기현
.
Kyuhyun berjalan menuju teras belakang rumah, menemukan keberadaan Kihyun-putra semata wayangnya yang ia cari sejak tadi berada diatas ayunan terlihat serius ditemani sebuah buku ditangannya. Dia lega Kihyun memakai pakaian tebal karena ini masih musim dingin. Kyuhyun takut Kihyun terserang flu, apalagi angin sore kali ini terasa lebih dingin dari biasanya. Dia mendudukkan dirinya disebelah Kihyun sambil memperhatikan putranya membaca buku dongeng bergambar.
"Sedang membaca apa?" Kihyun tak perlu menjawab pertanyaan basa basi Kyuhyun, toh sang mama juga sudah mencuri lihat disampingnya. "Tidak bosan setiap hari selalu membaca?" tanya Kyuhyun heran melihat kebiasaan sang anak. Kihyun tak pernah merengek padanya hanya untuk sebuah mainan. Kihyun lebih sering meminta buku bergambar. "Mama bisa menemani Kihyun bermain kalau Kihyun mau." tawarnya kemudian melihat Kihyun masih asik sendiri.
"Seperti...?" Kihyun menutup bukunya untuk lebih serius menanggapi omongan Kyuhyun.
"Seperti-" Kyuhyun berpikir sejenak."-main bola mungkin." Karena Kyuhyun sendiri tampak tak yakin dengan idenya barusaja.
"Mama payah!" Kihyun sudah terlalu hafal dengan kebiasaan Kyuhyun yang tidak bisa menendang bola. Lagipula kenapa ibunya suka sekali mengeluarkan ide anehnya diwaktu tak tepat. Bermain bola dimusim dingin? Yang benar saja. "Bahkan berlari mengejar bolapun mama tidak bisa, masih mau menendang bola." tambah Kihyun datar sedatar papanya dan semakin membuat Kyuhyun terpojok. Ekspresi Kihyun itu seolah mengoloknya.
"Hei siapa yang bilang mama tidak bis..."
"Paman Donghae lebih hebat saat menendang bola."
"...ssa"sanggahannya terputus begitu saja mendengar pengakuan Kihyun. Kyuhyun memandang sedih Kihyun yang mulai serius lagi dengan buku cerita yang tadi sempat dia abaikan sebentar. "Kihyun, apa kau sangat menyukai paman Donghae?"
"Ya," dan itu benar. Kihyun sangat menyayangi paman Donghaenya karena bersama kakak dari ibunya tersebut ada sisi lain dalam dirinya-sisi manjanya akan keluar begitu saja. "Paman Donghae sangat baik. Dia juga selalu menemani Kihyun bermain. Buku ini juga dari paman Donghae" ujar Kihyun berbinar khas anak-anak menceritakan tentang betapa baiknya Donghae padanya. Begitu kontras dengan ekspresi datarnya tadi. Sepertinya Kihyun begitu mengagumi sosok sang paman.
"Apa Kihyun ingin bertemu dengan paman Donghae dan menginap disana?"
"Boleh?" tanya Kihyun penuh harap. Kyuhyun mengangguk setelah terdiam mempertimbangkan membuat Kihyun bersorak girang. Dia telah memutuskan satu hal besar. Beberapa minggu ini jarang sekali Kihyun mengekspresikan perasaannya.
"Terima kasih mama." ucapnya senang, tak lupa mencium pipi Kyuhyun.
"Jadi sekarang apa boleh mama menemani Kihyun bermain bola?" Tetap, Kyuhyun ingin mencoba peruntungannya.
"Tidak mau. Mama payah!"
"Hei mama tidak seburuk itu asal kau tau."
"Coba mama kejar Kihyun dulu, wlekk" Setelah mengucapkan kalimat itu Kihyun berlari menjauh. Kyuhyun mengejarnya dan berakhirlah ibu dan anak itu saling kejar. Mereka terlihat bahagia tanpa tau sesuatu yang besar mungkin telah menunggu, sebuah tawa atau justru airmata.
Tanpa mereka tau juga Kibum melihat interaksi ibu dan anak itu dari atas balkon ruang kerja yang berada persis diatasnya. Tak ada yang menyadari keberadaannya. Karena mereka, Kyuhyun maupun Kihyun sudah terbiasa hidup tanpa kehadiran sang kepala keluarga.
Kibum baru menyadari dia adalah ayah yang tidak bisa dibanggakan. Salah! Mungkin juga dia baru saja tersadar sekarang bahwa nyatanya ia telah menjadi seorang ayah tujuh tahun silam. Miris. Hatinya berdesir merasakan perasaan aneh melihat putranya membanggakan pria lain dibandingkan dirinya yang notabene adalah ayahnya. Apa yang pernah dia lakukan untuk putranya selama ini? Tidak ada. Bahkan ia tidak tau persis berapa umur Kihyun sekarang dan tanggal berapa tepatnya putranya dilahirkan. Kibum memang yang mengantar Kyuhyun ke rumah sakit saat wanita itu melahirkan, akan tetapi Kibum tidak ingat bahwa dia pernah mengantar Kyuhyun untuk memeriksakan kandungannya. Double miris.
"Kibum, aku hamil"
Kibum masih ingat betapa bahagianya dia ketika mendengar Ryewook mengatakan bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah. Setiap hari sepulang kuliah dia sempatkan mengunjungi wanita itu, menanyakan keadaan calon ibu dari anaknya dan bagaimana perkembangan bayinya. Apakah ia tumbuh dengan baik atau tidak. Kibum juga sering mengajak calon anaknya berbicara, mengelus perut Ryewook juga menguatkan wanita itu. Tapi apa yang dilakukannya ketika Kyuhyun memberitakan kabar kehamilannya. Dia bahkan hanya diam tanpa ada respon berarti. Dan setelahnya berlalu begitu saja meninggalkan Kyuhyun yang mematung. Padahal saat itu Kyuhyun masih remaja. pastilah dia lebih membutuhkan dukungan.
Disaat Kyuhyun dapat dengan mudah menunjuk pria manapun untuk dia jadikan masa depan, gadis itu justru menyerahkan hidupnya pada pria brengsek seperti dirinya.
Pria manapun pasti sulit menerima wanita dengan masalalunya. Lalu apa yang kurang dari Kyuhyun sebagai seorang istri. Wanita itu telah melahirkan putranya. Menjadikan dirinya sebagai satu-satunya pria dalam masalalunya. Bahkan Kibum berani bertaruh Kyuhyun juga menjadikan ia sebagai masadepannya. Layaknya Kibum pantas berbangga diri.
Kibum jatuh pada Ryewook dan Kyuhyun jatuh tak terselamatkan padanya. Dengan Ryewook, tak lagi ada kesempatan untuknya. Sementara bersama Kyuhyun, ada yang harus dia pertahankan, Kihyun.
Kibum mengusap kasar wajahnya seakan baru tersadar seberapa banyak luka yang telah ia torehkan pada Kyuhyun. Dia berdosa, sangat berdosa.
.
기현
.
Kyuhyun membuka matanya, menggeliat dan merasakan seluruh sendi tubuhnya sakit. Yang semalam itu apa? Bisakah disebut sebagai bercinta? Demi apa setelah sekian tahun tak pernah menyambangi kamar mereka berdua, semalam Kibum datang lalu mereka melakukan itu. Kibum mabuk, Kyuhyun sudah menolak takut saat Kibum sadar hanya akan menyisakan penyesalan.
Karena kibum berkeras menyebut yang pertama dulu sebagai kesalahan, untuk kali ini bolehkah kyuhyun menyebutnya pemerkosaan. Tapi dari yang Kibum anggap sebagai kesalahan itu lahir Kihyun. Kyuhyun benci pernyataan sepihak Kibum. Jadi untuk malam inipun dia akan menganggapnya sebagai kewajiban. Kewajiban seorang istri adalah melayani suaminya.
Kyuhyun bergeser dari posisinya semula, memiringkam tubuh agar dia dapat memandang dengan bebas wajah lelaki yang terlelap disampingnya. Hidung yang mancung, bibir merah tebal menggoda, serta tubuh bagian atas yang terekspos sempurna. Seharusnya itu bukan hal langka untuk status suami istri yang sudah keduanya sandang. Suaminya masih tetap tampan seperti ketika mereka baru pertama kali bertemu. Kibum lelaki hangat dan setia, Kyuhyun percaya itu. Buktinya suaminya masih setia dengan mantan kekasihnya meski waktu telah begitu lama memisahkan mereka. Ia dan Kibum hanya terlambat bertemu dan sayangnya disaat yang tidak tepat pula. Andai Kyuhyun boleh memilih, dia ingin lahir ditahun yang sama dengan Kibum agar dia bisa lebih cepat untuk bertemu dengan suaminya tersebut. Ia ingin sekali lagi menjadi istri untuk pria disampingnya ini. Tapi harapan tinggal harapan. Kyuhyun mengusap airmata yang telah dengan lancang menghianatinya keluar tanpa seijinnya. Bagaimana Kibum semalam mendatangi kamar mereka dengan bau minuman keras yang begitu kental dan berakhir menyerangnya. Laki-laki disampingnya melakukannya tanpa cinta, lagi.
.
기현
.
Kibum membuka mata dengan kepalanya yang terasa berat. Dia mencoba mengubah posisinya menjadi duduk. Ini kamarnya. Ia melihat sekeliling tapi tak mendapati keberadaan Kyuhyun. Matanya justru berhenti pada setengah gelas perasaan lemon diatas nakas. Kibum ingat semalam dia minum tapi tidak sepenuhnya mabuk. Dia juga ingat semalam bercinta dengan Kyuhyun. Kibum melakukannya dengan sadar.
Siapa sangka niatnya mendatangi Kyuhyun semalam untuk membicarakan keberlangsungan rumah tangga mereka yang berada diujung tanduk berujung di ranjang. Kibum mengetuk pintu kamar Kyuhyun atau seharusnya kamar mereka berdua. Tak ada respon dari dalam karena memang Kyuhyun sedang terburu mencari pakaian ganti. Kibum langsung saja berinisiatif menerobos masuk, Toh itu kamarnya juga.
Kibum lelaki normal. Hormon kelelakiannya langsung naik melihat tubuh telanjang Kyuhyun serta rambut basahnya sehabis mandi. Apalagi dia sudah lama tak melakukannya. Nafsunya menyesatkan, menggodanya membisikkan kebenaran Kyuhyun adalah istrinya. Kewajiban istri adalah melayani kebutuhan biologis suaminya. Tanpa menunggu ijin, Kibum langsung saja menyerang Kyuhyun dengan ciuman lalu menggagahinya tanpa peduli penolakan dari wanita itu.
Kibum mengusap kasar wajahnya. Seharian ini entah sudah berapa kali dia melakukannya. Kibum melakukan kesalahan lagi. Bukan, bukan kesalahan tentang meniduri Kyuhyun tapi dia merasa buruk sebagai lelaki. Inilah yang dilakukannya dulu dan dia menumpahkan semua kesalahannya pada Kyuhyun. Kibum jadi teringat semua perkataan Ryewook kemarin. Memang seharusnya dialah yang pantas untuk disalahkan atas semua yang sudah terjadi.
Kibum bangkit dengan tubuh polosnya menuju kamar mandi. Sebelumnya ia sempatkan meminum air perasan lemon untuk menetralisir efek minum semalam.
.
기현
.
.
Kibum keluar dari kamar setelah mandi. Rumah tampak sepi, dia butuh untuk bicara dengan Kyuhyun tapi Kibum tak melihat keberadaan istrinya.
Sayup-sayup dari halaman belakang Kibum mendengar orang berbicara. Dia melangkahkan kakinya menuju sumber suara, menemukan Kyuhyun beserta Kihyun berada di ayunan yang sama seperti kemarin. Wajah keduanya tampak serius, rasanya akan aneh jika Kibum memaksa ikut bergabung bersama mereka.
"Kau sudah bangun?" tiba-tiba saja suasana menjadi canggung saat Kyuhyun menyadari keberadaannya. Kibum salah tingkah sendiri dilihat oleh dua orang berstatus istri dan anaknya itu.
"Ingin kubuatkan sesuatu?"
Kibum mengangguk saja tau Kyuhyun menawarkan sarapan padanya. Mungkin dengan cara begini mereka bisa berkomunikasi lebih baik. Kyuhyun tampak bicara sebentar pada Kihyun, menyuruh bocah itu masuk kamar. Kihyun mengangguk.
Melihat tingkah aneh sang mama dari kemarin sampai hari ini membuat Kihyun berpikir, firasatnya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi. Kihyun berhenti melangkah didepan Kibum. Entahlah, tiba-tiba saja dia ingin melakukannya, memeluk papanya. Hal ini tentu saja mengagetkan Kibum. Dia tak tau harus bersikap bagaimana. Tugas seorang ayah tak pernah dilakukannya. Perlahan Kibum membalas pelukan bocah tujuh tahun itu. Apa salahnya toh mereka ayah dan anak. Kihyun kemudian melepas pelukannya lalu berjalan tertunduk lesu menuju kamar. Kyuhyun memperhatikan dalam diam interaksi ayah dan anak tersebut.
.
.
Kibum mengikuti langkah Kyuhyun menuju dapur, mendudukkan dirinya disalah satu kursi counter.
Kyuhyun menyodorkan secangkir kopi pahit setelah lebih dulu menawarkan pada Kibum. Kibum menikmati kopinya sembari menunggu masakan matang. Diperhatikannya Kyuhyun yang tengah mencuci sayur dan daging lalu dengan cekatan dia memotongnya, meracik bumbu kemudian mencampurnya menjadi satu sehingga menciptakan aroma harum masakan yang terlihat lezat.
Simanja Kyuhyun bisa memasak? Pertanyaan itu awalnya sempat mampir dipikiran Kibum saat Kyuhyun menawarkan sesuatu padanya. Lebih dalam Kibum memerhatikan Kyuhyun menemukan banyak perubahan pada diri wanita itu. Selain kurus Kyuhyun juga terlihat lebih dewasa dari usianya. Auranya tenang sehingga kesan childish yang selama ini melekat pada Kyuhyun tak nampak sama sekali. Diakah penyebabnya? Lelaki brengsek yang telah merampas senyum kekanakan Kyuhyun yang dulu sempat disukainya. Delapan tahun bukan waktu sebentar. Dan diwaktu yang tak sebentar itu dia telah mengubah dan melewatkan banyak hal.
Kibum kira mereka akan sama-sama terjebak disituasi canggung setelah tragedi semalam. Percintaan panas yang benar-benar membangkitkan gairah lelakinya, atau hanya dia sendiri yang menikmatinya.
"Kibum?"
Kibum tersadar dari lamunannya tentang kejadian semalam begitu mendengar seruan dari Kyuhyun. Sepiring makanan telah tersaji didepannya. Kibum mencicipinnya dan rasanya pas dilidah Kibum.
"Ini enak." komentarnya. Kyuhyun hanya tersenyum kecil sebagai balasan atas pujian Kibum pada masakannya. Kyuhyun lantas mengambil duduk dikursi depan Kibum membuat mereka duduk saling berhadapan. "Akan kucuci sendiri piringnya nanti." kata Kibum merasa tidak enak hati sudah dibuatkan makanan sekarang Kyuhyun menungguinya makan sambil menatap intens padanya, seolah Kibum akan menghilang jika ia mengedip sekali saja.
"Aku ingin bicara setelah kau selesai."jawab Kyuhyun atas pernyataan Kibum. Kibum mengangguk mengerti karena mereka memang butuh untuk bicara berdua. Setelah Kibum selesai dengan aktifitas sarapan menjelang siangnya, dia menawarkan pada Kyuhyun apakah mereka perlu ke ruang kerjanya untuk bicara tapi Kyuhyun menolak dan akhirnya keduanya tetap duduk di kursi dapur.
"Baiklah, apa yang ingin kau katakan karena aku juga ada sesuatu yang ingin kuselesaikan."
"Tidak aku dulu." sergah Kyuhyun. Dia takut tak akan mampu mengatakan maksudnya jika lebih lama lagi melihat wajah lelaki itu.
"Katakanlah!"
"Kibum-"
Kibum menunggu apa yang ingin Kyuhyun bicarakan. Dia benar-benar tidak bisa menebak dari ekspresi wajah yang Kyuhyun tunjukkan. Kyuhyun ini bukan Kyuhyun yang biasa Kibum lihat dulu, juga bukan Kyuhyun yang belakangan dilihatnya. Ini Kyuhyun yang berbeda. Kyuhyun yang seakan siap menanggung apapun. Apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan? Sesuatu yang burukkah atau justru sebaliknya. Atau apakah ini tentang semalam. Baiklah Kibum juga perlu menjelaskannya.
"-mari kita akhiri sampai disini. Kita... berpisah."
Otak Kibum tiba-tiba kosong. Bahkan dia seolah lupa apa yang akan dia bicarakan sebelumnya. Kibum kira kejadian semalam itu bisa dia jadikan sebagai alasan untuk memperbaiki hubungan mereka selama ini, tapi ternyata itu justru menambah satu lagi luka yang tak mungkin bisa dihapusnya dari Kyuhyun. Apa yang bisa Kibum lakukan untuk menebus kesalahannya? Mengabulkan permintaan Kyuhyun bukankah itu sama saja melepaskan penderitaan wanita itu yang diakibatkan olehnya.
"Baiklah,...kita berpisah."
Mata Kyuhyun memerah tapi dia kuatkan untuk tidak menangis. Dia sudah menduga Kibum akan langsung mengiyakan. Bukankah ini pilihannya? Memang harusnya begini sejak dulu. Keputusannya sudah benar, tapi kenapa hatinya begitu sakit. Kyuhyun bangkit dari kursinya merasa ia telah selesai. "Aku akan berkemas. Kau boleh mengunjungi Kihyun kapanpun kau mau," jeda "itupun jika kau ingat dia masih berhak atas ayahnya." Kyuhyun melangkahkan kakinya dengan hati hancur.
Kibum tertohok tak mampu mengucapkan apapun. Mereka tak boleh pergi. Dialah yang seharusnya enyah. Tapi-
"Kyuhyun-"
Suara Kibum menahan Kyuhyun. "-terima kasih telah melepasku." Bukan! Bukan itu yang harusnya keluar dari mulut Kibum. Mengapa dia menambah luka lagi. Dia menyesal, tak tau apa yang seharusnya diucapkan.
Egois!
Siapa menahan siapa. Kenapa ucapan Kibum terdengar kejam. Kibum mengucapkannya seakan selama ini Kyuhyunlah yang telah menahannya. Seharusnya Kibum bertanggung jawab karena selama delapan tahun telah membelenggu hati Kyuhyun hingga tertahan oleh sesuatu tak kasat mata bernama cinta.
Kyuhyun kembali melangkahkan kakinya kedalam kamar, mengambil koper yang memang telah dia siapkan semenjak kemarin sore dia bicara dengan Kihyun.
Dunia kita memang berbeda, dan tak akan pernah bisa sama. Aku tak bisa menyalahkanmu untuk itu. Ketika airmata yang harus aku keluarkan untuk sebuah kata bernama perpisahan. Namun bagimu, justru terima kasihlah yang kau ucapkan. Bersamaku kau tak pernah merasa berharga, jadi biarlah aku merelakanmu bersama seseorang yang membuatmu bahagia.
"Cegahlah kepergianku sekali saja maka aku akan bertahan meski mungkin hatiku akan merasakan sakit lagi"
Kyuhyun menyeret koper ditangan kanannya, sebelah tangannya yang lain menggenggam jari mungil Kihyun. Dia menoleh lagi pada apa yang sebentar lagi akan menjadi mantan untuknya, menguatkan hatinya meninggalkan rumah besar yang delapan tahun dia jadikan tempat untuk pulang. Hatinya sesak, lebih sesak lagi bahwa dia benar-benar tidak punya tempat di hati Kibum. lelaki yang dicintainya itu tak menampakkan diri untuk mengantar mereka.
Sementara dari latai dua Kibum hanya mampu melihat dengan kacau kepergian keduanya. Dia merasakan sakit tapi tak berusaha bergerak seincipun untuk menghilangkan rasa sakitnya. Pada akhirnya Kibum tetaplah Kibum. Memilih bersikap pengecut dengan tameng harga diri yang masih tersisa. Harga diri yang perlahan menghancurkannya. "Mianhae...jongmal mianhae."
Sesampainya diluar gerbang Kyuhyun menangis terisak seperti remaja yang tengah patah hati. Keberadaan Kihyun bahkan tak mampu lagi membuatnya berpura-pura untuk kuat. Bocah kecil itu ikut menangis memeluk mamanya yang berjongkok diluar gerbang rumah. Inilah Kyuhyun sebenarnya. Dia rapuh, serapuh dirinya sebelum bertemu Kibum yang akan mudah sekali menangis jika sang kakak menggodanya dan akan kembali tersenyum tengil jika dia dapat membalas orang-orang yang telah menjahilinya.
'Mama' cicitnya seperti anak kecil yang membutuhkan ibunya. Kyuhyun rindu ibunya yang sudah berada disurga.
.
기현
.
"Brengsek! Bajingan sialan! Apa yang telah kau lakukan pada adikku. Belum puaskah kau menghancurkan hatinya selama ini!"
BUAGG!...BUAGH!
Seakan belum puas melihat wajah dan tubuh lebam Kibum atas ulahnya, Donghae masih saja bernafsu memukuli Kibum. Kibum pantas mendapatkannya karena itulah dia tidak melawan, tapi dia kelihatan begitu bodoh karena tak menghindar hingga seluruh tubuhnya terasa sakit. Mulutnya robek dan dari Sudut-sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah pekat. Tak ada yang mampu menghentikan tindakan Donghae, bahkan saat jemari lentik Eunhyuk berulang kali menahannya.
"Cukup, Hae. Cukup! Kyuhyun tidak akan menyukainya. Dia akan marah melihatmu anarkis seperti itu!" Donghae benci ketika nama Kibum disandingkan dengan nama adiknya. Itu kelemahan yang mengharuskannya terpaksa menghentikan aksi menghakimi Kibum. Dia masih belum puas menghajar Kibum. Kalau perlu Kibum mati saja jika Kyuhyun sampai tak ditemukan.
Lalu apa yang menyebabkan Kibum dengan suka rela menjadi bulan-bulanan Donghae tanpa perlawanan? Dia datang untuk menebus dosa. Pernyataan Kyuhyun tadi pagi yang ingin berpisah darinya membuat lidahnya kelu, bahkan Kibum mendadak lupa dengan niatnya semula ingin meminta maaf dan kalau bisa memulai lagi hubungan mereka dari awal. Namun semuanya tak sempat terucap sampai Kyuhyun benar-benar pergi.
Kenyataannya Kyuhyun tidak pulang ke rumah sang kakak. Sebab itulah Donghae kalap saat Kibum mengabarkan Kyuhyun pergi dari rumahnya.
Memang dibanding Kibum atau siapapun, Donghaelah yang paling menderita atas kepergian Kyuhyun. Donghae mencintai Kyuhyun melebihi nyawanya. Kyuhyun adalah satu-satunya keluarga miliknya yang masih tersisa , warisan orangtuanya yang harus ia jaga. Selama ini demi Kyuhyun Donghae menahan semuanya, menutup mata atas apa yang terjadi pada adiknya. Sekarang Kyuhyun telah pergi meninggalkan Kibum, bukankah ini saatnya dia membalas perlakuan Kibum pada sang adik. Harusnya sudah sejak dulu Donghae menghajar Kibum atau Donghae bunuh saja sipecundang itu.
"Maaf." Sudah kesekian kalinya Kibum menggumamkan kata itu. Kata maaf yang belum sempat terucap untuk orang yang seharusnya pantas mendengarnya. Kata maaf tak akan bisa membawa Kyuhyun kembali.
"Kenapa harus menunggu delapan tahun baru kau mencarinya, brengsek. Lalu selama ini apa yang kau lakukan saat dia ada didepanmu HAH!"amarah Donghae kembali tersulut mendengar Kibum mengatakan maaf. Tubuhnya merangsek maju tapi Eunhyuk sekuat tenaga menahannya agar tidak kembali menghajar Kibum. Donghae masih murka atas apa yang dialami Kyuhyun. Adiknya tidak pantas mendapatkan semua penderitaan ini. "Harusnya kau mencegahnya pergi, menahannya agar tetap tinggal." Adiknya juga pantas untuk diperjuangkan. Kibum tak mengucapkan sepatah katapun. Baginya yang dikatakan Donghae semuanya benar.
"Pergi, Kibum! Kenapa kau begitu bodoh! Menerima pukulan tidak akan mengembalikan Kyuhyun. Cari dan bawa dia kembali!" teriak Eunhyuk melihat kebodohan Kibum yang hanya diam saja. Apa Kibum tak tau dia sudah tak mampu menahan tubuh calon suaminya lebih lama lagi.
selama ini Eunhyuk memang selalu mendukung Kyuhyun. Ia percaya ketulusan Kyuhyun tak akan pernah sia-sia. Tetapi setelah penantian panjangnya menumbuhkan hasil, wanita itu telah pergi. Jadi dia berharap Kibum akan menemukan Kyuhyun dan membawa adik iparnya pulang. Membungkuk sebentar pada Eunhyuk, Kibum akhirnya undur diri.
"Mau kemana, sialan! Aku belum selesai!" teriak Donghae melihat mantan sahabatnya itu menghilang dibalik pintu. Kibum telah pergi.
"Sudah, Hei. Sudah!" Eunhyuk sudah mulai kesal melihat tingkah Donghae. Donghae tak bisa untuk diajak bicara baik-baik. Donghae juga kasar padanya.
"Kenapa dari tadi kau terus membelanya, Hyuk!"
"Aku tidak membelanya, Hae. Daripada kau mengomel tak jelas lebih baik kau telepon Kyuhyun. Tanyakan keberadaannya saat ini."
Seakan tersadar dari kebodohannya Donghae segera mengambil ponsel dari saku celana dan mulai mendial nomer Kyuhyun namun detik berikutnya dia membanting ponselnya kala diseberang sana suara operatorlah yang menjawab panggilannya. Dimana adik dan keponakannya berada saat ini .
"Kemana dia hyuk. Kyuhyunku dimana dia sekarang?" Eunhyuk mengiba melihat betapa rapuhnya Donghae saat ini. Dia mendekati pria itu lantas memeluknya. "Aku takut Hyuk, aku takut Kyuhyun tidak ingin ditemukan lalu diam-diam menghilang dari kita." panik Donghae tak terkontrol. Dia menarik diri dari dekapan Eunhyuk. Donghae terlihat sama kacaunya seperti Kibum tadi.
"Kyuhyun bukan orang seperti itu, Hae." Eunhyuk berusaha menenangkan Donghae. " Dia hanya perlu waktu untuk sendiri saat ini. Kihyun juga butuh sekolah, jadi cepat atau lambat Kyuhyun pasti akan menghubungimu." Donghae mulai sedikit lebih tenang. Dia mengangguk mengamini apa yang dikatakan Eunhyuk tapi tetap saja khawatir Kyuhyun akan menghilang sungguhan.
.
기현
.
Kibum sampai dirumah hampir larut. Keberadaan Kyuhyun dan putranya masih belum diketahuinya. Dia lelah, tubuhnya butuh untuk diistirahatkan setelah seharian berkeliling meski tidak banyak tempat yang dia kunjungi. Sepulang dari rumah Donghae Kibum menemui Ryewook. Bukan untuk mengenang masa lalu atau meminta wanita itu kembali bersama, tapi Kibum datang untuk meminta petunjuk Ryewook tempat yang kira-kira bisa ia datangi untuk menemukan Kyuhyun.
Menghilangnya Kyuhyun membuat Kibum sadar satu hal bahwa dia buta akan Kyuhyun. Dia tak mengetahui apapun tentang wanita itu. Ryewook memberikan nomer Changmin, siapa tau sahabat tiang Kyuhyun itu tau keberadaan Kyuhyun. Awalnya Kibum dapat tanggapan baik dari Changmin, tapi setelah mengutarakan maksudnya menelepon untuk menanyakan dimana Kyuhyun, selanjutnya umpatanlah yang Kibum dapat. Changmin tidak mau bekerjasama memberitahu dimana keberadaan Kyuhyun bahkan walau Changmin tau sekalipun. Tapi sayangnya Changminpun tidak tau dimana Kyuhyun sekarang. Kyuhyun tidak menghubunginya.
Kibum masih betah duduk didalam mobilnya, memperhatikan dari luar rumah besarnya tampak sunyi dan suram. Sebelumnya Kibum tidak pernah benar-benar peduli apakah rumahnya gelap atau terang, apakah istri dan anaknya ada didalamnya atau tidak. Yang dia ingat setiap kakinya melangkah masuk, Kyuhyun ada disana. Kadang Kibum juga melihat bocah cilik yang tidak lain adalah putranya. Namun sekarang setelah dia sadar tak seorangpun ada didalam sana, didalam rumahnya yang gelap, Kibum baru sadar ia membutuhkan sosok yang kini eksistensinya tak lagi ada.
Kibum memasuki rumah megahnya. Dingin dan hampa langsung menyambut, seperti tak ada hawa kehidupan karena sumber cahaya serta kehangatan dirumah itu telah pergi. Menghela nafas, Kibum berjalan dalam gelap tanpa perlu repot untuk menekan saklar lampu. Suara langkah kakinya menggema dalam sunyi, berjalan melewati ruang keluarga dan seketika cahaya terang memenuhi seluruh ruangan. Kibum tak sempat mencerna apa yang sedang terjadi ketika tiba-tiba ada yang memeluk pinggangnya.
"Selamat datang papa."
Suara itu asing baginya namun terasa familiar ditelingannya.
"Kihyun." Mata Kibum memanas sadar bocah yang kini memeluk dirinya adalah sang putra.
"Mama bilang papa akan pulang, jadi kami menunggu papa."ucap Kihyun serak. Mata bocah itu sudah memerah akibat kantuk. Kibum menatap sekeliling dan dia menemukan Kyuhyun berdiri menatapnya ditengah ruangan.
Bukan tanpa alasan Kyuhyun kembali. Kibum memang tak menahan kepergiannya, tapi sesaat setelah dia keluar dari gerbang, menangis meratap bersama Kihyun, Kyuhyun melihat Kibum keluar. Kibum mencarinya, berteriak putus asa menyerukan namanya tanpa menyadari dia masih berada disana melihat semuanya. Tak menemukan keberadaan Kyuhyun, Kibum kemudian kembali lalu setelahnya keluar lagi membawa mobil untuk mencari Kyuhyun. Saat itulah Kyuhyun mengatakan pada Kihyun, papanya menyayangi mereka, membutuhkan mereka dan mereka harus kembali.
Kibum mengangkat Kihyun dalam gendongannya, berjalan menuju Kyuhyun kemudian memeluk wanita itu. "terima kasih telah kembali."bisiknya penuh syukur. Suaranya terdengar serak, Kibum menangis.
"Aku mencintaimu."
Kibum tak membalas dengan kata cinta yang sama tapi dia memeluk Kyuhyun lebih erat. "Tetaplah disisiku." lirihnya memohon.
Mengangguk sebagai jawaban Kyuhyun merasakan bahunya basah. Dia tau tidak mudah bagi Kibum untuk mengatakan 'nado saranghae' tapi Kyuhyun percaya, mulai hari ini lelaki itu akan belajar untuk merasakan, meresapi perasaannya hingga akhirnya suatu saat nanti Kibum tidak akan segan lagi untuk mengatakan-
'aku juga mencintaimu, Kyuhyun'
.
.
.
.
.
END
Happy Birthday untuk Kibum meski terlambat beberapa hari ^^
Ff ini sebenarnya sudah kelar tahun lalu, tapi karena malas ngedit jadi dianggurin sampai hampir setahun. ini harusnya sequel dari ff AI permintaan dari Lizz Danesta. Ai sendiri adalah sequel Alive miliknya Ika. Tapi karena Ai sudah dibikin sequelnya oleh Nanas jadi saya merombaknya lagi dan berakhir jadi sequelnya Alive miliknya Ika Zordik. Bingung? Saya juga wkwkwk
Ff ini juga untuk Shofie Kim yang dulu pernah bilang direview pengen sequel Alive versinya saya. Semoga nggak mengecewakan ^^
Ending yang teramat dipaksakan? Memang. Awalnya ini adalah oneshoot yang berakhir sad ending. Kibum mamang akhirnya menemukan Kyuhyun namun semua sudah terlambat karena Kyuhyun telah pergi selamanya. Pesannya untuk Kibum dia meminta untuk menjaga Kihyun (drama benget kan ya)
Biar bagaimanapun meski Kibum tak cinta Kyuhyun, Kihyun tetaplah putranya, darah dagingnya yang berhak atas kasih sayang Kibum dan pastinya berhak atas harta warisannya juga/plak. Tapi dipikir-pikir saya nggak ikhlas KiHyun harus terpisah dua dunia. Jadilah ending yang memaksa seperti ini. Nggak apa-apa ya, yang penting KiHyun bersatu diultah Kibum :v
Terakhir, jangan lupa reviewnya ya.
