(A/N: Chapter 2 is up! Hueh, padahal dari kemaren chapter 2 dan 3 udah selese. Gw ga ada waktu terus buat kopas dan aplot ke FFnet, huhuhu(sebenarnya lebih karena malas). Neway, gimana para pembaca? Udah bisa menangkap inti ceritanya? Maaf deh kalo masih binun, heuheu. Ini adalah side story dari plot RPG yang sudah pernah berjalan. Karena disesuaikan dengan sikon di site RPG tersebut, jadi ya maaf saja kalau kurang sesuai sama HPverse. Tumben-tumbenan, kemajuan FF ini melesat kilat kek kereta monorail Jepang. Gw berusaha menyelesaikan FF ini sebelum gw mudik, yang mana adalah tanggal 27 September pagi yang mana adalah tinggal 4 hari lagi, sementara setengahnya aja belum selese --" Dan sampe sekarang gw masih belum ingat nama Prefek Slytherin di Hogsid siapa --"" Haha. Well, enjoy these chapters. Gw lagi baik hati nih. Gw aplot 2 chapter sekaligus. Noh, baik pan gw? Wakaka)
Tok… tok… tok…
"Sayang, Ibu masuk, ya?" ketukan halus di pintu kayu ganda disusul sapaan hangat yang amat Celeste kenal. Ibunya. Celeste tak menjawab, bimbang. Dia bahkan tidak bergerak dari atas tempat tidur. Dia memang lupa mengunci pintu kamarnya, satu hal yang dia sesali. Yang benar kau tak ingin Ibu masuk? Bukannya justru kau ingin ditemani olehnya saat ini? Celeste tak sanggup menyangkalnya.
Mendapati pintunya tidak dikunci, Ayano memutar kenop pintu, dan masuk. Berharap putrinya tidak keberatan dia masuk sebelum Celeste mengizinkan. Bagaimanapun dia harus masuk. Celeste tak bisa dibiarkan terlalu lama salah paham pada Rigel. Keadaan seperti ini tak boleh berlangsung lama.
"Sayang?" Ayano menyapa putrinya. Celeste seolah tidak mendengar kedatangan siapapun. Dia tetap bergeming di atas tempat tidurnya, badannya menelungkup ditutupi selimut. Namun Ayano yakin putrinya tidak tertidur. Tanpa kata, Ayano duduk di sebelah Celeste. Membelai rambutnya dengan lembut. Menunggu. Menunggu hingga putrinya membuka suara dengan sukarela.
"Ibu?"
"Ya, Sayang?"
"Ibu… tahu tentang Ayah?" Celeste tak yakin hendak bertanya apa. Dia bahkan tak yakin ibunya mengerti akan apa yang ia tanyakan. Terlalu banyak hal berjejalan di kepalanya. Terlalu banyak pertanyaan, hingga dia tak tahu apa yang seharusnya dia tanyakan lebih dulu.
Di sisi lain, Ayano tersenyum. Bagaimanapun Celeste adalah putrinya, tak ada alasan baginya untuk tidak mengerti isi hati putrinya. Ayano mengerti sepenuhnya.
"Sayang, kau ingat cerita Ibu tentang bagaimana Ayahmu dan Ibu bertemu?" Celeste terdiam, mengorek ingatannya dalam-dalam. Dia mengangguk pelan. Ibunya sudah sering
menceritakannya, sudah seperti dongeng sebelum tidur saja. Apakah itu semua juga kebohongan? Mengingat ceritanya terdengar amat sangat seperti dongeng Cinderella. Ibunya yang seorang wartawan mendapat tugas membuat biografi Ayahnya yang seorang bangsawan. Karena itu mereka sering bertemu. Selama beberapa bulan, Ayano mengikuti Rigel layaknya seorang manager, demi kelancaran biografinya. Pertemuan demi pertemuan, Ayano dan Rigel semakin akrab. Setelah artikel Ayano selesai pun, Rigel masih sering mengundangnya makan siang.
Undangan-undangan Rigel berlanjut dengan undangan makan malam, hingga undangan untuk menemaninya hadir ke beberapa pesta. Puncaknya, pada Pesta Tahun Baru, Rigel melamar Ayano tepat pada pukul 12 malam saat kembang api diledakkan.
"Semua itu benar, Sayang. Untuk apa Ibu berbohong padamu tentang kisah pertemuan kami?" Ayano seolah bisa melihat keraguan terpancar di mata Celeste.
"Ibu… kapan Ibu mengetahui kalau… kalau Ayah penyihir? Saat Ibu menerima lamaran Ayah, apakah Ibu sudah tahu kalau Ayah itu penyihir?" hal inilah yang amat menggelitik keingintahuan Celeste. Tadi Rigel jelas-jelas mengatakan kalau dia masih menganggap Muggle itu rendahan pada saat dia bertemu dengan Ayano. Apa sebenarnya yang membuat ayahnya itu bisa berubah?
"Saat pertama kali bertemu, Ibu memang tidak tahu kalau ayahmu itu penyihir. Tapi Ibu merasakan ada sesuatu yang berbeda pada diri Ayahmu. Jujur, saat itu Ayahmu hanya bersikap formal dan seperlunya pada Ibu. Sekedar menjaga agar pamornya sebagai bangsawan pengusaha dengan perusahaan yang sedang berkembang tidak jatuh di hadapan wartawan media seperti Ibu," Ayano berhenti sejenak. Bimbang. Akankah dia menceritakan keseluruhan ceritanya? Ya. Benar sekali. Ayano dan Rigel memang tidak berbohong pada Celeste. Namun ada hal yang tidak mereka sampaikan pada Celeste.
"Entah sejak kapan sikap ayahmu menjadi berbeda pada Ibu. Dia jadi lebih tulus dalam bersikap. Sampai suatu hari, Ibu memergoki ayahmu sedang berbicara pada kepala seseorang di perapian. Yah, sekarang aku sudah terbiasa melihat hal itu. Tapi dulu, Ibu sangat kaget. Kalau tidak salah Ibu sampai pingsan," Ayano terkekeh geli mengingat kembali kejadian konyol itu.
"Dan Ayah mengaku pada Ibu kalau Ayah itu penyihir?" Ayano mengangguk. Meski hal yang sebenarnya tidak sesimpel itu. Biarlah. Untuk saat ini, biarkan Celeste puas hanya dengan penjelasan itu. Belum saatnya bagi Celeste mengetahui semuanya. Dia masih belum dewasa.
"Kenapa Ayah tidak meng-Obliviate Ibu saja? Aku yakin Ayah lihai dalam mantera itu," Kami-sama, tolong jangan biarkan putri kecilnya ini bertanya lebih jauh lagi.
"Ibu juga tidak tahu, Sayang. Yang jelas, sejak saat itu ayahmu berubah. Kenyataan kalau ayahmu adalah seorang penyihir, membuat Ibu sering bertanya mulai dari hal-hal kecil, konyol, sampai hal-hal besar mengenai masalah dunia sihir. Dan tahukah kau?" Ayano memancing putrinya. "Suatu kali Ibu bertanya, bagaimana sikap para penyihir terhadap orang-orang non penyihir, atau Muggle, menurut penyebutan kalian. Ayahmu menjawab," Ayano berhenti sejenak. Senyuman terukir di wajahnya. "Mungkin ada beberapa penyihir yang memandang rendah Muggle hanya karena mereka tidak tahu apa yang diketahui penyihir. Tapi secara keseluruhan, penyihir berusaha untuk hidup berdampingan dengan damai bersama Muggle," lanjut Ayano.
"Dari situlah, Ibu sadar kalau ayahmu sudah menjadi pribadi yang berbeda sejak pertama kali kami bertemu," kata-kata Ayano jelas masih terasa janggal bagi Celeste. Bagaimana caranya ayahnya berubah?
"Lalu saat Ayah melamar Ibu, Ibu menerimanya begitu saja?" Ayano mengangguk.
"Ayahmu sudah menceritakan tentang pandangan keluarga besarnya pada Ibu. Padahal ayahmu sadar kalau dengan menikahi Ibu, itu berarti dia harus siap kehilangan segalanya. Harta, titel bangsawan, jaminan hidup layak dengan tempat tinggal yang nyaman, semuanya. Tapi ayahmu masih tetap melamar Ibu. Dari situlah Ibu yakin kalau Ayahmu benar-benar sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Ibu percaya kalau dia tidak main-main. Maka dari itu, Ibu menerima lamaran ayahmu. Dan Ibu siap dengan segala resikonya," tutur Ayano lembut. Sepanjang cerita Ayano, Celeste hanya bisa terpaku mendengarnya. Nalarnya sama sekali tak bisa menerima. Dia tetap merasakan ada suatu keganjilan di sana. Masa semudah itu Ibu percaya pada Ayah? Apalagi mereka belum lama berkenalan. Apa sebegitu besar cinta Ayah dulu pada Ibu sampai Ayah memutuskan untuk melamar Ibu dan dibuang oleh keluarganya?
"Ibu percaya begitu saja pada Ayah? Ibu tidak takut Ayah hanya mempermainkan Ibu?" Ayano bisa merasakan kalau putrinya belum puas. Maaf Nak, Ibu tak bisa mengatakan semuanya sekarang. Itu bukan hak Ibu. Biarlah ayahmu yang menyampaikannya. Ayano mengangguk.
"Hingga saat ini, apakah kau pernah melihat ayahmu kembali pada tabiatnya yang dulu seperti dia ceritakan?" Celeste menggeleng pelan. "Apa yang harus dibuang ayahmu untuk melamar Ibu bukanlah sesuatu yang kecil. Ketetapan hati ayahmu untuk melakukannya sudah membuat Ibu yakin akan keteguhan hatinya, yakin kalau ayahmu benar-benar serius untuk berubah. Ditambah lagi, setelah sekian lama hidup bersamanya, Ibu belum pernah melihat ayahmu kembali pada tabiat lamanya sekalipun. Dia benar-benar berusaha keras, kau tahu? Dan Ibu patut menghargainya," Celeste terpekur. Sebegitu besarkah kekuatan cinta, hingga membuat seseorang rela membuang semua yang dimilikinya? Dia tidak tahu. Dia masih kecil. Pikirannya belum sampai untuk memahami kompleksitas pemikiran para orang dewasa. Akankah dia memaafkan ayahnya? Dia pun tak tahu.
"Manusia tidak hitam, tidak juga putih, melainkan abu-abu. Ada kalanya abu-abu itu menggelap, ada kalanya bertambah terang. Manusia adalah apa yang dibentuk oleh lingkungannya. Ayahmu tumbuh di lingkungan yang memuja kemurnian darah, tak heran kalau dia pun berpikiran sama. Seiring berjalannya waktu, mata ayahmu mulai terbuka. Yang
terpenting dari seorang manusia bukanlah masa lalunya, melainkan masa kini. Tidak membawa masa lalumu ke masa kini seburuk apapun itu, itulah yang terpenting. Dan ayahmu sudah melakukannya," kata-kata Ayano mengalir bagaikan embun penyejuk di telinga Celeste. Ibu…. Kenapa ibunya adalah orang yang sangat pengertian juga penuh kasih sayang seperti ini? Celeste telah dibutakan sesaat, oleh rasa shock karena mengetahui masa lalu ayahnya. Ya. Semua perkataan ibunya benar. Seburuk apapun ayahnya di masa lalu, yang terpenting adalah sosok ayahnya yang sekarang. Yang sudah dilihatnya selama sebelas tahun hidupnya.
"Ibu," Celeste membuka suara.
"Ya, Sayang?"
"Ayah…. Pasti kecewa padaku saat aku lari tadi," Celeste memeluk kedua lututnya. Dia tak punya muka untuk menghadapi ayahnya kali ini. Tindakannya tadi benar-benar tindakan seorang pengecut, lari begitu saja.
"Kecewa, iya. Tapi ayahmu juga mengerti kalau kau perlu waktu. Nah, sekarang, apa kau membenci ayahmu atas semua yang sudah ayahmu ceritakan?" Celeste tak langsung menjawab. Bencikah dia pada ayahnya? Dia marah, ya. Marah karena baru mengetahui hal ini setelah sebelas tahun hidup bersama ayahnya. Tapi…. Benci?
Tidak. Celeste tak sanggup membenci ayahnya. Celeste terlanjur menyayangi ayahnya. Dia menggeleng pelan.
"Bagus," Ayano tersenyum cerah. "Anak baik. Ibu tahu kau pasti bisa menerima semuanya. Nah, sekarang tunggu apa lagi? Jangan biarkan ayahmu tidur dengan pikiran kalau dia sudah dibenci putri kecilnya," sambil berkata begitu, Ayano menarik Celeste hingga dia bangun. Perlahan, senyuman Celeste merekah. Dia melompat dari tempat tidurnya, dan berlari keluar. Hanya satu tempat yang ditujunya. Pelukan sang Ayah.
2 September 2015, Ruang Makan Château du Noir, 08.25 waktu setempat.
Ayah dan Ibu tersayang,
Selamat pagi! Bagaimana tidur Ayah dan Ibu semalam? Yah, kuharap surat ini sudah tiba di rumah pagi hari saat Ayah dan Ibu sarapan, jadi salamku tadi tidak salah waktu. Aku langsung tulis surat begitu Pesta Awal Tahun selesai. Ini pertama kalinya Hector bertugas mengantarkan surat, kuharap dia tidak salah alamat. Banyaaak… sekali yang ingin aku ceritakan. Jadi jangan heran kalau suratku ini panjang, ya?
Pertama, hal paling penting yang akan aku sampaikan. Tebak aku masuk asrama mana? Aku masuk Slytherin! Sama dengan asrama Ayah dulu! Hm, Ayah tak perlu khawatir padaku karena aku masuk Slytherin. Ayah sudah mendidikku selama sebelas tahun, hanya karena aku berada di Slytherin tak akan mengubah pandanganku mengenai Pureblood, Halfblood, Muggleborn serta Muggle. Aku janji tak akan berubah.
Ini baru firasatku saja, tapi semoga saja benar. Slytherin yang sekarang sudah banyak berubah, Yah. Kepala Asrama dan Prefeknya tidak berpidato tentang betapa Slytherin menjunjung kemurnian darah dan sebagainya seperti yang Ayah ceritakan semalam. Tapi Prefeknya tetap menyebalkan. Dia judes sekali. Masa saat Pesta Awal Tahun Ajaran dia berpidato panjang lebar tentang kita tidak boleh melanggar peraturan dan semacamnya? Kepala Sekolahnya saja tidak berpidato tentang peraturan sekolah di malam kedatangan kami. Uuh… Rasanya seperti diawasi terus-menerus oleh Miss Llewelyn. (Aduh, kuharap Ibu tidak melaporkanku pada Miss Llewelyn kalau aku membencinya seperti ini, hehehe)
Benar-benar berlawanan dengan Prefek Gryffindor dan Ravenclaw. Ayah tahu siapa mereka? Ayah pasti juga kaget kalau kuberitahu. Soalnya aku juga kaget setengah mati menyadari siapa Prefek Gryffindor dan Ravenclaw. Ayah ingat dua anak sinting yang kuceritakan mereka menyanyi-nyanyi di atas meja Bar di Leaky Cauldron, kan? Nah, mereka itu Prefek Gryffindor dan Ravenclaw! Roxxy bilang, Prefek Gryffindor itu memang benar anak sulung Harry Potter. Namanya James Potter. Dia cakep sih… tapi tetap saja…. Brutal dan super jahil. Rasanya dia lebih cocok untuk yang mendapat detensi daripada pemberi detensi.
Kalau Prefek Ravenclaw, namanya Aidan Kriemhild. Ayah pasti heran kenapa aku bisa tahu. Roxxy yang kasih tahu. Sepertinya Roxxy naksir sama Prefek itu, habis dia memintaku menemaninya mengunjungi Meja Ravenclaw saat sedang makan malam. Yah, dia sih mengajakku ngobrol dengan Estelle yang diseleksi masuk Ravenclaw. Tapi matanya tak bisa lepas dari Aidan selama kami di Meja Ravenclaw. Lucu deh.
Ayah masih ingat tentang Roxxy yang dulu kubilang dia amat baik menjelaskan semua tentang Hogwarts pada anak-anak yang lain? Dia satu asrama denganku! Bahkan dia juga satu kamar denganku! Aku senang sekali, setidaknya aku sudah dapat satu teman sekamar yang baik. Aku agak khawatir mereka memandangku aneh, habis aku benar-benar tak tahu bagaimana caranya mencari teman. Untungnya Roxxy tidak menganggapku anak aneh yang tak bisa bergaul. Dia bahkan ngajak aku ngobrol sama Estelle, anak Muggleborn hiperaktif yang waktu itu kutemui di Leaky Cauldron.
Selain Roxxy, aku kenalan sama anak laki-laki di asramaku, namanya… er… Tyshawn? Yeah, kurasa begitu mengejanya. Dia kebetulan duduk di depanku dan Roxxy saat makan malam, dan Roxxy menyapanya. Terus, teman sekamarku yang lain namanya lucu. Namanya Thursday BonClay. Aku baru dengar ada orang yang menamai anaknya dengan nama hari. Tapi menertawakan nama orang lain kan tidak sopan, ya Yah? Aku berusaha keras biar nggak tertawa kalau mau manggil dia. Tapi sepertinya dia agak susah berteman. Sampai sekarang
aku belum berhasil ngobrol sama dia. Mungkin dia masih lelah, ya? Besok aku coba lagi untuk ngajak dia ngobrol. Doakan aku berhasil ya.
Aduh, mataku sudah tidak kuat lagi. Aku benar-benar perlu tidur sekarang. Roxxy dan Thursday saja sudah tidur dari tadi. Suratku sampai disini dulu ya, Ayah, Ibu. Salam buat Paul, Rudolph, Bill, Rebecca, dan yang lainnya, ya! Baru malam pertama aku sudah merindukan Ayah, Ibu, dan semuanya. Aduh, tidak boleh! Aku harus kuat kan? Aku tidak boleh cengeng, kan? Baiklah, aku akan berusaha! Aku janji tak akan menangis meski aku sangat merindukan Ayah, Ibu, dan semuanya. Bye, Ayah, Ibu. Besok aku janji tulis surat lagi.
PS: Menyebalkan sekali sih, aku tak bisa pakai handphone-ku di sini, jadi aku tak bisa menelepon Ayah dan Ibu sesering yang aku mau. Tulis surat kan pegal…
Love, kiss, and hug
Celeste Noir
Rigel mengangkat kepalanya dari lembaran perkamen yang baru saja selesai dibacanya. Surat pertama dari putri mereka Celeste di tempat tinggal barunya. Sorot mata Rigel mengandung kecemasan yang jelas terbaca. Ayano yang ikut membaca di sampingnya meremas tangan Rigel dengan penuh arti.
"Miel, dia berteman akrab dengan anak Ignatius," bisik Rigel lirih. Lembaran perkamen itu terjatuh dari genggaman tangannya. Dari semua hal yang bisa terjadi, inilah yang paling tidak diinginkan Rigel terjadi. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, rasa cemas, khawatir, frustasi dan perasaan bersalah berputar-putar. Berbagai kenapa dan kenapa, banyak kalau saja dan seandainya bergelung menyelimuti otaknya. Kalau saja… ya! Kalau saja Celeste lahir lebih awal, dia tak perlu bertemu dengan anak Ignatius itu. Kalau saja Celeste tak diseleksi ke Slytherin. Kalau saja dia berbelanja di hari yang lain, tentu tak perlu bertemu dengan mereka.
Tidak. Lebih dari segalanya, dialah yang salah. Dialah pangkal dari semua ini. Kalau saja dosa masa lalu itu tidak dia lakukan, dia tak harus sampai mempermasalahkan Celeste berteman dengan siapa atau Celeste masuk asrama mana. Ini semua salahnya. Salahnya, hingga putri kecilnya yang harus menanggung semua.
"Oni-sama, tenanglah! Celeste sendiri bilang kalau Roxxy anak yang baik. Siapa tahu Ignatius sekarang sudah berubah sepertimu, dan mendidik putrinya menjadi lebih baik? Semua orang bisa berubah, Oni-sama. Termasuk dirimu. Kau sudah banyak sekali berubah sejak pertama kali kita bertemu, kau bahkan berhasil mendidik Celeste menjadi anak baik yang hormat pada semua orang. Jangan pernah berpikir kalau kau masih kau yang dulu, Oni-sama!" tanpa bosan, Ayano meyakinkan Rigel. Rigel menatapnya nanar. Surat dari Celeste yang tergeletak di lantai kembai dipungutnya. DIbacanya berulang kali, seolah ingin memberikan sugesti kalau semua baik-baik saja.
"Satu hal yang tak bisa dipungkiri, Miel. Ada satu hal yang tak bisa berubah dari diriku. Dan entah bagaimana hal itu menurun pada Celeste, sehingga Topi Seleksi menempatkannya di Slytherin. Merlin, andai aku tahu apa itu," kenyataan kalau Celeste juga diseleksi ke asrama Slytherin mengguncang Rigel diatas segalanya. Lebih daripada kenyataan kalau dia berteman dengan Blizzard kecil. Lebih daripada kenyataan mengejutkan kalau nasib mempertemukan kembali keempat serangkai itu: Noir, Almendarez, Blizzard, dan BonClay. Dia tak bisa lari dari suratan nasib. Kemana pun dia berlari, nasib untuk mereka sudah digariskan. Ya.
"Kurasa… kemanapun kita pergi, hal ini pasti akan terjadi. Maafkan aku Miel, aku sudah menyeretmu terlalu jauh dalam penderitaan," Ayano menggelengkan kepalanya keras-keras.
"Oni-sama, kita sudah mengucap sumpah akan tetap bersama, baik dalam susah maupun senang, sehat ataupun sakit. Sumpah pernikahan bukanlah sekedar formalitas. Saat aku mengucap sumpah itu aku sudah menetapkan hati, itulah kali pertama dan terakhir bagiku mengucap sumpah pernikahan. Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah pergi dari sisimu," Rigel meremas kedua telapak tangan Ayano dengan lembut. Ah, kenapa dulu dia tak pernah menyadari betapa menyenangkannya menghabiskan sisa hidupmu bersama satu orang yang setia selalu berada di sampingmu? Rigel merasa dirinya sangat bodoh, karena dulu tak pernah terpikir olehnya mengikat sumpah hanya bersama satu orang wanita saja.
"Aku bersyukur dipertemukan denganmu, Ayano. Dan aku bersyukur mengetahui kau selalu ada untukku."
TBC
