Pacar Sewaan
Cast : Naruto U, Sasuke U, Kiba I, Gaara, dll
Genre : Romance
Rated : T
Warning : BL/YAOI, OOC, maksa, typo, abal, tidak jelas, pasaran banget, dan lain-lain
Summary : Akhirnya, Naruto dapat pesanan. Ia disewa, sebagai seorang pacar. Bagaimana reaksinya, menjadi pacar sewaan untuk pertama kali?
Chapter 2
Nama :
Depan : Uchiha ; Belakang : Sasuke
Usia : 25 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Direktur
Telepon : +81 769800
Alamat : Amaterasu Building, Lt. 20 no 202, Kota Konoha
[Terima]. [Tolak].
Naruto terpaku sejenak. Tunggu sebentar. Tunggu sebentar. Tunggu sebentar! Direktur katanya?! Untuk apa direktur main kencan online seperti ini?
Oh, kau salah fokus Naruto sayang. Lihat apa yang seharusnya membuatmu terkejut.
Naruto itu laki-laki. Dan yang memintanya juga laki-laki. Oh, benar juga. Apa ini kesalahan teknis? Apa ada faktor kesengajaan?
TRING TRING TRING!
Nada dering telepon membuat Naruto kaget. Naruto melihat layar ponsel dan bingung mendapati nomor yang ia tiada kenal. Diangkatnya panggilan itu dan mendapatkan pertanyaan,
"Hei, mengapa kau tidak segera menerimaku?"
Naruto terpenjat kaget. "Ha-ah… Eh—apa…maksud anda? Anda siapa?" Naruto jadi bingung.
"Kenapa bertanya? Kau hanya harus menekan 'terima'".
Oh jangan-jangan… "I—Ini… Uchiha-san?" tanya Naruto gelagapan sambil melirik kearah layar laptopnya.
"Kau pikir siapa?". Ia terdengar sangat angkuh.
Naruto meneguk ludah. Sepertinya ia salah untuk mengikuti saran Kiba.
"A-Ano… Uchiha-san. Aku ini—laki-laki lho. Bukankah tertulis jelas di biodata itu…?" tanya Naruto dengan hati-hati. Sebenarnya, ia tak ingin berdebat dengan pelanggan pertamanya.
"Aku melihatnya dengan jelas. Lalu?".
Rasanya Naruto ingin membanting ponsel. Tentu saja itu tak mungkin ia lakukan.
"Begini… Uchiha-san juga kan… laki-laki. Jadi kupikir… dengan gadis saja ya…?" Naruto akan menolaknya secara halus.
"Tekan tombol terima apa susahnya?". Suara di seberang tampak gusar. Naruto jadi tak enak hati. Ia masih diam berpikir.
"Hanya sampai aku bisa menunjukkan pada mereka kalau aku baik-baik saja,". Sasuke menyahut setelah Naruto hening.
Naruto memandangi laptop—tepatnya kearah foto avatar yang ada di biodata itu. Bukan pas foto yang seperti di kartu kependudukan. Sasuke menatap kamera dengan pose natural dengan latar belakang gedung-gedung tinggi.
"Aku bisa membayar berapapun. Tinggal katakan berapa yang kau butuhkan," lagi Sasuke melanjutkan karena sedari tadi Naruto diam saja.
Naruto mengambil nafas untuk bicara. "Kau serius? Berapapun?". Tawaran yang sangat menggiurkan. Baiklah, ia akan melakukan ini. Demi uang-uang itu ia akan berusaha.
"Kau tidak lihat aku ini apa? Aku bisa melakukan apapun,". Nada sombong terdengar dari Sasuke.
Naruto terkekeh, mengalah dan kemudian menekan tombol terima. Laman web berganti dengan lembar kontrak digital.
"Berapa nominalnya?" Sasuke kemudian bertanya melalui ponsel. Naruto memikirkan kira-kira berapa yang seharusnya ia minta untuk menutupi kas-nya yang sudah minus.
"Eung… 70 ribu yen?" taksir Naruto. Itu cukup untuk dua bulan mungkin!
"70 ribu? Kau yakin tidak mau tambah?". Sasuke bertanya. Naruto bilang tidak. Tapi di kontrak, terketik nominal 100 ribu yen.
"Oi-oi! Itu—itu terlalu banyak!" Naruto mencoba menghapus tapi tidak bisa. Ternyata kontrak hanya bisa di-edit oleh penyewa.
"Aku tidak tahu masalah ini bisa selesai dalam berapa lama. Sebulan atau dua bulan?".
"Sebulan. Sebulan pasti cukup," jawab Naruto cepat. Ia tak ingin berlama-lama menjalani bisnis aneh ini dengan orang yang sama sekali asing baginya.
Laman kontrak itu kemudian disetujui oleh Naruto—dengan paksaan tentunya.
Dan mulai malam itu,
"Kita resmi pacaran. Mohon bantuannya ya, Naruto-kun," Sasuke memanggil nama kecilnya. Naruto merasa malu. Untung saja Sasuke tidak bisa melihatnya.
"Y—Ya… A—ku juga, Uchiha-san," balas Naruto—lemas.
Ia memulai 'karir'-nya sebagai pacar sewaan. Dengan laki-laki, seorang direktur kaya yang mampir ke situs kencan online.
Naruto kini duduk di bangku sebuah café yang sepi. Suasana remang dan hening. Pemuda pirang itu tidak sendirian. Dihadapannya duduk seorang laki-laki berkemeja lengan panjang dengan dasi menjuntai. Jas kerja tersampir rapi di lengan kursi.
Keduanya memesan minuman yang berbeda. Bisa di duga dari warnanya, satunya pekat mendekati hitam. Mungkin Black Coffee, milik si pemuda berkemeja. Lalu secangkir lainnya berwarna coklat terang milik si pemuda pirang. Mungkin sejenis latte.
"Se-sebenarnya, mengapa Uchiha-san memanggilku?" kini si pemuda pirang itu bertanya—membuka pembicaraan. Lawan bicara tengah menyesap kopi hangat dari cangkirnya. TUK. Terdengar bunyi cangkir menyentuh tatakan.
"Hanya ingin bertemu," jawabnya ambigu. Naruto sama sekali tak mengerti. Hanya ingin bertemu bukanlah hal yang logis kalau dilakukan tanpa alasan. Kecuali untuk satu hal…
"Aku pacarmu sekarang. Ingin bertemu itu wajar,". Sasuke menjawab pertanyaan di benak Naruto. Ah ya… Pacar… tapi sewaan sih. Sedih juga. Naruto hanya bisa mengangguk maklum sambil tersenyum canggung.
Naruto merasa kalau ia diperhatikan, tapi tidak mengerti mengapa. "Eung… Uchiha-san—apa kamu baik-baik saja?" Naruto menginterupsi karena Sasuke terus melihatnya intens. Sasuke kemudian mengalihkan pandangan dan berkata, "Kau lebih imut dibanding di foto,".
Naruto sama sekali tidak ingin percaya pada pendengarannya. Imut katanya? What the hell! Kalimat itu sama saja seperti menghinanya. Mana ada yang mau dipuji om-om? Lagian Naruto itu masih lurus!
Pemuda pirang itu hanya bisa memasang ekspresi canggung. Tidak tahu apalagi yang harus ia ungkap sebagai bahan bicara. Kehabisan stok secara instan.
"Ceritakan tentang dirimu," kini Sasuke yang membuka mulut. Naruto menatapnya serius. "Cerita—tentang aku?" ia menunjuk diri dengan telunjuk. Sasuke mengangguk lewat isyarat mata. "Aku penasaran denganmu," jawab Sasuke.
Naruto bingung harus mulai dari mana. Dan sepertinya Sasuke paham. "Kau kuliah kan?" pancingnya. "Eh—oh ya, aku kuliah di Universitas Konoha Jurusan Hukum,". "Lalu, kau juga kerja sambilan—dimana?" Sasuke kembali bertanya. "Restoran Ramen Ichiraku di ujung jalan Kumo. Tidak setiap hari sih, tapi kalau sedang libur kuliah aku kesana setiap hari," jawab Naruto, mulai menikmati pembicaraannya dengan Sasuke.
"Jadi pramusaji ya?". "Un! Memang sih, tidak seberapa gajinya. Tapi melihat ramen setiap hari membuatku sedikit lega hehehe…" cengiran lebar khas milik Naruto terpancar saat membicarakan ramen.
Sasuke memandanginya sejenak, lalu menyesap kopi hitam miliknya. Ia berhenti bertanya, Naruto juga berhenti menjawab. Suasana kembali menjadi hening.
Naruto sibuk memandangi cairan kopi dan Sasuke bergantian. Banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan. Tapi yang ingin ia tahu saat ini adalah, "Uchiha-san… mengapa ingin menyewa pacar?" tanya Naruto. Tentu saja ia ingin tahu. Dan itu diperbolehkan dalam kontrak.
Sasuke terlihat diam sejenak saat Naruto bertanya. Ia ingin menjawab, tapi tak mengerti harus memulai dari mana. "Kalau tidak salah… Uchiha-san bilang 'sampai aku bisa menunjukkan bahwa aku baik-baik saja…'. Apa karena itu?" tanya Naruto—mengingat pembicaraan mereka di telepon tempo hari.
Pemuda pirang itu cukup penasaran. Ia memandangi lawan bicaranya namun terkadang mengalihkan pandangan karena malu akan tatapan Sasuke. "Ya, bisa dibilang," jawab Sasuke. "Aku hanya ingin menunjukkan pada Ibu dan mantan pacarku kalau aku baik-baik saja," Sasuke melanjutkan kalimatnya. Naruto diam menyimak.
Ibu dan mantan pacarnya? Naruto berpikir sejenak, mungkinkah mereka dipaksa untuk menikah? Atau Sasuke yang dicampakan?
Naruto ingin bertanya tapi tidak enak dengan tatapan Sasuke yang berubah. Menjadi datar dan terlihat kosong.
"Uchiha-san?" tegur Naruto pada Sasuke yang mendadak termenung. Sasuke seolah tersadar dan kembali fokus pada Naruto.
Merasa mengagetkan Sasuke, Naruto minta maaf. "Aku ada kegiatan klub setelah ini. Boleh aku... pergi?" tanya Naruto. Sasuke meminum kopinya dan kemudian beranjak. "Aku akan mengantarmu," ujar Sasuke, memakai jas-nya dan menyeret Naruto.
"Eh-ta-tapi..." Naruto ragu-ragu ingin menolak keinginan Sasuke. Namun Sasuke terus menariknya sampai Sasuke membuka mobil dan mendorongnya paksa untuk duduk di jok sebelah supir.
"Uchiha-san, kau tidak perlu mengantarku. Aku bisa naik bis," protes Naruto merasa tidak enak. Sasuke segera menyentil dahi Naruto yang tertutup poni pirang. "AUW!" tentu saja Naruto menjerit sakit.
"Kau itu bodoh ya?". Naruto hanya bisa pongo sambil memegangi keningnya. "Kau punya pacar yang membayarmu untuk menemaninya. Seharusnya kau tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk apapun," Sasuke menjawab sambil menyalakan mobil. Mereka kemudian melaju menuju kampus dimana Naruto kuliah.
Saat Naruto turun dari mobil, ia dihampiri oleh teman satu klubnya, Gaara yang mengambil jurusan kedokteran.
"Diantar siapa Naru?" Gaara melirik mobil mulus ber-cat hitam mengkilap yang mengantar Naruto. "Oh... i-ini... eung..." Naruto bingung mau jawab apa. Secara, pacar sewaan bukanlah hal elit untuk diungkapkan.
"Pacar-nya," tanpa diminta dan secara mendadak, Sasuke yang masih diam di tempat, membuka kaca jendela dan menyahut.
Naruto menoleh kaget. "U-Uchiha-san!" pekik Naruto berusaha menjitak kepala Sasuke kalau ia mampu. Wajah Naruto memerah malu entah mengapa.
Gaara dilanda kebingungan. "Pacar...?".
Naruto hendak memberi klasifikasi mengenai hubungannya dengan pemuda lain di dalam mobil pada kawannya, Gaara. Tapi Sasuke lagi-lagi menyahut tanpa persetujuan.
"Aku akan menjemputmu nanti. Jaa," Sasuke kemudian menutup kaca jendela dan pergi berlalu.
Keduanya terpaku di halaman depan kampus. Dengan persoalan yang tentunya berbeda.
Bersambung...
Haloo, ketemu lagi~
Ao akan beikin cerita ini sampai beberapa chapter, mungkin maksimal... 5 atau 7?
Nggak pasti sih hehe
Gimana? Perlu dilanjutin?
Jangan lupa review ya!
AkaiLoveAoi
