Title : Monster
Author : Raichi KrisTaoKaiSoo Fujoshi
Rated : M :V
Pairing : HunHan, KaiSoo, ChanBaek
Genre : Fantasy, a little bit horror (di beberapa bagian) and romance.
DISC : para cast hanyalah milik Tuhan YME, orang tua, dan SM Ent. Saya hanya pinjam mereka untuk membuat fantasy saya menjadi terwujud di FF ini.
Summary : Semakin banyak dari kalian yang membuat perjanjian dengan kami para Monster, maka kami akan semakin kuat. Tapi mengapa kali ini kami lengah?
Warning : BL/ BoysLove/Shonen Ai, YAOI, MATURE CONTENT!, Miss typo(s), alur terlalu dipaksakan, gaje, bikin mual, EYD yang ngasal. I told you before, if you hate YAOI or IF You HATE me, better if you don't read my fanfic, okay?
NO FLAME, NO BASH CHARA, NO PLAGIAT, NO SILENT READERS XD
Nah, mari kita langsung saja mulai FFnya ^^
tolong tetap beri saya review anda *bow*
.
.
Oke, tanpa banyak bacot, mari kita langsung saja.
.
.
.
.
DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
I TOLD YOU BEFORE!
.
.
IF YOU HATE YAOI, BETTER IF U NOT READ MY FIC!
Sekali lagi, fict ini hanya fiksi. Asli karangan. Kalau mau flame karena khayalan Rai, I don't care. I've warned you ^^
Dan sekali lagi, ini hanya FIKSI. Tidak nyata dan asli karangan.
.
.
.
China, 899 Masehi.
Langit malam kali ini dihiasi dengan gemuruh petir dan hujan deras yang memberikan hawa dingin yang menggigit. Siapa pun akan lebih memilih bersembunyi di balik selimut, mematikan segala bentuk cahaya dan dibuai oleh lembutnya alam tidur.
Tapi tidak untuk seorang lelaki yang nampak sibuk dengan gulungan-gulungan kertas dan tumpukan buku tua. Di ruangan yang tak terlalu luas itu, ia sengaja meletakkan banyak lilin agar matanya tak lelah ketika membaca gulungan dan buku-buku tua yang ia dapatkan.
Ia adalah Xi Luhan. Putera satu-satunya dari 3 bersaudara. Ia adalah anak terakhir dan kedua kakak perempuannya telah dipersunting oleh Pangeran dari kerajaan yang bersaudara dengan kerajaannya. Kedua orangtuanya yang seorang Raja dan Ratu sangat dikenal dan dihormati oleh para bangsawan sekaligus rakyat karena terkenal oleh sifat adil dan memperhatikan keinginan dari warganya.
Berbeda dari sang ayah yang lebih suka meminum alkohol ketika penat, bermain musik, berburu ketika datang masa untuk berburu di kerajaan, membuat puisi dan bermain politik, atau ibunya yang sedikit lebih menyukai seni melukis dan berhias diri, ia lari dari segalanya.
Ia lebih menyukai berdiam di dalam kastil, membaca buku dan mengurung diri dari palsunya dunia luar. Sehingga rakyatnya tak begitu mengenal sosok sang Pangeran. Tetapi karena kecerdasan sang pangeran tunggal akan puisinya, rakyat mengenalnya sebagai 'Rusa putih bisu dari Istana'. Ia sendiri tak tahu sebutan ini diciptakan oleh siapa namun ia tak terganggu oleh sebutan itu.
"Buku ini luar biasa..." desisnya perlahan sambil terkagum-kagum dengan sebuah tulisan di dalam buku tua yang ia temukan. Bila seluruh buku sudah habis dibacanya, ia akan memerintahkan seluruh pengawal atau pegawai istana untuk mencarikannya buku-buku yang belum pernah ia baca.
Ia menutup buku itu dan meletakkan kembali dengan senyum namun dibarengi helaan nafasnya. Ia mengusap wajahnya dan memutuskan untuk keluar ruangan itu dan kembali lagi besok. Ia duduk seharian dan keluar hanya untuk makan, sepertinya wajar kalau ia merasa tubuhnya sangat pegal sekarang.
Seorang lelaki tua mendatangi dirinya. "Selamat malam, Pangeran. Bagaimana buku yang sudah kami cari tadi pagi? Apakah cocok dengan selera anda?" Sang pelayan bertanya dengan nada sopan seperti biasanya. Luhan hanya tersenyum.
"Ya, cukup menarik. Banyak buku dari kalian yang sudah aku baca. Sepertinya aku ingin yang ringan untuk besok. Bisa kau carikan aku sebuah karya karangan dari pengarang yang cukup terkenal? Tidak masalah kalau itu karya yang lama." Sang pelayan hanya tersenyum.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mencarinya besok, Tuanku." Balas sang pelayan. Luhan tersenyum dan berjalan dengan pelan. Matanya tiba-tiba tidak fokus dan kepalanya berat. Kakinya terasa lemah untuk berjalan, bahkan hanya untuk menopang tubuhnya.
BRUK!
"Tuan? Pangeran?! Apa anda baik-baik saja? Ada apa, Tuan?" tanya sang pelayan yang kaget ketika melihat Luhan terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa sungguh berat.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing." Jawab Luhan dengan nada lemah namun tak melepaskan senyumnya.
"Biar saya bantu, Pangeran." Ujarnya lalu membantu Luhan untuk menopang tubuhnya dan membawanya ke kamarnya. Luhan tidak melawan ketika sang pelayan setia membantunya membawa ke kamarnya. Di pikiran Luhan, ia hanya kelelahan.
Ya, kalau itu memang benar.
.
.
.
Sang mentari bersinar lebih terang setelah malam diguyur oleh hujan dan airnya membersihkan udara yang bercampur dengan nafas para manusia munafik. Udara jauh lebih sejuk, namun tidak seperti wajah lelaki tampan cenderung cantik di dalam sebuah kamar. Ia terduduk di tempat tidurnya dengan wajah muram. Tadi pagi, dokter istana datang dan memeriksanya. Dokter mengatakan, tubuhnya sudah di ambang batas. Ia kelelahan ekstrem dan ia mengatakan, tubuhnya harus benar-benar istirahat dan dia harus lepas dari rutinitasnya yang membaca buku. Setidaknya ia harus berolahraga dengan mengelilingi taman kerajaan di pagi hari. Hidupnya sudah tidak sehat.
"Yang benar saja, aku hanya kurang terkena matahari sedikit, kok. Bukan kelelahan ekstrem." Desisnya perlahan dengan nada sebal. Pintu diketuk dan dibuka oleh pelayan setianya yang sudah berumur kepala 5 bersama dua pelayan wanita yang membawakan ia sarapan.
"Selamat pagi, Pangeran." Sapanya ramah dan mulai memandu pelayan untuk menyiapkan ia sarapan. Luhan menghela nafas.
"Aku tidak suka dokter istana, ia pembual." Bukan membalas sapaan, Luhan mendengus dan berkata yang sedikit 'menggigit' sang pelayan setia. Ia memandangi sarapan berupa bubur dan beberapa sayuran dan jenis masakan lainnya.
"Apa maksud anda, Pangeran? Apakah saya berbuat kesalahan?" Luhan membelakkan matanya dan menggeleng.
"Tidak, sungguh!. Maksudku, dokter istana itu berbohong. Aku tidak kelelahan ekstrem, hanya sedikit kelelahan dan memang aku akui aku jarang nyaris tidak pernah tersentuh matahari. Tapi itu tidak berarti aku kelelahan ekstrem." Jelasnya. Sang pelayan tersenyum kecil. Luhan mulai menikmati sarapannya namun ia teringat sesuatu. "Hei, sudah kau bawakan aku buku yang aku minta?" tanya Luhan dengan matanya yang nampak bersinar kecil. Sang pelayan berwajah khawatir.
"Tuanku, sebaiknya anda istirahat saja hari ini dan ikuti saran dokter istana. Saya khawatir anda akan semakin kelelahan." Sang pelayan membungkuk sedikit.
"Dan kau akan biarkan aku menjadi bangkai satu hari karena bosan? Kau ingin biarkan aku seperti mayat hidup tanpa buku?" tanya Luhan dengan nada memelas. Sang pelayan setia menghela nafas. Ia melirik 2 orang pelayan wanita dan menginterupsi mereka untuk pergi dari kamar sang pangeran. Mereka menunduk patuh dan pergi dari kamar Luhan.
"Pangeran Luhan, saya sudah merawat anda dari anda kecil. Maafkan kelancangan saya, tapi terkadang saya menganggap anda sudah seperti anak saya sendiri. Saya sangat menyayangi anda, karena itu saya akan mengikuti saran dari dokter istana. Anda harus sehat, Tuanku." Sang pelayan membungkuk lalu menatap kembali Luhan dengan wajahnya yang muram.
"Aku tiba-tiba jadi tak berselera makan." Ucapnya dengan nada dingin dan membuang wajahnya dari makanannya. Sang pelayan kebingungan dan menghela nafas.
"Baiklah pangeran, saya memang sudah menemukan satu karya sastra yang cukup terkenal. Ia adalah pengarang dari kota kerajaan lain. Saya akan berikan bukunya setelah anda memakan sarapan anda. Tapi anda juga harus mau mengikuti saran dari dokter istana, anda akan saya bawa berkeliling kompleks istana agar menikmati udara luar." Sang pelayan tersenyum kecil ketika melihat Luhan yang tersenyum lebar mendengar penawaran sang pelayan istana. Ia mengangguk dan langsung melahap sarapannya. Sang pelayan tersenyum ketika menatap Pangeran dari keluarga kerajaan tempatnya mengabdi.
.
.
.
Luhan berjalan pelan di taman buatan kerajaannya. Di belakangnya, ada 2 orang pelayan wanita, 3 penjaga dan satu pelayan setianya. Luhan menatapi pohon dan tersenyum.
"Aku tidak menyangka kalau taman kerajaan sudah lebih rapi dari terakhir kali aku berkeliling disini." Luhan berujar kagum ketika menatapi pohon tinggi yang rindak, semak yang di rawat dengan baik, rumput yang di pangkas dengan rapi dan udara yang lebih sejuk.
"Ya, Tuan. Sudah sewajarnya. Terakhir anda berjalan-jalan di taman kerajaan adalah ketika anda berumur 10 tahun, dan sekarang anda berumur 21 tahun."
"Ah, benarkah? Aku benar-benar tidak tahu. Mungkin memang aku harusnya lebih peduli pada sekitarku ketimbang menjadi penyendiri yang membaca buku?" Luhan terkekeh kecil. Perasaannya ringan seperti daun yang terbang ketika lepas dari pohon. Mungkin perasaan nyaman ini tercipta karena udara yang cenderung sejuk meski matahari bersinar terang dan langit bersih dengan hiasan awan. Para pelayan dibelakangnya hanya tersenyum.
"Tetapi karena buku-buku itulah, Tuanku menjadi seorang cerdas dikalangan istana. Anda bahkan terkenal sekali bahkan sampai ke penjuru negeri dengan puisi buatan Tuan." Puji sang pelayan. Luhan tersenyum kecil dan kembali menikmati semilir angin dan gesekan daun yang tercipta karenanya. Matanya tak akan dapat melihat satu tubuh berdiri di atas salah satu dahan pohon. Tubuhnya tinggi jangkung dengan surai hitam pekat sepekat matanya. Wajahnya tenang cenderung tanpa ekspresi. Pakaiannya berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh manusia yang tak bisa menatapnya.
"Ah...lelaki yang cantik sekali. Sayang ia nampaknya teguh pada agamanya dan tak akan mendekati hitam.." Desisnya sembari menjilati bibirnya. Matanya tak lepas dari sang pangeran tunggal, ia nampak berpikir sejenak. "Bagaimana cara serigala mendapatkan buruannya.." desis sang lelaki bertubuh jangkung itu dengan seringainya. Ia tersenyum kecil dan menghilang ketika semilir angin menerpa tubuhnya.
.
.
.
Sesuai janji sang pengawal setia kerajaan, Luhan mendapatkan bayarannya. Ia beristirahat sembari membaca sebuah buku sastra terbaik yang sudah dijanjikan sang kepala pelayan. Ia terenyuh dengan setiap untai kata yang di tulis oleh sang penulis. Ia ada di taman istana, sendirian dan duduk disana. Ia tak mau diganggu.
Sesuai keinginannya, penjaga, pelayan bahkan sang kepala pelayan yang setia pun tak mendekatinya. Mereka menjauh karena tanpa di jaga pun, sebenarnya istana mereka sudah sangat aman. Luhan baru menyadari kalau membaca disini sebenarnya lebih baik. Udara yang segar, berbeda bila di dalam ruangan. Akan terasa sedikit pengap. Namun, konsentrasinya lebih baik bila di dalam ruangan. Karena itu ia selalu mengurung diri dan ini kali pertamanya membaca di luar ruangan.
Semilir angin lembut menerbangkan rambut sang Pangeran Luhan. Wajar banyak kalangan mengatakan ia cantik. Sepertinya kecantikan sang Ratu mendominasi wajahnya ketimbang wajah tampan sang Raja. Kulitnya bersih, dan karena kebiasaannya yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruangan untuk membaca dan belajar, kulitnya bahkan jernih sekali. Siapapun akan bisa melihat nadi berwarna biru dan hijau. Bahkan di belakang lehernya pun akan terlihat. Hidungnya mungil dan mancung dengan wajah tirus namun apel pipinya selalu merona.
Matanya sungguh cantik. Siapa pun yang menatap matanya akan menyadari kalau matanya seolah berkilauan. Rambutnya berwarna kecokelatan dan panjang hingga sebahu. Ia mengikatnya selalu. Rambut yang sangat halus.
Luhan menutup bukunya tatkala mendengar sebuah siulan suara lelaki. Siulan yang cenderung tenang dan ia tak pernah mendengar siulan seperti itu di istana. Matanya mencari hingga menemukan layang-layang berwarna merah yang terbang tinggi. Luhan tersenyum.
Ia menandai batas bacaannya dan mendekati pagar tinggi istananya yang cukup tinggi. Disana, ia menemukan sosok asing yang entah mengapa begitu eksotis.
Lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam. Ia menerbangkan layang-layang sembari bersiul. Angin yang datang kembali menerbangkan tinggi layang-layang itu seolah ia memang ingin menerbangkan layang-layang sang lelaki.
Lelaki tampan dengan rambut berwarna hitam pekat, mata hitam, garis wajah yang misterius, ekspresi tenang cenderung tanpa emosi dan kulit seputih salju.
Mata lelaki itu bertatapan dengan mata Luhan secara tak sengaja. Cukup lama hingga akhirnya sang lelaki bermata hitam pekat itu berhenti bersiul dan melepaskan layang-layangnya. Luhan menatap layang-layang itu.
"Mengapa kau lepaskan layang-layang itu? Bagaimana kalau ia tak akan kau gapai?" tanya Luhan pada lelaki itu. Lelaki itu tersenyum sambil menaikkan bahunya.
"Untuk apa aku gapai ketika ia berhasil menemukan tempat lain dan pemilik lain nantinya? kau tidak bisa menahan sesuatu yang pada dasarnya bukan milikmu." Balas sang lelaki itu dengan tenang. Luhan kaget mendengar penuturannya namun ia tersenyum. "Mengapa genangan air di gunung berbicara pada seekor burung liar?" tanya pria itu tenang dan memberikan senyum yang lebih mirip seringai. Luhan diam sejenak mendengar ucapan sang pemuda yang seolah berpuisi.
"Sepertinya genangan air di gunung bosan menatap awan dan ingin melihat lembah serta tanah di bawah gunung. Dan genangan air bertemu burung liar yang bebas." Jawab Luhan dengan senyumnya. Ia cukup kagum dengan lelaki itu. Ia tahu lelaki itu bukan dari istananya, atau pun mungkin ia bukan dari kotanya. Tapi bahasa yang ia gunakan sangat tenang dan Luhan sangat tertarik dengan seseorang yang bahasanya sangat puitis seperti buku yang ia baca.
"Oh, kau harus hati-hati genangan air gunung. Ketika kau mendengar kicauan burung liar dan terpukau olehnya, selamanya kau tak akan menjadi burung liar. Sekali genangan air, kau tetaplah genangan air." Jawab pemuda itu dengan nada lembut. Ia berjalan mendekati pagar istana dengan berani. Kini, keduanya saling bertatap wajah. Luhan sedikit kaget akan keberanian pria di depannya. Seolah ia tak takut menatap Luhan yang bisa dikatakan memiliki strata sosial yang lebih tinggi. Terlihat jelas dari pakaian yang ia kenakan.
"Tetapi dalam ajaran agamaku, akan ada reinkarnasi nantinya. Bagaimana bila genangan air naik ke langit dan turun menjadi burung yang tenang layaknya elang?" tanya Luhan dengan senyumnya. Mereka berdua kini telah berdekatan.
"Oh, seperti yang sudah aku katakan, genangan air terlalu cantik untuk menjadi burung liar." Ujarnya dengan air wajah yang tenang. Wajah Luhan merona tanpa dikomando ketika mendengarnya. Bagaimana bisa lelaki berwajah tenang ini membuatnya sedikit berdebar? Wajah pria di depannya ini sungguh tampan namun cenderung misterius.
"Jadi, burung liar berbicara seolah ia tahu dunia ketimbang gunung yang lebih tinggi, hm?" tanya Luhan yang nadanya seolah menantang. Lelaki berambut hitam itu tersenyum nyaris menyeringai.
"Ya, burung lebih tahu dunia ketimbang gunung, atau bahkan genangan air di atas gunung. Karena genangan air di gunung hanya melihat langit, melihat awan. Merasakan tiap butir nikmat sang kuasa yang fana di dunia ini. Tapi tidak sang burung liar. Ia menatap dunia dari berbagai sudut, merasakan perih dan nikmat sekaligus dan melihat api beserta asap yang tak akan dilihat oleh genangan air di atas gunung." Jelas sang pria tampan di depannya. Wajah Luhan memerah antara malu, kesal dan mengakui kebenaran yang di ucapkan oleh 'sang burung liar'. "Dan jangan lupa, burung pun bisa terbang lebih tinggi dari gunung, bahkan bergerak lebih indah dari genangan air yang diam dan tenang." Lanjutnya.
"Aku kagum denganmu burung liar, kau bisa melihat dunia. Kau bisa melihat lembah di bawah gunung, kau melihat api yang tak akan dilihat oleh genangan air. Jadi, bagaimana kalau kau berkicau sebentar untuk genangan air?" tanya Luhan dengan senyum ramahnya.
"Ah tidak, genangan air gunung. Seekor burung liar tidak pantas bicara mengenai dunia terlalu banyak pada genangan air yang nantinya akan disentuh oleh sang pendaki. Yang kakinya akan masuk dan merasakan tiap sejuk genangan itu." Lelaki itu menyeringai. Wajah Luhan merona merah, antara kesal dan malu.
"Tolong jaga bicaramu, burung liar." Tegur Luhan ketika ucapan pemuda di depannya dirasa mulai sedikit tidak sopan. Lelaki di depannya menaikkan bahunya dan menyeringai. "Siapa namamu, burung liar?" tanya Luhan yang sudah kembali tenang.
"Butuhkah genangan air di atas gunung sepertimu, genangan air yang menatap langit dan melihat kenikmatan dunia fana ini mengetahui nama burung yang liar, kotor dan tak akan seperti genangan air meski bebas?" tanya pemuda itu. Luhan tersenyum.
"Karena genangan air pun tak sesombong langit, ia hanya diam menatap dengan tenang dan menunggu Tuhan memberikannya hujan badai agar genangan tenang itu beriak." Luhan membalas. "Jadi, siapa namamu?" tanya Luhan kembali. Pemuda itu tersenyum meski sedikit terdiam.
"Wu Shi Xun, yang mulia. Saya sudah tahu nama anda. Anda adalah Pangeran tunggal kerajaan. Yang tulisannya dikenal di seluruh negeri. Goresan kuasmu ketika menulis puisi menjadi hadiah terbaik ketika setiap Raja berkunjung ke kerajaanmu." Pemuda bernama Shi Xun itu tersenyum.
"Apa kau rakyat dari Raja?" tanya Luhan pada pemuda itu. Ia menggeleng dan mendapat mata Luhan yang membelak. "Kau bukan rakyat kami?" tanya Luhan kemudian.
"Bukankah saya sudah bilang kalau saya adalah burung liar? Lalu mengapa masih terkejut? Ataukah puisi saya lebih mendalam daripada puisi Tuanku?" tanya pemuda itu.
"Tidak, maksudku apa kau pengembara?" tanya Luhan yang masih terkaget ketika mengetahui tebakannya benar. Pemuda itu mengangguk.
"Ya, burung liar yang mengembara untuk seni. Tetapi saya putuskan untuk menetap dalam beberapa waktu di kota Yang Mulia karena saya terpukau oleh keindahannya." Jawab Shi Xun ketika ditanya oleh sang 'genangan air'. Pemuda berambut hitam pekat itu mundur perlahan namun senyumnya tak terlepas. "Ah! genangan air, sepertinya sang burung liar harus terbang kembali. Kalau waktu masih mengizinkan, mungkin sang burung akan berkicau untuk genangan air yang kesepian di atas gunung. Selamat tinggal!" ujarnya dengan senyum kecil dan berlari kecil meninggalkan Luhan hingga menghilang.
Luhan berbalik dan menyentuh dadanya. Ada sedikit perasaan takut namun menyenangkan disaat yang bersamaan ketika teringat percakapan singkatnya pada sang lelaki bernama Shi Xun yang baginya sangat misterius.
Ia bukan bagian dari rakyatnya. Ia pengembara. Ia punya rasa seni yang bagus sekali hingga bisa berpuisi seolah sedang bicara apa adanya pada Luhan. Ia belum pernah menemukan seorang yang begitu pandai merangkai puisi menjadi percakapan sepertinya.
Luhan duduk kembali dan melanjutkan membaca bukunya meski sesekali ia tersenyum karena mengingat percakapannya pada lelaki itu.
"Burung liar, sepertinya kau harus kembali lagi untuk berkicau pada genangan air di atas gunung." Desisnya dengan senyum lembut khas milik Luhan.
.
.
.
TBC
.
.
ANJIR SUMPAH ASJDKDBDJDG..! /heh
Maafkan author yang puitisnya lagi kumat, jadi fictnya mendayu-dayu gini. Kebiasaan kalau feel lagi dapat. Wkwkwkwkw. Anyway, adakah yang kurang ngerti maksud percakapan yang Rai bikin? Bahasanya sulit dimengerti, kah? Let me know it in your review. So, if you cannot understand it, next i will try to make a fiction with cheasy words.
Oh ya, karena konsep fict ini setiap orang punya masalah berbeda, jadi Rai ingatkan sekali lagi kalau ini per-couple. Tolong jangan di desak dengan nanya "lah couple lain mana? Kok gak keliatan?" aih sia, namanya juga per couple -_- semoga kalian setuju ya dengan konsep yang cem itu.
Dan beribu thanks buat yang udah review. Oh ya, warningnya harap dibaca ya. *nganu face* /mbk
MATURE CONTENT KAMING SUN YA! /sbrmbk
And last but not least..
Review juseyo! ^^
Sign,
Raichi.
