~Prince of Evil~

Summary: Kejahatan dan Hukuman sang pangeran.


Ahahaha! Now, bow down to me!

A long, a long time ago.

There was a kingdom of unspeakable inhumanity.

And the person at the top was.

A prince at the age of eighteen.

(Ahahaha! Sekarang, tunduklah dibawahku!

Pada zaman dahulu, dahulu kala.

Terdapat kerajaan jahat yang tak seorang pun berani melawannya.

Dan orang yang berada diatasnya adalah

Seorang pangeran yang berusia 18 tahun.)


Read and Review?

Warning: OOC. Tanda Baca Ancur. EYD Ga Jelas. Typo. DLL.

Rate: T

Gintama © Sorachi Hideaki

Prince of Evil © Akasuna Yuri Chan

Prince of evil © Mothy-sama [Akuno-P]

Don't like, Don't read

Diangkat dari lagu Prince of Evil yang juga diciptakan oleh produser yang sama dengan Daughter of Evil, yaitu Akuno-P atau lebih banyak dikenal sebagai "Mothy".

Lirik sudah diubah untuk mempermudah fic ini!

.

.

Happy Reading!

.

.

He collected all the luxuries in the world.

Stood by his side was a servant with a like face with him.

His lovely horse's name was Sekitobaharu

Everything in the world belonged to him.

(Dia mengumpulkan semua barang mewah yang ada di dunia.

Berdiri di sebelahnya adalah seorang pelayan dengan wajah yang mirip dengannya.

Nama kuda kesayangnnya adalah Sekitobaharu.

Semua yang di miliki dunia adalah untuknya.)


"Kau menyukai acara jalan-jalan pagimu, yang Mulia?" tanya pemuda berambut perak tersebut, sambil tersenyum.

"Gintoki, bukankah sudah sering kukatakan. Jangan panggil aku begitu ketika kita hanya sedang berdua saja." balas sang Pangeran –sedikit tidak suka.

"Tidak sepenuhnya berdua, ada Sekitobaharu disini." ucap pemuda perak yang di panggil Gintoki tersebut. Senyumnya masih belum luntur, tangannya bergerak mengelus kuda betina berwarna putih tersebut.

"Itu tidak lucu, Gintoki."

"Benarkah? Menurutku itu cukup lucu."

"Gintoki..."

"Pesanan pedang yang kau minta sudah datang, aku cukup terkejut setelah mendengar harganya dari Nenek tua itu."

"Apa? Itu sengaja kubelikan untukmu."

"Terima kasih, tapi aku tidak pantas mendapatkan benda semahal itu."

"Jadi kau menolaknya?"

"Menurutmu? Apakah seorang pelayan pantas menerima hadia yang harganya saja sudah melebihi gajinya bekerja selama tujuh turunan?"

"Tapi kau special, bagiku tak masalah bahkan kalau kau mau akan kuberikan semua yang ada di dunia untukmu."

"Tidak, terima kasih. Bagiku apa yang kumiliki saat ini sudah cukup untukku, aku tak butuh apapun lagi."

"Gin-"

"Dan kau tidak bisa memaksaku untuk itu."

"Baiklah, terserah kau saja..."

.

.

~Prince of Evil~

.

.

If we're short on money,

Then squeeze it out from the citizens.

Anybody who opposes me,

Punish them!

"Now, bow down to me"

The evil flower, steadily blooms

with an array of colors.

Even the weeds that gray around it.

Become it's fertilizer and died away.

(Jika kami kehabisan uang,

Maka kami akan merampasnya dari para rakyat.

Siapa saja yang menentangku.

Hukum mereka!

"Sekarang, tunduklah di bawahku"

Sang bunga jahat, tumbuh dengan sekumpulan bunga yang di selimuti oleh warna.

Bahkan rumput liar itu berwarna kelabu di sekelilingnya.

Menjadi menumpuk dan mati menjauh.)


"Bagaimana perkembangannya?"

"Untuk hari ini saja sudah ada tiga orang yang mencoba untuk menentangmu."

"Begitu, lalu bagaimana dengan yang lainnya?"

"Berhasil kami kendalikan."

"Kerja bagus, Gintoki. Aku tahu, aku selalu bisa mengandalkanmu."

"...Kau tahu, aku rasa...kita harus menghentikan ini."

"Kenapa kau bisa berkata begitu, Gintoki? Bukankah kau bilang, kalian bisa mengatasi hal ini?"

"Yah, itu...kami bisa tapi tetap saja, rakyat tak akan selamanya diam dengan penindasan ini. Suatu hari nanti mereka akan melawan dan kau tahu, dengan keadaan kita yang seperti ini kita tak akan bisa mengatasi mereka nantinya."

"Kau tahu, Gintoki. Cara terbaik untuk mengendalikan orang-orang adalah dengan memberikan mereka rasa takut. Mereka akan menurut, beri mereka rasa takut. Ah, benar juga! Eksekusi ketiga orang itu besok, dengan begitu rakyat tak akan berani untuk menentangku lagi."

"Tapi itu-"

"Katakan pada mereka, itulah hukuman yang akan mereka dapatkan jika mereka berani berpikir untuk menentangku."

Bibir sang kepala perak terbuka, ingin menentang pendapat tersebut. "Itu...baiklah..." patuhnya –menelan mentah-mentah protesannya.

.

.

~Prince of Evil~

.

.

The tyrant prince was in love.

With the brown haired girl to meet the neighboring country.

But, she was in love with

The dark green haired man from across the ocean.

(Sang pangeran jatuh cinta

Dengan seorang gadis berambut coklat yang ia temui di perbatasan negeri.

Tapi gadis itu jatuh cinta

Dengan pemuda berambut hijau gelap yang tinggal di sebrang lautan.)


"Kurasa aku jatuh cinta, Gintoki..."

"Huh, apakah kepalamu baru saja terbentur sesuatu, Kintoki? Perlu kuambilkan obat atau sesuatu?"

"Aku sedang tidak bercanda, Gintoki. Aku serius..."

"Baiklah, jadi siapa si gadis yang berhasil mengalihkan perhatian adikku, dariku ini?" ucap Gintoki sambil menyeringai.

"Kau tidak masalah dengan itu?" heran Kintoki.

"Apa? Jadi kau ingin, aku berkata 'tidak' untukmu? Kalau saja aku seorang wanita, mungkin aku akan berkata tidak untukmu. Tapi aku seorang pria, dan kau juga begitu. Seberapa seringnya kita melakukan itu, aku tetap tak akan bisa memberikan keturunan padamu."

"Gintoki..."

"Yang kuinginkan hanyalah kebagiaan adikku sendiri, apakah itu salah?"

"Itu...terima kasih..."

"Jangan sungkan, jadi bagaimana?"

"Apa maksudmu dengan bagaimana?"

"Lamaran, kau akan melamarnya bukan? Jangan katakan padaku kalau kau tak akan melamarnya. Oh, ayolah. Aku yakin gadis yang kau sukai itu sangat manis, jika kau tidak cepat dia akan di ambil orang lain nanti."

"Secepat itu? Apakah kau gila? Kami bahkan belum mengobrol lebih dari 20 menit dan kau sudah memintaku untuk melamarnya?" protes Kintoki, membuat sang lawan bicara terkikik pelan.

"Tak apa kan, kalian bisa bertunangan dulu. Lagi pula umurmu juga sudah cukup untuk menikah, Bahkan ibu juga menikah muda."

Rona kemerahan tampak memenuhi kedua pipi sang Pangeran, "...err...itu..."

"Oh, ya, ngomong-ngomong siapa gadis itu? Apakah aku mengenalnya?" tanya Gintoki, sambil menaruh tangan di bawah dagu –pose berpikir.

"Dia adalah putri Okita Mitsuba..." jawab sang Pangeran malu-malu.

"Okita? Bukankah dia putri dari negeri di pulau seberang? Bagaimana bisa?"

"...kami bertemu di perbatasan negeri saat aku sedang berjalan-jalan dengan Sekitobaharu, kami tak sengaja bertemu."

"...Oh, baiklah, tak masalah. Akan kulamar dia untukmu."

"Ap-, Tu-, bukankah itu terlalu cepat?"

"Kintoki...dengar, sebagai seorang kakak ini adalah kewajibanku untuk melamarnya untukmu. Jadi kau diam saja, kalau beruntung mungkin aku akan menjadi paman nanti." ucap Gintoki sambil terkekeh, membuat sang Pangeran bersurai emas tak tahan untuk melemparnya dengan sepatu boot putihnya.

.

.

.

.

Torn with jealousy,

He called upon one of his ministers.

And he said with a soft voice.

"Destroy the Shinsengumi country"

(Termakan cemburu,

Dia memanggil seseorang dari kedutaannya.

Dan dia berkata dengan suara lembut.

"Musnahkan negeri Shinsengumi")


Malam itu adalah malam yang cukup menyakitkan untuk mereka berdua, malam yang tak pernah di harapkan ke datangannya. Gintoki berdiri mematung di belakang sang Pangeran bersurai emas, menatap cemas keadaan sang adik yang lebih muda beberapa menit darinya.

Suasana saat itu sebenarnya cukup gelap untuk mereka berdua, tetapi entah bagaimana Gintoki merasa ia dapat melihat air mata sang adik yang kini mulai mengering.

Di dalam kegelapan malam yang sunyi Kintoki berkata lirih, "...mereka menolak lamaranku..." perkataan lirih Kintoki membuat Gintoki tersadar, sedikitnya ia merasa ada yang berbeda dari adiknya itu namun ia membuang pemikiran itu jauh-jauh.

Gintoki menunduk, berusaha menahan kekecewaan dan rasa sakit di hatinya. "Itu karna mereka sudah menunangkan putri mereka, kita kalah cepat..."

"Tidak, Mitsuba sendiri yang berkata padaku kalau ia mencintai pria lain..."

Mendengar perkataan Kintoki, Gintoki tak kuasa menahan keterkejutannya. "Kintoki..."

"Apakah aku tak cukup pantas untuk mencintainya? Hei Kak, tolong katakan sesuatu untuk menghiburku..." Kintoki menoleh pada sang kakak yang kini terdiam mematung.

Gintoki terlihat berpikir sejenak, berusaha merangkai kata demi kata menjadi kalimat yang ia inginkan. "Wanita bukan Cuma dia, Kintoki. Masih banyak wanita lain yang jauh lebih cantik dan manis darinya."

Kintoki tersenyum miris, "Aku mencintainya lebih dari aku mencintai dirimu, Kak. Tapi dia mencintai pria lain, seorang pangeran dari negeri Shinsengumi..."

"...jadi...apa yang akan kau lakukan?"

"Gintoki, panggilkan Tama untukku."

"Apa yang akan kau lakukan?" merasakan firasat buruk, Gintoki akhirnya mau tak mau menjadi benar-benar khawatir dengan pemikirannya beberapa menit yang lalu.

"Kita akan berperang...tidak, aku akan menghancurkan negeri itu..."

"Maksudmu apa, Kintoki?! Apakah kau sudah gila? Kau akan menantang negeri dengan sistem bertempur terbaik di benua ini!"

Protesan Gintoki tak di ibahkan, "Bukan negeri tempat tinggal Mitsuba, tapi hanya Shinsengumi. Aku akan menghancurkan negeri kecil itu." Seringaian terukir di wajah indah itu, membuat Gintoki semakin merasakan ketidaknyamanan.

"Jangan lakukan itu! Kau akan membuat negeri ini terbakar dalam lautan api nanti!"

"Siapa yang peduli? Mitsuba jauh lebih penting! Jika tunangan Mitsuba mati, maka ia akan menerima lamaranku nantinya."

"Kau...kumohon jangan berbuat sesuatu yang gila semacam itu, Kintoki." mohon Gintoki, Kintoki menunduk. "Gintoki...kupikir kau akan membantuku, tapi maafkan aku. Membantu atau tidak aku akan tetap melakukannya, bahkan jika ia tak akan memilihku sekalipun."

Gintoki menundukkan kepalanya, tangannya terkepal kuat. "Jika...jika kau mau...akan kulakukan..." bisik Gintoki.

"Apa?"

"Akan kulakukan...jika kematian pria itu akan membuatmu bahagia maka akan kulakukan. Hanya untukmu, apapun akan kulakukan demi kebahagiaanmu." Suaranya bergetar, walaupun begitu ia tetap kukuh pada keputusannya. Ia tak ingin melihat adiknya bersedih lagi, lagi pula ia juga sudah berjanji akan membuat adiknya itu tetap tersenyum. Karna itu apapun akan ia lakukan asal itu dapat membuat adiknya tersenyum.

Kintoki yang mendengar ucapan dari Gintoki pun tanpa sadar memeluk erat sosok berambut perak tersebut, "...Terima kasih..." bisiknya.

Hati Gintoki gentar mendengar bisikan tersebut. Perasaannya sakit, sakit seperti teriris pisau. Tangannya terangkat membalas pelukan erat tersebut. Tanpa sadar air matanya meluncur turun dari pipinya.

.

.

.

.

Numerous houses were burned to the ground,

Numerous lives disappeared.

The screams of pain from the citizens,

Doesn't reach th prince's ears.

(Awalnya banyak sekali rumah yang di bakar.

Banyak sekali nyawa yang di lenyapkan.

Jeritan menyedihkan dari para rakyat.

Tak bisa mencapai telinga sang pangeran.)


"Oh, ini waktunya snack."

Mendengar Kintoki berkata begitu, Gintoki pun memperhatikan arlogi di pergelangan tangannya. Pukul menunjukkan angka tiga tepat, memang benar ini jam untuk memakan cemilan. Sadar akan posisinya sebagai pelayan, ia pun bergegas pergi menuju dapur.

Tak butuh waktu lama bagi Kintoki untuk dapat melihat si surai perak, karna ia tahu kalau sang kakak cukup sigap dalam menjalankan tugasnya. "Hari ini aku membuatkanmu brioche. Kuharap kau suka." ucap Gintoki sambil menghidangkan sepiring penuh brioche, terdapat senyuman di wajahnya.

"Bagaiman hasilnya, Gintoki?" Kintoki berkata tanpa melihat sang kakak –sibuk memainkan cemilannya.

"Kau bisa merasakannya sendiri kan."

"Tidak, bukan itu maksudku. Maksudku perkembangan perintah yang telah kuberikan kemarin padamu, bagaimana hasilnya?"

Gintoki terdiam sejenak lalu tersenyum kembali, "Baik..." Kintoki tersenyum, lantas ia langsung memakan beberapa brioche tanpa banyak tanya lagi. Setelah merasa tak ada yang perlu di bicarakan lagi Gintoki pun berbalik pergi menuju dapur, senyumnya semakin memudar di setiap langkahnya yang semakin menjauhi Pangeran muda.

.

.

~Prince of Evil~

.

.

The evil flower, steadily blooms

with an array of colors.

Although it's such a beautiful flower.

There's so much thorns you can't touch it.

In order to take down the evil prince.

The people stood up,

The person who led the wild mob was

A swordprince in black armor.

The anger the built up over the years.

Quickly spread throughout the kingdom.

The soldiers that were worn out from the war.

Stood no chance against them.

(Sang bunga jahat, tumbuh dengan sekumpulan bunga yang di selimuti oleh warna.

Walaupun ia adalah bunga yang sangat indah.

Duri yang ada padanya membuatmu tidak bisa menyentuhnya.

Dalam perintah untuk menjatuhkan pangeran yang jahat.

Rakyat pun bersatu.

Seseorang yang memimpin kerumunan itu adalah

Pangeran berpedang yang mengenakan baju armor hitam.

Kemarahan yang terpendam selama bertahun-tahun.

Dengan cepat menyebar keluar melalui kerajaan.

Semua prajurit itu melarikan diri dari perang.

Mereka tidak lagi bersatu.)


"Rakyat memutuskan untuk memberontak, aku tak menyangka kalau waktunya akan secepat ini..."

"Kita akan melawan." Tegas Kintoki, membuat kecemasan Gintoki semakin menjadi-jadi.

"Apa? Kita tidak memiliki cukup banyak prajurit untuk menghentikan mereka. Jika kita mengirimkan prajurit untuk menghentikan mereka, maka tak akan ada cukup prajurit untuk berjaga di istana."

"Aku tidak membutuhkan orang-orang tidak berguna itu, selama kau ada di sisiku itu sudah cukup untukku. Kirim orang-orang tidak berguna itu pergi, setidaknya kematian mereka akan mengurangi jumlah para pemberontak itu."

"Kintoki...Baiklah..." tangan Gintoki mengepal sebelum akhirnya kembali melemas.

.

.

.

.

Finally, the castle was surrounded.

And all the servants have already fled.

The little fragile prince,

Was finally captured.

The evil flower, steadily blooms

with a sorrowful array of colors.

The paradise made for him,

Quickly disintegrated.

(Akhirnya, istana itupun di kepung.

Semua pelayan sudah melarikan diri.

Sang pangeran yang tak berdaya itu pun...

Akhirnya terperangkap.

Sang bunga jahat, tumbuh dengan sekumpulan bunga yang di selimuti oleh warna.

Surga kenyamanan yang di buat untuknya

Dengan cepat hancur.)


"Hmp! Bocah kurang ajar..."

"Sekarang kau akan membayar mahal untuk apa yang telah kau lakukan pada negeri ini, negeriku, Kakakku dan...tunangannya..."

Mata sang pangeran melebar sesaaat sebelum akhirnya berubah menjadi sebuah seringaian meremehkan. Ia bahkan mengabaikan todongan pedang dari pemuda yang jauh lebih muda darinya itu, "Memangnya apa yang bisa dil akukan oleh bocah bodoh sepertimu?"

Pangeran muda berambut coklat lembut itu menggigit bibir bawahnya –setengah menggeram sebelum akhirnya terlibat dalam pertarungan dengan sang pangeran negeri perak. Pertarungan berlangsung sangat sengit, para penonton bahkan menggigit kuku melihat pertarungan sengit keduanya –seolah-olah merekalah yang sedang bertarung itu.

Menghela napas lega begitu pangeran muda itu berhasil menjatuhkan pedang sang pangeran keemasan. Pangeran keemasan terpojok, namun senyumannya masih belum pudar –membuat pangeran kecoklatan semakin geram melihatnya.

"Tunggu apa lagi? Bunuh aku." tantang si pangeran keemasan dengan senyumnya yang masih belum pudar.

Para bawahan pangeran berambut coklat berusaha menenangkan sang atasan. "Tidak, jangan lakukan itu Tuan muda. Anda tidak boleh menghakiminya sendiri, biar para atasan yang memutuskan. Hukuman apa yang pantas di berikan pada seseorang sepertinya."

"Kau benar, Yamazaki. Bawa dia pergi dari hadapanku segera. Kurung dia di penjara bawah tanah di istana ini."

"Baiklah, Tuan Muda."

"Padahal akan lebih baik jika kau langsung menebasku untuk membalaskan dendam Kakak tercintamu itu. Yah, mau mati di tanganmu ataupun di mesin sama saja bagiku." si pangeran berucap, berusaha memprovokasi.

"Tutup mulutmu, kau tidak berhak berbicara seperti itu pada Tuan Muda." kesal si pelayan yang bernama Yamazaki tersebut, sembari membawanya pergi sesuai perintah.

Pangeran yang termakan provokasi ringan pun menghancurkan sebuah lemari kaca yang berisikan mahkota kerajaan, menghancurkannya hingga tak berbentuk lagi.

.

.

.

.

A long, a long time ago.

There was a kingdom of unspeakable inhumanity.

And the person at the top was.

A prince at the age of eightteen.

The he time of execution was at 3 o'clock.

The time when the church bell rang.

A person that was once a prince.

What does he think in his jail cell.

(Pada zaman dahulu, dahulu kala.

Terdapat kerajaan jahat yang tak seorang pun berani melawannya.

Dan orang yang berada di atasnya adalah

Seorang pangeran yang berusia 18 tahun.

Waktu pengeksekusiannya adalah pukul tigatepat.

Waktu dimana lonceng gereja akan dibunyikan.

Orang yang dahulunya adalah seorang pangeran.

Apa yang dia pikirkan di dalam penjaranya.)


"Aku dengar kau tidak mau makan, kenapa? Apakah karna makanan penjara tidak seenak makanan saat kau menjadi Pangeran, Pangeran Kintoki?"

"Jangan panggil aku begitu, sekarang sudah tidak ada lagi yang memanggilku 'pangeran'. Aku tersanjung kau masih mau memanggilku pangeran, walau sekarang aku bukan lagi seorang pangeran."

"Jangan begitu, aku memanggilmu pangeran karna aku suka memanggilmu begitu. Bukankah kau merasa terhina jika aku memanggilmu begitu?"

"Oh, aku tidak tahu kalau Okita Mitsuba memiliki adik yang cukup sadis disini dan lagi pula, bukankah kau terlalu jujur?"

Sougo menaik turunkan kedua bahunya sebagai respon, "Setidaknya aku bukanlah seseorang yang menangis karna telah membunuh orang yang dicintainya."

Sang pangeran berambut emas meringgis, "Kau dan dia, apakah kalian peramal? Hei, aku tidak suka masalahku di ketahui oleh orang lain teruma oleh orang seperti kalian."

"Jangan samakan aku dengannya! Kau tahu, kau akan di eksekusi sebentar lagi. Ah, tidak, bukan kau tapi Pangeran Kintoki sebenarnya."

"Ya, aku tahu lalu kenapa? Apakah kau ingin bertanya, kenapa aku mau melakukan hal ini? Jika kau ada waktu untuk bertanya dan mendengar jawabanku kenapa kau tidak membawakanku segelas parfait stroberi saja kesini? Hitung-hitung sebagai permintaan terakhirku sebagai seseorang yang akan di eksekusi mati 20 menit lagi."

Sougo beranjak pergi dari penjara bawah tanah tersebut, tak sampai 15 menit ia kembali lagi dengan secangkir stroberi parfait di tangannya. Lantas ia memberikan parfait tersebut kepada sang pangeran berambut emas.

Sang pangeran tersenyum, "Baiklah, aku melakukan ini karna aku mencintainya hanya itu." Ucapnya sambil menyuapkan bersendok-sendok parfait ke mulutnya.

"Karna cinta, kau membunuh cintamu yang lain dan menjadikan dirimu sebagai seseorang yang akan di eksekusi mati sebentar lagi. Sadarkah kau, kau membiarkan tersangka yang sebenarnya menikmati kehidupannya yang kedua."

"Hei, semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua bukan?"

"Semua, kecuali dirimu..."

"Tenang saja, memang benar di kehidupan ini aku tidak mendapatkan kesempatan kedua tapi siapa tahu di kehidupan selanjutnya. Mungkin di kehidupan selanjutkan aku akan mendapatkan berkali-kali kesempatan untuk memperbaiki segalanya."

"Itu masih mungkin."

"Oh, ayolah. Kata mungkin selalu berarti yang sebenarnya, kau tahu?"

"Kau-"

"Tuan Muda, ini waktunya bagi tahanan untuk di eksekusi."

"Begitu..., kau duluan saja, Yamazaki. Aku sendiri yang akan mengantarkannya."

"Baiklah Tuan Muda."

"...Kita akan bertemu lagi di kehidupan yang selanjutnya, Okita Sougo..." ucap sang pangeran dengan senyumannya yang tulus.

Sang pangeran muda berambut coklat terdiam, "...ya, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya-"

"...Sakata...Gintoki..." pemuda bersurai emas itu menoleh sesaat pada Sougo, sebelum akhirnya ia kembali menatap ke depan dengan mata penuh kepastian –tersenyum tipis.

.

.

.

.

he time finally came.

The church bells signaled the end.

Without caring about the commoner's eyes.

The evil flower, steadily withers

with an array of colors.

(Waktunya akhirnya tiba.

Lonceng gereja pertanda akhir.

Tanpa memperdulikan tatapan biasa.

Sang bunga jahat, layu dengan sekumpulan bunga yang di selimuti oleh warna.)


"Oh, ini waktunya snack." ucap sang pangeran datar, mengabaikan bunyi kematiannya yang semakin dekat.

Mata merah darah itu memandang sekitar, mata itu terlihat bosan –seperti ikan mati. Bahkan kematian pun tak bisa menakuti sang pangeran, sungguh. Rakyat takjub di buatnya.

"Seolah-olah nyawa tak ada harganya, bahkan nyawanya sendiri juga tak ia pedulikan. Pantas saja panggeran itu di juluki 'Iblis',"

"Sama seperti julukannya, aku dengar dia bahkan tega membunuh ratusan warga, wanita dan anak-anak di panti asuhan hanya untuk kesenangannya semata."

"Hah?! Benarkah itu?"

Hei, hei, kalau mau bergosip. Setidaknya pelankan suaramu! Aku bisa mendengarnya dengan jelaskalau kalian sedang membicarakanku.

"Iya, dia memerintahkan pelayannya untuk membantai ratusan nyawa dalam satu malam. Bahkan pelayan itu juga membantai nyawa tunangan dari putri Okita Mitsuba."

"Kejam sekali, lalu bagaimana dengan pelayan itu?"

"Tidak ada yang tahu, kemungkinan kabur bersama prajurit dan pelayan lainnya. Sepertinya pelayan itu tipe orang yang akan melakukan apapun untuk uang."

"Maksudmu seperti pembunuh bayaran begitu? Kira-kira, seberapa banyak dia di bayar untuk melakukan semua dosa besar itu?"

Tahu apa kalian tentangku, aku melakukan itu semua juga atas keinginanku sendiridan Kintoki tidak membayarku sepeserpun untuk itu.

"Entahlah, kalau aku pastinya tak akan mau melakukannya walau seberapa banyak pun uang yang di tawarkan padaku."

Kau bercanda? Aku sangat yakin kau akan berkata hal lain ketika sudah di hadapkan dengan bergepok-gepok uang nantinya.

"...Gintoki..."

Sang pemilik nama menoleh begitu mendengar seseorang membisikkan namanya, melirik kanan-kiri. 10 detik sebelum hukumannya di mulai, merah darah bertemu biru laut.

Gintoki tak kuasa untuk tidak tersenyum, Kintoki tampak menangis dalam diam. Air matanya terus mengalir turun.

Bibir Gintoki bergerak, walau tak satupun kata-kata keluar darinya. Kintoki mencoba membaca gerakan bibir itu. "..Tetaplah bertahan hidup dan tersenyumanlah..."

Itulah yang di katakan Gintoki, sebelum pisau guilotin itu berhasil memisahkan kepala dari tubuhnya. Darah mengalir deras dari luka yang terbuka, membuat Kintoki merasa akan mati lemas saat itu juga. Seseorang menyentuh pundaknya, membuat Kintoki menoleh.

"Maafkan aku, tapi ini baru saja terjatuh dari jubahmu." ucap seorang pria berambut hitam keunguan dengan perban membalut salah satu matanya, sambil memberikan sebuah kalung leontin berwarna perak.

Oh, benar juga. Itu adalah kalung Gintoki, dia memberikan itu padaku sesaat sebelum pelarianku dulu.

"Terima kasih...ini sangat berarti bagiku."

"Begitu...kalau begitu jaga itu dengan baik-baik, jangan sampai kau kehilangannya. Aku yakin, kau pasti sudah kehilangan seseorang yang sangat berharga bagimu. Itu pasti miliknya kan? Jaga itu jika kau tidak ingin kehilangannya lagi." ucapan pria itu membuat Kintoki terdiam sesaat, begitu sadar ia berlari menghampiri pria yang sudah pergi menjauh itu.

"Tunggu, siapa namamu?" pria itu terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum tipis, "Takasugi..., Takasugi Shinsuke."

Tanpa sadar Kintoki ikut tersenyum, "Terima kasih...Takasugi."

.

.

.

.

END

.

.

.

.

~Omake~

.

.

.

"Yo, Oogushi-kun, Okita-kun. Sedang apa? Mengintip wanita berganti pakaian ya?"

"Huh, apa maksudmu dengan mengintip hah?! Memangnya aku sepertimu! Dan tunggu, sudah sering kukatakan untuk tidak memanggilku begitu!"

"He~ Hijikata-san, aku tak menyangka kalau kau sedang mengintip wanita yang berganti pakaian. Kupikir kau sedang mengintip Danna tadi."

"Kau jangan ikutan si keriting bodoh ini, Sougo!"

"Siapa yang kau panggil dengan keriting bodoh, Mayora sialan?!"

"Sudahlah, sudahlah Hijikata fukuchou. Kita masih memiliki misi untuk mangawasi kan?"

"Hah?! Kau berani memerintahku sekarang? Kau sudah benar-benar tak sayang nyawa ya, Yamazaki?!"

"Hi! Ti-Tidak, bukan begitu maksud saya..."

"Sudahlah, Hijikata-kun. Jangan kejam begitu pada karakter sampingan." ucap pria berambut perak tersebut, sambil menepuk bahu pria berambut hijau kehitaman.

"Terima kasih, Danna tapi ucapanmu terlalu menyakitkan..."

"Diam kau, keriting bodoh!"

"Huh? Siapa yang kau sebut dengan keriting bodoh, V-shape bodoh?!"

"Ap- Eh, tunggu. Bukankah ini pernah terjadi sebelumnya?"

"Huh? Apa maksudmu, kau merasakan Déjà Vu? Wah, gawat itu Oogushi-kun. Aku pernah dengar kalau kau merasakan Déjà Vu, itu artinya umurmu tak akan lama lagi."

"Geez!?"

.

.

.

~Omake End~

.

.

.

A/N:

Hai~~ Kita berjumpa lagi minna tachi, ada yg kangen denganku? /gak

Kali aku datang kembali membawa fic yg sudah di edit ini! Walau sebenarnya dari pada mengedit, ini lebih seperti mengubah sih...

Maaf jika fic ini masih jauh dari kata bagus dan malah mendekati kata hancur. Dan maaf jika penempatan ficku ini gak pernah bagus, apalagi yg sekarang.

Mungkin kalian semua rada bingung dengan fic ini, jadi jika ada pertanyaan aku akan menjawabnya sebaik mungkin. Bagi yg masih bingung ama struktur(?) fic ini, disini saya. *berubah(?)* Yuri Sensei akan menjelaskannya! ^^

Baiklah, yg pertama untuk struktur. Untuk Fic ini saya membuat strukturnya agak berbeda dari yg biasanya, bagi yg udah baca "Son of Dark Purple" pasti udah ngeliat gimana strukturnya kan? Bagi yg belum ini saya tunjukkan.

Servant of Evil:Prince of Evil.

Son of Dark Purple: Regret Message Ballad

Nah, berdasarkan struktur di atas dapat disimpulkan kalau Servant of Evil dan Prince of Evil akan dijadikan satu fic, maksudnya mereka akan tetap dibuat fic berchapter tapi dibawah naungan(?) yg sama. Sedangkan untuk Son of Dark Purple dan Regret Message Ballad akan di update di fic yg berbeda lagi. Jadi ketika Servant of Evil dan Prince of Evil sudah selesai di update (setelah di edit lagi) maka untuk ficnya akan langsung saya bikin complete.

Lalu bagaimana dengan chap 3 dan 4 nya?

Tentu saja akan tetap di publish, hanya saja di fic yg berbeda. Bisa dibilangan untuk chap 3 dan 4 akan dibuat jadi story baru, tapi untuk jalan ceritanya tetap nyambung kok ama chap 1 dan 2.

Terus gimana donk dengan fanfic yg sudah di publis(Prince of Evil)?

Maaf sekali bagi semua yg sudah memfavorit dan memfollow (kalo ada) fic tersebut, karna fic itu akan saya hapus. Sebenarnya tidak sepenuhnya di hapus, karena fanfic itu akan saya jadikan satu sebagai chap 2 dari Servant of Evil. Bagi yg masih belum mengerti, pasti akan mengerti begitu melihat profil akunku nanti :3

Oh ya, bagi yg kemarin menunggu dengan sabar. Ini udah update, lengkap dengan fanfic(chap 4/ Son of Dark Purple).

Untuk Guest: Ah, maaf" jika saya kelamaan updatenya! Jujur saya lupa ama fic ini jadi terbengkalai hingga sekarang. Untung kamu ngereview jadi aku inget deh ama fic ini. Makasih ya karna sudah mau mereview fic gajeku ini, maaf jika fic ini masih banyak kekurangannya! Untukmu aku juga udah publiskan chap 4 nya :3 Tapi terima kasih banget, aku terharu karna ada yg mau menunggu fic gaje ini update T^T Semoga kamu suka ya! ^^

Oke, sekian cerocosan saya untuk kali ini. Sampai jumpa di lain waktu,untuk reader yg super duper baik dan mau menunggu updatetan fic gajeku ini. Kuucapkan terima kasih banyak.

Maaf gak bisa ngasih sesuatu yg lebih dari ini T^T