Love Me Right

Cast :

Jung Hoseok

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Park Jimin

Genre : Romance, angst, hurt/comfort.

Rate : T semi M

Boys Love, Yaoi, Shounen ai, OOC, typo

.

.

.

Hana

Dul

Set

.

.

.

Happy reading

.

.

.

"Hyung !" Jungkook terkejut saat melihat Hoseok. Perasaan rindu, senang, sakit, dan sedih menjadi satu di hatinya.

Hoseok bangkit dari duduknya."Kookie ! astaga kemana saja kau. Aku terus mencarimu kemana-mana. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi." Hoseok menggenggam kedua tangan Jungkook. Namjoon hanya diam menatap adegan di depannya kini. 'Jadi ini yang namanya Jungkook. Hmm… cukup cantik juga dia pantas saja Hoseok sulit melupakannya' batin Namjoon.

Jungkook melepas genggaman tangan Hoseok. Hatinya berteriak bahwa masih mencintai namja itu dan ia sangat merindukan sosok didepannya. Tapi mulutnya berkata lain.

"Mianhae Hyung aku harus kembali bekerja dan selamat menikmati makanannya. Saya permisi." Jungkook membalikkan badannya meninggalkan Heosok dengan tatapan sendunya.

Hoseok hendak menyusul Jungkook, namun langkahnya terhenti ketika Namjoon menahan lengannya. "ingat perkataan ku tadi atau kau akan menderita Seok ah" ujar Namjoon mengingatkan.

Hoseok menuruti perkataa Namjoon, ia menghempaskan bokongnya kembali dikursi. Matanya menatap rindu pada punggung Jungkook yang menjauh. Tatapannya beralih kearah cappuccino coffe yang ada di depannya. Hoseok menyeruput kopi denga nikmat membuatnya merasa tenang. Segelas kafein memang selalu membuatnya tenang setelah alkohol dan rokok tentunya. Semantara Namjoon menikmati chicken steak crispy dan ice lemon teanya dengan tenang.

.

Jungkook meletakkan nampannya di atas meja. 'astaga bagaimana ini. Pasti Hoseok hyung akan terus datang kemari' batin Jungkook takut. Ia takut jika dirinya tidak bisa melupakan lelaki itu. Ia tidak mau menjadi pengganggu dan perusak rumah tangga orang. Tangannya meremas dadanya yang terasa sesak. Air matanya jatuh, namun degan cepat Jungkook menghapusnya setelah mendengar derap langkah kaki seseorang yang melangkah masuk kedapur , ia tidak mau orang lain melihatnya. Tapi sepertinya orang itu telah mengetahui dirinya manangis.

"Astaga Kookie, kau menangis eoh ? siapa yang menyakitimu?" namja bermata rusa memegang kedua bahu Jungkook dan menatapnya dengan tatapan 'jelaskan padaku'.

"A… ani hyung mataku hanya kemasukan debu"

Luhan, nama namja itu menghela napas kasar, ia tahu betul jika dongsaeng kesayangannya itu habis menangis. "Kau tidak bisa berbohong padaku Jungkook ah. Ayo cerita sama Hyung, apa ini menyangkut dengan lelaki itu?" Tanya Luhan mengintimidasi Jungkook.

Jungkook terdiam sebentar untuk memberikan efek tenang. Ia mulai membuka mulutnya menceritakan pertemuannya dengan Hoseok beberapa menit yang lalu, tak lupa juga Jungkook menceritakan kekhawatirannya. Luhan memperhatikan dengan serius setiap kata yang keluar dari mulut Jungkook.

"Jadi begitu, lalu apa yang kau khawatirkan Kook ah?" ujar Luhan lembut.

"Aku hanya takut, jika nanti Hoseok hyung akan terus kesini hyung"

Luhan tersenyum dan mengusap lengan Jungkook. "hyung akan membantumu jika ia datang dan mencarimu. Kau nanti tetap diam disini atau diruang ganti pegawai agar ia tidak bisa menemukanmu. Arrachi ?"

"ta.. tapi hyung, bagaimana jika Jongin sajangnim tidak melihatku di kafe dan ia memotong gaji ku." Seru Jungkoook takut.

"Tenang saja aku yang akan bilang pada si hitam itu dan kau tinggal menuruti perintahku saja."

"Ne.. arraseo, terima kasih hyung."

Luhan tersenyum dan menarik tubuh Jungkook untuk memeluknya. Luhan selalu menjadi tempat curhat Jungkook. Membagi kisah pahit dan manisnya pada namja rusa yang sudah ia anggap sebagai kakak itu. Luhan dan Jungkook menjadi dekat sejak Jungkook bekerja di kafe itu setahun yang lalu. Luhan merupakan sepupu Jongin yang berasal dari Cina. Mereka berdualah yang mengelola kafe itu.

"Ekhemm.. kurasa acara 'berpelukannya' ditunda dulu. Karena masih ada pesanan yang belum di antar." Ujar Sehun dingin. Ada nada cemburu saat ia menekankan kata 'berpelukan' tadi.

"Hyung.. jeongmal mianhae aku tidak bermaksud untuk merebut Luhan Hyung darimu." Jungkook membungkukkan badannya kearah Sehun dan mulutnya terus mengatakan kata maaf.

Sehun menatap dingin Jungkook, ia tidak merespon perkataan namja mungil itu. Luhan menyuruh Jungkook untuk kembali bekerja. Jungkook melenggang pergi dari hadapan Luhan dan Sehun dan mengantar tiga pesanan yang belum diantar.

Luhan memeluk Sehun dari belakang, manyamankan kepalanya dipunggung tegap yang menjadi kekasihnya tiga minggu yang lalu. Sehun tak bergeming dan malah membereskan piring-piring yang baru saja selesai dicuci. Merasa tak ada respon Luhan mengeratkan pelukannya.

"Hunnie. Sudah ya marahnya. Tadi itu aku Jungkook hanya sekedar curhat saja. Aku janji tidak akan melakukan skinship lagi padanya." Ucap Luhan dengan nada memelas.

Sehun mengabaikan Luhan dan tetap fokus pada kegiatannya merapikan piring-piring yang telah selesai dicuci. Namja berwajah datar itu seperti tak merasa terganggu.

"hiks.. hiks.. hiks…"

Sehun menghentikan kegiatannya saat mendengar rusanya menangis dan merasakan punggungya basah oleh air mata. Ia membalikkan badannya dan menengkupkan pipi Luhan dengan kedua telapak tangannya, kedua ibu jarinya menghapus air mata yang membasahi pipi kekasih imutnya itu. Sehun paling tidak bisa jika melihat orang yang dicintainya menagis.

"sstt.. uljima hyung. Aku sama sekali tidak marah padamu ko."

"lalu mengapa kau mengabaikanku tadi. Kau kan sudah tau bahwa aku tidak suka diabaikan begitu."

"aku.. aku hanya cemburu saja hyung."

Luhan memeluk Sehun erat dan menyamankan kepalanya pada dada bidang kekasihnya. Sehun membalas pelukan Luhan. Mengusap surai hitam itu dengan sayang.

"maafkan aku Hun ah. Aku tidak bermaksud seperti itu."

"ya aku sudah memaafkanmu hyung. Tapi berjanjilah untuk tidak melakukan skin ship pada orang lain selain aku dan eommamu."

Luhan melepas pelukannya dan menatap mata Sehun penuh cinta. "Ya aku berjanji Hun ah."

Sehun mengecup dahi Luhan sebelum ia kembali pada pekerjaannya.

.

Suasana kafe telah sepi sejak satu jam yang lalu. Jam menunjukkan pukul 21.00 KST. Sebelum pulang Jungkook, Sehun dan Kyungsoo membereskan dan menutup kafe terlebih dahulu.

Kyungsoo membersihkan dan memberesakn dapur, Jungkook mengangkat dan membereskan kursi dan meja, Sehun mengepel lantai dan menutup kafe.

[Everybody say NO

Deoneun najungiran maallo andwae

Deoneun namui kkume gatyeo salji ma

We roll (we roll) we roll (we roll) we roll

Everybody say NO

Jeongmal jigeumi animyeon andwae

Ajik amugeotdo haebon ge eobtjanha

We roll (we roll) we roll (we roll) we roll

Everybody say NO]

Jungkook merogoh kantung celananya, mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dengan segera ia menggeser tombol hijau kekanan dan menempelkannya poselnya ketelinga sebelah kanan.

"yeobosaeyo hyung"

'yeobosaeyo Jungkook ah. Apa kau sudah pulang?' Tanya Jimin diseberang sana.

"belum hyung, aku masih di kafe. Apa hyung sudah pulang?" Jungkook balik bertanya

'aku akan menjemputmu di kafe, kebetulan aku juga belum pulang.'

"tidak usah hyung aku tahu kau pasti lelah, jadi lebih baik kau pulang duluan dan beristirahat."

Jimin mendesah diseberang sana, 'tidak ada penolakan aku akan sampai di kafe sepuluh menit lagi. Tetap disitu dan jangan pergi kemana-kemana.' Ucap Jimin final.

"Ta.. tapi hyung aku.."

Tut.. tut.. tut..

Belum sempat Jungkook menjawab Jimin sudah menutup teleponnya. Jimin memang tipe pemaksa, ia sangat tidak suka jika permintaannya tidak dituruti. Jungkook mendesah pelan dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda.

"Siapa yang menelponmu Kook ah."

Jungkook memutar tubuhnya menghadap Luhan.

"Hyung belum pulang?"

"Belum Kook. Aku akan pulang jika Sehun pulang. Tadi siapa yang menelponmu."

"ah.. itu.. itu hanya Jimin hyung."

"Jimin ? lelaki yang sering kau ceritakan padaku dan yang kemarin pagi mengantarmu kesini ?"

"Ne.. hyung"

Luhan menganggukan kepalanya. Ia tahu siapa Jimin dan Luhan juga mengetahui bahwa Jungkook tinggal satu atap bersama namja itu. "sepertinya kalau ku lihat dia menyukaimu Kook ah." Ujar Luhan dengan nada usil dan menggoda.

Deg..

Jantungnya berdebar saat mendengar perkataan Luhan barusan. Ia merasakan sensasi aneh pada tubuhnya. "itu tidak mungkin hyung. Ia sudah menganggapku sebagai adiknya jadi ia tidak mungkin menyukaiku." Ujar Jungkook meyakinkan.

"Sahabat bisa jadi pacar Kook ah dan aku rasa dia juga namja baik-baik, benar kan Kookie ?"

"Ne hyung." Perkataan Luhan berhasil membuat pipinya bersemu merah. Jantungnya kembali berdegup kencang. Jungkook menampilkan senyum terbaiknya untuk menutupi rasa gugupnya.

"Hyung aku sudah selesai ayo pulang." Ujar Sehun santai. Lelaki itu telah selesai dengan pekerjaannya 10 menit yang lalu.

"sepertinya kafe akan dikunci. Ayo kita keluar bersama-sama." Luhan berjalan duluan menggandeng tangan Sehun. Jungkook berjalan dibelakang mereka karena kunci kafe dipegang oleh Sehun, ia tidak mau jika dikunci dari luar. Sementara Kyungsoo dan Jongin sudah pergi meninggalkan kafe setengah jam yang lalu.

"Kookie aku pulang dulu ya. Sampai bertemu besok." Luhan meninggalkan Jungkook sendiri didepan kafe.

Jungkook merapatkan mantelnya untuk menghangatkan tubuh mungilnya. Ia melirik jam 21.10 KST itu artinya sebentar lagi Jimin akan sampai. Beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti didepan kafe tempatnya berdiri. Seorang namja bersurai coklat turun dari mobil. Ia mempercepat langkahnya agar tidak terlalu lama membuat Jungkook menunggu

"Apa aku terlambat Kook ah ?"

"ani hyung. Aku baru saja keluar kafe." jawab Jungkook dengan senyum.

"Kajja, kita pulang sepertinya sebentar lagi hujan." Ujar Jimin seraya menatap langit malam yang mulai mendung.

Jungkook mengusapkan kedua tangannya cepat. Udara malam kota Seoul memang sangatlah dingin. Melihat Jungkook kedinginan ia segera merangkul pudak mungil Jungkook agar namja itu tidak kedinginan lagi. Jungkook yang mendapat perlakuan demikian segera menolak, namun ia mengurungkan niatnya saat Jimin memaksanya. Akhirnya Jungkook masuk kedalam mobil bersama Jimin yang merangkul pundaknya erat. Jimin manyalakan mobilnya dan berjalan cepat membelah jalanan kota Seoul di malam yang dingin menuju apartemennya.

.

Hoseok memukul setirnya kasar. Darahnya mendidih saat melihat adegan didepannya beberapa menit yang lalu. Hoseok bersembunyi dibelakang mobil Luhan yang terparkir didepannya, ia sengaja melakukannya untuk bisa memperhatikan gerak gerik Jungkook. Sebenarnya ia ingin menemui namja mungil itu setelah jam kerjanya selesai, namun ia mengurungkan niatnya saat mengingat kejadian siang tadi. 'jadi ini alasan kau terus menghidariku dan meninggalkanku Kook ah?' batin Hoseok bertanya-tanya. Ia menyalakan mobilnya dan mengemudikannya cepat. Pikirannya sangat kacau saat ini. Tujuannya saat ini adalah Bar, Hoseok merasa sebotol atau dua botol wine/vodka bisa menenangkan pikirannya.

.

Taehyung terus menguap. Mata sipit bereyelinernya juga terasa berat. ia melirik jam di meja yang berada disamping sofa. Pukul 00.30 KST, rasa kantukya terus menyerangnya. Tapi Taehyung segera menepisnya agar ia bisa menunggu Hoseok pulang.

Brakk…

Kesadarannya penuh kembali saat ia mendengar pintu yang dibuka keras dan sosok yang ditunggunya hingga kantuk terus menyerangnya. Oh lihatlah istri yang baik bukan?

Taehyung segera menghampiri Hoseok untuk menyambut suaminya. Saat berada didepan Hoseok, Taehyung mencium bau alkohol yang menyengat, suaminya mabuk lagi ternyata. Sebenarnya Taehyung sangat benci dengan bau alkohol dan rokok, namun ia harus tahan dengan itu semua agar suaminya bisa nyaman. Taehyung memapah tubuh Hoseok masuk menuju kamar mereka.

"Jungkook ah apa karena lelaki itu kau pergi meninggalkanku." Hoseok terus meracau tak jelas. Ia selalu menyebut nama Jungkook saat mabuk. Taehyung merasa dadanya sakit saat suaminya terus menyebut nama Jungkook saat mabuk. 'sebegitu istimewanya kah namja itu di hatimu hyung. Apa kau benar-benar membenciku ? kapan saat itu datang hyung. Kapan kau bisa melihatku sebagai istrimu.' Taehyung menangis dalam hati.

"Apa kurangnya aku Jungkook ah. Aku lebih tampan dan tentunya lebih kaya darinya. Tapi mengapa kau pergi meniggalkanku." Taehyung memutar tubuhnya meninggalkan Hoseok. Langkahnya terhenti saat Hoseok menarik tangannya hingga ia terjatuh diatas tubuh tegap Heosok.

"hy.. hyung." Taehyung terlonjak kaget. Ia segera bangkit. Namun Hoseok menarik tangannya keras hingga Taehyung terjatuh lagi. Hoseok menukar posisi mejadi diatas Taehyung dan menyambar bibir Taehyung.

Taehyung membulatkan matanya saat mendapat perlakuan demikian dari suaminya. Ia ingin berontak, namun ia tidak bisa, karena ini merupakan kewajibanya sebagai istri meskipun Heosok dalam keadaan mabuk. Hoseok terus menjamah tubuh Taehyung dari atas sampai bawah seraya melepas semua pakaian Taehyung. Mengecup dan Memberi tanda disetiap tubuh yang dikecupnya. Tak lama kemudian kini mereka berdua sudah dalam keadaan tubuh yang polos tanpa sehelai benang. Hoseok menatap Taehyung lembut. Taehyung membalasnya dengan tatapan sayu.

Hoseok menyambar bibir Taehyung. Melumatya kasar. Taehyung memukul dada Hoseok pelan. Hoseok melepas pagutanya dan mengusap pipi Taehyung lembut.

"Jangan pergi lagi ne chagi. Aku tidak mau kehilanganmu untuk kedua kalinya. Aku sangat mencintaimu Jungkook ah… Saranghae."

Air matanya lolos dan turun membasahi pipinya. Hatinya seperti ditusuk saat mendengar perkataan Hoseok barusan. Heosok menyelipkan kepalanya diperpotongan leher Taehyung, menggigit dan menghisap hingga menghasilkan tanda disana. Taehyung terus menangis, ia sama sekali tidak menikmati semua ini. Hatinya terlalu sakit.

Hoseok melebarkan kedua paha Taehyung dan memasukan junior nya kedalam hole sempit Taehyung sekali sentak.

"Arghh…" air matanya mengalir deras saat Hoseok memasukkan juniornya tanpa adanya pemanasan. Tubuhnya bagai di belah dua. Ia merasakan sakit dan penuh di bawah sana, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan sakit di hatinya.

Hoseok bergerak memompa juniornya tanpa ada jeda sedikitpun. Rasa nikmat dan sakit menjadi satu. Taehyung menjerit nikmat dan mendesah saat Hoseok mempercepat genjotannya.

"ahh..ahh..ahh..ohh..hhyyungg..aakuu keeluarr.."

"shh.. ahh.. nnaddooo.. kkiitaa keeluuarr be…rsshhh.. aamaa."

Lima kali tusukan Taehyung mengeluarkan spermanya, membasahi perut dan dada Heosok.

Croott croott croot

"ahhh.."

"aahh… Juuungkoookk ahh… ahh..kku … kkeluarrhhh… ahhh."

Croot croot croot.

Hoseok mencabut juniornya dari lubang sempit Taehyung dan membaringkan tubuh lengket penuh spermanya disamping Taehyung. Matanya tertutup, seakan-akan lupa dengan yang baru saja terjadi.

Taehyung menarik selimut menutupi tubuhnyan hingga batas leher, dan tidur memunggungi suaminya. Ia Menangis lagi saat mengingat kejadian beberapa menit tadi, mata sipit cantiknya kini membengkak . Taehyung merubah posisinya menghadap suaminya yang tidur telentang. Ia mendekat dan tidur di lengan Hoseok, memeluk tubuh lengket berkeringat Hoseok dan menyamankan posisinya di lengan suaminya. Taehyung tidak peduli jika pada saat nanti ia bangun Hosoek sudah menghilang, yang terpenting sekarang adalah ia bisa tidur nyenyak dengan Hoseok dipelukannya.

.

.

.

.

TBC/DELETE

Hmm kayanya ratenya tambahin aja x ya, meskipun NC nya garing kaya kerupuk kaleng hehe.. aku bakal usahain supaya ff ini bisa cepet selesai dan ga ngegantung. Aku juga minta maaf sama readernim terutama fansnya J-hope kalo aku salah tulis nama realnya J-hope d ff ini. Makasih juga buat hyemi270, YM424, , RyuYeks, DozhilaChika yang udah kasih aku saran, setuju sama saran aku yang entahlah bagus apa ngga, dan kasih aku semangat buat lanjutin ff ini dengan cara nyemangatin aku lewat review/PM. Makasih juga buat yang udah ngefollow sama favoritin ff abal-abal aku ini.

See you the new chapter guys. Gamshahamnida… anyeong… *bow* *kiss*