Naruto © Masashi Kishimoto
Story by UchiHaruno Misaki
Warn : AU, OOC, Typo, Mainstream idea, etc.
[U. Sasuke x H. Sakura]
Bab 2
"Nee-san cepatlah!" teriak seorang bocah laki-laki berumur lima belas tahun itu terlihat kesal karena menunggu kakaknya yang sedari tadi belum juga keluar dari rumah sederhana itu.
"Iya sebentar Sasori-chan, —haah, haah ... maaf ya Nee-san lama," ujar seorang gadis yang baru saja keluar dari rumah dengan napas yang terengah-engah karena berlari. Gadis itu terlihat sangat manis —walaupun umurnya sudah duapuluh tiga tahun— dengan balutan dress putih yang melekat pas ditubuhnya.
Bocah berambut merah darah tersebut mendengus remeh, "Dasar lamban kau Sakura!" ucapnya dengan nada mengejek, —pletak! "Aaaa! Apa yang kaulakukan? Sakit!" Bocah itu merintih kesakitan ketika gadis berhelaian soft pink itu memukul kepalanya.
Haruno Sakura menatap adiknya itu kesal, "Sudah aku bilang, berhenti memanggilku 'Sakura' Sasori! Kau itu adikku, panggil aku Nee-san! Kau itu tidak sopan sekali."
Haruno Sasori tertawa geli melihat Kakaknya yang terlihat menggemaskan ketika marah, "Haha iya maafkan aku Nee-san, tapi ini sakit Nee-san! Nee-san jahat sekali memukul Adikmu yang tampan ini. Nee-san tahu? Jika Nee-san memukulku seperti ini terus nanti kadar ketampananku akan berkurang!" ujarnya kesal seraya mengusap kepalanya yang berdenyut walaupun tidak terlalu sakit, —Pletak! "Aaaaa! Nee-san?!" Lagi-lagi Sasori mendapat hadiah manis di kepalanya.
"Dasar bodoh! Mana ada fakta ketampanan seseorang akan berkurang hanya karena pukulan di kepalanya?!" Melihat kakaknya yang seperti itu membuat dada Sasori sesak, Sasori memandang Sakura dengan tatapan sendu.
"Nee-san ... gomen nee," lirihnya parau, Sakura menatap adiknya itu bingung dan entah mengapa ia merasakan firasat buruk.
"Sasori-chan kau tidak apa-apa? Ada apa Sasori? Kau terlihat aneh." Sakura memandang Sasori khawatir, Sasori hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan Sakura. Dengan reflex Sakura memeluk Adiknya itu lembut, "Selamat ulang tahun Sasori," bisiknya ditelinga Sasori.
Sasori langsung membalas pelukan hangat dari Kakaknya itu erat dan tersenyum lirih dibalik pundak Kakaknya, "Hm, Nee-san terima kasih dan selamat ulang tahun juga Nee-san ... aku menyayangimu,"
Sakura merasakan dadanya bergemuruh mendengar ucapan terakhir dari adiknya itu, entah mengapa hatinya terasa sakit, "Nee-san lebih menyayangimu Sasori, tetaplah di sisi Nee-san!" Lirihnya sendu, Sasori hanya diam memejamkan matanya.
Selama beberapa saat Sakura membiarkan Sasori memeluknya, namun semakin lama entah mengapa tubuh Sasori terasa berat.
"Sasori-chan berat," tak ada jawaban dari mulut Adiknya itu dengan perlahan Sakura melepaskan pelukannya dan—
Bruk!
—Sasori ambruk tepat di hadapannya dengan darah yang mengalir di mulut dan hidungnya, Sakura mematung dengan kedua mata yang terbelalak lebar.
"SASORI?!" Sakura langsung bersimpuh dan memangku kepala Sasori dipahanya, "Sa-sasori, ada apa denganmu?! Ba-bangun Sasori! Ba-bangun kataku! Hikss! SIAPA SAJA TOLONG AKU! SASORI BANGUN!" para tetangga yang melihat kejadian itu langsung membantu Sakura dan menghubungi ambulance, melihat Sakura yang menangis tanpa henti membuat para tetangganya itu merasa iba.
Tak lama ambulance datang dan langsung membawa Sasori ke rumah sakit dengan Sakura di dalamnya.
.
.
.
.
At Tokyo Hospital
Sudah lebih dari dua jam Sakura terdiam duduk di depan UGD dengan tatapan kosong, suara isakan sesekali terdengar dari kedua belah bibirnya dan liquid bening pun tak pernah berhenti mengalir dari kedua matanya yang membengkak.
Sakura sungguh tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hari ini adalah hari ulang tahunnya dan ulang tahun adiknya. Untuk merayakannya hari ini mereka berdua berencana mengunjungi taman bermain dan menikmati permainan di sana sepuasnya, tapi apa ini? Kenapa hal buruk seperti ini yang Sakura dapatkan? Kenapa, kenapa dan kenapa hanya kata itulah yang kini Sakura lafalkan kepada Tuhannya.
'Kenapa seperti ini Tuhan? KENAPA? Hikss,' batinnya berteriak, tapi raganya saat ini terlihat bagai patung tak bernyawa, hatinya sungguh sakit. Sakura tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada adiknya. Tidak ingin.
Cklek!
Ruangan UGD terbuka membawa Sakura kembali dari alam bawah sadarnya, dengan tergesa Sakura berdiri dan menatap dokter berambut pirang itu dengan tatapan memohon, "Ada apa dokter, apa yang sebenarnya terjadi denga adik saya? Dia baik-baik saja bukan? Tolong jawab pertanyaan saya dokter?!"
Dokter ber-name tag Senju Tsunade itu menatap Sakura datar, "Kita bicarakan di ruangan saya, Nona." Tsunade melangkah mendahului Sakura dan dengan perlahan Sakura mengikuti dokter di hadapannya itu seraya berkali-kali mengusap pipinya yang basah karena air mata.
.
"Silahkan duduk, Nona." Ujar Tsunade ketika mereka telah sampai di ruangannya dan Sakura duduk di depan dokter itu. Tsunade menghela napas lalu menatap Sakura prihatin, "adik anda memiliki kelainan jantung dan ia harus segera melakukan operasi untuk mencangkok jantungnya yang telah rusak, Nona. Jika tidak segera dioperasi saya khawatir nyawa adik anda 'lah yang menjadi taruhannya."
Sakura seakan melupakan bagaimana caranya menghirup oksigen, tatapannya terlihat kosong dan kedua telinganya terasa berdengung ketika mendengar apa yang dikatakan oleh dokter di hadapannya itu. Lidahnya kelu, matanya memanas, tubuhnya bergetar dan akhirnya cairan bening itu kembali menyeruak dari kedua matanya.
"Ka-kapan, kapan Sasori harus dioperasi dokter?" tanyanya dengan suara bergetar, Tsunade lagi-lagi menatap tamunya itu prihatin.
"Paling lambat seminggu dari sekarang, Nona. Ah ya saya lupa sepertinya adik anda telah mengetahui penyakitnya dari dulu." Sakura menatap dokter di hadapannya itu tak percaya.
"A-apa?" Tsunade hanya menangguk lemah, "Dasar Sasori bodoh! Bolehkah saya menemuinya dokter?" ujar Sakura penuh harap dan Tsunade-pun mengangguk menyetujui, "terima kasih."
.
.
.
.
Cklek!
Sakura melihat Sasori tengah terbaring lemah di ranjang pasien itu dengan tatapan kosong tanpa ekspresi, Sasori sendiri hanya dapat tersenyum lemah pada Kakaknya, "Nee-san aku—"
Sakura menundukkan wajahnya, ia hanya diam mematung di ambang pintu tanpa menghampiri Sasori. "Kenapa? Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu padaku Sasori? Kenapa?" tubuh Sakura bergetar, sekuat tenaga Sakura mengigit bibir bawahnya guna untuk meredam isak tangisnya.
Sasori memandang Kakaknya sendu, "Kemarilah Nee-san, jangan jauh-jauh dariku seperti ini ...," lirihnya pelan, perlahan Sakura menutup pintu ruang rawat inap itu, lalu menghampiri Sasori dan berdiri tepat di sebelah ranjang pasien. Sasori menggenggam tangan kakaknya itu dengan lembut. "Maafkan aku Nee-san, aku hanya tidak ingin Nee-san mengkhawatirkan aku—lagipula sudah cukup selama sepuluh tahun ini aku membuatmu susah Nee-san, aku tidak ingin membuatmu repot karena penyakitku ini—"
"DIAM BODOH! Dengarkan Nee-san Sasori! Kauanggap apa Nee-san selama ini? Demi Tuhan Nee-san tidak pernah merasa susah atau pun repot mengurusmu, Sasori! Jangan menanggung derita ini sendirian! Kau masih memiliki Nee-san! Hikss ... Ka-kau tidak pe-pernah membuat Nee-san susah, ingat itu Sasori!" Sakura memeluk Sasori erat dan dibalas tak kalah erat oleh Sasori yang kini tengah menangis dalam diam.
"Maafkan aku Nee-san, kau sudah bekerja keras untuk menghidupiku dan aku tahu itu membuat Nee-san lelah. Nee-san sudah terlalu baik padaku jadi aku tidak ingin Nee-san terbebani karena penyakitku ini," lirihnya pelan.
Sakura menggeleng keras lalu melepaskan pelukannya, "Tidak Sasori, Nee-san bersumpah Nee-san akan melakukan apapun demi kesehatanmu sekalipun Nee-san harus mengorbankan diri Nee-san! Su-sudah cukup Ayah dan Ibu meninggalkan Nee-san —hikss, Nee-san tidak ingin kau pergi juga, jangan tinggalkan Nee-san Sasori, berjanjilah! Nee-san mohon!" Sasori menatap Kakaknya penuh haru lalu mengangguk.
"Aku janji Nee-san ... terima kasih."
.
oOo
.
Angin malam di kota Tokyo begitu terasa dingin, wajar saja suhu di sana bahkan mencapai 10°C. Tapi suhu udara dingin tersebut tak berpengaruh kepada seorang gadis yang kini tengah berdiam diri di bangku taman sebuah Hotel, pakaian seragam khas pelayan yang tak mampu menghangatkan tubuhnya itu tidak membuat sang gadis mengigil karena sampai saat ini tubuhnya hanya diam mematung.
'Mati rasa ...'
Ya, itu 'lah yang yang dialami oleh gadis bermarga Haruno tersebut. Pandangannya terlihat kosong, wajahnya datar tanpa ekspresi dan —ah, jika kita lebih menilik lagi terlihat aliran sungai kecil berkilau karena tersorot lampu. Ya, cairan bening yang mengalir dari kedua bola matanya.
'Sasori ...'
Hanya sederet kata itu yang Haruno Sakura lafalkan dalam hati dan pikirannya, bahkan Sakura tak menyadari sesosok gadis berpakaian serupa dengannya telah duduk tepat di sampingnya.
"Sakura? Kau sedang ap—Saku? Kau menangis?!" Sakura tersentak dari lamunannya tentang memori lima hari yang lalu ketika melihat sahabatnya Ino tengah menatapnya khawatir, Sakura menghapus air matanya dan memberikan senyum tipis kepada sahabatnya.
"Aku tidak apa-apa, Ino." Ino menatap Sakura iba, dengan cepat didekapnya tubuh sahabat pink-nya itu erat dan tanpa bisa dicegah Ino pun menangis di balik pundak Sakura.
"Maafkan aku Sakura, aku bukan sahabat yang baik untukmu. Aku yang bodoh ini tak bisa berbuat apa-apa ketika melihat sahabatnya butuh bantuan, a-aku memang tak pantas kausebut sebagai sahabatmu Saku, hikss!" Sakura membalas pelukkan sahabatnya itu erat dan mengusap punggung Ino lembut.
"Sssstttt, jangan menangis Ino. Sungguh aku tidak apa-apa dan aku benci kau mengatakan hal itu. Sampai kapanpun kau adalah sahabat terbaikku, ingat itu! Aku tak ingin kau menyalahkan dirimu atas keadaanku sekarang, karena ini sudah takdir dari Tuhan Ino. Cukup kau berada di sisiku saja itu sudah lebih dari cukup. Berhentilah menangis piggy! Kau terlihat jelek," tangisan Ino semakin pecah mendengar panturan dari Sakura, hatinya mengutuk takdir yang begitu kejam terhadap sahabatnya ini.
Sakura hanya dapat tersenyum miris ketika Ino masih tetap menangis di pelukannya, dengan lembut Sakura menepuk-nepuk punggung Ino. Aneh rasanya di sini yang menderita adalah dirinya, tapi mengapa sahabatnya yang menangis? Sungguh hatinya terasa hangat, ya setidaknya masih ada sahabat yang peduli dan menyayanginya.
.
.
.
.
Di sisi lain di dalam Hotel itu, Uchiha Sasuke tengah menatap keluar jendela dengan tatapan datar, bersedekap dada Sasuke kembali teringat kejadian yang terjadi dua jam yang lalu. Gadis berambut aneh dengan paduan warna mata yang aneh namun meneduhkan itu membuatnya kembali menyeringai.
'Hn, sampai jumpa.'
Lagi Sasuke menyeringai mengingat ucapannya kepada gadis itu sebelum meninggalkan kamar resort-nya. Ya, pria itu sangat yakin ia akan berjumpa lagi dengan gadis itu—ah dan ia tidak mau tahu ia harus mendapatkan gadis itu untuk memenuhi obsesinya mendapatkan seorang bayi, membayangkannya saja membuat hati pria Uchiha tunggal itu terasa hangat. Ia sungguh tidak sabar menantikan Uchiha kecilnya untuk ia banggakan, manjakan dan untuk ia—sayangi.
Menghembuskan napas pelan, Sasuke memejamkan matanya perlahan. Pria berumur tiga puluh tahun itu melenyapkan seringaian dari sudut bibirnya dan digantikan oleh sebuah senyuman miris.
Drrtt ... drrtt!
Ponselnya bergetar membuat Sasuke menepis bayangan masa lalunya itu, dengan santai Sasuke mengambil benda tipis itu dan—
'Naruto is Calling ...'
—Ternyata nama sahabat pirangnya lah yang tertera di layar ponselnya, dahinya sedikit mengerenyit heran. Ya, ia heran ada apa sahabatnya menghubunginya malam-malam seperti ini? Sasuke yakin pasti ini adalah hal penting, maka dengan wajah datar dan dingin khas-nya Sasuke menggeser icons green itu ke arah samping.
Klik!
"Hn, ada apa Naruto?"
'Sasuke? Kau ada di mana saat ini?' tanya suara disebrang sana dengan nada serius.
"Di Hotel biasa, ada apa?" Sasuke mulai mencium adanya kejanggalan di dalam suara sahabatnya.
'Ini benar-benar gawat Sasuke, sesuai perkiraanmu ternyata si tua bangka HY Corp itu telah memulai aksinya. Dari sumber kepercayaanku si tua bangka itu marah besar ketika kau menolak keinginannya untuk membuatmu menjadi menantunya, ia sangat merasa dipermainkan dan dipermalukan. Apa kau tahu apa yang ia lakukan? Dia mulai meng-hack semua jaringan di kantor pusat! Apa yang harus kita lakukan?' suara di seberang sana terdengar sangat panik.
Sasuke menyeringai tanpa ada raut ketakutan sedikit pun, "Cih, biarkan saja, Dobe. Kita lihat sejauh mana tua bangka itu mencoba menghancurkan perusahaanku."
'APA?! Jadi kau akan membiarkan si tua bangka itu meng-copy semua data-data perusahaan hah?!'
Sasuke berdecih mendengar kekalutan sahabatnya itu, "Kau meremehkanku? Kau lihat saja nanti, perbuatan tua bangka itu akan menjadi bumerang untuk perusahaannya sendiri."
'Haah, dasar pembisnis ulung kau Teme! Ya sudahlah, hanya itu yang ingin aku sampaikan.'
"Hn."
Klik!
"Tua bangka tak berguna itu akan hancur dengan perbuatannya sendiri. Di dunia ini yang egois 'lah yang berkuasa dan yang tamak akan hancur bagai sebuah kertas emas terbakar menjadi serpihan abu dan—puh! Musnah!" gumam Sasuke dengan kilatan licik di kedua matanya.
Ya, seperti inilah jalan hidup dunia bisnis Sasuke. Memancing sang korban dengan ajakan kerjasama, menolak timbal balik, mempermalukan sang korban dan—menghancurkannya tanpa harus turun tangan.
Licik?
Itu 'lah Sasuke, bukan Uchiha Sasuke sang raja bisnis namanya jika tidak ada bumbu kelicikan di setiap langkahnya.
Drrtt ... drrt!
Lagi ponsel Sasuke bergetar dan ternyata itu adalah pesan dari Kakashi tentang latar belakang Sakura, Sasuke menyeringai ketika tangan kanannya itu mendapatkan informasi malam itu juga, bukankah Kakashi bilang besok pagi? Entahlah, Sasuke tak ingin ambil pusing. Tangan kanannya itu sungguh di luar dugaan.
Seringaian Sasuke semakin lebar ketika membaca tiap kalimat di email-nya dan dengan cepat Sasuke membalasnya.
'Hn, lakukan malam ini juga Kakashi dan pastikan semuanya berjalan sempurna.'
Sasuke melirik jam dinding yang menunjukan waktu tepat setengah dua belas malam, dengan pelan Sasuke meletakkan ponselnya di nakas dan mulai merebahkan dirinya di tempat tidur dengan mata terpejam. Sebelum benar-benar masuk ke dalam alam bawah sadarnya, Sasuke bergumam lalu memulai petualangannya di alam mimpi dengan seringaian terlukis di bibirnya.
"Hn, sampai jumpa besok malam ... Haruno Sakura."
.
.
.
.
.
Sakura membereskan semua tugasnya dengan cepat karena ini sudah jam setengah dua belas malam. Ya, karena kejadian di taman tadi Sakura dan Ino dimarahi habis-habisan oleh manager-nya karena menghilang di jam kerja, untungnya mereka masih dimaafkan, tetapi ini 'lah hukumannya; Sakura dan Ino diberikan hukuman membersihkan gudang di belakang Hotel ini.
"Saki, apa tugasmu sudah selesai?" tanya Ino yang kini telah selesai dengan tugasnya.
Sakura melipat kardus terakhir lalu menghampiri Ino. "Ya, tugasku sudah selesai. Ayo kita harus segera pulang ini sudah larut!" ujar Sakura seraya melangkah keluar gudang menuju tempat ganti diikuti Ino di sampingnya.
Setelah sampai di ruang ganti, Sakura dan Ino bergegas mengganti pakaiannya setelah itu mereka pamit kepada teman-temannya yang baru saja datang untuk bekerja part dini hari menggantikan mereka.
.
Sakura dan Ino sudah ada di perempatan jalan waktunya untuk berpisah. "Nah, Saki kau akan langsung pulang atau ke rumah sakit?" tanya Ino.
Sakura tersenyum tipis, "Aku akan langsung pulang Ino, besok siang aku akan ke rumah sakit."
Ino mengangguk mengerti, "Ya sudah, sampai di sini. Hati-hati di jalan ya, Saki! Sampai jumpa."
Sakura mengangguk mengerti, "Hm, kau juga hati-hati di jalan Ino." Ino mengangguk lalu berjalan meninggalkan Sakura di persimpangan jalan yang sepi. Rumah Ino dan Sakura berlawanan arah sehingga mereka harus berpisah di sini.
.
oOo
.
Sreek!
Sakura membolak-balikkan koran yang ia beli keesokan paginya, duduk di halaman rumahnya yang kecil seraya sesekali melingkari beberapa kolom lowongan pekerjaan di atas kertas koran itu. Ya, ia berencana mencari pekerjaan sampingan untuk menambah poin tabungan operasi adiknya, tetapi rata-rata dari lowongan pekerjaan itu membutuhkan orang yang berpendidikan minimal S1. Selain itu hanya ada pekerjaan paruh waktu menjaga toko atau pekerjaan buruh untuknya.
Sakura menggelengkan kepalanya pasrah, menjadi buruh uang yang didapatinya tidak lebih besar seperti gajinya di Hotel dan semua itu akan sia-sia saja, itu tidak akan cukup untuk menambah biaya operasi adiknya besok.
Sakura menoleh ke arah rumahnya dengan perasaan sedih, seandainya orang tuanya masih hidup mungkin hidupnya tidak akan serumit ini. Gadis berhelaian soft pink itu membaringkan dirinya di teras rumahnya, memandangi langit biru yang tepat berada diatasnya.
'Ayah, Ibu, apa yang harus aku lakukan? Apa kalian melihatku dari atas sana? Lihatlah aku Ayah, Ibu ... aku menderita tanpa kalian di sisiku.' Sakura membatin parau ke arah langit yang kini terlihat sedikit mendung seakan merasakan betapa mendungnya hati dan pikiran gadis malang tersebut.
Air mata itu kembali menyeruak dari kedua matanya yang kini terpejam, tangan Sakura reflex mencengkeram dada kirinya yang terasa berdenyut perih. Sasori ... lagi dan lagi nama itu 'lah yang Sakura lafalkan, Sakura membuka kedua matanya dan menatap kosong ke langit di atasnya.
Sakura menghapus air matanya lalu bangkit dan duduk di lantai teras rumahnya itu dengan tangan yang ia masukan ke dalam kantung hodie-nya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu benda tipis di dalam kantungnya, dengan perlahan Sakura mengambil benda itu dan matanya terbelalak, "I-ini, 'kan?—"
.
.
.
.
.
"Te-terima kasih telah menyelamatkanku Paman, sungguh terima kasih. Apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikan, Paman? Sungguh jika saja Paman tidak ada mungkin saya telah mati mengenaskan setelah diperkosa."
"Sama-sama, Nona tidak perlu melakukan apa-apa. Saya melakukan itu karena saya tidak mungkin membiarkan gadis baik seperti Nona dilecehkan seperti itu."
"Tidak, Paman! Saya harus tetap membalas kebaikan Paman,"
"Nona sungguh gadis mulia, sebenarnya saya sedang dalam masalah Nona tapi saya yakin anda pasti tidak mungkin bisa membantu masalah saya,"
"Eh? Katakan saja Paman, mungkin aku bisa membantu."
"Emh ... begini, saya sedang mencari gadis yang bersedia mengandung anak atasan saya tanpa harus adanya ikatan pernikahan dan gadis itu akan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya. Dan masalahnya saya tidak yakin ada gadis yang ingin melakukan itu."
" ..."
"Nona? Apa anda baik-baik saja?"
"Ah? eh ... ya saya baik-baik saja Paman dan itu—"
"Saya tahu Nona tidak bisa membantu masalah saya, tapi ... ini simpanlah kartu nama saya. Jika Nona bisa membantu, hubungi saya. Kalau begitu saya pamit dan hati-hati di jalan ya Nona!"
"Ah? Iya ... terima kasih Paman."
.
.
"—Kartu nama paman Kakashi Hatake?" Ingatannya kembali pada kejadian tadi malam, setelah berpisah dengan Ino ia bertemu dengan lima pria mabuk.
Awalnya Sakura tidak merasa takut dan ia pun berjalan santai melewati lima pria itu. Akan tetapi, sungguh di luar dugaan salah satu pria itu menariknya dan hendak melecehkannya. Saat itu Sakura hanya bisa menangis dan pasrah akan nasibnya. Akan tetapi, ternyata Tuhan masih berbaik hati padanya dengan mengirimkan seorang penyelamat. Seorang pria berhelaian perak datang menyelamatkannya dan setelah itu obrolan terjadi di antara mereka.
Sakura berpikir apakah ini adalah jalan untuk mendapatkan uang dengan waktu singkat? Namun dengan cepat Sakura menggelengkan kepalanya keras. —'Dasar Sakura bodoh! Bagaimana bisa kau berpikir dangkal seperti itu? Itu sama saja kau menjual dirimu!'' Inner-nya berteriak mencoba menepis pikiran bodohnya itu.
Drrt ... drrtt!
Suara ponsel membuat Sakura mengalihkan pandangannya dari kartu nama itu, Sakura melihat layar ponselnya ternyata itu panggilan dari Rumah Sakit. Dengan tergesa-gesa Sakura mengangkat ponselnya. —Klik! "Hall— APA?!"
Dengan hati yang hancur Sakura berlari secepat mungkin ke Rumah Sakit tanpa menghiraukan pandangan aneh dari orang-orang karena melihatnya berlari seraya menangis, bahkan Sakura tak peduli dengan umpatan-umpatan dari orang yang ia tabrak. Yang dia pikirkan hanya satu, —Sasori.
'Sasori aku mohon bertahanlah!'
To be continue
Rei Hanna : Buat fanfic TDK udah di republish ko hanya saja belum update xD emh ... panggil aku Saki-chan atau Saki-san atau Saki-sama(?) juga boleh.
guest : Yap!
hachiko desuka : Eh? ko tahu? Iya Saki berdarah O dan apa yang Hachiko-san katakan emang bener, Saki kreatif tapi setengah-setengah.
PinkLaLaBlue : Oke!
Lynn : Kita lihat saja nanti.
ayahime : Iya.
Luci Kuroshiro : Sip!
silent reader xD : Oke.
Viona Uchiha : Iya ini udah update.
lovelly uchiha : Iya.
yuki : Iya insyaallah Saki bakal lanjutin fanfic Saki dan ngga bakal lupa. Walaupun -mungkin- nanti ada yang ngga dilanjut, Saki akan kasih tau alasannya :) a ^^
Reicho : Hmm.
min : Iya.
khoirunnisa740 : Oke.
Enjellia Uchiha Gazerock : Salam kenal juga, pendirian Sasu gimana? Yoo ikuti terus ceritanya.
hanazono yuri : Oke.
hasna : Sakura emang anak baik, 'kan? Sakura ngga pernah jahat :D yang bashing aja tuh yang selalu bikin chara Sakura jahat.
Arum Junnie : Gaara? Emh ... #NgelusDagu, akan Saki pikirkan.
Intan sept : Wow, Hard Lemon? Asem dong xD haha tunggu aja ya mungkin lemonnya di chapter selanjutnya, err ... atau selanjutnya lagi, lagi-lagi chapter selanjutnya dan Saki ngga janji bakalan asem. Saki ngga jago bikin lemon.
cherryl sasa : Keren? Waaah benarkah? Makasih.
Eysha CherryBlossom : Iya ini fanfic baru, apa ya yang bikin Sasu trauma? Yoo ikutin terus ceritanya.
Kao Mitsu : Sip!
Kiki RyuEunTeuk : Oke!
Haruka smile : Wah apa ya yang buat Sasu trauma? Yoo! ikuti terus ceritanya ya.
aku lupa nama : Wah banyak banget ya pertanyaan kamu, emh ... ikuti terus saja ceritanya ya. Ya, Insya Allah Saki ngga bakal discont fanfic ini.
mizumidina : Maaf ya harus TBC di sana. Emh, ya mungkin fanfic ini akan long chap semoga ngga bosen ya.
heni lusiana 39 : Iya.
mantika mochi : Oke.
shaby : Penasaran? Yoo ikuti terus kisahnya.
Amai Ruri : SasuSaku di chap ini belum ketemu lagi. Sasu Trauma apa ya? penasaran? Yoo ikuti terus kisahnya, ini udah update kilat.
Rechi : Penasaran? Yoo ikuti terus kisahnya, ini udah update kilat.
Lilliana Hikari : Panggil aku Saki atau Sasa juga boleh.
kuli jepang : Penasaran? Yoo ikuti terus ceritanya.
Aiko Asari : Elipsis sudah Saki kurangi, maaf ya udah bikin Aiko-san ngga nyaman.
Luca Marvell : Iya.
Hahaha : Iya kasian ya Sakura? Tapi tenang aja nanti Sakura juga bahagia ko.
