Berbagi Prekuel : Kasus Eren
Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama
Genre: Hurt/Comfort
Rate T (IDK, just in case)
Warning: Shota, AU, OOC, jumpy plot, fahken short (you don't say)
.
.
.
.
.
Carla tidak suka perkotaan yang padat sesak dipenuhi oleh polusi, udara dan suara, terutama. Ia percaya bahwa lingkungan adalah salah satu faktor yang akan mempengaruhi pola hidupnya, dan Carla yakin ia tidak ingin menua cepat karena memaksakan diri bermukim di tempat yang 91 persennya sanggup membuat kadar gula darah menanjak bak pebalap sepeda di lereng pegunungan.
Dengan sebelah pihak ia berharap. Berdiskusi dengan suaminya mengenai niat untuk berpindah rumah semacam kegiatan yang sudah ia lakukan sejak jauh-jauh hari. Dan bukan karena demi dirinya saja sebuah saran diajukan. Melainkan karena sang buah hati, yang tidak menyadari kekhawatiran orangtuanya sendiri. Grisha paham betul dengan maksud yang ingin disampaikan Carla. Lingkungan kota dimana jalan utama menjadi pemandangan dari jendela ruang tamu bukanlah tempat tinggal yang ideal. Kebisingan dan tingkat keamanan menjadi titik rawan—apalagi bagi pasangan dengan anak tunggal yang baru saja menginjak kelas satu SD.
Sebenarnya bukan penyakit kronis. Cuman, Carla sadar anaknya sedikit hiperaktif. Sejak kecil Eren tak pernah betah di dalam rumah. Selalu keluyuran, atau minimal guling-guling di lantai jika tak ada kerjaan yang bisa dilakukan. Dari zaman jalannya masih menggunakan handicap kursi roda—sampai berpijak dengan kakinya sendiri. Dahulu, Carla bahkan sampai memasangkan tali di kursi roda Eren, jika mereka sedang menyusuri pedestrian, bersama. Intennya supaya sang anak tak mudah hilang dan lepas sembarangan.
Seperti membawa peliharaannya jalan sore—kadang, Carla merasa kasihan dengan Eren yang sering diperlakukan kurang normal. Bukan karena apa, Carla hanya kepalang sayang. Perlindungan yang ia berikan pada Eren pun ibaratnya tak sekadar satu lapis armor semata. Ia juga memakaikan jaket tebal dan masker yang selalu melingkupi tubuh si kecil—seolah polusi di kota benar-benar tak termaafkan bagi Carla yang overprotektif.
Melakukan pengawasan memang repot luarbiasa, tapi Carla masih sanggup mengontrolnya saat Eren belum bisa mengucap 'mama' sebagai kalimat pertama. Ketika Eren semakin tumbuh dan kakinya sudah berfungsi dengan sempurna, mulailah timbul masalah-masalah baru, seperti, bagaimana Eren yang mulai pintar menyelinap dan pergi diam-diam hanya untuk berpetualang menyusuri jalan—sendirian. Tugas mengawasi bagi Carla pun terasa semakin sulit dilakukan. Terlebih saat tempat nongkrong si anak diketahui nomaden, di berbagai titik dalam berbagai waktu.
Di usianya yang masih memelihara gigi susu, Eren sudah berani pergi sejauh tiga sampai lima kilometer hanya untuk melihat air mancur di taman kota atau mengejar burung yang terbang bermigrasi. Momen-momen seperti itu terjadi ketika sepeda roda tiga diberikan kepadanya sebagai hadiah ulangtahun di usia yang keenam. Dengan santai bocah ingusan mengayuh di sisi jalan bersama para pejalan kaki yang berlalu-lalang. Mengayuh dan kadang, sembari bergumam. Memang pada saat itu Carla terlambat untuk menyadari kebiasaan anaknya yang hobi menghilang ini.
Kali terakhir Eren menghilang sampai lembayung senja melukis langit, kali pertama Carla belajar dan mengenal prasangka buruk. Berlandaskan feeling bahwa 'Eren takkan kembali', luntang-lantung Carla mengelilingi kota, berlari dan mengecek di setiap blok, sambil menenteng selembar foto Eren dengan kaus merah-putih, duduk anteng menghadap kamera. Tidak ada satupun pejalan kaki yang mengenali Erennya. Carla mencoba untuk menanyai beberapa orang yang konsisten berada di satu tempat—seperti polisi jalanan dan tukang-tukang kebun di pinggir trotoar yang bekerja sampai petang.
"Oh kalau tidak salah tadi siang ada anak kecil naik sepeda kearah blok perkantoran. Sempat kutanya kenapa dia jalan sendirian, dan katanya mau menemui papanya yang masih bekerja." Salah satu tukang kebun menunjuk lurus dari pertigaan di depan mata.
Carla menunduk dengan rasa terimakasih, kemudian berlari menyusuri petunjuk jalan. Sedikit tidak yakin apakah Eren mengetahui tempat Grisha bekerja, tapi instingnya terus memaksa untuk mencari dari jalan yang diberitahukan.
Usahanya lantas berbuah hasil, kemudian. Mungkin Carla belum melihat bangunan rumah sakit di depannya, tapi di rute jalan yang sama ia menemukan Eren yang terjebak di dalam ceruk tanah bekas galian. Letaknya persis di pinggir trotoar.
Carla tak mendengar suara tangis. Walau ban sepeda Eren kempis karena pecahan batu, dan lututnya tergores karena ranting semak, ia tidak menangis atau mencuri perhatian di sekitarnya. Carla yang bisa menemukannya di tempat seperti itu adalah sebuah keajaiban.
"Eren?! Apa yang kamu lakukan disana, nak!"
"Mama?"
"Cepat keluar dari sana!"
"Tapi Eren ngga bisa ngeluarin sepeda Eren, Ma."
Saat itu Eren hanya terduduk pasrah, memeluk lutut dalam kondisi tubuh yang mendingin. Ia tidak punya tenaga yang cukup untuk menaikkan sepedanya dari lubang galian. Dan ia juga tak ingin meninggalkan sepedanya begitu saja. Jadilah mengapa si kecil memutuskan untuk diam dengan lugu dan berharap seseorang yang-entah-siapa menjemputnya. Carla bersyukur insting keibuannya masih bermanfaat di saat-saat yang krusial. Dengan langit yang menghitam ia masih sanggup menemukan Eren yang tersembunyi dari penglihatan normal.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?"
"Lututku, Ma."
Sukarela Carla mengotori dress kesukaan hanya untuk tiarap dan menarik Eren beserta sepeda penyoknya kembali ke trotoar.
Perjalanan pulang di antara taburan bintang berakhir sedikit sunyi dengan Eren yang tak melepaskan tautan tangannya pada Carla seraya menuntun sepeda kesayangan.
.
.
.
.
.
.
Hari berikutnya Carla tak membiarkan Eren untuk bertanya mengenai nasib sepedanya yang ia buang cuma-cuma. Bahkan menimpa fakta tersebut dengan berita lain yang cukup mendistraksi pikiran sederhana sang buah hati.
"Ma, sepeda Eren—"
"Sayang. Yuk bantu mama beresin barang-barang."
"beresin—barang-barang?"
Diskusi yang selama ini Carla lakukan dengan Grisha akhirnya mencapai konklusi.
Konklusi bahwa Carla siap menerima resiko dengan hidup terpisah dari suaminya yang tidak bisa mengikuti kehendaknya.
Sebenarnya, inilah alasan penting mengapa Grisha sedikit segan dengan permintaan sang istri untuk tinggal di perumahan yang jauh dari hingar bingar pusat kota. Grisha punya pekerjaan—yang tidak bisa diabaikan. 'Tidak bisa' dalam konteks memecat dirinya sendiri pun, merupakan suatu kemustahilan. Karena ia orang penting yang dibutuhkan—orang yang kemungkinan besar akan dituntut jika melepas, bahkan lari dari tanggung jawabnya seenak gigi.
Sementara pilihan untuk mengikuti kepindahan Carla akan berdampak pada penambahan budget transportasi serta mengurangi efektifitas waktu Grisha. Terlalu sayang pula untuk menjual tempat tinggal yang sejatinya sudah tergolong ideal jika ditinjau dari segi akses bepergian. lokasi strategis bagi para mahluk penganut konsumerisme serta karierisme—bagaimana mungkin Grisha menyerahkan tempat ini pada orang lain? Dan karena 'kebetulan' uang yang Grisha simpan di bank masih terbilang cukup—cukup jika diperlukan—apalagi hanya untuk membeli sebuah rumah baru di wilayah terpencil dengan harga tanah yang dua sampai tiga kali lebih murah dibanding harga tanah di pusat kota. Jadi—bukan karena Grisha tidak sayang lagi dengan keluarga kecilnya. Ia hanya terpaksa menjadi bodyguard di rumah lama, karena Grisha terlahir sebagai manusia dengan beban dan tanggung jawab yang sedikit lebih berat ketimbang kebanyakan orang. Yakni, beban (atau misi, jika ingin terdengar lebih positif) pekerjaan penting yang melibatkan masa depan orang lain.
"Hati-hati ya, sayang. Aku akan mampir setiap minggu kalau memang perlu." tangan dua insan masih bertaut erat, seperti enggan lepas.
"Kalau kamu tidak sibuk. Jangan memaksakan diri, Grisha." meloloskan tangan yang digenggam, Carla mengusap pipi suaminya.
"Kamu terlalu pengertian sebagai istri. Rasanya ingin kunikahi dua kali hehe." usapan telapak tangan ditimpa oleh telapak tangan lain yang lebih besar. Senyum melengkung tipis.
"Mamaaaaa! Kapan berangkatnyaaa!" bocah kecil di bawah kaki menarik-narik ujung mantel sang bunda. Carla tertawa kecil, menepuk pucuk kepala Eren yang tidak sabaran. Grisha hanya melirik, memanyunkan bibir.
"Eren kamu ngga mau kangen-kangenan lebih lama sama papa? Hiks." tangisnya sedikit dimainkan.
"Ngga mau, ah. Dari awal juga papa jarang pulang. Eren cuman sayang sama mama tuh."
"HIKS."
"Haha—Eren kamu ngga boleh begitu, sayang. Kasian papamu—," Carla kembali melirik suaminya, menggenggam tangan buah hati erat-erat, "Kalau begitu aku berangkat ya, Grisha. Baik-baik di rumah."
"Kamu juga. Baik-baik sama Eren. Kalau ada apa-apa hubungi aku."
Barang-barang telah dikirim dengan jasa antar. Pelukan simbolis antar keluarga sudah dilepas. Carla dan Eren telah menghilang dari balik pintu dimana Grisha masih berdiri menatap dengan tangan melambai dari dalam rumah.
Di penghujung tahun saat anak-anak lain sibuk mengurusi pendaftaran kenaikan kelas atau sekolah barunya, Eren justru disibukkan dengan kepindahan yang terasa tiba-tiba.
Ia juga sudah tidak lagi mengingat nasib sepedanya yang hilang.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
A/N: Jadi, ada niat yang sedikit serius untuk ngebuat fic ini bersambung. Semacam chapter satu, cerita utama. Chapter dua, prekuel Eren. Chapter tiga, prekuel Jean. Dan chapter 4, sekuel dengan alur di atas cerita utama. Ya niatnya emang yang prekuel ini buat ngebangun plot biar sedikit solid hehe.
Jangan ekspetasi berlebih, karena fanfic ini dikerjain dengan niat ga niat. Tujuannya juga eksis sebagai pelepas penat wa dengan tugas-tugas kuliah hahah.
