The Love Begin
Disclaimer: Cerita ini milik author, cast didalamnya milik Tuhan yang menciptakannya juga milik orang tuanya.
Main Cast: Park with Byun
Other Cast: EXO dan yang lainnya menyusul
Warning: TYPO! GS! School Life, Hurt/Comfort, Romance and else.
.
.
.
Helaan nafas terdengar dari mulut kecilnya, Baekhyun berjalan menyusuri koridor yang mulai sepi dengan membawa beberapa buku bacaan. Gadis mungil ini terlihat sangat lelah, ingin sekali rasanya dia cepat sampai rumah dan beristirahat.
Saat akan melewati lapangan, Baekhyun berhenti untuk mengecek ponselnya. Terdapat beberapa misscall dari orang yang sama, setelahnya Baekhyun melanjutkan jalannya sambil menghubungi kembali nomor tersebut. Agak merapikan buku bacaan yang dibawanya, Baekhyun berjalan keluar gerbang sekolah.
Sepasang mata itu melihatnya.
.
Apartemen sederhana, dengan ruang tamu juga dapur. Beberapa perabotan minimalis, dilengkapi dengan pemanas untuk membuat tubuh tetap hangat saat musim dingin tiba. Kamar bernuansa putih dengan ranjang single size di tengahnya, terlihat nyaman walaupun tidak besar.
Pemilik kamar merebahkan dirinya, melepas lelah dengan kegiatan di sekolah. Baekhyun heran, kenapa rasanya bersekolah sangatlah melelahkan padahal hanya perlu mengerjakan tugas dan mendengarkan para saem menerangkan.
Saat akan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ponsel Baekhyun bergetar. Sebuah pesan singkat, Baekhyun langsung membacanya. Membalas seperlunya lalu pergi melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi.
Keadaan kembali sunyi, hanya terdengar guyuran shower yang memenuhi kamar tersebut.
.
"Aku pulang", seperti biasa Chanyeol membuka pintu lalu menutupnya. Dilihatnya ruangan minimalis nan bersih, sofa di ruang tengahnya bersama dengan televisi. Dapur yang rapi dengan peralatan memasak yang cukup memadai. Rumah yang asri, dengan beberapa kamar di dalamnya.
Setelah meletakkan sepatu dan memakai sandal rumahnya, Chanyeol berjalan menuju dapur sambil sebelumnya meletakkan tasnya di sofa. Mengambil minuman dari dalam kulkas, lalu meneguknya sampai habis.
"Hyung sudah pulang?", tiba-tiba seorang anak kecil menyembulkan kepalanya dari balik pembatas dapur. Chanyeol mengelus dadanya—kaget, lalu tersenyum. "Hm, kukira tidak ada orang di rumah. Dimana Seokjin?", Chanyeol bertanya sambil mengelus kepala si bungsu.
Bocah bernama Taehyung merengut lalu menggeleng, "Seokjin hyung belum pulang, katanya dia ada tugas kelompok di rumah temannya. Hyung, lapar", adu Taehyung lucu lalu mengelus perutnya sendiri. Chanyeol gemas dibuatnya, "baiklah hyung akan memasak, kau mau apa?"
Taehyung melonjak girang, "apapun, aku ingin telur dadar juga hyung!", lalu bergegas duduk di meja makan. Chanyeol hanya terkekeh pelan lalu segera membuatkan makanan untuk adiknya, tanpa berganti baju terlebih dahulu.
Dalam hitungan menit, sepiring bulgogi juga telur dadar tersaji. Mereka makan dengan Taehyung yang selalu memuji masakan kakaknya, tak lupa Chanyeol menyisihkan lauk untuk adiknya yang lain, siapa tahu Seokjin lapar saat pulang.
Chanyeol melihat adiknya yang berumur 8 tahun itu, saat melihat Taehyung makan dengan lahapnya dia sudah merasa kenyang. Di rumah ini, rumah yang tidak terlalu besar hanya di tinggali oleh keluarga kecil ini. Chanyeol adalah kakak tertua, Seokjin yang paling tengah duduk di tahun ke- 3 SMP Seoul dan sebentar lagi akan ujian—sama seperti dirinya. Oh tidak lupa juga kepala rumah tangga, Tuan Park Kangin.
Keluarga Park membuka sebuah restoran kecil, ayah Chanyeol adalah seorang koki sekaligus pemilik restoran tersebut. Setiap harinya Tuan Park akan pulang sekitar jam 9 malam bahkan bisa hingga larut malam, sesekali Chanyeol atau Seokjin akan membantu ayahnya bila ada waktu luang ataupun di hari libur. Tentu saja si kecil Taehyung akan ikut—tidak membantu—namun hanya duduk di dekat meja kasir, takut sendirian di rumah katanya.
Tuan Park merupakan ayah yang baik—walaupun menyebalkan—menurut Chanyeol, salahkan Chanyeol yang sudah tahun ke-3 dan sebentar lagi akan menghadapi ujian malah akan pergi keluyuran. Tidak tanggung-tanggung Tuan Park langsung saja berjaga di depan pintu kamar anak sulungnya.
Memberikan petuah-petuah di depan pintunya seperti 'ingat sebentar lagi ujian', 'Appa ingin kau lulus dengan baik', atau 'kerjakan tugasmu, tenang saja Appa akan akan selalu menemanimu', yang mana menurut Chanyeol sangat konyol. Chanyeol yakin sekali ayahnya lebih cerewet dari mendiang ibunya.
Menghidupi tiga orang anak tanpa bantuan istri, Nyonya Park sudah lebih dulu meninggalkan mereka sesaat setelah Taehyung lahir. Pendarahan hebat tidak dapat dihindari saat itu, itulah terakhir kali Chanyeol dan Seokjin melihat senyum ibunya.
Maka dari itu Chanyeol selalu memberikan perhatian lebih kepada si bungsu, karena diantara mereka bertiga hanya Taehyung yang tidak dapat merasakan kehangatan ibunya saat dia baru lahir hingga sekarang. Taehyung sangat mirip sekali dengan ibunya, senyumnya yang menawan dan juga paras wajahnya. Agak berbeda dengan Chanyeol maupun Seokjin yang lebih mirip ayah mereka.
"Aku pulang", suara anak remaja yang masih agak kekanakan terdengar dari balik pintu. Seokjin langsung bergegas masuk, mengurungkan niatnya untuk langsung ke kamar saat melihat kakaknya di depan meja makan, Taehyung sudah lebih dulu masuk ke kamarnya setelah kekenyangan dan ingin tidur katanya.
"Oh hyung, kau sudah pulang?", dengan santai Seokjin bertanya sambil mengambil lauk yang ada di meja dan memakannya. "Ya, belajar kelompok dengan siapa heh?", tanya Chanyeol dengan nada menggoda.
"Tentu saja dengan Jimin, tidak mungkin dengan bola basket kan?", balasnya lalu menyeringai ke arah kakaknya. Chanyeol merengut, lalu bangun dan mengapit leher adiknya di antara ketiaknya. "Aduh—hyung lepaskan, kau bau sekali", sarkas Jimin sambil berusaha melepaskan cengkraman kakaknya. "Oh inilah aromaku dengan bola basket, Park. Rasakan ini rasakan!", Chanyeol mengusak rambut adiknya dan mengencangkan cengkramannya.
"Yah—uhuk—hyung!", segera Seokjin menginjak kaki Chanyeol lalu melepaskan diri berlari menuju pintu kamarnya. Hingga sebelum pintu tertutup, Seokjin berteriak setengah mengejek, "makanya cari pacar sana, dasar tidak laku, wlee". Chanyeol melotot lalu berteriak kesal, "Yah! Aku tampan, para wanita menganggumiku!".
.
Restoran mewah itu terlihat ramai akan pengunjung yang ingin makan maupun berbisnis, seorang wanita terlihat duduk sendiri sambil memesan makanan kepada pelayan. Baekhyun terlihat cassual dengan dress selututnya juga coat putih yang berada di pundaknya, flatshoes yang membungkus kaki mungilnya terlihat sangat manis.
Dalam hati, Baekhyun menggerutu. Jika bukan karena orang ini yang memaksa untuk makan malam disini, Baekhyun lebih memilih menggunakan hoodie dan sepatu ketsnya. Namun tidak mungkin menggunakan hoodie di restoran mewah kan?
Tak lama seorang pria tampan mengenakan jas kerja datang, melonggarkann ikatan dasi dan duduk di depan Baekhyun. Seakan sudah terbiasa, Baekhyun hanya melihatnya datar. "Hei cantik, sendirian saja?", kekeh si pria lalu mengerling.
Baekhyun mencibir, "hentikan oppa, kau menggelikan. Jadi ada apa?".
Suho tertawa pelan lalu menjawab santai,"aku hanya ingin makan malam denganmu, apa salah?". Suho memajukan bibirnya.
Baekhyun memutar bola matanya malas. "Kalau menurutmu aku akan kembali, tidak tetap tidak". Suho menatap sepupu cantiknya sejenak, "Baek, sampai kapan?"
Baekhyun hanya diam, tidak menjawab pertanyaan dengan topik sensitif menurutnya.
Tak lama setelah itu pesanan Baekhyun datang. "Aku sudah memesankan makanan untukmu, makanlah oppa".
Suho hanya menghela nafas, susah sekali membujuk Baekhyun. Akhirnya Suho hanya menurut, mereka makan dengan tenang.
Setelah makan malam singkat, Baekhyun menolak untuk diantar pulang sepupu tampannya. Baekhyun bilang dia bisa pulang sendiri, Suho hanya cemberut. Akhirnya Suho memeluk Baekhyun sejenak dan masuk ke dalam mobilnya. Baekhyun hanya memandang mobil sepupunya hingga berbelok di tikungan.
Saat akan berbalik untuk menuju halte, Baekhyun menabrak dada seseorang. Sehingga bawaan orang itu jatuh, refleks Baekhyun segera mengambil barang orang tersebut dan langsung menyerahkannya. Menggumamkan kata maaf lalu membungkuk singkat, dia sendiri yang agaknya ceroboh berbalik atau memang orang ini tidak melihatnya sih? Pikir Baekhyun sebal.
Pergelangan tangannya ditahan saat Baekhyun akan melangkah, "Byun Baekhyun?". Baekhyun berbalik memandang orang yang dengan lancang memegang tangannya juga memanggil namanya.
Sepasang mata bulat, snapback yang membungkus rambut merahnya, dan raut wajah konyol. Park Chanyeol tersenyum, "ternyata benar kau. Apa yang kau lakukan disini?"
Baekhyun tidak menjawab, dia hanya menatap pergelangan tangannya yang digenggam Chanyeol. Sadar akan itu, Chanyeol segera melepaskan tangannya. Dengan datar Baekhyun menjawab singkat, "makan". Lalu beralih menghadap restoran di depannya.
Chanyeol hanya ber-oh kecil, lalu bertanya heran, "sendirian?". Baekhyun hanya menjawab, "hm. Maaf telah menabrakmu, aku permisi". Setelahnya Chanyeol hanya melongo saat Baekhyun melengang begitu saja melewatinya.
'Cih, jutek sekali', pikirnya. Namun setelah itu dia berdehem, agak kaget dengan penampilan Baekhyun yang agak menawan—berbeda saat di sekolah. Tersadar tujuan awalnya, dia menepuk dahinya dan bergumam, "gawat, aku harus cepat."
Setelahnya Chanyeol berlari kencang menuju restoran ayahnya, tidak jauh dari restoran dimana dia bertemu Baekhyun tadi. Ayahnya mengeluh karena Chanyeol lama membeli bumbu dapur, dan Chanyeol hanya merengut karenanya.
Sejenak Chanyeol terpesona akan kejadian yang barusan dialaminya.
Seorang Byun Baekhyun, banyak dari murid kelasnya yang membicarakan bagaimana dingin dan angkuhnya dia. Chanyeol memang tidak pernah peduli akan gosip selain basket. Namun baru pertama kali dia berbicara dengan Baekhyun, suaranya yang lembut, aroma stroberi yang tercium olehnya saat dia bertabrakan tadi. Bahkan rasanya mirip Taehyung yang suka juga memakai produk beraroma stroberi.
Hanya saja mata itu, mata coklat tanpa binar. Sorot matanya begitu dingin seakan membekukan apapun yang dilihatnya, terkesan hampa. Entah mengapa membuat Chanyeol berpikir bahwa Baekhyun mempunyai wajah yang sangat cantik namun kaku.
Sadar akan lamunan yang tidak-tidak, Chanyeol menggeleng pelan. Disusul dengan teriakan ayahnya yang menyuruhnya untuk membantu karena restoran cukup ramai, sadar atau tidak bahwa Byun Baekhyun mampu membuatnya penasaran akan sosoknya.
.
.
.
TBC
#aheww chapter 2 up, menulis ini tuh sambil nunggu lampu nyala. Semoga readers tidak bosan dengan alur yang amburadul #plak
Pendek ya? Iya emang sependek BBH kok /dibuang/ ehe mind to review?
