru-gurunya, sampe kenakalan anak-anaknya, hampir semuanya nyata. *halah* Tapi tenang, nakalnya gak separah yang disini kok. :P *boong banget* Enjoy! :D


Jogja in Love

by Ceprutth DeiDei


Spenyk

10.00 WIB

"Dah.." Sakura melambaikan tangannya—mengiringi kepergian ketiga temannya yang sudah berniat untuk kembali ke kelas mereka masing-masing. Maklum, suara bel norak—menurut Sakura—itu sudah menjerit-jerit meminta agar semua anak-anak belajar kembali di kelas.

Sasori balas melambaikan tangan dengan tidak niat, berbeda dengan Tayuya yang melambaikan tangannya dengan semangat. Dan Karin? Ia tak berkata apa-apa ataupun tak melakukan apa-apa untuk membalas lambaian tangan dari Sakura. Matanya sibuk memantengi layar ponselnya—setidaknya sampai ia dengan tidak sengaja menabrak adik kelas yang lewat.

"HEI, LIHAT-LIHAT DONG KALAU JALAN!" bentak Karin. Matanya tampak bersungut-sungut (?) memelototi adik kelas yang masih tetap berdiri di depannya. Beberapa saat kemudian, sebuah serangkaian kalimat balasan dari si adik kelas membuat kelima orang itu terdiam,

"Kau yang lihat-lihat! Siapa suruh main hape sambil jalan?"

Adik kelas pemberani itu melenggang pergi meninggalkan kelima makhluk Tuhan yang tengah dirundung kecengokan (?) itu.

Karin mengumpat keras. Ia pun—dengan sedikit kasar karena emosi—menarik lengan Tayuya dan Sasori untuk cepat-cepat pergi dari tempat itu.

"Hebat," komentar dari Gaara.

Tapi Sakura hanya mengangguk dan terdiam disana—bersama Gaara yang masih duduk disampingnya. Setelah komentar singkat dari Gaara tadi, keduanya terdiam cukup lama sampai akhirnya ia sendiri mulai merasa bosan.

"Gaara..," panggil gadis itu pada pemuda disebelahnya—berniat memecah kesunyian.

"Hm?"

"Kau tahu," Sakura menolehkan sedikit kepalanya ke kiri untuk melihat wajah yang bertato tresna itu. Kemudian ia melanjutkan kalimatnya, "Daritadi—sebelum kau dan Kak Sasori datang—si Karin itu sibuk saja mengutak-atik ponselnya. Bahkan sampai sekarang masih juga?"

Sakura menunjuk Karin yang tidak kapok sudah dibentak adik kelas. Gadis itu berjalan di teras depan kelas delapan—masih ditemani Tayuya dan Sasori—sambil mengutak-atik ponselnya lagi. Gaara menghela napas melihatnya.

"Kau seperti tidak tahu dia saja. Apa kau tidak lihat? Daritadi dia mendengarkan radio," jelas Gaara membuat Sakura mengernyitkan alisnya tak mengerti. Membuat Gaara mendengus pelan. Tapi dalam hati Sakura juga mengiyakan ucapan Gaara tadi, Karin memang terus memakai headset ponselnya dari tadi.

"Kok kamu bisa tahu dia dengerin radio?" tanya Sakura heran.

"Kau lupa dia tergila-gila pada Pangeran Sasuke?" Gaara balik menanyai Sakura dengan pertanyaan yang membuat sebuah tanda tanya di dalam kepala Sakura bertambah besar. "Raden Sasuke, putra bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono IX."

Sakura mengangguk sambil mulutnya bergumam 'oh' kecil seolah mengerti penjelasan Gaara barusan. "Tapi apa hubungannya?," tanya Sakura lagi—rupanya gadis itu masih belum mengerti benar.

Gaara menggeram dalam hati. Cah pahpoh!, umpatnya pada Sakura. Tapi tentu saja Sakura tidak akan mendengar umpatannya itu.

"Dia mendengarkan radio dengan ponselnya seharian karena dia berharap bisa mendengar suara Uchiha itu dari radio! Dan jangan berani-berani memberiku pertanyaan lagi, dasar ling lung!" jelas Gaara dengan agak marah.

Sakura tertawa kecil mendengarnya. 'Yaah, sayang sekali, padahal aku baru saja mau bertanya soal siapa-itu-pangeran-Sasuke-alias-putra-keraton-itu,' kata Sakura dalam hati. 'Maaf saja kalau aku ini linglung, sudah bawaan.'

"Kau banyak bicara juga, ya ternyata." Sakura menyeringai. Gaara mendengus sebal.

"Ayo ke kelas—sebelum Bu Rena (kuRENAi -,-) datang!" ajak Sakura pada Gaara.

"Aku tidak mau."

Sakura menatap Gaara bingung.

"Kau mau bolos lagi?" Sakura menatapnya setengah tak percaya.

"Tak perlu kujawab pun kau pasti sudah tahu," ujar Gaara dingin. Sesuai dengan ucapan Gaara tadi, Sakura memang sangat tahu apa jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan tadi.

"Jangan begitu, Gaara! Setidaknya rajinlah sedikit, minggu depan adalah minggu terakhir kita belajar di sekolah ini," bujuk Sakura. Matanya yang berwarna hijau bening seakan memohon-mohon pada pemuda yang memiliki warna mata yang hampir sama dengannya agar menurut.

"Lalu?" Sebuah jawaban yang membuat Sakura menyesal sudah mengeluarkan aura memohon itu tadi.

"Haaaah~" Sakura berdecak sebal. Ditariknya lengan Gaara—memaksa pemuda itu untuk mengikutinya melewati beberapa koridor di dalam gedung sekolah yang seperti rumah sakit itu hingga akhirnya mereka pun masuk ke dalam kelas.


Kelas 9-A

Saat jam pelajaran Bu Rena..

Suasana kelas 9-A tanpa seorang guru saat itu benar-benar ribut. Ramai seperti di pasar. Kau bisa membandingkan keramaian antara kelas ini dengan keramaian di Pasar Bering Harjo. Dan yakinlah, bisa dipastikan kelas inilah yang akan menjadi pemenangnya! (lebe banget)

Beberapa murid duduk-duduk bergerombol di depan kelas. Tiga siswi yang ada disana—yang bernama Tenten, Ino, dan Temari—menyanyi bersama-sama diiringi suara dari gitar akustik yang dimainkan Shino. Dan sepertinya suara 'merdu' dari trio kembang desa 9-A ini juga didampingi oleh sorakan penuh semangat muda dari Rock Lee—yang ternyata sukses menenggelamkan sosok pemalas macam Shikamaru ke dalam dunia mimpinya.

Sakura dan Gaara tentu saja sudah terbiasa. Mereka sudah bersama-sama dengan semua murid-murid-hampir-gila ini selama hampir tiga tahun penuh, bukan?

Tak butuh waktu lama untuk gadis merah muda ini memilih bergabung dengan sahabat berambut pirangnya dan ikut bernyanyi bersama.

Gaara yang ditinggal sendirian oleh Sakura di depan kelas kini hanya mengamati seisi kelasnya yang kacau balau. Itulah sebabnya aku tidak mau kembali ke kelas ini. Apalagi kalau harus ikut pelajaran guru batak nyebai itu! Bisa-bisa aku tertidur, batinnya dalam hati. Jadi itu, ya, alasan kenapa pemuda bertato dan berambut merah darah ini malas mengikuti pelajaran Pak Asuma? -_-

Mata hijau kapur (?) Gaara terbelalak menatap sekumpulan anak laki-laki—bernama Jirobo, Kidoumaru, dan kembar sableng Sakon-Ukon—yang asyik tertawa-tawa sambil bermain bakar-bakar kertas. Apaan tuh? Permainan keluaran baru?, pikir Gaara heran.

Kali ini Gaara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas, mencari sosok seorang siswa hebat yang bisa menghentikan semua kekacauan ini dalam sekejap. Sosok pemuda berambut cokelat panjang bermata lavender yang berotak encer—Neji. Tapi betapa kecewanya ia ketika matanya tak menemukan batang hidung Neji dimanapun di kelas ini. "Pantas mereka bisa sebebas ini, ternyata dia tidak ada di kelas," ujar Gaara sambil berjalan ke sebuah meja yang jauh dari keramaian dan mendudukkan diri ke bangku.

Dilihatnya beberapa murid laki-laki yang bersifat liar itu sekarang sedang membakar sebuah anglo kecil dari tanah liat—hasil karya seni milik seorang siswi cantik kelas ini yang selalu jadi korban candaan mereka yang kelewatan. Gadis malang itu adalah Hinata Sutomo (marga diganti. Hahaha :p).

Gadis itu meronta-ronta dan memohon agar teman-temannya berhenti merusak hasil karya kesayangannya, tapi tetap saja sia-sia. Reaksinya itu justru membuat mereka tertawa semakin kencang—membuat kelas sebelah merasa sedikit terganggu.

Hinata Sutomo adalah putri sulung Hiashi Sutomo—sebut saja Pak Tomo (?)—pemilik toko perak yang sudah sangat terkenal di Kotagede—bahkan seantero Yogyakarta. Apalagi kalau bukan Tom's Silver? Yang kepanjangannya Tomo's Silver (ngasal). Gadis berambut indigo sepunggung itu sebenarnya beruntung memiliki wajah cantik, kaya raya, dan berotak pintar. Namun sangat disayangkan, nasibnya ini benar-benar bertolak belakang dengan tiga hal sempurna diatas. Ditambah sikapnya yang pemalu dan gugup yang membuat cowok-cowok di kelasnya itu semakin tertarik untuk mengisenginya.

"To-tolong k-kembali-kan..," pintanya sambil memasang raut wajah memelas. Mata lavendernya menatap nanar anglo kecilnya yang kini sudah menghitam. Api yang tadi membakar benda itu habis-habisan sudah dipadamkan. Tapi semua itu belum berakhir, karena Sakon dengan cekatan membungkus benda yang kini sudah berwarna cokelat kehitaman itu dengan beberapa lembar kertas dan membawanya pergi. Hinata menjerit.

"Ke-KEMBALIKAN!"

Hinata berlari mengejar Sakon yang dengan lincah melewati meja-meja di ruangan kelas-penuh-kekacauan itu.

"Wah wah, dia teriak! Hahaha..," ujar Kidoumaru sambil tertawa-tawa bersama dua temannya yang lain.

"Ayo kita bantu si Sakon!" Terdengar suara Ukon mengomando dua temannya. Dan ketiganya pun bergabung dalam aksi kejar-kejaran Sakon-Hinata itu.

"Ku-kumohon.. hah hah hah.. k-kembali k-kan..," pinta Hinata. Wajahnya memerah seperti ingin menangis. Dan hal itu membuat keempat pentolan 9-A itu tertawa puas.

"Hahahahahahahahahahaha—"

BRAK!

"HAA—?" Keempat murid itu menoleh kearah pintu kelas mereka yang baru saja digebrak oleh seseorang. Sebenarnya bukan hanya mereka, tapi semuanya.

"APA-APAAN INI?" Sebuah bentakan keras menggema di ruangan itu—membuat semua penghuni kelas itu terdiam seribu bahasa karena takut. Ya. Pastinya mereka ketakutan. Karena dihadapan mereka kini berdiri sesosok pemuda berambut cokelat panjang bermata lavender berwajah tampan menatap mereka penuh kemarahan.

Tara-taraaa, inilah dia Sang Ketua Kelas kita, Neji Sutomo! Pahlawan kesiangan sudah datang!

"Baru kutinggal berapa menit mencari Bu Rena kalian sudah seribut ini?," bentaknya lagi pada seluruh penjuru kelas—memarahi semua teman-temannya yang ada disana termasuk Sakura. Ia melangkah masuk ke dalam. Mata lavendernya memincing kearah gadis berambut cokelat dicepol dua yang masih duduk-duduk itu hingga membuatnya membelalak kaget. "Dimana tanggung jawabmu sebagai wakil ketua kelas, Tenten?"

Tenten berdiri dan menghampiri Neji. "Maaf, Neji. Aku tergoda untuk ikut bernyanyi bersama mereka," jawab Tenten sambil menyunggingkan cengirannya yang dipaksakan. Malah cengiran itu terlihat aneh—seperti orang meringis karena sakit gigi. Setelah meminta maaf pada Yang Mulia Neji, Tenten kembali ke bangkunya diikuti yang lain.

Satu kekacauan berhasil diberantas, pikir Neji.

Neji menolehkan kepalanya ke kiri dan mendapati sepupu kesayangannya—siapa lagi kalau bukan Hinata—yang berdiri di pojok kelas dengan wajah memerah dan tertunduk. Didekatnya berdiri Sakon, Ukon, Kidoumaru dan Jirobo.

"Hinata..," panggilnya dengan nada lembut. Kakinya melangkah membawa tubuhnya mendekat pada Hinata. "Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu begitu?" tanyanya ketika ia sampai di sisi Hinata.

"A-anu.. me-mereka me-mereb-but angloku l-lagi..," jawab Hinata terbata. Kepalanya tertunduk dalam-dalam.

Dan kini mata lavender itu memincing kearah empat sejoli biang ribut itu. Matanya menatap tajam kearah mereka. Bagaikan mata elang yang memincing tajam ketika berhadapan dengan mangsanya.

"Satu pukulan telak akan membuat kalian kapok!" seru pemuda Tomo (?) itu. Ia berjalan mendekati keempat siswa nakal yang sedaritadi terdiam ketakutan. Tangan kanannya ia kepalkan kuat-kuat. Dengan kekuatannya yang sudah terpusat pada kepalan tangannya, Neji meninju keempat siswa nakal dihadapannya satu-persatu. Langsung saja mereka meringis kesakitan. Setelah itu ia merebut kembali anglo mungil milik Hinata dan mengembalikannya pada sang empunya.

Hinata mengangguk pelan kemudian berlalu menuju ke bangkunya. Hatinya kembali riang—walau masih merasa sedih karena anglonya kini sudah tidak sebagus dulu lagi.

Lihat, kan? Yang baik pasti yang menang, batin Hinata riang.

"Sekarang kembali ke bangku masing-masing. Bu Rena akan datang sebentar lagi," ujarnya memberi perintah pada seisi kelas—sebelum akhirnya ia mendudukkan diri ke bangkunya.

Semua murid di kelas itu pun dengan terpaksa menuruti perintah ketua kelas mereka diiringi berbagai umpatan-umpatan lambang kekesalan mereka.

"Kadang Neji bahkan bisa lebih mengerikan daripada Pak Asuma sekali pun," ujar Sakura pada Ino dengan nada setengah berbisik. Mendengarnya membuat Ino tak tahan untuk tidak terkikik geli.

"Aku sependapat denganmu."

Kelas 9-A telah tenang, aman, damai dan tentram kembali berkat pertolongan dari Neji Sutomo.

Tap tap tap. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Itu pasti Bu Rena.

"Sugeng enjang," sapa wanita muda berambut hitam panjang itu sambil berjalan masuk ke kelas. Senyum keibuannya semakin menambah kecantikan wajahnya yang masih bersih dari keriput.

"Sugeng enjang, Bu," balas seluruh siswa kelas 9-A.

Guru muda itu pun duduk di kursinya yang menghadap anak-anak. Namanya adalah Surti (?) Kurenai. Guru-guru yang lain semuanya memanggilnya Bu Surti, bahkan dia dipanggil Nyurti oleh Bu Anko. Tapi entah kenapa, dia memaksa semua anak-anak didiknya untuk memanggilnya Bu Rena saja. Mungkin dia malu dipanggil Surti? Hahaha. Guru nyentrik ini senang berdandan. Ia juga selalu memakai softlens berwarna merah darah di kedua matanya agar ia terlihat lebih menarik. Semua ini dilakukannya demi mendapatkan hati sang guru batak tulen, Asuma. Diam-diam ia menaruh hati pada guru galak itu. Eh? Kok topiknya jadi melenceng jauh begini, ya? Oke, oke, mari kita lanjutkan ceritanya.

Beberapa menit setelahnya, Bu Rena sudah tampak serius mengajar ketigapuluhenam anak didiknya tentang tokoh-tokoh wayang. Dan yang kini sedang dibahasnya adalah—ARJUNA! (y)

Ia mendongeng panjang lebar tentang kisah bagaimana kehidupan pahlawan Pandawa tengah ini. Menceritakan bagaimana Dewi Kunthi melahirkannya berkat anugerah dari Batara Indra yang dipanggil dengan mantra sakti pemberian Resi Duwarsa. Bagaimana ia bisa dijuluki Dhananjaya karena jiwa ksatrianya, kegagah-beraniannya, dan kehebatannya yang selalu berhasil merebut kejayaan.

Tentang seberapa besar kesetiaannya dan rasa sayangnya pada sang kakak, Yudhistira, dan saudara-saudaranya yang lain. Juga bagaimana ia gugur di tengah perjalanan sucinya mendaki di pegunungan Himalaya karena terjatuh ke dalam jurang. Dan tak terlupa dengan satu point penting mengenai Arjuna: tentang istrinya yang berjumlah amat banyak. Guru bahasa Jawa yang satu ini memang suka mendongeng—dengan bahasa Jawa yang kental tentunya. Dan bagian mendongeng dengan bahasa Jawa itu membuat Ino yang tidak bisa berbahasa Jawa merasa bosan karena tidak mengerti.

Ino menggeser tubuhnya agar ia bisa sedikit menghadap kearah Sakura yang berada di bangku belakangnya.

"Haah.. aku bosan sama pelajaran ini..," eluhnya pada Sakura.

Sakura tersenyum mendengarnya. "Kau akan menyesal sudah berkata seperti itu, Ino."

"Ohya? Yakin sekali!," cibir Ino sambil menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi.

"Suatu saat nanti, lihat saja" Sakura melanjutkan kata-katanya sambil menjulurkan sedikit lidahnya—meledek Ino.

"Terserahlah."


Spenyk

01.00 WIB

Sakura buru-buru angkat kaki dari sekolah begitu bel berbunyi. Raut wajahnya tampak begitu serius. Begitu melewati gerbang sekolah, Sakura berbelok ke kiri dan melesat menuju ke suatu tempat. Tempat yang sangat ingin ia datangi sejak insiden 'pinky' tadi pagi.

Sementara itu, Ino yang belum menuntaskan kegiatannya memasukkan buku-buku ke dalam tas hanya mengernyit heran melihat Sakura yang berlalu begitu saja meninggalkannya. Ia menghela napas.

Tepat saat ia tengah mencangklengkan tasnya ke punggungnya, Sai muncul dari pintu kelas. Lelaki itu terus berjalan hingga jaraknya dengan Ino tidak terlalu jauh—bahkan bisa dibilang dekat.

"Ino, kau lihat Sakura tidak?," tanyanya begitu ia berhenti bergerak.

"Hm?" Ino menatap pacarnya curiga. Mata birunya menatap mata hitam Sai dengan tatapan mengintimidasi dan—cemburu?

"Mau apa sama Sakura?"

Sai mendengus pelan. Gadisku ini pelupa sekali, geramnya dalam hati.

"Kau kan yang menyuruhku minta maaf, masa lupa?" kata Sai mengingatkan. Ino langsung menepuk jidatnya pelan.

"Oh iya.. maaf ya, sayang," ucapnya lembut. "Aku tidak tahu dia kemana tapi terakhir aku lihat dia lari keluar sekolah—mungkin dia pergi ke tongkrongan anak STM sebelah. Dia ada masalah lagi dengan anak-anak itu tadi pagi."

"Oke."


Jalan Wolter Monginsidi

01.00 WIB

Suasana pinggiran jalan yang cukup sepi kendaraan itu terasa begitu ramai karena adanya gerombolan anak-anak berseragam putih abu-abu yang sedang berkumpul disana. Namun kebanyakan dari siswa-siswa tingkat SMA itu adalah anak-anak yang nakal alias pentolan.

Sakura menghentikan langkahnya dengan keras—membuat tanah yang ia pijak tadi berdebam sejenak. Dan hal itu membuat segerombolan anak-anak STM yang berada disana bereaksi untuk mengalihkan pandangan mereka menatap Sakura.

Salah seorang dari mereka yang berambut hijau—agak aneh memang, mungkin ia mentransplantasi rambutnya—berujar pada Sakura. Wajahnya sumringah dan tampak takjub melihat keberanian Sakura yang datang sendirian ke sarang macan. "Wow, mau apa si 'Nona Pinky' ini kemari?"

"Monggo, Den Ayu. Ajeng tindak teng pundi?," canda seorang rekan si rambut hijau yang—lebih anehnya lagi—berambut putih keabu-abuan sambil bangkit berdiri dan bersikap seolah mempersilakan Sakura untuk duduk di bangku di sebelahnya. Menganggap kursi kayu disebelahnya itu adalah sebuah kereta kuda putih yang bling-bling dan mewah. Oke, terlalu hiperbolis.

"Mari abang temani, hahaha..," sambung yang lainnya—kali ini berambut pirang panjang dan bertampang banci. Bisa dilihat betapa rusaknya ketiga pemuda itu dari penampilan mereka yang tidak karuan. Dan kini mereka menertawai Sakura keras-keras. Membuat wajah Sakura memerah karena marah.

"SHUT UP YOU!," bentaknya keras melebihi kerasnya suara tawa mereka. Membuat ketiga pemuda itu terdiam sejenak.

"Uwoo~! Dia ganti bahasa! Hahaha..," ujar si pirang dengan raut muka takjub yang sangat dibuat-buat. Seketika tawa ketiganya pun kembali meledak.

"Aku datang kesini untuk membalas kalian semua," ujar Sakura dengan nada menantang—membuat gerombolan pemuda dihadapannya terdiam lagi. Tetapi sama seperti tadi, hanya sebentar mereka diam sebelum akhirnya tertawa lagi.

"Karena kalian seenaknya menyebutku 'PINKY'! Dan ini sudah yang kedua kalinya!," sambung Sakura. Mata hijau zamrudnya berbinar.

"Emange kowe iso ngopo?," tanya si rambut putih—lebih baik disebut uban saja, hahaha. Dari nadanya terlihat jelas kalau ia sedang merendahkan gadis merah muda kita ini.

PLAK!

Dan satu tamparan panas pun melayang ke pipi kiri si uban (?). Meninggalkan bekas memerah yang berbentuk telapak tangan di pipi kirinya. "ASEM WE!," umpatnya kasar pada Sakura.

Ketiga lelaki itu bangkit dengan serempak. Tampak dari ketiganya raut muka yang sedang marah. Tangan si rambut hijau tiba-tiba mencengkeram lengan Sakura dan merematnya—membuat Sakura menjerit kesakitan. Dilemparnya tubuh Sakura hingga punggung Sakura berbenturan cukup keras dengan pagar tembok yang ada disana.

Disaat yang sangat tepat itulah, utusan Tuhan (lebe) yang berambut hitam cepak dan bermata hitam serta berkulit putih pucat itu pun tiba disana. Matanya yang hitam legam tampak berbinar begitu mendapati sosok berambut merah muda ada disana. Dengan segera ia berlari menghampiri gadis itu.

"Ah! Sakura, aku mencarimu daritadi. Aku mau mint—" kata-kata Sari tiba-tiba terhenti begitu ia melihat Sakura berdiri merapat ke pagar dinding sambil dikelilingi tiga laki-laki tak dikenal. Alisnya mengernyit heran. Ia berjalan mendekati Sakura. Ditepuknya bahu gadis itu—membuat Sakura sontak memalingkan wajahnya dan menatap balik Sai—dan sebuah pertanyaan konyol pun meluncur dari bibirnya,

"Kau sedang apa, Sakura?"

Sakura terbelalak kaget. Oh, bukan kaget tapi cengok.

"Dolanan bekel!," jawab Sakura sambil merengut. "Ra iso ndelok aku lagi arep gelut ngene po? Sai pekok!"

"…" Sai speechless dibilang pekok.

Beberapa saat kemudian, pandangan Sai beralih pada tiga laki-laki tak dikenal yang mengelilingi Sakura saat itu.

"Kalian mau mengeroyok seorang gadis yang lemah ini ramai-ramai?," tanya Sai masih dengan alis yang terangkat sebelah. "Biadab sekali…"

Ketiga murid pentolan itu membelalak kaget. Kemudian salah seorang dari mereka—yang berambut hijau—membentak Sai dengan kasar, "Ngopo we melu-melu? Nantang, hah?"

"Maaf, tapi aku tidak mau buang-buang waktu," ucap Sai santai. Pemuda ini dengan santai menanggapi bentakan dari si rambut hijau. Bahkan itu pun masih ditambah dengan senyuman palsunya. "Aku ada urusan dengan nona ini."

"Cih." Ketiganya berdecak sebal. Tak perlu pikir panjang lagi, mereka langsung menyerang Sai—mencoba memukul atau menendangnya. Tapi Sai juga gesit. Ia dengan cepat menghindar dari pukulan dan tendangan brutal itu sebelum serangan itu sempat mengenai tubuhnya.

Begitu menyadari ada kesempatan, Sai balas menghajar si rambut uban yang sedang lengah. Satu pukulan ringan dari seorang ahli bela diri Sai mendarat di perutnya. Hal itu membuat kedua rekannya semakin brutal saja menyerang Sai. Dan lagi-lagi, dengan mudah Sai menghindari serangan mereka dan berbalik menghajar hingga akhirnya ketiga pemuda itu memilih menyerah dan kabur begitu saja.

Sakura menatap pemandangan barusan dengan takjub. Tenggorokannya terasa tercekat sehingga tak bisa berkomentar apa-apa.

"Kau tidak apa-apa, kan?" sebuah pertanyaan dari mulut Sai membuat Sakura tersadar kembali sepenuhnya. Gadis itu langsung menyeringai.

"Huh! Aku benci mengucapkan ini, tapi—" Dengan segera seringaian itu tergantikan oleh sebuah senyuman manis. "—uhm, terimakasih, Sai."

"Sama-sama," balas Sai sambil menyunggingkan senyumnya seperti biasa. "Jadi, kau sudah memaafkanku, kan?"

Sakura mengernyitkan alisnya tak mengerti. Tanda-tanda kelinglungannya kumat. "Memaafkan apa?," tanyanya.

"Soal insiden istirahat tadi," jawab Sai singkat.

Astaga, cowok ini.., batin Sakura sweatdropped.

"Kau itu cowok teraneh yang pernah kukenal. Heran deh kenapa Ino bisa suka padamu."

"Mungkin karena aku tampan?," gurau Sai. Terlihat seringaian tipis dibibirnya.

"JANGAN KEPEDEAN DEH!," ujar Sakura kesal dengan nada sedikit membentak—atau sudah membentak?

"Hahaha.. iya iya.."

Keduanya pun berjalan beriringan kembali ke sekolah. Sakura masih harus mengambil sepeda jengkinya di parkiran sepeda, sedangkan Sai? Dia berniat mencari Ino untuk memberitahu pada gadisnya itu kalau ia sudah meminta maaf pada Sakura dan Sakura memaafkannya. Memang dasar pemuda aneh!

Sai dan Sakura berpisah di gerbang depan. Sai berbelok kearah kiri sedangkan Sakura ke kanan. Sakura bersenandung kecil sambil melangkah santai menuju parkiran sepeda.

Sampai disana, ia mencari-cari sosok sepeda jengki kesayangannya yang pastinya masih terparkir bersama sepeda-sepeda yang lain. Ia mondar-mandir mencari sepedanya masih sambil bersenandung kecil.

Tiba-tiba saja senyum tipis nan manis dan senandungan kecil dari Sakura menghilang.

"Lhoh? Lhoh—?"

Mata hijau Sakura melotot.

"SEPEDAKU MANA?"


To Be Continued..


Naruto © Kishimoto Masashi

Word count: 3,162 words.

[1] Sugeng enjang: Selamat pagi.

[2] Monggo, Den Ayu. Ajeng tindak teng pundi?: Silakan, Nona Cantik. Mau pergi kemana?

[3] Emange kowe iso ngopo?: Memangnya kamu bisa apa?

[4] Dolanan bekel! Ra iso ndelok aku lagi arep gelut ngene po? Sai pekok!: Main bekel! Nggak bisa liat orang lagi mau berantem gini apa? Sai bodoh!

[5] Ngopo we melu-melu? Arep nantang, hah?: Ngapain kamu ikut-ikut? Mau nantang, hah?

Berakhir sudah.. chapter 2-nya. Agak aneh, ya ceritanya? Udah gitu alurnya lambat. Geje lagi. T^T

Zephyramfoter: Terimakasih sarannya dan terimakasih karena kamu lah yang mereview fic ini pertama kali. :D Begitu kamu review, saya langsung ngasih warning di summary-nya biar readers bisa tahu kalau disini ada konten bahasa jawa. Sekali lagi, terimakasih. :)

Miyuki Izumi: Eh? Gitu, ya? Emang chapter yang kemarin lucu? *digetok* Terus si Gaara menurutku malah lebih ganteng pake tato tresna deh :p *dikeroyok Gaara FG*pada mau minta tandatangan (?)* yaa biar jidatnya jadi penuh tato gitu, hahaha. Herannya, kenapa guru-gurunya ngediemin aja? *malah nanya* Thanks buat reviewnya dan lebih lebih banyak terimakasih lagi karena sudah dimasukkan ke fave list! :D

chiu-chi Hatake: yee.. ajaib? Bikinnya gak cuma pake 'bimsalabim abrakadabra' lho, tapi pake semedi diatas kasur selama seminggu plus kerja keras tangan. :p *apabanget* Matur nuwun sampun maosi fic niki kaliyan ngereview. :)

Rey619: Narusaku? Adaaaa.. :D tapi masih lamaaa... *halah* Trims dah baca dan sudah mereview. :)

Naru-mania: Haha.. thanks pujiannya. *apadeh* Karin sama Sasori kan emang IQ nungging (?) *dilempar boneka sama hape* Soal Sasuke? Ada, ada, tenang aja. Tapi masih lama lho, jadi ikutin terus ya? Ya? Ya? *maksa* Thanks udah mampir dan thanks juga buat reviewmu. :)

Risle-coe: Waduh.. begini senpai, sebenernya saya malah lebih tidak fasih basa jawi krama ._. Saya payah, ya? Harusnya kalo ngomong sama guru (apalagi sama kepsek) kan pake basa krama. Kesannya jadi kurang sopan. :P Matur nuwun sampun maosi fic niki kaliyan ngereview. :)

Azuka Kanahara: Hahaha, boleh-boleh, emang ada humornya kok. :P Maaf juga karena bikin kamu gak begitu ngerti sama dialognya, sengaja bikin basa jawanya dikit aja. Daan, terimakasih banyak buat sarannya. Sangat membantu. Maap deh saya emang gak pinter EYD *apasih?* Thanks udah dibaca, direview, dan di-FAVE! XD Senangnya~ Thanks thanks thanks. :)

dhita spenyk: haha, paling ngerti deh kamu ama setting-nya, wong podo2 cah spenyk. :P Thanks dah mampir dan thanks dah review. :)

Tenshi Kamimaru: Niki sampun diupdate. Menapa badhe ngersakaken ngereview malih? Hehe.. :P Terimakasih sudah membaca dan mereview. :)

karinuuzumaki: Iya, saya cah spenyk. Ohya? Siapa? Siapa? Kali aja tau. :P Usulan panggilan buat Sakuranya lucu, ntar pasti bakal saya pake. Matur nuwun sampun maosi fic niki kaliyan ngereview. :)

Akasuna no NiraDEI Un: Yap, mereka adalah empat sahabat pink-merah yang sudah sangat akrab. :D Thanks sudah membaca dan mereview. :)

Faatin-hime: Inggih, kula saking ngayogyokarto. Njenengan saking cilacap? Kula badhe piknik teng rika lho mangkih pas (?) liburan. *gananya* Matur nuwun sampun maosi fic niki kaliyan ngereview. :)

Hana Hirogaru: Nuuu! Bontot! Kenapa kau tak review fic awak ini? Kau baca kan? Hah! *mesam mesem*

Sekian. Sampai jumpa di chapter depan. Jangan lupa tinggalkan review (lagi) ya! :D

Terimakasih sudah membaca dan mereview. :D