DISCLAIMER :
Yana Toboso
Genre :
Romance (Always.. =v=), Drama (Of Course.. =v=), Humor (Maybe)
Rate :
T+
Warning :
Out of Character.
Menggunakan tiga sudut pandang, Maylene POV, Edward POV, dan Normal POV alias sudut pandang orang ketiga serba tahu.
Jayus dan Garing berkeliaran di sepanjang fict ini.
It Is not Beauty and The Beast
Sasaki Yuki present
.
.
.
Maylene's POV
Halo, aku Maylene. Ya, kalian pasti sudah tau. Sekarang, aku sedang berada di kediaman keluarga Phantomhive di London. Mmmm... Pasti kalian bingung, aku yang ada di Paris tiba-tiba bisa berada di sini.
Ingat chapter lalu, ya ini semua salah bokap gue.
Tau ah sekali-sekali OOC saking keselnya boleh kali.
Iya, sekarang aku maid di sini. Baru aja masuk dan sekarang lagi mencoba-coba maid outfit. Argh, rumahnya bagus banget sih, Phantomhive!—ganyambung
Tiba-tiba Monsieur—menyebalkan banget manggilnya gini—Edward datang ke ruangan tempat milih gaun maid ini. Muka congkaknya itu loh, nyebelin abis. Dia masuk dengan santai dan menghampiriku sambil mengangkat wajahnya. Dasar bangsawan!
"Salut! Gimana, udah nemuin baju yang cocok, ma maid?" Sapanya dengan bahasa perancis (iya, Yuki nulisnya setengah-setengah kan ga ngerti semuaaa...). Dia pun merebut baju maid yang ada di tanganku dan merentangkannya. Melihatnya.
"C'est magnifique! Emang kamu bagusnya pake yang panjang-panjang aja, toh kalo pake yang mini juga ga bikin gue bernafsu, " Dan setelah dia ngomong begitu, dia balikin itu baju sambil ketawa-tawa.
Keren. Dia lebih menyebalkan dari pada kedua kakak adikku yang suka nyuruh-nyuruh itu.
.
.
.
Nah, sekarang dimulailah hari-hari baruku sebagai maid di keluarga Phantomhive. Sebelumnya aku sudah mengenal para majikan yang notabene terkenal seantero London. Monsieur (Oh ayolah, dimanapun aku ini tetap orang prancis) Agni Phantomhive, putra pertama Vincent Phantomhive dari istri pertamanya, Mina Phantomhive. Keturunan Inggris-India tapi kayaknya lebih ke India deh. Menjadi pimpinan Phantomhive di Inggris apabila Vincent sedang di luar negeri.
Putra kedua dari istri kedua Vincent, Monsieur Edward Phantomhive—majikan gue. Dia pernah marah—ngambek kali—pas aku panggil dia dengan nama itu pertama kali ketemu. Ternyata dia lebih suka dipanggil dengan nama keluarga Midford jika di rumah, nama keluarga ibunya. Keturunan Inggris-Perancis tapi jiwanya kesatria Inggris—tapi berkomunikasi denganku pake bahasa perancis sih.. Serba bisa, tapi nasib nggak mendukung. Bapaknya lebih percaya sama Agni dan lebih sayang sama adeknya, Ciel.
Ciel Phantomhive, putra Vincent yang paling cerdas dan manja dari istri ketiga, Rachel Phantomhive. Anak ini baru empat belas tahun tapi kerjaannya ngemil mulu... Dia nggak punya maid, tapi punya butler yang suka bikinin gateau chocolate buat dia. Nggak, dia sama sekali ga gendut. Kurus banget, tapi imut. Pinternya? Semua game dan teknologi keluaran perusahaan Phantomhive ternyata idenya dia! Mau juga dong kalo gitu tiap hari makan gateau chocolate!
Istrinya banyak banget ya? Beda kebangsaan semua lagi, -cantik banget, anak bangsawan semua. Kalo Monsieur Vincentnya sendiri aku lihat dari fotonya yang besar banget yang ada di rumahnya. Cakep, oke. Tapi sayang banget, saya nggak minat sama om om.
Yap! Semangat Maylene! Hari ini hari pertama aku melayani monsieur Edward, majikanku. Aku tidak tahu kenapa harus dia sih yang aku layani?! Masih mending Monsieur Agni deh, kayaknya. Dia kelihatan nggak sombong dan baik banget...
"Maylene, par ici!" Beuh, itu dia suara ningrat tuanku seorang kapiten.
"Pourquoi, Monsieur?" Aku pun menghampiri Edward yang sedang duduk santai di ruang kerja.
"Bereskan kamarku, ya. Dari tadi aku kepikiran, padahal masih ada banyak kerjaan. Jadi, bereskan kamarku ya, S'il tu plait?" Pintanya dengan wajah datar. Kaget juga aku, karena dia menggunakan kata tolong untuk memerintah pelayan sepertiku.
"D.. D'accord Monsieur.." Aku pun berlalu dari pandangan Edward sampai akhirnya aku lupa suatu hal,
Kamarnya Edward yang mana deh? Perasaan banyak banget kan kamar di rumah segede ini?
Di tengah kebingungan ini, tiba-tiba tuhan mengirimkan seorang malaikat untukku. Butlernya Monsieur Ciel, Sebastian Michaelis. Ya tuhan... cakep banget sih diaa... Sempurna banget pula...
"Pp.. pardon.. Sebastien.. vous savez ou est Monsieur Edward la chamber?" Tanyaku kepada Sebastian dengan hati-hati. Sebastian menahan tawanya dan berkata, "Lucu juga ya mendengarkanmu mengucapkan namaku dengan aksen prancis, 'sebastiong'" Mukaku pun bersemu merah karena malu. Habis, aku kan tidak mm.. lebih tepatnya belum bisa bahasa Inggris.
"Ah, pardon Maylene, d'ici vous allez tout droit, tournez a gauche, prenez la premiere rue. Monsieur Edward la chamber est a votre gauche." Jawabnya dengan bahasa perancis dengan lancar dan aksen sempurna, persis Edward.
Aku tersenyum manis ke arahnya, "Merci beaucoup, Sebastien!" Lalu segera berlalu darinya agar tidak ketahuan kalau mukaku sekarang sedang memerah banget!
"Maylene," Aku pun menoleh karena Sebastian memanggil namaku, lalu dia tersenyum padaku, "Bon travail!" Aku pun membalas senyumnya lalu cepat-cepat berlari dari tempat itu, di depan ruang kerja Monsieur Edward.
Jantungku sekarang sedang berdetak sangat cepat...
.
.
.
Edward's POV
Fuaaah! Akhirnya selesai juga tumpukan kerjaan ini! Aku baru saja menginjak umur 18 tahun dan dituntut untuk menyelesaikan berkas-berkas perusahaan begini. Tapi, demi mengalahkan kakak, aku harus belajar lebih giat dan lebih lagi! Aku harus bisa menjadi pimpinan perusahaan ini dan membuat ibuku bangga!
Tapi, memang yang namanya saham, investasi dan bla bla bla itu memang bukan kerjaanku ya. Hih, capek banget otakku. Aku sih jagonya main fisik. Jadi, sekarang aku mau menyegarkan otot-otot tubuhku dengan bermain pedang! Voila! Ini dia olahraga kesukaanku. Aku paling jago di bidang ini. Tapi, hal ini tidak membuat ayah berpaling padaku dan membanggakanku, sih. Uh!
Oh iya! Kamar belum diberesin! Tapi kan ada Maylene, maid baruku itu. Maid berkuncir dua dan berkacamata itu kelihatannya bisa diandalkan. Entah kenapa aku selalu punya firasat baik pada orang yang memakai kacamata. Apalagi gadis ini dulunya bangsawan kan, masa iya dia nggak bisa merhatiin kebersihan? Tapi suatu keraguan itu sebaiknya dibuktikan, kan? Ayo deh cek kamar dulu.
CKLEK
Kutemukan seorang putri di atas ranjangku.
Eh, bukan deng, bukaan! Ternyata setelah kudekati, dia itu Maylene!
Terus ngapain pelayan seperti dia tidur siang dengan anggunnya di atas ranjangku?! Emm.? Anggun? Erh, iya aku agak sedikit merasa dia sekarang... yaudahlah ya nggak usah dibahas! Intinya, sekarang aku melihatnya sedang tidur di atas ranjang empukku sambil tersenyum.. iya, iya manis... Rambut merahnya digerai dan tentu saja kacamatanya dilepas.
Biarpun memakai seragam pelayan, entah kenapa aku merasa kalau dia itu seharusnya seorang putri. Putri kesatria yang bisa melindungi rakyatnya. Keren.
Tanpa sadar, tubuhku bergerak sendiri mendekatinya. Dilihat dari dekat, entah kenapa makin membuatku merasakan sesuatu yang aneh.
"Kamu... benar-benar seperti putri yang tengah tertidur..."
.
.
.
Maylene's POV
Aku, baru saja ditukar dengan keselamatan ayahku. Ayahku bilang aku baru saja ditinggalkan di dalam kastil yang gelap ini karena seorang monster memintaku tinggal di sini. Entah kenapa aku merelakan diriku untuk menggantikan ayahku.
Kastil ini gelap, aku tidak dapat melihat apapun.
Tapi, aku bisa berjalan di sini. Aku bisa berkeliling kastil ini. Aku merasa takut tapi aku terus berjalan. Aku lapar, aku bisa menemukan makanan dan makan dengan santainya, padahal di sekitarku gelap.
Tiba-tiba, aku merasakan ada seseorang di dekatku—sepertinya itu monsternya—dan aku bisa merasakan nafasnya sangat dekat denganku, lalu dia berbisik...
"Kamu benar-benar seperti putri yang tengah tertidur..."
Dan...
"Hah!"
Oke, soal monster dan gelap itu cuma mimpi.
Tapi aku nggak nyangka justru pas monsternya itu malah jadi si Edward. Serius ini mirip sama beauty and the beast jadinya. Iya kali monster itu bisa berubah jadi cakep gini.
Kulihat reaksi Edward setelah aku bangun dari mimpiku,
Fix banget mukanya merah dan dia salting.
.
.
.
Edward's POV
"Gue gak pernah sedeket itu sama cewek! Jangan kegeeran ya!" Teriakku ketika aku ketahuan memerhatikan Maylene yang sedang tidur. Cih, maid itu malah senyum cengar-cengir lagi. Senang banget ya liat majikannya salah tingkah begini?!
"Alors, Qu'est-ce que tu fais, ma maid?" Aku memberi penekanan pada kata pelayan perempuanku. Huh, akhirnya aku bisa membalikkan keadaan!
"Eee... Je suis.. faire le lit! Ya! Faire le lit, ehehe..." Lalu dia pun berpura-pura membereskan kasurku yang memang sedikit berantakan gara-gara dia tiduri (em.. bukan berarti Maylene tidurnya ga bisa diem tapi emang Edward juga sih yang terlalu prefeksionis : l'auteur).
Aku pun duduk di kursi santai yang menghadap ke arah luar jendela. Hangatnya hari ini... Aku jadi ingin bersantai sekali-sekali...
"il fait beau..." Tiba-tiba Maylene ikut nimbrung di belakang kursiku sambil memandang ke arah luar ruangan juga. Hmm.. Iya sih aku setuju, tapi buat mengiyakan itu rasanya gengsi banget ya, "Ca m'est egale,"
Maylene menatapku tidak suka.
"Oh. Kalau begitu, saya pergi dulu. Saya harus menyiapkan makan malam." Ia pun menjauh dari sisiku, dan entah kenapa, secara refleks aku menahannya dengan tanganku.
"Uh? Ad.. Ada apa tuan... memegang tangan saya?" Tanyanya gugup. Eh? Eh? Iya aku juga bingung kenapa megang tangan Maylene?! Alhasil aku cuma bengong di tempat.
"Monsieur?" Ulangnya sekali lagi.
"N.. Non... Eh.. Emmm..."
Seperti menjawab kegalauanku yang bahkan aku sendiri tidak sadar, Maylene tersenyum dan mengambil kursi kecil. Ia letakkan kursi itu tepat di sampingku lalu ia duduk di situ.
"Je t'accompagne, monsieur. Vous as l'air fatigue. Repose-toi!" Bisiknya sambil memandang keluar jendela. Menikmati keindahan alam.
Hmm.. Sebenarnya tidak sopan seorang pelayan duduk sejajar tuannya tapi entah kenapa aku tidak ingin mengungkit-ungkitnya. Padahal aku orang yang menjunjung tinggi hal seperti itu.
"Maylene.. Sepertinya di luar sana menyenangkan." Aku menerawang ke arah halaman rumahku.
"He? Apa maksud tuan?"
"Bisa bermain sesekali di luar mungkin menyenangkan. Jalan-jalan sama teman. Nonton. Makan-makan." Gumamku.
Dapat kudengar Maylene menghela nafas. "Oui. J'écoute bien. Aku juga tidak pernah ke sana soalnya,"
"Bukannya kamu sebelumnya cuma gadis biasa, ya? Tidak pernah ke bioskop? Tidak mungkin di Perancis tidak ada bioskop."Yah, bagaimanapun juga aku ini kan pernah ke kampung halamanku sendiri."
"Ada, sih. Cuma kan keluargaku bukan keluarga yang kaya juga. Apalagi maman—ketiganya-tiganya—sudah tiada jadi harus aku yang mengurus rumah selagi papa bekerja."
"Bukankah kamu punya dua saudara perempuan?" Tanyaku dengan heran.
"Iya.. Mereka berdua cantik-cantik tapi... mereka tidak mau membantu pekerjaan rumah. Yah kerjaan mereka hanya senang-senang saja." Jawabnya dengan muram. Berat juga ya kehidupannya. Ibukudan kedua maman tiriku juga sudah lama tidak pulang ke Inggris—Kalau ibuku sih ke Perancis—tapi kehidupanku tidak seberat itu. Orang kaya sih, ya.
Aku pun bangkit dari kursiku lalu mengusap-usap rambutnya, "Kupikir jadi orang yang biasa-biasa saja sepertimu menyenangkan. Ternyata setiap orang memang memiliki masalah masing-masing, ya. Hahaha"
Sing...
It's awkward moment...
Dan tanganku masih terus mengusap rambutnya sampai
"Tuan Edward! Makan malam sudah—sedang apa anda di situ?"
Sebastian datang.
.
.
.
Maylene's POV
Sebastian datang. Aku dan Monsieur Edward dalam posisi seperti ini.
HUAAA!
"Eh.. eh.. ini.. aku cuma menemukan kutu di rambut Maylene, mana tadi kutunya ngilang..?" Ia pun mencari alibi dengan mengacak-acak rambutku, seakan mencari kutu. Enak saja, aku tidak punya kutu, tahu!
Sebastian tersenyum—oh sungguh dia sangat tampan!—tapi kali ini senyumnya tidak membuatku terpesona karena aku merasakan firasat tidak enak dari senyumnya.
"Tapi sekarang sudah waktunya makan malam, tuan. Lebih baik anda segera cuci tangan agar kutu Maylene tidak mengganggu tuan" Kurang ajar si Sebastian -_- udah dibilangin aku gak punya kutu! "Atau, anda mau mengganti maid anda agar anda tidak terkena ku.."
"Tidak! Tidak usah! Baik, aku akan segera cuci tangan dan Maylene akan membantuku jadi tolong segera pergi, Sebastian." Usir Edward dengan deathglare-nya. Dengan hormat, Sebastian membungkuk lalu pergi dari kamar Edward.
Ia menghela nafas lega, "Yang tadi itu nyaris saja..." Lalu bergegas ke wastafel dan mencuci tangannya.
"Alasan yang jelek. Aku tidak punya kutu, tahu! Huh! Jeleklah sudah image-ku di mata Sebastian!" Dapat kulihat di cermin, Edward yang sedang cuci tangan itu menahan tawanya.
"Pardon... Habis tiba-tiba dia masuk seperti itu. Hei, jangan-jangan kamu menyukai Sebastian, ya?" Deg! Usil banget sih majikanku ini! Ngapain coba dia tanya-tanya? Uh, wajahku memerah kan jadinya!
Dia tersenyum melihat wajahku yang memerah, "Lupakan saja, May. Hampir semua maid di sini menyukainya, tahu? Lagipula dedikasinya sebagai butler kepada Ciel itu sangat tinggi, jadi, tidak mungkin dia menikah." Uuh.. Kalau dilihat-lihat itu benar juga, sih...
Setelah itu, kami pun pergi ke ruang makan.
WOW.
Itu doang yang bisa kukatakan ketika melihat beraneka ragam makanan terhidang di meja makan Phantomhive.
"Oi, oi, May, kamu jangan ngiler di sini dong. Maid itu abis kami makan, makannya di dapur. Masih ada kok di dapur, kayaknya sih." Bisik Edward sambil mencubit lenganku yang ada di sampingnya ini. Oh, eh, tanpa sadar aku nyaris mengeluarkan iler -_- Iya iya baiklah aku akan menyantap foie grass yang disantap Edward ini nanti ya, uhm wanginya dekaaat sekali... rasanya aku lapaar... dan...
"Maylene!" Ah! Apa? Tiba-tiba Sebastian membentakku?
"Uhm, aku selesai. Terima kasih banyak hidangannya." Dengan sigap, Edward menyudahi makannya dan menggamit lenganku, menyeretku pergi dari ruang makan itu.
Apa? Ada apa sih?
Edward mengajakku ke dapur.
"Cepat ambil makananmu, sana! Terus bawa ke kamarku! Sini kuajari kau tata krama keluargaku!" Dia mendorongku masuk ke dapur. Uh? Sebenarnya aku tidak mengerti ada apa tapi kuturuti saja perintahnya. Kuambil makananku yang rupanya sudah ditandai koki. Kujelaskan padanya bahwa tuanku sudah selesai makan dan aku bisa makan sekarang.
Jadi, disinilah aku. Di kamar Edward, berdua, em salah, maksudku bertiga dengan foie grass.
"Jadi... Pertama. Kamu harus berdiri tegak di samping majikanmu sambil membawa serbet. Lalu melayaninya. Dekatkan piringnya ke majikan. Lalu tuangkan minumannya setelah ia makan, atau kalau-kalau ia tersedak, cepat tanggap dan segeralah beri ia minum," Jelas Edward panjang lebar.
"Manja amat sih," Gerutuku. Edward memberiku tatapan tajam, "Bukan gitu. Ini memang udah rule nya bangsawan, tahu." Balas Edward dengan ketus.
"Oui, oui. Alors?"
"Setelah dia selesai makan, berilah majikanmu lap, pokoknya untuk bersih-bersih kalo kalo ada sisa makanan di wajahnya. Habis itu, ambil lagi lapnya, dan persilakan majikan untuk berlalu. Nanti yang beresin peralatan makannya itu House maid, bukan maid pribadi kayak kamu." Aku pun mengangguk-angguk tanda mengerti. Enak banget yah jadi bangsawan itu. Udah makan dijamin enak, tinggal makan doang. Kalo ada apa-apa yang di marahin pelayannya. Hih.
Entah kenapa raut wajah Edward seperti tidak yakin denganku.
"Que?"
"Kok kamu nggak meyakinkan banget sih. Sini, gue praktekin deh!" Edward terdengar kesal. Ap.. Apa maksudnya praktek itu?
"Mademoiselle Maylene, makan malam anda hari ini adalah foie grass. Silakan dinikmati,"
Edward sedikit membungkuk dan tersenyum kepadaku, mempersilakan aku duduk di kursi kerjanya, dengan foie grass-ku terhidang di atas meja kerjanya. Eh? Jadi ceritanya aku yang bangsawan, nih?
"Merci beaucoup," Aku berusaha menghayati peranku (?) dengan sebaik-baiknya. Jarang-jarang nih dapet special service dari bangsawan, hehehe.
Selama aku makan, Edward tak henti-hentinya mengomeliku soal cara makanku yang katanya kurang sopan lah, berisik lah. Lalu menyelipkan tips-tips melayani majikan. Iya, iya, berisik sekali majikanku ini. Padahal aku sedang menikmati masa-masa indah.
"Monsieur Edward, Apakah anda mau saya terus berceloteh mengoreksi kesalahan anda saat anda makan?" Tanyaku dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin. Yes! Dia langsung diam dan berlaku layaknya butler.
Beberapa menit kemudian, surga kecilku ini pun berakhir.
"Nah, sekarang kau sudah bisa melayaniku dengan baik, harusnya. Memang Sebastian tidak mengajarimu soal tata krama ini, hah? Aku jadi..."
"Pardon, Monsieur Edward! Saya terlambat mengajari Maylene tentang tata krama pelayan."
Astaga.. Jadi dia dengar? Semoga yang bagian aku dilayani seperti bangsawan itu?
Sama sepertiku, Edward pun ikut bengong. Sebenarnya sih, membeku sok keren gitu (atau memang keren?) Tapi karena aku ingin membuat Edward tidak lebih keren dari Sebastian!
Sebastian menghampiri Edward sambil membungkuk, "Anda sampai harus mengajari Maylene secara privat, ya?"
Edward gelagapan. Ekspresiku nggak tau lagi deh kayak apa.
"Ak.. Iya!" Edward mendapatkan lagi kewibawaannya, "Ini semua gara-gara kamu yang tidak secepatnya mengajari pelayan ini! Kau harus mengajari dia sampai tata krama dan kemampuannya sempurna! Kalau bisa 24 jam!"
HEEEE? 24 JAM? Be.. Bersama Sebastian...
Edward melirik ke arahku. Oh! Oh! Setelah ini aku benar-benar harus berterimakasih padanya!
"Oui, monsieur. Venir avec moi, Maylene." Di luar dugaan! Sebastian tiba-tiba mengulurkan tangannya kepadaku, seperti mengajakku dansa! Eh, eh, aku harus ngapain nih?
Duk.
"Sana, Sebastian sudah menawarkan bantuan. Belajar yang cepat, supaya aku tidak kehilanganmu." Bisik Edward setelah mendorong punggungku ke depan.
Saat aku melihat ke belakang, Edward sedang memalingkan wajahnya ke arah piano. Mengacuhkanku. Membiarkanku dibawa pergi oleh Sebastian.
.
Kami sedang berjalan di koridor.
"Dadaku sesak, deh. Dari tadi."
Sebastian membalikkan badannya ke arahku dengan cepat.
"Ah! Tidak! Mu.. Mungkin seragamnya cuma agak sempit.."
Sebastian tersenyum, "Coba sini, "
Ia mendekat ke arahku, makin mendekat, makin mendekat...
"Hmm.. Aku rasa memang kesempitan. Ukuranmu cukup besar juga, soalnya, Maylene."
Wajahnya sangat dekat denganku.. Cuma beberapa sentimeter...
"Sebastien, "
"Que—!"
Aku pun menghapus jarak itu.
"Je t'aime, Sebastien..."
.
.
.
MAAF AKU KELAMAAN UPDAAATEEE!
Hyaaaa... Aku punya banyak deadline fic lain serta urusan sekolah yang nggak sedikit :')
Maaf, maaf! Aku gak akan curcol lagi di sini :")
Oke, at least, Let review~~
It'll give me spirit to continued this fic early~~
