Hari itu adalah hari Senin. Erza nampak sedang menunggu seseorang, pastinya yang dia tunggu adalah Jellal. Entah apa Jellal menepati janjinya atau tidak. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Sebentar lagi masuk tetapi batang hidung Jellal belum kelihatan juga. Erzapun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kelas. Dari kejauhan ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang terburu-buru, ternyata dia adalah Jellal.
"Lama sekali kamu" Kata Erza dengan nada bicara agak sedikit marah
"Maaf, tadi aku bangun kesiangan"
"Ya sudah ayo masuk, bel masuk sudah berbunyi"
Semua yang melihat Jellal masuk hanya terdiam, seakan-akan semuanya tak peduli padanya. Pak guru sendiri hanya terdiam melihat Jellal yang masuk kedalam kelas bersama Erza. Pelajaranpun dimulai, semuanya nampak memperhatikan tetapi tidak dengan Jellal. Ia malah menatap ke jendela sambil memandang langit biru. Pak guru menyadarinya lalu berteriak dari kejauhan.
"Jellal sedang melihat apa kamu?!"
"E..ehh…I-ituu…"
"Jawab!"
"A..aku…"
Jellal tak bisa menjawab akhirnya pak gurupun menyuruhnya keluar dari kelas. Saat istirahat Jellal kembali masuk ke kelas dan duduk dibangkunya seakan-akan tak ada masalah apapun. Erza langsung menghampirinya.
"Ada apa denganmu?"
"Tidak ada apa-apa"
"Kamu tadi tidak memperhatikan pelajaran dan seperti memikirkan sesuatu, pasti ada sesuatu"
"Sudah kubilang aku baik-baik saja"
"Apa yang kamu lihat?"
"Langit biru, itu saja, apa pendapatmu tentang langit biru?"
"Indah" Jawab Erza singkat
"Indah dan bersih…Ya kan?"
"Ya kau benar"
Mata Jellal terus mengarah ke jendela. Erza sendiri hanya terdiam melihat sikap Jellal yang seperti itu. Tak terasa bel pulangpun berbunyi. Jellal berjalan sendirian di koridor sekolah sesampainya diluar sekolah ada beberapa anak dari sekolah lain yang menghadangnya.
"Hey, berhenti"
"Ada apa?" Tanya Jellal santai
"Kamu ingat kami kan?"
"Ya, Sting dan Rogue ada apa mencariku?"
"Kami ingin membuat perhitungan denganmu itu saja" Kata anak bernama Sting
"Aku tidak mau ikut campur" Kata Rogue
"Ya sudah, hey Jellal kamu ingat kan tentang kejadian seminggu yang lalu?"
"Ya aku ingat, lagipula aku hanya melempar sebuah batu ke arah kelasmu mengapa kamu mempersalahkan hal itu?"
Sting tak menjawab pertanyaan Jellal, ia langsung memukulnya dan Jellal langsung terjatuh. Pukulan demi pukulan terus Sting arahkan ke Jellal tetapi Jellal tak membalasnya. Iapun berakhir dengan babak belur, tetapi Jellal tak pedul,i ia bangkit meninggalkan mereka berdua. Ibu Jellal merasa khawatir melihat anaknya menjadi babak belur. Jellal naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya, ia duduk diranjang dan tiduran.
"Mengapa aku melakukan hal bodoh seperti ini?"
"Jika ibu tau ia pasti sedih…Erza juga pasti sedih…"
"Mystogan juga…Pasti…Sedih, pasti Mystogan kecewa padaku, iya kan?"
"KUMOHON SIAPAPUN JAWAB PERTANYAANKU! Mengapa, mengapa aku jadi begini mengapa?!"
Air matapun menetes dari matanya. Bahkan suara tangisannya terdengar sampai ke bawah. Buru-buru ibu Jellal menghampirinya lalu memeluk anaknya itu.
"Jellal kamu kenapa?" Tanya ibunya khawatir
"Ibu, a..apa…aku bodoh?"
"Mengapa kamu bertanya seperti itu? Bagi ibu kamu adalah anak yang pintar"
"Ta…ta…pi…aku….se-sering mem….buat….i-ibu ke…kecewa" Ucapnya tersendat-sendat
"Meski kamu sering membuat ibu kecewa, ibu tetap sayang padamu. Senakal apapun seorang anak seorang ibu yang baik akan selalu menyayangi anaknya"
Jellal menangis dalam pelukan ibunya, sudah begitu lama ia tak merasakan hangatnya pelukan ibu. Memang, memang benar semenjak kematian Mystogan semuanya berubah. Mulai dari sifatnya Jellal, perilaku ayah dan ibunyapun berubah. Ayah yang biasanya begitu ceria semenjak kematian Mystogan menjadi sangat pendiam. Ibu yang biasanya juga ceria kini menjadi pemurung dan antisosial. Sebuah kematianpun bisa menghancurkan keluarga, begitu pikir Jellal.
Esok harinya seharusnya Jellal berangkat ke sekolah, tetapi ia malah pergi ke sebuah sungai yang tak terlalu jauh dari sekolah. Meski menggunakan seragam tetap saja ia nekat tak berangkat ke sekolah. Kebetulan Erza melihatnya.
"Hoii Jellal…"Teriak Erza dari kejauhan lalu mendekatinya
"Apa sih?" Tanya Jellal
"Sekolahnya disana bukan disini"
"Ya aku tau"
"Kalau begitu ayo…"
Erza menarik tangan Jellal hendak membawanya ke sekolah, tetapi Jellal tetap ngotot tidak mau pergi ke sekolah. Merasa ada yang aneh dengan Jellal, Erza duduk disebelahnya dan mengajaknya berbicara.
"Kamu kenapa? Wajahmu seperti habis dipukuli"
"Memang, kemarin ada anak dari sekolah lain yang memukuliku. Karna aku melempar batu ke kaca kelas mereka"
"Itu salahmu sendiri mengapa kamu melakukannya"
"Entahlah aku tidak tau…"
"Baka…Jika kamu melakukan hal itu lagi ibumu pasti sedih. Lebih baik kamu merenungkan segala perbuatanmu"
Erza bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Jellal, sebentar lagi memang waktunya untuk masuk ke sekolah. Jellal sendiri tak peduli dengan kepergian Erza, ia merasa harus merenungkan segala perbuatannya seperti yang dikatakan Erza.
"Aku memang bodoh, melakukan hal itu tanpa alasan tertentu. Padahal aku tak memiliki dendam dengan mereka"
"Aku merasa hidupku kacau, hanya karna sebuah kematian hidupku menjadi kacau begini…Aku tak bisa merelakan Mystogan, aku terlalu sayang padanya…Sekarang aku sudah memiliki Erza, aku juga sayang padanya, aku tak ingin kehilangan lagi…"
Hanya itu yang aku ingin, tak kehilangan seseorang yang kusayangi. Sambil menggambar Jellal terus berada di sungai itu sampai siang. Entah apa yang dia gambar. Sebentar lagi jamnya pulang sekolah, Jellal memutuskan untuk menunggu Erza didepan gerbang sekolah. Tak lama menunggu Erza sudah keluar dari sekolah.
"Jellal?"
"Hai…"
"Kamu menungguku?"
"Tidak, aku hanya kebetulan lewat…Mau kuantar pulang?"
"Boleh"
Sebelum sampai di rumah Erza mereka harus menyebrang dulu. Saat hendak menyebrang ada sebuah mobil yang ngebut, Erzapun tak sempat menghindar. Jellal mendorongnya sehingga ialah yang tertabrak. Erza kaget dan menangis saat itu juga, ia takut Jellal mati karna lukanya begitu parah. Ambulanpun datang, Erza pergi ke rumah sakit dan menunggu diruang tunggu. Ibu Jellal pergi menghampiri Erza.
"Ada apa dengan Jellal?"
"Dia kecelakaan karna menyelamatkanku, sekarang kondisinya kritis"
Ibu Jellal langsung menangis saat itu. Erza sendiri menunduk dan menangis diam-diam, mengapa hal ini harus terjadi? Setelah kondisi Jellal mulai stabil Erza dan ibunya Jellal masuk dan menengok Jellal.
"Nak, kamu baik-baik saja?"
"Aku baik ibu, ini tidak sakit kok…"Jawabnya sambil tersenyum
"Bu aku ingin berbicara sebentar dengan Erza, apa boleh?"
"Ya boleh"
Kini hanya Erza yang berada di ruangan itu. Suasana hening untuk sementara, hingga akhirnya Erzapun membuka mulut.
"Maafkan aku…"
"Maaf untuk apa?"
"Jika kamu tidak menyelamatkanku, kamu tidak akan terbaring di rumah sakit"
"Sudahlah tidak apa-apa, lihat sekarang aku baik-baik saja kan? Aku masih hidup"
"Tetapi tangan kananmu…"
"Memang tangan kananku patah, mungkin aku takkan pernah bisa menggambar lagi"
"Lihat! Karna aku kamu kehilangan tangan kananmu, aku menyesal…"
"Aku saja tidak menyesal mengapa kamu menyesal? Oh iya aku ingin memberikanmu sesuatu" Jellal menyodorkan buku gambarnya
"Memang kamu menggambar apa?"
"Lihat saja"
Erza melihat jika Jellal ternyata menggambar dirinya. Erzapun kembali menangis, meski ia menangis hanya sebelah mata saja.
"Terima kasih, gambar ini indah"
"Itu adalah kado dariku…Kamu bergitu berharga bagiku jangan sampai aku kehilanganmu"
"Aku juga tak ingin kehilanganmu, kamu adalah teman yang berharga bagiku"
Mereka berduapun saling bertatap muka dan tersenyum. Itu pertama kalinya Erza melihat senyum Jellal, ia berjanji takkan pernah melupakannya. Semenjak kecelakaan itu Jellalpun kembali menjadi dirinya sendiri, meski ia kehilangan tangan kanannya yang penting ia masih memiliki Erza mungkin bagi Jellal. Erza adalah tangan kananya…
Tamat
A/N : Ceritanya jelek ya? Maaf klo jelek, RnR aja
