PART 2

Ada masukan dari review di ffn, detail tempatnya kurang, maka dari itu akan lebih diperhatikan untuk background locationnya.

Selasa, jam 1 siang di rumah Jr.

Jr lagi bingung, jongkok sendirian di garasi rumahnya yang kosong.

Bingung.

Ayahnya nggak mau ngasi modal buat sewa tempat, cuma dipinjami garasi rumah mereka. Pintar-pintarnya dia aja.

Masalah utamanya adalah dana terbatas. Mending buat beli bahan pokok dulu aja, nanti kalau udah hasil baru...

"Semangat ya, Mas." Roa lewat, mau berangkat ngampus.

"Ya, ya, cepet pulang, terus bantuin."

Sendirian di rumah sekarang Jr. Ayah ngantor, bunmi nya menghilang entah kemana.

Bosen, bingung, buntu.

Kangen Ren...

Rennya lagi ngantor.

Setengah jam Jr jongkok di ambang pintu garasi yang terbuka. Nungguin ide yang nggak dateng-dateng.

"Mbak Wendy!" seru Jr yang tiba-tiba cerah secerah mentari. Bukan karena Wendy nya, tapi kardus di tangan Wendy.

Yang dipanggil berhenti dan menoleh.

Jr bangkit menghampiri Wendy yang masih setia matung di tengah jalan, untung nggak ketabrak.

"Itu mau dibuang?" tanya Jr menunjuk balok-balok huruf dan angka aneka warna di kardus yang dibawa Wendy.

"Oh ini?" Wendy melirik sampahnya. "Iya, gimana?"

"Buat saya aja boleh?"

"Oh! Boleh banget!" Seru Wendy senang. Jelas senang, bak sampah masih jauh dan kalau diminta Jr berarti dia bisa balik langsung sekarang.

Jr menerimanya dengan senang hati.

"Makasih! Masih ada lagi nggak?"

"Masih! Banyak!"

Jr senyum canggung. "Ya selow aja, Mbak, semangat banget."

Wendy jadi malu. "Hehehe... Iya, ambil aja, saya tunggu di rumah."

Jr tepar setelah bolak balik ngambil sisa sisa barang tak terpakai dari rumah Wendy yang mau pindah ke Amerika.

Garasinya sekarang bukannya rapi malah tambah berantakan bak gudang. Jr nya udah nggak ada tenaga lagi buat beresin.

Tapi ada tenaga buat jemput Ren!

Jr baru inget kalo Ren minta dijemput di kantornya jam empat, sepuluh menit lagi. Langsung dia lompat, lari ke kamar mandi. Mau ketemu pacar harus wangi dong.

Jr menunggu dengan setia di dalam mobil, udah lebih dua puluh menit tapi Ren nya belum nongol.

Capek, jadi dia turunin sandaran joknya jadi setengah tiduran. Sambil istirahat, memulihkan tenaga.

Suara dering ponselnya yang begitu nyaring membangunkan Jr yang baru aja sampai ke alam mimpi.

Telepon dari Ren.

"Lama amat? Mum kering nih nunggunya, mana udah mau pingsan kelaparan."

"Udah di depan nih dari tadi."

"Mana? Gue di jendela atas nih."

Jr mendongak, ada memang sosok cantik di belakang salah satu jendela atas.

"Gue di mobil. Parkir depan pintu persis."

"Mobil biru?"

"Yup."

Ren memutuskan sambungan telepon. Lagi jalan turun kali.

Jr ngaca di spion tengah, mastiin tatanan rambutnya sesuai harapan dengan poni di depan dan nggak keliatan botak.

Sesaat kemudian Ren muncul dengan setengah berlari dan langsung masuk ke dalam mobil.

"Bilang dong dari tadi kalo pake mobil ini," oceh Ren begitu pantatnya bertemu dengan jok mobil.

"Hahaa.. Lupa. Mobil yang itu dibawah ayah, mau dicuciin gitu katanya." Jr mulai menjalankan mobilnya. "Lagian enak pake mobil ini kan, lebih luas," ujarnya sembari melirik ke Ren kemudian ke belakang. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum kecil penuh arti.

"Mum," panggil Jr ketika pacarnya nggak juga ngerespon.

Mum n Dad adalah panggilan sayang baru mereka sejak malming lalu, sejak Jr beliin Ren boneka yang ceritanya dijadiin anaknya JRen gitu.

"Hm?"

"Yuu..."

"Apa?" Ren menanggapinya dingin. Ngerti sih apa yang dimaksud sama Jr.

"Yuk..."

"Males ah."

"Yaaah..."

"Sore sore masi terang gini, gila kali!"

"Rumah kosong lho."

"Haah... Ya deh, makan dulu tapi."

Kalah juga kan Ren akhirnya. Awalnya emang males tapi nanti kan jadi ketagihan.

JRen masih kelonan di atas ranjang, masih 'nyatu' juga walaupun dua dua nya udah kehabisan tenaga dan nggak ada niat buat lanjut lagi malam ini.

Kamar Jr baunya udah beda banget setelah pertempuran enam jam keduanya, siapa aja yang masuk sini pasti tau pemiliknya habis ngapain. Salahin Ren yang dikit dikit 'keluar', Jr mah setrong

Belum lagi buntelan-buntelan karet kecil berisi cairain putih yang bertebaran di samping ranjang.

Rusuh pokoknya.

"Mandi yuk, gerah ni," bisik Jr yang udah balik ke bumi setelah tadi terbang melayang layang.

"Ha? Heh? Bentar ah."

"Keburu pada pulang, ntar kepergok Roa lagi."

Dengan susah payah Jr 'melepaskan diri' dan membantu Ren bangkit dari ranjang, mendorongnya menuju ke kamar mandi di samping kamar seperti sedang main kereta keretaan.

"Mas... Mas... Mas Jr..." lagi asyik mandi berdua malah diteriakin dari depan pintu.

"Bentar, bentar, nanggung!" Sahut Jr masih sambil nyabunin punggungnya Ren.

"Mules, Mas!"

"Pake wc bawah aja. Masih sabunan ni."

"Wc bawah mampet, ayah tadi boker nggak bisa disiram jadi ngambang semua! Cepetan!" Roa nyender di pintu kamar mandi, nahan mules.

"Ya, ya, bentar!"

JRen cepet-cepet bilasan, handukan, terus pake baju. Jr kasian adiknya.

"Lah pantes lama, berdua sih," ucap Roa begitu melihat keduanya keluar dari kamar mandi. Nggak nunggu jawaban dia langsung masuk dan nutup pintu, dah nggak tahan lagi mau nglahirin minion.

"Bantu bersihin garasi ya?" Jr menatap Ren penuh harap. "Karena segala sesuatu yang dilakukan berdua pasti lebih menyenangkan."

Ren menghela nafas dan membuangnya kasar. "Pacaran sama bugi emang selalu capek!"

TBC

Read Review.