Summary:

"You're so busy on making your dreams come true, you forget that nightmares are dreams, too."

.

.

A Fanfiction Inspired by:

Western Series(es): Lucifer | Constantine | Grimm

Disclaimer: I own nothing except the story line

Genre: Supernatural, Romance, Mystery, Humor gagal, a lil bit Crime, Myth (seriously, I'm no good at this)

Starring :

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Discover the supporting casts

Rated: M

WARNING!

Tae yang suka tidur sana-sini (I'm so done with him)

Boy x boy, typo, ambigu, banyak istilah asing

.

.

"Good Devil, Lucifer Fall!"

Part II: to Tell the One to Fear

"Jungkook, bukannya kau memiliki sesuatu yang sangat kau inginkan?"

Suara itu menggema, begitu berat, seakan siap menarik siapapun yang mendengarnya ke dalam jurang dosa terdalam.

"Katakan, katakan apa yang kau inginkan sekarang juga."

Senyum mengerikan terlihat jelas, mendekat dan semakin dekat. Bayang-bayang sosok tinggi dengan sorot mata tajam muncul dari kegelapan, mengulurkan tangannya.

"Untukmu, aku akan mengabulkannya."

Jungkook terkesiap. Tangan itu tiba-tiba meraihnya, mencengkeram lehernya kuat hingga udara tak mampu menerobos sistem pernafasannya.

Ia berontak, menendang kuat perut penyerangnya, menembusnya. Seringaian lebar berubah menjadi tawa yang bergaung mengerikan di telinga pemuda bersurai tembaga, seolah menjadi bunyi lonceng kematian yang menyambutnya.

Dadanya sesak.

Tubuhnya melemas.

Mata kelamnya menangkap kilatan sapphire yang menghiasi guratan wajah familiar sebelum semuanya menjadi gelap.

.

.

"Jeon Jungkook!"

Suara melengking seseorang memaksa kelopak matanya terbuka begitu saja. Dadanya bergemuruh, keringat mengalir di sekujur tubuhnya hingga pakaiannya basah.

Ia tercekat menatap langit-langit berwarna putih yang begitu asing. Bola matanya bergetar, melirik ke segala arah untuk memastikan bahwa dirinya bukan berada di Surga.

"Kook?"

Dan sebuah sentuhan di lengan kiri mengagetkannya. Ia terperanjat, menatap horor sosok yang memandanginya panik.

"Syukurlah, kau bangun." pria berambut hitam itu menghela nafas lega. Ia tersenyum menenangkan, lalu menoleh ke arah sebuah pintu saat benda itu dibuka secara tiba-tiba. "Dokter, dia bangun."

Pria paruh baya dengan jas panjang berwarna putih mendekati Jungkook. Bersama dua orang perawat, ia langsung memeriksa tubuh namja bersurai tembaga. Mereka memeriksa denyut nadinya, menyorotkan senter berukuran kecil ke matanya, membuatnya membuka mulut dan melihat warna lidahnya.

"Bagaimana perasaanmu?"

Jungkook terdiam untuk beberapa saat. Masih bingung dengan situasi dan tempatnya berada saat ini. Satu hal yang ia tahu, dirinya harus berbohong. "Tidak buruk, aku hanya pusing karena melihat lampu yang menyilaukan ketika terbangun."

Sang dokter mengangguk, ia memberi isyarat kepada salah satu perawat untuk meredupkan lampu ruangan. Setelahnya, ia kembali fokus kepada pasiennya. "Tuan Jeon, ini kedua kalinya kau masuk rumah sakit dalam satu bulan. Aku tahu kau sangat sibuk menegakkan keadilan, tapi perhatikanlah kesehatanmu sendiri. Jangan sampai kau tumbang seperti ini lagi."

Jungkook hanya mengangguk. Setelahnya ia mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar di wajahnya.

Para petugas medis kemudian berpamitan setelah sang dokter menjelaskan beberapa hal kepada pria bersurai hitam.

"Jim, apa yang terjadi?" tanya Jungkook menghapus senyum saat ia dan rekannya hanya tinggal berdua. Manik kembarnya kembali menelusur seisi ruangan tempatnya berbaring. Tangan kanannya terhubung dengan infuse.

"Seharusnya aku yang bertanya begitu." jawab namja yang mengenakan kaos putih polos berbalut jaket denim. Ditendangnya ringan ranjang rumah sakit yang ditempati rekannya dengan kakinya berbalut boots hitam. "Keparat. Seenaknya saja pingsan saat pengejaran."

Jungkook mengeryit sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Hal terakhir yang diingatnya adalah, ia dan Jimin, bersama beberapa personel polisi melakukan pengejaran terhadap pelaku pembunuhan wanita bermarga Bae. Masalah asmara, kecemburuan yang membuat si pria gelap mata dan membunuh kekasihnya sendiri. Klise.

"Apa dia tertangkap?"

Jimin mendengus. Ia menarik sebuah kursi, duduk di atasnya dengan menaikkan sebelah kakinya ke ranjang detektif Jeon. "Mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan, patah tulang dan memar di beberapa bagian."

Setelahnya mereka terdiam. Pria bersurai copper sibuk mengingat kejadian sebelum dirinya pingsan usai melepaskan tembakan peringatan, sementara Jimin mengamati rekan sekaligus sahabatnya yang benar-benar terlihat berantakan.

"Jangan bilang kau melakukan penyelidikan tanpa perintah dari Kapten lagi."

Jungkook menoleh cepat, melayangkan tatapan nyalangnya ke mata sipit si rambut hitam.

"Kau melakukannya lagi." ia menghela nafas berat. Diturunkan kakinya dari ranjang Jungkook, lalu Jimin menegakkan duduknya, menatap rekannya serius. "Dengar, Jeon Jungkook. Aku tahu kematian-nya begitu menyakitkan untukmu, tapi bukan berarti kau harus memaksakan diri untuk mengungkap semua. Kau lihat sendiri, hasil autopsy tidak menunjukkan ada yang salah pada jasad-nya. Hal-hal mencurigakan di tempat kejadian pun nihil. Kenapa kau masih bersikeras bahwa kematian-nya adalah tindakan pembunuhan?"

"Kau tidak mengerti, Jim. Dia satu-satunya yang kumiliki."

"Aku tahu." potong Jimin cepat. "Aku tahu, Kook. Kalian berdua sahabatku, aku tahu bagaimana sedihnya kehilangan dirinya. Tapi kau tak harus begini. Ini sudah lebih dari satu bulan sejak kejadian itu, dan pihak kepolisian secara resmi telah menyatakan kalau itu adalah sebuah kematian yang wajar. Berhentilah mencari sesuatu yang tidak ada."

"Jujur padaku, kau juga memikirkannya kan?" sepasang iris obsidian Jungkook menatap sinis rekannya. "Tubuh-nya ditemukan di pinggir jalan sementara mobil-nya dia tinggal di rumah. Jarak tempat kejadian sekitar dua kilometer dari rumah kami. Kau tahu sendiri dia paling benci naik kendaraan umum, paling tidak suka bergerak. Kamera pengawas di sekitar tempat kejadian rusak sejak dua hari sebelumnya, dan dia memang tertangkap cctv di sepanjang jalan dari rumah menuju ke tempat itu. Dia seperti orang linglung, Jim. Kau melihatnya sendiri. Pasti sesuatu telah terjadi. Ada seseorang yang mengancamnya, atau melakukan hal buruk kepadanya. Aku akan menemukan -"

"Jeon Jungkook!?" Jimin berteriak tertahan. Tangannya mengepal erat, menahan emosi. "Dengarkan aku baik-baik."

"Kau yang dengarkan aku, Park!" Jeon Jungkook yang benar-benar berteriak. Nafasnya memburu, ia menatap tidak terima ke arah sahabatnya. "Aku berusaha mengungkap kematian-nya, sahabatmu! Dan kau malah menghalangiku?"

"Aku menghalangi dirimu agar kau tidak melukai dirimu sendiri. Kumohon, dia sudah tenang di Surga."

"Aku tidak melukai siapapun, ini hanya kelelahan biasa. Oh, mungkin kalau kau membantuku, aku tidak akan sampai seperti ini. Harusnya kau -"

"Baiklah kalau itu maumu! Silakan saja berkeliaran malam-malam setelah jam kerjamu selesai, mondar-mandir tidak jelas, mengunjungi tempat-tempat yang kau curigai tanpa alasan. Terus saja lakukan itu sampai kau bosan. Tapi kau tidak akan membawa ini." detektif bermarga Park mengeluarkan sebuah lencana dari sakunya.

"Kau -"

Belum sempat mengucapkan apapun lagi, pria bersurai gelap itu sudah terlebih dahulu meninggalkan ruang rawat Jungkook, membanting pintunya kasar dan berjalan melewati lorong rumah sakit sambil mengumpat.

Pria bermata onyx yang ditinggal sendirian memukul keras kasurnya. Ia menggeram kesal. "Bajingan Park."

Ia tahu, lencana yang barusan ditunjukkan Jimin, lalu dibawanya pergi bukanlah milik si bantet Park. Lencana itu adalah miliknya, Jungkook hafal betul letak goresan bekas terjatuh yang ada di sudut kiri atas, juga tetesan kopi yang menodai leather pelindungnya. Tanpa itu, dia tidak akan memiliki akses untuk bertanya ini-itu atau berkeliaran hingga dini hari di jalan.

"Kau tidak tahu, Jim." gumamnya putus asa. Ia berbaring dengan tubuh melemas, menutup matanya dengan punggung tangan kiri. "Kau tidak tahu, hidupku tidak tenang sejak dia pergi. Pikiranku dipenuhi rasa bersalah setiap kali aku tidak melakukan apapun. Kau tidak tahu kami bertengkar hebat sehari sebelum kejadian itu. Kau tidak tahu aku belum sempat meminta maaf pada-nya."

Dan Jungkook mulai terisak. Cairan bening mulai merembes dari sudut matanya yang tertutup. Bibirnya mencebik kesal. Jungkook marah kepada dirinya sendiri. Sekuat apapun ia di depan orang lain, nyatanya pria ini memiliki sisi lemahnya juga. "Kau benar, dia mungkin sudah tenang. Akulah yang tidak tenang di sini."

Jungkook terkekeh setelahnya. Ia tahu betul apa yang salah. Logikanya berjalan dengan sangat baik, namun perasaannya memberontak, memilih caranya sendiri untuk bertahan.

"Brengsek." gumamnya saat menyadari air yang mengalir dari matanya sudah benar-benar tak bisa dibendung lagi, bahkan hingga membasahi bantal yang menyangga kepalanya. Jungkook menghirup nafas dalam-dalam, mencoba menetraliris emosinya yang keruh.

Ia mengendus berkali-kali saat indera penciumannya menangkap aroma familiar, sesuatu yang berbumbu dan digoreng. Perlahan ia menurunkan tangannya, dan tubuhnya langsung terperanjat dengan kedua mata yang membola saat mendapati sosok bersurai hitam legam duduk di kursi yang tadi ditempati Jimin. Tubuh yang berbalut coat panjang berwarna coklat susu dan celana hitam, serta combat boots dengan warna senada tengah tersenyum tipis ke arahnya.

Jungkook mengedipkan matanya berkali-kali saat sosok itu menyerahkan sebuah buket kepadanya.

Bukan.

Bukan buket bunga yang ia terima, melainkan buket berisi rangkaian paha ayam goreng dan nugget yang ditata sedemikian rupa.

"Makanlah, kau pasti lapar."

Suara rendah itu menyadarkan Jungkook. Ia buru-buru menatap buket ayam di tangannya, lalu beralih ke pria berwajah tegas yang masih menatapnya. Dan sebuah kalimat meluncur begitu saja dari mulutnya. "Kalau bukan gila, kau pasti sinting."

Pria itu malah tertawa, berdiri sebentar untuk melepas coat lalu meletakkannya di ujung tempat tidur Jungkook, menyisakan double zip sweater berwarna abu-abu. Resleting di masing-masing sisi kanan dan kiri leher yang membentuk garis diagonal hingga ke lekukan ketiak membuat bahu pria itu terlihat semakin kokoh.

"Sejujurnya aku tidak menyukai sebutan itu, tapi karena kau yang mengatakannya, jadi kumaafkan." gumamnya dengan nada datar sambil mendudukkan diri.

Detektif Jeon mengamati dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, melakukan penilaian singkat.

Sial. Kim Taehyung dengan busana formal terlihat begitu bajingan, tapi Jungkook benar-benar tidak menyangka pria yang sama akan tetap terlihat bangsat dengan pakaian kasualnya. Rambutnya yang waktu itu sedikit ditata pun kini hanya dibiarkan begitu saja hingga poninya menutupi dahi. Bukannya terlihat seperti bocah, si sinting malah terlihat semakin ramah.

"Suka dengan apa yang kau lihat?"

Jungkook mendengus. "Darimana kau masuk? Kenapa aku tidak mendengar pintunya dibuka? Dan untuk apa kau menemuiku di sini?"

"Aku tahu kau merindukanku, tapi bertanyalah satu-satu." gumam pria Kim perlahan. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan sapu tangan berwarna gading, lalu dengan seenaknya mengusap pipi dan mata detektif Jeon. "Aku mendengar kabar dari anak buah Beelzebub bahwa seorang detektif pingsan saat bertugas. Kau benar-benar kelinci ceroboh. Kalau kau mau tahu aku masuk dari mana, aku muncul begitu saja."

Pemilik surai tembaga ingin sekali memijit pelipisnya karena dia melupakan fakta bahwa pria yang sedang bersamanya ini tidak waras. Sayang kedua tangannya sibuk menggenggam buket yang begitu berharga. Saking berharganya, sampai-sampai ia mengabaikan wajahnya yang sedang diusap-usap menggunakan sapu tangan oleh si sinting Kim.

"Sudah." gumam Taehyung ringan. Diletakkannya sapu tangan yang barusan ia gunakan di samping bantal Jungkook. Ia menjulurkan lidahnya, menjilat sudut bibir kanannya di sela kegiatannya tersenyum tipis kala melihat si pasien mengambil salah satu nugget, lalu mulai memakannya.

"Terserah kau saja." gumam pria Jeon sambil mengunyah. Ia sedang malas marah-marah. Pertengkarannya dengan Jimin tadi berhasil merusak mood-nya dan ia bersumpah akan menghajar si bantet ketika keluar dari rumah sakit nanti. Untuk itu, ia tidak boleh stress dan harus makan yang banyak agar cepat pulih.

"Aku tertarik padamu."

Gumaman itu sukses merebut seluruh atensi Jungkook, membuatnya tersedak. Tangannya yan memegang paha ayam yang telah digigitnya menunjuk-munjuk gelas berisi air yang diletakkan di meja sampingnya. Megerti dengan apa yang terjadi, Taehyung meraih gelas itu, membantu si pasien meminumnya.

Jungkook harus minum sambil memejamkan matanya agar ia tidak melihat jemari panjang yang terpahat begitu sempurna milik pangeran sintingyang sedang membantunya minum.

Sial.

Padahal detektif Jeon berusaha mati-matian untuk mengabaikan eksistensi Kim Taehyung, tapi pria yang baru sekali ditemuinya itu berhasil memporakporandakan pertahanannya.

Dan kurang ajarnya, sebelah tangan Kim Taehyung mengelus dada Jungkook dengan sangat kasual.

"Brengsek." umpatnya begitu selesai minum. Ia menatap nyalang si gila sebelum kembali sibuk dengan buket berharganya.

Taehyung tertawa renyah. "Kau satu-satunya yang tidak mencoba menemuiku lagi setelah kita ngobrol beberapa hari yang lalu. Orang lain pasti sudah kembali ke klubku. Kau begitu berbeda. Aku menyukaimu."

Bukannya menjawab, Jungkook malah mendengus.

Mereka terdiam setelahnya. Pemilik mata obsidian sibuk mengunyah, sementara pria bersurai sekelam malam sibuk mengamatinya. Iris sebiru sapphire-nya lekat memandang bibir Jungkook yang bergerak-gerak lucu saat mengunyah. Pipinya menggembung menggemaskan. Noda minyak yang menempel di bibir itu membuat pemilik Six menjilat bibirnya sendiri.

Taehyung menoleh ke arah pintu, tepat satu detik sebelum benda itu dibuka, dan seorang suster masuk membawa nampan kecil berisi beberapa suntikan. Saat itu juga, ia kembali memfokuskan pandangannya ke Jungkook, mengabaikan suster bertubuh mungil itu.

Suster langsung mendelik begitu melihat pasiennya sedang menikmati makanan tidak sehat yang jumlahnya begitu banyak.

"Astaga, Jungkook!" pekiknya tertahan. "Kau begitu bandel karena bolak-balik masuk rumah sakit. Dan sekarang, apa ini? Kau memakan makanan junk food?"

Yang ditegur malah menjauhkan buketnya dari sang perawat. Ia mendelik protes. "Jangan coba-coba kau meminta bagian. Aku tidak akan memberikannya."

"Siapa juga yang mau minta makanan tidak sehat begitu?" omelnya. Kelihatannya deteltif Jeon memang sering berurusan dengan rumah sakit karena mereka berdua terlihat cukup akrab. Suster meletakkan nampan kecilnya di dekat kaki Jungkook, lalu meraih selang infuse yang terhubung dengan nadi pasiennya. Ia berdiri di samping Taehyung. "Maaf, permisi sebentar."

Taehyung menoleh, dan pandangan mereka bertemu. Detik itu juga, si perawat menghentikan kegiatannya. Kedua mata bulatnya menatap lurus ke manik sekelam samudera milik pria yang duduk di sebelahnya.

"Noona? Ji Eun noona!?"

Wanita itu mengerjabkan matanya beberapa kali sebelum kembali fokus dengan pasien yang barusan memanggilnya. Ia terlihat gugup.

"Po -pokoknya kau harus mengurangi makanan berminyak dan tidak sehat. Perbanyak sayuran." ucapnya di sela kegiatan menyuntikkan sesuatu ke selang yang terhubung ke tubuh Jungkook.

Tentu saja si detektif mengerang protes.

"Apa dia benar-benar tidak boleh makan ayam goreng? Kalau burger bagaimana?"

Wanita berseragam putih yang telah selesai melakukan pekerjaannya langsung menoleh cepat ke arah pria ber-sweater abu-abu. Bibirnya bergerak ragu selama beberapa saat sebelum ia benar-benar bisa bicara. "Ma -makanan cepat saji seperti burger dan pizza sangat tidak dianjurkan. Lebih baik memakan sayuran atau buah-buahan."

Taehyung mengangguk beberapa kali, kemudian melayangkan senyumannya sambil menatap Ji Eun yang masih berdiri kaku. "Tapi kali ini kekasihku boleh menghabiskan makanan tidak sehatnya kan? Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya, jadi aku membawakan makanan kesukaan Jungkook. Aku benar-benar ingin Jungkook-ku menghabiskannya."

Dan sang perawat mengangguk dengan sangat cepat. Ia langsung membalikkan badan dan berjalan meninggalkan ruangan dengan tangan kanan yang menyentuh dada kirinya. Jantungnya berdetak menggila, pipinya memerah.

"Pembual. Seenaknya saja mengaku sebagai kekasihku." omel Jungkook saat berhasil menghabiskan nugget terakhirnya. Ia membungkus tulang-tulang sisa ayamnya dengan penghias buket. Setelahnya ia menjilati jemarinya sendiri.

Taehyung menelan ludahnya susah payah. Lidahnya kembali terjulur untuk membasahi bibirnya yang entah mengapa terasa begitu kering. Ia memejamkan matanya untuk beberapa saat.

Jungkook harus datang padanya, menyerahkan diri, bertekuk lutut di hadapan Kim Taehyung, bukan sebaliknya.

"Aku datang untuk memperingatkanmu."

Malas bicara, Jungkook hanya mengeryit keheranan. Menatap pria yang masih duduk di kursinya dengan sorot penuh pertanyaan.

"Kudengar kau sering berkeliaran malam-malam di daerah sepi. Kukatakan padamu, tempat itu berbahaya untukmu. Mara sering melewati tempat itu, dan aku berani bertaruh, kau pasti menjadi sasaran empuk bagi mereka."

Jungkook menghela nafas berat. "Aku tidak mengerti dengan hal gila yang kau katakan. Yang jelas, aku berada di sana untuk mewujudkan apa yang kuinginkan. Jadi aku tidak akan berhenti hanya karena kau mengatakan hal aneh seperti itu."

Pria bermata obsidian merasa kesal. Sangat kesal. Omongan Taehyung mengingatkannya atas pertengkarannya dengan Jimin tadi, dan itu sukses membuat mood-nya yang sempat membaik karena ayam goreng, anjlok begitu saja. "Oh, kau pernah bertanya apa keinginanku kan? Mimpiku saat ini adalah untuk menemukan pembunuh orang yang sangat aku sayangi."

"Baguslah, aku yakin mereka akan sangat menyukaimu. Kau begitu bernafsu untuk mewujudkan mimpi-mimpimu sampai kau lupa satu hal, mimpi buruk juga merupakan mimpi." Taehyung berdiri dari kursinya, menatap Jungkook masih dengan sorot yang sama. "Kau boleh datang padaku saat salah satu dari mimpu burukmu menjadi kenyataan. Tapi kau tidak boleh menyalahkan para Mara-ku yang manis karena telah melaksanakan pekerjaannya dengan sangat baik; membuat manusia bermimpi buruk."

"Oh, jangan khawatir." potong pemilik surai copper cepat. "Hidupku sudah menjadi mimpi buruk, jadi aku tidak akan ketakutan hanya karena sebuah mimpi."

"Kau dan seluruh kesombonganmu, Tuan Detektif." pemilik klub Six tersenyum miring, menjilat bibirnya seklias. "Karena kau sudah kenyang, lebih baik kau tidur dan berdoalah yang benar agar Mara tidak mendatangimu. Akan lebih baik lagi kalau kau berdoa kepadaku."

Taehyungmembalikkan badannya, bersiap untuk pergi. Di saat yang bersamaan, angin dingin berhembus menerpa tubuhnya, dan waktu berhenti. Ia memutar bola matanya malas saat sepasang laut dalam yang terperangkap di matanya menangkap sosok berperawakan tinggi dengan pakaian serba putih membalut tubuhnya. Rambut pirangnya tertatata rapi, sepasang sayap lebar membentang hingga menembus tembok yang berada beberapa meter di sisi kanan dan kirinya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sang Pangerandengan nada santai. Sekilas diliriknya Jungkook yang menatapnya dengan pandangan kosong. Dengusan meremehkan lolos begitu saja dari bibirnya. "Berhentilah berbuat seenaknya dan menemuiku di sembarang tempat."

Sosok bersurai pirang memejamkan matanya untuk beberapa saat, "Aku yang seharusnya bertanya begitu. Apa yang kau lakukan disini, saudaraku? Ayah menyuruhmu meninggalkan Surga untuk menjalankan tugasmu di Neraka, bukan untuk melakukan hal-hal tidak berguna di Bumi."

Bukannya menjawab, ia malah berjalan melewati sosok bersayap sewarna gading, lalu membuka pintu ruangan, bersiap untuk pergi. Seperti Jungkook, semua yang ada di lorong rumah sakit mematung karena waktu telah berhenti. Seluruh alam semesta membeku saat sosok yang kini ikut berbalik, menatap nyalang saudaranya, turun ke Bumi.

"Lucifer. Aku bicara padamu."

"Aku mendengarmu, kakakku. Dengan sangat jelas. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." pria bersurai hitam legam benar-benar tampak sedang berpikir. Ia tersenyum lebar begitu menemukan apa yang ia cari dalam pikirannya. "Bagaimana kalau Namjoon? Karena kau adalah kakakku, maka namamu adalah Kim Namjoon."

Sosok yang barusan dipanggil Namjoon menggeleng ringan. Ia kemudian bicara, masih dengan nada halus. "Tidak perlu repot-repot. Aku cukup senang dengan nama yang diberikan Ayah. Panggil aku Seraphiel seperti saat kau masih tinggal di langit, Lucifer."

"Nah." Taehyung bersikukuh. "Kau menginjakkan kakimu di Bumi. Kau juga harus punya nama sepertiku. Akan kuberitahu Hoseok untuk memanggilmu begitu juga."

Seraphiel memejamkan matanya untuk beberapa saat, menyembunyikan iris sebiru kristalnya yang memukau. "Kau bahkan menamai Azazel seperti itu. Apa kau benar-benar sudah melupakan kenapa ayah menjatuhkanmu ke Neraka? Kembalilah ke tempatmu atau Ayah akan bertambah murka."

"Aku sedang mencoba membuat Neraka lebih panas, Namjoon-ah. Kau bisa bayangkan seberapa panas-nya Neraka saat aku berhasil menyeret Jeon Jungkook masuk ke dalamnya? Dia begitu panas dan menggoda, kalau kau mau tahu." Lucifer menaikkan sudut bibir kirinya, meremehkan. Ia menaikkan tangan kanan, bersiap untuk menjentikkan jari. "Kau yang kembali ke rumahmu. Hitungan ketiga dan semua yang ada di sini akan melihatmu. Ah.. aku tidak sabar melihat apa yang akan Ayah lakukan saat wujud malaikat kebanggaannya diketahui oleh para manusia."

"Aku sudah memperingatkanmu. Kalau kau masih seperti itu, kau benar-benar tidak akan pernah kembali ke Surga."

Suara kakaknya masih menggema di telinganya saat sosoknya menghilang dari penglihatan.

Sang Pangeransempat tersenyum lebar kepada Jungkook yang mengerjabkan matanya bingung saat melihat dirinya sudah berdiri di ambang pintu. Tanpa mengucapkan apapun untuk berpamitan, Taehyung keluar begitu saja dari kamar rawat detektif Jeon.

"Dasar sinting. Datang dan pergi seenaknya." gumamnya sebelum memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur dan membersihkan tangannya.

.

.

Jeon Jungkook benar-benar mengutuk Park Jimin. Ia menepati janjinya untuk menghajar si bantet, dan itu dilakukannya di kantor, di depan atasan tertinggi mereka yang biasa dipanggil Kapten. Bukannya melerai, sang atasan malah meninggalkan ruangannya yang dengan seenaknya dijadikan tempat kejadian perkara oleh dua detektif terbaik di kota.

Bukan tanpa alasan Jungkook menghajar sahabatnya. Dengan seenaknya saja pria bertubuh minimalis itu mengajukan surat cuti atas nama dirinya selama tiga hari, terlepas dari waktunya beristirahat di rumah sakit. Dan sang Kapten bisa-bisanya menyetujui itu. Tentu saja, lencana miliknya belum kembali. Lebih parahnya, benda keramat itu kini dipegang oleh sang atasan.

"Jangan cemberut begitu, nanti Yugyeom menggodamu lagi."

"Berhenti bicara, Park! Aku masih marah padamu." detektif Jeon masuk ke dalam mobilnya, lalu membanting pintunya kasar di depan wajah Jimin. Ia memang kesal, namun ketika sahabatnya mengetuk kaca beberapa kali, Jungkook menurunkannya juga.

Jimin terkekeh, sebelah tangannya terulur untuk mengacak rambut pria yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. "Pulanglah, tenangkan pikiranmu."

Jungkook tahu betul, kalau Park bantet bicara dengan nada selembut sutera begitu, artinya dia sedang sangat-sangat serius. Maka penyandang marga Jeon megangguk saja sebelum menyalakan mesin mobilnya dan pulang.

Ia benar-benar beristirahat di rumahnya. Tiduran di kamar dengan dua kotak pizza yang ia beli di perjalanan pulang menjadi hal yang pas untuk melampiaskan apapun yang ia rasakan sekarang. Ia marah, merasa kesal karena Jimin seenaknya mengajukan cuti untuknya. Lebih murka lagi karena atasannya menyetujui itu. Ia marah karena malam ini tidak bisa keluar dan melakukan penyelidikan yang ia inginkan. Namun di lubuk hatinya, Jungkook merasa senang karena ia tahu sahabatnya benar-benar menyayanginya.

Kotak pertama sudah ludes, baru saja ingin membuka kotak pizza daging keduanya, ponsel Jungkook berbunyi nyaring.

Ia hampir melempar ponsel pintarnya sendiri saat melihat nama yang tertera di layar sentuhnya.

Prince Taetae is calling.

Sejak kapan ia memiliki kontak dengan nama itu? Pasti orang iseng yang melakukannya. Bagaimanapun, ia sering meletakkan ponselnya sembarangan ketika berada di kantor. Kebiasaan buruk yang harus segera diubah.

Sebenarnya Jungkook ingin mengabaikan panggilan itu, namun entah bagaimana, ikon berwarna hijau tersentuh ruas jarinya saat ia ingin meletakkan itu di meja. "Sial."

Mau tak mau, ia mendekatkan ponsel ke telinganya juga. Gengsi kalau harus menutupnya begitu saja.

"Hei. Apa yang suster bilang soal junk food? Kau tidak boleh memakannya, sayang."

Sang detektif menelan ludahnya susah payah saat mendengar suara rendah itu. Ia menjauhkan ponselnya, melihat nama kontak yang tertera.

Taetae…

Jungkook menghela nafas saat mengingat Kim Taehyung-lah satu-satunya manusia yang ia kenal, yang juga memiliki silabel tae pada namanya. Dan tentu dia lah satu-satunya yang cukup sinting untuk mendeklarasikan bahwa dirinya adalah seorang pangeran.

Namun ada satu, atau dua, atau lebih hal yang menjadi masalah untuk Jungkook. "Darimana kau mendapat nomor ponselku? Dan kapan aku menyimpan nomor ponselmu? Lagi, apa-apaan Prince Taetae sebagai nama kontakmu? Astaga… aku pasti ketularan sinting kalau benar aku sendiri yang menamainya."

Kekehan yang entah bagaimana terdengar seperti lullaby itu menyapa pendengaran pemilik surai tembaga. "Kau selalu banyak tanya kalau sedang merindukanku. Aku jadi makin suka. Ponselmu ada di meja saat di rumah sakit, aku meminjamnya sebentar."

Jungkook menepuk keningnya sendiri. Mulai sekarang ia harus berhenti menanyakan apapun kepada si pangeran sintingatau kepala pria itu akan semakin besar, bertambah besar setiap harinya sampai-sampai bentuknya seperti kepala alien. Dan mungkin saja, mahkotanya tidak akan muat karenanya. Itupun kalau benar dirinya adalah seorang pangeran.

Membayangkannya membuat Jeon Jungkook terbahak. Ia benar-benar tertawa keras tanpa peduli pria yang mengaku sebagai pangeran kegelapan akan mendengarnya. Suara di seberang tak terdengar hingga detektif Jeon berhenti. Pria bermata onyx itu mengusap matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa.

"Senang?"

Jungkook terdiam, bahkan berhenti bernafas selama beberapa detik. Ia berusaha mengeluarkan suara sedingin yang ia bisa. "Biasa saja."

"Peringatanku masih berlaku, Jeon Bunny. Aku serius karena salah satu Mara-ku yang manis berkoar kepada teman-temannya mengenai pria bergigi kelinci yang hobi berkata kasar. Katanya dia sudah mengikutimu selama beberapa hari."

Terdengar suara seorang pria lain yang sedang mengomel dari kejauhan, Jungkook tidak yakin, tapi sepertinya si sinting dan pria itu tinggal bersama. Entah mengapa, mendadak ia merasa kesal.

"Terserah kau saja. Aku malas bicara denganmu." ucap Jungkook cepat sebelum mematikan sambungan. Tangan kanannya segera mencomot sepotong pizza, lalu memakannya asal-asalan.

"Dasar. Sudah tinggal dengan seseorang, masih berani bilang suka padaku. Pangeran sinting!" omelnya tanpa bisa dikontrol.

Jungkook benar-benar menghabiskan pizza-nya sore itu, bahkan ia menambahkan beberapa kaleng soda untuk semakin merusak tubuhnya. Ia ketiduran karena kekenyangan.

Dan malamnya, Jeon Jungkook benar-benar mengalami mimpi buruk.

Awalnya ia pikir semua terjadi karena dirinya tidur dalam keadaa kesal dan sangat lelah, plus kekenyangan. Tapi kecurigaan mulai muncul dalam benaknya ketika pada malam berikutnya, ia memimpikan hal yang lebih mengerikan.

Sosok bayangan yang mencekiknya kembali datang. Kali ini bukan hanya mengincar lehernya, bayangan itu menyeretnya jatuh dan menginjak kepalanya. Di detik saat pria bersurai tembaga akan berteriak, matanya menangkap sosok lain yang menatapnya melas, seolah meminta pertolongan. Sosok itu mengulurkan tangannya, mencoba meraih Jungkook. Dan ketika ia hendak menyambut uluran tangannya, sosok yang sangat dikasihinya itu menunjukkan senyum yang begitu mengerikan sebelum tubuhnya terbakar dan berubah menjadi debu.

Jungkook bangun di pagi buta dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Tubuhnya berkeringat, jantungnya berdetak cepat. Ia tidak berpikir kalau si sinting Taehyung serius dengan ucapannya, tapi setidaknya, Jungkook harus melakukan sesuatu.

Sejujurnya ia pernah mendengar sesuatu yang berhubungan dengan Lucifer, malaikat yang dijatuhkan dari Surga karena mencoba menentang hukum langit. Tapi sungguh, kalaupun benar si brengsek Kim adalah Lucifer, apa yang dilakukannya di Bumi? Ini sangat tidak masuk akal.

Jungkook mengesampingkan masalah Lucifer dan segala hal tentang dirinya. Masalahnya saat ini adalah mimpi buruk yang semakin sial saja setiap malamnya. Kalau perkataan pria berambut hitam itu benar, mimpi buruknya bisa-bisa jadi kenyataan. Jeon Jungkook tidak mau.

Ia meraih ponsel pintarnya, mengetikkan mara dan dream pada kata pencari, dan langsung membuka artikel teratas yang ia temukan. Internet menyediakan informasi tentang hal-hal klenik yang terkadang tidak masuk akal, tapi patut dicoba selama tidak merugikan. Ia lanjut membaca artikel-artikel berikutnya hingga touchscreen menampilkan peringatan daya ponsel lemah.

Entah berapa lama waktu yang ia habiskan, yang jelas, jumlah artikel yang ia baca lebih dari dua puluh. Jungkook memijit pelipisnya, pusing. Penjelasan tentang apa itu Mara dan tetek bengeknya sukses membuat kepalanya berputar-putar.

"Persetan dengan yang mana artikel yang benar. Pokoknya malam ini, aku akan menangkap makhluk itu. Kalau pun si Mara ini tidak benar-benar ada, aku hanya harus mengumpati Kim Taehyung karena sudah meracuni pikiranku dengan dongeng gilanya."

Terhitung sejak tengah hari hingga pukul sembilan malam, detektif Jeon sudah menghabiskan, setidaknya lima cangkir kopi. Junk food dan soda kemarin sudah cukup membuat sistem pencernaannya protes, dan setelah ini, mungkin dirinya akan kembali berurusan dengan tim medis. Ia berani bertaruh, malam ini dirinya akan melek sampai pagi dan baru akan mengantuk besok siang.

Jungkook menunggu, berbaring di kasurnya sambil mengumpat dalam hati. Setengahnya ia mengumpati mimpi buruk yang beberapa hari ini mengganggu tidurnya, selebihnya ia merutuki dirinya sendiri yang percaya saja dengan omongan Kim sinting Taehyung, juga artikel bersumber dipertanyakan yang ia temukan di internet.

"Sial!"

Akhirnya lolos juga. Beberapa jam memejamkan mata, berbaring ke samping kanan, beralih ke kiri, hingga akhirnya terlentang. Tidak ada apapun yang Jungkoook dapatkan. Bahkan suara berisik di tembok atau lantai yang katanya adalah salah satu tanda datangnya Mara saja tidak terdengar.

Ia mengedarkan pandangan. Jendela sudah ditutup rapat, begitupun dengan pintu kamarnya. Ia juga sudah memastikan bahwa temboknya tidak ada yang bercelah atau retak. Satu-satunya akses masuk ke kamarnya hanyalah lubang kunci di pintu, juga ventilasi udara di atas jendela. Lampu kamarnya sama sekali tidak menyala. Cahanya rembulan adalah satu-satunya sumber cahanya selain jam digital di nakasnya, ditambah dirinya yang tiduran adalah tempat sempurna bagi Mara untuk menjalankan tugasnya. Hampir tengah malam dan tidak ada apapun yang terjadi.

Jungkook hampir saja meraih remote untuk menyalakan televisi ketika gendang telinganya mendengar sesuatu. Lantainya berbunyi, seperti ditimpa sebuah beban, tapi bukan suara langkah kaki. Jantungnya berdetak kencang, namun detektif Jeon seolah menantang dirinya untuk uji nyali, kepalang penasaran.

Maka ia memejamkan matanya dengan tubuh yang terlentang. Mati-matian ia berusaha menenangkan diri agar deru nafasnya teratur dan jantungnya berdetak normal seperti layaknya orang yang sedang tidur.

Jungkook bisa merasakannya, dadanya terasa berat, seperti ada yang menindihnya. Atau, memang ada yang sedang menindihnya. Jungkook menarik nafas dalam-dalam, menunggu waktu yang tepat untuk memergoki siapapun, atau apapun yang sedang mengganggunya. Walau dalam hati, ia berharap tidak mendapati apa-apa saat membuka mata nanti.

Dihirupnya nafas dalam-dalam.

Jungkook membuka matanya lebar-lebar hanya untuk mendapati sepasang manik hijau menyala yang tengah menatapnya lekat. Sosok berukuran seperti anak-anak benar-benar sedang duduk di dadanya.

Wajah mereka berdua begitu dekat, dan pria bersurai tembaga menatapnya horor begitu ia menyadari tubuh makhluk entah-apa yang menindihnya dipenuhi rambut. Wajahnya terlihat marah, taring kecil menyembul di masing-masing sudut bibirnya. Kepalanya tertutup topirajut lusuh berwarna coklat tua.

Mereka sama-sama terpaku, sampai makhluk yang dicurigai sang detektif sebagai Mara menolehkan kepalanya ke arah pintu. Saat itu juga Jungkook tersadar. Ia menyambar selimutnya, mendorong makhluk bermata zamrud itu menjauh, lalu melompat secepat kilat dan menutup handle di pintunya dengan selimut. Ia melilitkannya sedemikian rupa sehingga lubang kunci yang ada tepat di bawahnya tertutup rapat. Detektif Jeon kembali menatap makhluk yang tampak bingung itu.

Wajah Mara terlihat semakin tidak bersahabat, matanya yang bulat besar semakin membola. Setelahnya, ia mulai mondar mandir seperti orang kebingungan.

Jungkook menatap sekeliling, mencari apapun yang bisa ia gunakan untuk mengikat lilitan selimutnya, untuk memastikan benda itu tetap di sana agar makhluk yang katanya menyebabkan mimpi buruk itu tidak pergi kemana-mana. Ia akhirnya melepas salah satu tali sepatunya, mengikatkannya kuat-kuat di di lilitan selimutnya.

"Ok. Lubang kuncinya tertutup sempurna." pemilik bola mata onyx tersenyum bangga. Setelahnya, ia teringat satu hal. "Sekarang… apa?"

Jungkook berbalik menatap makhluk yang masih mondar-mandir itu, sesekali mata hijaunya melirik Jungkook, lalu bibirnya akan bergerak seolah sedang mengumpat. Setelahnya, ia akan kembali berjalan mengelilingi kamar pria Jeon dengan raut kesal yang semakin menjadi.

Sementara itu, si pemilik kamar mengacak rambutnya frustasi. Ia begitu penasaran ingin membuktikan apakah mimpi buruknya akhir-akhir ini benar disebabkan oleh hal-hal berbau klenik sampai-sampai ia tidak memikirkan akan melakukan apa setelah ia berhasil menangkapnya.

Satu nama muncul di dalam kepalanya. Satu-satunya makhluk yang cukup gila untuk percaya bahwa dirinya menangkap seekor makhluk yang diragukan masuk ke dalam spesies apa, hanyalah Kim sinting Taehyung seorang. Maka dengan sangat berhati-hati, ia bergerak mendekati nakasnya, menyambar ponsel pintar dan menekan tombol dial setelah menemukan satu-satunya kontak dengan nama yang sangat menggelikan: Prince Taetae.

Ia menunggu cukup lama sebelum sambungannya diangkat. Detik itu juga, Jeon Jungkook menyesali tindakannya.

"Hai, sayang. Merindukanku?" setelahnya, terdengar kekehan bernada rendah.

Jungkook memutar bola matanya, merasa jengah. Namun makhluk asing yang masih mondar-mandir sambil sesekali menatapnya, atau menatap lubang kunci yang sudah tertutup lebih menyita pikirannya.

"Aku menangkapnya. Sekarang, apa yang harus kulakukan?" nafas Jungkook memburu, ia terdengar tidak sabaran.

"Menangkap apa?" si sinting malah membeo, sengaja. "Kupikir kau menghubungiku untuk mengajakku bertemu di suatu tempat. Atau kalau kau sedang sibuk, phone sex terdengar menyenangkan. Aku tidak keberatan."

"Ayolah, Tae! Aku serius di sini!" Jungkook memotong cepat, membentak. "Kau pernah bilang padaku soal Mara atau apalah itu. Dan sekarang aku menangkapnya. Dia sedang mondar-mandir di kamarku setelah aku menutup lubang kunci di pintu. Apa yang harus kulakukan?"

Terdengar dengusan kasar menggelitik gendang telinga Jungkook, sebelum suara berat kembali menyapa. "Bisa meminta tolong dengan bahasa yang lebih sopan? Menambahkan panggilan sayang misalnya?"

"Aku sedang dalam situasi terpojok dan kau malah bercanda?" sang detektif berdecih kesal, mengacak surai copper-nya asal. "Kau bilang dirimu Lucifer, kan? Lakukan sesuatu!"

Nada bicara Jeon Jungkook sarat akan perintah, dan Kim Taehyung sangat tidak menyukai itu. Bagaimanapun, dirinya adalah seorang pangeran.

"Baiklah, karena kau tidak bisa meminta dengan sopan, aku akan menutup telfonnya."

"Tunggu! Kau bercanda kan?"

"Aku tidak bisa membiarkan gadis-gadisku menunggu di ranjang lebih lama. Mereka butuh kehangatan."

"Taehyung!"

Dan sambungan terputus begitu saja. Jungkook menjambak rambutnya frustasi. Dia benar-benar sudah ketularan sintingnya pemilik klub Six. Kalau tahu begini, harusnya Jungkook melakukan hal-hal yang bisa menangkal kedatangan Mara, bukannya mencoba untuk menangkapnya. Terjebak di ruangan yang sama dengan makhluk antah berantah berwajah seram.

Apa yang harus dilakukannya?

Sial. Jangan bilang mimpi buruknya benar-benar jadi kenyataan.

.

.

TBC

.

.

Tiger's Demonology:

Beelzebub: the Lord of Flies. Yep. Raja lalat. Beelzebub adalah demon yang menjadi dedengkot dunia perlalatan. Walaupun lalat biasanya diremehkan, Beelzebub termasuk iblis yang kuat.

Mara: banyak yang mengira kata nightmare berasal dari night (malam) dan mare (kuda betina). Padahal kata mare berasal dari mara. Mara sendiri adalah frasa yang digunakan Anglo-Saxon (let's say, English) untuk menyebut makhluk yang suka menduduki dada orang yang sedang tidur dan membuat mereka bermimpi buruk. Dalam bahasa Jerman biasa juga disebut Alp. Ada juga istilah dalam bahasa lainnya. Di film animasi Jack Frost, mimpi buruk diwujudkan dengan sosok kuda hitam yang dibawa oleh Pitch Black setelah dia berhasil mengubah pasir mimpi Sandy Man. Benar-benar perwujudan literal dari mare. Tiger sempat baca beberapa yang menggambarkan hal serupa, tapi lupa dimana *bows*

Kedatangan Mara bisa ditangkal dengan menyalakan lampu ketika tidur, meletakkan sepatu atau sandal dengan ujung menghadap ke pintu. Kalau memergoki Mara dan tidak ingin diganggu, bisa menyuruhnya pergi dengan berbagai alasan. Misal, menawari kopi esok pagi, atau menyuruhnya datang lain kali. Dan Mara akan langsung pergi, lalu benar-benar datang kembali, dengan mood yang lebih buruk. Dia demon dengan mood super buruk. Tapi tingkatnya hanya sekedar pengganggu, it won't hurt you. Tapi ngeri juga kalo mergokin dia lagu duduk di atas kita *LOL* Di sini, Mara adalah demon sungguhan. Mara bukan iblis yang kuat. Merekahanya akan keluar melalui jalan/ celah yang dilewatinya ketika masuk, jadi kalau kalian melakukan hal seperti Jungkook, Mara akan terperangkap di kamar kalian. Selamat! PS: hati-hati ya yang sering merasa tindihan… hohoho

Seraphiel: Seraphiel holds the highest position of Seraphim. He's the one who teaches the other Seraphim(s) to sing. Dia yang memimpin puji-pujian dan tugas para Seraphim.

Incubus vs Mara: Incubus terkadang juga menggangu manusia melakui mimpi, hampir sama dengan yang dilakukan Mara. Bedanya, kalau Incubus selalu menitikberatkan lust atau nafsu umat manusia, kalau Mara lebih ke fear atau rasa takut.

.

.

A/N:

Terima kasih untuk segala tanggapan melalui kolom review *bows*

Yang bilang jadi inget Yondemasu yo Azazel-san, Tiger juga nonton itu. Hahahaha…

Silakan berkata-kata dan mengungkapkan apa yang readers rasakan melalui kolom review.

Silakan PM/ Line/ atau pesan privat melalui ig bila ingin ngobrol lebih jauh. Asal jangan nanya spoiler ya.. eheheh

oh, yang Tiger ragu mau gs atau tidak itu bukan ff ini, tapi ada ff lain yang sepertinya entah kapan akan mulai ditulis, ahahaha...

Maaf ya tidak bisa balas review satu per satu. Sekali lagi terima kasih banyak.

.

.

Akhir kata, review please

Sayang, Tiger

Line: kimtaemvan

Ig: kim_taemvan

Habis edit Tae dalam wujud Lucifer-nya. Upload tidak ya…