Naruto Piece :: The Ninja.

A Naru DxD Fanfiction by Tobi Tobio.

A/N ::

Alur ngarang, sesuai imajinasi Author.

Dunia Naruto adalah sebuah Pulau di Dunia One Piece.

Cerita di Mulai Setelah Protgas D Ace di kalahkan Marshal D Tech (Kurohige).

Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).

Fict update setiap kamis! (2 minggu sekali, gantian Naruto DxD :: True Longinus).

Cover lagi? Yap. Karena Naruto adalah Anime pertama yang memincut hati Tobi (Pertama kali Tobi nonton Anime Jepang ya Serial Naruto di GTV, Saat pertarungan Tim 7 vs Zabuza, pas kelas 2 SD) dan semenjak itu Tobi suka sama Naruto. Meski dulu belum tau judulnya, karena Tobi cuma nonton sekitar 10 menit. Tobi tau judul film itu Naruto saat kelas 4 SD (2 Tahun kemudian) saat Naruto migrasi ke Indosiar.

Dan SMP adalah saat pertama Tobi tau jika Naruto juga ada Manganya, karena jaman itu Tobi baru mengerti Internet. Dan sejak saat itu Tobi sering pergi ke warnet buat baca Manganya. Hahaha karena HP Tobi saat SMP masih odong-odong, meski ada internetnya tapi gak bisa buka Mangaku. Dan SMP juga saat pertama kali Tobi tau soal Hendler, hahaha setelah tau ini, Tobi mulai jarang ke Warnet lagi buat baca Manga. Tapi pindah ngoleksi Videonya, kan udah gratis :v.

Tapi saat tau dari temen kalau ada yang 'berbeda' antara Manga dan Anime, Tobi tetep ke Warnet buat update ceritanya dari dua sisi. Wah di tanya Cover, jawabnya malah curhat hahaha. Tapi emang gitu, mungkin namanya 'cinta pertama' kali ya, Tobi ngikutin banget Naruto, beda sama OP, Bleach, atau FT. Meski suka, tapi Tobi gak seserius kaya Naruto, pokoknya Naruto IS THE BEST lah buat Tobi (tanpa mengatakan Manga lain jelek loh).

Nah karena itu, dalam setiap bikin Fict. Sudah Tobi niatin. Naruto akan selalu masuk dalam fict Tobi. Itu artinya, kalau bukan Naruto (murni) ya Cover Naruto dengan Manga/Anime lain. Ini bentuk kecintaan Tobi pada Naruto (baca Hinata) 3.

Yap. Garp niatnya minta bantuan sama Ninja buat nyelamatin Ace. Meski bisa melakukannya sendiri, sebagai Angkatan Laut yang sangat di hormati tidak mungkin kan Garp melakukannya. Dan fict ini akan tamat saat perang Marineford selesai. Ini hanya mini Chapter ^_^

Apa di Manga/Animenya Garp gak bisa Haki Raja? Jujur saja Tobi gak tau :v

Tapi kalau demikian anggap aja itu bonus dari Tobi untuk Garp hahaha :D

Maaf jika penggambaran Naruto dan Sasuke terlihat lemah. Tapi inilah gaya Tobi, Tobi (mengharamkan) seorang MC untuk langsung kuat, serasa gak asik (dalam versi Tobi).

Entahlah, Tobi Hanya membandingkan kekuatannya. Dalam usia Hiruzen, dia terlihat sangat lemah meski gelarnya sebagai Shinobi sangat keren. Beda dengan Garp yang masih super pawer. Jadi Tobi sandingkan sama Jiraiya. Seperti kata Itachi pada Kisame, mereka bisa mengalahkan Jiraiya, tapi tidak ada jaminan mereka masih hidup atau tidak. Dan Pain pun mengatakan jika ada seseorang yang sangat kuat menyelinap di Desanya (Saat Jiraiya menyusup ke Ame). Seorang Akatsuki sangat respect dengan kekuatan Jiraiya. Bukankah ini sama seperti Garp yang sangat di segani meski sudah tua :D.

Dan itu alasan Tobi hehehe.

NaruSasu sebagai rainkarnasi Indra dan Ashura? Mungkin enggak. Dan Madara tidak masuk dalam mini Chapter ini, maaf. Tapi Obito muncul kok meski hanya sekedar pelengkap saja ^-^.

Sepertinya sudah semua pertanyaan (dalam Review) sudah Tobi jawab. Maaf jika ada yang terlewat. Mungkin Tobi kelupaan saat menulis ini :D.

Ingin mengenal Tobi lebih jauh silahkan cek ini (ini FB Tobi)

m(titik)facebook(titik)com/profile(titik)php? fref=nf&ref_component=mbasic_home_header&ref_page=%2Fwap%2Fhome(titik)php&refid=8

Atau cek ini (ID FB Tobi)

10007211745260 :: Keristanto (Heru).

Kalau begitu silahkan menikmati dan salam kenal dari Tobi (^_^)

Naruto DxD :: The Ninja.

Chapter 2 :: Misi Balas Budi.

Bagian 2.

"Begitulah ... Kuharap kalian mampu melakukan Misi ini dan kembali dengan selamat!" ucap Jiraiya di hadapan dua Ninja muda berpakaian khas ANBU. Mereka adalah Naruto serta Sasuke termasuk di dalammya.

"Lalu ciri-ciri target kami?"

"Ini Foto target kalian" ucap Jiraiya seraya menyerahkan selembar Foto pada Naruto.

"Namanya adalah Protgas D Ace, Ketua Divisi dua Kelompok Bajak Laut Shirohige". "Menurut kabar dia di penjarakan di Impel Down." lanjut Jiraiya setelah Foto itu di terima pemuda bersurai pirang itu.

"Ini mungkin pertama kalinya kalian menjalankan sebuah Misi ke luar Pulau. Tapi aku yakin kalian mampu melaksanakannya!" ucap Jiraiya.

"Aku mengerti ... Tapi apa hanya kami saja yang pergi?"

"Apa kalian belum cukup?".

"Kurasa iya, jujur saja kami belum tau apa-apa soal Impel Down. Dan sejauh ini yang kami ketahui soal Dunia Luar hanyalah tentang cara hidup penduduk biasa di Pulau tetangga!"

"Bukankah lebih baik jika Minato-Tousama bergabung dengan kami"

"Aku setuju. Minato-Sensei sudah sering ke luar Pulau ... Dia pasti mengetahui cukup banyak informasi" ucap Sasuke datar yang di amini anggukan Naruto.

"Aku sudah memberikan tugas lain pada Minato". "Malam ini kita akan pindah dari Pulau ini" ucap Jiraiya. Sasuke dan Naruto terlihat terkejut saat mendengar penuturan sang Hokage.

"Pindah?!"

"Yah ... Kurasa ini waktu yang tepat untuk melakukan itu". "Dan tentu saja kau tidak perlu lagi mengontrol Chakra Bunshin-Bunshinmu" jawab sang Hokage.

"Kalau begitu ... Bisakah kami membawa Hinata-Chan?" tanya Naruto.

"Ide bagus ... Pengguna Byakugan akan sangat membantu untuk mencari informasi" timpal Sasuke menyetujui pemikiran pemuda bersurai pirang itu.

"Baiklah ... Kalian boleh membawanya!" balas Jiraiya menyetujui permintaan ke dua pemuda tampan itu. Dan setelah pembicaraan selesai Naruto dan Sasuke, langsung undur diri di hadapan Jiraiya. Tubuh mereka berdua berubah menjadi Asap putih yang di hiasi dengan suara khasnya.

Poft.

"Ada yang ingin kau bicarakan denganku?"

Seorang wanita bersurai pirang yang terlihat cantik memasuki Ruangan Jiraiya, tanpa mengetuk Pintu terlebih dahulu. Dia adalah Tsunade Senju, Salah satu dari legenda Sannin dan juga Istri dari sang petapa dari Gunung Myoboku, Jiraiya. Tsunade terlihat menatap sang suami dengan pandangan tajam dan mengintimidasi kakek tua itu.

"T-Tsunade ..." gumam kakek tua itu dengan sedikit gugup. Sementara Tsunade tak bergeming, wanita cantik yang awet muda itu tetap menatap tajam Jiraiya.

"Jawab aku. Kemana kau mengirim mereka?!". "Memenuhi permintaan Garp?!" desis Tsunade semakin tajam.

"B-bagaimana kau tau?!" Jiraiya malah balik bertanya. Tentu saja semakin gugup karena sang istri sudah mengetahui hal ini. Tsunade yang sangat menyayangi Naruto tentu saja tidak akan setuju jika Naruto pergi untuk Misi ini.

"Aku meminta Katsuyu untuk menguping pembicaanmu dengan Garp!"

FLASH BACK.

Sesaat setelah Tsunade membanting Pintu dan meninggalkan ke dua kakek tua itu dengan sejuta kekesalannya, wanita itu lalu merapal sederetan Segel Tangan dengan cepat dan melakukan sebuah Kuchiyose. Sebuah tehnik pemangil Hewan yang sudah di kontrak sang pemanggil. Dengan suara khasnya disertai sedikit asap, kini terlihat sebuah Siput kecil tanpa Cangkang berwarna putih, menghiasi Telapak Tangan kanan wanita itu.

"Katsuyu, cari tau apa yang di bicarakan Jiraiya dengan Garp, dan jangan sampai ketauan!" perintah Tsunade pada sang Siput yang ternyata bernama Katsuyu. Hewan Kuchiyose Tsunade.

"Baik Tsunade-Sama!"

FLASH BACK END.

"..." Jiraiya tidak langsung mengatakan sepatah kata pun saat sang istri selesai bercerita.

"Jika kau sudah melakukan itu ... Harusnya kau sudah mengerti kemana aku mengirim mereka" ucap Jiraiya pada ahirnya, setelah cukup lama berfikir, mencari kalimat yang bagus. Tapi sepertinya itu tetap saja tidak membantu, karena Wajah Tsunade mengeras seketika. Wajah cantiknya terlihat kesal mendengar ucapan Jiraiya.

"Kenapa?!"

"Kenapa kau menerima permintaan Garp?!". "Apa kau sudah gila heh?!" teriak Tsunade yang entah sejak kapan ada di depan Jiraiya dan tanpa ampun mendorong Tubuh kakeh tua itu ke Dinding dengan cukup keras.

Braakkk!

"Gah!" erang Jiraiya saat merasakan nyeri pada bagian Punggungnya yang membentur Tembok, akibat manuver sang istri yang sangat cepat. Tapi sepertinya Tsunade tidak terlalu memikirkan soal itu. Dengan tatapan yang semakin menajam dia melanjutkan ucapannya.

"Percuma jika selama ini kita bersembunyi di Pulau ini dari Pemerintah Dunia dan Angkatan Laut". "Jika pada ahirnya kita menunjukan diri di hadapan mereka!"

"Apa kau ingin mereka mati?". "Apa kau ingin menyaksikan tragedi itu lagi hah!" Tsunade kembali berteriak seraya memukuli Dada bidang Jiraiya diam saja, tidak mampu mengatakan apa pun. Jiraiya tau saat ini sang istri sedang mencurahkan segala isi hatinya, yang selama ini di pendamnya, jadi dia pun membiarkan itu semua, berharap jika nanti setelah ini Tsunade lebih tenang.

Perasaan takut, sedih, dan tidak tau harus melakukan apa, di tambah merasa tidak berguna, membuatnya mendapatkan trauma mendalam. Dan itulah alasan kenapa yang jadi Hokage adalah Jiraiya. Tsunade berhenti sebagai Hokage, juga seorang Ninja setelah gagal melindungi Konoha dalam insiden penyerangan Angkatan Laut.

Namun meski sudah pensiun sebagai Ninja, agaknya kekuatan sang Sannin tidak banyak berubah.

Tanpa terasa tangisnya pecah seng dengan perasaan kalut yang dirasakan wanita itu. Pukulan Tsunade berhenti dengan sendirinya, dan mulai menangis seraya menyembunyikan wajahnya di Dada Jiraiya. Dan dengan gentlenya, Jiraiya memeluk sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang seraya membisikan kata-kata penyejuk hati untuk menenangkan Tsunade.

'Aku tidak menyangka dampak dari tragedi itu akan sebesar ini ...'

'Kau pasti sangat tertekan ...'

"Tenanglah ... Aku sudah merencanakan semuanya". "Aku sudah menduga, cepat atau lambat Garp akan menagih budi baiknya, saat ada sebuah masalah yang tidak bisa dia selesaikan ..." ucapnya saat merasa Tsunade mulai lebih tenang.

"Dalam tiga tahun ini aku sudah menyuruh Minato dan Naruto mengirim Bunshin-Bunshinnya yang berhenge menjadi seluruh penduduk Konoha di beberapa Kota dekat Pulau terdekat dari sini" ucap Jiraiya berusaha menjelaskan segala persiapan yang di lakukannya selama ini.

"Dan dalam tiga tahun ini tidak ada yang mencurigai Bunshin kita, baik itu Angkatan Laut atau pun penduduk asli Kota itu. Kita bisa hidup tenang". "Meski akan hidup terpisah-pisah, tapi aku sudah tidak khawatir lagi, karena kita sudah bisa hidup damai tanpa perlu merasa ketakutan lagi"

"Aku tidak mau generasi penerus kita mengalami hal yang sama seperti kita, hidup dalam ketakutan dan merasa terpenjara di Pulau ini" terang Jiraiya. Tidak ada jawaban dari Tsunade. Namun sebuah pelukan cukup untuk menjawab semuanya.

'Syukurlah ... Terimakasih sayang ...' batin Tsunade saat memeluk erat Jiraiya.

Naruto Piece :: The Ninja.

by Tobi Tobio.

Sasuke dan Naruto saat ini sedang melompat dari Pohon ke Pohon untuk mencari sang pemilik dari Mata Byakugan. Gadis cantik yang menjadi satu-satunya keturunan terahir yang tersisa dari Clan Hyuuga, Hinata Hyuuga. Sayangnya, meski hampir dua jam mereka melompat dari Pohon ke Pohon mengelilingi Hutan yang menjadi wilayah penjagaan Hinata, gadis itu tidak juga di temukan.

Tap ...

Naruto dan Sasuke berhenti di salah satu Dahan Pohon untuk mengambil nafas dan mengistirahatkan Tubuh meraka, karena sejak dua jam lalu mereka terus bergerak cepat dan tanpa henti. Mata Sasuke berkelit tajam mencoba mencari keberadan Hinata, beda dengan Naruto yang terlihat bosan dan terus menguap, karena sudah berkali-kali mendatangi tempat yang sama.

"Hoaamm ... Aku mulai bosan berputar-putar di tempat ini. Kita tunggu saja di Markas ANBU. Bagaimana?" ucapnya dengan nada bosan. Sementara Sasuke malah memelototi pemuda bersurai pirang itu.

"Kita tidak tau kapan Hinata akan datang ke Markas ANBU. Pertemuan sesama anggota ANBU baru saja di lakukan kemarin, tidak ada alasan untuknya pergi ke sana" ucap Sasuke datar. Tapi, sorot Mata pemuda Uchiha itu tetaplah tajam, seolah-olah ingin menguliti sahabatnya itu.

"Lalu?". "Jujur saja aku mulai bosan berputar-putar di sini" keluh Naruto, mengabaikan tatapan Sasuke yang menusuk.

"Gunakan Kage Bunshin atau Hiraishin". "Kau menandai Hinata kan?" tanya Sasuke setelah cukup lama terdiam memikirkan cara terbaik mencari Hinata.

"Eh?!" gumam Naruto seperti teringat sesuatu.

"Sial aku lupa!". "Kenapa kau tidak bilang dari tadi. Dasar Uchiha bodoh!" desis Naruto sedikit jengkel karena lupa tentang hal itu. Andai saja dia ingat sedari tadi, tentu saja dia tidak perlu repot-repot berkeliling Hutan untuk mencari Hinata.

"Kamfreet!". "Kau yang—" umpatan Sasuke terhenti karena pemuda bersurai pirang itu sudah hilang dalam kilatan kuning, meninggalkan Sasuke sendirian di tempat itu.

"Keparat kuning itu ... Dia yang menguasai Jutsu itu, malah aku yang di salahkan!". "Wajar saja jika aku lupa!" lanjutnya masih mengumpat ria.

Sementara itu di sudut lain Hutan.

Terlihat seorang gadis cantik bersurai indigo sedang berjalan dengan santai. Tapi mesti begitu, gadis itu terlihat sibuk karena terus menengok kesana-kemari seperti sedang mencari seorang. Gadis itu adalah Hinata Hyuuga, seorang yang memiliki Doujutsu Byakugan. Dan jika di perhatikan lebih seksama lagi, Mata Byakugannya saat ini sedang aktif, terbukti dari beberapa Urat yang menyembul di seputar Matanya.

"Ya ampun ... Aku lelah sekali mencari mereka" gumam Hinata seraya menonaktifkan Byakugannya, dan mendudukan Tubuhnya di sebuah Batu untuk beristirahat sejenak.

"Kalian di mana sih, Naruto-Kun, Sasuke-San!" lanjutnya lagi.

"Aku ada di sini Hinata-Chan" ucap seorang pemuda bersurai pirang yang tiba-tiba muncul di hadapan Hinata. Jarak yang sangat dekat antara keduanya, tentu saja membuat gadis itu merasa gugup tanpa sebab, dengan Wajah yang memerah sempurna.

"N-Naruto-Kun ..." gumam gadis itu sebelum ahirnya pingsan karena tidak mampu menahan perasaan malunya sendiri.

"Eh~ Hinata-Chan ..."

"Hinata-Chan ... Kau kenapa?!"

"Hinata-Chan!" teriak Naruto dengan paniknya seraya mengguncangkan Tubuh gadis itu mencoba menyadarkan Hinata.

Di Tempat Sasuke.

Pemuda Uchiha itu kini menatap pemuda bersurai pirang yang masih saja terlihat panik seraya berjalan mondar-mandir menunggu gadis cantik yang bernama Hinata Hyuga, yang masih saja pingsan. Yap, agaknya Naruto telah membawa Hinata ke tempat Sasuke saat gadis itu pingsan karena kedatangannya yang sangat mendadak itu. Dan sudah lima belas menit berlalu sejak saat itu, tapi Hinata tak kunjung sadar.

"Berhenti mondar-mandir seperti itu ... Kau membuatku pusing!" desis Sasuke yang sangat terganggu dengan kegiatan pemuda bersurai pirang itu. Tapi tidak ada jawaban. Naruto hanya menatap Sasuke sesaat lalu kembali melakukan aktifitasnya kembali, berjalan mondar-mandir di dekat Hinata yang pingsan.

"Hah~ memangnya apa yang kau lakukan heh?" tanya Sasuke lagi.

"Sudah kubilang kan dari tadi. Aku hanya muncul di hadapannya dengan Hiraishin dan dia langsung pingsan!". "Aku tidak melakukan apa pun!" desis Naruto yang merasa dongkol dengan pertanyaan sahabatnya itu, pertanyaan yang sudah di dengarnya berulang kali pasca membawa Hinata yang pingsan ke tempat pemuda Uchiha itu.

"Lalu kenapa Hinata bisa pingsan?!" tanya Sasuke lagi.

"Mana kutau!"

"Apa mungkin Wajahmu terlihat menyeramkan di Mata Hinata?". "Kurasa itu alasan yang tepat untuk masalah ini!" ucap Sasuke dengan gestur seseorang yang terlihat berfikir sangat keras. Kedutan terlihat di pelipis pemuda bersurai pirang itu, mendengar ucapan terahir Sasuke.

"Jangan mengatakan hal yang tidak perlu seperti itu!" damprat Naruto dengan penuh kekesalannya.

"Eungh~" suara itu berasal dari Hinata yang baru saja siuman dari pingsannya. Tentu saja Sasuke dan Naruto segera mendekati gadis Hyuga itu.

"Kau baik-baik saja Hinata-Chan?!" ucap si pirang dengan sangat paniknya. Dan sialnya Wajah Naruto terlalu dekat di Wajah Hinata dan membuat gadis itu kembali memerah, dan kembali terlihat akan pingsan -lagi-. Beruntung Sasuke menyadarinya, dengan penuh tenaga, pemuda Uchiha itu mendorong Wajah Naruto hingga Tubuh pemuda pirang itu terpelanting dan membentur Pohon dengan telaknya.

"Keparat!". "Kau ingin membunuhku heh?!" desis Naruto.

"Jika aku ingin melakukan itu, aku pasti akan melapisi Tanganku dengan Chidori" balas Sasuke datar.

"Kau membuat Hinata takut!" lanjutnya tanpa perasaan bersalah sedikit pun setelah membenturkan sahabatnya sendiri ke Pohon.

"B-bukan begitu ..." sanggah Hinata dengan gugupnya.

"... A-aku hanya gugup jika di hadapan Naruto-Kun" lanjutnya dengan nada bicara yang semakin melemah, berbeda dengan Wajahnya yang semakin memerah.

"Abaikan saja soal itu, yang terpenting kenapa kau mencari kami?" tanya Sasuke.

"Hey?!" teriak Naruto yang tidak terima dengan ucapan Sasuke. Sementara ucapan itu membuatnya tersadar dan membuatnya kembali normal.

"Eh?!". "Benar juga, Minato-Sensei meminta kita menemuinya segera. Kurasa ada sesuatu hal yang penting untuk di bicarakan" ucap Hinata.

"Minato-Sensei?"

"Tou-Sama?"

"Benar. Karena itu aku mencari kalian". "Tapi kalian malah ada di sini, pantas saja aku tidak menemukan kalian" jawab Hinata.

"Itu karena kami pun sedang mencarimu" ucap Naruto seraya mendekati Hinata dan Sasuke.

"M-Mencariku?!" ucap Hinata tiba-tiba gugup. Fikirannya langsung terbang melayang dan membayangkan jika Naruto mencarinya untuk mengajak Hinata menikah.

"Hinata-Chan ... Maukah kau menikah denganku?!"

"I-ini terlalu m-mendadak!" gumamnya dengan Wajah yang semakin memerah. Hampir saja Hinata kembali pingsan, tapi beruntungnya teriakan kompak Sasuke dan Naruto kembali menyadarkan gadis itu.

"Jangan pingsan lagi!" teriak ke duanya kompak.

"Ma-maaf ..."

"Bukan hanya takut dengan Wajah menyeramkanmu, tapi Hinata juga takut dengan suaramu!" ucap Sasuke sekenanya.

"Apa kau bilang?!"

"Bu-bukan seperti itu!"

Naruto Piece :: The Ninja.

by Tobi Tobio.

"Ada satu hal yang harus kalian ketahui sebelum melaksanakan Misi ini!". "Impel Down adalah sebuah Penjara terkuat di Dunia dan menjadi tempat pembuangan terahir bagi para pengacau yang menentang Angkatan Laut dan Pemerintah Dunia. Karena itulah ini Misi yang sangat berbahaya!" ucap Minato to the point, Sasuke, Naruto dan Hinata sudah ada di hadapannya.

"Aku sejujurnya tidak setuju kalian semua melaksanakan Misi ini. Karena saat Pemerintah Dunia dan Angkatan Laut menyadari jika kalian adalah Ninja, tidak akan kesempatan untuk kembali!". "Kalian akan di buru oleh mereka dan itu artinya tidak ada lagi kesempatan untuk hidup tenang"

"Aku akan mengambil alih Misi ini jika kalian ingin mundur. Siang ini Jiraiya-Sensei sudah mengumumkan pada semuanya, bahwa kita akan keluar dari Pulau ini dan hidup seperti Manusia biasa menggantikan Bunshinmu, Naruto". "Akan lebih baik jika kalian mundur saja!"

"Ini adalah saranku sebagai ayah dan guru kalian". "Aku tidak mau kalian mati sia-sia di tangan Angkatan Laut!" ucap Minato seraya menyapu pandangnya pada tiga sosok di hadapannya.

"Ke-kenapa?" tanya Hinata, sementara Naruto dan Sasuke yang jelas sudah tau tentang tragedi itu hanya diam saja.

"Ceritanya panjang. Tapi intinya, Desa Konoha dan ke empat Desa Ninja lainnya hancur di Tangan Angkatan Laut!". "Mereka membantai semua Ninja yang di temui, hanya karena seorang Ninja telah membunuh anak dari Tenryuubito, tanpa perduli jika Ninja itu bersalah atau tidak!" terang Minato. Hinata hanya membelakkan Matanya saat mendengar penuturan sang guru, sementara Naruto dan Sasuke tetap diam saja.

"K-kejam sekali ..." gumam Hinata seraya menahan tangisnya.

"Karena itulah ... Aku tidak mau kalian mengorbankan kebebasan kalian hanya untuk ini!" ucap Minato lagi.

"Tidak!" desis Naruto dengan dinginnya.

"Aku tidak akan mundur dari Misi ini!". "Jujur saja aku dan Sasuke sudah tau tentang semua itu dari Tsunade-Sama. Dan ada alasan lain kenapa aku mau menjalankan Misi ini adalah ..." lanjutnya.

"Untuk membalas dendam pada Angkatan Laut dan Pemerintah Dunia!" ucap Naruto dengan dinginnya.

"Aku ikut denganmu. Aku pun memiliki perasaan yang sama denganmu, aku ingin menghancurkan mereka!" ucap pemuda Uchiha itu, yang juga memiliki pemikiran yang sama.

"Kau boleh mundur jika tidak mau terlibat, Hinata" lanjut Sasuke seraya melirik tajam gadis Hyuga itu. Hinata sedikit tersentak dengan ucapan Sasuke, sementara Minato hanya diam saja karena tidak mampu mengatakan apa pun saat ini.

"A-aku ..."

"Aku ikut dengan kalian!". "A-aku juga memiliki p-perasaan yang sama!" ucap Hinata mantap, meski masih sedikit tergagap.

'Meski sulit, aku ingin terus bersama Naruto-Kun ... Aku tidak bisa mundur lagi, setelah semua yang kulalukan' batinnya menyerukan keinginan yang sebenarnya. Yap, Hinata menjadi ANBU karena orang yang di cintainya memilih itu, dan kini tidak mungkin Hinata mundur setelah apa yang selama ini dia lakukan untuk terus bersama Naruto. Minato masih terdiam karena tidak tau mesti berkata apa.

"Hah~ baiklah ... Aku tidak bisa melarang kalian lagi". "Tapi sebelum pergi ke Impel Down, temuilah seseorang. Kurasa dia bisa membantu" ucap Minato ahirnya, seraya menyerahkan sebuah kertas kecil pada Naruto.

"Siapa?"

"Pamanmu, Uzumaki Nagato. Dan benda itu akan menunjukan di mana dia berada!"

Setelah semua percakapan mereka berahir, Naruto, Sasuke dan Hinata mulai undur diri di hadapan Minato yang masih menatap cemas ke tiga sosok muda-mudi itu. Meski tidak rela dengan jalan yang mereka ambil, tetap saja Minato tidak bisa melakukan apa pun dengan keputusan mereka. Dan sebagai guru juga sebagai ayah pria bersurai pirang itu hanya bisa berdoa, mendoakan mereka yang terbaik.

"Kuharap kalian akan baik-baik saja. Dan ... Bisa hidup bahagia dengan jalan yang kalian pilih …" gumam Minato.

Naruto Piece :: The Ninja.

by Tobi Tobio.

Hari sudah pagi. Fajar pun terlihat mulai memperlihatkan kuasanya dalam menghapus gelapnya Malam. Dan di sebuah Kapal Angkatan Laut yang berlayar mengarungi Lautan pagi yang tenang itu, terlihat di salah satu Ruangan Kapal itu, Garp yang Tubuhnya terbalut Perban layaknya Mumi. Garp -dengan penampilan Muminya- sedang menunggui sang murid. Mereka telihat tertidur pulas di tempatnya masing-masing.

"Ugh!". "Di mana aku?!" gumam pemuda itu saat terbangun dari tidurnya, kemudian dengan pandangannya menyapu Ruangan itu.

"Uwaaahhhh~ Mumiii!" teriak pemuda itu dengan horornya seraya menunjuk-nunjuk sang Mumi. Teriakan Coby tentu saja membangunkan Mumi itu a.k.a Garp.

"Waaaaa~ mana?!". "Mana Mumi itu?!" teriak si Mumi a.k.a Garp yang juga tak kalah paniknya. Kepalanya menengok kanan-kiri dengan cepat mengexpresikan kepanikannya, seraya mengucapkan kalimat itu berulang-ulang. Coby tiba-tiba terdiam seraya menatap sang Mumi dengan pandangan malasnya, dan sedetik kemudian Garp pun melakukan hal yang sama.

Hingga Ahirnya ...

"Murid terkutuk!". "Kau mengatai Gurumu sendiri Mumi heh?!" desis Garp yang baru menyadari jika Mumi yang di maksud Coby adalah dirinya. Tentu saja sebuah jitakan penuh cintanya di hadiahi pada sang murid.

"Awww~"

"Salah sendiri kau berpenampilan seperti itu!" gerutu Coby seraya memegangi Kepalanya yang benjol. Sementara Garp hanya mendesah kesal mendengar ucapan sang murid.

"Huh!"

"Ini gara-gara Monster Pulau itu. Untung saja aku masih hidup dan mengalahkannya!" umpat Garp seraya membayangkan dua pemuda bersurai pirang dan pemuda bermata aneh yang tak lain adalah Naruto dan Sasuke.

"Eumh~ Garp-Sensei ... Monster seperti apa yang kau lawan hingga menggunakan Haki Raja yang selama ini kau sembunyikan?!" tanya Coby yang merasa penasaran dengan lawan yang di hadapi sang guru. Garp terlihat menerawang, menatap indahnya langit di balik Jendela Kapalnya.

"Kau pasti akan kencing di celana jika melihatnya ..." ucap Garp asal-asalan karena tidak menemukan bentuk yang tepat untuk menggambarkan seekor Monster yang di lawannya. Yap, Garp memang tidak terlalu baik dalam berbohong, karena itu Sengoku yang sudah mengenalnya luar dalam bisa tau dengan mudah jika kakek tua itu sedang berbohong.

Andai saja Jiraiya, Minato dan dirinya tidak bekerja sama untuk menjebak Sengoku dalam upaya menyegel ingatannya tentang Ninja, tentu saja sang Fleet Admiral itu dengan mudah bisa mengetahuinya. Mengabaikan itu semua, Coby kini terlihat sedang membayangkan sesosok Monster Laba-Laba raksasa berkaki Gajah dan bersayap Kelalawar, serta bergigi tajam layaknya Singa. Sosok monster imajinatif yang menurutnya sangat menyeramkan.

"Itu pasti sangat berbahanya ..." gumamnya seraya bergidig ngeri.

Braakkk!

Tiba-tiba seorang Prajurit kacangan membuka Pintu Ruangan itu dengan keras, hingga menciptakan suara bedebrak seperti itu. Garp dan Coby tentu saja sangat terkejut. Sementara si pelaku tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang dirasakan atasannya. Dengan wajah panik prajurit itu masuk dan mendekati Garp yang terlihat masih terkejut.

"Garp-Sama. Gawat!". "Kapal kita di serang!"

"Apa?!" teriak Garp dan Coby secara bersamaan.

"Bajak Laut mana yang berani menyerang Kapal kita?!" tanya Coby.

"Bukan. Bukan Bajak Laut!". "Tapi ..."

Dan di Langit terlihat seekor Monster Laba-Laba raksasa berkaki Gajah dan bersayap Kelalawar, serta bergigi tajam layaknya Singa, terlihat terbang di seputar Kapal. Entah apa yang terjadi, Monster aneh yang ada di benak Coby tiba-tiba saja menjadi kenyataan. Padahal dilihat dari bentuknya saja yang sangat bimbang, tidak mungkin ada Monster yang seperti itu.

Namun sayangnya sekarang Monster yang tidak mungkin itu benar-benar nyata dan sedang menyerang Kapal mereka, sang Monster terlihat mencari waktu yang tepat untuk menyerang balik sembari terus terbang menghindari tembakan yang di lancarkan Pajurit Garp. Sementara Coby dan Garp menatap aneh pada sang Monster.

Ghoaarrr!

Monster itu mengaum keras dan terbang dengan kecepatan penuh untuk melakukan serangan balik. Berniat menghantamkan Tubuh raksasanya ke Kapal Angkatan Laut. Dan tentu saja itu membuat mereka semua panik, yap baik Coby mau pun anak buah mereka dengan sangat kompak berlarian kesana-kemari, saking paniknya dengan manuver sang Monster. Beda dengan Garp yang masih sempat-sempatnya menguap bosan.

"Uwaahhh~ kita akan mati!"

"Selamatkan diri kalian!" teriak para Prajurit kacangan itu seraya berlarian kesana-kemari dengan paniknya.

"Lakukan sesuatu Garp-Sensei!". "Kau harus bertanggung jawab karena Monster Pulau itu kini mengejar kita!"

"Ini salahmu!" ucap Coby dengan paniknya, karena -sebuah- kebetulan yang tak terduga antara kenyataan dan fikirannya, yang menganggap Monster itu adalah Monster yang di lawan Garp di Pulau Kematian, membuat Coby sangat frustasi dan tidak lagi bisa berfikir jernih.

"Hoaaammm~ hanya Cacing. Kau tidak perlu sepanik itu" ucap kakek tua itu, menguap dengan malasnya.

Tap!

Sekali hentakan kuat Garp menerjang sang Monster. Meski masih menampilkan mimik malasnya, Tangan kanan kakek tua itu sudah menghitam, menandakan dia sudah menyelimuti Tangan kanannya dengan Haki Armor. Jarak semakin menipis, dan Monster itu kembali mengaum dengan kerasnya, membuat siapa pun yang mendengar auman itu merasakan nyeri di Indra Pendengarannya.

"Cacing keparat!". "Kau berisik sekali hah!" desis Garp.

Dan ...

Duaaakkk!

Dengan sekali pukulan telak di pipi sang Monster, Garp berhasil menerbangkan Monster itu ke Langit. Coby hanya memandang aneh sang Guru yang dengan mudahnya mampu mengalahkan Monster itu. Berbeda dengan anak buahnya yang berteriak gembira meneriakan nama Garp berulang-ulang. Kakek tua itu kembali mendarat dengan mulusnya di samping Coby yang masih menatap aneh dirinya.

"Ada apa?". "Kau tidak perlu kaget begitu, kau tau kan aku ini kuat?!" ucap Garp santai, meski nada bicaranya mengandung sedikit kesombongan saat membanggakan dirinya.

"Huh ... Biar kutebak. Monster itu bukan Monster yang kau lawan di Pulau Kematian kah?" tanya Coby sedikit ragu mengingat fikirannya membayangkan sosok Monster itu adalah Monster yang Garp lawan.

"Bukan" jawab Garp santai.

"Sudah kuduga ..."

'Tapi ... Monster seperti apa yang dia lawan di Pulau itu?!' batin pemuda itu mengahiri ucapannya sendiri, dan tentu saja mengahiri keyakinannya.

Sementara itu di tempat Naruto dan teman-temannya.

"Kalian siap?" tanya Naruto. Hinata dan Sasuke hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan di pirang.

"Yosh!". "Kalau begitu ... Ayo berangkat!" ucap Naruto lagi dengan penuh semangat. Dan dua pemuda tampan beserta gadis cantik Hyuuga itu pun mulai berlari di atas Laut. Tapi belum jauh mereka berlari meninggalkan Pulau, perasaan aneh terasa mengganjal di hati mereka.

"Apa ini ... Aku merasakan sebuah firasat buruk!" ucap Naruto seraya menghentikan larinya.

"Jadi kau juga merasakannya ya, Naruto-Kun ..." ucap Hinata yang juga merasakan perasaan yang sama. Sementara Sasuke hanya diam saja meski perasaan itu juga di rasakannya.

Glup ...

Gluupp ...

Tiba-tiba muncul Gelembung yang meletup-letup di sekitar mereka, menghiasi Lautan yang tenang Pagi itu. Dan sedetik kemudian, seekor Monster Laut berbentuk Belut raksasa menerjang mereka dari dalam Air. Beruntung mereka masih mampu menghindari serangan Belut raksasa itu. Meski seorang Ninja, mereka tetap saja terkejut, karena ini kali pertama mereka melihat Monster yang sesungguhnya.

"Woaaaahhhh!". "Monsterrrr!" teriak Naruto dengan paniknya. Sementara sang Monster kembali berusaha menerjang mereka, tanpa mempedulikan siapa yang sedang di hadapi sang Monster.

"Gawat!" desis Sasuke seraya kembali menghindari serangan lanjutan sang Monster.

Ghoaaarrrr!

Monster itu kembali menerjang. Naruto segera membuat sebuah Jutsu, terlihat kini di Telapak Tangan kanannya di hiasi sebuah Bola Spiral berwarna biru muda. Sementara Sasuke terlihat sedang melakukan sederetan Segel Tangan untuk mengeluarkan Jutsunya. Dan dengan sebuah anggukan mereka pun menerjang balik sang Monster dengan Jutsu andalannya masing-masing.

"Aku kanan dan kau kiri!" lanjut Naruto seraya melirik Sasuke, untuk memastikan bagian serangan mereka agar tidak bertabrakan.

"Dimengerti!" balas Sasuke datar. Dengan cepat ke dua pemuda tampan itu melompat ke sisi kiri dan kanan Monster itu.

Dan tanpa ampun ...

"Rasengan!"

"Chidori!"

Desis ke duanya seraya menghantamkan Jutsu mereka masing-masing ke Wajah sang Monster, di bagian kiri dan kanan Tubuh Monster itu. Ledakan yang cukup dasyat tercipta, dan tentu saja membuat Tubuh raksasa hancur tak bersisa, menjadi potongan-potongan kecil, hingga mengotori Laut dengan darah dan daging sang Monster yang sudah tercerai berai.

Tap.

Sasuke dan Naruto mendarat di tempat teman-temannya, setelah melakukan serangan gabungan itu. Mereka terlihat senang setelah mengalahkan sang Monster dengan cukup mudah. Tapi itu tidak lama, karena perasaan janggal kembali menghiasi hati mereka, di tambah fakta jika kini gelembung-gelembung udara yang meletup di Laut semakin banyak saja.

"Apa lagi ini?" gumam Hinata.

Jruaasssshhh!

Seolah menjawab pertanyaan Hinata, kini di hadapan mereka sekitar puluhan Monster bermunculan di Laut dan berebut memangsa daging Monster Belut yang di kalahkan sang Ninja. Dengan ganasnya Monster-Monster memangsa daging yang berserakan di Laut. Bahkan sampai tega melukai Monster lain untuk mendapatkan daging itu.

"Gi-Gila ..." gumam Naruto.

Ting ...

Seekor Monster terlihat menghentikan aksi makannya dan menatap gerombolan Ninja itu, agaknya sang Monster mendengar gumaman si pirang. Di ikuti oleh Monster lain yang satu persatu mulai menatap mereka. Dan setelah mengaum dengan horornya, mereka berlomba-lomba untuk memangsa Naruto dan yang lainnya. Dan itu cukup membuat mereka panik.

"Woooaaahhhh!"

"Lariii!"

Entah bagaimana mereka berhasil selamat dari kejaran Monster-Monster Laut itu, karena berhasil sampai ke Pulau sebelum mereka menjadi santapan penutup gerombolan Monster Laut itu. Dengan pandangan kesal dan tidak puas, gerombolan Monster Laut itu kembali menyelam di Lautan. Letupan-letupan gelembung pun mulai terlihat kembali, hingga ahirnya hilang sepenuhnya.

Hening ...

Laut Kembali tenang ...

"Apa mereka sudah pergi?" tanya Sasuke entah pada siapa, setelah hampir sepuluh menit menyaksikan Lautan yang sudah kembali tenang.

"Kurasa begitu". "Ayo ..." ucap Naruto mulai kembali melangkahkan kakinya di Laut. Tapi tidak ada yang mengikuti pemuda bersurai pirang itu. Sasuke hanya menatap Naruto, seolah-olah sedang menunggu sesuatu, sedangkan Hinata terlihat mengaktifkan Byakugannya.

"N-Naruto-Kun ... Awas!" teriak Hinata saat Indra Pengelihatannya, menangkap sesuatu hal buruk yang akan terjadi. Dan terlihat tiga Monster Laut melompat dari dalam Air bagaikan Lumba-Lumba untuk berebut memangsa Naruto. Tapi terlambat, Naruto sudah di makan oleh salah satu dari Monster Laut itu.

Byuurrr ...

Laut kembali sunyi dan tenang, setelah Monster-Monster itu kembali bersembunyi di dalamnya Lautan. Dan bersamaan dengan hilangnya Monster Laut yang memakan pemuda bersurai pirang itu. Sasuke dan Hinata tentu saja sangat terkejut, mereka tidak percaya jika Naruto akan mati dengan cara yang tragis seperti ini. Menjadi makanan penutup untuk Monster laut di kali pertama si pirang keluar Pulau.

"T-tidak mungkin ..."

"M-mustahil ..."

Blaaarrrrr!

Laut yang tenang itu kembali meledak. Bahkan kali ini, dengan ledakan yang sangat dasyat hingga membuat Pulau yang di kenal dengan nama Pulau Kematian itu bergetar hebat. Air Laut tersapu di jarak tertentu, membentuk sebuah lingkaran yang sangat besar. Dan di dalam lingkaran itu, tepatnya di dasar Laut. Terlihatlah Monster Rubah berekor sembilan yang sedang mengaum dengan kerasnya. Agaknya dia lah yang menjadi penyebab semua ini.

"Keparat kalian semua!" desis Naruto yang saat ini sedang memasuki mode full Bijuunya, tentu saja dengan suara berat nan menyeramkan. Suara dari sang Bijuu yang bernama Kurama, sang Rubah berekor sembilan.

Naruto Piece :: The Ninja.

By Tobi Tobio.

"Aku tidak menyangka pada ahirnya kita mendapat pasukan seperti Monster Laut seperti ini!" ucap Sasuke seraya menyapu pandang dan di sekeliling mereka kini terlihat puluhan Monster Laut berbagai bentuk sedang mengawal kepergian mereka. Mereka sendiri kini sedang duduk santai di atas sang Monster Laut terbesar di antara kawanan itu.

"Itu benar". "Ini semua berkat Naruto-Kun" timpal Hinata dengan senyum manisnya. Berbeda dengan si pirang yang terlihat cemberut meski telah melakukan sebuah terobosan hebat seperti ini.

Alasannya tentu saja karena saat ini fikirannya sedang di penuhi umpatan kesal dari sang Bijuu, Kurama.

"Aku tidak akan pernah menerima semua ini. Sebagai 'wadah'ku kau sudah menghancurkan kebanggaan dan harga diriku!". "Hanya melawan 'Kecebong' seperti itu kau hampir mati!"

"Itu sangat keterlaluan!"

Umpatan dari sang Bijuu tidaklah terhenti di situ. Kurama masih terus mengomel ria sambil memarahi Naruto karena masalah ini. Yap, Kurama yang di percaya menjadi Bijuu terkuat di antara Bijuu-Bijuu lainnya tentu saja tidak terima dengan kekalahan Naruto, terlepas dari apa pun kondisinya, Harga diri sang Bijuu tidak akan pernah menerima sebuah kekalahan, apa lagi dari kumpulan Kecebong seperti itu.

Dan omelan itu sudah pasti membuat Kepala si pirang pening bukan main.

'Kau membuat Kepalaku pening!' batin si pirang saat -ahirnya- omelan Kurama selesai.

"Ini baru awal. Kita tidak tau apa yang akan menghadang kita nanti". "Dunia ini luas. Lawan yang kuat pasti akan bermunculan!" desis Sasuke. Naruto dan Hinata hanya diam saja tanpa mengatakan apa pun.

Marineford.

Beberapa petinggi Angkatan Laut terlihat memasuki Ruangan, dan Garp salah satu dari mereka. Seorang kakek tua dengan Topi nyelenehnya sudah menunggu di dalam Ruangan bersama dengan seorang nenek tua. Di lihat dari Jubah Angkatan Lautnya, mereka pastinya memiliki jabatan yang tinggi dengan sederet Lencana yang menghiasi Jubah mereka.

Satu persatu Angkatan Laut setinggat Kapten ke atas mulai memasuki Ruangan itu, dan menduduki kursinya masing-masing. Tidak ada yang berbicara seorang pun dari mereka, membuat suasana dalam Ruangan itu terkesan mencekam. Garp dan Coby menjadi orang terahir yang memasuki Ruangan itu. Menjadi orang terahir dan berpenampilan -masih- layaknya Mumi, membuat semua Mata mengarah padanya.

"Garp?!" ucap si kakek bertopi nyeleneh, mulai membuka suaranya.

"Monster seperti apa yang kau hadapi hingga membuatmu terlihat menyedihkan seperti itu?!" lanjut kakek tua itu.

"Kau tidak perlu mencampuri urusanku, Sengoku. Kita mengadakan rapat bukan untuk membahas ini bukan?!" desis Garp seraya menatap tajam kakek bertopi nyeleneh itu, yang ternyata di kenal dengan nama Sengoku, sang Fleet Admiral.

"Sepertinya Garp-San sedang galau karena cucunya tertangkap"

"Yap, kurasa dia mencoba bunuh diri!"

"Itu salah cucunya sendiri kenapa dia malah menjadi Bajak Laut kan?!" bisik orang-orang yang ada di Ruangan itu. Coby tentu saja sangat kesal mendengar bisik-bisik itu. Tapi sayangnya dia tidak berani untuk menegur orang-orang itu, selain karena jabatan mereka lebih tinggi, kekuatan ke dua orang itu juga tentu saja lebih kuat dari dirinya.

Mereka adalah seorang pria yang di kenal dengan nama Aikanu dan Kizaru. Dua dari tiga Admiral yang terkenal baik di kalangan Angkatan Laut atau pun para Bajak Laut. Garp memang tidak mengatakan apa pun, tapi jelas terasa aura membunuh menguar dari Tubuh kakek tua itu pada ke dua Admiral terkuat itu, seraya menatap intens mereka dari tempat duduknya.

"Hentikan ucapan kalian jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian" ucap seorang pria jangkung yang di kenal dengan nama Aokiji. Aikanu dan Kizaru berhenti seketika seraya melirik Garp yang masih menatap mereka dengan perasaan was-was.

"Dia begitu sensitif jika menyangkut cucu-cucunya ..." gumam Aokiji, mengingatkan ke dua rekannya sesama Admiral.

"Ehem~"

"Bisakah kita mulai rapat ini?"

"Aku ingin memberitaukan apa yang di inginkan Pemerintah Dunia untuk Protgas D Ace!" ucap Sengoku mencoba mencairkan suasana dan tentu saja membuka isi rapat.

"Memangnya apa yang di inginkan Pemerintah Dunia?" tanya Garp.

"Eksekusi mati!"

Deg ...

Meski sudah tau ini akan terjadi, tetap saja Jantung kakek tua itu berdetak cepat, seiring dengan perasaan tak menentu yang kembali menyeruak di hatinya. Garp terlihat menghembuskan nafas berat untuk menenangkan diri.

"Sudah kuduga". "Mereka pasti menginginkan hal itu ..."

BERSAMBUNG.

Maaf atas keterlambatannya, Tobi sibuk sekali minggu kemarin karena harus lembur untuk mengejar Death Line, karena tiga hari Tobi sakit. Dan syukuran kecil-kecilan dari orang tua dan beberapa orang-orang terdekat Tobi untuk merayakan Ulang Tahun, juga cukup menyita waktu menulis Tobi.

Dan inilah hasilnya, fict ini publish sangat 'molor' dari yang seharusnya.

Maaf sekali lagi.

Oh iya, untuk Naruto dan Sasuke bisa di pastikan memiliki semua kekuatannya (sesuai Manga/Anime) kecuali mode Indra Ashura. Dan tambahannya (untuk Naruto) memiliki full Bijuu, tidak setengah-setengah seperti di Manga/Anime.

Next update Naruto DxD :: True Longinus (semoga bisa publish sesuai jadwal).

REVIEWNYA ...

VVVVVV

VVV

V