Shirou mengepalkan kedua tangannya dengan begitu keras. Pandangannya terus menampilkan wajah kesal dan gelisah.
"Aphrodi! Suster Aphrodi kemana!?" tanya seorang wanita separuh baya terhadap suster yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Tenang bu, pasien sedang menjalani operasi. Harap ibu dapat tenang." pinta sang suster sembari memegangi wanita yang diyakini adalah ibu Aphrodi.
Pandangan wanita itu langsung beralih memandang Shirou yang tampak merasa bersalah.
"Kau! apa yang kau lakukan pada Aphrodi!?" bentak wanita itu sambil mendekati Shirou yang masih termenung.
"... Maafkan aku..." ujarnya pelan tanpa mengubah arah pandangnya.
Tiba-tiba lampu tanda operasi menjadi padam. Sesosok dokter keluar dari ruang operasi itu diikuti dengan sosok gadis muda yang terbaring lemah.
"Keluarga Afuro-san?" tanya dokter itu singkat sambil mendekati ibu Aphrodi.
"Saya, dok! Bagaimana keadaan putri saya?" tanya ibu Aphrodi sambil sedikit tegang.
Dokter tersebut tampak sedikit gelisah. "Maaf, kami berhasil menyelamatkan nyawanya, tapi...
Our Music
Disclaimer: I don't own anything, just this fict that's all
Summary: Kita bertemu, menjalani semuanya dan kita berpisah. Itulah takdir yang selalu kita jalani. Bila segala takdir berjalan begitu, aku berharap aku memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Walaupun itu berarti hanya 1 detik.
Note: Disini Aphrodi saya jadiin cewek, karena saya entah kenapa lebih suka straight pair ._.
Tiap chapter gonta-ganti POV ._. untuk ch 2 Author POV
.
.
.
Chapter 2: Conturbatio
"Tidak mungkin... Aphrodi... kehilangan penglihatannya?" isak tangis sang ibu mulai terdengar, perlahan tubuhnya terguncang dan ia jatuh pingsan.
Shirou langsung berdiri dan mendekati dokter tadi. "Apa... aku boleh memasuki ruangannya?" tanyanya cepat.
"Pasien butuh istirahat, harap menjenguknya 2 jam lagi."
"Kumohon, biarkan aku masuk kedalam kamarnya... setidaknya itulah yang bisa kulakukan!" pinta Shirou kembali, matanya tak bergeming saat mengutarakannya.
Dokter tersebut menghela nafas sejenak dan mengangguk pelan. "Hanya untuk sekali ini, dan asalkan anda tidak mengganggu ketenangan pasien lain."
Wajah Shirou kembali cerah. Dengan cepat ia membungkuk dan berlari menuju ruang UGD dimana Aphrodi dirawat.
Waktu telah terlewat, tapi mata Aphrodi tak terbuka. Sembari terus menggenggam tangannya, Shirou terus menampakkan ekspresi yang begitu khawatir.
"... Aphrodi... maafkan aku... aku tak pantas menjadi temanmu..." ujar Shirou pelan. Perlahan kristal bening mengalir dari iris biru itu dan mengenai wajah gadis berambut pirang yang sedang terbaring lemah dihadapannya.
"... nn... rou... Shi... rou... Shirou..." dengan cepat Shirou mengalihkan pandangannya kearah sosok gadis yang memanggilnya.
"... Aphrodi... yokatta..." ujarnya sambil menundukkan wajahnya sambil memgang erat tangan Aphrodi.
Kini gadis itu terdiam kebingungan, raut wajahnya berubah menjadi takut.
"Shirou! dimana ini!? ada apa denganku!? kenapa semuanya tampak gelap!? kenapa!? TIDAKKKK!" gadis itu kini histeris mengetahui keadaannya yang telah berubah.
Tangisannya tak dapat dihentikan, wajahnya tampak begitu ketakutan. Sedari tadi ia tidak berhenti membenamkan wajahnya ke lututnya.
"... Aphrodi... ini semua salahku..."
Aphrodi tak membalas ucapan Shirou, tubuhnya bergetar. Isakkannya terdengar dengan begitu jelas.
"... Maafkan aku..." dengan cepat Shirou memeluk tubuh gadis dihadapannya sambil mengelus lembut kepalanya.
"Sudah baikan?" Shirou membuka tirai di kamar itu. Aphrodi hanya mengangguk cepat sambil sedikit blushing.
"Aku... apa yang terjadi padaku? kenapa semuanya tampak gelap. Apa aku..."
"... ya, kecelakaan itu mengakibatkanmu kehilangan penglihatanmu... maafkan aku karena tidak berhasil menyelamatkanmu." Shirou berjalan kearah Aphrodi sambil terus menatap bersalah kearah tangannya.
Aphrodi yang sedari tadi terduduk diam, kini meraba-raba sebelah kanannya dan meraih tangan kanan Shirou.
"Ibuku pernah berkata, kalau ingin menenangkan hati bersama, caranya dengan menggenggam tangannya seperti ini." jelas Aphrodi sambil tersenyum hangat.
Shirou terdiam melihatnya. Dia mulai menahan tawa kecil melihat tindakan Aphrodi.
"... teman..."
Shirou mendengar sayup-sayup suara Aphrodi. "eh?"
"... te-terima kasih... sudah mau jadi temanku." ujar Aphrodi pelan.
Shirou hanya tersenyum simpul dan mengacak-acak rambut pirang Aphrodi.
Sekolah, Kelas
"Fubuki-kun!" Haruna berlari mendekati Shirou yang baru saja menaruh tasnya dibangkunya.
"Kudengar, Terumi-chan masuk rumah sakit ya?" Haruna tampak kelelahan setelah berlari kearah Shirou.
"Eh!? aku baru mendengarnya. Apa yang terjadi?" Shuuya yang sedari tadi duduk disebelah Shirou ikut menambahkan.
Shirou terdiam sejenak. "Kemarin, saat kami pulang bersama... tanpa sengaja ada truk yang menabrak Aphrodi saat sedang menyeberang. Aphrodi kehilangan penglihatannya karena hal itu." jelas Shirou sambil menunduk kesal.
Haruna hanya bisa menatap Shirou dengan wajah merasa bersalah, begitu pula Shuuya.
"Ah! apa aku boleh menjenguknya? Gouenji-kun juga ikut! lagipula kita kan teman pertamanya disini!" Haruna langsung menghangatkan keadaan dengan keceriaannya dan langsung dijawab dengan anggukan singkat dari Gouenji.
Rumah sakit
"Jadi... Gouenji-kun dan Haruna-chan berminat menjengukku tapi mendadak ada urusan keluarga lagi?" Aphrodi sedikit sweatdrop mendengar penjelasan Shirou.
Shirou melangkahkan kakinya mendekati Aphrodi dan meletakkan sebuah karangan bunga yang membentuk mahkota ke atas kepala Aphrodi. "Iya... tapi Haruna menitipkan karangan bunga itu untukmu" jelasnya pelan.
Aphrodi memegang karangan bunga itu dengan sedikit kaget. Perlahan rautnya melembut, wajahnya kini menampilkan senyum simpul.
"Oh iya, Gouenji menitipkan ini... sebuah surat... tapi, aku tidak yakin kamu bisa membacanya Aphrodi." ujar Shirou kembali sambil sedikit sweatdrop.
Aphrodi hanya tertawa pelan. "Aku akan membacanya saat waktunya sudah tepat." ujar Aphrodi singkat setelah menerima sepucuk surat itu dari tangan Shirou.
"Oh iya, aku tadi baru saja ke toko CD dekat sini dan menemukan CD ini. Ini lagu Nocturne dan Fantaisie karangan F. Chopin. Mau mendengarnya?" ujar Shirou sambil mengambilkan berbagai alat elektronik yang dapat digunakan.
Aphrodi hanya mengangguk pelan dan mencoba meraih headset-nya. "Ayo kita dengarkan bersama..." ajaknya dengan begitu semangat sambil memberikan headset yang sebelah lagi.
Musik mulai mengalun dengan lembut. Tangga nada yang ia mainkan membuat harmoni yang begitu indah.
Aphrodi tampak begitu senang mendengarkan lagu itu. bibirnya terus melantunkan nada-nada yang terdengar olehnya. Perlahan ia menghentikan senandungnya dan membelakangi Shirou menghadap kearah jendela.
Shirou terdiam menatapinya. Tubuh Aphrodi bergetar, perlahan kristal-kristal bening mengalir dari iris cokelatnya.
Yo! saya upload fict ini tidak terlalu lama ya XD tapi saya janji akan lebih giat di bagian fict lain yang numpuk juga. ==u
oh iya, mengingat ini sudah chapter 2... itu berarti tinggal chapter 3 dan extra lagi. Kuharap masih banyak yang berminat membaca dan mereview fict ini... X3
chapter kedua hari ini menggunakan lagu instrumental Conturbatio-Kajiura Yuki sebagai main theme. Dan lagu selingan adalah Fantaisie dan Nocturne-F. F. Chopin. Untuk lagu Fantaisie, lagunya terkesan cepat jadi saya anjurkan tidak menambahkan dalam daftar lagu kalau mau menemani pembacaan dengan musik tema cerita ini. Saya anjurkan hanya memakai lagu Conturbatio dan Nocturne. XD
Mungkin sekian aja~ jaa ne XD
Review?
