Sebelumnya thanks untuk Rivvaile Yuki Gasai yang udah mau baca ff abal ini, gomen banget kalo lama apdetya T,T
btw disini Hanji bukan istrinya Rivaille kok cuma adik iparnya aja XD hihihi. Ya, Mikasa itu anaknya Hanji dan siapa ayahnya? nanti akan dikasih tau di chapter berikutnya XD dan untuk cerita MEMORY nanti aku usahain apdet tgl 31 januari deh jadi tunggu aja yak
HAPPY READING :3
CHAPTER 2
.
.
.
.
"Eren, jangan lari-lari nanti jatuh" suara Petra menggema di rumah yang selalu sepi itu. Hari ini Eren pulang sekolah lebih cepat karena nanti malam ia akan menghadiri pesta ulang tahun perusahaan agensi milik papanya. Ia terlihat sangat senang karena jarang-jarang papanya memperbolehkannya untuk ikut ke pesta. Sepanjang hari ia terus tersenyum sumringah membayangkan bahwa ia bisa bersama papanya sepanjang malam ini. Eren terus berlari menaiki tangga menuju kamarnya, ia tidak mempedulikan Petra yang meneriakinya sedari tadi.
.
.
.
'TIIN!' suara klakson mobil terdengar dari halaman rumah keluarga Ackerman. Ternyata itu adalah mobil Hanji yang menjemput Eren, tak lupa dengan putri cantik semata wayangnya Mikasa yang sudah duduk manis di kursi penumpang.
"Petra-nee! Cepat Bibi Han sudah datang!" kata Eren yang menunggu Petra kembali saat sedang mencari sepatunya.
"Iya, sebentar" tak lama Petra pun kembali dengan sepatu pantofel hitam yang dengan segera dipakai oleh Eren dan melesat ke lantai yang melihatnya hanya tersenyum maklum dan mengikutinya dari belakang.
"Bibi Haaan!" teriak Eren sepanjang lorong hingga sampai ke depan pintu keluar. Di sana sudah berdiri Hanji yang mengenakan celana palazzo dipadu blazer boxy , kemeja putih yang kancingnya dibiarkan terbuka sampai batas tulang selangka. Tak lupa rambut yang dibiarkan tergerai, stiletto hitam 12 cm, juga clutch bag bermerk yang ia bawa menambah kesan androgini dari dalam dirinya.
"Eren! Wah kau terlihat sangat manis!" Hanji mencubit pipi Eren gemas saat melihat penampilan anak itu dengan tuxedo hitam, dasi kupu-kupu, juga celana yang serasi .
"Uh! Bibi Han..Aku tidak manis, tapi tampan!" kata Eren sambil mengelus pipinya. Kemudian ia menoleh ke sebelah Hanji yang ternyata sudah ada Mikasa yang mengenakan gaun pesta seperti yang sering Eren lihat di buku cerita bergambar.
"Mikasa cocok sekali pakai baju itu" kata Eren jujur. Karena memang Mikasa yang bertubuh mungil sangat pas memakai gaun berwarna pink dengan hiasan renda dan bunga-bunga di tepiannya. Tak lupa hiasan pita rambut yang bertengger di kepalanya. Kulit Mikasa yang putih membuatnya sangat kontras dengan baju tersebut hingga Eren benar-benar menganggap Mikasa mirip seperti putri salju.
"Terima kasih, kau juga cocok Eren" Eren yang terlalu jujur dan polos tidak sadar bahwa perkataannya itu berhasil membuat pipi gadis kecil itu merona.
"Yasudah, ayo kita berangkat" kata Hanji bersemangat seperti biasa.
.
.
.
.
Pesta perayaan ulang tahun perusahaan agensi yang bernama Scouting Entertainment atau biasa disingkat menjadi SC Entertainment itu terlihat sangat ramai. Para tamu undangan satu persatu pun mulai berdatangan memenuhi gedung tempat diadakannya pesta. Dari selebritis terkenal hingga yang baru debut, juga pejabat-pejabat penting seperti para pemegang saham di agensi tersebut juga rekan bisnis lainnya berbaur menjadi satu. Para wartawan pun sudah berkumpul di pintu masuk untuk mewawancarai para artis yang datang dan mengambil gambar untuk headline sebuah berita. Di antara kerumunan ramai itu dapat terlihat sosok yang sangat mencolok yang kini sedang diapit oleh puluhan wartawan dan juga body guard yang menjaganya dari desak-dasakan para jurnalis tersebut. Rivaille, sosok yang terlihat sangat mencolok dibanding para tamu undangan lain, dikarenakan ia adalah pemilik dari SC Entertainment. Rivaille berdiri diantara kerumunan para wartawan yang mewawancarai sekaligus mengambil gambarnya. Ia terlihat sangat rapih dengan setelan jas berwarna coklat tua, dipadukan dengan dasi bermotif garis. Rivaille memang terlihat selalu tampil rapih setiap hari namun entah mengapa malam ini auranya terlihat sangat berbeda. Mungkin itulah aura sang empunya hajat acara ulang tahun perusahaan ini.
"Bibi ayo cepat!" Eren terlihat bersemangat saat turun dari mobil.
"Iya, tunggu sebentar Eren, jangan berlari sembarangan Bibi tidak mau kau terpisah" Hanji segera menggandeng tangan Eren dan Mikasa menuju ke dalam gedung.
"Papa!" Eren seketika berhenti saat melihat Papa nya tengah dikerubungi oleh wartawan. Hampir saja Eren berlari menuju Rivaille kalau genggaman Hanji tidak kuat menahannya.
"Bibi Han, Eren mau sama Papa!"
"Iya, tapi kita masuk dulu, nanti Papa akan menyusul kita ke dalam" bujuk Hanji yang akhirnya dituruti oleh Eren. Mereka pun mulai masuk ke dalam gedung.
Eren sempat tercenung karena melihat orang dewasa sangat banyak memenuhi ruangan itu. Suasana tak jauh berbeda dengan di luar, orang-orang dewasa dengan penampilan modis dan rapih bercakap-cakap satu sama lain, ada pula yang sedang diwawancarai oleh para wartawan. Blitz - blitz kamera para wartawan itu membuat mata Eren sedikit sakit. Saat hendak lebih masuk ke dalam ruangan, Hanji yang sedari tadi menarik tangannya berhenti tiba-tiba hingga membuat Eren menubruknya.
"Hai, Selamat malam Mr. Dot Pixis" sapanya dengan riang dan disaat yang bersamaan munculah seorang pria paruh baya dengan kepala pelontosnya.
"Hai, selamat malam Mrs. Hanji Ackerman" sapanya ramah kepada Hanji dan menyalaminya. Ya, meskipun suami Hanji sudah meninggal, namun wanita itu enggan kembali menggunakan marga aslinya 'Zoe' ia malah tetap ingin menggunakan nama belakang suaminya itu.
"Wah, senang rasanya bisa bertemu anda lagi Mr. Dot Pixis, bagaimana kabar anda?" tentu saja Hanji mengenal pria tua itu sebab Mr. Dot Pixis adalah salah satu pemegang saham di SC Entertainment selain itu dia pun dosen Hanji dan Rivaille saat kuliah dulu.
"Ya, sejauh yang kau lihat aku masih bisa berjalan " jawabnya sambil tersenyum ramah. Kemudian pandangannya terarah pada dua makhluk kecil yang sedang digandeng oleh Hanji.
"Wah, apa mereka anak-anakmu?" tanyanya
"Oh! Iya perkenalkan ini putri saya, Mikasa. Mikasa ayo beri salam"
"Nama saya Mikasa Ackerman, salam kenal" kata Mikasa dengan sopan sambil sedikit menunduk memberi sedikit salam penghormatan meskipun dengan wajah yang tetap datar.
"Wah, cantik sekali. Nah kalau yang ini siapa namamu nak?" tanyanya yang segera membungkukan badannya saat melihat Eren di sebelah Mikasa. Eren yang melihatnya hanya menampilkan ekspresi sedikit takut sebab kepala orang tua itu terlalu silau saat terkena pantulan cahaya lampu.
"Eren Ackerman , salam kenal" kata Eren sambil menggenggam tangan Hanji erat. Hanji hanya terkikik melihat ekspresi Eren yang sulit diartikan, antara takut dan malu.
"Hm.. anak-anak yang manis" kata Dot Pixis sambil mengusak kepala Eren.
"Tidak ku sangka kau bisa memproduksi anak – anak yang lucu" lanjutnya sambil menegakkan badannya kembali menghadap Hanji.
"Hohoho bisa saja, kalau Eren ini keponakanku loh." Hanji tertawa riang.
"Oh? Berarti dia, anaknya.."
"Yup, dia putra Rivaille" kata Hanji masih dengan senyum cerahnya. Dot Pixis pun menganggukkan kepalanya.
"Hm, pantas saja dia sangat menarik" kata Dot Pixis sambil tersenyum.
Sementara mereka terus terlarut dalam obrolan yang kelihatannya sangat menarik. Hingga tidak menyadari kalau anak-anak kecil yang berada bersama mereka sudah terserang bosan karena tidak mengerti dengan obrolan orang dewasa. Eren mulai memutar kepalanya melihat sekeliling. Ia benar-benar tidak mengenali orang-orang yang berada di ruangan ini kecuali Mikasa dan Hanji. Ia mencari-cari sosok sang Papa yang sempat ia lihat di halaman depan saat ia datang, tapi sejak tadi ia belum menemukannya.
'Papa!' jeritnya senang dalam hati saat melihat sosok yang ia cari sedang berdiri di dekat tiang di sudut ruangan dan terlihat sedang mengobrol dengan beberapa laki-laki berjas yang sepertinya adalah rekan bisnis dan tamu penting malam ini.
"Eren, kau mau kemana?" suara Mikasa menginterupsi langkah Eren saat hendak menuju ke arah Rivaille.
"Eh, hehe hm.. Mikasa, Eren mau ambil minum, kau pasti haus kan?" Mikasa hanya mengangguk.
"Kalau begitu tunggu di sini sebentar"
"Aku ikut Eren"
"Tidak usah kau di sini saja, nanti Bibi Han pasti mencari kita kalau kau juga ikut"
"Tapi, Eren.."
"Eren bisa sendiri Mikasa!" Eren segera berlari menerobos kerumunan orang, menghiraukan panggilan Mikasa. Eren berlari menuju tempat minuman, awalnya ia hanya bermaksud berbohong pada Mikasa dengan cara menawarkan ia minum, tapi tanpa disadari ia benar-benar berlari menuju tempat kue-kue dan minuman. Di sebuah meja panjang tersebut banyak terdapat kue-kue dan juga minuman yang tersedia dalam wadah besar. Tak lupa di pinggiran meja juga disediakan piring kecil, sendok, garpu, juga gelas-gelas untuk para tamu yang ingin mengambil kue dan minuman. Eren yang melihat itu berinisiatif untuk membawakan minuman untuk Papanya, agar ia tidak dikira anak kecil lagi dan agar Papa memujinya karena sudah berhasil mengambil minuman sendiri tanpa bantuan orang lain. Senyum Eren mengembang saat membayangkan Rivaille yang pasti akan haus karena sedari tadi mengobrol dan papanya tersebut akan sangat berterima kasih dan bangga kepadanya karena ia telah datang disaat yang tepat dan membawakannya minuman tanpa bantuan Hanji, Petra, maupun Mikasa. Eren ingin menjadi sosok yang mandiri di depan Rivaille. Ia tidak ingin lagi dianggap bocah manja yang hanya bisa bergantung pada bantuan seseorang. Oleh karenanya ia akan membuktikannya malam ini. Membuktikan kalau Eren bisa mengambil minuman seorang diri. Eren mulai mendekati meja dan berusaha mengambil satu buah gelas. Eren menggapai kaki gelas tersebut dengan susah payah karena letak meja yang cukup tinggi. Gelas sampanye itu akhirnya berhasil ia raih, lalu ia genggam dengan erat. Kemudian ia berjalan sedikit memutar untuk sampai pada wadah besar berisi minuman berwarna merah yang di pinggirnya juga terdapat patung es batu. Eren sempat terpukau dengan patung yang terbuat dari es batu dan berbentuk sepasang sayap, lambang SC Entertainment yang terletak di tengah – tengah meja panjang tersebut dengan sebuah wadah yang ternyata jika Eren bisa sedikit berjinjit untuk melihatnya di bawah wadah itu terdapat potongan buah segar yang siap untuk disantap. Eren pun sampai pada wadah besar berisi minuman tersebut. Ia pun berusaha berjinjit lagi untuk meraih sendok besar yang disediakan untuk mengambil minuman itu. Dengan seluruh tenaganya ia berhasil menuang satu sendok minuman ke dalam gelas itu meskipun dengan susah payah. Ia mengamati hasilnya saat air berwarna merah itu hampir penuh di dalam gelasnya. Eren pun berniat untuk mengulanginya sekali lagi, jadi ia memutuskan untuk menaruh hasil karyanya tersebut di pinggir meja lalu ia akan mengisi minuman lagi untuk gelas kedua. Tapi sepertinya untuk yang kedua Eren kurang fokus saat ia menuangkan air pada gelas ia menginjak ceceran air minum di lantai yang menyebabkan ia terpeleset dan tanpa sadar membebankan berat badannya pada wadah besar berisi air minum itu sehingga wadah yang terkesan kuat itu nyatanya harus terguling, terbawa Eren yang terjatuh.
'PRANG'
"Kyaa!"
"Kyaa!" teriak Eren bersama seorang wanita yang saat itu menuju ke arahnya berniat untuk menolong Eren yang terlihat kesusahan namun ternyata ia malah terlambat. Wadah itu pecah bersama air yang mengguyur bajunya. Seketika semua orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arahnya.
"Astaga, kau tidak apa-apa nak?" seorang waiter segera menghampiri dan membantu Eren berdiri.
"Anda juga tidak apa-apa kan, Ms. Chrysta?" lanjutnya lagi menanyai sang wanita yang terlihat tengah mengelap gaunnya yang terkena basah cukup banyak.
"Ah, iya tidak apa-apa. Kau tidak terluka kan adik kecil?" sang wanita malah menghawatirkan Eren, kalau-kalau ia terkena pecahan dari wadah tersebut. Eren tidak menjawab ia hanya menundukan kepalanya sambil menahan tangis. Ia benar-benar malu karena ia telah gagal lagi kali ini. Ia hanya berharap supaya Rivaille tidak melihatnya.
"Ada apa ini?" suara baritone tiba-tiba langsung menengahi kerumunan orang yang melihat kejadian itu. Eren sangat ketakutan saat melihat Rivaille yang datang dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Pa..papa" Eren mencicit ketakutan, dan terus menundukan wajahnya, enggan bertemu dengan manik kelabu milik Rivaille. Eren hanya bisa mematung dan meremas ujung tuxedonya sebagai tanda kalau ia gugup dan ketakutan. Matanya sudah berkaca-kaca tanda kalau ia sudah tak sanggup lagi menahan air mata.
"Eren! Astaga!" tiba-tiba Hanji pun muncul dan langsung berlari menuju Eren.
"Chrysta!" tiba-tiba seorang dengan tubuh tinggi semampai dengan setelan blazer hitam dan celana yang serasi menghampiri wanita yang terkena cipratan air akibat Eren tadi.
"Kau tidak apa-apa?" penampilan orang itu terlihat sangat gagah, hampir membuat semua tertipu jika tidak melihat bagian dadanya yang menonjol juga mendengar suaranya mungkin orang-orang akan menyangka ia adalah seorang laki-laki.
"Ah, iya Ymir aku tidak apa-apa"
"Tapi bajumu basah" ia terlihat cemas. Jelas saja cemas karena Ymir adalah manager Chrysta Lenz, seorang artis dari SC Entertainment yang sedang naik daun.
"Tidak apa-apa, aku bawa baju ganti" jawab Chrysta dengan senyuman manis. Hanji yang melihatnya langsung cepat-cepat mendekati kedua orang itu.
"Ms. Chrysta, maafkan aku. Ini semua karena tadi aku kurang mengawasi anak ini" kata Hanji sambil membungkuk.
"Ah, tidak apa-apa. Lagi pula aku tidak terluka. Oia apa kau terluka adik kecil?" Chrysta malah mengalihkan perhatiannya pada sosok Eren yang sekarang sudah berkaca-kaca sambil bersembunyi di belakang Hanji. Tiba-tiba saja Rivaille datang mendekati mereka.
"Chrysta, sebaiknya kau cepat ganti baju agar tidak masuk angin. Bocah ini memang ceroboh, aku akan menghukumnya nanti" kata Rivaille pada artis asuhannya itu. Hanji yang mendengarnya memberikan tatapan dongkol pada kakak iparnya itu. Mendengar kata-kata Rivaille semuanya mendadak hening, sedangkan Eren mulai terisak.
"Benar kata Sir Rivaille. Lebih baik ganti bajumu dulu. Ayo" ajak Ymir berusaha mencairkan suasana, kemudian membawa Chrysta keluar ruangan. Dan semua orang yang bergerumul pun membubarkan diri sambil berbisik-bisik tentang Eren dan Rivaille. Karena semua yang ada di sana belum mengetahui kalau Eren adalah anak kandung Rivaille, meskipun mereka sudah tau kalau Rivaille memang seorang duda yang memiliki seorang putra.
"Ayo, Eren kau juga harus ganti baju sekarang" untung saja Hanji membawa baju ganti di dalam mobilnya. Hanji menggandeng tangan Eren dan Mikasa menuju parkiran tempat mobil Hanji terparkir.
Mikasa memandang Rivaille dengan tajam membalas tatapannya kepada Eren. Sedangkan Eren hanya bisa menunduk sambil sesenggukan karena menangis.
.
.
.
"Aku pulang dengan bocah ini" kata Rivaille yang menyusul mereka ke parkiran setelah Eren berganti pakaian.
"Tapi.." Hanji tidak sempat menolak perkataan Rivaille, sebab ia langsung menarik tangan Eren menuju mobilnya sendiri.
"Mama, Eren.." kata Mikasa yang tampak kuatir sebab aura Rivaille benar-benar sedang jelek akibat insiden di ruang pesta tadi. Hanji hanya bisa menghela nafas melihatnya karena bagaimanapun juga Eren hanyalah keponakannya jadi ia tidak punya kuasa lebih untuk menahan Eren.
"Tidak apa-apa sayang, ayo kita segera pulang juga" akhirnya Hanji dan Mikasa pun memilih untuk pulang ke rumahnya juga.
.
.
"Papa.. hiks" Eren masih menangis saat mereka tiba di rumah, dan Rivaille segera menyeretnya masuk ke dalam. Eren mencoba menyamakan langkahnya dengan langkah lebar Rivaille hingga berkali-kali ia nyaris terjungkal. Belum lagi lengannya yang digenggam erat oleh sang Papa terasa sangat sakit, berkali-kali Eren mencoba untuk melepasnya namun apa daya kekuatannya jauh dibanding kekuatan orang dewasa bertubuh kekar seperti Rivaille. Masih dengan menggandeng lengan bocah tersebut dengan kasar, Rivaille terus berjalan hingga sampai di depan kamar Eren.
'Brak' ditendangnya pintu kamar tersebut hingga terbuka. Eren ketakutan melihat aura setan yang keluar dari Papanya tersebut. Rivaille langsung menghempaskan tubuh Eren ke atas kasur.
"Bocah nakal sepertimu layak mendapat hukuman" kata Rivaille yang langsung melepas ikat pinggang celananya. Eren yang melihatnya langsung menghimpitkan dirinya ke tembok. Rivaille pun segera menarik kaki Eren agar mendekat ke arahnya.
'Plak'
"AAA..!Papa! Sakit!" Eren berteriak kesakitan saat Rivaille melayangkan sabetan ikat pinggangnya ke paha Eren.
'Plak'
"Ampun Papa!" teriakan Eren semakin menjadi saat ia rasakan perih yang menjalar. Namun Rivaille dengan wajah datarnya tetap memukulnya tanpa mempedulikan bahwa sang anak sudah menangis.
'Plak'
Bunyi sabetan terdengar hingga lima kali sebelum akhirnya terhenti. Meninggalkan jejak kemerahan yang nyaris membiru di area sekitar paha hingga betis Eren.
Rivaille melemparkan ikat pinggangnya ke sudut ruangan, setelah itu ia keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan Eren yang sudah menangis sesegukan.
"Eren! Astaga Eren.." Petra segera datang saat mendengar suara ribut – ribut dari dapur tadi dan betapa miris saat yang ia lihat adalah Eren yang sudah meringkuk di atas kasur sambil menangis kesakitan. Tanpa harus dijelaskan pun Petra sudah tau apa yang terjadi, pasti Rivaille yang melakukannya. Jika saja Petra punya kuasa lebih ia sangat ingin menolong Eren disaat seperti itu namun apadaya ia tidak bias melawan atau membangkang pada atasannya sendiri.
"Eren, tunggu sebentar ya, aku ambilkan obat" Petra segera mengambil kotak P3K dan mengobati luka – luka Eren.
TBC
MIND TO REVIEW?
