THIS STORY BELONGS TO EXOKISS

I'M JUST A TRANSLATOR

PLEASE DON'T REUPLOAD THIS TRANSLATION ANYWHERE

Title: I'm In Love With My Baby Sitter

Chapter 1: Just a job!

Author: ExoKiss

Translator : ChanBaekOnly

Original story : : / / w w w . story/view/661198/1/i-m-in-love-with-my-baby-sitter-drama-romance-baekhyun-chanyeol-baekyeol-chanbaek (without space)

T/N: For those who asked me if I've asked a permission from the original author. Yes I have. Do you need me to show you a screenshot of her reply to my message? If yes, please tell me your email address and I'll send it right away. Don't you think I translate people's story without their permission, It's not me dude, please be careful before you say a word. I'm a little pissed off, but it's okay, thanks for your nice words.

..karena itu tidak mungkin kenyataan!

Ya, Baekhyun bahagia. Ya, dia bahagia dan dia tidak peduli dengan apa yang bisa dikatakan Jongdae. Setelah dua bulan liburan, perkerja paruh waktu dan kebosanan, Baekhyun dengan bangga mengatakan dia senang bisa memulai kuliah lagi. Dia tidak bisa menunggu untuk menghabiskan waktu di perpustakaan lagi dan belajar. Dia sudah menghabiskan dua bulan untuk menghindari pesan-pesan Kris, kunjungan Kris, dan dia hanyalah seorang pecundang untuk mengatakan yang sebenarnya pada Kris. Setiap waktu, dia selalu menunda-nunda untuk mengatakan pada Kris untuk berhenti bersikap seperti ini padanya dan bahwa diantara mereka sudah tidak ada harapan lagi.

Jadi di sinilah ia selama minggu pertama ia kembali ke sekolah, menjadi kutu buku di perpustakan universitas dan membaca semua buku tentang hukum Korea, hukum negara lain, hukum lama, hukum baru, semua tentang hukum yang bisa ia temukan. Dia tidak bisa dihentikan dan Kyungsoo tidak tau lagi harus berbuat apa dengan Baekhyun.

"Kau di sini! Apa kau tau aku sedang mencarimu?" tanya Kyungsoo.

"Apa kau tau apa yang mengangumkan di perpustakaan?" tanya Baekhyun dengan senyuman.

"Aku tidak tau, tapi kurasa kau akan memberitahuku" ucap Kyungsoo sambil memeriksa buku di depan Baekhyun. Ngomong-ngomong, mereka dilipat, dia tau Baekhyun sudah membaca setengah dari buku-buku ini.

"Dilarang membawa ponsel" ucap Baekhyun sebelum menatapnya dengan tampang mengenaskan.

"Jadi apa yang kau lakukan di sini?" ucap Kyungsoo.

"Jika belum terlalu jelas Kyungsoo, aku sedang membaca" ucap Baekhyun masih membaca bukunya.

"Alasan sebenarnya Baekhyun" ucap Kyungsoo sambil menurunkan buku itu dengan jarinya untuk melihat mata Baekhyun saat dia ingin membohonginya lagi. Baekhyun menoleh pada Kyungsoo dan mendesah.

"Okay aku di sini berharap agar Kris tidak menemukanku. Aku sudah menghabiskan seluruh liburanku untuk menghindari pengakuan-pengakuan cintanya, kencannya, ciumannnya, dan semuanya" ucap Baekhyun sambil melayangkan tangannya di udara.

"Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri? Bukankah akan lebih mudah jika kau bilang padanya bahwa kau sudah tidak mencintainya lagi dan kau tidak bisa mengencaninya lagi? Tidak ada yang lebih simpel daripada itu" ucap Kyungsoo sambil mengedikkan bahu.

"Terima kasih atas nasehat berhargamu tapi terakhir kali kuperiksa, kau tidak tau apa-apa soal berkencan. Kau bahkan tidak punya pacar jadi jangan katakan padaku apa yang mudah dan tidak" ucap Baekhyun sedikit kasar, dia tidak mengira kata-kata itu keluar dari mulutnya seperti ini.

"Ouch, itu tidak sopan" ucap Kyungsoo sambil melihat ke bawah.

"Kyungsoo aku minta maaf, aku tidak bermaksud begitu" Baekhyun mencoba meminta maaf.

"Jangan tarik kembali kata-katamu orang kasar" ucap Kyungsoo sambil melihatnya dengan wajah jijik tapi Baekhyun tau dia tidak benar-benar marah padanya.

"Sekarang lakukan apa pun yang kau mau tapi aku akan tetap membaca buku yang sangat menarik ini" ucap Baekhyun berharap agar dia akan mendapatkan ketenangan yang dia butuhkan untuk terus membaca buku itu.

"Okay aku tidak akan mengatakan apa-apa" Kyungsoo menggerakkan tangannya seolah-olah sedang mengunci mulutnya dengan zipper "Aku akan tutup mulut, aku punya tugas lagipula" tambahnya lima detik kemudian.

"Kyungsoo" Baekhyun memperingatkan dan Kyungsoo mengangkat tangannya tanda menyerah. Baekhyun mengancamnya dengan tatapan dan akhirnya kembali ke bukunya. Ya dia senang akhirnya bisa menyelesaikan bukunya dengan tenang. Tapi itu sebelum Jongdae masuk ke perpustakaan seolah-olah dia adalah pemilik tempat itu dan duduk di meja mereka. Baekhyun menangis dalam hati. Dia bisa melupakan untuk menyelesaikan buku itu sekarang. Dengan Kyungsoo masih lumayan karena dia bisa tenang… dengan Jongdae semuanya berakhir, mustahil bagi Kim Jongdae untuk menutup mulutnya lebih dari satu menit. Baekhyun tidak tau kenapa kadang-kadang dia membenci Jongdae yang merupakan sahabat keduanya. Mungkin karena mereka terlalu mirip. Baekhyun hanya memerangi sifatnya. Dia tau bagaimana bersikap di perpustakaan, Jongdae jelas-jelas tidak tau.

"Jadi Byun Baekhyun, menghindari Kris sepanjang liburan masih tidak cukup dan sekarang kau menghindariku juga?" ucap Jongdae sambil bermain dengan kursi.

"Maaf, aku sibuk dan berhentilah bermain dengan kursi itu , kita sedang di perpustakaan Jongdae" ucap Baekhyun sambil menatap perempuan tua penjaga perpustakaan.

"Terserah" kata Jongdae "Walaupun aku sangat senang bertemu dengan temanku yang tak pernah meneleponku selama liburan, aku di sini bukan untukmu. Aku di sini untuk Kyungsoo" kata Jongdae dan berbalik ke arah Kyungsoo.

"Aku? Apa yang kau inginkan? Apa yang kulakukan?" kata Kyungsoo.

"Bisakah kalian berdiskusi di luar jika aku tidak dibutuhkan?" tanya Baekhyun putus asa, mencoba untuk bebas dari sahabat-sahabatnya. Dia mencintai mereka tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat.

"Santai Kyungsoo. Kurasa aku menemukan belahan jiwamu, lelaki impianmu, benar-benar tipemu" buka Jongdae.

Baekhyun tidak percaya apa yang sedang ia dengar. Jongdae menjodoh-jodohkan lagi dan Kyungsoo terlalu putus asa untuk akhirnya menemukan cinta sehingga dia siap untuk mendengarkan omong kosong Jongdae.

"Omo mo mo mo mo" ucap Baekhyun meletakkan buku di atas meja. "Jongdae hentikan itu"

"Apa? Aku tidak sepertimu. Aku peduli pada kebahagiaan temanku okay?" ucap Jongdae sombong dan Baekhyun mendesis padanya. Dia memutuskan untuk tidak mendengarkan seton omong kosong yang Jongdae hampir katakan dan meletakkan kedua tangannya di telinga.

"Jadi baiklah Kyungsoo" Jongdae mencoba berbisik namun ia gagal dengan menyedihkan, bahkan orang di meja sebelah bisa mendengar percakapan tersebut. "Ada anak baru. Dia benar-benar seperti laki-laki yang kau cari. Dia tinggi, sangat-sangat tinggi, dia mempunyai beberapa style, dia terlihat inteligen. Kurasa dia belajar hukum. Kurasa dia mendaftar untuk kelas hukum tapi aku tidak yakin" ucap Jongdae berpikir di saat yang bersamaan.

Siapa yang membodohi Baekhyun? Dia mendengarkan dan dia tidak bisa mempercayai itu.

"Bagaimana kau bisa katakan seseorang itu inteligen jika kau tidak pernah bicara dengan orangnya?" tanya Baekhyun.

"Ah okay seperti kau. Kau terlihat inteligen tapi kau benar-benar bodoh sebenarnya" Baekhyun tertawa.

"Okay Baekhyun aku tidak punya waktu untuk kesarkastikanmu. Aku berbicara dengan Kyungsoo di sini" ucap Jongdae.

"Apakah orang itu punya nama?" tanya Kyungsoo.

Jongdae mendesis dan memiringkan kepala "Ini dia masalahnya. Aku belum tau namanya tapi aku janji akan mencari tahu Kyungsoo. Percaya padaku, dia benar-benar tampan. Jika aku adalah gay, aku akan benar-benar mengencaninya. Aku melihatnya dan dia sangat tampan" Jongdae bersumpah dengan tangan di jantungnya.

"Tapi kau tidak" ucap Baekhyun dengan sarkastik lagi, masih mencoba untuk membaca bukunya.

Kemudian pintu perpustakaan terbuka dan Baekhyun secara total lupa apa yang Jongdae katakan dan tiba-tiba lupa dengan semua percakapan mereka saat seorang dewa masuk. Baekhyun bersumpah laki-laki itu mempunya hollow of light yang bisa kau lihat di film-film. Okay bukan seorang dewa tapi untuk Baekhyun laki-laki itu sangat dekat dengan kesempurnaan sehingga dia semakin sulit untuk menatap tanpa bersemu merah. Laki-laki itu tinggi, rambut cokelat gelap ditata dengan gel menurut Baekhyun. Dia memakai jeans gelap, sebuah kaus di bawah sweatshirt berwarna putih. Dia berjalan masuk dengan sangat berkelas dan percaya diri hingga jika seseorang mengatakan pada Baekhyun bahwa laki-laki itu adalah model, dia akan percaya. Laki-laki itu menyandang tas biru di pundaknya dan dia sedang menanyakan sesuatu pada wanita tua penjaga perpustakaan. Baekhyun berpendapat dia pasti masih baru. Saat kau ada di universitas ini, untuk beberapa alasan kau pasti tau bahwa kau tidak seharusnya bertanya pada wanita tua penjaga perpustakaan itu. Kadang-kadang Baekhyun penasaran kenapa universitas ini bersikeras untuk mempekerjakan seseorang yang sudah tidak bisa mengerjakan tugas mereka dengan benar lagi.

Ngmong-ngomong… Baekhyun masih fokus dengan laki-laki tinggi itu, secara total menghindari kata-kata Jongdae. Baekhyun terus memandangi laki-laki itu dan mengamatinya dari bangkunya. Oh ya, menurut Baekhyun laki-laki ini mudah didekati. Tapi Baekhyun berjanji untuk fokus pada sekolah saja, tidak ada yang lain, dia tidak siap untuk memulai hubungan apa pun. Kemudian dia menyadari laki-laki itu memakai kacamata hitam. Siapa yang memakai kacamata hitam di perpustakaan pada awal bulan Maret.. itu benar-benar absurd. Baekhyun memutuskan bahwa laki-laki itu bodoh. Dan Baekhyun tidak mau dengan lelaki bodoh. Oh tidak. Tapi itu sebelum laki-laki itu melihat gang di sebelah meja Baekhyun. Untuk beberapa alasan dia yakin tatapan mereka bertemu. Tapi laki-laki itu benar-benar berhenti berjalan dan menatap ke arah Baekhyun. Baekhyun bahkan berbalik untuk melihat apakah ada hal yang lebih menarik untuk dilihat tapi tidak ada. Saat laki-laki itu tersenyum pada Baekhyun, lelaki yang lebih tua itu benar-benar yakin bahwa dia sedang menatapnya. Dia mencoba untuk menyembunyikan wajahnya di buku. Baekhyun memeriksa terus untuk melihat apakah laki-laki itu masih menatap ke arahnya saat dia memutuskan bahwa dia terlalu tua untuk itu. Dia bukan anak SMA lagi. Tapi dia sedang menatap, dia benar-benar berpura-pura mencari buku dan dia tanpa tau malu menatap Baekhyun di antara buku-buku di rak. Jongdae kebingungan saat dia melihat Baekhyun memerah.

"Apa kau butuh udara?" tanya Jongdae. Dia tidak punya waktu untuk melihat Baekhyun menggelengkan kepalanya saat dia memutuskan untuk mengikuti pandangan Baekhyun. Saat Jongdae melihat laki-laki itu, dia hampir merobekkan lengan Kyungsoo dari tubuhnya.

"OMG ini dia anak baru yang kubicarakan!" ucap Jongdae bersemangat. "Lihat, dia inteligen. Hanya orang-orang inteligen yang pergi ke perpustakaan." Tambah Jongdae.

Baekhyun akhirnya bernafas saat dia sadar bahwa dia benar-benar telah menahan nafas sebelum mengomentari kata-kata Jongdae. "Karena kau ada di sini, teorimu tidak masuk akal lagi."

"Diamlah Baekhyun" ucap Jongdae.

Pada saat yang sama, Kyungsoo melihat laki-laki tinggi yang sedang mencari buku itu. Dia harus mengakui bahwa laki-laki itu benar-benar indah dan benar-benar tipenya. Tapi Kyungsoo tidak mau membayangkan apa-apa. Dia tau laki-laki sejenis ini tidak akan pernah menyukainya jika dia adalah gay, dia akan lebih tertarik dengan laki-laki seperti Baekhyun yang bisa misterius dan lucu pada saat yang bersamaan, dan sangat cantik. Kyungsoo tidak begitu dan dia tau itu. Dan jika anak baru itu bukan gay, dia adalah straight jadi dia tidak akan punya kesempatan.

"Dia sangat tampan seperti yang kau katakan tapi kurasa dia bukan gay" ucap Kyungsoo.

"Aku akan mencari tahu tapi aku yakin dia adalah gay" ucap Jongdae.

Baekhyun masih menyembunyikan wajahnya dengan buku saat dia melihat laki-laki itu bersandar pada rak melihat ke arahnya dengan pergelangan kaki disilangkan. Laki-laki tinggi itu tersenyum padanya dan jantung Baekhyun berhenti. Senyumnya indah. Baekhyun bertanya-tanya bagaimana seorang manusia bisa memiliki begitu banyak gigi di mulutnya tapi dia tidak peduli, dia dibutakan oleh senyumnya. Dia tidak pernah tersenyum balik, dia hanya menatap kosong pada laki-laki tinggi itu yang akhirnya memutuskan untuk pergi.

"Apa dia sedang melihatmu?" tanya Jongdae penasaran.

"Kau ada di sini, kau melihatnya, jadi katakan padaku. Apa itu terlihat seperti dia sedang melihatku? Tidak Jongdae" ucap Baekhyun sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Kyungsoo terlihat sedikit kecewa dan membantu Baekhyun menyusun buku-bukunya.

"Baiklah bertemu lagi saat makan siang pukul 1?" tanya Baekhyun, terutama pada Kyungsoo.

"Aku tidak bisa! Aku punya kelas baru semester ini" ucap Kyungsoo.

"Baiklah kalau begitu saat kau selesai, SMS aku jadi aku bisa mengantarmu pulang" ucap Baekhyun dan menghilang dari perpustakaan.

"Aku yakin anak baru itu benar-benar melihatnya! Lihat, aku sudah bilang padamu bahwa dia itu gay. Sekarang kita hanya perlu memperkenalkanmu pada laki-laki itu dan kemudian kau mengerjakan magicmu dan Bam kalian akan berkencan" ucap Jongdae saat semua rencana berubah menjadi sebuah film di kepalanya.

"Kau sangat lucu Jongdae. Maaf aku tidak bisa bicara denganmu lagi aku punya tugas yang harus aku kerjakan untuk besok" Kyungsoo mencoba berucap tanpa menyakitinya.

"Tentu saja, kerjakan saja tugasmu, aku akan pergi lagipula. Aku harus menjaga Clara" ucap Jongdae.

"Apa? Kau mendaftar menjadi buddy lagi semester ini?" tanya Kyungsoo kaget.

"Ya tentu saja, itu memberiku penghargaan extra untuk menjaga murid pertukaran pelajar dan aku mengerjakan tugasku dengan baik. Aku bertemu teman dari luar negeri dan aku bertemu pacar baru" Jongdae mengedikkan bahu.

"Kau benar-benar tidak bisa berubah Kim Jongdae" ucap Kyungsoo sedangkan Jongdae berkedip ke arahnya sebelum pergi.

Baekhyun hanya punya satu menit untuk menghadiri kelas yang berikutnya. Dia terlambat; dia harus menjemput beberapa kertas sebelumnya. Tapi saat kau terlambat kau tidak bisa mengharapkan tempat duduk yang bagus dan Baekhyun sudah tau dia akan berakhir pada baris terakhir dari amphiteater pada pelajaran tentang hukum internasional paling penting semester ini. Jelas sekali, bukan hanya dia yang terlambat saat 3 orang siswa datang setelahnya. Seperti yang ia duga, dia berada di baris terakhir dan dia hampir tidak bisa melihat apa yang ditulis dosen di papan tulis. Lima belas menit setelah permulaan kelas itu, laki-laki tinggi memasuki ruangan besar itu dan mencoba menemukan tempat duduk. Dia masih memakai kacamata hitam. Tentu saja bangku yang tersisa hanya yang di sebelah Baekhyun. Laki-laki yang lebih tua itu sangat beruntung hari ini menurutnya. Daripada kehilangan pikiran pada hal yang tidak berguna, Baekhyun memutuskan untuk fokus pada kelas dan dengan serius mulai mencatat. Secara tak sengaja, ia mengintip pada tetangga barunya dan untuk kesekian kalinya hari ini dia memerah. Laki-laki itu benar-benar sedang menatapnya, tidak ada istilah yang tepat bagi Baekhyun terhadap laki-laki yang sedang mengamati wajahnya itu. Dia pikir begitu sebelum dia memutuskan untuk menoleh tapi tidak… laki-laki itu masih memandanginya bahkan setelah 15 menit. Baekhyun marah, dia benci saat orang menatapinya, itu tidak sopan. Dua menit sebelum kelas berakhir laki-laki itu mencondongkan tubuhnya dan berbisik.

"Aku baru dan aku tidak bisa mencatat semuanya, bisakah kau memberikan nomor ponselmu sehingga aku bisa menghubungimu dan bisakah kau membantuku dengan mengirimkan catatan itu, please?" laki-laki itu berbisik. Baekhyun melihatnya tersinggung. Dia tidak percaya laki-laki itu berani meminta catatannya sedangkan semua yang ia lakukan hanyalah memandanginya dan dia tidak pernah mendengarkan apa yang dosen katakan. Baekhyun berumur 24 sekarang dan dia tidak bisa membiarkan lelaki muda berpikir bahwa mereka bisa melakukan semua yang mereka mau. Karena ya setelah melihat laki-laki itu Baekhyun yakin bahwa dia lebih muda daripadanya. Baekhyun membuat senyum lebar palsu dan pada saat yang bersamaan kelas berakhir. Sangat bagus jadi dia tidak harus membisikkan apa yang harus ia katakan.

"Aku tidak akan punya masalah untuk mengirimkan catatanku jika saja kau tidak bisa mengambil catatan apapun. Aku tau ini hari pertamamu di sini. Tapi jika kau menghabiskan semua waktumu untuk mendengarkan dosen daripada memandangiku kemungkinan kau pasti bisa mencatat. JADI aku minta maaf tapi aku tidak akan memberimu nomor ponselku dan aku tidak akan mengirimkan catatanku padamu" Baekhyun menyelesaikan omelannya dengan menabrak bahu laki-laki itu saat dia mencoba turun tangga.

Laki-laki itu masih berdiri di sebelah kursinya dan memandang Baekhyun yang menghilang dari ruangan itu. Ia tertawa atas pemikirannya.

"Masih sangat keras kepala Baekhyun" ia berkata pada dirinya sendiri dan menggelengkan kepala berlari menuruni tangga mengejar Baekhyun.

Baekhyun hampir membuka pintu kafetaria siswa saat dia menyadari bahwa seseorang mengikutinya dan itu benar-benar membuatnya jengkel. Dia semakin jengkel saat dia berbalik dan melihat lelaki tinggi yang sama dengan senyum mengerikan dan kacamata hitam.

"Ayolah" ucap Baekhyun pada dirinya sendiri sebelum membayar makanannya.

Dia mengambil meja di dekat jendela. Dia tidak harus mencari meja yang lebih besar karena dia tahu Kyungsoo dan Jongdae tidak akan datang untuk makan siang. Dia mengeluarkan bukunya dari tas dan membuka bungkus sandwich dan susu cokelat. Dia tidak bisa percaya di umur 24 dia masih makan siang seperti anak SMP tapi makanan itu murah dan dia tidak terlalu punya nafsu makan. Dia secara total kehilangan nafsu makan ketika lelaki tinggi itu duduk di depannya. Baekhyun membiarkan buku dan sandwichnya jatuh ke meja untuk mengekspresikan kejengkelannya mengejutkan lelaki di depannya.

"Jika aku bodoh aku pasti berpikir kau sedang mencari teman untuk makan siang bersama tapi lagi aku tidak berpikir aku adalah "teman" itu dan aku tidak bisa menemukan penjelasan yang logis bagimu untuk duduk di depank sekarang" ucap Baekhyun namun dia tidak menjawab dan mengunyah kimpabnya.

"Permisi apa kau mendengarku?" Baekhyun melambaikan tangan di depan wajahnya. Saat laki-laki itu mulai membuat suara-suara aneh sambil makan, Baekhyun ingin muntah dan melihat lelaki itu dengan jijik. Setelah 10 menit laki-laki itu tidak berkata apa-apa dan akhirnya Baekhyun berpikir bahwa dia adalah orang bodoh dan dia tidak mau menghabiskan waktu semenit lagi di depan orang asing itu yang jelas-jelas tidak punya tatakrama sama sekali. Dia membungkus sandwichnya dan menyimpan bukunya ke dalam tas. Dia hampir mengambil semua barang-barangnya dan keluar.

"Kau mu kemana?" tanya orang asing itu. "Maaf, aku terlalu lapar, aku butuh sesuatu untuk dimakan sebelum kita bicara" dia menambahi.

"Bagus untukmu! Terima kasih padamu karena aku tidak punya nafsu lagi jadi akan pergi saja" Baekhyun menatapnya.

"Bukan salahku kalau hanya meja ini yang tersisa dan aku tidak mau mengambil meja untuk 4 atau 6 orang untuk diriku sendiri dan aku lebih suka duduk di depanmu" ucap lelaki itu.

"Ya benar" ucap Baekhyun sarkastik dan dia mulai melihat sekeliling dan cenderung tidak ada tempat duduk single yang tersedia. Baekhyun menelan air liur, sekali lagi dia telah salah paham. Dia duduk kembali di bangkunya.

"Okay maaf kalau aku tidak sopan tapi aku benar-benar berpikir bahwa kau mengikutiku, menguntitku. Absurd kan?!" ucap Baekhyun karena dia merasa dirinya benar-benar bodoh.

"Kenapa aku harus menguntitmu Baekhyun?" ucap lelaki itu, melemparkan kertas sandwichnya ke piring.

"Ah!" dia menunjuk laki-laki itu dengan jarinya. "Lihat aku tau itu. Aku tidak pernah memberitahumu namaku. Kau menguntitku" Baekhyun menuduhnya terang-terangan.

"Tidak sama sekali tapi aku bisa membaca" dia menunjuk kartu identitas siswa di tray Baekhyun dengan seringaian di wajahnya dan Baekhyun cepat-cepat menyembunyikannya ke dalam dompet.

Baekhyun bersandar pada kursinya dan menatap laki-laki itu yang semakin tidak menarik bagi Baekhyun.

"Apa?" tanya lelaki itu. "Apa aku punya sesuatu di wajahku?"

"Orang tuamu tidak mengajarkanmu untuk tidak memakai kacamata hitam di ruangan. Ayolah kawan, ini masih bulan Maret, langit berwarna abu-abu, kenapa kau memakai kacamata hitam. Aku benar-benar akan percaya bahwa ada sesuatu yang tidak benar denganmu." Ucap Baekhyun tanpa ampun.

Laki-laki itu membuka kacamatanya dan mencoba untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya. Dia terlihat agak tidak nyaman seperti vampir yang ketakutan dengan sinar matahari.

"Aku memakai ini karena aku baru saja menjalani operasi laser untuk mataku bukan karena untuk bergaya. Aku tidak ingin menjadi tidak sopan padamu Baekhyun" ucap laki-laki itu melihat Baekhyun dan menegaskan suara pada namanya. Pada saat itu, ada sesuatu yang tidak benar dengan Baekhyun, dia tidak bisa menghubungkan suara laki-laki itu dengan wajahnya. Ya itu mustahil baginya, sekarang saat dia melihat seluruh wajahnya, suaranya tidak cocok dengan wajah baby face nya.

"Oh begitu" sekali lagi dia dikalahkan. "Mengesankan" Baekhyun menyuarakan pikirannya kuat.

"Maaf?' tanya laki-laki itu.

"Apa? Apa aku mengatakan sesuatu? Kurasa kau salah dengar. Aku tidak mengatakan apa-apa" Baekhyun berusaha keras menyembunyikan rasa malunya. "Pakai kacamatamu jika kau harus. Jika itu sakit kau mungkin ingin melindungi matamu" ucap Baekhyun.

"Damn, kau masih sangat bossy Byun Baekhyun" ucap laki-laki itu menggelengkan kepala dan memakai kembali kacamatanya.

"Apa kita saling mengenal?" tanya Baekhyun. Dia bisa melihat cemberut laki-laki itu, tepat di bawah kacamatanya.

"Kukira kau mungkin tanpa kacamata kau akan mengingatku. Kurasa kau masih tidak mengenaliku" ucapnya berpura-pura sedih.

"Kurasa kau salah orang. Jika kita saling mengenal aku pasti mengingatmu. Aku selalu mengingat orang-orang yang kutemui" ucap Baekhyun.

"Kurasa aku adalah pengecualian" dia menyeringai. "Aku akan memberikan satu kesempatan lagi untukmu, aku akan melepas kacamataku sekali lagi" ucapnya sambil membuka kacamatanya.

Baekhyun merasa bodoh. Bukannya mencoba mengingat siapa lelaki itu dia malah fokus untuk melihat bentuk wajahnya. Damn laki-laki itu sangat tampan. Dia mempunyai mata yang besar, hidung yang berbentuk bagus, bibir merah muda dan kulit putih. Baekhyun pasti akan benar-benar berhenti di jalan jika dia bertemu laki-laki itu di sana. Kemudian suaranya bergema dan dia berpikir bahwa laki-laki itu memiliki suara yang seksi dan manly dan Baekhyun benar-benar menyukainya. Kemudian dia menyadari laki-laki itu itu sedang memanggil namanya, yang mana menyadarkannya dari meneteskan liur karena laki-laki itu. Baekhyun kembali ke alam sadar dan duduk tegak di kursinya.

"Jadi apa kau ingat sekarang?" laki-laki itu bertanya dengan penuh harap.

Baekhyun fokus, dia benar-benar melihat laki-laki itu lamat-lamat tap dia tidak tahu apakah mereka sudah pernah bertemu atau belum.

"Tidak maaf aku yakin kita tidak pernah bertemu…walaupun mata dan telingamu terlihat familiar…tapi tidak aku yakin kita tidak pernah bertemu" ucap Baekhyun dengan jempol di bawah dagunya. Laki-laki itu mencoba menyembunyikan telinganya di bawah rambut dan terlihat sedikit terharu dengan komentar itu.

Baekhyun membuka kotak susu cokelatnya dan mulai minum.

"Aku benar-benar kecewa kukira setidaknya kau akan mengenaliku" ucapnya terlihat sedih.

"Bagaimana aku bisa mengenalimu, aku bilang aku tidak pernah bertemu denganmu. Siapa namanu? Mungkin aku akan ingat" ucap Baekhyun menawarkan.

"Terlalu mudah, diamana serunya jika aku memberitahumu" ucap orang asing itu dengan seringaian.

"Kau tau?! Kurasa kau sedang pura-pura. Kurasa kau melakukan ini untuk mendekatiku. Biarkan aku mengatakan apa yang kupikirkan. Kursa kau menganggapku menarik dan biarkan aku memberitahumu, teknikmu sungguh payah" Baekhyun berkata sambil menunjuk laki-laki itu. "Aku bertanya-tanya apa yang sedang kulakukan di sini, serius" tambahnya.

Lelaki yang memakai sweetshirt meletakkan siku di atas meja dan meletakkan kedua tangannya di pipi, memandangi Baekhyun semangat. Dia tidak bisa berhenti memikirkan bahwa Baekhyun sangat imut saat dia sedang marah.

"Jangan egois. Aku bukan perayu, benar. Aku benar-benar ingin kau mengingatku. Tapi kurasa aku tidak bisa membohongi lelaki 24 tahun" ucap orang asing itu.

Sekali lagi Baekhyun tidak tahu harus bilang apa. "Tentu saja kau bukan penguntit, kau akan mengatakan padaku bahwa kau membaca tanggal lahirku di kartu identitas siswa kan?"

"Tidak" ucap laki-laki itu melihat ke udara seolah-olah dia sedang mencari sesuatu. "Tidak ada tanggal lahir di kartu identitas siswa" tambah laki-laki itu.

"Jadi kau mengakui bahwa kau menguntitku?" tanya Baekhyun.

"Aku akan jawab kalau kau sudah mengingatku" katanya.

"Kenapa kau mendesak? Kita tidak saling mengenal" Baekhyun mulai semakin marah. Dia sangat benci diperlakukan seperti orang bodoh.

"Apakah aku harus menciummu? Mungkin kau akan cepat ingat?" tanyanya memiringkan kepala ke samping.

Baekhyun melihatnya lamat-lamat, mengerutkan alisnya. "Ya tuhan kita berciuman. Kau adalah laki-laki yang kucium di pesta Jongdae dan aku tidak bisa ingat? Apakah itu? Ya tuhan aku minta maaf soal itu, aku terlalu mabuk, aku tidak sadarkan diri, aku tidak pernah ingat tentang apa yang terjadi pada pesta itu" Baekhyun mengakui malu. Tapi bagian yang lucu adalah kebingungan pada wajah laki-laki itu. Itu adalah campuran antara jijik dan muslihat, Baekhyun tidak benar-benar tahu.

"Jadi kau menjadi laki-laki semacam itu, mencium laki-laki asing di pesta-pesta? Setidaknya kau masih secantik beberapa tahun yang lalu"

"Apa?" ucap Baekhyun.

"Okay cukup. Beritahu aku siapa kau, dimana kita bertemu? Beberapa tahun yang lalu? Beritahu aku namamu" pinta Baekhyun dan laki-laki itu dengan senang hati menggelengkan kepalanya.

"Tidak, kurasa akau akan membiarkanmu untuk memikirkanku beberapa saat lagi" ucap laki-laki itu dengan senang.

Baekhyun menjadi semakin dan semakin curiga. Dia benar-benar berusaha keras untuk mengingat siapa dia tapi dia tidak punya petunjuk apa-apa. Dia melihat lelaki di depannya dengan ekspresi curiga saat dia memutuskan untuk meminum susu cokelatnya di saat yang bersamaan.

Dari salah satu sudut matanya dia melihat perempuan muda menghampiri meja mereka. Dari seragamnya dia berasumsi bahwa ia bukan murid SMP dan lebih terlihat seperti siswa SMA. Bagian paling buruk datang saat dia menghempaskan tangannya ke meja membuat Baekhyun melompat sedikit. Walaupun Baekhyun tetap meminum susunya.

"Yaaaaah Park Chanyeol apa kau tahu sudah berpa kali aku meneleponmu? Kau pergi dengan uang makan siangku pagi ini jadi belikan aku makanan sekarang karena aku sangat lapar" dia berteriak pada laki-laki di depannya. Pada saat itu Baekhyun merasa jiwa meninggalkan raganya dan dia hanya ingin untuk menghilang. Pengucapan sederhana dari nama itu membuatnya merinding. Mulutnya tidak terhubung dengan kotak susu itu lagi tapi Baekhyun yakin cairannya masih menetes dan mendarat jatuh tepat di selangkangannya. Baekhyun yakin area itu sekarang benar-benar basah tapi dia tidak bisa bergerak.

"Ya tuhan bukankah ini Byun Baekhyun!" ucap perempuan itu dengan gembira. Dia terlihat bahagia bertemu dengannya. Tidak seperti laki-laki di depan Baekhyun yang melihat perempuan itu seolah-olah dia ingin merobek tenggorokannya.

"Ha Na?" tanya Baekhyun karena dia sangat terkejut, terlalu terkejut.

"Oh kau mengingatku oppa, sangat keren" ucapnya.

"Ini sangat tidak adil, bagaimana kau mengenalinya dan aku tidak?" tanya laki-laki itu.

"Tidak ada yang mengenalimu Chanyeol, kau berubah terlalu banyak. Realistislah untuk semenit. Kau dulunya gendut dan kau sekarang adalah jerapah, sekarang setelah aku mengatakannya aku tidak tau apakah kau benar-benar sudah berubah. Sekarang berikan aku uangnya." Ucapnya.

Chanyeol tidak menunggu lebih lama lagi untuk memberikan uangnya. Dia sedang mengharapkan reaksi dari Baekhyun tapi sekarang dia tidak yakin lagi. Baekhyun tidak bergerak sama sekali.

"Terima kasih, sampai jumpa di rumah. Senang bertemu denganmu lagi oppa" ucap Ha Na. "Dan berbaik hatilah padanya. Raksasa ini hampir mati karena sangat ingin bertemu denganmu lagi" tambahnya sambil menepuk bahu saudaranya. "Bye" ucapnya sebelum berlari keluar untuk menyusul bus selanjutnya yang akan kembali ke sekolahnya.

Tapi Baekhyun tidak pernah mendengar apa yang ia katakan. Pikirannya sudah berhenti memproses apa yang yang mereka katakan saat dia mendengar empat kata "Ya. Park. Chan. Yeol" dan itu adalah sepuluh menit yang lalu.

"Kau pasti bercanda" itu adalah satu-satunya yang dapat dikatakan Baekhyun setelah beberapa saat.

"Apa kau baik-baik saja? Kurasa kau sekarang tidak harus berusaha mengingatku" ucap Chanyeol tersenyum saat dia sadar kotak susu Baekhyun miring dan beberapa menetes jatuh pada Baekhyun. Dia mengambil beberapa tisu dan duduk di sebelah Baekhyun. Saat dia sadar dengan kotornya celana Baekhyun, dia ingin tertawa tapi pasti sangat canggung karena situasinya. Malahan, dia mencoba membersihkan susu dari selangkangan Baekhyun menyebabkan tekanan suka rela di gembungan celana Baekhyun untuk mendapat beberapa reaksi. Saat Baekhyun akhirnya merasakan perasaan aneh di bagian bawahnya, pikirannya akhirnya kembali dan melihat apa yang terjadi di bawah meja.

"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" tanya Baekhyu mengucapkan tiap kata.

"Membersihkan" ucap Chanyeol menekan sedikit lagi dan sedikit sensual untuk Baekhyun pada tonjolan di celananya.

"Park Chanyeol singkirkan tanganmu sekarang" Baekhyun memperingatkan dan Chanyeol menganggapnya serius. Tapi dengan seringaian terakhir dia memutuskan untuk bermain untuk yang terakhir kalinya dengan Baekhyun.

"Tunggu biarkan aku membersihkan tetesan terakhir dari susumu kemudian aku akan selesai" ucap Chanyeol dan menghapus noda terakhir , melemparkan tisunya ke tray Baekhyun. "Lain kali kita akan melakukan itu di tempat lain, dan tidak akan seberantakan ini" ucap Chanyeol seduktif. Baekhyun tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Seorang remaja sedang menggodanya, anak kecil sedang mencoba berbicara kotor dengannya. Tidak, tidak, tidak, tidak,tidak, tidak, tidak… itu tidak bisa terjadi.

Chanyeol mendorong keberuntungannya dan mencium Baekhyun di pipi.

"Kurasa kita akan sering bertemu. Kita berdua belajar hukum lagipula. Dan jangan lupa Baekhyun, kau membuat janji 7 tahun yang lalu dan aku berharap kau memegang kata-katanmu layaknya lelaki" Chanyeol melambai padanya.

Baekhyun skeali lagi terlalu terkejut untuk bereaksi. Saat Chanyeol meninggalkan kafetaria, Baekhyun berhasil memproses apa yang baru saja terjadi. Dia baru saja bertemu dengan anak yang menggodanya karena dia cinta padanya, anak itu secara magis telah bertransformasi menjadi makhluk indah tapi dia tetaplah anak-anak, kemudian anak yang sama hampir memberinya hand job melalui jeansnya dan sekarang dia punya janji? Janji apa? Dia tidak pernah menjanjikan apa-apa pada anak itu. Dan saat realitas memukulnya, dia berdoa agar sebuah lubang raksasa muncul dan menelannya sekarang juga. Dia tidak ingat persis apa janji bodoh yang dia buat untuk Chanyeol saat itu tapi dia takut dengan pikiran tentang janji bodoh yang dia buat untuk melepaskan diri dari anak itu.

"Ini lelucon, pasti sebuah lelucon, seseorang tolong beritahu aku bahwa ini hanyalah sebuah lelucon" ucapnya pada diri sendiri sebelum membiarkan kepalanya jatuh ke meja.

TBC

Thanks for reading guys. Sorry, I didn't re-read this, so if you found any mistakes/typos, I apologize. I didn't do it on purpose. Lastly, please leave some comment so I'll be excited to translate the next chapter! c: