Tangan itu mencengkeram surat kabar tak bersalah itu.
Ada bahagia di dalam hatinya.
Namun juga Luka.
Rasa telah mengkhianati...
Rasa bersalah karena sudah meninggalkan...
Tangan pucat itu melepas cengkramannya pada kertas berisi ribuan kalimat itu. Matanya melihat keluar jendela taxi yang sekarang sedang dia tumpanginya. Melihat pemandangan kota yang sudah 2 tahun ia tinggalkan.
Giginya melukai bibirnya.
Terlalu keras digigit.
Menahan rasa sakit itu.
Dia tak menyangka jadi seperti ini...
Surat kabar itu mengatakan...
Presedir J-Compeny Jung Yunho BERCERAI dengan Istrinya Kwon Boa
dan J-Compeny terancam Bangkrut.
THE FANFICTION
By HoMin 'EL'
.
.
.
HoMin
.
Rate T
.
Angst
Hurt and comfort
.
.
.
.
The Love Belong to You
(Ch 2)
Enjoy
Fleshback
beberapa Jam yang lalu...
Changmin memakan sarapannya lahap. Dia heran karena Donghae memberinya sarapan istimewa pagi itu. Donghae Hyung atau seharusnya lebih tepat di panggil paman Hae olehnya itu sangat pelit. Sejak 2 tahun yang lalu saat ia tiba-tiba datang ke Busan hanya dengan 1 koper pakaian. Memeluk dan memohon pada Pamannya yang notabenya adalah adik dari mendiam ibunya. Donghae hanya terdiam kala itu. Mau menolak, tapi tak tega melihat keadaan Changmin yang menyedihkan kala itu. Kurus dan sangat kesepian.
Donghae hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat keponakannya. Changmin benar-benar mesin penghancur makanan. Keponakannya itu sangat tidak tahu malu. Menumpang seenaknya. Kerja tidak mau. Seperti pecundang saja. Tidak berguna.
Donghae mendesah... dia tidak bisa begini terus. Walau mendiam kakaknya pernah berpesan agar menjaga anaknya kala anaknya kesulitan. Tapi bukan seperti ini. Ini tidak membantu. Membiarkanya dalam keterpurukan bukanlah suatu tindakan membantu.
"Changmin... pulanglah, dan carilah pekerjaan" ucap Donghae sambil menatap keponakanya dalam.
Changmin mengelap air mineral yang lolos dari bibirnya. Lalu menatap pamanya lekat setelah menutup lagi botol air mineralnya.
"Hyung... kau tidak sayang padaku lagi? Kau tahu aku tidak mau kembali ke seoul. Aku mau disini saja" ucapnya. Wajahnya berubah muram. Actingnya bagus sekali pikir Donghae.
"Kau mau cari kerja apa disini?! Untuk apa gelar sarjanamu itu? Kau mau jadi nelayan?! Tidak ada orang yang sudi mempekerjakanmu disini. Pengalaman saja kau tidak punya!" ucapan donghae tak pernah lembut pada Changmin selalu saja seperti itu. Membentak-bentak, sudah hobinya.
Changmin menggigit bibir bawahnya. Dia memang pecundang. Dia terlalu takut kembali jatuh pada masa lalunya. Terlalu sakit menanggung semua kesakitan itu lagi. Terlalu lelah menjalani hidup dengan intensitas rasa sakit dan kebahagian yang perbandinganya tidak imbang. Terlalu banyak rasa sakit.
"Aku sudah menyiapakan taxi dan tiket menuju seoul. Kemasi barang-barang tidak bergunamu" ucap donghae. Mengambil piring kotor changmin dan mulai membawanya ke dapur untuk di cuci. Tidak berminat melihat wajah Changmin yang menegang karena kaget. Donghae benar-benar menendangnya kali ini.
Flashback end
Changmin sudah sampai dirumahnya. Jantungnya berdetak cepat. Seperti pergi kerumah pacarmu dan bilang pada orang tuanya kalau kau menghamili anaknya. Changmin tersenyum geli mendengar pikiranya sendiri. Konyol.
Changmin memasukan kunci ke lubang pintu. Rasanya aneh sekali. Sudah 2 tahun changmin tak menggunakan kunci itu rasanya...
aneh...
Changmin memampatkan hatinya. Menarik nafas panjang lalu menghembuskanya. Dia memutar kunci berwarna silver itu. Dan
"..."
changmin mengerutkan dahinya... kuncinya tidak mau di putar. Apa sudah terlalu lama jadi karatan? Tanyanya dalam hati. Namun pertanyaanya di jawab ketika tanganya mulai memegang handel pintu dan memutarnya.
CKLEK
Pintu itu terbuka.
Mata Changmin membulat
'Tidak di kunci'
ucapnya dalam hati.
dia menelan ludah.
hanya ada 2 kemungkinan.
Yang pertama... rumahnya kerampokan.
dan yang kedua...
Orang 'itu' ada di dalam. Satu-satunya orang yang mempunyai kunci cadangan rumah Changmin. Orang nomor 1 yang paling tidak ingin dia temui. Dan orang nomor 1 yang paling ia rindukan lebih dari apapun.
Nafas Changmin memberat. Jantungnya berdetak semakin cepat. Seperti ingin lepas dari dadanya.
GELAP
itulah pemandangan pertama yang dia lihat.
Kemungkinan pertama. Masih mempunyai presentasi yang besar. Batin Changmin.
Changmin menelan ludahnya lagi. Dia sedang tidak memasuki rumah hantu. Tapi rasa takutnya lebih dari itu. Hanya memasuki rumahnya saja, sudah menguji terlalu banyak andrenalinya.
Changmin menghela nafas lagi. Dia mencoba menenangkan dirinya. Dan mulai melepas mantelnya lalu di buangnya asal ke sofa, namun...
Tunggu...
Changmin melihat sofanya. Lalu TV, lalu semua perabotan yang ada di ruangan itu... semuanya tak tertutupi oleh kain putih lagi. Seperti saat terakhir kali changmin meninggalkan kediamanya.
Jantung changmin yang tadinya sedikit mereda kembali memuncak. Nafasnya kembali memberat pikiranya kembali kacau. Dan kemungkinan Kedua bahwa orang itu ada disini pun menampar kesadaranya.
Dia harus pergi! Yah dia harus pergi. Changmin kembali mengambil mantelnya dan berbalik hendak keluar sebelum langkahnya terhenti oleh cahaya lampu yang tiba-tiba menyala menerangi ruangan itu.
Dan juga
suara itu...
"C-Changmin..."
Suara itu meneusuk pendengaran Changmin.
Changmin berkeringat dingin. Kakinya tiba-tiba lumpuh. Tidak sanggub bergerak.
.
Tap tap tap tap
.
langkah itu mendekatinya, Changmin tak sanggub membalikan badan hanya untuk melihat siapa sosok di belakanya itu.
Dan Tubuhnya menegang ketika dua buah tangan kekar memegang bahunya dan membalikan Badanya.
Changmin tak berani menengadah. Dia hanya menunduk, melihat sepasang kaki dari sosok di depanya.
Tidak ada suara...
hingga jari-jari itu menyentu dagu Changmin. Dan memaksanya untuk melihat ke arah sang pemilik.
Mata Changmin terbelalak. Dia seperti melihat hantu...
apa benar yang di hadapannya ini Jung Yunho?
Apa benar sang pemilik pipi yang makin tirus ini Jung Yunho?
Apa benar sang pemilik mata berkantung ini Jung Yunho?
Apa benar sang pemilik bibir pucat ini Jung Yunho?
Changmin Tak sanggub berkata-kata...
Jung Yunhonya berubah...
dan itu karenanya...
karena ia meninggalkanya...
Rasa bersalah itu makin besar...
Dan Changminpun meneteskan bulir beningnya.
"Sudah puas...?" kalimat dingin itu keluar dari mulut Yunho. Dia menyentuh pipi Changmin. Mengapus air mata Changmin. Lalu turun dan mengusap halus bibir Changmin yang mnegering.
"Sudah puas menyiksaku?.." Yunho bertanya lagi tatapanya dingin. Yunho benar-benar tak menyangka yang dihadapannya ini adalah Changmin-nya.
Dulu dia bersumpah akan memeluk changmin dan tak akan melepaskanya lagi saat Changmin kembali.
Namun apa sekarang?
Kemarahan lebih mendominasi dirinya saat ini.
Dia marah...
marah sekali!
Marah karena di tinggalkan begitu lama.
Marah karena dibiarkan merindu terlalu lama.
Changmin menggeleng. Bibirnya kelu tak bisa berucap. Ingin bilang 'Tidak seperti itu Hyung' tapi tidak bisa. Tatapan Yunho terlau menjeratnya.
"Belum puas?..."
Yunho mendesis... lirih sekali menakutkan seperti ular. Jemarinya turun keleher jenjang Changmin.
Bibirnya bergetar. Menahan emosi. Cengkramanya menguat di leher Changmin. Bibir Changmin terbuka lebar, matanya terbelalak.
Brak!
Yunho mendorong tubuh Changmin ke dinding. Tangan pucat itu tetap mencengkeram leher Changming. Changmin ketakutan. Keringat dingin jatuh dari dahinya. Matanya mulai berair. Memohon agar di lepaskan. Dia sangat ketakutan.
Yunho menelusupkan wajahnya di perpotongan leher Changmin. Melonggarkan cengkaramanya. Yang menghasilnya bekas merah bergaris di leher indah Changmin.
Tangan Yunho turun dari leher Changmin, kedadanya lalu perut dan berhenti di pinggangnya. Melingkarkanya disana. Dan mendekatkan dengan tubuhnya. Mendekatkanya agar mereka menyatu. Meresakan pergesekan kulit yang sudah dari dulu dirindukanya. Yunho menghirup leher Changmin Kuat-kuat. Ingin menyesap semua aroma changmin. Aroma-changminnya...
Tak sadar mata Yunho yang terpejam mengalirkan liquid bening. Bibirnya yang pucat mulai mengecup halus bekas kemerahan yang telah di buatnya di leher Changmin. Bukan kissmark. Tapi tanda bahwa dia hampir membunuh orang yang paling di cintainya di dunia ini.
Bibir Yunho yang basah akan air matanya sendiri tak berhenti mengecup kulit leher Changmin.
Rasa bersalah itu kini datang. Menggerogoti dirinya. Dia hanya ingin memeluk Changmin kini...
hanya ingin memeluk Changminnya...
TBC
Terima kasih buat yang sudah review ya mina-san aku mencintai kalian...
salam HoMinoids Indonesia!
Join to our group and like our Fan page "TV2XQ and HoMinoids Indonesia"
EL
