Kasak-kusuk terdengar dari dalam dapur, pada pagi hari itu. Chef de Parties, commis de chef, handkitchen, servants, semuanya berkumpul ingin tahu. Atmosfer tidak biasa tercipta diantara para penggosip dan para non-penggosip. Pasalnya, salah seorang servant melihat seseorang dengan baju dapur berbicara dengan owner dari Le Roi, dan itu meningkatkan kecurigaan mereka kalau orang tersebut adalah orang baru.

Jiwa kompetisi mereka terbangunkan.

Bagaimana tidak? Dengan sebegini banyak pegawai, sebegini banyak rival, sebegini banyak orang yang akan menusuk dibelakang, bagaimana mereka tidak merasa terancam, merasa kerdil? Apalagi anak itu—menurut sumber yang cukup sesat dan mungkin tidak terpercaya, tapi sekali lagi mereka masih belum memiliki sumber yang bisa dipercaya—terlihat cukup dekat dengan sang owner. Memang sih, terkadang Francis Bonnefoy suka SKSD dengan orang-orang disekitar mereka sampai melewati stadium yang melampaui batas, tapi kali ini mereka melihat sesuatu yang berbeda dari cara Francis memperlakukan sang anak ayam.

Pokoknya kehadiran anak itu tidak dapat dibiarkan! Sudah cukup dengan takut gaji didiskon mini, memiliki satu lagi rintangan tidak dapat mereka rasakan.


I Like It Hot and Fast (And Yummy)

By : Biskuit Coklat Hati

Disclaimer : Hetalia isn't mine, mind you. No financial benefit is being reaped from this act of fiction so...

Pairing : Het deh pokoknya.

Genre : Gourmet!AU. romance. (dry) Comedy. Drama.

Warning : Fem!Indonesia, crack-pair, OOC tingkat ASEAN, kesalahan dalam referensi gourmet, Typo, kata tidak baku dan lain-lain, beberapa kesalahan dalam referensi hetalia, mungkin adegan rate M di bagian-bagian selanjutnya jadi di tag sebagai rate M saja deh. No Mary Sue. Sorry to disappoint you, Mary-Sue Hunters.

Wanda (OC) : Uzbekistan


"Bagaimana kalau ternyata anak itu adalah anak haram dari owner?"

Adalah salah satu teori gila yang disusun secara epik oleh para chef de parties, handkitchen dan servant—kubu yang suka sekali gosip deh pokoknya. Kadang manusia jika dikumpulkan jadi satu bisa menghasilkan sesuatu yang unik. Tapi kali ini kelewat unik. Terkadang teori yang muncul cukup masuk akal ("Mungkin anak itu hanyalah saudara dari owner, dan dia juga kerja di restoran dan Cuma ingin menyapa owner.") ada yang setengah masuk akal ("Apa dia anak haram dari owner?" menilik betapa genitnya sang owner Le Roi. Suara jangkrik memenuhi dapur ketika tidak ada seorangpun yang berargumen dengan teori ini.) ada yang... tidak bisa dibilang masuk ke akal manusia, akal hewan, ataupun akal mahluk hidup manapun, ("Mungkin dia datang dari planet pluto untuk menjatuhkan Bonnefoy si Pelit ke neraka, lalu menyeret Vargas ke loker Davy Jones?" seruan yang mendapatkan timpukan kaus kaki dan entah-binatang-apa-itu serta gumaman 'spongebob all the way!' yang cukup bersemangat.)

"Kalian ini kenapa, sih?" Yong, salah satu commis mengerutkan dahi. "Kenapa kalian tidak bisa terima saja kenyataan bahwa anak itu anak baru di restoran ini?"

Ya nggak lah. Lebih baik menghibur diri dengan menolak realita yang ada daripada mengakui kalau mereka punya rival baru yang lebih muda daripada mereka.

"Apa yang kalian lakukan¸ bastardo?" geraman rendah khas Lovino membuat segerombolan orang tersebut merasakan tiupan angin neraka dalam tempo waktu sedetik. "Kenapa kalian tidak siapa-siap di pos jaga masing-masing? Apa karena tidak ada Chef Arthur kalian bisa berbuat seenak kalian? Oh..." Senyum Lovino berubah sadis dengan Lovino-Lovino chibi melatari Lovino si Kaisar Iblis. "Kalian mau dipouch, atau distew? Yang mana saja tidak masalah, aku akan dengan senang hati memotong kalian dan memasukkan kalian ke dalam poissoniére.(1)"

Ya nggak adalah. Memang ada gitu yang bodohnya minta ampun, menyodorkan kepalanya untuk jadi main course untuk nanti malam. Karena itu mereka langsung mendispersikan tubuh mereka ke udara sesaat sesudah ancaman bernada realitas dari sous chef mereka tersebut dilontarkan. Lovino segera mengenakan topi tingginya, dan segera mempersiapkan barang-barang untuk restoran buka jam empat nanti.

Mise en Place. Adalah saat dimana restoran mempersiapkan pengolahan masakan. Pengolahan dan persiapan masakan merupakan hal fital dalam dunia kuliner prancis, malah Mise en Place adalah salah satu hal yang paling ditekankan selain teknik memasak dan teknik keakurasian dekorasi di sekolahnya dulu, Le Cordon Bleu. Persiapan akan menentukan keefektifan dan keberhasilan suatu hasi pengolahan. Umumnya persiapan pengolahan meliputi persiapan alat, pengukuran, pencucian bahan makanan, penyiangan dan pemotongan.

Lovino segera memeriksa keberadaan dapur. karena inilah dia menyukai Le Roi dan memutuskan untuk menjadi sous chef dari tempat ini—ventilasi udara dapur benar-benar terjaga, bersih, dan posisi konter kerjanya pun benar-benar pas. Dulu, dia pernah magang di sebuah restoran yang pemiliknya merupakan seorang veneziano. Dia menyusun konter saling berhadap-hadapan dengan dalih dapur yang kecil tidak akan muat untuk dibuat lebih luas. Lovino hampir marah sekali. Tidak mungkin kan kerjaan chef de parties yang berbeda-beda, digabung menjadi satu? Hal itu akan memunculkan kebingungan dan kegelisahan, makanan akan berasa berbeda, dan pengunjung akan bertotal semakin sedikit. Lovino benci dengan owner bodoh.

Selain itu alat-alat di Le Roi dijaga rapi tanpa ada satu silverpun yang mengalami oksidasi dan pengaratan. Setiap hari ada saja yang memolesnya dengan aluminium foil. Poissoniére, rounde, saucier(2), casserolle,(3) jenis-jenis pisau, semuanya dari kualitas kelas satu internasional dunia. Tidak ada yang bisa Lovino minta lebih jauh dibandingkan ini. "Oi, commis. Sudah memisahkan bahan masak dan bahan mentah? Apa ada yang busuk?" Lovino mendekati dua commis de chef yang langsung bergidik ketakutan. "Ka-ka-ka-ka-kami sedang melakukannya, sir!" seru salah seorang dari mereka, wajahnya pucat. Sepertinya dia pernah menjadi korban amarah tak tertahankan Lovino. Lovino segera mencicipi bahan-bahan mentah dan masak tersebut dengan lidahnya, sebodo amat dengan dua orang gemetaran disampingnya. "...Hm. bagus. Jangan lupa ikat bonquet garni(4)-nya. Kubunuh kalian kalau bau cinnamon itu berubah." Lovino meninggalkan dua orang tersebut sebelum mata elangnya mendapati seorang pelayan sedang mencuci kerang... dengan air hangat.

"Oi. Kau sedang apa, idiota?" Lovino bergetar dengan amarah yang kentara. "Sa-saya sedang... mencuci kerang, Chef?" suara Wanda—nama wanita tersebut—terdengar ragu-ragu dan sedikit mencicit. Malang nian nasib wanita cantik Uzbekistan satu ini. "Dimana hatimu? Kerang ini tidak biasa terkena air hangat, kamu mau membunuh kerangnya, hah? Kudengar kamu belajar di sekolah kuliner, sekolah kuliner abal-abal ya?" entah kenapa tensi udara tiba-tiba naik dan Wanda langsung syok mendengar kalimat tajam Lovino. "Dengar ya, idiota. Apa kamu tau perasaan ketika kau sedang tidur terus disiram air mendidih? Itu juga yang dirasakan kerang ini. Kerang ini masih hidup, bernafas, dan kamu mau mematikan sel-sel di dalam daging itu dengan air hangat. Bersihkan dengan air dingin mengalir, jangan dicelup seperti itu. Kamu pikir ini iklan oreo?" mungkin dilain waktu hal ini akan jadi hal yang lucu, tapi semua orang menganggap kebalikannya. Hari ini, entah kenapa, level penindasan Lovino jadi naik setingkat. Tidak ada yang mau menghalangi jalan Lovino kalau sudah begini. Yang namanya rekan itu kabur sekalinya diri sendiri sudah terancam meninggal. "Tidak peduli apakah tanganmu dingin dan melepuh sehabis kamu cuci—tunggu, itu manicure? Tanganmu dimanicure... Kamu... ada waktu itu melakukan itu?" Lovino memandang tangan indah Wanda dengan tidak percaya. "Aku tidak pernah mendengar dan melihat hal sebodoh ini seumur hidupku." Dia langsung pergi dari dapur.

Tingallah Wanda hampir menangis sesenggukan didepan wastafel, tangannya memegang kerang yang entah sudah hidup atau mati itu.

"Sous Chef Lovino... kok jadi lebih kejam dari biasanya, ya?" bukan sekali dua kali pertanyaan ini terlontar.

"Lagi PMS kali." Jawaban bercanda ini yang biasanya keluar.

"Mungkin diputusin ceweknya." Jawaban bernada serius ini kadang juga keluar.

"Bukannya sous chef itu gay?" jawaban ini memancing begitu banyak keributan. Yang pasti, aura setan yang dikeluarkan Lovino hari ini meningkat seribu persen, raut mata tajam Lovino jadi tambah menekan, dan omongan pedasnya yang tadinya cuma setingkat 'melukai hati seorang gadis dengan bilang dia cerewet' menjadi 'mengajak seorang preman berantem dengan bilang dia kelihatan seperti babi busuk. (menghasilkan preman yang meraung-raung sambil menangis karena dihajar.)'

Sampai jam empat sore, kejadian ini tidak luput dari hati, pikiran, dan tubuh semua orang. Kesimpulannya, setiap orang tidak mau dekat-dekat dengan Lovino hari ini, mengingat dia bisa secara random menarik keluar blade dari dapur dan menusuk-nusuki semua orang dengan membabi-buta.

"Nah, semuanya!" Francis menepuk tangannya. "Hari ini, kita kedatangan teman baru."

Suasana yang tadinya biasa langsung membeku. Mereka baru ingat! Kan ada anak baru kampret yang sepertinya disukai oleh owner yang sama kampretnya. Mereka berpandang-pandangan satu sama lain ketika seorang pria dengan wajah yang masuk diantara mereka. Slayer yang ia pakai berwarna biru—menandakan bahwa dia adalah seorang handkitchen. Para handkitchen langsung waspada, sementara yang lain menghela nafas. "Nama saya, Bumi. Bumi Adhiswara." Bahasa prancisnya sangat transparan. "Saya memegang posisi handkitchen. Terima kasih karena sudah mau menerima saya." Rambut dan warna matanya hitam legam, tidak seperti orang-orang yang berada disini. Perasaan keturunan asianya kelihatan sekali, dan yang pasti dia bukan orang asia timur, karena matanya lebar. Rasis memang, tapi namanya juga tidak setiap hari melihat turis asia timur di Paris... "Kalian bisa beramah-tamah nanti setelah semuanya selesai! Nah, karena waktu kalian tinggal sepuluh menit sampai buka restoran, aku ingin kalian melakukan yang seharusnya kalian lakukan. dan, Lovino, aku ingin bicara denganmu."

Lovino yang tidak peduli semakin pahit ketika mendengar omongan sang pria berjenggot kasar tersebut. Bumi menunduk sekali dan segera berjalan menuju ke arah dapur. "Anak itu—mau kemana dia?" Lovino merasa sedikit protektif dengan dapur tersebut, tapi mau bagaimana lagi, tangan Francis menahannya untuk pergi. "Lovino, jangan lupa. Begitu-begitu, dia adalah seorang murid dari Hatta Gibran. Jangan buat dia tidak senang, oke?"

"Maksudmu aku harus bermanis-manis dengannya?" Ujar Lovino.

Francis tersenyum dagang. "Tuh tau."

"Enak saja. I will treat him as like he should have been treated. If he works like shits, then I will treat him less well than shits. As simple as that."

Francis menghela nafas, kalah. "Kau itu... memang dari awal tidak suka padanya, ya?"

Lovino berbalik dan menyeringai. "Tuh, tau."

.

.

.

.

.

.

Bumi Adhiswara, 23 tahun, dulu menjadi hand kitchen.

Tapi sekarang, dia menjadi hand kitchen lagi. Bumi mengangguk maklum, daripada dia pulang dengan kepala tertunduk, hal ini lebih baik. Bumi mungkin sedikit tidak mengerti dengan tendensi gurunya—Pak Hatta—dan keinginan abnormalnya untuk melemparkan Bumi ke lapangan kerja. Ternyata ini yang diincar pak Hatta, pikir Bumi sedikit sebal. Pak Hatta memang baik, tapi dia sedikit kejam, sangat sadis, dan pendiam, tidak ada yang mengerti pikirannya. Untunglah pak Francis adalah orang baik. Kalau dia tak baik, sudah sejak kemarin dia membantu Bumi kembali ke negaranya sendiri.

Bumi merasa tatapan panas terus menerus menusuk punggungnya. Tidak apa-apa, pikir Bumi sedikit kewalahan, aku bisa mengatasi hal ini. Bumi bukannya tidak tahu kalau kedatangannya membuat beberapa orang marah atau merasa ada kompetisi, karena dia yang paling tahu bagaimana udara didalam sebuah dapur ketika restoran buka. Yang terbaiklah yang akan dilihat, dan yang dilihat akan mendapatkan promosi yang cepat. Bisa dibilang, Bumi mengulang langkahnya dari merangkak lagi. Menahan tawa, dia menatap kedalam dapura restoran tersebut, warna silver dan putih mendominasi sekeliling terima kasih karena keramik putih dan barang-barang perak.

"Ke Prancis, Pak? Yang bener?"

"Yang benar itu 'Yang benar', bukan 'Yang bener'. Dan ya, saya serius akan hal ini. Kamu punya talenta dan saya punya koneksi, jadi kenapa tidak?"

"Tapi biaya hidup disana kan mahal, pak... saya ini miskin, uang didompet aja nggak sampai enam digit... bapak mau mengirim saya ke Prancis? Bener-bener nggak mungkin..."

"'Sangat tidak mungkin', bukan 'bener-bener nggak mungkin'... Kamu kira saya hanya akan melempar kamu kesana tanpa ada perhitungan? Buat apa saya selama ini memberi kamu ilmu memasak kalau tidak dipakai?"

"...Ja-jadi saya kerja... di Restoran Prancis... yang asli?"

"Menurut kamu?"

"MAKASIH PAK! SAYA SAYANG BAPAK DEH! GANTENG BENER GURU SAYA YANG SATU INI!"

"...bukan 'makasih', tapi 'terima kasih'!"

"Ngapain bengong, anak baru?"

Bumi mendengar suara tersebut dan melihat dua orang pria didepannya. "Uh... hm. Maaf, saya terpana..." di Jakarta, peralatannya tidak se-fancy ini... memang berbeda ya, yang ori sama yang KW. Pancaran tidak suka muncul dari mata sang laki-laki. Bumi menelan ludah sedikit terintimidasi. "Jangan alasan. Pokoknya, kau tidak usah kerja. Kau masih baru, nanti kau malah akan menghancurkan tatanan yang kami buat." Dua cowok itu tertawa kecil jahat dan berjalan melewati Bumi. Bumi hanya manyun memandang cowok-cowok sialan itu. Nggak di Jakarta, nggak di Paris, cowok dimana-mana sama saja... Bumi harus apa sekarang? Dia memang sudah mengobservasi dapur dari Le Roi kemarin setelah mendapat izin dari Francis, tapi tetap saja, dia orang luar. Rasanya masih asing dan aneh dengan dapur ini. Bumi lebih familiar dan nyaman dengan dapur kecil restoran Prancis di tanah airnya.

"Tapi pak, ibu saya... adik saya... kalau tak ada saya, mereka..."

"Tidak usah takut, saya akan menjaga mereka."

"...Pak Hatta dari dulu suka sama ibu saya, ya?"

"Diam. Anak kecil..."

Bumi merasa seperti anak ayam kehilangan induk. Lagipula, Mise en Place-nya sudah dilakukans edari tadi pagi, jadi dia sudah tidak bisa membantu apapun. Ketika matanya melihat satu persatu kru dapur masuk, wajah mereka tegang. Sepertinya restoran sudah masuk, papar Bumi geli didalam hati.

Singkat cerita, satu jam sudah berlalu, dan Bumi... Bumi tiba-tiba jadi sangat sibuk.

"Tableu vingt-quatre, onz menus. Tableu une, trois menus!"(5)

"OUÍ!"

"Cuci piring itu, bersihkan dengan ujung scrubber yang berwarna perak, jangan yang kuning—"

"Cocktail Udang Kecil dan Alpukat, Ikan Herring dan Tiram Tar-Tar, Lidah Sapi Pane aroma Andaliman. Trois menus!"

"Ouí!"

"Dimana chicken stew-nya?!"

"Entreé, Cepat bawakan amuse-bouche buat tableu six!"

"Merde(6)! Kenapa susunya jadi asam begini? Yang pasturisasiin siapa?"

"Piringnya kurang? Handkitchen, Apa yang kalian lakukan? dans la lune(7)? MATI SAJA SANAAAA!"

(omelan yang terakhir didistribusikan oleh Lovino.)

Hiiy. Bumi berlari-lari menggotong piring setinggi kepalanya. Untunglah dia cukup kuat dan cekatan, jadi dia tidak perlu ketakutan akan dikhianati kemampuan koordinasinya. Apalagi dia anak baru, dia yang paling sering dipanggil! "Oi, anak baru!" "Woy, anak baru, sini!" "Mana sih anak baru—nah, kemari!" apa tidak ada yang mengingat namanya, ya? Bumi hampir tidak berhenti bergerak, kepalanya dibagi-bagi akan instruksi senior-seniornya. Ternyata benar, hari pertama adalah hari yang paling sulit karena dia jadi target penggencetan massal. Untunglah dia suka membantu Ibu jualan dulu di Jakarta, dan pemandangannya tidak berbeda dengan restoran di rumah, jadi Bumi hampir tidak kenapa-napa. Hanya sedikit rasa perih yang diakibatkan home-sick. Ingat Jakarta, dia jadi ingat dengan Pak Hatta. Bumi ingin sekali menelpon pria berwajah teplon tidak bertanggung jawab itu, tapi apa daya... pulsa tidak mencukupi untuk hubungan internasional... betapa mirisnya jadi fakir pulsa ditengah-tengah negara orang...

Untungnya enam jam berlalu tanpa ada halangan berarti di perjalanan Bumi. Tapi dia sudah hampir bergelimpangan tidak bergerak karena kecapekan. Semua orang di Le Roi sudah pulang ketika dia, gemetaran dan tidak dapat berdiri sesentipun, bertemu dengan sang sous chef. Bumi sedikit kaget ketika bertemu dengan pemilik mata berwarna hijau jamrud tersebut. Sang chef tersebut hanya memandangi Bumi dari atas sampai bawah. "Bumi Adhisawara, ya."

Dia hafal namaku!

Perasaan Bumi yang tadinya enak tiba-tiba terhempaskan melihat senyum meremehkan dari bibir indah sang sous chef.

"Besok, datanglah jam tiga pagi. Jangan telat, atau kubunuh."

Kemudian dia ditinggal.

Begitu.

Saja.

Pria-pria di Prancis, brengsek begini... dimana letak romantisnya?

.

.

.

.

.

Poissoniére : tempat untuk memasak satu ikan besar.

Saucoir : tempat untuk memasak saus yang pekat dalam jumlah banyak.

Casserolle : penggorengan dengan dasar yang dalam dan besar.

Bouquet garnish : rempah-rempah yang diikat dengan kertas jepang supaya bau dan rasanya tidak menguar dan menghilang.

Tableu vingt-quatre, onz menus. Tableu une, deux menus : meja 24, 11 menu. Meja 1, dua menu.

Merde : damnit.

Dans la lune : bengong.

.

.

.

.

balesin-review corner :

MAKASIH YANG UDA REVIEW. PADAHAL UDAH BENER-BENER PESIMIS GA BAKAL ADA YANG REVIEW HIKKS.

D'aho : KOK REVIEW KAMU ILANG YA? aku pengen jawab tapi bingung mau jawab apa hiks. : pokoknya makasih banget udah baca trus review aku cinta banget kamuuuu. iyaa kamuuuu#paansi/AnonAnon : maksudnya terlalu cepat tuh yang kayak gimana ya? deskripsi di awal terlalu cepet? yang bagian mananya ya, maaf ._. kalau maksudnya bagian yang kecepetan itu bagian di dapur, memang harus cepet supaya kerasa urgensinya ._. btw, makasih yaaa! Love you, beib. :*/ChocoDdy : ORANG-ORANG MENCINTAI FLAW, MEN. haha maaf gak danta : iya aku sampe pusing banyak url plus komik yang harus dibaca... #bukannyabelajar #anakbaikjangancontohorangini