Title : The Day The World End

Genre : Fantasy, Romance, Adventure

Fandom : NARUTO

Characters : Uchiha Sasuke, Uzumaki Naruto, Suigetsu, Uzumaki Karin, Juugo, etc.

PAIRING : ALWAYS NARUSASU, Naruto x Sasuke

Rate : T for now

.

DONT LIKE, DONT READ. I'VE WARNED YOU~


...

Iris jelaga itu masih tetap memperhatikan kawanan warga, atau mungkin lebih tepatnya 'bekas' warga, yang berhamburan memasuki gedung sekolahnya. Dinding setinggi 2.5 meter yang memagari seluruh kawasan tempatnya mengenyam pendidikan itu seolah tidak ada apa-apanya. 'Makhluk-makhluk' tersebut melompatinya dengan sangat mudah, dan berlanjut berlarian dengan brutal melintasi halaman sekolahnya. Beberapa bahkan tersangkut pada gerbang utama yang lebih tinggi dan terbuat dari besi, dengan beberapa hiasan berupa logam yang runcing pada ujungnya. Beberapa dari mereka tidak sengaja tertusuk logam-logam gerbang tersebut, namun mereka tetap meronta menggerakkan tubuhnya dengan sangat anarkis, tidak mempedulikan bagian tubuh mereka yang tertusuk dan membuat mereka 'tersangkut'. Ia juga tidak lagi dapat menemukan satpam galak yang selalu berjalan mondar-mandir di depan gerbang sekolahnya untuk menjaga murid-murid bandel yang akan mencoba menerobos gerbang, yang ia lihat hanya beberapa cipratan serta ceceran darah yang sangat kentara menempel pada kaca pos satpam.

Halaman sekolah Sasuke yang hijau dan rindang, yang menjadi salah satu objek pemandangan untuk dilihatnya ketika sedang jenuh di dalam kelas, kini tak ayal berubah menjadi satu-satunya suguhan pemandangan paling mengerikan yang pernah dilihatnya seumur hidup.

Ia masih terus bungkam, menyaksikan kawanan tersebut memasuki pintu utama yang berada tepat di bawah lantai yang tengah dipijaknya, hingga tiba-tiba tubuhnya telah dibalikkan dan diguncang dengan sedikit keras. Ia mengerjapkan matanya dan menatap sahabatnya tersebut. Ah, benar. Juugo juga masih ada disini.

"Apa yang kau lakukan?! Sadarlah, Sasuke! Kenapa kau hanya diam mematung?! Apakah otak jeniusmu itu langsung mengecil setelah beberapa hantaman shock barusan?! Kemana perginya sosok Uchiha Sasuke yang selalu kukagumi karena mampu menyelesaikan masalah dengan tenang dan juga cepat tanggap itu?!"

Lelaki bersurai oranye itu berteriak sambil mengguncang-guncangkan bahu sahabatnya. Sementara Sasuke hanya mengedipkan matanya untuk beberapa kali, dan berakhir menatap ke dalam iris oranye milik Juugo.

Benar. Juugo benar. Jika ia bisa berpikir cepat dalam pelajaran matematika yang bahkan seluruh kelas angkat tangan, maka ia juga harus mampu berpikir cepat dalam situasi genting seperti sekarang ini. Ia tidak boleh membiarkan dirinya membatu di tempat hanya karena keterkejutan yang didapatnya. Ia harus berupaya untuk mencari jalan keluar.

Sasuke menganggukkan kepalanya dengan mantap sembari menatap Juugo dengan sorot mata yang dipenuhi dengan keberanian. Hingga tak ada lagi keraguan di dalamnya, Juugo kemudian menghela nafas lega dengan senyuman tipis sembari melepaskan bahu Sasuke.

"Dengar. Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku bersumpah, aku akan melindungimu, Sasuke. Kau mengerti?", ujar Juugo dengan tatapan yang lembut. Sasuke hanya mendengus geli sebelum mengangguk. Padahal dia sendiri juga laki-laki. Mungkin Juugo membawa perasaan 'harus melindungi' itu karena diantara mereka berempat, Juugo-lah yang memiliki tubuh paling besar.

"Baiklah. Kau ambilah barang apapun yang penting, aku akan mencari sesuatu untuk dijadikan senjata."

Lagi-lagi Sasuke hanya menganggukkan kepalanya dan lekas mengumpulkan barang-barang apa saja yang sekiranya akan diperlukan. Ia menyambar ponsel miliknya serta botol air minum milik Juugo. Tidak lupa ia juga dengan gesit membongkar tas milik Suigetsu dan Karin untuk membawa ponsel dan air minum mereka. Ia bahkan tidak sengaja menemukan dua bungkus roti di dalam tas milik Karin. Terakhir, ia memasukkan semuanya ke dalam tas miliknya yang sudah dikosongkan dengan cepat, kemudian berlari mendekati Juugo yang tengah mematahkan dua buah tongkat kain pel.

"Ayo. Kita harus bergerak dengan cepat namun tetap waspada.", ujar Sasuke singkat, dan dijawab oleh Juugo dengan anggukan kepala. Juugo kemudian berjalan cepat keluar dari kelasnya terlebih dahulu, sambil mengacungkan tongkat miliknya dengan waspada, diikuti Sasuke yang menggendong tas ransel di punggungnya dan juga membawa satu lagi tongkat untuk dijadikan senjata.

"Kita akan coba ke kantin dulu, untuk menjemput Suigetsu dan Karin.", lanjutnya sambil mengeratkan genggamannya pada tongkat miliknya. Belum apa-apa namun telapak tangannya sudah terasa licin karena keringat.

Mereka menyusuri lorong dengan setengah berlari, sambil sesekali melirikkan mata ke dalam ruang kelas lain yang kosong. Hari Jumat memang biasa diwarnai dengan kesunyian karena diskon menu makanan yang diadakan oleh kantin sekolah, tetapi khusus hari ini, kesunyian itu terasa sangat mencekam. Memacu jantung mereka untuk berdetak lebih keras hingga membuat dada terasa sakit.

Lima langkah lagi mereka sampai di ujung lorong yang terhubung dengan dua lorong lain, tiba-tiba sesuatu dengan cepat seolah terlempar dari arah kanan dan menabrak dinding dengan keras. Sangat cepat hingga otak Sasuke perlu mencerna. Itu adalah salah satu dari kawanan yang dilihatnya tadi. Ia berlari terlalu cepat hingga gagal menghentikan kakinya dan berakhir menabrak tembok.

Juugo dengan cepat mengacungkan tongkatnya ke arah makhluk itu yang tengah berguling-guling di lantai. Ia berjalan mengitarinya dengan Sasuke mengikuti langkahnya dari belakang. Sedetik kemudian makhluk itu mulai bangkit dan berteriak dengan suara serak yang menyeramkan, berlari menerjang Juugo. Makhluk itu terlihat mengatup-atupkan giginya yang runcing dengan sangat cepat, seolah berusaha menggigit Juugo. Sementara Juugo menahan leher makhluk tersebut dengan tongkat yang dipegangnya supaya ia tidak bisa mendekat lagi.

Samar-samar Sasuke mendengar beberapa teriakan serak yang serupa dari lantai bawah, berbarengan dengan jeritan-jeritan yang memekakkan telinga. Dan ia cukup memiliki indra pendengaran yang tajam, hingga bisa mendengar derap langkah kaki serta suara teriakan tersebut yang perlahan seolah merembet ke atas. Kawanan makhluk itu mulai menaiki tangga.

Ia mengatupkan giginya rapat-rapat dan mengumpulkan seluruh tenaganya pada kepalan tangannya, lalu mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan mengayunkannya dengan keras mengenai kepala milik makhluk yang tengah menyerang Juugo. Sepertinya pukulannya terlampau keras hingga menyebabkan makhluk tersebut tersungkur tidak sadarkan diri dengan ceceran darah kental hitam membasahi kepalanya.

Juugo lekas berdiri dan menarik Sasuke yang sedang terengah-engah karena shock yang entah keberapa kalinya ia dapatkan hari ini. Mereka buru-buru berlari menuju kantin, namun terpaksa menghentikan langkah karena rombongan siswa yang berhamburan keluar dari kantin dengan panik. Juugo yang lebih tinggi bisa melihat dengan cukup jelas. Salah satu makhluk tersebut entah bagaimana berhasil melemparkan tubuhnya dari luar hingga menembus jendela kaca yang ada di dalam kantin.

Keduanya tidak bisa bergerak karena terhimpit oleh kerumunan panik yang saling berusaha menyelamatkan diri masing-masing, terlebih berlawanan arah dengan mereka. Namun dari kejauhan Juugo bisa melihat surai merah dan surai silver yang sangat dikenalinya. Ia dengan cepat menarik seragam milik keduanya ketika mereka mulai mendekat.

"Juugo! Sasuke!", teriak keduanya dengan sedikit shock bercampur dengan kelegaan.

"Kalian baik-baik saja?!", tanya Juugo dengan nada suara yang sedikit tinggi karena keramaian yang masih menghimpit mereka. Karin dan Suigetsu mengangguk dengan cepat.

"Kita harus segera pergi dari sini dan mencari tempat yang aman!", ujar Sasuke sambil mendahului ketiga sahabatnya, bermaksud menuju pintu keluar. Namun pergelangan tangannya dicekal oleh seseorang, yang rupanya adalah Suigetsu. "Ada apa lagi?!"

"Jangan lewat pintu utama! Aku tau lewat film-film zombie yang pernah kutonton, mereka pasti akan berada di tempat dimana terdapat banyak kerumunan manusia. Kita tidak bisa mengambil resiko melewati pintu utama!"

Sasuke terdiam dan mencerna kata-kata Suigetsu. Ada benarnya juga, mengingat tadi ia sempat menyaksikan dari awal bagaimana makhluk-makhluk itu bisa memasuki gedung sekolahnya. Tentu saja melalui pintu utama.

"Eh?! Lalu kita harus bagaimana?!", cerca Karin panik.

"Aku tau sebuah pintu lagi di sekolah ini. Pintu yang selalu luput dari perhatian siapapun. Bahkan para tukang bolos!"

...

Beberapa menit setelahnya, terlihat keempat sahabat itu tengah berlarian kecil menyusuri sepanjang pinggir lapangan sekolahnya. Tujuan mereka adalah dinding belakang, yang terletak dibalik gedung olahraga. Sasuke tidak pernah memikirkan tempat ini sebelumnya, seingatnya yang ada dibalik sana hanyalah lorong buntu tempat para staff biasa meletakkan kursi-kursi serta meja-meja lama yang telah lapuk.

Mereka berhasil memasuki lorong ujung tersebut dengan sunyi. Sepertinya pergerakan mereka sejak awal tidak ketahuan. Sasuke menyempatkan diri menatap gedung utama sekolahnya yang terletak di seberang lapangan yang luas. Ia masih bisa mendengar jeritan-jeritan siswa-siswi yang masih berada di dalam sana, terdengar menggema dan menyayat hatinya. Ia mulai merasa bersalah, seharusnya tadi ia mengajak siswa-siswi lainnya untuk ikut kabur bersamanya.

"Psst! Disini!"

Pandangannya teralih menatap Suigetsu yang tengah memindahkan box-box kayu kosong yang tengah lapuk, dibantu oleh Juugo.

"Oh! Aku baru tau ada pintu semacam itu disini.", timpal Karin yang menatap pintu besi berkarat yang tersembunyi dibalik box-box kayu tadi. Pintu itu terbuat dari besi, dengan bagian-bagian yang sudah banyak berkarat. Tebak Sasuke, pintu itu pasti sudah ada sejak jaman pertama kali sekolahnya didirikan. Namun tidak terpakai, dan hanya ditutupi oleh box kayu.

"Ini mungkin akan sedikit berisik. Juugo, jagalah bagian belakang.", Suigetsu mulai memegang handle pintu besi tesebut. Ia menunggu Juugo berjalan ke belakang Sasuke, dan sedikit mengintip keluar lorong. Melihat kondisi lapangan masih tenang, Juugo mengacungkan jempolnya ke belakang. Suigetsu mengangguk dan mulai membuka pintu.

'KRIIIT'

Terdengar bunyi khas pintu besi lapuk yang dibuka. Juugo makin memantapkan indra penglihatannya ke sekeliling, meneliti jikalau ada satu saja makhluk tersebut yang menyadari keberadaan mereka disini.

"Aman. Ayo!", ujar Suigetsu setelah melongokkan kepalanya keluar pintu. Ia melangkah keluar dengan waspada, disusul Karin, Sasuke dan kemudian Juugo. Pintu itu kembali ditutupnya dengan lebih pelan supaya tidak menimbulkan suara gaduh.

"Wah, jadi ini adalah pintu yang tembus langsung ke pemukiman di belakang sekolah kita? Pintar juga kau. Sering bolos lewat sini, ya?", celoteh Karin yang hanya dibalas cengiran tak berdosa oleh Suigetsu.

Sementara Juugo menilai keadaan sekeliling pemukiman yang sepi, Sasuke melihat sebuah mobil tipe double cabin yang teronggok sembarangan di tengah jalan pemukiman. Walaupun keadaan sekitar pemukiman memang cukup senyap, tapi mereka berempat tidak bodoh untuk tidak menyadari bahwa makhluk-makhluk itu sebelumnya telah menyerang daerah tersebut. Terlihat dari berbagai kendaraan yang diparkirkan dengan asal, juga beberapa cipratan darah di tembok maupun jalanan yang beraspal.

"Hei, siapa yang bisa menyetir?", tanya Sasuke sambil mencoba membuka pintu mobil tersebut, dan ternyata berhasil.

"Aku.", jawab Juugo cepat sambil berjalan menjauhi mereka dan justru mendekati ujung jalan pemukiman, dimana sebelumnya ia bersama dengan Sasuke sempat menyaksikan awal mula pembantaian di sekolahnya.

"Bodoh! Mau kemana kau?!", teriak Sasuke setengah berbisik.

Dilihatnya Juugo melongokkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan waspada, dan kembali melangkah keluar, menghilang dari penglihatannya.

"What the hell, dia cari mati, ya?", timpal Suigetsu mulai panik dan kesal dengan tingkah Juugo.

Semenit kemudian, ketiganya menghela nafas lega, melihat Juugo kembali dengan membawa dua buah senapan mesin. Membuat ketiganya kembali mengernyitkan alis. "Apa itu? Kau dapat darimana?"

"Aku ambil dari dua tubuh personil militer yang tergeletak dekat dengan ujung gang. Untuk senjata kita.", ujarnya singkat, sebelum ikut membuka pintu mobil double cabin yang ditemukan Sasuke.

Keempatnya memasuki mobil 'curian' tersebut, menghela nafas lega lagi, dan kembali terdiam. "Sekarang apa?", tanya Suigetsu yang duduk di kursi belakang bersama Karin dengan spontan. Yang di kursi depan terlihat terdiam sedang memikirkan langkah yang tepat.

"Untuk amannya, sebaiknya kita menghindari kawasan perkotaan dulu dan lebih baik mengambil rute yang mengarahkan kita menuju pedesaan atau daerah pinggiran. Karena sekolah kita ini kebetulan tidak berada di pusat kota, jadi kita tidak perlu menempuh jarak berkilometer. Kita hanya perlu menyusuri jalanan utama untuk bisa sampai di tol, lalu masuk ke arah luar kota.", jelas Sasuke kepada ketiga sahabatnya, terlebih kepada Juugo selaku pengemudi.

"Baiklah.", jawab Juugo dengan anggukan singkat, kemudian menghidupkan mobil dan mulai menyusuri jalanan pemukiman menuju jalan utama, sementara Sasuke, Karin dan Suigetsu menilai lingkungan sekitar dengan waspada.

Mereka merasa bersyukur berhasil mengeluarkan diri dengan selamat dari gedung sekolahnya meskipun dengan peralatan dan bekal ala kadarnya, namun diam-diam di dalam hati, keempatnya sama-sama merapalkan doa memohon keselamatan diri mereka serta keluarga yang berada di rumah. Berdoa supaya mereka semua mampu bertahan hidup-hidup hingga mereka akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, hingga akhirnya menemukan tempat yang benar-benar aman nanti.

...

Jauh dari kota, terletak di pegunungan yang luas, terlihat sebuah kereta listrik melaju dengan cepat sebelum akhirnya berhenti di sebuah terowongan. Di ujung terowongan tersebut, terlihat sepuluh personil militer berjaga dengan membawa senapan mesin, menjaga sebuah gerbang yang sangat luas dan menjulang tinggi dengan ketinggian sekiranya 30-an meter. Terbuat dari baja paling kokoh yang bahkan tidak mampu ditembus oleh rudal penghancur tank sekalipun.

Dari kereta listrik, turun warga dari berbagai macam kalangan kelas dan usia yang berbondong-bondong digiring oleh para personil militer memasuki gerbang baja tersebut. Perlahan gerbang itu terbuka, menampilkan suguhan pemandangan militer bercampur dengan teknologi dan science di dalamnya.

Personil militer berlarian berbarengan, berpapasan dengan sekelompok ilmuwan yang mengenakan pakaian serta masker serba putih. Beberapa truk militer, helikopter bahkan beberapa buah jet tersusun rapi. Luas tanah tempat tersebut seolah tidak terukur. Setelah gerbang utama, terdapat halaman depan yang sangat luas dan dihiasi oleh rumput tinggi khas pegunungan, setelahnya yang ada hanyalah jalan beraspal yang sangat luas, tempat berbagai macam tenda-tenda serta perlengkapan militer didirikan. Terakhir, di ujung, terdapat bangunan modern yang sangat besar dan luas, dengan keamanan tambahan lainnya di depannya. Sebuah pagar kawat yang tidak sebesar dan setinggi gerbang utama, namun tetap dijaga oleh beberapa personil militer. Bangunan itu memiliki setidaknya 5 lantai, dengan luas melebihi gedung sekolah Sasuke.

Seorang laki-laki berusia 20 tahunan terlihat berjalan dengan cepat menuju tenda militer terbesar yang ada di dalam markas tersebut. Ia mengenakan pakaian militer dengan label 'wakil komandan', dengan rambut yang dikuncir menyerupai nanas, serta jenggot yang mulai dibiarkannya tumbuh.

Ia menyibak tirai penutup tenda tersebut dan melangkah masuk, membuat semua orang yang ada di dalamnya bungkam setelah sebelumnya tengah membahas sebuah rencana. Shikamaru, sang wakil komandan, hanya menatap dan menganggukkan kepalanya sekilas sebagai permintaan maaf karena telah menginterupsi rapat.

Kemudian ia berjalan mendekati kursi utama yang tengah diduduki oleh sahabat karibnya sekaligus atasannya sembari menenteng sebuah tab. Laki-laki bersurai blonde dengan iris sebiru langit itu memandang sahabatnya yang memasuki tendanya tiba-tiba dengan tatapan penasaran. Shikamaru hanya menghela nafas pelan, lalu menyerahkan tab yang dibawanya kepada laki-laki berkulit tan itu.

"Tokyo telah diserang.", ujarnya singkat yang mengundang reaksi keterkejutan dari para hadirin rapat. Tak terkecuali sahabatnya yang kini tengah memandang tab yang ada di tangannya dengan kerutan pada alisnya yang tegas.

"Apa tindakan kita, Komandan Uzumaki?"

Uzumaki Naruto, sang komandan, mengeratkan pegangan tangannya pada tab milik sahabatnya yang tengah menunjukkan situasi terkini di kota Tokyo. Ia mengatupkan gigi-giginya hingga rahangnya mengeras. Ia terdiam sejenak, sebelum kemudian bangkit dari duduknya, membuat orang lain yang berada di meja itu sontak mengikutinya berdiri karena rasa hormat.

Sang komandan terlihat menumpukan tangan kekarnya pada meja sembari menundukkan kepala dengan kerutan alis yang dalam. Sedetik kemudian ia mengangkat kepalanya, memperlihatkan iris biru yang memancarkan ketegasan dan keberanian.

"Kita bergerak sekarang."

.

.

.


Haloow, saya kembali lagi xD segitu dulu ya, gimana? Tadinya rencana mau update sampe ke scene naruto ketemu sama sasuke, tapi masih lama ternyata haduh~ takutnya kepanjangan dan readers pada bosen hahaa. Jangan khawatir, semester depan mereka ketemu kok xD ya walopun momennya belum banyak mungkin ya. Oh iyaa, saya juga mau ucapin makasih banget buat yang udah mau kasih komen, follow, favoritin story gaje ini juga xD komentar kalian bikin seneng banget :"3 makasih juga yg sudah mau baca chapter ini, maaf banget ya kalo isinya ngebosenin dan terlalu klise atau gimana -.- sampai ketemu chapter depan~