Kuroko No Basuke

hanya milik Tadatoshi Fujimaki sensei

Pairing Akakuro, Shounen Ai

Chapter 2

Suasana sore ini begitu sunyi, pemandangan di luar dari jendela atas perpustakaan tampak sangat indah apalagi sekarang musim semi, bunga sakura tampak indah bermekaran dan bunga-bunga nya yang gugur diterpa angin menambah kesan cantik pada pemandangan sore ini. Tampak seorang pemuda baby blue sedang asyik membaca ligt novel yang dibawanya di perpustakaan ini. Sepertinya dia sudah masuk dalam dunia novelnya, angin sore masuk melalui jendela yang terbuka menerbangkan surai baby bluenya seirama dengan hembusan angin. Saking asyiknya membaca dia tidak sadar ada seseorang yang mendekati dirinya, pemuda yang berdiri didepannya tidak marah karena merasa diabaikan, dia tahu bahwa Tetsuya sedang fokus membaca novelnya.

"Boleh aku duduk disini?"

Tetsuya kaget, mengalihkan pandangannya dari novel ke pemuda scarlet didepannya

"Silahkan Akashi-kun" jawabnya datar

Hening, tak ada yang buka suara diantara mereka berdua tenggelam dalam bacaan masing-masing.

"Kuroko, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Apa itu Akashi-kun ?"

"Apa hubunganmu dengan Mayuzumi Chihiro" tanyanya to the point

" Etto..Chihiro-kun adalah anak dari teman lama okaa-san kami berteman."

" Hanya itu?"

"Ha'i. Memang ada apa dengan Chihiro-kun, Akashi-kun?"

" Aku hanya bertanya, memastikan sesuatu. Aku baru melihatmu di kampus ini saat kita bertabrakan beberapa hari yang lalu. Apa kau murid baru?"

"Hump. Aku baru pindah kesini dua bulan yang lalu."

"Begitu. Apa kedua orang tuamu juga berada di Tokyo ?"

Mendengar pertanyaan Akashi, sekilas mata Tetsuya menampilkan kesedihan lalu memejamkam mata sebentar dan kembali menampilkan manik azurenya dengan sulit diartikan.

"Tidak Akashi-kun. Ibuku berada jauh dari sini. Aku disini tinggal bersama Chihiro-kun "

Alis Akashi berkedut. Mendengar jawaban dari Tetsuya. Bukan, Bukan masalah ibunya yang tinggal jauh dari sini tetapi masalah Tetsuya yang tinggal bersama dengan Mayuzumi itu yang bikin kesal apalagi memanggil nama kecilnya. Tangannya gatal untuk melempar gunting legendarisnya ke kepala Mayuzumi.

"Akashi-kun?"

"Ah. Ya Tetsuya ada apa?"

Dahi Tetsuya berkerut, dengan panggilan Akashi kepadanya. Padahal baru bertemu dua kali tapi pemuda didepannya ini sudah memanggil nama kecilnya.

"Apa tidak boleh, aku memanggil Tetsuya?" jawab Akashi seakan tahu yang dipikirkan Tetsuya

'Apa Akashi-kun seorang cenayang' batin Tetsuya

"Aku bukan cenayang Tetsuya."

' Tuh kan, dia bisa baca pikiranku. Dasar Aneh' batin Tetsuya lagi

" Hentikan itu Tetsuya aku bukan orang aneh"

" Kapan aku bilang Akashi-kun aneh?"

"..."

Skak mat.

Akashi tertegun, baru kali ini ada orang yang mengalahkannya dalam hal memojokkan. '

Sungguh menarik ' batin Akashi sambil menyeringai

" Kembali ke topik awal. Memang orang tuamu tinggal dimana Tetsuya? Dan kenapa kau hanya menyebut ibumu saja?"

" Ayahku sudah tiada Akashi-kun"

" Maafkan aku. Aku tidak bermaksud..."

" Tidak apa-apa, Akashi-kun"

" Apa dia sakit ?"

" Aku.. tidak tahu Akashi-kun. Okaa-san tidak bilang penyebabnya" ini aneh Tetsuya tak pernah menceritakan keluarganya kepada siapapun, tetapi ketika bersama Akashi dia bisa cerita semuanya termasuk kehidupan pribadinya.

" Begitu. Tetsuya..."

"Tetsuya" panggil Mayuzumi bersamaan dengan Akashi

"Apa yang kau lakukan disini aku mencarimu kemana-mana"

" Gomen Chihiro-kun"

"Akashi. Sedang apa kau disini bersama Tetsuya"

"Apa perlu aku melaporkan semua yang kulakukan padamu Chihiro." Ketusnya

"Cih. Aku tak tahu apa urusanmu dengan Tetsuya tapi, jangan pernah kau menganggunya apalagi mempermainkannya. Jika itu terjadi aku tak akan segan-segan menghajarmu meski kau seorang 'Akashi'."

" Kau mengancamku Chihiro?"

" Tidak. Aku hanya mengingatkan" katanya datar

"Oh. Terimaksih sudah mengingatkanku. Ternyata kau memang pengawal yang baik"

"….."

"Anoo, kalian sudah saling kenal?'' tanya Tetsuya heran yang melihat kekraban mereka. "Kalian terlihat akrab sekali"

"TIDAK" jawab mereka bersamaan

"Eh?"

"Tet….."

Panggilan Akashi terpotong saat sebuah ledakan terjadi di area kampus. Ketiganya kaget dan melihat apa yang terjadi lewat jendela. Betapa terkejutnya Tetsuya saat melihat lubang besar menganga di lapangan olahraga kampusnya. Seorang manusia kelelawar sedang terbang yang membawa tombak , meluncurkan berbagai sihirnya untuk menghancurkan bangunan ini. Tetsuya tak bisa berkata-kata hal ini baru pertama kali dia alami dan panggilan Akashi tak didengar olehnya.

"…suya..Tet..suya…TETSUYA!" panggil Akashi sambil mengguncangkan bahu Tetsuya

"A..kashi-kun.."

"Sebaiknya kita segera pergi dari sini!"

Tetsuya dan Mayuzumi mengangguk bersamaan dan mengikuti kemana Akashi membawa mereka. Untuk saat ini Mayuzumi tahu bahwa Akashi akan melakukan sesuatu untuk melindungi Tetsuya karena itu dia patuh saja saat Akashi memerintahnya. Keselamatan Tetsuya adalah nomor satu baginya dan itu juga merupakan tugasnya meski dia tahu yang harus berada disisi Tetsuya bukan dia melainkan Akashi tapi dia tetap akan melindunginya.

"Lewat sini" perintah Akashi, mereka berlari melewati lorong lalu memasuki sebuah ruangan diamana pintunya sudah berkarat "Apertus Ostium" ucap Akashi

Pintu langsung terbuka , Akashi langsung menggandeng Tetsuya dan menariknya ke dalam diikuti Mayuzumi. Didalam ternyata sudah ada teman-teman Akashi , dan mereka terkejut saat Akashi membawa Tetsuya beserta Mayuzumi yang mereka tahu adalah pengawal pribadi Tetsuya.

"Shintaro, gantikan aku untuk menyambut tamu kecil kita yang kesepian diluar" ucapnya sambil menyeringai

"Huhm…Apa boleh nanodayo." Jawab Midorima sambil memperbaiki letak kacatamanya

"Ah iya aku lupa, tak usah sungkan untuk menghabisinya " lanjut Akashi

Setelah semua pasukan pelangi tadi pergi dengan menggunakan teleportasi sihir, kini tinggal mereka bertiga. Hening itulah suasana yang terjadi saat ini.

" Jadi, Akashi-kun seorang penyihir ?" kata Tetsuya datar memecah kehingan.

"Itu benar Tetsuya" jawab Akashi

" Souka . Apa Chihiro-kun juga?"

"Benar"

"Kenapa Chihiro-kun merahasiakannya padaku?"

" Aku tak bermaksud seperti itu Tetsuya" jawab Mayuzumi datar

"Tapi-"

"Dengar, kau pasti tidak ingat tentang masa kecilmu dan fakta bahwa kau adalah seorang penyihir. Benar?"

Tetsuya terkejut bagaimana bisa Mayuzumi mengetahui bahwa dia seorang penyihir, sedangkan dia sendiri tidak tahu apa-apa.

"..."

"Aku mendengar pembicaraan kalian, maksudku kau dan juga Mizuki-san malam itu"

"Kau tahu tentang Mizuki-san?"

"Hn. Sebenarnya Yang Mulia Ratu sedikit mengubah memorimu waktu kecil itu sebabnya kau tak mengingat apapun tentang kerajaan dan juga ayahmu yang seorang Raja dari Kerajaan Teikoku. Semua ini beliau lakukan demi keselamatannmu dan menekan aliran sihir dari dalam tubuhmu." Jelas Mayuzumi

"Okaa-san.." ucapnya lirih dengan menampilkan mata yang sendu

"Dengarkan aku Tetsuya" ucap Mayuzumi lembut sambil memegang pundaknya, "Jangan menyalahkan ibumu, ini semua demi kebaikanmu dan aku janji akan menceritakan semuanya nanti saat kita dirumah." Kata Mayuzumi sambil mengelus surai lembut Tetsuya

" Un" sambil menganggukan kepalanya tetsuya menyetujuinya.

Melihat pemandangan didepannya Akashi menjadi sangat kesal, berani-beraninya Mayuzumi menyentuh 'miliknya' apalagi bersikap seperti seorang kekasih.

'sabar, sabar Akashi sebentar lagi dia akan jadi milikmu' batinnya

Akashi yang sedari tadi diabaikan menatap kedua sosok didepannya saat ini dengan diam sambil menyilangkan tangannya didepan dada. Sebenarnya dia benci diabaikan tetapi dengan mendengar percakapan Tetsuya dan Mayuzumi dia jadi tahu alasannya kenapa Tetsuya tidak tahu tentang dia yang berkaitan dengan 'Ramalan Nanafushigi' dari seorang Seer yang kekuatan ramalannya tak diragukan lagi. Selain itu dia bersikap seperti manusia biasa.

"Sebaiknya kau disini bersama Chihiro Tetsuya, aku akan melihat keadaan di luar" katanya meski dia tak rela mereka berada disini berdua tapi hal ini terpaksa.

"Tapi akashi-kun-"

"Tenang saja, disini aman jika kau ikut keluar maka rencana mereka akan berhasil"

"Eh ?''

"Musuh belum tahu identitasmu, karena itu mereka mengirim gangguan kecil seperti diluar untuk memancingmu"

"Baiklah aku mengerti akashi-kun"

"Anak pintar" jawab Akashi sambil tersenyum. "Dan kau Chihiro berani macam-macam dengan 'milikku' kupastikan kau akan mendapatkan hukumannya nanti" ucap Akashi sambil menekankan kata milikku kepada Mayuzumi dan melenggang pergi.

"Apa maksudnya tadi Chihiro-kun?" tanya tetsuya bingung

"Eum, bukan apa-apa. Lupakan saja Tetsuya" jawab Mayuzumi , keringat dingin sudah mengalir di pelipisnya

.

.

Keadaan yang terlihat sepanjang mata memandang kini menampilkan runtuhan-runtuhan dan tanah-tanah yang hancur. Semuanya berantakan bagaikan terkena gempa bumi. Dan saat ini para penyihir kiseki no sedai, itu adalah panggilan mereka sedang bertarung melawan battoakuma . Salah satu monster yang mengikuti para penyihir hitam, mereka dipenuhi dengan kebencian dan emosi.

"dea nomine lucis inimicum perdere" ucap kise melantunkan sebuah mantra sihir, merentangkan satu tangan kedepan dan tiba-tiba muncul sebuah lingkaran sihir di belakangnya lalu keluar panah-panah cahaya yang melesat begitu banyak menuju target. Battoakuma menghindari serangan dari kise dengan terbang kemana-mana, meski begitu banyak panah yang sudah merobek maupun menancap di sayap serta kakinya namun makhluk itu tetap bisa bergerak. Untung para mahasiswa/i tadi sudah pulang meski masih ada beberapa tetapi mereka sudah diberi mantra tidur oleh Midorima sehingga mereka tak akan melihat pertarungan ini.

"Ck, sial. Boleh juga nih kekuatannya" sahut Aomine

" Ada yang membantunya nanodayo" sahut midorima

" Apa maksudmu Midorima?" tanya Aomine

" Aku merasakan ada sihir lain selain punya makhluk itu. Dan itu berasal dari pohon besar yang disana nanodayo."

"Bagus Midorima, akaan kuurus dia" sahut Aomine

"Hmp. Bukannya aku peduli nanodayo tapi hati-hati karena dia hampir setara dengan kita"

"Heh, tenang saja. Ventum est vespere et inimicos preliari ." ucap Aomine kemudian hembusan angin datang berkumpul didepan Aomine lalu membentuk dua pedang dan melesat ke sebuah pohon besar yang dimaksud midorima seketika pohon tersebut terpotong dan tumbang.

Dari tumbangnya pohon besar tadi ada bayangan hitam yang melesat cepat dan sosok itu melayang diatas para kiseki no sedai. Masiih menggunakan jubang hitam yang tudungnya menutupi wajahnya sehingga mereka tidak tahu siapa sosok berjubah itu.

"Sasuga ne . ternyata benar seperti rumor yang tersebar. Kalian memang seorang sorcerer yang penuh keajaiban. Tak kusangka, sihir kalian begitu terasa kuat. Nee, nee aku jadi ngefans sama kalian. Hi hi hi" kata sosok itu tawanya begitu menyakitkan telinga

"Mido-chin~ apa aku boleh menghancurkan orang itu? Aku tidak suka dengan tertawanya~" meski bertampang malas namun Murasakibara mempunyai kekuatan daya hancur yang luar biasa dengan keunggulannya pada elemen tanah dia bisa menghancurkan apapun termasuk sosok yang kini melayang sambil tertawa itu, ketika bertarung dia akan serius menghadapi musuhnya.

"Jangan gegabah nanodayo. Kita belum tahu siapa sosok itu sebenarnya. Kita tunggu saja Akashi disini"

"Well, well,well. Ada apa ini sebenarnya? Tak kusangka kalian lama sekali mengurus tikus kecil ini."

"Akashi"panggil Midorima

" Shintaro, bukankah sudah ku perintahkan kau untuk tidak sungkan-sungkan membunuhnya"

"Bukan begitu nanodayo. Ada sedikit gangguan disini"

" Kalau begitu singkirkan hal yang menganggu kalian"

" Hah." Midorima mengehela nafas susah berbicara dengan ketuanya ini

"Ara, ara tuan muda Akashi rupanya. Senang bisa bertemu dengamu Akashi" kata sosok berjubah itu

Akashi hanya memandangnya dalam diam, tetapi emperor eye nya bekerja untuk menyelidiki sosok itu.

"Apa rencanamu kali ini" tanya Akashi pada sosok berjubah itu

"Rencana? Ha ha ha. Aku bahkan tak memikirkannya dari awal aku hanya di perintahkan untuk menyambut seorang tamu. Namun sepertinya dia tidak disini."

" Tamu?" tanya Akashi pura-pura bodoh

"Iya tamu, kau belum tahu Akashi? Tuanku mengatakan kalau dia merasakan sihir dari seorang Kuroko. Berterima kasihlah karena aku sudah memberitahukanya padamu."

" Oh, tenang saja aku akan berterimakasih padamu setelah aku berhasil melenyapkanmu"ucapnya penuh ketegasan dan intimidasi

Tanpa banyak bicara Akashi langsung meluncurkan bola-bola api ke arah Battoakuma, ketika makhluk itu mencoba kabur rantai yang dilapisi sihir milik Akashi langsung membelenggunya sontak saja makhluk itu tak bisa bergerak dan bola api yang sedari tadi mengelilingi menyerang dirinya.

Dalam beberapa detik Battoakuma itu lenyap membentuk serpihan-serpihan crystal. Sekarang tinggal sosok yang masih diam melihat aksi Akashi itu.

"Well, tinggal satu lagi makhluk bodoh yang harus disingkirkan" ucap Akashi sambil menyeringai

" Ha ha ha ha ha, kau tahu karena tamu yang kumaksud tak ada disini jadi tugasku sudah selesai. Lagipula aku merasa puas melihat kalian semua disini"

" cih dasar licik " sahut Aomine

" Hi hi terimakasih, kuanggap itu sebagai pujian" kata sosok itu

" Jika kau menampakkan batang hidungmu lagi disini kupastikan kau akan lenyap" ucap Akashi dengan pandangan mata yang menusuk kearah sosok itu.

" Hi hi hi, kalau begitu jaa ne... hahahaha" sosok itu menghilang bagai angin

" Ryouta , urus sisanya" titahnya

" oke-ssu. Regressus !" setelah mengucapkan mantra itu, cahaya seperti kunang-kunang keluar di seluruh area kampus Tokyo. Beberapa bangunan dan tanah yang hancur seketika kembali seperti semula.

"Kembali ke markas" titahnya lagi

.

.

Semua kini sudah berada di markas, termasuk Mayuzumi dan Tetsuya yang menunggu mereka dari tadi.

"Akashi-kun, apa kau baik-baik saja?" tanya Tetsuya cemas

"Senangnya, Tetsuya mengkhawatirkan aku" jawab Akashi sambil tersenyum

" Percuma saja kau khawatir padanya Tetsuya" sahut Mayuzumi

" Kau iri Chihiro"

" Tidak, buat apa? Aku sudah terlalu sering bersamanya daripada kau"

Saling berpandangan tajam sampai mengeluar aliran listrik dari mata mereka ( author alay -_-)

" Si-siapa dia itu ssu ? aku merasa merinding ssu" ucap kise terbata-bata sambil memeluk lengan Aomine . Baru kali ini ada orang yang berani membantah Akashi.

"Lepaskan Kise ! kau membuatku risih tahu"

"Aominecchi hiddoi ssu" kata Kise sambil pundung ke pojokan

"Kise chin berisik ̴"

Dan Kise semakin pundung dipojokan.

"Ano..." sapa kuroko kepada Kise, "Apa kau baik-baik saja ?"

"Kyaaaa..." teriak kise langsung memeluk Aomine "Sejak kapan ssu?"

" Sejak tadi" jawab Tetsuya datar

Semua keget dengan keberadaan tipis milik Tetsuya, Midorima yang notabene sangat sensitive dengan keadaan sekitar saja tak merasakan apapun saat Tetsuya menghampiri Kise tadi. Menutupi kekagetannya Midorima hanya menaikkan kacamatanya yang sempat melorot karena kaget.

" Nee, nee namamu kurokocchi kan?" tanya Kise yang sudah kembali ceria "Aku Kise Ryouta, salam kenal ssu? Kurokocchi manis ya " ( author : tentu saja manis ^ ̷̷ ̷ ̷^)

'kurokocchi ? apa itu? ' batin Tetsuya

" Kuroko Tetsuya desu" sambil membungkukkan sedikit badannya Tetsuya memperkenalkan diri

"Aomine Daiki, salam kenal Tetsu" sahut Aomine dengan cengiran andalannya

"Midorima Shintaro" seperti biasa selalu disertai dengan menaikkan bingkai kacamatanya

"Murasakibara Atsushi, salam kenal Kuro-chin ̴ salam Murasakibara dengan muka malasnya tidak lupa snak berukuran besar yang berada di tangannya

"Apa yang harus kita lakukan dengan mereka berdua nanodayo? Tanya Midorima kepada teman-temannya, karena Akashi dan Mayuzumi sama-sama mengeluarkan aura yang membuat ruangan ini sesak dan mereka masih saling menatap tajam sibuk dengan pikiran masing-masing mereka.

"Biarkan saja, mereka teman dekat kok" kata Tetsuya dengan wajah datarnya

Semuanya langsung mengalihkan pandangan kepada Tetsuya karena perkataanya tadi. 'bagaimana bisa mereka teman dekat' batin mereka semua kecuali Tetsuya.

"Sepertinya kau mau berkenalan dengan guntingku Chihiro" dengan aura yang semakin menyeramkan dan seringai yang lebar Akashi mengeluarkan gunting keramatnya.

"Dasar psikopat" kata Mayuzumi lirih

" Kau bilang sesuatu Chihiro"

"Tidak" katanya datar

Karena jenuh melihat interaksi mereka berdua, Tetsuya langsung menghampiri keduanya.

"Cukup Akashi-kun, Chihiro-kun!"

Sontak keduanya langsung menoleh kearah Tetsuya

"Kalian seperti anak kecil." bentak Tetsuya , baru kali ini mereka melihat Tetsuya berteriak yang notabene selalu menampilkan wajah datarnya.

"Dia yang mulai Tetsuya" bela Akashi

" Kenapa Aku? Bukannya kau sendiri, aku hanya berkata jujur" tak terima di tuduh Mayuzumi membela juga

" Sudah cukup! Kalian berdua sekarang minta maaf"

" Tidak mau" jawab keduanya

" Kalau begitu aku tak mau berteman lagi dengan kalian berdua, aku pulang saja"

"Tu-tunggu Tetsuya" cegah Akashi saat Tetsuya mau berbalik

" Tet-Tetsuya jangan begitu. Hah.. Baiklah aku akan minta maaf" sahut Mayuzumi

Mereka berdua, Mayuzumi dan Akashi saling berjabat tangan.

" Cihiro"

"Akashi"

"Maaf" ucap mereka penuh penekanan, jabatan tangan diremas dan tatapan mata masih saja tajam. Sepertinya mereka tidak ikhlas. (menghela nafas)

Kepala warna warni yang sedari tadi jadi penonton hanya melongo melihat kejadian didepan mereka. Selama ini tidak ada yang berani mengancam ataupun memerintah Akashi kalau tidak ingin dicium oleh gunting merahnya dan dilenyapkan dengan sihirnya. Tetapi seorang Kuroko Tetsuya yang terlihat kecil dan rapuh serta berwajah datar dengan tingkat kemanisan melebihi gula seorang Akashi langsung berubah 180 derajat, bagaimana bisa dia mematuhi perintah Tetsuya untuk meminta maaf kepada Mayuzumi padahal selama ini dia benci untuk di perintah. Pada saat itu lah mereka semua melihat kemampuan seorang Kuroko Tetsuya dan menyimpulkan bahwa 'Kuroko Tetsuya adalah seorang dewi Penyelamat' batin anggota kiseki no sedai. (tetsuya kan cowok, kok dewi sih -_- )

" Nah, Tetsuya ayo kita pergi jalan-jalan"

" Kemana Akashi-kun? Tapi ini sudah semakin sore"

" Tenang saja, nanti aku akan mengantarmu pulang"

"Tapi ̶ "

" Tidak ada tapi-tapian Tetsuya, Chihiro tidak keberatan kok pulang sendiri"

"Benar Chihiro-kun?"

"Y-ya tidak apa-apa. Yang penting dia harus mengantarmu pulang dengan selamat sampai rumah" jawab Mayuzumi setelah mendapat deathglare dari Akashi

" Baiklah. Kalau begitu kita pergi sekarang Akashi-kun"

"Ok" kata Akashi sambil tersenyum tipis, meninggalkan teman-teman (budaknya) beserta Mayuzumi di ruangan itu dalam diam dan entah kenapa semuanya bernafas lega seakan baru keluar dari siksaan iblis neraka. Sementara Tetsuya sudah memasuki mobil mewah Akashi untuk membawanya jalan-jalan, tetapi ada yang aneh dari tadi Akashi menampilkan senyuman yang sulit diartikan. Sepertinya dia sudah merencanakan sesuatu terhadap Tetsuya kali ini.

*Continue*

Hallo minna-san ini chapter kedua sudah publish. Terimakasih telah berkunjung dan menyempatkan untuk membaca cerita ini. Gomen, kalau kurang menarik ne.

Snow : ini sudah lanjut snow-san terimakasih atas reviewnya. semoga tidak mengecewakan

kakaknyakurokotetsuya : hello terimaksih sudah mampir dam membaca cerita yang geje ini. Hai' ini sudah lanjut

ChintyaRosita : iya ini sudah lanjut ^_^. Terimakasih sudah membaca cerita saya ditunggu chapter berikutnya ya