.
.
{A SONG FIC}
Title: Khayalan Tingkat Tinggi (Yoochun version)
Length: One Shot
Pairing: Junsu (GS) - Yoochun - Jaejoong (GS)
Disclaimer: This story is a work of pure fiction
Warning: OOC, membosankan, typos
GENDERSWITCH
.
BGM: "Khayalan Tingkat Tinggi" - by Peterpan
.
.
"Selamat pagi, Professor Park."
Seluruh kelas menyapaku di pagi hari. Mahasiswa dan mahasiswi berdiri dari tempat duduk mereka untuk menghormatiku yang baru datang.
"Ehmmm... pagi," jawabku sambil melirik jam di dinding kelas. Jam sembilan lebih enam menit. Aku memang bukan orang yang tepat waktu. Tapi ada satu lagi orang yang selalu terlambat di kelasku. Mari kita hitung...
Tiga... Dua... Satu...
Brak!
Pintu kelas terbuka dengan keras. Sesosok yeoja yang mengenakan rok dan kemeja lengan panjang masuk dengan tergesa-gesa. Rambutnya yang dicat pink dan dibentuk gelombang terlihat membingkai wajahnya yang imut.
Aku menelan ludah. Selalu pemandangan seperti ini yang tersaji di kelasku.
Dia membungkuk di depanku. "Selamat pagi, Professor Park. Maaf saya terlambat heheee..."
Aku selalu tidak bisa marah jika seorang Kim Junsu yang terlambat. Kuhela napas dan berkata. "Ya sudah. Silahkan duduk, Junsu-ssi. Besok jangan diulangi lagi ya."
Dengan sigap Kim Junsu duduk di kursi kosong. Dia melempar senyum manis ke arahku yang sedang berdiri di depan kelas. Ucapan terima kasih karena aku membiarkannya.
Beberapa orang mahasiswa yang duduk di barisan terlihat mencibir dengan sembunyi-sembunyi ke arahku. Aku tahu apa yang ada di benak mereka. Professor Park Yoochun selalu pilih kasih dan tidak pernah menghukum Kim Junsu yang selalu terlambat menghadiri kuliah.
Bagaimana mungkin aku bisa menghukum yeojachingu-ku sendiri? Andai para mahasiswaku tahu...
"Ehmm... Baiklah kita mulai kelas pagi ini," ujarku.
Kelas pagi yang berlangsung hanya tujuh puluh menit itu berakhir seperti biasa. Padahal kelas normalnya berlangsung sembilan puluh menit.
"Kelas saya akhiri sampai disini. Sampai jumpa di kelas selanjutnya."
Para mahasiswaku terlihat senang karena kelas dipersingkat.
"Kim Junsu-ssi, mohon jangan meninggalkan kelas terlebih dahulu. Saya ingin bicara dengan anda."
Junsu yang sedang membereskan buku-bukunya terlihat terkejut. Dia kemudian mengangguk sebagai tanda mengerti.
Kelas sudah kosong sekarang. Hanya meninggalkan aku dan Kim Junsu seorang.
Aku menuju pintu kelas. Klik.. Kukunci dengan rapat. Perlahan kuhampiri Junsu yang sedang sibuk berkutat dengan tasnya.
Grep... Kupeluk pinggangnya dari belakang. Tubuhnya hanya setinggi telingaku dan itu memudahkanku memeluknya.
"Aahh.. oppa..." Desahnya ketika merasakan tubuh kami menempel. Tangannya memegang lenganku yang memeluk perutnya.
"I miss you, baby..." bisikku sambil mencium daun telinganya yang dipasangi anting berbentuk lumba-lumba.
Dia terkikik geli sambil mencubit pipiku. "Oppa, maafkan aku. Dua minggu ini kau tahu bukan jika aku sibuk di klub sepakbola? Aku menyiapkan tim yang akan ikut turnamen. Coach meminta bantuanku siang malam."
Aku menggerutu sambil membenamkan kepalaku di lehernya.
"Sudahlah oppa. Kita pulang yuk."
Kubuka mata. Heran. "Loh kau tidak ada kelas lagi, Su?" Seingatku dia ada satu kelas lagi tiap Rabu.
Dia berbalik menghadapku. "Ngg.. Tidak, oppa. Aku tidak ingin masuk kelas. Aku hanya ingin bersamamu hari ini..." Wajahnya memerah. Kepalanya menunduk.
Yayy! Teriakku dalam hati.
"Baiklah. Kau duluan saja ke mobil oppa. Nanti oppa susul. Oppa harus membereskan meja dulu."
Aku tidak ingin orang-orang di kampus tahu jika aku berhubungan dengan salah satu mahasiswiku. Posisi dan jarak umur empat belas tahun yang membuat kami harus 'berakting' jika ada di kampus.
Tidak apa-apa. Aku bisa menerimanya.
Kami berdua sampai di apartemenku satu jam kemudian. Itu karena aku harus mengantar yeojachingu-ku berbelanja dulu.
"Ughh, gerah sekali disini," keluh Junsu sambil mengipasi dirinya dengan sebuah koran yang ditemukan di ruang tamuku. "Oppa, aku mandi dulu ya."
Aku mengangguk. Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tamu. Tak lama mataku terpejam.
"Oppa! Oppa!"
Kudengar suara membangunkanku. Sebuah tangan mengguncang bahuku.
"Oppa! bangun, oppa!"
"Ngghh... Jun.. su" erangku lemah karena dipaksa membuka mata.
"Junsu? Junsu siapa? Aku Jaejoong, oppa. Kim Jaejoong."
Aku membuka mata dengan perlahan.
Di depanku terlihat sosok yeoja glamor dengan gaun indah dan make up lengkap.
"Eh Jae... ngapain kau disini?" Aku mencaoba duduk meski kepalaku sedikit pening akibat dibangunkan paksa.
"Dasar oppa tukang tidur!" omel Jaejoong. "Aku memencet bel pintu lama sekali tapi oppa tidak membukanya. Aku langsung masuk saja memakai kunci cadangan." Jaejoong terlihat kesal.
Aku lupa jika Jaejoong masih mempunyai kunci cadangan apartemenku.
Yeoja itu mengangsurkan sebuah surat kepadaku. "Sidang pertama kita akan berlangsung minggu depan. Oppa wajib datang."
Kubaca dengan seksama. Itu adalah sebuah undangan untuk menghadiri sidang pertama perceraianku dengan Kim Jaejoong.
.
October.23.2014
Twitter: _SummerCassie_
FB: /SummerCassie5
IG: summer_cassie
