"Tuan Muda mau kemana?" tanya seorang maid yang kebetulan melihat Akashi di ambang pintu.
"Latihan basket." jawab Akashi singkat.
Maid itu menatap bingung, "A-anda tidak dimarahi oleh Akashi-san?"
Akashi tersenyum, "Tidak kok."
Maid itu bergidik melihat senyuman Akashi. Senyuman itu adalah senyuman yang Akashi tunjukan setiap 100 tahun sekali. /plak
Dan Akashi (Alias Kuroko) seenaknya menunjukan senyuman itu berkali-kali.
"Aku berangkat!" kata Akashi siap berlari.
"Eeeh?! Tu-tunggu tuan muda!" cegah maid itu.
Akashi menoleh, "Ada apa?"
"Anda diantar dengan mobil!" kata maid itu panik. Takut Akashi lari beneran ke sekolah
Jari telunjuk Akashi ia letakan di depan mulutnya, seperti pose berpikir, "Eh? diantar dengan mobil? sumimasen, aku tak terbiasa."
Maid itu pun langsung nosblid melihat wajah Akashi yang terbilang imut sebab Akashi menatap maid itu polos.
"T-tuan Muda terbentur apa sih?" tanya maid itu bodoh.
"Tak apa, aku lari saja! Aku berangkat~" kata Akashi langsung berlari ke luar rumah.
Sejenak maid itu bisa melihat Akashi tersenyum sangat manis.
"Kyaaaa~ Tuan Muda imut sekali~" kata maid itu fangirling.
.
.
.
Sementara itu, Kuroko yang di Tokyo..
"Okaa-san, aku mau berangkat." kata Kuroko sambil mengenakan sepatunya.
"Tet-chan, bukannya kamu bilang kamu kecapean? ngapain?"
Ups. Kuroko (alis Akashi) sedikit terkekeh mendengar kata 'Tet-Chan' yang dilontarkan oleh Ibu Kuroko.
'Tak kusangka ibu Tetsuya memanggil Tetsuya dengan sebutan yang lucu.' batin Kuroko geli.
"Latihan basket, nanti aku dimarahin sama Kantoku. Etto.. cepet aku mau berangkat." kata Kuroko sambil beranjak.
Ibu Kuroko menatap Kuroko bingung, "Ya sudah, berangkat saja."
"Cepet, Okaa-san. aku bisa telat."
"Ya berangkat saja! Kamu kenapa sih?" tanya Ibu Kuroko.
"Mobil nya mana, Okaa-san?" tanya Kuroko emosi.
"Kamu terbentur ya?! kita tak punya mobil!" ujar Ibu Kuroko.
KRIK KRIK
Aduh, bisa-bisanya Kuroko (Alias Akashi) lupa bahwa ia saat ini tidak memiliki mobil.
Kuroko menatap Ibu Kuroko tajam, "Terus aku ke sekolah naik apa, hah?"
"Kamu jalan kaki kan? deket kok! sudah sana berangkat!" kata Ibu Kuroko.
Astgah...
Sungguh, saat ini Jiwa Akashi harus turun kasta. Mau tak mau ia harus jalan kaki menuju sekolah Seirin.
"Baik-baik! Aku berangkat."
Akashi=Kuroko ?!
Kuroko No Basuke (c) Tadotoshi Fujimaki
AkaKuro
Akashi x Kuroko
Warning: OOC, Yaoi, typo, absurd dll
Don't like don't read
Pemuda bersurai babyblue itu menatap sekelilingnya dengan tajam. Ya, saat ini Kuroko berada di sekolah yang bernama Seirin. Sekolah yang tidak terlalu elit namun memiliki klub basket tangguh. Kuroko berjalan menuju lorong kelas dengan tatapan tajam. Manik Babyblue nya menatap tajam tiap orang yang berlalu lalang di lorong itu.
'Ini jam pulang, ya? pantas ramai.' batin Kuroko.
BRUK
Tak sengaja, ada seorang murid yang menubruk tubuh Kuroko. Sialnya, orang tersebut seolah menganggap Kuroko angin alias tidak minta maaf.
"Hoi!" kata Kuroko pada orang tersebut.
Orang yang menubruk Kuroko menoleh, "Apa? kau memanggil ku, hei bocah?"
"..."
Kuroko bisa memperkirakan bahwa orang yang menubruknya adalah kakak kelas. Huh, sombong sekali senpai ini.
Kuroko tersenyum. Tidak, ini bukan senyuman biasa. Ini senyuman yang sangat mengerikan dan menyeramkan. Siapapun bisa ketakutan karenanya.
Bahkan orang yang menubruk Kuroko sedikit bergidik, "A-apa hah?! Jangan menatap ku seperti itu!"
Kuroko menarik kerah baju orang tersebut dengan kasar. Ia menatap senpai tersebut dengan aura mengintimidasi, "Aku tak ingat bahwa Senpai boleh bertindak seenaknya pada Kouhai. Kau tahu kan? kau menubruk ku. Mana sopan santun mu? Apa ka—"
"Apa sih?! bocah seperti mu buat apa bersikap sopan?! ming—"
GRET
Kuroko semakin menarik kerah orang tersebut. Bisa dipastikan, senpai tersebut sedikit tercekik.
"Aku sedang bicara, senpai ku yang paling sopan. Tolong jangan seenaknya memotong perkataan ku. Diam dan dengarkan lah." potong Kuroko cepat.
Senpai itu membiru (?) wajahnya. Ketakutan? SANGAT.
"Boleh juga kalau aku membunuh mu di tempat ini. Biar semua saksi mata melihat betapa kurang ajarnya seorang senpai terhadap kouhai yang sama-sekali-tidak-berdosa." lanjut Kuroko tersenyum dengan mata yang sedikit melotot.
"OOOOOOOII! KUROKOOOOOOOOOO!" teriak seseorang dari kejauhan.
Mendengar orang yang meneriakan namanya, sontak Kuroko menoleh. Ah, Kagami rupanya.
"Apa? Kau mengganggu ku."
"Sedang apa kau disana?! jangan bikin masalah dengan senpai! Aah! maaf, temanku memang suka buat masalah!" Kagami menunduk berkali-kali—memohon maaf dari senpai nya.
Senpai tersebut cengo, "I-iya.. tidak apa-apa." Bahkan ngomong pun sedikit terpatah-patah.
"Kuroko! Ayo cepat latihan basket! Kantoku sudah menunggu mu!" kata Kagami menarik lengan Kuroko.
Kuroko menatap tajam, "Tidak sopan kau, Taiga. Jangan menarik lengan ku. Tak kau suruh pun, aku akan pergi ke tempai Kantoku."
Dan dengan cepat, Kuroko berlari meninggalkan Kagami. Kagami mematung di tempat. Sejak kapan Kuroko bisa berlari secepat itu?!
Tunggu, tadi Kuroko memanggil Kagami dengan sebutan 'Taiga' ?
"Kuroko? k.. kau.. kenapa...? Hah? Hah?" Kagami bertanya pada diri sendiri. Ia kebingungan sekarang.
Ups. Akashi, sepertinya kau telah merubah kepribadian Kuroko secara drastis.
.
.
.
Sementara itu, Akashi yang saat ini berjalan di lorong Rakuzan pun tampak celingak celinguk. Tersesat? jelas. Akashi (alias Kuroko) tidak pernah ke Rakuzan sekalipun. Akashi berjalan mencari denah sekolah. Sial, sekolah Rakuzan sangat besar dan Akashi harus tersesat hanya karena tidak tahu gym. Akashi tetap jaga image biar ngga keliatan kaya anak ilang.
BRUK
Tak sengaja, ada seorang gadis yang menubruk Akashi. Akashi langsung menatap gadis itu datar. Menunggu diberi permohonan maaf? entahlah.
Awalnya gadis itu tidak mau minta maaf karena masa bodo, namun begitu melihat siapa yang ditubruknya—
"KYAAAA! Maafkan aku, Akashi-Sama! aku tak sengaja! maafkan aku! Jangan bunuh aku! aku mohon ampun! maafkan aku! akan kuberikan aku apa saja asalkan kau mau memaafkan ku! kumohon maafkan aku! maafkan aku!"
—Gadis itu malah meminta maaf dengan berlebihan -_-) sampai bersujud pula.
Mendengar ucapan gadis itu, sontak para murid menatap ke arah Akashi dan gadis itu. Banyak yang berbisik-bisik alias ngegosip. terdengar kata 'Gadis itu pasti mati' atau 'Hebat sekali gadis itu berani menubruk seorang Akashi Seijuro' dan 'Pasti gadis itu tak akan dimaafkan' yang terdengar di telinga Akashi. Akashi menatap teman-teman yang memperhatikannya. Bingung? tentu saja.
Segitu parah kah bila ada yang menubruk Akashi Seijuro?
Biasanya, Akashi yang 'sebenarnya' akan menatap gadis itu sinis. Namun berbeda dengan Akashi yang 'sekarang' sebab—
"Tidak apa-apa. Aku memaafkan mu."
—Saat ini yang berada di dalam tubuh Akashi bukanlah Akashi melainkan Kuroko.
"EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEH?!"
Para murid langsung kaget melihat insiden yang terbilang langka ini.
"Seorang Akashi memaafkan gadis itu?" "Serius tuh?" "Kyaaaa!" "Kamera mana?! foto!" "Akashi terbentur apa?"
Berbagai gosip tak jelas dapat didengar Akashi. Akashi bangkit berdiri dan membantu gadis yang bersujud di hadapannya juga berdiri.
"Aku yang salah karena tidak melihat jalan. Maafkan aku." kata Akashi sambil tersenyum lembut.
Seketika itu juga gadis dihadapannya tewas karena melihat senyuman Akashi.
"SEI-CHAAAAAAAAN~" sapa seseorang.
Akashi mendelik, huh? siapa dia?
"Ya?"
"Sei-chan kau kemana saja?! ayo cepat latihan! kalau tak ada Sei-Chan, Gym serasa sepi! ayo cepat, Sei-Chan~" Pemuda bersurai hitam itu menarik-narik lengan Akashi. Akashi sih diam saja toh orang ini bisa membantunya untuk pergi ke gym.
'Kalau tak salah dia yang bernama... Mibuchi Reo ya?' batin Akashi bertanya.
Tak disadari, jumlah fangirl Akashi semakin meningkat. Maklum, soalnya melihat insiden Akashi ramah bisa membuat paling dikit 1000 fangril bertambah.
.—.—.
"Oi Kuroko!"
Kuroko menoleh, "Hm?"
"Hanya perasaan ku, atau kau jadi sedikit berbeda?" tanya Kagami pada Kuroko yang saat ini duduk di bench.
"Aku tetaplah aku." jawab Kuroko sinis.
Kagami menatap Kuroko bingung. Bagaimana tidak bingung kalau saat ini Kuroko sangat berbeda? Contohnya, saat latihan basket tadi, Kuroko sama sekali tidak pass bola kepada Kagami. Lalu sejak kapan Kuroko bisa bertanding one on one dengan Kagami? lalu Kuroko juga lebih sinis dan tak banyak bicara, terus memanggil Kagami dengan sebutan 'Taiga' dan jangan lupa bahwa Kuroko sekarang jadi lebih mengerikan!
"Nigou mana? kau tak membawanya? biasanya kau membawanya kan?" tanya Kagami.
Kuroko menatap Kagami, "Nigou?" Kuroko beranjak dari bench, "Siapa dia?"
DAFUQ
"Kuroko kau amnesia?! Nigou kan anjing peliharaan mu!" kata Kagami.
"Hah?"
"Oi Kuroko!"
Merasa ada yang memanggilnya, Kuroko menoleh, "Ya?"
"Coba kau one on one sama Izuki dengan misdirection. Aku mau lihat perkembangan teknik itu." pinta Kantoku alias Aida Riko.
"Izuki?" tanya Kuroko. 'Kalau tak salah Izuki Shun yang memiliki kemampuan Eagle Eye, ya?' batin Kuroko.
"Yo, Kuroko!" sapa Izuki.
Kuroko hanya mengangguk atas sapaan Izuki.
DUK DUK
Itu suara bola yang memantul. Izuki bersiap menghadang Kuroko dan Kuroko bersiap melewati Izuki.
CKIT
"Eh?"
Betapa kagetnya Izuki begitu melihat Kuroko bisa melewati nya dengan mudah. Apa itu sihir? eh tapi tunggu. Kok beda dengan yang diminta Riko?
"Kuroko, itu bukan misdirection!" kata Kagami.
Kuroko menoleh, "Eh? Misdirection itu one on one, kan?"
Kagami facepalm, "Bukan, bodoh! Kau amnesia lagi?! misdirection itu kemampuan mu yang bisa menghilang dalam sekejap kan?!"
Kuroko menatap tajam, "Memangnya aku punya kemampuan seperti itu?"
Kagami double facepalm, "Ya udah sana kau coba Phantom shoot!"
"Huh? Phantom shoot itu apa?" tanya Kuroko.
"Cyclone Pass deh!" sanggah Riko.
"Itu apa? kok namanya aneh-aneh sih?!" kata Kuroko kesal.
Semuanya diam mematung. Bahkan Mitobe yang pendiam lebih diam dari biasanya.
Oke. Mereka dapat menyimpulkan bahwa Kuroko sangat ANEH.
.
.
.
"Sei-chan!"
"Y-ya?"
"Hanya perasaan ku atau kau agak aneh ya?"
DEG
"Biasanya Sei-Chan kalau main selalu egois.. sekarang Sei-Chan jadi lebih sering pass... Terus, aku tak melihat jiwa mu yang suka memerintah..." kata Reo.
DEG
Akashi diam mematung. Aduh! gawaaat.
"Reo-Nee bodoh! baguslah kalau Akashi tidak seperti itu kan?!" kata seseorang.
"Eh? tapi rasanya seperti bukan kepribadian Sei-Chan, Hayama." sanggah Reo, "Terus Sei-Chan jadi lebih pendiam..."
Bila Akashi yang sebenarnya akan menatap sinis, Akashi yang ini malam meminta maaf.
"Sumimasen kalau aku aneh." kata Akashi sopan.
"A-apa?! S-Sei-chan meminta maaf?! akdjfakhglk"
"Maafkan aku, Reo-Kun." kata Akashi sambil menatap polos Reo dan sukses membuat Reo nosblit.
'Seichan so adorable~' batin Reo menggila. "Eh?! Reo-Kun?! sejak kapan Sei-Chan jadi sopan?!"
DEG
Akashi kembali mematung. Jadi sebenarnya Akashi itu bukan anak yang sopan?!
misteri yang tak diketahui Kuroko adalah, Akashi bukan anak sopan!
Aww yeah! Akashi anak bandel! /stop
"A-aku belajar jadi anak baik!" kata Akashi gugup.
"Ya tak apa-apa Sei-chan~ Toh Hayama dan lainnya tak keberatan~ Oh ya, Sei-Chan kau bisa dunk? aku mau melihatnya."
"Eh?! A-aku tak bisa.." kata Akashi sangat gugup dan itu makin membuat wajah Akashi terlihat imut.
BRUUUUSH!
Itu suara darah yang keluar dari hidung Reo. :v
Mengabaikan Reo yang mati bersimbah darah, Akashi berjalan menuju bench. Ia membuka ponsel nya dan menulis pesan singkat pada Kuroko.
To: Tetsuya
From: Akashi-kun
10/21/14
15:30
Akashi-kun, bagaimana keadaan mu? kuharap kau tidak membuat ku di cap sebagai orang aneh karena kau tidak mengerti misdirection, cyclone pass, ignite pass, phantom shoot dan sebagainya. Tolong jangan pasang wajah seram dan bersikap baiklah terhadap para senpai.
Kuroko menatap ponselnya dengan sebal. Huh, memang benar Kuroko (Alias Akashi) tak mengetahui skill skill basket Akashi (Alias Kuroko).
KRIIING KRIIING
Belum membalas pesan yang sebelumnya, sudah datang pesan baru dari ponsel Kuroko. Dengan cepat, Kuroko membuka pesan masuk itu. Oh, dari Tetsuya lagi, batin Kuroko.
To: Tetsuya
From: Akashi-kun
10/21/14
15:30
Oh ya, tolong jangan menganeh-aneh kan tubuh ku.
Kuroko (Alias Akashi) yang menerima pesan dari Akashi itu pun langsung tersentak. Mengapa Tetsuya bisa tahu kalau aku tak mengerti skill basket nya? batin Akashi. Manik babyblue Kuroko menatap deretan teks di ponselnya. Melihat tulisan "Oh ya, tolong jangan menganeh-aneh kan tubuh ku." sontak membuat Kuroko jadi menyeringai (Dan entah mengapa itu sangat seram).
Bukankah kata-kata itu terdengar ambigu?
To: Akashi-kun
From: Tetsuya
10/21/14
15:33
Khawatir aku menganeh-aneh kan tubuhmu, Tetsuya? Tenang saja, aku tak akan melakukannya sekarang.
Kuroko senyum-senyum sendiri. Kagami yang melihatnya langsung bergidik. Jujur, Kuroko yang tersenyum tanpa sebab terlihat mengerikan. Sementara itu, Akashi yang di Kyoto sangat panik. Apa maksud Kuroko dengan menuliskan 'Aku tak akan melakukannya sekarang' ?! Apa maksudnya ia akan melakukannya nanti?! HUWAT.
"Sei-Chaaaan~"
"A-ah ya?" Akashi langsung menutup flip ponsel nya.
"Aku capek... latihannya sampai di sini dulu ya!"
"Oi Reo! kau masih mau hidup kan?! nanti latihannya ditambah!" pemuda bertubuh besar itu memperingatkan.
"Mo... aku sudah lelah, Nebuya..." kata Reo.
Akashi menatap teman-temannya. Ah, benar juga. Tubuh mereka sudah penuh dengan peluh keringat. Akashi menatap tubuhnya sendiri. Hanya dirinya yang tidak berkeringat. Mungkin karena Akashi memang memiliki tubuh yang kuat.
"Ah, baiklah. Latihannya sampai di sini dulu." kata Akashi dengan wajah polos.
"APAAAAAAAAAA?!" teriak Nebuya dan Hayama barengan.
Mendengar teriakan tersebut, Akashi langsung tersentak, "Ke-kenapa?"
"Tumben sekali kau baiiik!"
Eh? berarti selama ini AKashi bukan orang baik.
"A-ah, kurasa berlatih terlalu keras juga tak baik untuk kesehatan. Tubuh kalian juga perlu istirahat kan?" kata Akashi.
Seketika itu juga Nebuya dan Hayama langsung nangis tersedu-sedu karena akhirnya Akashi kerasukan malaikat.
Oh, jadi selama ini Akashi kerasukan setan.
"Eh, aku ke ruang ganti sebentar." Kata Akashi sambil membawa ponsel merahnya.
Yang lain sih mengangguk saja.
BLAM!
Akashi langsung menutup pintu ruang ganti tersebut dan langsung menelepon Kuroko.
KRIIING KRIIING
Terdengar suara ponsel yang berbunyi di tas Kuroko.
"Ada apa, Kuroko-kun?" tanya Riko.
"Aku ke ruang ganti sebentar. Ada urusan." kata Kuroko menghentikan latihan basketnya. Yang lain hanya cengo, sejak kapan Kuroko berhenti latihan di tengah-tengah?!
Sesampainya di ruang ganti, Kuroko langsung mengangkat panggilan dari Akashi.
PLIP
"Ada apa Tetsuya?" tanya Kuroko.
"Akashi-kun, di sekolah mu tak ada kegiatan apapun selain latihan basket kan?" tanya Akashi.
Kuroko berpikir, "Ada rapat osis."
DEG
"Akashi-kun, aku bolos saja ya rapat osisnya!" kata Akashi.
Kuroko terbelalak, "APAAAA?! Jangan! aku ketua osis! bisa gawat kalau aku tidak ikut rapat!"
Akashi menghela nafas, "Haah.. Akashi-kun terlalu banyak peran."
"Ya sudah, kau kirim pesan dulu pada wakil osis! buat alasan yang masuk akal."
"Eh? Tak apa nih kau tak ikut rapat osis?"
"Ya."
"Baiklah."
Akashi membuat pesan bertuliskan alasan ia tidak ikut rapat osis. Sebenarnya Akashi bisa saja ikut tapi ia tidak mengerti apa yang dilakukan di osis.
"Kirim ke nomor yang bernama Sasaki". kata Kuroko dari telepon.
Akashi mencari nama Sasaki. Ah, ketemu. Akashi menekan tombol send pada ponsel merahnya. Syukurlah ia tak perlu mengikuti rapat osis.
"Tetsuya aku baru ingat, hari ini ada ulangan Matematika..." Kata Kuroko.
Akashi tersentak, "Apa?! te-terus bagaimana? hari ini aku kan bolos! aku hanya datang saat latihan basket!"
Kuroko menghela nafas, "Ya sudah, aku bisa mengikuti susulan ulangan matematika."
"ADA YANG BERNAMA KUROKO TETSUYA DI SINI?!" teriak seseorang.
Para klub basket Seirin langsung tersentak kaget begitu ada orang yang berteriak kencang sekali.
"Eh?! Pak Nishi guru matematika kelas 1? a-ada apa, pak?" tanya Hyuuga ramah.
"Saya mencari orang yang bernama Kuroko Tetsuya!" kata Pak Nishi galak.
Riko bergidik, "Di-dia sedang di ruang ganti!"
Sementara itu, Kuroko yang di ruang ganti hanya kebingungan sendiri.
"Tetsuya, kau ada masalah apa dengan guru matematika?" tanya Kuroko.
Akashi menghela nafas, "Sudahlah, kau pasti tahu. Sekarang kau matikan panggilan ini dan pergi menemui pak Nishi." pinta Akashi. Kuroko mengangguk dan mematikan sambungan teleponnya.
CKREK
"Ada apa memanggil saya?" Kuroko menatap tajam Pak Nishi.
Pak Nishi menjawab, "Ikut bapak ke ruang guru!"
Kuroko menghela nafas. Baiklah, ia hanya perlu mengikuti perintah guru ini.
"O-oi Kuroko! nilai mat mu jelek lagi?!" kata Kagami.
Kuroko menoleh, "Entahlah."
Dan benar saja, sesampainya di ruang guru, Kuroko dimarahi habis-habisan.
"Kau mengerti, Kuroko Tetsuya?!" kata pak Nishi galak.
Kuroko mengangguk sambil menatap tajam—kesal? tentu saja. Saat ini jiwa Akashi tidak mengerti bagaimana kehidupan Kuroko yang sebenarnya. Diseret ke ruang guru dan berakhir dimarahi begini hanya karena nilai matematika jelek lagi.
"Baik, saya mengerti." kata Kuroko menatap tajam.
Pak Nishi yang melihat raut wajah Kuroko itu pun bertanya, "Tumben sekali kau berekspresi! biasanya kalau kumarahi begini, kau hanya membalas dengan muka tembok mu!"
"Saya ingin membunuh bapak, oleh karena itu tidak seru kalau tak berekspresi." kata Kuroko malas. Ia pun langsung berjalan keluar ruang guru. Pak Nishi cengo di tempat.
.
.
.
PRIIIIIIIIT
Bunyi peluit yang ditiup gadis bersurai coklat itu menyita perhatian para pemain basket Seirin.
"Latihannya cukup sampai di sini!" kata Riko.
"Baik!" ujar semua kompak.
Kagami menghampiri Kuroko, "Oi Kuroko."
Kuroko menoleh, "Apa?"
"Nanti temani ke Maji Burger ya." kata Kagami.
Kuroko mendelik tajam. Tempat macam apa itu?
"Buat apa?"
"Makanlah. Aku lapar." kata Kagami sambil meminum air di botolnya.
Kuroko ikut meminum air, "Bisa sendiri kan?"
"Nanti kutraktir vanilla milkshake deh." kata Kagami.
Kuroko terdiam. Vanilla Milkshake? minuman yang tidak asing di telinga Akashi. Ah, Akashi baru ingat kalau Kuroko itu memang penyuka vanilla milkshake.
Akashi yang berada di dalam tubuh Kuroko itu pun berpikir sejenak. Vanilla milkshake, ya?
"Baiklah." kata Kuroko kalem. Sengaja menyetujui karena takut dicurigai sebab Kuroko (Alias Akashi) sudah bertingkah sangat OOC dari kepribadian Kuroko yang sebenarnya.
Kagami tersenyum, "Oke!"
.—.—.
Usai latihan, semuanya langsung pulang ke rumah masing-masing. Kagami dan Kuroko pergi ke Maji Burger dulu. Kuroko sengaja berjalan sedikit dibelakang Kagami soalnya Kuroko tidak tahu tempatnya di mana.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Kuroko sampai di Maji Burger. Di sana, mereka memilih tempat duduk di pojok.
"Nih." kata Kagami sambil menyerahkan segelas vanilla milkshake pada Kuroko.
"Makasih." kata Kuroko acuh. Kagami menghela nafas. Temannya ini sangat berbeda dari biasanya. Lebih sinis? mungkin.
"Nafsu makanmu besar sekali." kata Kuroko sambil menatap tumpukan burger di nampan Kagami, "Kalau aku tak waspada, mungkin aku juga bakal dimakan oleh mu."
Kagami tersedak, "Nggak gitu juga kali! bukannya kau setiap hari melihat ku membawa burger sebanyak ini?"
Manik Babyblue Kuroko sedikit membulat, "Setiap hari?"
"Kuroko kau amnesia ya?"
Kuroko terdiam. Ia lebih memilih meminum vanilla milkshake yang diberikan Kagami. Malas menanggapi lawan bicaranya.
'Jadi selama ini, Tetsuya selalu pergi berdua dengan Taiga?' batin Kuroko sedikit kesal.
UHUK
Kuroko tersedak minumannya sendiri.
"Kuroko, kau tak apa-apa?" tanya Kagami panik.
Kuroko dapat melihat jelas raut wajah Kagami — terlihat panik. Cih. Si Alis bercabang mengkhawatirkan Kuroko ya?
"Tak perlu mengkhawatirkan ku." kata Kuroko sinis.
"Hmph, baiklah."
Kuroko kembali terdiam. Ia melihat ponselnya yang berada di saku nya. Diambilnya ponsel tersebut dan mengetik sebuah pesan pada Akashi di Kyoto sana.
To: Akashi-kun
From: Tetsuya
18:05
10/21/14
Saat ini aku sedang di Maji Burger bersama Taiga. Huh, aku cemburu melihat mu selalu seperti ini dengannya.
Akashi yang menerima pesan itu sedikit kaget. Huh? seorang Akashi cemburu? lucu sekali.
"Sei-Chan pulang bareng yuuk~" ajak Reo.
"Ah, Iya."
"Reo-Nee kita makan-makan dulu yuk~ Aku lapar." ajak Hayama.
Nebuya mengangguk, "Aku juga lapar. Oi Akashi, kita makan-makan dulu yuk!"
"Mayuzumi mana?"
"Pulang duluan dia."
Akashi tak berkutik dari ponselnya. Ia menyempatkan diri membalas pesan dari Kuroko.
To: Tetsuya
From: Akashi-kun
18:07
10/21/14
Cemburu? sejak kapan Akashi-kun cemburu? haha. Oh ya, teman-teman Akashi-kun mengajaku untuk makan bersama. Ku terima saja tawaran mereka, supaya Akashi-kun tidak terlihat kesepian.
Kuroko menatap ponselnya. Hmm, makan-makan ya? pasti menyenangkan walaupun sebenarnya Akashi tak bisa merasakannya sebab saat ini ia berada di tubuh Kuroko. Tak berniat membalas pesan tersebut, Kuroko kembali meminum vanilla milkshake nya.
"Aku sudah selesai, yuk pulang!"
"Eh? sudah?" tanya Kuroko, "Cepat sekali."
"Kuroko, kau belum habis? tumben!"
"Lagi nggak mood. Sudah ayo pulang."
Ah, Akashi lupa bahwa ia harus jalan kaki agar sampai ke rumah Kuroko. Hidup tanpa mobil memang susah.
.
.
TAP TAP
"Kau sudah nonton NBA? keren lho."
Kuroko masih meminum vanilla milkshake nya, "Oh.. iya sudah. Memang keren."
"Dunk nya itu lho! keren sekali! aku sukaaaaa!" kata Kagami semangat. Mukanya sangat senang.
"Ah iya. Apalagi lay up nya—"
"Aku ingin mempelajari dunk itu untuk mengalahkan Akashi Seijuro!" kata Kagami semangat, "Yosh! sebagai Cahaya dan bayangan, kita tak boleh kalah dari nya ya!"
Kuroko dapat melihat wajah Kagami yang senang itu. Sangat senang. Seakan-akan manusia tanpa beban. Mengalahkan Akashi Seijuro? Kita? Berdua? Kagami dan Kuroko?
DEG
Uh, hati Akashi sedikit tersakiti mendengar kata 'Kita' diantara Kagami dan Kuroko.
"'Kita' ya.." kata Kuroko berhenti berjalan. Kagami yang melihat Kuroko berhenti itu pun langsung menoleh ke belakang, "Ada apa?"
"I'e. A-Aku duluan ya. Ada keperluan penting." ucap Kuroko saat persimpangan jalan, "Jaa naa."
Kagami mengangguk kemudian melambaikan tangannya. Kuroko tersenyum kemudian pergi meninggalkan Kagami di jalur yang berbeda.
Pemuda bersurai babyblue itu berjalan di jalan yang sepi. Sangat sepi bahkan hanya terdengar langkahnya berjalan. Tidak, tidak. Kuroko tak mungkin nyasar ke rumahnya. Ia hanya mengambil jalan memutar agar menjauh dari Kagami.
"Hum... 'Kita' ya?" tanya Kuroko sambil menatap bulan malam yang terang.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Yosh! akhirnya chap 2 apdet QwQ /plak dan bener2 susah menentukan dialog antara Akashi dan Kuroko yang terbalik jiwa (?)
seperti biasa, Rikka ngga re-read. maklum, males whahahahaha /plok jadi maafkan saya kalau banyak yang sulit dimengerti
Kurang puas sama ni chapter? baca OMAKE nya yeaaah~ (?)
sengaja apdet cepet :3 supaya ni cerita cepet selese (?). Pokoknya terima kasih yang sudah review chap sebelumnya~
Review onegai? arigatou :3
.
.
.
SPECIAL THANKS TO:
Uchia Ryuuki | Flow. L | Kuro Kid | Kuhaku | Keys13th |Eqa Skylight | AulChan12 | spring field sakura | Suki Pie | Miyucchi | Diraa |
Dan semua pembaca yang sudah membaca FF ini :3
OMAKE:
Sesampainya di rumah, Kuroko merebahkan tubuh mungil nya di kasur. Ia merasa lelah dan ingin mendinginkan kepalanya yang panas karena cemburu pada Kagami. Seseorang yang sedang jatuh cinta, boleh kan merasa cemburu? sebenarnya Akashi menyimpan perasaan pada Kuroko namun sayang, karena Kuroko rada polos (?) ia tak menyadari sinyal-sinyal yang diberikan oleh Akashi.
Poor Akashi.
Iseng, Kuroko mengambil novel di rak buku Kuroko secara asal. Setidaknya membaca bisa mengurangi rasa lelahnya.
"Ng?" Kuroko melihat judul yang tertera di sampul buku. Judulnya life upside down.
"Jadi Tetsuya juga memiliki novel yang sama dengan ku ya." kata Kuroko.
Kuroko berpikir, novel ini mirip sekali dengan kejadian yang ia alami. Hidup terbalik alias hidup di tubuh yang bukan milik kita.
Kuroko berpikir sejenak. Mungkin novel ini bisa memberi jalan keluar bagaimana kembali ke tubuh semula! Dengan cepat Kuroko mencari halaman terakhir—halaman yang biasanya ditunjukan solusi keluar dari kehidupan yang terbalik.
Dan saat itu juga, manik babyblue Kuroko membulat.
Agar bisa kembali ke tubuh mereka seperti semula, mereka harus berciuman dan menyalurkan semua perasaan mereka. Saat itu juga, mereka akan kembali ke tubuh mereka lagi. Lily dan Kine kembali ke wujud mereka semua. Mereka berjanji tak akan memohon hal aneh-aneh lagi saat bintang jatuh.
Itulah kalimat yang ditemukan Kuroko di akhir halaman. Wajah Kuroko memanas. Malu? mungkin.
"..."
"..."
"J-jadi..."
"Aku harus ciuman dengan Tetsuya gitu?!"
.
Di saat yang sama, Akashi sedang membaca novel yang berjudul life upside down. Akashi pun saat ini juga melihat halaman terakhir novel.
"Astaga.. apa ciuman pertama ku akan berakhir pada Akashi-kun?" kata Akashi sambil menutup mulutnya. Wajahnya pun bersemu merah.
Jadi... Mereka harus ciuman?
