Chapter 2: Malam Itu Ku Sendiri, Tak Ada yang Menemani.
A crossover by two-one kf
NarutoxDXD
Genre: Romcom
Status: Teaser
Character: Naruto U., Yasaka, two-one kf (Narrator)
-Story starts-
Waktu adalah hal yang sangat sulit untuk dijelaskan. Iya, kan? Kalau dipikir lagi, selama 25 tahun hidupku ini, hal hebat apa yang pernah kulakukan?
Tidak ada.
Waktu memang berjalan terlalu cepat, begitu aku menyadarinya semua sudah terlambat.
Kalau tahu begini akhirnya, mungkin aku tidak akan pergi.
Siapa juga yang mau lehernya ditodong sebuah pedang tajam?
-Scene break-
Selama beberapa detik, Naruto mengira jantungnya sempat berhenti berdetak. Semua karena kalimat simpel yang diucapkan dokter di depannya.
"Apakah kau… suami Yasaka-dono?"
Itu bukan ejekan kan?
Ia—Uzumaki Naruto—dikira suami seseorang? Suami dari seorang wanita yang sangat rupawan itu?
Mimpi apa Ia semalam?
Ah, benar juga, semalam, kan, dia sekarat.
"A-apa?" suara Naruto tercekat di tenggorokannya.
Setsuna menatap Naruto tajam, itu bukan balasan yang Ia inginkan. "Apa telingamu tuli?" sindir Setsuna, "Aku bilang, apa kau suami dari tuanku, Yasaka-dono?"
Walau sudah diulang, tetap saja Naruto tidak bisa bereaksi selain membeo kata kunci pertanyaannya.
"Su-suami?" ekspresi tidak percaya muncul di wajahnya, "A-aku? Suami Yasaka-san? Yang kau maksud, Yasaka yang itu kan?"
"Siapa lagi."
Naruto menelan ludahnya, membayangkan dirinya berada di pelaminan dengan wanita yang baru dia kenal bebeberapa menit lalu.
Yah, bukan imajinasi yang buruk sih, indah malahan.
Tapi, kalau dipikir lagi, Yasaka-san itu seorang wanita yang anggun, elegan, cantik, rupawan, baik hati, dan juga murah senyum. Hanya dengan melihat bibirnya yang tertekuk ke atas sudah mampu membuat hati kecil Naruto berdegup kencang.
Rasanya seperti kehilangan banyak darah.
Baru pertama bertemu tapi Naruto bisa mendeskripsikan sosok Yasaka dengan sangat baik, semua yang menggambarkannya membuatnya terlihat sangat berkelas, walau memang begitu sebenarnya.
Lalu, bagaimana dengan dirinya sendiri? Seorang bujangan yang sudah menganggur selama dua tahun.
Seperti langit dan bumi.
Atau lebih tepatnya lagi, bagai permata dan kerikil. Sudah jelas kan, siapa yang kerikil?
Sementara itu, Setsuna mulai tidak sabar karena sedari tadi Naruto hanya melongo dengang tampang dungu.
"Kau tahu? Bicaralah sebelum berbicara dilarang untukmu."
Naruto tersentak begitu Setsuna mengancamnya, tidak lupa, pedang di tangannya juga ikut berbicara.
Sring!
"Wah! Tahan dulu! Tahan dulu! Jangan seenaknya mencabut nyawa seseorang, dong!"
"Bicara."
"Aku bukan suami Yasaka-san! Menikah saja belum, serius!"
Setsuna memicingkan matanya tidak percaya.
"Kau tidak percaya!?" teriak Naruto panik, pasalnya, ujung pedang Setsuna sudah mulai menusuknya.
Hm? Rasanya ada yang aneh dengan kalimat terakhir, ah sudahlah.
Naruto segera memutar otaknya mencari jalan keluar dari posisinya yang sebenarnya mengenakkan.
Hei! Mana yang tidak enak dari seorang wanita yang duduk di perutmu dengan posisi yang sangat provokatif?
Sayangnya, realitanya sekarang berbeda dengan fantasi kebanyakan orang. Yang menimpanya adalah seorang dokter psycho yang siap mengambil nyawanya.
Tiba-tiba saja, Naruto teringat soal dompetnya.
"Ah! Dompetku! Kau bisa lihat dari KTPku, statusku masih lajang!" Naruto segera merogoh sakunya dan mengambil sebuah dompet hitam lalu memberikannya pada Setsuna.
Sang dokter segera menyambar dompet itu dan membukanya, mencari-cari kartu identitas yang dimaksud.
"…Bersiaplah menghadapi kematianmu."
Mata Naruto membelalak tidak percaya, kenapa Setsuna masih mau membunuhnya!? Di KTPnya seharusnya tertulis lajang!
"Tidak ada kartu identitas satupun di dompetmu, uang saja tidak ada. Miskin."
"Uwa!"
'Aku tidak tahu mana yang lebih buruk, mau dibunuh atau dihina miskin.'
"Ah! Aku baru ingat!" teriak Naruto yang membuat Setsuna menahan pedangnya, "A-aku kehilangan dompetku di suatu tempat, itu dompet yang baru kubeli, makanya isinya masih kosong. Sumpah! Atas nama tetanggaku!"
"…"
Naruto tersenyum canggung berusaha mengubah pendirian sang dokter, sementara sang dokter hanya memberinya tampang datar.
Sayang baginya, Author bermaksud lain.
"Bohong, ciri-cirimu mirip dengan tuan puteri."
Ouch.
"Dan juga, aku tidak peduli soal tetanggamu."
Setsuna menarik pedangnya dari leher Naruto, membuat pemuda pirang itu menarik napas lega. Tapi, begitu melihat bagaimana posisi pedang Setsuna, Naruto kembali menyadari sisa hidupnya.
Siap menebas tenggorokannya.
"Tidak ada ampun bagi Pria yang membawa kesedihan pada Yasaka-dono."
"Mati kau." Dan dengan dua kata itu, Setsuna mengayunkan pedangnya.
.
.
.
"Ah!"
"Eh?"
"…Lho? Aku masih hidup?"
Naruto membuka matanya perlahan dan menyadari kalau pedang yang hendak menebas lehernya itu terhenti di tengah-tengah, tepat sebelum menyentuh lehernya. Sedangkan si pemilik pedang—Setsuna—menampakkan raut wajah kaget.
Awalnya Naruto heran, tapi kemudian dia menyadari alasannya.
Ada suara lain yang mengganggu 'aktivitas' mereka.
Begitu mengetahuinya, mereka segera menoleh ke sumber suara dan mendapati Yasaka berdiri di ambang pintu menatap ke arah mereka.
Sang pemilik penginapan berdiri mematung, tangannya menutupi mulutnya yang terbuka, mata kuningnya pun membelalak tidak percaya melihat apa yang sedang mereka lakukan.
"A-a… su-sumimasen!" ucap Yasaka yang terlihat masih shock.
Lalu, Yasaka membungkukkan badannya dalam-dalam yang membuat Naruto dan Setsuna cengo. Bukankah aneh melihat wanita yang seperti bangsawan itu membungkukkan badannya begitu saja?
"Hah?" kata penuh makna keluar dari mulut Naruto.
"Maafkan aku, silahkan lanjutkan aktivitas kalian. Ufu, aku tidak menyangka, ternyata Naruto-san dan Setsuna itu… kya!" untuk menambah penjiwaan, Yasaka menyempatkan diri untuk menjerit pelan di akhir kalimat.
Setsuna yang baru saja keluar dari mode eksekutor menatap tuannya tidak mengerti, heran, tapi beberapa detik setelahnya, sang dokter pun paham dengan maksud kalimat aneh Yasaka.
Yabai!
"Awawa! Ini tidak seperti yang Anda lihat, Yasaka-dono!?" wajah Setsuna memerah, kedua tangannya menutupi wajahnya.
"Ufu, benarkah? Tapi, Setsuna, bukankah tempat dudukmu terasa begitu nyaman hingga kau tidak tertarik untuk beranjak, ne?"
Setsuna tidak berkutik, otaknya sudah penuh dengan godaan aneh dari majikannya, yang bisa Ia lakukan hanyalah berwajah merah padam dan menahan isak tangisnya.
"Hiks! Aku sudah tidak bisa menjadi pengantin!"
"Jangan bicara yang nggak-nggak! Siapa juga yang menyentuhmu! Sedari tadi, kau kan hanya duduk di—
Naruto terdiam, teringat akan kalimat Yasaka yang tadi Ia kira cuma untuk mengisengi dokter pribadinya.
Wajah Naruto memucat, karena tiba-tiba saja indera perangsangnya menjadi sangat peka terhadap sentuhan sekecil apapun.
Dan di bagian perutnya, Ia merasakan dua benda bulat nan aneh yang entah mengapa terasa sangat nyaman.
Benda apakah itu?
Tidak perlu waktu lama baginya untuk menganalisis identitas benda tersebut, semua karena kerja sama antara logika dan hormonnya yang sinergis. Secara, Ia seorang pemuda sehat yang rentan terhadap pengaruh keindahan fana.
Namun, Ia sangsi untuk memvisualisasikan pemikirannya.
Karena Ia tahu, Ia tidak ingin mengubah rating menjadi dewasa.
"Fufu."
Suara tawa lembut Yasaka menggugah Naruto dari lamunannya, dan begitu Ia tersadar … sepasang kaki jenjang menendang perutnya.
"Bruh!"
Sang pelaku tidak menghiraukan pekikan kesakitan si korban, di pikirannya hanya ada satu hal.
Dalam sekejap, Setsuna sudah bersimpuh di hadapan Yasaka. Pedang yang tadi Ia cabut sudah Ia sarungkan dan tertata rapi di pangkuannya. "Maafkan saya, Yasaka-dono."
"Saya hanya ingin mengeksekusi pria ini! Pria yang telah menyakiti anda!" kata Setsuna penuh ambisi.
Yasaka terlihat kebingungan mendengar alasan Setsuna, "Menyakitiku? Bagaimana bisa Naruto-san menyakitiku? Kami saja baru berkenalan hari ini, sesaat setelah Ia bangun dari pingsannya."
Setsuna mengangkat kepalanya tidak percaya, "Eh? Anda … baru mengenal pria itu?" tanyanya sambil menunjuk Naruto yang masih terduduk lemas karena perutnya yang diinjak Setsuna.
Yasaka mengangguk.
Setsuna terdiam, "Maafkan saya, Yasaka-dono," ujar Setsuna penuh penyesalan yang ditujukan kepada tuannya.
Bukan pada orang yang hendak Ia bunuh tadi.
Untuk apa meminta maaf pada korbanmu (calon)? Itu melanggar kebanggan di hati Setsuna.
Samurai Pride!
Walau sedikit kesal karena nyaris dibunuh, diinjak perutnya, dan bahkan tidak dimintai maaf, Naruto tetap bangkit berdiri.
Bagaimana pun juga, Setsuna juga punya perasaan. Tindakannya barusan, yang sempat mengancam nyawanya itu, semuanya demi kebaikan tuannya.
Tentunya, pria berhati tulus seperti Naruto bisa memahaminya. Maka, setelah memantapkan hatinya, Naruto berjalan menghampiri Setsuna untuk memaafkannya.
Tapi…
"Izinkan saya melakukan Seppuku!"
Pernyataan Setsuna yang sangat mengejutkan itu membuat Naruto kaget setengah mati.
"Huwala!" Naruto berteriak tidak percaya, saking Ia terkejut, sampai-sampai menambah satu disclaimer lagi.
"Ufufu, tentu saja, Setsuna."
"Wa! Tunggu! Tunggu! Jangan tiba-tiba saja memutuskan untuk melakukan Seppuku!" teriak Naruto berusaha membatalkan aksi Setsuna.
"Diam kau! Orang awam yang tidak mengerti Bushido tidak berhak memerintahku!"
"Ya-yasaka-san! Tidak bisakah kamu memintanya untuk berhenti!?"
Yasaka menggelengkan kepalanya, "Jika Setsuna menginginkannya. Hanya ini yang bisa kulakukan, Naruto-san."
"Keluarga Setsuna adalah keluarga samurai yang telah berusia ratusan tahun, dan Setsuna sangat menjunjung tinggi ajaran Bushido keluarganya. Oleh karena itu, sebagai sahabatnya, hanya ini yang bisa kulakukan untuk menghormatinya." Lanjut Yasaka dengan mata berkaca-kaca saat Ia melihat bagaimana sahabatnya bersiap melakukan Seppuku.
"Yasaka-dono … maafkan saya …. " ucap Setsuna lirih, kedua tangannya bergetar memegang gagang pedangnya. Pedang tajam itu mengarah pada perutnya, siap mengoyak tubuh rampingnya.
Setsuna menelan ludahnya dan memantapkan keputusannya, tangannya berhenti bergetar bersamaan dengan sorot matanya yang berubah tajam.
Sekarang atau tidak sama sekali.
" … Selamat tinggal."
Naruto memejamkan matanya saat Setsuna menghujamkan pedangnya, pemuda berambut pirang itu tidak tega melihat seorang wanita melakukan Seppuku di depannya.
" … "
Deg.
" … "
Deg.
" … "
Deg.
Naruto menelan ludahnya, memberanikan diri untuk mengintip. Ia membuka matanya perlahan, penuh rasa was-was, mempersiapkan diri melihat pemandangan mengerikan di depannya.
"!"
Kata-kata Naruto tercekat, sang pemuda kaget bukan main.
Apa yang dilihatnya …
Kondisi Setsuna …
Sungguh mengenaskan.
Bahkan, Yasaka yang berdiri tepat di depan sang dokter harus memalingkan mata, kipas kebanggaannya menutupi sebagian wajahnya. Naruto yakin, hati Yasaka pasti tersayat melihat kondisi dokter sekaligus sahabatnya itu.
Sang dokter terduduk lemas disana, tubuhnya terjatuh kedepan, kedua tangannya masih memegangi pedangnya.
Naruto … tidak kuasa menahan perasaannya, melihat Setsuna yang terkapar begitu saja.
Jiwanya tergoncang, ingin sekali Ia berteriak.
"A-akh … Setsuna …"
Maka, Naruto membebaskan perasaannya, Ia berteriak.
Mengeluarkan semua perasaannya.
"Kenapa nggak jadi Seppuku!"
Naruto berteriak kesal pada sosok Setsuna.
Bukannya tergeletak bersimbah darah, Setsuna malah tergeletak bersimbah air mata.
"…Hiks, Do-dokter macam apa yang merenggut nyawa seseorang?"
"Jangan tiba-tiba mengganti pendirian dong! Mana Bushido yang kau bicarakan! Aku sudah mempersiapkan diriku dan ini yang kudapat!?"
"Fufu, bukankah Setsuna imut, Naruto-san?" ucap Yasaka tiba-tiba, "Dia selalu begini kalau merasa mengecewakan seseorang."
"Jadi, Yasaka-san sudah tahu!?"
"Tentu." Jawab Yasaka singkat dengan senyum merekah, "Maksudku, aku sudah mengenalnya selama hampir dua puluh tahun. Makanya, aku mengizinkannya. Karena aku tahu hasilnya pasti begini."
Naruto tersenyum kecut mendengar jawaban bernada ceria dari Yasaka, dia melirik Setsuna yang masih terbaring sambil sesenggukan.
"…Apa wanita ini dan dokter yang tadi mengobatiku adalah orang yang sama?" tanya Naruto, "Mereka berdua seperti orang yang berbeda."
"Fufu," Yasaka tertawa, jari telunjuk lentiknya menempel di bibirnya, sambil mengingat-ingat, Yasaka berbicara, "Kurasa … sudah sepuluh kali? Ara, mungkin lebih?"
Naruto terperangah mendengarnya, wanita bernama Setsuna ini punya gangguan mental apa, coba?
"Se-sepuluh kali?"
Yasaka mengangguk.
"Iya. Kalau tidak salah, beberapa waktu lalu, Setsuna berniat melakukan seppuku karena tidak sengaja membawakanku kimono yang salah. Lalu, ada juga saat Ia salah menaruh posisi piring di dapur. Oh! Bukankah Ia juga pernah melakukannya karena merasa bersalah telah menumpahkan secangkir teh?"
"Ada juga ya… orang yang seperti ini…" komentar Naruto.
Yasaka hanya tertawa pelan mendengarnya, "Tapi itulah yang membuatku menyukai Setsuna."
"Ouch, gara-gara kejadian barusan, rasanya tubuhku malah makin pegal." Keluh Naruto sambil meregangkan tubuhnya pelan, dia masih harus berhati-hati karena lukanya masih belum sembuh total.
Yasaka mengangguk, "Fufu, maaf ya? Karena tingkah Setsuna, kamu jadi tidak bisa beristirahat. Sekarang, tidurlah dulu. Oh dan juga, tolong makanlah ini agar cepat pulih." Ujar sang tuan rumah sambil mengambil nampan yang tadi Ia taruh di depan pintu kamar.
Yasaka segera memberikannya pada Naruto, "Hati-hatilah, masih panas."
Naruto menerima mangkuk itu dengan senang hati, perutnya terasa lapar sekarang.
"Ini apa?" tanyanya penasaran sambil mengaduk pelan isi mangkuk.
"Kalau bisa, harus dihabiskan ya? Karena yang memasaknya sangat membenci makanan sisa." Ucap Yasaka menghiraukan pertanyaan Naruto, "Kalau dia tahu, dia bisa saja meracunimu di lain waktu."
Naruto yang sudah tidak sabar makan itu pun langsung mengambil sesuap sup dan memakannya, raut wajahnya langsung sumringah begitu merasakan kelezatan masakan yang Ia terima. Sambil terus makan, Naruto bertanya pada Yasaka, "Ini sup apa?"
Yasaka terus tersenyum memperhatikan Naruto yang sedang mengecap tekstur sup di dalam mulutnya, "Apakah cocok dengan lidahmu?"
"Ya. Tapi ini sup apa? Teksturnya terasa unik di lidah."
"Itu Sup serangga."
"Blergh!"
Beberapa hari kemudian …
Setelah memakan sup serangga yang dibuat oleh sang koki, Naruto pun kembali sehat dalam waktu kurang dari tiga hari!
Tentu saja, sebab itu bukan sup serangga biasa. Itu adalah sup-erb!
Reaksi yang ditimbulkan sup itu sungguh luar biasa dahsyat, bahkan pemuda pirang itu masih bergidik ngeri kalau harus mengingat rasa sup yang superb.
Walaupun rasanya memang enak, tapi membayangkan kaki-kaki serangga itu dalam mulutnya, membuat perutnya mual.
Setelah Ia merasa baikan dan siap bekerja, Yasaka segera memberinya perintah untuk mendatangi sebuah bank dan mengambil sejumlah uang sebagai gaji perdanya.
Bukankah Ia wanita yang teramat baik? Membuatkan Naruto rekening setelah mengetahui Ia kehilangan dompetnya?
Itulah mengapa, Naruto tidak ingin mengecewakan perasaan bosnya yang seorang lady itu. Maka, dengan semangat api, Naruto segera menuju tempat yang dimaksud.
Sebuah bank ternama di Negeri Matahari Terbit, bank mana lagi kalau bukan Bank Rakyat Jepang alias BRJ cabang Kyoto?
"Disinikah tempat yang dimaksud oleh Yasaka-san?"
Setelah merapikan pakaiannya dan menarik nafas panjang, Naruto siap melangkah menuju gudang uang di depannya.
"Yosh! Langkah pertama untuk kehidupan yang baru!"
Pintu bank terbuka secara otomatis begitu Naruto menginjakkan kakiknya di depan pintu, matanya takjub melihat interior bangunan yang terlihat bersih mengkilat.
"Hebat."
Dimana-mana orang berlalu lalang, melakukan urusan masing-masing. Mereka semua terlihat berkelas, terutama orang-orang berjaket hitam yang entah mengapa memakai topeng seluruh muka.
Mungkin mereka mempunyai suatu penyakit kulit akut? Atau itu cuma fashion? Entahlah, Naruto tidak mengerti soal fashion.
Merasa tidak ada hubungan dengannya, Naruto pun menghiraukannya dan segera menghampiri kakak teller bank yang berwajah imut.
Hei! Walau Sense of Fashion-nya jelek, bukan berarti Sense of Beauty-nya sama buruknya.
"Permisi, Nona. Saya ingin mengambil sejumlah uang."
"Tentu Tuan, berapa nominal yang Anda butuhkan?"
"Ah, cukup segini saja."
Setelah mendapat konfirmasi, sang teller segera melakukan tugasnya dengan penuh ceria. Hati Naruto yang awalnya sedikit bad mood entah mengapa langsung sirna begitu melihat senyuman manis di wajah sang teller.
Ah, betapa indahnya karunia Tuhan.
"Terima kasih."
"Iya, sama-sama."
Naruto balas tersenyum dan hendak segera pulang menemui bosnya. Namun, begitu Ia berbalik, sesuatu menghadang jalan pulangnya.
"Eh?"
Sebuah pistol teracung ke wajahnya, tepat di dahinya. Dan yang memegang pistol itu adalah seorang pria? Ataukah wanita?
Setelah melihat sedikit ke bawah, Naruto menyimpulkan bahwa orang itu adalah seorang pria.
Pria yang menodongnya memakai jaket tebal dan topeng seluruh muka yang hanya menyisakan lubang mata yang cukup lebar, cukup leluasa untuk melihat.
Hei, bukankah Ia orang-orang yang tadi?
"Serahkan hartamu, ini perampokan."
"Wut!?"
Dan pada saat itu, Naruto tahu kalau harinya akan menjadi semakin buruk.
…
"Yo, apa kabar?"
Naruto menoleh dan menemukan seorang pria yang juga terikat duduk disampingnya. Pria tersebut nyengir padanya, "Hai."
"Apa?"
"Oi, aku cuma ingin menanyakan kabarmu, jangan cemberut begitu, dong? Harimu sedang sial, ya?"
Naruto menghela nafasnya, "Yah, entahlah. Kau bisa bayangkan? Selama tiga hari berturut-turut aku harus memakan sup serangga, rasanya sungguh aneh. Lalu, setelah pulih dan bisa bepergian keluar, segerombolan perampok malah menyanderaku?
"Dan lagi, mereka membuat teller imut itu menangis! Bayangkan saja, bung! Ingin kuhajar mereka."
Pria tersebut tertawa, "Haha, kehidupanmu terdengar sangat seru."
"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?" Naruto balik bertanya.
"Hm? Nah, aku sedang berlibur dari pekerjaanku. Kau tahu? Aku punya sebuah perusahaan yang cukup besar, dan juga dua orang sahabat—mereka orang kepercayaanku—yang selalu memaksaku bekerja, lama-lama aku jadi bosan, kan?
Jadi, aku pergi ke Kyoto diam-diam, dan berusaha mendapatkan ketenangan hidup. Oh dan juga cuci mata, kudengar, gadis Kyoto cantik-cantik."
"Kau ini orang yang santai ya?" ujar Naruto deadpanned.
"Banyak yang bilang begitu, hehe."
"Hei yang disana! Diam kalian! Jangan malah ngobrol! Mau kulubangi kepala kalian, hah!?"
Naruto hanya memutar matanya walau Ia diancam, pengalamannya kemarin bersama Setsuna membuatnya masa bodoh dengan situasinya sekarang.
Begitu si perampok pergi untuk menggasak uang, pria yang berada di sampingnya menyikut rusuk Naruto, "Hei, aku masih belum tahu namamu, Aku Azazel." Ucapnya memperkenalkan diri sambil nyengir santai.
"Naruto."
"Hebat juga kau, tidak bergeming begitu diancam dengan pistol."
"Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu, kau malah tertawa saat ditodong." Balas Naruto dengan seringai kecil, "Kau keren."
Azazel kembali nyengir mendengar pujian Naruto, "Hehe, terima kasih, Nak."
"Tapi, kau tidak merasa takut? Sedikit pun? Maksudku, katamu kau punya perusahaan besar, kan? Bukankah mati disini akan merugikanmu?"
Azazel menaikkan alisnya, "Hm? Tidak juga, toh kalau memang aku mati, perusahaanku akan kuserahkan pada dua orang itu, mereka kan sahabat sejatiku. Tapi, mati disini? Heh, kau pandai melawak juga ya?"
Pernyataan Azazel yang seolah menantang maut itu membuat Naruto tertarik, "Oh? Sepertinya kau tahu sesuatu? Hal yang cukup penting sampai-sampai membuatmu tidak merasa takut?"
Azazel hanya menyeringai dan membalas pertanyaan Naruto,"Hehe, kau belum menyadarinya?"
"Menyadari … apa? Tunggu, jangan-jangan!?"
"Benar, sepertinya kau juga sadar kalau pistol yang mereka bawa itu…"
"Pistol replika kan?"
"Bingo! Entah mereka bodoh atau apa, tapi mereka tidak menyadari cat di bagian dalam laras pistol. Amatiran."
"Darimana kau tahu ada cat di dalam laras pistolnya?"
"Saat mereka menodongku tadi, aku sempat melirik ke dalam. Dan di situ ada sebuah tanda kecil berwarna merah? Atau oranye? Aku lupa, yang jelas cukup mencolok.
Cat yang kumaksud tadi, adalah penanda pistol replika, prosedurnya memang seperti itu. Sebenarnya, cat seperti itu bisa dihilangkan dengan mudah. Makanya aku bilang mereka amatiran, kalau hal seperti itu saja tidak tahu."
"Wah, aku sendiri tidak menyadari adanya cat itu. Tapi, darimana mereka mendapatkan pistol replika itu? Apa di Jepang tidak ilegal?" tanya Naruto serius, "Benda seperti itu cukup merepotkan kan? Seingatku, di Canada saja, pistol replika tidak boleh diperjual belikan setelah tahun 1980.
Karena, polisi sendiri kesulitan membedakannya."
"Wawasanmu luas juga, Nak. Tapi, mereka kan perampok, peduli apa dengan yang namanya legal atau tidak."
Naruto hanya mengangguk, pemuda pirang itu kembali mellihat situasi bank yang diselimuti ketakutan. "Hei, apa sudah ada yang menghubungi polisi?"
"Siapa yang bisa? Kita semua disandera disini, bahkan sepertinya para penjaga keamanan pun dilumpuhkan. Ditambah lagi, mereka menyita telepon sandera, yah, walaupun aku nggak bawa sih."
"Ah, benar juga ya. Ngomong-ngomong, bukankah tadi kau bilang ingin cuci mata? Kenapa di daerah sini? Kalau mau melihat gadis berbikini, seharusnya pergi sedikit ke utara, kan?"
"Ckck, kau ini masih muda, Naruto." Azazel menyikut rusuknya. "Sesuatu yang sengaja diperlihatkan itu tidak menarik. Sebaliknya, jika sesuatu hal itu ditutupi, bukankah bisa melihat apa yang disembunyikan sangat menggairahkan?"
"…"
"Masih belum mengerti?" Azazel menghela nafas, "Aku ingin melihat gadis berkimono! Haha, makanya aku pergi ke kota yang terkenal akan budaya tradisionalnya!"
Naruto tidak terlihat senang.
"Oh ayolah, bayangkan saja pakaian tradisional Nihon itu! Bagaimana mereka melekat pada tubuh seksi para gadis, dan me…"
Untuk alasan tertentu, sosok Yasaka yang berbalut kimono muncul di pikiran Naruto, sontak pemuda pirang itu menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran indahnya.
Melihatnya, Azazel tertawa mesum, "Haha, kau baru saja memikirkannya, kan?"
"Diam kau."
"Mengaku sajalah."
"Fine, you got me." Hardik Naruto pelan, matanya menatap Azazel kesal.
"Ahaha, jangan begitu, dong. Aku hanya bertanya kan? Jadi, siapa yang kau bayangkan?"
"Bossku, puas?"
Mendengarnya, Azazel bersiul pelan dan nyengir pada Naruto. "Wow~ berani sekali kau ya?"
"Mau kutonjok mukamu?" ancam Naruto kesal.
"Caranya? Tanganmu kan terikat." Balas Azazel santai.
"Ugh, sial, sudah terlalu lama aku disini."
"Sudah mau pergi?"
"Ya, ini hari pertamaku bekerja, mana sudi aku dipecat karena masalah sepele seperti ini, kan?"
"Lalu, bagaimana caramu keluar dari sini? Dengan tangan terikat dan para perampok itu?"
Naruto terdiam, rambut pirangnya membayangi kedua matanya. Cukup lama Ia memejamkan matanya, tapi begitu Ia membukanya, sorot mata tajam menatap mata Azazel.
"Huh, kalau tanganku tak bisa, akan kutendang dia. Kalau kakiku juga tak bisa, akan kugigit dia. Kalau gigiku tak bisa, akan kupelototi dia, kalau mataku juga tak bisa, akan kukutuk dia. Bahkan, kalau itu artinya mati, aku akan tetap bertarung."
Azazel memandang Naruto dengan serius, tidak sedikit pun ekspresi muncul di wajahnya. Lalu, Ia menghela nafasnya dan tersenyum, "Kau memang seperti dirinya."
"Ng? Kau mengucapkan sesuatu?"
"Tidak, kok. Daripada itu, kemarikan tanganmu." Ucapnya sambil melirik pergelangan tangan Naruto.
"Untuk?" tanya Naruto bingung.
"Dasar, apa kau belum sadar?" Azazel membalas pertanyaan Naruto dengan senyuman usil, alisnya terangkat satu yang membuatnya terlihat sangat congkak. Ia memiringkan badannya sedikit dan memperlihatkan apa yang ada di balik punggungnya.
"Sejak aku memanggilmu tadi, tanganku sudah tidak terikat."
Sebelum Naruto sempat bertanya, Azazel menunjukkan sesuatu yang Ia genggam di tangan kanannya.
"Pisau?"
"Yeah, aku selalu membawa pisau kecil kemana pun aku pergi. Kusembunyikan di balik lenganku." Kata Azazel singkat, "Sekarang, kemarikan tanganmu. Aku juga ingin menghajar mereka karena telah mengganggu kesehatan mataku."
Naruto terkekeh mendengar alasan Azazel.
"Thanks."
"Hehe, ayo beraksi, Nak."
"Pasti, aku punya rencana."
-Scene break-
"Hei, psst!"
Si teller imut itu terkejut dan menoleh, mendapati Naruto sedang mengendap-endap di sampingnya, berusaha mendapatkan perhatiannya.
Nyaris Ia berteriak karenanya, untungnya, Naruto sempat memberi isyarat.
"Tenang, tenang, jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja, ok?" ujar Naruto berusaha menenangkan si teller yang terlihat begitu ketakutan.
Ia pun hanya mengangguk lemah.
"Bagus. Dengar, aku perlu bantuanmu. Er … yang mana telepon genggammu?"
Sebelum melancarkan aksinya, para perampok menyuruh semua sandera untuk melemparkan ponsel mereka. Untungnya, mereka tidak menyita ponsel-ponsel itu, hanya membiarkannya begitu saja di lantai.
Kakak imut itu pun menunjuk sebuah ponsel yang tergeletak tidak terlalu jauh darinya, tapi karena takut ketahuan para perampok, Ia pun tidak berani mengambilnya untuk menelepon polisi.
Naruto mengangguk, "Baiklah, tunggu disini ya? Akan segera kubebaskan kau."
Lalu, dengan penuh kewaspadaan, Naruto mencoba mengambil ponsel itu tanpa ketahuan. Tidak begitu sulit, mengingat tadi Ia bisa menyelinap menghampiri si teller tanpa disadari para perampok.
Tidak berapa lama kemudian, Naruto kembali dengan ponsel yang dimaksud.
"Dapat." Ujar Naruto sambil memperlihatkan ponsel teller imut itu. "Sekarang, perlihatkan tanganmu, akan segera kulepaskan talinya."
Untungnya, tali itu tidak diikat dengan sempurna, tidak ada satu menit dan Naruto sudah melepas ikatannya.
"Kau tidak apa?"
"I-iya." Jawabnya sambil mengelus pelang pergelangan tangannya.
"Bagus, kalau begitu, bisa tolong hubungi kepolisian? Aku ragu sudah ada seseorang yang menelepon."
Si teller mengangguk dan menerima ponselnya. Sambil tetap waspada, si teller segera menghubungi nomor kepolisian Kyoto.
Sementara si teller menelepon, Naruto mengawasi keadaan. Karena posisi mereka yang berada di balik meja penerima, mereka berdua cukup tersembunyi dari penglihatan.
"Sampai saat ini, situasi sangat baik. Tidak kusangka, hobiku bermain petak umpet berbuah manis pada akhirnya." Ucap Naruto pelan, cukup senang karena semua berjalan lancar, "Tapi, bagaimana dengan Azazel ya? Kuharap Ia berhasil."
"Su-sudah."
Suara halus dari samping kanannya membuat Naruto menoleh, sang teller dengan sedikit air mata berusaha tersenyum padanya.
"Ka-katanya, mereka akan segera sampai."
Naruto tersenyum, "Kerja bagus, err … boleh aku tahu siapa namamu? Rasanya cukup canggung kalau harus terus memanggilmu Nona. Oh, namaku Uzumaki Naruto."
"Miyano Akemi."
"Oke, senang berkenalan denganmu Miyano-san. Sekarang, ayo bermain permainan menunggu."
Maka, Naruto pun duduk di samping Miyano yan sebenarnya masih ketakutan. Untung saja, sikap naruto yang santai sedikit membuatnya tenang.
"Um, Uzumaki-san."
"Ya?"
" … Kamu tidak takut?"
"Fufu, tidak perlu takut. Rencanaku ini, walau sederhana, cukup ampuh." Balas Naruto dengan senyuman lima jari agar Miyano tidak merasa takut.
Lalu, mereka kembali menunggu dengan nyaman di situasi yang kacau balau ini.
Beberapa menit kemudian, suara bising sirene pun terdengar. Para polisi telah datang.
Sayup-sayup, Naruto dapat mendengar seseorang berteriak.
"Gawat! Polisi datang!"
"Cepat selesaikan urusan kita!"
Di tengah keributan itu, dimana para perampok kalang kabut dengan gangguan kecil pada rencana mereka, seseorang berteriak dengan semangat.
"Lempar sekarang!"
Suara benda berterbangan pun tertangkap telinga Naruto, dan sang pemuda pirang itu tersenyum karenanya.
"Bagus Azazel, lanjutkan." Ujarnya gembira.
"Su-suara apa itu?" tanya wanita di sampingnya.
"Jangan khawatir, itu bagian dari rencana." Balas Naruto kalem, "Just as planned."
Lalu, Naruto kembali memfokuskan pendengarannya, berusaha menangkap event yang sedang terjadi di balik meja teller.
"Ooh! Rasakan ini! Falcon Kick!"
"Gyah! Ke-keparat! Kau juga kan laki-laki!" suara berteriak sambil menahan sakit.
"Haha! Peduli amat!"
Naruto sweatdrop mendengar teriakan penuh gairah Azazel, sepertinya dia terbawa suasana terlalu jauh.
"Duh, aku memang bilang untuk mengincar kepalanya, tapi bukan kepala yang itu."
"Um, aku tidak terlalu mengerti."
"Hm? Oh maaf, biar kujelaskan."
Jadi, rencana Naruto kira-kira begini.
Pertama, membebaskan kakak teller imut dan memintanya untuk menelepon polisi. Mengapa harus dia? Tidak ada alasan khusus selain karena satu-satunya yang cukup familiar dengannya sekarang hanya Azazel dan kakak teller imut.
Di saat yang sama, Azazel membebaskan sekitar tujuh sandera yang berada di dekatnya agar tidak terlalu dicurigai, untungnya perhatian para perampok ada di brankas bank. Mengapa tujuh? Karena perampoknya ada enam orang, jadi sebisa mungkin harus melebihi jumlah para perampok, satu pun tak masalah.
Di dalam bank sendiri, ada lima perampok. Satu orang bertugas menjaga situasi sandera, tapi Naruto berhasil menyelinap dan menjalankan rencana pertama.
Setelah polisi berhasil dihubungi, cukup duduk manis dan menunggu. Begitu, perampok yang berada di depan berjaga melihat mobil polisi berdatangan, Ia akan masuk dan memberitahu rekannya. Saat itu, mereka akan panik, karena tidak menyangka aksi mereka akan ketahuan polisi, walaupun sudah mengamankan telepon para sandera.
Kalaupun mereka tidak panik, tidak perlu bingung, polisi yang akan menangani.
Saat mereka panik dan lengah, Azazel dan tujuh sandera yang sudah dibebaskannya memainkan peran mereka. Mereka harus melempari kepala para perampok dengan benda-benda keras yang bisa mereka temukan.
Tidak usah sampai mati, cukup beri mereka cidera.
Terakhir, mereka akan mendekam di balik jeruji besi.
"Simpel kan?"
"Um, tapi, bukankah mereka membawa pistol?"
"Tenang saja, menurut rekanku, itu pistol replika." Kata Naruto santai.
"Benarkah?"
Mata Naruto melebar, ketika Ia mendengar suara mesin berbunyi di dekatnya. Sontak, Ia segera menoleh dan langsung bertatapan dengan seorang perampok yang menodongkan pistol ke arahnya.
Sial, aku lengah.
Perampok itu menyeringai di balik topengnya.
Jemarinya bergerak.
Ckrek.
'Safety-nya! Gawat! Itu pistol asli!'
"Di Black Market pun, harga pistol masih terlampau mahal. Hanya punyaku saja yang bisa melubangi kepala seseorang."
"Sial." Umpat Naruto dengan keringat dingin, Ia tidak bisa begitu saja berteriak meminta tolong, salah-salah, kepalanya bakal berlubang. Ditambah lagi, Azazel masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Cih."
Mata biru Naruto memperhatikan laras pistol itu.
Tidak ada cat apapun …
Jari telunjuk sang perampok mulai menekan pelatuknya.
"Selamat tinggal, Nak. Salahkan dirimu karena mengganggu rencana kami."
Naruto berusaha melindungi kakak teller dengan tubuhnya, seenggaknya, biarkanlah Miyano selamat.
'… Inikah akhirnya?'
"Mati."
Saat pelatuk hampir tertarik sepenuhnya, sesuatu melingkari leher sang perampok, lebih tepatnya, seseorang merangkul lehernya. Hal yang tidak terduga itu, membuatnya menahan niatannya.
"Hei, apa-apaan ini!"
Ckrek
"Lepas pelatuknya dan buang senjatamu, bung."
"Po-polisi!?"
Seorang pria dengan seragam polisi lengkap dengan santainya merangkul sang perampok, tidak ada keraguan sedikit pun dalam tindakannya. Ia melakukannya dengan penuh gaya tanpa mengurangi keprofesionalitasannya.
"Ya, polisi, itu aku. Cepatlah buang, atau kau mau peluru ini bersarang di kepalamu." Ancam sang polisi dengan sorot mata tajam.
"Atau mungkin, kau lebih memilih tenggorokanmu kubuka dengan pisau kesayanganku ini?"
Sang perampok tiba-tiba merasakan benda dingin di lehernya, dan Ia bisa merasakan ketajamannya hanya dari menyentuhnya saja.
"Dan juga, pistol jenis itu, begitu pelatuk terhenti di tengah-tengah, safety-nya otomatis akan terpasang. Kau sudah kalah." Ucap sang polisi tenang, matanya beralih menatap Naruto yang sedang berusaha melindungi kakak teller.
"Tak perlu takut, Nak. Walau pistolnya masih mengarah padamu, safety-nya sudah terpasang lagi. Aman, kok." Ujar sang polisi dengan name tag 'Akai Shuuichi' di dadanya.
"A-a…."
Belum sempat sang perampok menyerahkan diri, sebuah pot bunga melayang dan menghantam wajahnya dengan keras.
Bugh!
"Gyah!"
"Nak! Kau tidak apa-apa?"
Azazel muncul bagai seorang pahlawan dari balik meja dengan senyuman gilanya.
"… Ahaha, situasi terkendali." Jawab Naruto dengan senyuman lemah.
"Sepertinya … aku tidak jadi mati hari ini."
Hah … benar-benar akhir yang antiklimaks, ya?
-Scene break-
"Fufu, aku tidak menyangka, Lho, Naruto-san."
"Apa maksudmu, Yasaka-san?"
"Kalau aku punya seorang pahlawan di penginapanku."
"Akh! Sudahlah, tolong jangan dibahas lagi."
"Fufu, suatu saat nanti, kalau terjadi sesuatu. Lindungi aku, ya?"
"Wa-! Hah … Bukankah Yasaka-san sudah punya samurai kw itu?"
"Setsuna bisa marah, lho, kalau mendengarnya."
"… Tentu, bukankah Yasaka-san adalah boss-ku sekarang?"
"Arigatou ne, Naruto-san."
.
.
.
" … Hanya mimpi?"
Naruto yang masih berbaring di futon mengedipkan matanya beberapa kali. Entah mengapa, Ia terbangun dari tidurnya.
Naruto menatap kosong atap-atap kamarnya, pikirannya melayang entah kemana.
Ia teringat bagaimana setelah kejadian di bank kemarin, kepolisian menasehatinya untuk tidak melakukan tindakan sembrono lagi. Walau begitu, mereka tetap menghadiahi Naruto sebuah bintang jasa.
"Sekarang … tengah malam, ya."
Merasa tidak bisa tidur lagi, Naruto memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.
Penginapan milik Yasaka itu benar-benar luas, Ia sendiri mendapat sebuah kamar khusus di sayap kiri penginapan. Semuanya tinggal disitu, termasuk Yasaka sendiri.
Ngomong-ngomong, kamar Yasaka bersebelahan dengan kamar si dokter samurai.
Naruto membuka pintu geser kamarnya dan berjalan pelan, berhati-hati agar tidak membangunkan penghuni lainnya.
Dari koridor penginapan, Ia bisa melihat pemandangan langit berbintang Kyoto.
Langkah kakinya membawanya sampai ke ujung koridor, dan disana Naruto melihat sebuah ruangan yang masih menyala terang.
Ruang pertemuan.
Biasanya, di pagi hari sebelum mereka kembali bekerja, semuanya akan berkumpul disana untuk melakukan briefing sekaligus sarapan bersama.
"Aneh, kenapa lampunya masih menyala?"
Karena penasaran, Naruto pun memutuskan untuk memasuki ruang pertemuan.
Ada seseorang disana.
Rambut pirangnya yang menyelimuti punggungnya terlihat sangat mencolok, walau posisi orang itu membelakanginya, Naruto tetap tahu siapa dia.
"Oya? Yasaka-san, masih belum tidur?"
Mendengar suara seseorang di belakangnya, Yasaka menoleh dengan keterkejutan. Ia tidak menyangka ada orang lain yang masih terjaga selain dirinya.
Mata Yasaka terbuka lebar begitu Ia melihat siapa yang memanggilnya.
"Na-Naruto-san?"
Pandangan mata mereka bertemu.
Dan saat itu pula, Naruto menyadari sesuatu.
'Yasaka-san … menangis?'
CUT!
Yosha! Readers!
Bagaimana harimu? Indah? Menyenangkan?
Atau malah seperti Author?
Penuh dengan masalah, tugas, kewajiban, dan beban yang menghantui?
Akhir-akhir ini, ada banyak kejadian aneh di kehidupan Author.
Rasanya, pikiran Author sudah agak sedikit gila?
Nah, Author masih memiliki logika, jadi bukan masalah.
Anyway, banyak yang meminta untuk melanjutkan fic ini, tapi tetap saja, tidak ada plot.
Serius, semuanya terjadi begitu saja. Saat berimajinasi hasilnya begini, saat ditulis hasilnya malah begitu, berbeda jauh dari bayangan.
Tapi, setelah direvisi, tambah jauh dari bayangan awal.
Aah, indahnya dunia.
So, so, ini chapter dua? Mungkin? Akan dilanjutkan?
Saa, ada yang punya ide? Sesuatu yang menurut readers menarik?
Sebenarnya, Author sudah punya bayangan soal Azazel, Sirzech, dan Michael. Selain itu kosong, so, adakah yang mau membantu?
Status masih Teaser.
Sampai sini dulu, saja.
Au revoir.
