YoonMin Fanfiction!

Jimin!GS

Warn! Typo(s), gak sesuai EYD

THIS IS A REMAKE STORY!

.

.

Nyonya Jung Present

.

.

[Chapter 1]

Pertemuan Pertama

.

Di sebuah tempat bimbingan belajar, kawasan Busan, terlihat seorang gadis -imut- dengan tubuh yang gemuk tengah menopang kepalanya yang bisa kapan saja terbentur meja. Matanya sudah tidak tahan manahan kantuk yang melanda.

"Park Jimin!"

"Ya Saem"

Seketika matanya terbuka lebar dan dia terjaga. Ya, gadis itu bernama Park Jimin. Gadis nerd dengan tubuhnya yang gemuk, membuatnya menjadi pusat perhatian di manapun dia berada.

"Pergilah ke toilet untuk cuci muka!"

Lalu Jimin berdiri dengan susah payah akibat tubuhnya yang gemuk, dan berjalan ke luar kelas bimbingan belajar. Hal itu membuat tawa tertahan dari teman-temannya disana.

Jimin kini adalah kelas 1 SMA, ibunya menuntut agar dia mendapat nilai bagus, padahal Jimin sama sekali tidak suka belajar dan nilainya pas-pas-an.

Tak lama Jimin masuk ke toilet. Ia mematut diri ke depan cermin. Jimin benar-benar mengutuk tubuhnya yang kelewat gemuk itu.

'Tenang Jimin, kau anugrah terindah, kau indah. Tidak ada makhluk Tuhan yang jelek, tidak pernah ada!' Ucapnya di dalam hati.

Dia membasuh wajahnya dengan air. Lalu menghela nafas lelah. Lelah dengan paksaan belajar dari ibunya, lelah dengan berat badannya, lelah dengan pelajaran di sekolah, lelah semuanya! Rasanya Jimin ingin bebas dari semua itu.

.

Setiap harinya sepulang sekolah Jimin pasti harus ke tempat bimbingan belajar itu, karena ini sudah masuk pertengahan semester, jadi ibunya semakin gencar menyuruhnya belajar. Astaga Jimin lelah.

Seperti biasa, Jimin sangat mengantuk kalau sudah urusan belajar. Kini dia dan Taehyung (sahabat laki-lakinya) sedang menunggu giliran kelas mereka masuk. Taehyung sedang berkutat dengan Bank Soal Ujian Tengah Semesternya.

"Taehyung-ah, temani aku ke toko buku" ucap Jimin mengetuk-ngetukan kakinya di lantai.

"Hm...?" Gumam Taehyung yang masih berkutat dengan bukunya. Senggolan Jimin benar-benar tidak berpengaruh padanya. Taehyung sangat berkonsentrasi kalau sudah bertemu dengan soal.

Soal. Soal. Selalu saja soal. Ujian masih satu bulan lagi, tapi Taehyung sudah memeras otak dari awal semester kemarin bayangkan dan sekarang lebih memerasnya lagi. Golongan pintar seperti Taehyung kalau disodorkan buku soal pasti akan histeris dan seakan larut dalam soal, kalau Jimin bilang sih kesurupan soal. Bahkan hobi bersepeda dan bernyanyinya ikutan pending karena harus seratus persen fokus untuk ujian.

Jimin mengedarkan pandangannya. Orang-orang disini sama gilanya seperti Taehyung. Bel belum berbunyi tapi mereka malah belajar, bukannya bersantai menikmati waktu luang, sebagian dari mereka bahkan membentuk kelompok kecil untuk membahas soal-soal.

Berkutat dengan soalnya nanti saja di dalam kelas. Batin Jimin gemas.

"Tae, kau butuh buku-buku soal lagi, kan? Ayolah, pasti ada buku yang belum kau beli." Jimin mulai mengguncang bahu Taehyung. Berlama-lama di keadaan seperti ini bisa membuat Jimin tertular kesurupan soal. Jimin tidak mau jadi manusia membosankan seperti itu.

Taehyung semakin menggeser tubuhnya menjauh dari Jimin. Wajahnya juga semakin terbenam ke dalam halaman buku dan sibuk mencorat-coret bagian yang kosong.

Sepertinya Jimin salah strategi. Jimin menggeser duduknya mendekati Taehyung.

"Tae, sebenarnya aku butuh buku rumus. Aku belum punya sama sekali" Daebak! Alasan yang brilian, Jimin. Taehyung pasti mau membantu orang bodoh seperti Jimin kalau seperti ini. Taehyung yang baik hati, pintar, dan murah senyum pasti akan bilang...

"Yang benar saja" Taehyung mendengus tapi masih berkutat dengan bukunya. "Paling kau mau beli novel lagi" ucapnya tanpa melihat Jimin.

Sial, kenapa tidak berhasil. Batin Jimin sebal.

"Serius, Tae. Aku mau beli buku rumus." Ucapan Jimin terdengar sedih dan mau tidak mau Taehyung menatap wajah Jimin. Yes, akhirnya Taehyung sudi melihat Jimin.

"Kalau begitu, pakai saja buku rumusku." Taehyung membuka tasnya, lalu menyodorkan buku tipis yang diyakini adalah buku rumus.

"Kau tidak usah keluar uang, pakai saja."

Sial. Sial. Jimin cemberut, kenapa sahabatnya ini tidak bisa diajak kompromi sih. Jimin hanya ingin-

"Aku tahu kau hanya ingin kabur, kan?" Tanya Taehyung dengan sudut-sudut bibirnya yang naik. Benar sekali, Tae, aku mau kabur! Batin Jimin semakin gemas.

"Taehyung-ah, apa otakmu tidak panas? Setiap hari belajar tanpa henti, aku saja yang melihatnya gerah" ucap Jimin. Cemberutnya makin panjang, membuat Taehyung semakin melebarkan senyumnya.

"Kau pasti peringkat pertama, Tae. Tidak usahlah belajar sekeras itu" ucap Jimin.

Taehyung nyegir-nyengir kuda, "Memang benar, sih"

Ugh, Jimin benar-benar bernafsu untuk mengacak-acak rambut Taehyung sekarang. "Kita jadi kabur?" Tanya Jimin pelan, wajahnya menyiratkan keinginan yang sangat besar.

"Tidak" Taehyung tertawa terbahak membuat Jimin merengut. "Ya ampun, Jim. Sebenarnya untuk apa kau belajar disini?" Tanya Taehyung geleng-geleng kepala. Biaya belajar disini tidak murah, karena termasuk dalam tempat bimbingan belajar yang bonavit. Kelihatan dari gedung dan kelas-kelasnya. Guru-gurunya diambil dari sekolah-sekolah elit. Sebagian besar siswa yang belajar disini juga berhasil. Ada harga, ada rupa.

"Supaya tidak bosan di rumah" ucap Jimin jujur. Dia yakin Taehyung akan kesal.

"Cuma penghilang bosan? Tidak ada alasan lain?" Tawa Taehyung hilang. Benar kan, Taehyung kesal, Jimin mengulum senyum.

"Yaaa ada sih. Aku belajar disini supaya orang tuaku diam. Kamu tahu kan bagaimana kalau mereka sudah kumat, daripada telingaku sakit, aku menurut saja"

"Jim, kau bercanda kan?" Mata Taehyung menyipit. Gawat, Taehyung sudah mulai kesal.

"Mendung seperti ini enaknya makan apa ya?" Gumam Jimin sambil melihat kuku-kukunya jarinya, mengalihkan pembicaraan. "Hm, ramen pedas sepertinya enak. Minumnya jus jeruk, ah tidak, jus alpukat. Ditambah nasi goreng kimchi juga oke"

"Kalau bukan novel, makanan. Sepertinya hanya itu yang ada di pikiranmu ya, Jim" Taehyung menghela nafas.

"Terserah kau mau makan apa, minum apa, aku malas meladenimu. Ayo, ke kelas, sudah hampir masuk" Taehyung langsung melesat pergi.

"Yah, kita tidak jadi kabur?" Tanya Jimin lalu meraih tasnya dan bangkit dari duduknya. Saat itu lah dia merasa sesuatu berdesir di antara kedua pahanya. Oh, tidak! Jangan bilang... Jimin menarik rok belakangnya. Noda merah tercetak jelas di area pinggulnya. Dan ada juga yang mengotori bangku yang dia duduki, untung bangku tersebut bukan berbahan kain.

Gawat! Jimin kembali duduk di bangku itu.

"Taehyung! Taehyung..!"

"Apa lagi sih? Ayo cepat, kita akan dapat tempat duduk belakang kalau begini caranya" ucap Taehyung kesal. Perlu diketahui Taehyung sangat benci duduk di belakang, karena entah kenapa dia akan mudah sekali mengantuk kalau di belakang, dan dia jadi tidak fokus.

"Darurat. Ke sini dulu sebentar" Wajah Jimin benar-benar kalut. "Cepatlah, Tae!"

"Apa sih, Jim?" Taehyung kembali ke tempat Jimin. Ia sebal, sudah pasti hari ini ia duduk di belakang.

Jimin menggigit bibirnya, bingung antara harus bilang atau tidak. Bagaimana pun juga Taehyung laki-laki.

"Aku..."

"Apa?" Tanya Taehyung. Jimin membentuk gestur supaya Taehyung menunduk mensejajarkan tingginya dengan Jimin.

"Aku tembus" ucap Jimin berbisik di telinga Taehyung.

Wajah Taehyung berubah cerah. Ya, karena kesialan Jimin sebanding dengan rasa kesalnya duduk di belakang. Antara ingin tertawa dan menolong, tapi dia tidak tahu harus menolong apa.

"Ya sudah sana ganti" ucap Taehyung cuek. Tanpa tahu penderitaan seorang Jimin.

"Taehyuuung kau tega padaku, aku tidak bawa pembalut"

"Siapa suruh tidak bawa, kau itu kan perempuan, sudah harusnya siap sedia. Masa aku harus bawa, mau dibilang apa nanti" Taehyung melipat tangan di dada, Jimin cemberut, dia bingung harus apa. Benar kata Taehyung, harusnya dia bawa pembalut untuk berjaga-jaga. Ah bodohnya kau Park Jimin. Batinnya kesal.

"Apa kau bawa jaket?" Tanya Jimin.

"Kalau aku bawa jaket, sudah daritadi aku kasih."

Ya Tuhan sekarang apa yang harus Jimin lakukan. Jimin berani saja nekat. Masalahnya, Jimin itu tidak mudah dilupakan. Pipinya tembam, tubuhnya gemuk, rambutnya yang susah diatur, membuat Jimin langsung terkenal pada hari pertama. Terkenal gemuk maksudnya.

Butuh waktu berminggu-minggu untuk membuat orang-orang terbiasa dengan badannya. Bahkan, pertemanannya dengan Taehyung sempat tidak dipercayai. Mana mungkin Taehyung si tampan, bisa berteman dengan Jimin si buruk rupa. Hey, Jimin dan Taehyung sudah bersahabat dari kecil.

Kalau sampai insiden 'bocornya' ini menyebar, entah ejekan apalagi yang akan diterima Jimin.

"Bagaimana inii" ucap Jimin menahan tangis.

Namun tiba-tiba...

"Kalau kau mau, kau bisa pakai ini" ucap lelaki berambut coklat, berkulit putih pucat, dengan senyuman yang menawan. Jimin dan Taehyung terbengong dibuatnya. Orang itu mengulurkan sebuah jaket ke arah Jimin.

"Ini, pakailah. Tadi aku duduk di samping, dan aku tidak sengaja mendengar tentang..." Lelaki itu tertawa. Giginya putih dan memiliki gummy smile yang benar-benar indah. Matanya yang sipit menambah kesan tampan saat dia tertawa. Hati Jimin langsung meleleh dibuatnya.

"... tentang situasi um itu." Lanjutnya

"Oh." Taehyung melirik Jimin yang sedang terpaku melihat lelaki asing ini. "Jim, bagaimana?"

"Te-terima kasih" ucap Jimin lalu mengambil jaket lelaki yang diulurkan itu.

Sungguh memalukan! Batin Jimin. Ia pun menundukkan kepalanya. Ini sama seperti rakyat jelata yang bertemu pangeran, seperti kodok bertemu angsa, dan seperti rumput yang disandingkan dengan mawar. Kalian tahu Jimin yang mana kan?

Lelaki itu sangat tampan, Jimin sampai sesak napas. Udara seperti hilang dari sekitarnya.

"Baiklah kalau begitu, aku masuk kelas dulu." Lelaki itu berlalu.

"Gentle juga" ucap Taehyung.

"Tidak, Tae. Tapi sangat gentle. Ah keren sekali" ucap Jimin. Pipinya panas. Jantungnya berdebar lebih keras. Jimin mencium jaket lelaki itu. Wanginya sangat maskulin, tidak mudah dilupakan. Dan masih sangat bersih.

"Masalah sudah teratasi, sekarang ayo masuk kelas"

"T-tunggu, Tae."

"Apa lagi sih?!"

"Masalahnya aku benar-benar tidak pakai pembalut" ucap Jimin menunduk. Astaga, Taehyung benar-benar kesal dengan sahabatnya yang satu ini. Walaupun Taehyung laki-laki, dia tidak bodoh, dia tahu kalau perempuan haid tapi tidak pakai pembalut akan jadi seperti apa, lalu mau jadi apa Jimin kalau tetap masuk kelas.

"Sudahlah, kau pulang saja, aku akan izinkan dirimu di kelas." Ucap Taehyung lalu pergi meninggalkan Jimin.

"Terima kasih Taehyung!" Teriak Jimin di koridor.

Jimin mengikat jaket itu di pinggangnya yang lebar untuk menutupi noda darah di belakang roknya. Setelah itu membersihkan bangku yang terkena noda darahnya.

Aku harus cepat pulang. Ya, kembali ke sini, lalu mengembalikan ini.

.

.

Jimin pulang naik bus. Begitu sampai di rumah, dia memanggil maidnya. Jangan salah, biar gemuk dan jelek begitu, Jimin itu anak orang kaya raya. Rumahnya besar dan mewah dengan mobil-mobil yang tertata rapi di garasi. Tapi Jimin tidak menganggap dirinya sekaya itu, dia tetap hidup sederhana.

"Bibi, tolong di rendam ya, nanti aku yang cuci" ucapnya pada seorang maid di rumahnya.

"Maaf Nona, tapi apa tidak Saya saja yang mencucinya?" Maid itu bingung. "Jangan! Itu ada darahku, aku takut kualat kalau Bibi yang mencuci. Aku bisa dimarahi ibu habis-habisan nanti" ucap Jimin.

"Baiklah, Nona."

Setelah maid itu pergi, Jimin juga langsung melesat ke kamar mengganti baju seragamnya dengan bathrobe. Baju seragamnya dia rendam sendiri di kamar mandi kamarnya, biar nanti saja mengurusnya. Setelah selesai, dia menghampiri tempat cuci baju dan melihat jaket itu sudah direndam.

Langsung saja dia masukan ke mesin cuci dan menekan beberapa tombol, jaket itu akan dicuci bersih, lalu dikeringkan secara otomatis. Ah tidak lupa Jimin memberikan pewangi pakaian yang paling wangi di rumahnya.

Sambil menunggu jaket selesai, Jimin bergegas mandi. Membersihkan dirinya dari debu dan noda. Jimin menuangkan sabun cair kelewat banyak, badannya penuh dengan busa dan setiap lekuk tidak ada yang luput dari gosokannya.

"Cepatlah cepatlaah" Jimin sudah selesai mandi dan sekarang dia sedang mengobrak-abrik lemarinya, mencari pakaian apa yang kira-kira bagus untuknya. Ya, dia harus tampil cantik. Pakaian yang dipakai harus pakaian indah. Jimin harus memakai...

Tidak ada.

Bajunya jelek semua kalau dia pakai. "Ah bisa gila! Aku harus pakai apa?" Dirinya benar-benar frustasi sekarang. Memilih kemeja berenda sepertinya tidak cocok. Kalau memakai rok, semua roknya sudah kekecilan, dan kalau dipaksa pasti sobek. Kaus? Tidak keren. Jimin menjambak rambut tebalnya. Lalu dia memekik pelan, dan memutuskan memakai baju yang biasa dia pakai.

"Yang mana saja lah, yang penting pakai baju"

Jaket lelaki tampan itu sudah kering dan siap disetrika. Jimin menyetrika dengan hati-hati dan serapi mungkin. Setelah selesai, dia menatap dengan penuh kagum, jaket lelaki tampan itu sudah sama seperti semula, rapi dan wangi. Jimin pun memasukan jaket itu ke plastik. Benar-benar seperti tukang laundry dadakan si Jimin ini.

Jimin keluar rumah melesat secepat mungkin ke halte bus. Angkutan kota benar-benar membuat Jimin gemas, saat dibutuhkan dia tidak datang, saat dia sedang santai, justru datang dengan cepat.

"Tidak apa-apa, semua akan berjalan dengan lancar"

DGER!

Jimin terkejut bukan main, langit yang mendung kini semakin mendung. Satu persatu titik hujan mulai turun membasahi tanah. "Tidak apa-apa halangan kecil seperti ini tidak akan membuatku mundur untuk bertemu dengan lelaki itu"

Saat bus sudah dekat, dia baru menyadari kebodohannya, kenapa dia tidak minta antar supir?

.

.

.

Jimin keluar dari bus. Jarak dari halte bus ke tempatnya belajar tidak jauh, tapi keadaan hujan begini, Jimin jadi berpikir dua kali. Apalagi dia tidak bawa payung.

Lama Jimin menunggu hujan reda -yang kenyataannya malah semakin deras- dia pun menyerah. Jimin menerobos hujan, berharap tidak basah kuyup, bodohnya.

Jimin sampai di tempat les dalam keadaan basah kuyup. Seperti kucing liar yang kehujanan, ya seperti itu lah Jimin kira-kira. Ia pun memasuki gedung megah tersebut, berjalan di koridor, berharap masih bisa menemukan lelaki tampan itu. Mengingat jam belajar sudah selesai dari setengah jam yang lalu.

Jimin celingak-celinguk mencari keberadaan lelaki itu. "Hah bodohnya aku,..." Jimin menyerah mencarinya, dia berjalan ke pintu keluar. Air menetes dari bajunya yang basah kuyup, menandai alur Jimin berjalan sampai teras luar gedung itu.

"Bodoh..." ucapnya merutuki kebodohannya. "Kalau tadi minta antar supir, pasti sudah sampai lebih cepat. Kenapa tidak terpikir sama sekali sih?" Gumamnya kesal.

"Halo? Aku jadi dijemput?"

Suara itu. Jimin menegakkan tubuhnya dan menoleh ke belakang. Jimin melihatnya. Dari arah dalam koridor pintu keluar, muncul lelaki tampan itu. Sebelah tangannya menempelkan ponselnya ke telinga, raut wajahnya kelihatan sedang jengkel.

Jimin serasa melayang. Rasa kecewa dan putus asanya berganti dengan perasaan senang. Tapi beberapa detik kemudian rasa senang itu berubah menjadi rasa khawatir. Penampilannya!

"Iya, di sini hujan. Sepertinya akan lama. Kalau aku naik bus, mau sampai jam berapa di rumah?" Lelaki itu bertemu pandang dengan Jimin. Buru-buru Jimin menunduk lalu kembali melihat ke depan.

Aduh...

"Ya sudah. Aku tunggu" Suara lelaki itu sudah hilang. Jimin yakin pasti dia menunggu di dalam. Orang bodoh mana yang menunggu hujan reda di luar sedangkan di dalam masih ada ruangan hangat. Hanya Jimin.

Jimin menatap jaket di tangannya. Biarlah besok saja dia kembalikan. Tanpa sadar, dia tersenyum. Besok, aku akan mempersiapkan diri lebih baik.

"Kau anak perempuan yang tadi siang, kan?"

Jimin tersentak. Lelaki tampan itu, duduk di sampingnya! Astaga senyumannya menyilaukan mata. Jimin terpaku lagi.

"Aku benar, kan? Ku lihat kau menghindariku, ada apa?"

Jimin masih membisu. Bingung mau bicara apa, dirinya sangat senang.

"Yoongi. Aku Min Yoongi" ucap lelaki tampan itu memperkenalkan dirinya.

.

.

.

TBC/END?


Yeayy! Ini pertemuan awal mereka ya. Prolog kemarin itu udah alur di tengah-tengah kayanya xD . Maaf updatenya lama, karena sekali lagi di sini aku buat alurnya sedikit beda dari aslinya, jadi aku muter otak lagi. Semoga chap ini kalian suka ya^^ Aku seneeeeng banget liat review kalian. Chapter depan mungkin kayanya bakal lama, soalnya aku pulang kampung, doain aja bisa post ya^^. Oiya kalo ada yang bingung, di sini Yoongi sama Jimin ada di grade yang sama.

Thanks for all readers! And BIG THANKS TO:

esazame | clutcha | yongchan | loriNara | AllSoo | SweetyChim | noona93 | Tiwi21 | JiminVivi | vchim | Hanami96 | 7201

Maaf kalo ada nama yang belum kesebut.. Love you so much! :')

Last, but not least, mind to RnR?