Story belong to Lisa Kleypas, Scandal In Spring, saya hanya penggemar yang menyatukan hobi juga OTP saya kedalam fanfiction ini. Sorry for typos (yah namanya juga manusia, hehe)

By diya

Chapter 1

"Aku seharusnya tidak datang kesini."

Kyungsoo menatap Luhan—kakaknya tengah memejamkan matanya erat menahan sesuatu yang hendak keluar dari mulutnya. Perutnya bergejolak, Bulu matanya membentuk sabit indah diwajahnya. Kepalanya menyandar ke bahu suaminya yang tegap sambil sesekali tangan besar dan hangat milik suaminya itu mengelus perut Luhan yang makin membesar.

"Tidak apa-apa Kyungsoo~ah, tidak ada yang membuatku lebih stress daripada Adikku menyembunyikan sesuatu dariku."

Kyungsoo sedikit menyesal, seharusnya Ia mengendapkan masalah ini untuk dirinya sendiri, bukannya datang dan mengadu kerumah kakaknya seperti anak kecil, menambah beban pikiran kakak kesayangannya.

Iris mata Luhan terbuka, Ia menatap Kyungsoo, tatapannya yang lembut dan menenangkan, membawa Kyungsoo kembali pada masa kecil mereka yang bahagia, saling berbagi. Kyungsoo sadar bahwa Ia tidak tumbuh dengan kasih sayang kedua orangtuanya, membuat Ia lebih dekat dengan kakaknya, saling berbagi rasa sayang menggantikan orangtuanya.

"Apa lagi yang dikatakan raksaksa itu kepadamu, Kyungie?"

"Ayah memberiku ultimatum, dalam waktu dua bulan aku harus sudah berhasil mendapatkan calon suami kalau tidak Ia akan menjodohkanku."

Kyungsoo mendudukan dirinya di sofa panjang yang berhadapan dengan kakaknya. Wajahnya sangat frustasi. Ini sebuah berita buruk, mayday!

"Dan coba terka siapa calon pilihan Ayah!"

"Siapa?"

Kali ini Sehun yang membuka suaranya. Ia mulai tertarik dengan pembicaraan Istri dan adiknya ini, tangannya mengambil segelas limun dan mengarahkan sedotannya kemulut Luhan, Sesekali tanganya mengusap beberapa helai rambut Luhan yang menghalangi wajah Istrinya.

Kyungsoo seharusnya berteriak kesenangan karna melihat moment manis kakak dan sang kakak ipar ini sekarang. Tapi perkataan Ayahnya pagi ini cukup membuatnya hanya fokus pada masalah yang tengah dihdapinya.

"Coba terka saja!"

"Aku tidak tahu Kyung, kau tahu, Ayah jarang sekali menunjukan rasa sukanya pada orang lain, dan dia tidak dekat dengan siapapun."

"tentu saja ada yang dekat dan sangat disukai oleh Ayah. Aku yakin seratus persen dia sangat menyukai orang ini."

Nadanya melemah. Ia kembali berdiri dan meminum segelas limunnya dengan kasar,

"Siapa?" kembali Sehun mengulang perkataanya. Diangguki oleh Luhan yang kembali membenarkan posisi menyandarnya agar nyaman. Sehun menegakkan tubuhnya kemudian mengangkat kedua kaki Luhan ke atas sofa agar berbaring di sisinya.

Kyungsoo bisa melihatnya, tatapan Sehun begitu dalam menatap Luhan, tatapannya penuh cinta, begitu berharga. seolah Ia akan melakukan apapun untuk melindungi Istri juga bayi yang ada di perut Luhan sekarang.

Diam-diam Kyungsoo merenung, ia juga ingin memiliki seseorang yang menatapnya sedalam itu, mencintainya, melindunginya dan menganggapnya berharga, rela melakukan apapun untuk dirinya. Kyungsoo menghela nafas.

"Kau kenal baik dengannya Unni, dan kudengar dia diundang oleh Ayah ke estat milikmu, Oppa."

Sehun menaikan sebelah alisnya mencoba mengingat-ingat siapa orang yang Tuan Do sarankan untuk mengundang ke namsangol hanok, estat bernuansa tradisional yang dimiliki Sehun, rencananya dua hari lagi Ia memang akan meeting kesana dan mengajak Luhan untuk berlibur menikmati suasana pedesaan untuk mengurangi stress karna kehamilannya. Ia kembali menaikan alisnya, Orang khusus yang diinginkan Tuan Do..

"Dia orang Do Corporate?" Kyungsoo mengangguk. Sehun kembali berfikir, "Kim Jongin?"

"Kim Jongin."

Luhan membuka matanya yang terpejam, menatap Kyungsoo bertanya sekali lagi apa Ia salah dengar. "Tidak, Unnie kau tidak salah dengar, Kim Jongin. Tangan kanannya diperusahaan yang sangat Ia cintai itu."Kyungsoo kembali meyakinkan kakaknya, dan menggunakan nada mengejek diakhir kalimat.

Tiba-tiba kakanya itu melingkarkan tangannya dileher suaminya, Kyungsoo kira kakanya menangis karna mual, tapi tak lama Luhan menoleh terdengar kikikan jelas dan Luhan tertawa keras setelahnya.

"Ini tidak akan lucu jika kau yang dijodohkan dengannya, Unnie."

Kyungsoo mendengus sebal. Ia sudah mengiranya, kakaknya ini pasti akan mengira bahwa ini adalah lelucon paling menggelikan di dunia.

"Memangnya kenapa? Menurut cerita yang kudengar, Kim Jongin orang yang cerdas."

"Semua hal yang ada dirinya adalah kesalahan, Suamiku." Luhan masih geli diantara perkataannya. Ia kembali membenarkan posisi berbaringnya yang merosot karna terlalu banyak tertawa.

"Dia memang cerdas. Aku mengakuinya." Kyungsoo terdiam kemudian melanjutkan "Tapi dia keras seperti Ayah, dia juga orang yang dingin, dia akan menanyakan seribu pertanyaan kemudian hanya akan diam tak menimpali sedikitpun saat lawannya berbicara."

"mungkin Jongin orang yang pemalu, Kyung.."

"lelucon macam apalagi, Suamiku.." Luhan menimpali.

"Jongin adalah orang yang aneh, tubuhnya tinggi, kurus. Seperti tulang belulang, bahkan Kyungsoo menyebut kaki dan tangannya seperti sulur buncis. Belum lagi kulitnya berwarna lain dari kita. Kalau kau melihatnya berjalan mungkin seperti orang-orangan sawah. Sangat jauh dengan suamiku ini." Luhan menepuk dada bidang Suaminya bangga, Kyungsoo kembali berdecih.

"Aku kesini untuk meminta bantuan pada kalian, bukan melihat kalian bermesraan begini.."

Luhan tertawa puas, "Oh maafkan Unni mu yang cantik ini, Kyungsooku sayang." Ucapannya terjeda karna Ia kembali meminum es limunnya. Sehun terkekeh mendengar obrolan Luhan dan Kyungsoo. Ia sudah tidak heran lagi, hidupnya memang lebih berwarna semenjak kenal dengan Do bersaudara.

"Kalian sangat buruk menggambarkan Kim Jongin, Apa tidak ada hal yang bagus dari dirinya?"

"Tekadnya untuk menjadi seperti Ayah. Dia mampu menghadapi Ayah yang temperamental." Luhan menjawab sambil menganggukan kepalanya ragu.

"Giginya bagus."

Luhan memandang Kyungsoo aneh. "Kau tahu darimana? Aku ragu bahkan Ia jarang tersenyum apalagi memperlihatkan giginya."

"daripada membuat daftar apa-apa saja yang tidak kusukai darinya akan lebih mudah mengatakan bahwa tidak ada satupun dari dia yang aku sukai, tidak punya selera humor, ambisius juga arogan!"

"Kalian benar-benar kejam.." Sehun sedikit menegur saat dirasanya Luhan dan Kyungsoo sudah keterlaluan, "Kyung, mungkin saja Jongin sudah berubah, bukankah sudah lama kau tidak bertemu dengannya?"

"Ayah memang menugaskan dia ke Gyeonggi untuk mengurus cabangnya disana sejak tiga tahun lalu, tapi aku yakin Oppa, dia tidak akan berubah banyak hingga aku mau menikah dengannya." Kyungsoo berujar yakin.

"Intinya, aku benar-benar tidak mau menikah dengan Pria yang lebih mengutamakan bisnis diatas segalanya."

"kau tidak perlu menikahinya jika memang tidak ingin, Iyakan Sehun~ah?"

"tentu saja, selalu ada negoisasi untuk mengambil keputusan." Jawab Sehun mantap. Ia tahu maksud Luhan apa. Karna demi apapun Luhan paling tidak suka dijauhkan dari orang yang paling Ia sayangi, Adiknya, Kyungsoo.

"Karna itu kau tidak usah khawatir, Kyung.. karna Sehun pasti...membantumu agar tidak menikah dengan..si Jongin.. itu." Nada bicara kakaknya melemah dan Ia tersenyum begitu melihat Luhan tertidur, Ia berdiri dari duduknya kemudian menatap Sehun memberi Isyarat bahwa Ia akan pulang. Sehun mengangguk sebagai jawabannya.

Sehun kembali menyamankan Luhan di sandarannya, sebelum akhirnya menyadari bahwa Kyungsoo tertahan di Pintu dan menatap Sehun, seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi tertahan.

Kyungsoo membuka suaranya saat dilihatnya Sehun menatapnya hangat, mendorongnya untuk bercerita apa yang mengganjal dihatinya.

"Ayah.. menjulukiku parasit.. Apa aku seburuk itu?"

Nada bicaranya pelan, tidak ingin membuat Luhan terusik dari tidurnya, Kyungsoo bisa melihat kaka Iparnya itu menjulurkan tangan menyuruhnya mendekat mengenggam tangannya hangat. Kyungsoo tersentak, baru kali ini Ia melihat kaka Iparnya berlaku sehangat ini. Selama ini Kyungsoo mengenal Sehun sebagi Pribadi yang dingin.

"Ayah bilang, apa keuntungan yang telah kuberikan dari kehadiranku di dunia ini, apa yang telah kulakukan bagi semua orang."

"Lalu jawabanmu?"

Kyungsoo terdiam, menatap kakaknya yang terlelap begitu tenang, Ia mengatur nada bicaranya agar tidak bergetar sedikitpun, "Aku tidak menemukan jawabannya.."

Sehun menghela nafas, Ia tersenyum menatap Kyungsoo.

"Kyungsoo.." Sehun menenangkan adik Iparnya "Hidup seseorang itu tidak dinilai mengapa dan apa saja kontribusi besar yang kau lakukan untuk hidup orang lain, maksudku.. Do Kyungsoo adalah gadis periang. Hal-hal kecil yang kau lakukan adalah berguna, Tidakkah kau merasa dengan membuat orang tersenyum karna dirimu adalah sesuatu yang bermakna?"

Kyungsoo menunduk, menatap jemari kakinya. Ia tidak mau kakanya terbangun dan semakin marah pada Ayahnya.

"Jangan meragukan dirimu, Kyungsoo. Dunia akan lebih berwarna dengan Do Kyungsoo didalamnya. Kau berharga Kyung, untuk orang-orang yang mencintaimu."

.:Kaisoo:.

Kyungsoo menyambut paginya dengan riang hari ini. Setelah kemarin Ia dan keluarganya sampai dengan selamat di Namsangol hanok—yang menurut Luhan adalah perjalanan yang paling menyiksa karna mereka harus menempuh 3jam perjalanan dari Seoul dalam kondisi mual parah— Ia bisa menghirup udara segar khas pedesaan. Ini memang bukan pertama kalinya Ia ke estat luas kaya akan budaya tradisional yang dimiliki negaranya ini, dulu Ia pernah kesini beberapa kali, bahkan kakanya dan Sehun pun pertama kali bertemu disini.

Pagi yang cerah, sinar mentari bahkan masuk dari celah-celah jendela kamarnya. Karna udaranya yang begitu segar Kyungsoo memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, menyusuri estat luas milik Oh Sehun.

Estat milik Kakak Iparnya ini terletak jauh dari perkotaan, udaranya terasa jauh lebih segar dengan banyak pepohonan disekitarnya. Yang Kyungsoo sukai ada sungai di penghujung jalan menuju Jalan Raya besar. Memang banyak pemugaran agar kondisi bangunan bernuansa tradisional ini tetap terjaga. Dan Kyungsoo harus akui Ia bangga mengatahui bahwa kakanya sangat menjaga suasana tradisional khas negaranya.

Mengenakan gaun selutut berwarna biru muda membuatnya terlihat segar, rambutnya pun dikepang daun dari ujung kepala hingga ujung rambut. Kakinya dibalut wedges berwarna sama dengan gaunnya.

Kakinya menyusuri jalan setapak di bagian belakang estat milik Sehun, Kyungsoo siap pergi ke sumur permohonan. Ia mendengar suara sayup gemericik air dari sungai, juga suara jangkrik yang mengeluarkan suaranya membuat Ia semakin rileks, melupakan sejenak masalahnya. Jika ada orang yang memergokinya tengah pergi ke sumur permohonan mungkin Ia akan dianggap sebagai gadis yang bodoh dan terlalu banyak bermimpi.

Kenapa Ia begitu sulit mendapatkan calon suami?

Kyungsoo bukannya tidak mau jatuh cinta, malah Ia sangat menginnginkan perasaan itu. Tapi apa yang terjadi pada dirinya sendiri Ia juga tidak mengerti, terlalu banyak membaca novel dengan banyak tokoh Pria yang begitu sempurna, tampan, kaya raya yang memiliki tatapan tajam, sikap yang tegas namun manis dihadapan kekasihnya, Protektif, juga sifat yang sensual karna demi Tuhan Kyungsoo suka pria dengan aura snsual dan vitalitas yang kuat, yang mampu membawanya kedalam ciuman yang hangat memabukan juga liar, merengkuh, juga mencintai setiap lekuk tubuhnya, terlalu banyak membaca membuat Kyungsoo menjadi pemilih.

Tentu Kyungsoo tidak senaif itu dengan menganggap Pria seperti itu benar-benar ada di dunia nyata. Tapi.. terlalu senang berkhayal membuat Pria didunia nyata menjadi sangat.. membosankan.

Saat ada Pria sebayanya, Kyungsoo sering menemukan mereka sombong, terlalu berfoya foya dan tidak suka memikirkan masa depan. Dan saat Kyungsoo menemukan seseorang yang mampu mengayominya dan mimpinya, mengobrol dengan sangat nyaman ternyata Pria itu sudah berumur bahkan terlalu tua untuk Kyungsoo.

Kyungsoo akui Ia tidak erlalu cantik, tubuhnya kurus dan terlalu mungil. Meskipun banyak yang menyebutnya cantik bagai bidadari tetap saja tidak mampu menarik banyak perhatian Pria.

Mungkin karna Kyungsoo sudah terkenal lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan. Makanya banyak lelaki yang menghindarinya.

Setelah melewati beberapa kebun bunga akhirnya Kyungsoo sampai di sumur permohonan. Ini bukan pertama kalinya Ia datang ke sini, beberapa kali Kyungsoo datang untuk memohon, untuk Luhan dan semuanya terkabul. Jadi Kyungsoo percaya bahwa sumur ini memang memiliki keajaiban, seperti kolam Trevi yang terkenal di Roma.

Ia mengambil beberapa koin dari saku dressnya. Kemudian berdiri di dekat sumur, memejamkan matanya kemudian melemparkan koin pertama kedalam sumur. Matanya terpejam erat menggumamkan sebuah permintaan. "Roh Sumur.. Aku mohon kabulkan permintaanku. Aku memang memiliki kesulitan dalam menemukan jodohku, aku hanya memohon berikanlah seseorang yang mencintaiku dan mau menerimaku apa adanya. Aku akan terbuka."

Saat tengah serius memjamkan matanya Ia mendengar suara semak-semak bergerak, matanya terbuka, buru-buru Ia berbalik untuk mengantisipasi apa yang datang menghampirinya. Ia melihat bayangan tinggi tegap, hitam, semakin mendekat padanya.

Kyungsoo tanpa sadar memundurkan tubuhnya, semakin mundur dan dalam sekejap mata sosok tadi sudah menangkap tubuhnya sebelum Ia jatuh kedalam sumur.

"Astaga!"

Kyungsoo tanpa sadar mencengkram kemeja lelaki yang tadi menangkap tubuhnya. Ia bisa mencium aroma citrus juga wood yang kuat dari tubuh yang sedang merengkuhnya. Ia mengerjapkan matanya sebelum akhirnya Pria dihadapannya melepaskan rengkuhannya.

"Maafkan aku, membuatmu takut.."

Kyungsoo masih memandang ke arah samping, menghindari wajah yang ada dihadapannya. "Aku tidak takut.. aku.. hanya terkejut."

Kyungsoo memberanikan diri menatap Pria dihadapannya. Wajahnya terasa familier, tapi dimana..

"Aku sampai di estat ini beberapa jam yang lalu.. dan para pelayan disana bilang bahwa kau sedang berjalan-jalan di hutan belakang rumah utama, Nona Do.."

Pria ini mengenalnya.. Kyungsoo menajamkan kembali matanya. Sosok dihadapannya sangat tampan-Sial Kyungsoo harus mengakuinya—tubuhnya yang tegap begitu pas dibalut kemeja putih yang dua kancing atasnya terbuka, dan lengannya digulung hingga siku. Jangan lupakan wajah juga jawline yang begitu tegas, seolah terbentuk karna pengalaman yang keras. bibirnya yang tebal menambah sensualitas yang dimiliki Pria itu.

Kulitnya tan kecoklatan, rambutnya disisir rapi ekatas, membuat Kyungsoo pusing karna aura sensual yang terlalu kuat dari Pria dihadapannya. Tapi kemudian Ia sadar Pria dihadapannya ini..

"Kim Jongin?"

.:Scandal:.

"Senang bertemu kembali dengan Anda, Nona Do.."

Jongin membungkukan tubuhnya, memberi salam. Dijawab anggukan lemah dari Kyungsoo. Ia masih lemas mengetahui kenyataan Pria dihadapannya ini adalah Jongin, Kim Jongin..

Bukan hanya dari segi fisik, Jongin juga berubah secara mental, Ia terlihat jauh lebih dewasa, wajahnya juga memancarkan aura percaya diri yang begitu kuat. Seolah ia telah terlatih dan menjadi pribadi yang baru. Kyungsoo baru melihat perubahan sebesar ini dalam hidupnya. Sungguh sulit dipercaya. Kyungsoo bahkan masih Ingat bagaimana pertama kali Jongin datang kerumahnya, masih pemalu, masih kurus dan hitam.

"Kau.. banak berubah." Suara Kyungsoo terdengar lirih.

Jongin mengulum bibirnya. "Dan kau tidak banyak berubah, Nona Do.."

"Apa yang kau lakukan disini?" Jongin membuka suaranya, Kyungsoo memutar bola matanya malas, sudah jelas Jongin tahu apa yang Ia lakukan disini.

"Aku.. kesini untuk sumur permohonan.."

Kyungsoo harus siap-siap merendahkan dirinya sekarang karna Jongin pasti akan mengolok-oloknya sebentar lagi. "Kau memang paling ahli dalam hal seperti ini.."

"Ini bukan sumur biasa, menurut warga sekitar, sumur ini legendaris."

Jo ngin menaikan sebelah alisnya. "Kau pasti menggunakannya dengan baik. Apa permohonanmu?"

"Itu bukan urusanmu."

"Karna aku mengenalmu.. bisa saja permohonanmu mungkin macam-macam."

Jongin mulai bersikap sok tahu lagi.

"Kau tidak mengenalku."

Kyungsoo jadi membayangkan bagaimana hidupnya jika menikah dengan Pria macam Jongin, mungkin fisik dan mentalnya berubah. Tapi tidak dengan sikap dan sifatnya. Bagaimana Ayahnya menjadikan dirinya bahan pertukaran untuk mendapatkan menantu sebaik—menurut ayahnya—Jongin. Ia bagaikan barang pertukaran bisnis, semacam obligasi. Jongin jelas-jelas tidak menyukai Kyungsoo. Dan Kyungsoo juga tidak tertarik dengan Pria dihdapannya. Ayahnya mencoba menukarkan Kyungsoo si parasit ini menjadi berharga dengan menjadikan Jongin suaminya.

"Bagaimana cara kerjanya? Karna mendengar sumur ini begitu legendaris aku jadi tidak mau melewatkan kesempatan.."

Jongin maju beberapa langkah, Ia mendekati Kyungsoo yang perlahan menjauhkan tubuhnya.

"Masukan koin dan ucapkan permohonanmu pada roh sumur.." Kyungsoo membuka suaranya pelan, tanpa diduganya Jongin mengeluarkan koin dari saku celanya dan menujukan pada Kyungsoo.

"Kau mau membuat sebuah permohonan?" Kyungsoo menatapnya ragu. Ia semakin menjauhkan tubuhnya dari Jongin, Ia tidak bisa menolaknya. Aura sensualitas yang dimiliki Jongin terlalu kuat. Ia takut, takut tidak bisa menolaknya.

"Aniya.. Aku bisa saja menanamkan modal dengan uang koin yang kupegang sekarang."

Kyungsoo berdecih. Jelas-jelas Jongin mengolok-olok dirinya yang melemparkan koin kedalam sumur secara Cuma-Cuma. Ia sempat melupakan bahwa Jongin memiliki otak bisnis paling tajam, melipat gandakan sekoin untuk menjadi ratusan koin.

"Tolong tunjukan bagaimana caranya.."

"Kupikir kau akan menanamkan modal dengan koin itu. Tapi sumur permohonan tidak akan berpengaruh pada marger ataupun banking trust"

Jongin tersenyum, menaikan sebelah bibirnya ke kanan, mampu membuat Kyungsoo menahan nafasnya karna aura sensualitasnya naik hingga seratus persen. Ia memalingkan wajahnya. Kesal. senyum yang ini membuatnya agak kewalahan, terpesona dan tergoda.. ada pancaran hangat yang membuat Kyungsoo bertanya-tanya, pria macam apa yang sebenarnya ada dibawah penampilan luar yang kaku itu.

"Aku tidak hanya memikirkan bisnis, 'kok. Jadi, maukah Nona Do mengajariku cara menggunakan sumur permohonan ini?"

Kyungsoo mendengus, tapi kemudian Ia menurut "pertama, pejamkan matamu."

Jongin memejamkan matanya terlihat serius, Kyungsoo menyadari bahwa kontur wajah Jongin banyak berubah, seolah pengalaman telah membentuk wajahnya menjadi tegas, tubuhnya menjadi tegap dengan beberapa otot menonjol di bagian tubuhnya. Sangat jauh dengan penggambarannya, sulur buncis? Ugh bahkan Ia masih ingat Luhan mengatainya orang-orangan sawah.

"lemparkan koinnya, kemudian pikirkan permohonanmu, buang semua hal selain permohonanmu."

Rambutnya yang berwarna coklat gelap terhembus lembut oleh angin, Ia juga melihat kemeja dan celana Jongin sepertinya dijahit khusus untuk dirinya, menunjukan Ia sudah sangat makmur dari terakhir kali mereka bertemu, tentu saja Ia menjadi petinggi di cabang perusahaan di Gyeonggi, bagaimana mungkin Ia tidak jadi makmur?

Kyungsoo merasakan jantungnya berdegup kencang sama seperti ketika membaca bagian mengerikan dari The plight of penelope, sewaktu seorang gadis ditawan oleh penjahat yang mengurungnya di menara sampai gadis itu setuju untuk menyerahkan kehormatannya.

Sewaktu membaca Kyungsoo tahu bahwa cerita itu konyol. Meksipun Ia seorang penghayal Kyungsoo tetap logis. Dan itu tidak mengurangi kesenangannya dalam membaca. Dia sebenarnya kecewa karna kesucian penelope pada detik detik terakhir diselamatkan oleh pria pemeran utama, yang tidak semenarik penjahatnya.

Sungguh Sial, wajah Kim Jongin sama persis seperti penjahat tampan yang ada dalam bayangan Kyungsoo.

"Sudah selesai." Jongin membuka matanya, merapikan kemejanya. Kyungsoo menatap Jongin kemudian berbalik. "Aku akan kembali kerumah utama. Lanjutkan saja acara jalan-jalan anda, Jongin-ssi. Selamat Siang."

"kita kembali ke Rumah utama bersama." Jongin menyamakan langkahnya dnegan Kyungsoo.

"Tidak usah, aku lebih suka berjalan sendiri dalam keheningan."

"Kalau begitu aku akan diam."

Argh! Benar kan Kim Jongin itu orangnya angkuh sekali. Kyungsoo mempercepat langkahnya menjadi didepan Jongin, tapi percuma dua langkah Kyungsoo sama dengan selangkah besar milik Jongin. Mereka akan selalu berakhir berjalan dengan sejajar.

Rindangnya pepohonan juga suara gemericik air dan sayup jangkrirk jadi tidak indah lagi sejak ada Kim Jongin di sisinya.

"Tidak usah mendekatiku untuk memuluskan gagasan Ayahku." Kyungsoo kembali mengingat perkataan Ayahnya. Apa motif Jongin kali ini mendekatinya.

"Apa maksudmu? Gagasan apa?"

"Tidak usah berpura-pura, Kim Jongin-ssi. Jika ini terkait dengan perjodohan—"

"Perjodohan apa?" Jongin menghentikan langkahnya diikuti Kyungsoo. Ugh jika saja Ia bisa menguburkan dirinya disini sekarang juga, Kyungsoo telah membuat dirinya sendiri malu dihadapan Jongin. Kalau dugaannya salah, berarti Ayahnya belum membicarakan hal ini SAMA SEKALI dengan pria dihadapannya.

DUA KALI.

Kurang dari satu jam dan Kyungsoo sudah merendahkan dirinya dihadapan Jongin, bisa saja setelah ini Jongin menolak untuk dinikahkan dengan gadis macam kyungsoo.

"Kupikir kau yang mengajukan gagasan itu pada Ayah."

"Nona Do, demi Tuhan aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Jongin berdiri menatap serius. Tetap saja Ia bisa merasakan kearoganan dari nada bicaranya.

"Kupikir Ayah sudah membicarakan hal ini denganmu saat Ia beberapa kali pergi ke cabang di Gyeonggi.." Kyungsoo menarik nafas. " Ayah mengatakannya seolah semuanya sudah pasti." Kyungsoo memberanikan diri menatap mata kecoklatan Jongin. "Ayah ingin menjodohkanku denganmu, Kim Jongin-ssi. Berharap kau bisa melanjutkan perusahaan Ayahku suatu saat nanti saat Ia sudah tidak mampu lagi."

"Beliau tidak pernah menyinggung hal seperti itu kepadaku, Menikah denganmu bahkan tidak pernah muncul di dalam benaku, dan aku tidak menginginkan perusahaan Ayahmu." Kyungsoo bisa melihat tatapan mata Jongin kosong.

"Kau tidak punya apapun selain ambisi."

"betul." Jawab Jongin. Menatap Kyungsoo lekat "Aku tidak harus menikahimu untuk membuat masa depanku terjamin."

"Ayah mungkin berfikir kau akan senang mendapat kesempatan menjadi menantunya. Berarti Ayah benar-benar menyayangimu.

"Aku belajar banyak hal dari beliau." Jawab jongin hati-hati.

"Aku yakin dengan hal itu." Kyungsoo menyembunyikan perasaanya dengan cemberut. "Dia mengajarimu banyak hal dalam dunia bisnis. Tapi tidak ada satupun hal yang berguna dalam kehidupan."

"Kau tidak menyukai bisnis Ayahmu, Nona Do.."

"Ya, karna Ia mencurahkan segalanya untuk bisnis, untuk perusahaan, mengabaikan orang-orang yang menyayanginya."

"Tapi bisnis ayahmu memberimu banyak kemewahan." Jelas Jongin.

"Siapa peduli? Aku tidak butuh kemewahan. Membuatkau harus kejar-kejaran mencari suami, apa katanya, dua bulan? Memangnya aku sebuah proyek. Aku hanya ingin hidup dengan tenang." Kyungsoo mendengus sebal. Jongin kembali membuka suaranya.

"Apa tenang yang kau maksudkan itu membaca buku di perpustakaan atau berjalan-jalan di taman dan berkumpul bersama teman-temanmu?" Jongin mencoba menebak.

"Ya."

"Buku itu mahal, Nona Do.. rumah dengan taman yang luas pun tidak murah mengingat banyaknya apartemen yang dibangun sekarang ini. Pernahkan terpikir olehmu bahwa seseorang harus membayar untuk hidup tenangmu itu?"

Penjelasan Jongin barusan seolah menegaskan perkataan Ayahnya bahwa Ia memang parasit. Dan itu membuat Kyungsoo mengerenyit. Matanya menyalang.

"Bagaimana aku menjalani hidupku ataupun siapa yang akan membayarnya bukan urusanmu!"

Kyungsoo mempercepat langkahnya. Tapi tangannya ditahan Jongin. "Tentu saja menjadi urusanku karna masa depanmu berhubungan dengan masa depanku."

"Belum tentu." Jawab Kyungsoo.

"Ayah memberiku waktu dua bulan untuk mendapatkan calon suami. Jadi ini hanya sementara saja."

Jongin menyeringai, membuat Kyungsoo semakin naik darah. "Kuharap kau menemukannya, Nona Do.. aku tidak mau disebut pemenang secara otomatis."

"Tidak akan, kau tenang saja." Kyungsoo menghempaskan tangan Jongin.

"Kurasa sulit mendapatkan laki-laki yang kau idamkan dalam waktu dua bulan, seorang ksatria berkuda yang menghunuskan pedang, atau seorang Pria modern yang memiliki sikap posesive dan melakukan aktifitas senang-senang dengan teman-temann—"

"itu bukan urusanmu, Jongin-ssi." Kenapa semuanya menjadi terlihat sangat konyol ketika diucapkan oleh Jongin.

"Calm Down, Kyung.. kita sedang menghadapi masalah besar tentang masa depan, jadi lebih baik kalau kita membicarakan ini baik-baik."

Kyungsoo menarik nafasnya pelan, mengatur emosinya. "Hanya ada satu solusinya."

"Apa?" Jongin menghadang Kyungsoo, tangannya Ia taruh di pinggang. Aish angkuh sekali. Kyungsoo geram.

"Kau harus mengatakan pada Ayahku, bahwa kau tidak mau menikah denganku. Hanya itu satu-satunya cara,"

Kyungsoo menaikan alisnya penuh harap. Ia yakin berjanji tidak sulit untuk Jongin ucapkan mengingat perkataanya sebelumnya. Kyungsoo tiba-tiba merasa punggungnya dingin, Jongin menatap tepat pada matanya. Dalam. Menarik Kyungsoo kedalam lingkaran kecoklatan gelap milik Jongin.

Ia menelisik tatapan Jongin seperti ada rasa geli, juga mendamba. Tapi apa? Yang pasti bukan dirinya.

"Tidak." Jawaban Jongin singkat, dan Ia kembali melangkahkan kakinya menuju rumah utama. Kali ini Kyungsoo yang menahan lengannya.

"Maksudmu, Tidak itu... berarti tidak menikahiku?" matanya berbinar, Jongin terkekeh

"Tidak.. aku tidak mau berjanji."

Setelah mengucapkan kata itu Jongin meninggalkan Kyungsoo dan berjalan tergesa-gesa menuju Rumah Utama.

.:Kaisoo:.

"Gagasan yang kau buat dengan Ayahku.."

Ucapan Kyungsoo tadi siang masih terngiang di benak Jongin semenjak mereka berpisah. Ia akan mengajak Presiden direktur Do itu berbicara sekarang juga.

Jongin bertanya-tanya, Apa Do Chanyeol serius telah memikirkannya dengan baik untuk menjodohkannya dengan Kyungsoo.

Ya Tuhan, Jongin bahkan sering membayangkan yang indah-indah jika itu menyangkut Kyungsoo. Tapi tak satupun yang berhubungan dengan pernikahan. Pernikahan sangat jauh dari dunia nyata, sehingga tidak patut dipertimbangkan.

Rahasia masa lalu menghantui jati diri Jongin yang sekarang dan membahayakan masa depannya. Jongin menyadari bahwa identitas yang Ia buat bagi dirinya dapat hancur berkeping-keping. Orang hanya perlu menambahkan hal ini dan itu maka dapat dengan mudah mengenali dirinya yang sebenarnya.

Kyungsoo pantas mendapatkan suami yang jujur dan utuh, bukan seseorang yang membangun kehidupannya dari sebuah kebohongan.

Tapi itu semua tidak dapat menghentikan Jongin untuk menginginkan Kyungsoo. Jongin selalu menginginkan gadis itu dengan sangat.

Kyungsoo begitu manis, cerdas, ramah dan amat sangat logis tapi juga romantis, mata hitamnya berbinar penuh angan-angan. Kyungsoo sangat suka memandangi bintang dari balkon kamarnya. Dan bayangan Kyungsoo yang menengadahkan wajah mungilnya memandang bintang terus mendera Jongin dengan gairah tak tertahankan untuk segera eraih tubuh mungil itu dan menciumnya hingga lupa diri.

Jongin sering membayangkan dirinya tidur dengan Kyungsoo. Kalau itu benar terjadi, Ia akan berlaku lembut, ia akan memujanya. apapun akan Ia lakukan untuk menyenangkan gadis itu. Ia sangat rindu ingin merasakan rambut gadis itu ditangannya, lekuk lembut gadis itu di telapak tangannya, pundak halus gadis itu di bibirnya. Dan berat tubuh gadis itu dalam pelukannya ketika Ia tidur, Ia menginginkan semuanya, dan mungkin lebih banyak lagi fantasi liarnya bekerja.

Jongin bersyukur Kyungsoo tidak pernah menyadari fantasi liarnya selama ini, Kyungsoo selalu mengacuhkannya dah hanya menganggapnya sebagai pegawai biasa di perusahaan Ayahnya.

Meskipun begitu, sesuatu telah berubah. Ia mengingat cara kyungsoo menatapnya tadi, ekspresinya yang terkejut dan heran. Apakah penampilannya jauh berbeda daripada dulu? Jongin menyadari usianya yang bertambah matang membuat wajahnya berubah dewasa. Ia bertanya-tanya apa hal in membuat Kyungsoo senang?

Jongin cepat cepat merutuk dalam hati karna memperdulikan hal seperti itu.

Tapi cara Kyungsoo menatapnya tadi siang memang berbeda, seolah-olah gadis itu melihatnya, benar-benar menyadari keberadaanya. Untuk pertama kali.

Jongin mengingat pertemuan pertama mereka adalah saat makan malam pribadi yang hanya dihadiri keluarga. Ia juga mengingat bagaimana Chanyeol tidak dekat dengan kedua putrinya. Dan meskipun sikap Kyungsoo dingin—walaupun sopan, adalah satu-satunya kebahagiaan Jongin karna Ia tahu bahwa hanya itu yang bisa Ia lakukan.

Jongin mneginjakan kakinya di Rumah Utama, niatnya ingin langsung menemui Do Chanyeol dan memintanya menjelaskan apa yang didengarnya tadi siang. Baru saja Ia melewati gerbang Ia sudah bertemu dengan Oh Sehun si pemilik estat dan temannya,

"Kim jongin-ssi." Sapa Sehun dengan tenang. "tampaknya kau baru berkeliling, kuharap suasananya membuatmu lebih rileks dari hiruk pikuk kota."

"Pemandangan yang luar biasa, Tuan Oh." Jawab Jongin. Ia cukup tahu posisi Sehun, rasa-rasanya tidak sopan memanggilnya langsung dengan namanya. "Mungkin lain kali saya akan berjalan-jalan lagi disekitar estat ini. Saya pulang lebih cepat karna tidak sengaja bertemu Nona Do.."

"Ah.." Sehun tampak tenang. "Itu pasti kejutan untuk Kyungsoo."

Dalam arti kata, Juga kejutan yang tidak diharapkan. Jongin menatap wajah datar Sehun, salah satu keahliannya adalah membaca ekspresi dan membaca bahasa tubuh serta menangkap maksudnya dengan cepat. Tapi sehun begitu datar dan tenang. Sehun ahli mengendalikan diri. Jongin mengangumi hal itu.

"Mungkin lebih aman jika mengatakan bahwa ini hanyalah salah satu kejutan yang sering diterima Nona Do akhir-akhir ini." Jawab jongin. Ia ingin mengetes apakah Pria dihadapannya ini mengtahui perihal perjodohannya dengan Kyungsoo.

Pria dihadapannya hanya menanggapinya dengan mengangkat alis, seolah olah ia merasa perkataan itu menarik tapi tidak layak ditanggapi. Sialan. Jongin tersenyum dalam hati semakin kagum dengan Sehun.

Sehun menatap pria disampingnya. "Jongdae, kenalkan ini Kim Jongin. Orang kepercayaan tuan Do Chanyeol. Jongin-ssi kenalkan ini Kim Jongdae."

Mereka berjabat tangan dengan tegas. Jongin memperkirakan Jongdae lebih tua lima sampai sepuluh tahun dari dirinya.

"Saya mendengar keberhasilan anda dengan Consolidated Locomotive Works" Ujar jongin pada Jongdae.

Jongdae tersenyum masam. "Aku sangat ingin menerima pujianmu, Jongin-ssi tapi sayang, Pria disebelahku inilah yang melakukannya. Dia dan adik iparnya adalah mitra bisnisku."

Jongin bisa mendengar nada bicara yang diselingi tawa, Jongdae memang terkenal suka bercanda. Jadi Jongin sudah tidak heran.

"Tampaknya kombinasi itu membawa sukses besar." Jongin menanggapi.

Jongdae tergelak setelahnya. "Dia pandai memuji.." ucapnya "Bisakah kita mempekerjakannya?"

Sudu bibir Sehun sedikit terangkat karna geli. "Aku khawatir Ayah mertuaku akan menentang. Keahlian Jongin-ssi diperlukan untuk membangun pabrik dan memulai kantor cabang di Gyeonggi."

Jongin memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Saya baru-baru ini membaca banyak perusahaan yang di nasionalisasi oleh pemerintahan, bagaimana menurut anda?"

"Ya Tuhan jangan membuatnya membicarakan hal itu." Ucap Jongdae.

Topik pembicaraan itu membuat kening Sehun berkerut. "Banyak Masyarakat yang tidak menginginkan Industri di nasionalisasi oleh pemerintah, bila dikelola pemerintah, industri tersebut tidak akan menjadi efisien seperti industri-industri lain yang ditangani pemerintah. Dan monopoli akan mengekang kemapuan Industri untuk bersaing, yang akhirnya menyebabkan pajak akan naik, belum lagi—"

"Belum lagi." Jongdae menyela dengan lancar. "kenyataan bahwa aku dan Sehun tidak ingin pemerintah memotong profit kami di masa depan."

Sehun mendengus. "Sebenarnya aku lebih memperhatikan kepentingan publik."

"kebetulan sekali, dalam kasus ini yang baik untuk publik juga baik untuk dirimu."

Jongin berusaha tidak tersenyum. Sambil memutar bola matanya masa Sehun menatap Jongin.

"Seperti yang kaulihat, Jongdae Hyung memang tidak melewatkan kesempatan untuk mengolok-oloku."

"Aku suka mengolok-olok orang, Sehun-ssi." Kata Jongdae. "terutama dirimu."

Sehun berpaling kearah Jongin, "Aku dan Jongdae akan kebelakang untuk merokok. Kau mau bergabung?"

Jongin menggeleng. "Aku tidak merokok."

"Aku juga." Sehun menimpali. "aku dulu perokok. Tapi berhenti begitu tahu merokok tidak baik untuk Kesehatan Istriku saat ini."

Perlu beberapa detik untuk Jongin menyadari maksud kata Istriku. Ia tertawa dalam hati membayangkan Luhan yang lucu pemarah dan kasar itu menjadi Nyonya Oh.

"Kita akan mengobrol sementara Jongdae Hyung menikmati rokoknya." Sehun memberitahu.

"Undangan" dari Sehun sepertinya tidak memiliki peluang untuk ditolak. Tapi Jongin tetap mencoba. "Terimakasih, Tuan Oh. Tapi ada beberapa urusan yang harus saya diskusikan juga terkait Meeting besok—"

"Orang itu pasti Ayah mertuaku."

Sial, Sehun tahu. Meskipun tidak secara terang-terangan. Sehun seolah mengatakan bahwa dia mengetahui rencana perjodohan dirinya dan Kyungsoo. Dan Sehun memiliki pendapat sendiri.

"Kau akan mendiskusikan hal itu denganku terlebih dahulu."

Jongin melirik Jongdae yang masih memasang senyum ramah yang tidak pernah luntur dari wajahnya. "Aku yakin.. Jongdae Hyungnim tidak ingin dibuat bosan dengan permasalahan pribadi orang lain—"

"Tidak sama sekali." Jawab Jongdae cepat dan riang. "Aku amat senang mendengar masalah orang lain. Apalagi kalau sifatnya pribadi."

.:Scandal:.

Mereka bertiga pergi ke teras belakang. Semilir angin yang bertiup pekat dengan aroma tanah. Juga suara gemericik air dari sungai berpadu dengan angin yang meniupkan daun di pepohonan.

Jongin memaksakan diri untuk bersikap santai. Menunggu Sehun membuka pembicaraanya terlebih dulu.

"Sudah berapa lama." Sehun membuka suaranya tiba-tiba. "Kau tahu tentang rencana Chanyeol untuk menikahkanmu dengan Kyungsoo?"

Jongin menjawab tanpa ragu, sambil melihat pergelangan tangannya. "Tepatnya satu jam limabelas menit."

"Ini bukan idemu kalau begitu?"

"Sama sekali bukan." Jongin meyakinkan Sehun.

"Banyak keuntungan yang kau dapatkan dari rencana itu."

"Tuan Oh.." Jongin langsung menjawab, "Jika aku punya satu bakat dalam hidupku, itu adalah mencari uang, Aku tak perlu menikah dengan uang itu sendiri."

"Aku senang mendengarnya." Jawab Sehun. "Aku punya satu pertanyaan lagi, tapi sebelum itu izinkan aku untuk menjelaskan posisiku. Aku Oh Sehun. Kaka ipar Do Kyungsoo. Dan aku merasa Ia dibawah lindunganku. Kau tentu kenal dekat dengan keluarga Do. Kau pasti tahu bagaimana dekatnya Istriku dengan adiknya. Melebihi Ia dengan kedua orangtuanya. Jika Kyungsoo sedih, maka Istriku pun akan sedih, Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."

"Aku paham." Jawab Jongin kaku. Sungguh ironis. Ia diperingatkan agar menjauh dari Kyungsoo padahal Ia sendiri telah memutuskan untuk melakukan apapun agar tidak menikahi gadis itu. Ia cukup sadar diri siapa dirinya sebenarnya. Apa masa lalunya juga posisinya sekarang. Ia tetap memasang ekspresi tenang.

"Kyungsoo punya semangat hidup yang unik. Sifat alami yang hangat dan romantis. Kalau dia dipaksa menikah tanpa cinta, dia akan sangat menderita. Dia pantas mendapat suami yang menerima dia apa adanya, dan dapat melindunginya dari realitas yang kejam. Suami yang mengizinkan dia untuk bermimpi."

Penyataan yang snagat mengejutkan dari seorang Oh Sehun yang terkenal pragmatis dan logis. "Apa pertanyaan ada, Tuan Oh?"

"Maukah kau berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan menikah dengan adik iparku?"

Jongin menatap mata Sehun lurus-lurus. Rasanya lancang membuat Sehun marah mengingat Pria dihadapannya ini tidak pernah dibantah. Tapi pengalamnanya dalam menghadapi Chanyeol yang meledak-ledak membuatnya terlatih. Chanyeol sangat menghargai orang yang mampu berdebat dengannya, dan Jongin selama ini telah dilatih kuat oleh Chanyeol. Menerima cacian juga makian karna menyampaikan berita buruk.

Itulah latihan yang selama ini dijalani Jongin, membuat Ia lebih dewasa dan tidak mudah di dominasi oleh orang lain.

"Rasanya tidak bisa, Tuan Oh." Jawab Jongin dengan sopan.

Jongdae tanpa sengaja menjatuhkan rahangnya.

"Kau tidak mau berjanji?" tanya Sehun tak percaya.

"Tidak." Jongin memandang ke arah jongdae yang menarik bajunya tadi. Memberikan tatapan Ia tidak boleh membantah.

"Mengapa tidak?" tuntut Sehun. "Apa karena kau tidak mau kehilangan posisimu di Do Corporate?"

"Tidak, Beliau tidak akan sanggup kehilanganku sekarang." Jongin tersenyum berusaha menghilangkan nada angkuh pada kata-katanya. "Saya tahu lebih banyak tentang produksi, administrasi dan marketing daripada orang-orang lain yang ada di saya sudah mendapatkan kepercayaan pria tua itu. Jadi saya tidak akan dibuang begitu saja meskipun saya menolak menikah dengan Putrinya."

"Kalau begitu kau akan dengan mudah menyelesaikan hal ini. Aku ingin janjimu Jongin, sekarang."

Pria dengan pendirian lemah akan mudah terintimidasi oleh perkataan Sehun yang otoriter itu. "Saya mungkin akan mempertimbangkan hal itu." Jawab jongin tenang. "Kalau anda mau menawarkan intensif yang bagus. Contohnya memberi jabatan sebagai kepala divisi dan menjamin posisi saya sampai setidaknya.. tiga tahun."

Sehun menatapnya tidak percaya, sementara Jongdae sudah tertawa terbahak-bahak. "Nyalinya cukup besar juga." Serunya. "Camkan kata-kataku, Sehun. Aku akan menariknya untuk bekerja di Consolidate!"

"Gaji saya tidak kecil lho, Jongdae Hyungnim." Kata Jongin. Dan itu membuat Jongdae kembali tergelak.

Bahkan Sehunpun tersenyum. Meski enggan. "Sial," gerutunya. "Aku tidak akan memberikanmu jabatan semudah itu—tidak bila begitu banyak yang harus kupertaruhkan. Tidak sampai aku yakin kau orang yang tepat untuk posisi itu."

"Kalau begitu sepertinya kita impas." Jongin merubah air wajahnya menjadi ramah. "Untuk saat ini."

Kedua pria yang lebih Tua saling pandang, sepakat untuk meneruskan pembicaraan itu nanti. Saat Jongin sudah pergi. Dan itu menimbulkan kecurigaan dibenak Jongin. Namun Ia segera menghindarinya. Setidaknya Ia sudah cukup maksimal mengendalikan Kondisi—setidaknya untuk saat ini Ia berhasil menjelaskan dirinya tidak mudah diintimidasi. Dan Ia membiarkan pilihannya tetap terbuka.

Selain itu, Jongin juga tidak bisa berjanji jika Chanyeol saja belum membicarakan hal itu padanya.

.::::.

Jongin kasian banget ya tertindas disini -_- hahahaha semoga kalian ga bosen ya. Jongin perlahan lahan diterima kok xixi Aku memutuskan untuk sedikit merubah prolog karna ada beberapa bagian terlalu kaku juga aneh hehe makasi buat review kalian ya, aku suka. Kalian review panjang terus ada yang mengandung kritik juga, ga cuman sekedar satu kata next atau lanjut. Hihi

kalau berkenan dibaca, ga juga gapapa da gabanyak yang berubah ko di prolog hehe

Trimakasih sudah review! Responnya hangat sekali huu saya terharu. Sebagian komen sudah sy reply di PM ya.

CrybikosUts : hihi sip pasti dilanjut. Pelan-pelan ya Kyungmma baru nyadari kalau Jongin itu pria idamannya xixixi

Me1214: waah terimakasih komentarnya: ) ini sudah diupdate hihi

t.a : bapak chanyeol emang jahat haha ngotak bisnis gitu huhu

jongindo & : aku juga makasi km sudah review hihi ini syudah dilanjut

Mind to review again? : D