ATTENTION: This story belongs to Zephyr Seraphim. I am just translate this fanfic into Bahasa Indonesia. You can go to Zephyr Seraphim's page to read the ORIGINAL one (in English).
Note: Thanks sudah baca. Balesan review di bawah. Saya ga pantes nerima pujian. Cukup dukung saya aja untuk selalu translate :D Chapter kedua emang singkat banget aslinya jadi... jangan kecewa. FYI: Saya sudah mendapat ijin dari author-nya untuk mentransletkan fanfic ini :D
Author: Zephyr Seraphym
Translated by Ciel Pockyhive.
Disclaimer: semua karakter milik J.K Rowling. Ide cerita fanfic ini milik Zephyr Seraphim.
Why We Fight (Indonesian version)
.
PART 2:
Things That Were...
.
.
Snape duduk di mejanya, melirik sekitar kelas, lega bahwa ia telah tersingkir dari sebagian besar para idiot lima tahun terakhir ini. Merlin, ia akhirnya berhasil menyingkirkan Neville Longbottom. Dengan menyingkirkan si kikuk Gryffindor membuatnya lega. Hampir. Dia bisa saja santai (kecuali untuk fakta bahwa Crabbe dan Goyle berhasil untuk tinggal di kelas) tapi ternyata tidak.
Matanya yang gelap mengerling ke sekitar kelas; Potter tampak siap membunuh Gregory Goyle, Weasley memelototi Vincent Crabbe, tangan Granger bergetar ketika mengukur bahan-bahan untuk Ramuan Animus. Senyum sadis melengkung di bibir Snape... ia tampak sangat menikmati pemandangan dari pasangan-pasangan tersebut. Tapi sebenarnya ia punya tujuan juga. Di bawah perintah Dumbledore, para pengajar diberi kekuasaan melakukan apa saja agar asrama yang satu dengan yang lain rukun. Maka dari itu, Snape sengaja mengelompokkan Gryffindor dengan Slytherin.
Dia kembali menatap teka-teki silang Witch Weekly yang telah ia isi sebagian sambil memikirkan pelajaran di hari berikutnya. Dia memperhatikan kelasnya bahkan saat ia mencoba untuk memikirkan tujuh huruf untuk "kesalahan yang mengerikan," ia tidak pernah kehilangan kesempatan untuk mengambil poin dari tiga anak Gryffindor itu. Lalu, bagaimana dengan kesalahan Draco yang selalu ia lewatkan? Hal itu yang tidak diketahui Snape.
Ada ledakan keras dan Snape mendongak, menatap kuali yang memuntahkan isinya ke arah Hermione Granger dan Draco Malfoy. "Granger Apa sih yang kau lakukan?" bentak Profesor Snape. Dia tidak menduga ini dari dua siswa terbaik. Dia telah membuat mereka satu kelompok... seharusnya mereka mendapat manfaat dari kecerdasan masing-masing. Dia agak berharap keduanya dapat menjadi Kepala Murid dan melupakan perbedaan mereka.
Dia berjalan ke tempat duduk mereka dan melihat bahwa keduanya telah menghilang dengan tas mereka. Severus Snape mengerang pelan, menggosok dahinya. Apa yang mereka lakukanpadaramuanmereka? pikirnya, memeriksa ramuan merah muda itu dan kemudian mengambilnya. "Kelas dihentikan!" ia berteriak.
Seluruh murid bergumam penasaran; tidak ada satu pun yang keluar hinga beberapa saat bel berbunyi. "Saya, bilang keluar!" geramnya. Para murid mengemas barang-barang mereka. "Potter, Weasley, kalian tinggal." Harry Potter dan Ron Weasley menghentikan langkah mereka di tengah kerumunan murid yang menghambur keluar kelas. "Panggil kepala sekolah." Keduanya meletakan tas mereka.
"Err... Profesor, apa ingin kami katakan padanya?" tanya Ron
"Lima poin dari Gryffindor! Lakukan saja perintahku," kata Snape. Keduanya pun segera keluar kelas untuk menghindari pengurangan poin lagi dari asrama mereka. Dia mengerutkan kening, "Bagaimana mereka bisa bodoh begitu."
Dia mengerutkan kening membayangan hal-hal yang ia takutkan terjadi. Jika keduanya kembali, ia tidak akan ingat apa yang telah terjadi sebelumnya... hanya apa yang mereka telah ubah. Dia menelan ludah saat tiba-tiba gadis berambut coklat tebal dan lelaki pucat berambut platinum-pirang melintas di ingatannya saat kelas Arithmancy-nya pada hari kedua dari sekolah di tahun ketujuh lalu. Dia tahu persis dimana Hermione Granger dan Draco Malfoy telah berakhir...
Mata hitam Profesor berambut-berminyak itu tampak lebih legam dan ia tahu apa jawaban TTS yang sulit dipahami tadi.
Jawabannya adalah: bencana.
Bersambung...
Note:
Jangan bunuh saya kalo chapter ini singkat. Salahkan author-nya XD /plakplok
Cerita ini udah sampe chapter 40an lho.. Saya bakal usahain translet sampe tamat. Ada juga fanfic fanfic luar lain yg mau saya translet. BANYAK BANGET YG BAGUS!
Btw, makasi buat yg udah review Klasik: Breakaway saya. Udah lebih dari target lho :D dobellll!
Chapter 2 mungkin saya publish minggu depan.
Untuk Chapter ke-3 fanfic ini mungkin minggu depan juga ya :D
Banyak bahasa inggris yg kita ngerti artinya tapi susah buat jelasinnya ke bahasa indo. Nah ada juga sih yg saya karang-karang gitu. Tapi ga melenceng dari cerita asli kok :D
Saya seneng banget pen-name saya ada di ffn nya Zephyr X') hehe. Saya salting PM-an sama dia :/3 #edisicurhat
Balesan Review:
Ran: ini lanjutannya :D
Guest: Makasi ya XD udah aku edit di chapter 1. Makasi udah ngasi tau arti "Dingier"
Irma Nasution: ini lanjutannya :D
Ocha Malfoy: iya author yg bikin cerita ini emang kece XD ini lanutannya :D
Zaphyre: bukan saya yg kreatif :D saya Cuma translate doang
Driccha: ini lanjutannya :D
GiaMione: hehe XD kamu baca sambil pake kamus aja :3 banyak lho fanfic luar yg bagus2.
THANK YOU TO ZEPHYR SERAPHIM FOR ALLOWING ME TO TRANSLATE "Why We Fight" :-)
Credits: Zephyr Seraphim
