The second chapter.
"Ekhem!"
Jaehyun maupun Doyoung langsung menatap arah pintu masuk. Mereka mengerjap, didepan sana seorang namja berparas persis dengan Doyoung sedang berdiri sembari menyilangkan tangan didepan dada. Namja itu memasang wajah khas meme if you what I mean sembari menaik turunkan alis.
"Uri Doyoung-ie kedatangan tamu ternyata" Ucap namja itu dengan santai lalu melangkah masuk. Jaehyun dan Doyoung buru-buru berdiri.
"Siapa namamu?. Apa kau sudah sering berkunjung diam-diam seperti ini untuk menemui adikku?" Doyoung melotot kaget mendengar ucapan kakaknya. Sungguh membuat malu. Jaehyun sendiri hanya bisa tersenyum maklum.
"Aku Jung Jaehyun, hyung. Aku pendatang baru dikawasan ini, aku baru tiba tadi pagi" Balas Jaehyun dengan ramah. Pria tersebut mengangguk-angguk paham.
"Oooh begitu… Aku kira kau pacar adik ku" Jaehyun tersenyum lagi. Sedangkan Doyoung menatap garang kakaknya.
"Aku bukan pacarnya Doyoung, hyung. Kami bahkan baru mengenal beberapa jam yang lalu" Balas Jaehyun mengkoreksi ucapan kakak Doyoung. Doyoung sendiri melirik Jaehyun sebentar, sedikit melempar senyum, lalu menatap garang lagi kakaknya.
"Oh begitu… Padahal kalau aku lihat, kalian cocok." Doyoung buru-buru menarik lengan kakaknya. Ia benar-benar tidak tahan memiliki kakak seperti ini.
"Kami tidak pacaran, hyung ini ada-ada saja. Ah ya! Hari ini'kan jadwal hyung untuk memasak, jadi hyung masak sana. Aku sudah lapar Gongmyung-ie hyung." Namja bernama Gongmyung itu memincingkan mata kearah adiknya. Ia segera menarik Doyoung, lalu merangkulnya.
"Hyung hanya bercanda. Kau tidak usah memerah begitu." Jaehyun sendiri hanya bisa terkekeh melihat tingkah kakak beradik tersebut.
Gongmyung kemudian mengalihkan pandangannya kearah Jaehyun. "Kau tahu Jaehyun -ssi, adik kecilku ini sangat mudah tersipu," Gongmyung mencubit pipi Doyoung. "pipinya cepat merah jika sedang malu. Tapi kalau memerah begini, Doyoung-ie terlihat manis bukan?"
"Hyung!" Jaehyun menatap Doyoung setelahnya. Benar saja pipi namja tersebut tampak memerah.
"Aku setuju dengan hyung. Doyoung terlihat manis jika memerah seperti itu, dia terlihat lucu." Balas Jaehyun membenarkan ucapan Gongmyung. Doyoung mengerucutkan bibirnya sebal.
"Stop hyung! Kau harus memasak sekarang juga!" Doyoung melepas tangan kakaknya secara paksa. Ia lalu menarik tangan Jaehyun.
"Kau juga harus pulang, ini sudah malam Jaehyun-ah."
Jaehyun melirik kearah tangan Doyoung yang menggenggam tangannya. Jaehyun tersenyum kecil saat tahu tangan itu terasa panas, dan er sedikit bergetar?.
"Ne."
.
.
Setelah kepulangan Jaehyun dan selesainya makan malam penuh keributan dengan hyungnya, Doyoung memutuskan untuk langsung pergi kekamar. Ia masih agak kesal dengan Gongmyung. Biasanya sehabis makan malam mereka akan nonton tv bersama, tapi mungkin tidak untuk hari ini.
"Kelinci! Kau dikamar'kan?"
Doyoung yang baru berbaring segera mendengus sebal mendengar suara kakaknya.
Krieeeet
"Lama sekali menjawabnya, pasti sedang memikirkan si tetangga nomer seratus empatbelas itu ya?" Tanya Gongmyung bermaksud kembali menggoda Doyoung. Sedetik kemudian sebuah boneka penguin terlempar kearah Gongmyung.
"Berheti menggodaku hyung! Kami tidak ada hubung apapun!"
Gongmyung tertawa kecil melihat reaksi adiknya. Terlihat sangat jengkel dan malu disaat bersamaan.
"Lihat pipimu merah. Doyoung-ie sangat menggemaskan jika tersipu" Kemudian sebuah guling terlempar kearah Gongmyung. Namja itu meraih guling tersebut.
"Ish! Aku bilang berhenti menggodaku hyung!"
Gongmyung kembali tertawa. Rasanya begitu menyenangkan menggoda Doyoung.
"Padahal kalian baru mengenal, tapi sudah saling menatap penuh cinta begitu. Jaehyun juga menyapu penuh cinta sudut bibirmu, dan itu benar-benar so sweet, bahkan dia memintamu untuk berbaring,"
"Eh?" Gongmyung terdiam sesaat. Kemudian ia menampakkan wajah terkejut dengan mulut hampir menganga lebar. Ia baru sadar dengan akhir kalimat yang ia ucapkan. Namja itu menuding adiknya dengan mata menyipit.
"Untuk apa Jaehyun memintamu berbaring? Kalian pasti mau melakukan yang tidak-tidak ya? Hayoo, mengaku! Kalau tidak aku akan beritahu appa dan eomma." Doyoung mati-matian menahan diri untuk tidak menyerang kakaknya. Namja kelinci itu benar-benar ingin memasukkan kakaknya dalam lemari, kemudian menguncinya, dan membuang lemari tersebut kejurang.
"Demi Tuhan! Kami baru mengenal beberapa jam yang lalu, mana mungkin kami melakukan yang tidak-tidak! Dasar byuntae!"
Gongmyung memasang wajah andalannya; meme if you know what I meannya kembali. "Kau bilang baru beberapa jam mengenal tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak bukan?. Jadi, kalau sudah cukup lama mengenalnya, baru mungkin begitu melakukan hal yang tidak-tidak?"
Pipi Doyoung langsung bersemu mendengar kalimat kakaknya. Ia buru-buru turun dari ranjangnya. Kali ini Doyoung tidak akan melepaskan kakaknya.
"Hyung! Aku bersumpah akan mengikatmu dan menguncimu dalam gudang setelah ini!"
.
.
.
.
Setelah mengenakan seragam, Doyoung mematut dirinya didepan cermin. Ia segera merapikan rambutnya. Namja kelinci itu tersenyum puas saat melihat dirinya sudah rapi. Ini saatnya Doyoung kembali kesekolah dengan status dan tingkat yang baru.
"Kenapa lama sekali? Kau berdandan ya?" Doyoung mendengus mendengar pertanyaan tersebut. Ia melirik malas kakaknya yang berdiri diambang pintu kamarnya.
"Hyung ini masih pagi…" Gumam Doyoung memperingatkan. Gongmyung sendiri hanya bisa tertawa melihat ekspresi sang adik. Segera namja itu berjalan mendekati Doyoung, lalu merangkul lelaki yang lebih muda tersebut.
"Kau pakai lipstick? Kenapa bibirmu merah begini?" Tanya Gongmyung kembali menggoda adiknya. Doyoung menepis kasar tangan kakaknya.
"Jangan menggodaku terus! Sana cari pekerjaan lain! Dasar aneh!" Geram Doyoung, lalu melangkah pergi meninggalkan Gongmyung sendirian dikamar. Gongmyung hanya bisa terbahak setelah itu.
.
.
Saat tiba disekolah, Doyoung sudah disambut oleh berbagai wajah baru. Disepanjang koridor banyak sekali siswa tingkat sepuluh berkeliaran, bahkan dipenjuru wilayah sekolah. Doyoung yang sedikit tidak suka keramaian langsung tancap gas menuju kelasnya.
Dia sebenarnya cukup risih dipandangi terus oleh para hoobae.
"Doyoung!"
Doyoung segera menghetikan langkahnya. Ia kemudian memutar badan. Beberapa meter didepannya sudah ada Jaehyun yang tersenyum cerah. Namja bermarga Jung itu mendekat kearah Doyoung.
"Ternyata kita satu sekolah" Mulai Jaehyun ketika sudah berdiri dihadapan Doyoung.
"N–ne" Jawab Doyoung sedikit gugup. Mengingat kejadian kemarin membuatnya benar-benar malu. Ini semua salah kakaknya yang menyebalkan itu.
"Kurasa kau lebih tua dariku, jadi apakah aku harus memanggilmu hyung mulai sekarang?" Tanya Jaehyun masih dengan senyum ramahnya. Doyoung hanya mengangguk kecil sebagai balasan.
Menyadari kecanggungan Doyoung, Jaehyun segera merangkul namja tersebut.
"Tidak perlu dipikirkan, apalagi sampai merasa malu. Lagipula Gongmyung hyung hanya bercanda" Ujar Jaehyun paham akan maksud kecanggungan Doyoung. Namja kelinci tersebut sebenarnya sudah dari kemarin, sehabis mengantarnya sampai pagar rumah, bersikap canggung seperti itu.
Doyoung tersenyum kikuk. "Apa sikapku mudah ditebak?" Jaehyun mengangguk cepat.
"Yap, sangat mudah. Bahkan sangat-sangat mudah" Ucap Jaehyun sedikit bercanda. Doyoung merengut, ia mempoutkan bibirnya.
"Aku baru tahu kau ternyata cukup menyebalkan." Sinis Doyoung kemudian dengan mata menyipit tidak suka. Jaehyun terkekeh melihat tingkah Doyoung.
"Kenapa kau lucu sekali hyung? Aigo…" Gumam Jaehyun dengan tangan refleks mencubit pelan pipi Doyoung. Doyoung sendiri hanya bisa terdiam. Ia berpikir, apakah Jaehyun memang selalu bersikap seperti ini pada semua orang yang baru dikenalnya?. Kenapa Jaehyun senang sekali melakukan kontak fisik melebihi teman biasa, padahal mereka baru mengenal kemarin.
"Ya! Hentikan!" Protes Doyoung saat merasakan jemari Jaehyun tambah keras mencubit pipinya. Jaehyun langsung tertawa lepas melihat wajah geram Doyoung.
"Mianhae hyung. Sakit ya?" Kali ini tangan Jaehyun kembali bergerak menyentuh pipi Doyoung. Tadi namja itu mencubit, sekarang ia malah mengusap pipi Doyoung.
"Ya! Jangan usap pipiku seperti itu!" Protes Doyoung lagi dengan wajah kesal. Sejujurnya ia malu diperlakukan seperti ini didepan umum oleh Jaehyun. Banyak pasang mata sedari tadi menatap mereka.
"Hyung sangat lucu, seperti kelinci."
"Sialan" Doyoung mendesis sebal saat Jaehyun lagi-laginya mencubit pipinya.
"Doyoung-ie hyung seperti kelinci!"
"Haish! Jaehyun hentikan! Jangan menarik pipiku!"
Kegaduhan yang mereka ciptakan tersebut malah mengundang lebih banyak pasang mata untuk melihat. Doyoung yang berhasil melepaskan diri dari Jaehyun segera menarik pipi namja itu keras-keras, bermaksud balas dendam. Ia memberikan mehrong gratis pada Jaehyun, sedangkan Jaehyun mengaduh kesakitan.
Doyoung baru saja hendak kabur, tapi niatannya langsung batal saat melihat seseorang berdiri dibelakang Jaehyun. Dengan cepat ia berjalan menuju orang tersebut.
"Taeil hyung!"
"Doyoung-ie!"
Jaehyun berhenti mengusap pipinya saat sadar Doyoung menyerukan nama seseorang. Ia berbalik, dan mendapati Doyoung sudah dirangkul oleh namja bernama Taeil tersebut. Jaehyun tanpa sadar memasang wajah tidak suka.
"Bagaimana liburanmu eum? Menyenangkan?" Doyoung mengangguk cepat.
"Eum! Menyenangkan sekali. Bagaimana dengan hyung?"
Doyoung melambai kecil pada Jaehyun ketika melewati anak tersebut.
"Lumayan menyenangkan" Jaehyun cemberut maksimal melihat bagaimana sikap Doyoung tadi. Namja itu hanya melambai tanpa sepatah katapun. Samar-samar ia masih bisa mendengar percakapan dua orang tersebut.
"Kenapa hanya lumayan?"
"Karena aku tidak bisa bertemu denganmu saat liburan. Kau tahu'kan?, aku juga rindu padamu."
Alis Jaehyun mengerut jijik mendengar ucapan Taeil. Ia mendengus setelahnya.
"Cih! Dasar gombal! Hanya manis dimulut!"
.
.
.
.
Jaehyun segera bernafas lega saat kelas dibubarkan. Akhirnya tiga jam pembelajaran yang isinya hanya perkenalan terlewati. Jaehyun segera menelungkupkan tangannya diatas meja, dan menyembunyikan wajahnya. Hari ini ia agak badmood, yah akibat 'itu'.
"Ayo makan siang Jaehyun-ah." Jaehyun mengangkat kepalanya. Ia menggeleng sebagai jawaban.
"Aku tidak lapar." Jawabnya sedikit berbohong. Dia sebenarnya lapar, tapi malas bergerak.
"Jangan menolak, ayo pergi bersama." Teman sebangku, sekaligus tetangga Jaehyun itu tak habis akal mengajak Jaehyun kekantin. Sekarang namja bernama Winwin itu menarik-narik tangan Jaehyun, berusaha keras melepas Jaehyun yang tampak lengket dengan bangkunya.
"Kau saja, aku tidak ingin." Jaehyun kembali menolak. Ia memasang wajah super malas, tapi Winwin tampak tidak perduli dan tetap melanjutkan aksinya.
"Ayolah, ayo Jaehyun. Ayo pergi bersama." Rengek Winwin lagi, masih berusaha membujuk Jaehyun. Namja bermarga Jung itu menghela nafas, tak akan ada habisnya berdebat dengan Winwin. Jadi ia segera beranjak dari bangkunya.
"Nah! Begitu baru Jung Jaehyun." Winwin berucap seolah-olah mereka mengenal sudah cukup lama. Padahal baru berkenalan dan mengobrol kemarin. Jaehyun hanya memasang wajah datar.
"Ayo!"
.
.
Suasana ramai langsung menyambut Jaehyun dan Winwin ketika mereka sampai dikantin. Jaehyun yang ditarik Winwin entah kemana hanya bisa pasrah. Beberapa menit berjalan akhirnya mereka sampai disebuah meja panjang berwarna putih dekat counter makanan. Winwin melepas pegangannya pada tangan Jaehyun.
"Kun hyung~!" Winwin berseru bahagia lalu duduk disamping namja bernama Kun. Mengabaikan Jaehyun yang masih berdiri.
"Akhirnya kau datang juga. Aku sampai kelaparan menunggumu." Winwin tertawa renyah dan merangkul Kun.
"Mianhae… Kalau begitu ayo pesan makanan. Jaehyun!" Jaehyun menoleh.
"Ya?" Jawabnya. Winwin melirik tempat duduk diseberangnya.
"Duduklah." Ucapnya kemudian dengan senyum ramah. Seolah-olah meja dan kursi dikantin adalah miliknya. Jaehyun pun duduk tanpa bicara lagi.
Winwin dan Kun beranjak dari tempat duduk. Baru saja Jaehyun bergabung, mereka sudah mau pergi.
"Kau mau pesan apa Jaehyun? Biar aku ambilkan sekalian."
Jaehyun berpikir sejenak. "Sandwich dan orang juice," Winwin mengangguk paham.
"Baiklah, tunggu sebentar." Setelahnya Kun dan Winwin menghilang dalam kerumunan siswa lapar.
Jaehyun pun sendirian. Namja itu segera menopang dagunya, alisnya mengerut, wajahnya terlihat badmood sekali. Entah kenapa perasaan kesal dari pagi itu masih saja terasa sampai sekarang. Jaehyun tidak pernah merasa badmood separah ini, apalagi penyebabnya masih diragukan (melihat Doyoung dirangkul orang). Jadi apa pantas Jaehyun merasakan hal seperti ini?.
"Astaga, kantin benar-benar penuh, aku ikut duduk disini ya…" Karena terlalu asik melamun, Jaehyun sampai tidak sadar penyebab badmoodnya sudah duduk disebelahnya. Untungnnya Doyoung sendirian, bukan bersama orang itu.
"Kau tidak makan?" Doyoung kembali berbicara karena Jaehyun tak kunjung menyahut. Ia membuka sumpitnya.
"Makananku masih on the way," Jawab Jaehyun. Doyoung yang hampir memakan makanannya langsung terkekeh.
"Apanya yang on the way? Dasar…" Gumam Doyoung sembari geleng-geleng, tak lupa juga tersenyum. Jaehyun disampingnya terus saja menatap Doyoung.
"Astaga! Kenapa dia manis sekali?" Batin Jaehyun tidak kalem, bagaikan fangirl yang sedang fangirling-an.
"Hyung, pulang sekolah ini kau ada kegiatan?" Mulai Jaehyun. Doyoung yang sedang mengunyah makanan, menggeleng pelan.
"Tidak kurasa. Kenapa?" Jaehyun buru-buru tersenyum senang. Ia segera menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Doyoung.
Dengan segera Jaehyun merangkul Doyoung. "Ayo jalan-jalan. Temani aku berkeliling hyung." Balasnya dengan nada memohon. Doyoung segera melepas tangan Jaehyun yang melingkar dibahunya. Doyoung malu ditatap banyak pasang mata, apalagi ini dikantin.
"N-ne… Aku temani." Jawab Doyoung mengiyakan permintaan Jaehyun. Jaehyun sendiri langsung tersenyum sumringah. "Yeay! Gomawo hyung~" Lalu memeluk Doyoung erat dari samping.
Bertepatan dengan itu, Kun dan Winwin tiba. Mereka melengo melihat Jaehyun tersenyum bahagia sembari memeluk Doyoung. Doyoung sendiri berwajah tidak tahan, dengan sumpit masih ditangan.
"Astaga!. Apakah Taeil saja tidak cukup untukmu?" Tanya Kun spontan. Jaehyun melepas pelukannya ketika mendengar nama keramat itu disebutkan. Ia langsung berwajah datar. Doyoung sendiri heran melihat tingkah Jaehyun.
"Ucapkan lagi, yang keras Kun. Biar semua orang dikantin mendengarnya. Ish!, kau ini!" Kesal Doyoung kemudian dengan wajah merajuk. Bahkan sumpitnya sudah beralih fungsi menjadi alat tusuk kimbap.
Kun dan Winwin hanya bisa tertawa. "Kenapa sendiri?, biasanya selalu dengan Taeil." Ejek Kun lagi. Mendengar itu Doyoung segera mengerucutkan bibirnya kesal. Ia menatap Kun tajam.
"Bicara lagi, nasibmu akan sama dengan kimbap ini Kun!" Ancamnya dengan wajah kelewat imut. Jaehyun yang sedang kesal saja merasa gemas melihatnya.
Omong-omong sedari tadi Jaehyun sibuk menahan diri. Ia agaknya cukup kesal mendengar percakapan Kun dan Doyoung. Apalagi kalimat-kalimat Doyoung tadi sangat ambigu. Seperti ada suatu hal yang Doyoung dan Kun rahasiakan.
"Hahahaha! Arraseo, aku tidak akan bicara apapun lagi. Maaf Moon Doyoung~" Doyoung segera bangkit dan berusaha menarik rambut Kun.
"Ish! Kau ini!" Geramnya tambah kesal. Kun sendiri tergelak puas melihat reaksi Doyoung, sembari berusaha menghindar dari amukan namja kelinci itu.
"Iya, iya, aku minta maaf Doyoung-ah! Tidak lagi, sumpah!" Ucap Kun setelahnya saat Doyoung berhasil menarik rambutnya. Winwin hanya bisa tertawa dengan keributan yang dua namja itu buat. Jaehyun sendiri hanya diam, sibuk berargumen dengan pemikirannya.
"Ada apa ini ribut-ribut? Aku mendengar ada yang menyebut Moon Doyoung tadi–"
Dan satu perusuh datang, Doyoung segera saja menariknya. Dengan tega Doyoung mencubiti lengan namja bernama Ten itu.
"Ampun! Jangan sakiti Ten yang imut ini!"
Jaehyun yang melihat hanya bisa facepalm. Sebenarnya tidak hanya dia, tapi Kun dan Winwin juga. Padahal ia tidak kenal, tapi entah kenapa Jaehyun ikut merasa malu mendengar teriakan Ten. Kalau Doyoung teriak sih ia tidak malu, malah ia suka. Apalagi kalau berteriak sambil….
"Astaga, apa yang kalian lakukan?"
Jaehyun langsung menghentikan fantasi gilanya saat melihat siapa yang datang. Dia, orang itu, ya namja itu, yang Jaehyun anggap mulai pagi tadi sebagai rival, sedang berusaha dengan (sok) gentlenya memisahkan Doyoung dan Ten yang bertengkar. Secara tidak sadar, Jaehyun jadi menampilkan ekspresi tidak suka yang kentara, dengan aura tubuh yang tiba-tiba suram.
Sekarang namja itu sudah berdiri diantara Doyoung dan Ten.
"Apa yang kalian ributkan eoh? Aigo, kalian ini benar-benar." Mulai namja itu sembari menggeleng tidak percaya.
"Aku tidak mencari keributan, aku hanya bilang Moon Do-hmpffhh!"
"Bisakah kau diam? Astaga aku ingin sekali menjarit mulutmu Ten," Bisik Doyoung geram. Namja itu terkekeh.
"Aku hanya bilang apa Ten? Bilang Moon Doyoung?" Jaehyun mendelik tidak suka pada namja itu. Ten buru-buru melepas tangan Doyoung yang membekap mulutnya.
"Taeil hyung tidak perlu pakai kode-kode lagi, sudah jadian saja!" Seru Ten dengan hebohnya. Mengabaikan Doyoung yang sekarang gegalapan sendiri, namja itu malu setengah mati.
Jaehyun sendiri auranya sudah benar-benar gelap. Entah kenapa ia jadi muak ada diantara mereka. Ingin pergi, tapi tidak rela.
"Sudah jangan menggoda Doyoung terus, tidak lihat wajahnya memerah?" Semua kompak menoleh kearah Doyoung. Namja bermarga Kim itu buru-buru menutupi wajahnya.
"Apa yang kalian lihat eoh? Ish! Jangan menatapku begitu!" Mereka langsung kompak tertawa melihat tingkah Doyoung. Kecuali Jaehyun, namja itu sibuk memperhatikan gerak-gerik Taeil.
Setelahnya Taeil mendekati Doyoung, lalu tangannya bergerak untuk melepas jemari-jemari Doyoung yang menutupi wajahnya.
"Jangan ditutup begitu," Ucap Taeil kemudian. Seketika Jaehyun langsung mengumpat dalam hati. Penglihatan Jaehyun tidak mungkin salah, namja itu baru saja meliriknya melalui ujung mata. Seolah-olah memberi sinyal pada Jaehyun untuk menyerah.
"Dasar pendek! Apa maksudnya itu?! Dia ingin menantangku?!"
Taeil segera meraih jemari Doyoung untuk digenggam, ia tersenyum lalu melanjutkan ucapannya. "aku jadi tidak bisa melihat wajah manismu jika sedang memerah. Jadi jangan ditutup ya Doyoung-ie."
Dan Jaehyun berani sumpah, setelah ini ia akan buat Taeil menyesal telah menantangnya.
TBC?
a/n : Yak! Dan tbc dengan gajenya. Sumpah aku stuck banget buat chapter ini : ( Mungkin gara-gara kelamaan mikir dan males ngetik, ide jadi bubar semua. Aneh emang chapter ini, tapi aku harap kalian suka xD
Btw ff ini nyeleneh ya? Maafkan saya, soalnya sayanya yang buat juga nyeleneh. Tapi sekali lagi, aku harap kalian suka xD *lol*
Eh yang milih Taeil banyak, jadi PHOnya Taeil aja xD Johnny diurutan kedua, emmm mungkin nanti akan saya pakai juga sebagai PHO kedua xD
Dan makasih untuk yang sudah review, fav, dan follow. Aku sayang kalian~
Akhir kata, jangan lupa review habis baca. Luv you guys~
