Apapun Untukmu
by pastryplate
Harry Potter belongs to J. K. Rowling
Sorry for any typo(s)
& happy reading!
·
·
·
·
Chapter Two : Her
Dominique mengunyah cemilannya dengan tidak nyaman. Akhir-akhir ini dia merasa Rose menjauh—entah karena apa. Rasanya sudah beberapa hari Rose tidak bergabung dengan mereka, bahkan Al sekaligus. Dia tak tahan lagi dan segera beranjak dari sofa ruang rekreasi menuju kamar Rose. Rata-rata sudah pada bangun dan pergi ke Aula Besar untuk sarapan.
Dominique mendapati Rose yang sedang menenggelamkan wajahnya ke bantal kesayangannya. Dominique menghampirinya dan duduk di tepi kasur, "Mau cerita denganku, Rose?"
Bukannya menjawab, Rose malah menatap Dominique. Dominique kaget melihat wajah Rose yang banyak bekas air mata, "Kau kenapa? Akhir-akhir ini sikapmu aneh sekali. Apa ada yang menganggumu?"
"Tidak, bukan begitu," Balas Rose, Dominique semakin dibuat bingung olehnya. "Aku hanya takut, Dom."
Dominique menatapnya heran, "Takut kenapa?"
Rose bangun dari tidurnya dan duduk di samping Dominique, lalu menyadarkan kepalanya di pundak sepupunya yang paling bisa mengerti dirinya, "Aku—" Suaranya lirih, tiba-tiba tenggorokannya susah untuk mengeluarkan sepatah katapun. Lalu, dia menutup mulut lagi.
Tidak ada yang boleh tahu tentang aku dan Malfoy.
"—mendapatkan nilai jelek di pelajaran Sejarah Sihir." Lanjutnya berbohong. Dia tidak mau memberitahu tentang dirinya dengan Scorpius Malfoy. Dia tidak mau mengecewakan Dominique, terutama Ayahnya sendiri yang notabenya masih tidak suka dengan Draco Malfoy walaupun mereka berdua sudah berdamai.
Dominique kaget walaupun disatu sisi dia juga masih curiga, "Hah? Kenapa bisa seperti itu?"
"Professor Binns memberiku nilai jelek karena aku tertidur di kelasnya, Dom." Balas Rose sambil menghapus sisa air matanya yang masih menempel di pipi. Dominique mengusap rambut sepupunya dengan lembut, "Kenapa kau bisa tertidur di kelas, Rose?"
Rose sedikit kelabakan saat harus mencari alasan lain, namu pintu kamar terbuka dan menampakkan gadis berambut coklat, Clara Wright. "Kalian berdua dicari sepupu kalian. Mereka menunggu di ruang rekreasi."
Setelah Dominique dan Rose mengucapkan terimakasih, gadis tadi pamit dan keluar. Mereka berdua bangun dari kasur. Saat Dominique ingin membuka pintu, tangannya tertahan oleh Rose, "Dom, jangan bilang siapa-siapa, ya?"
Dominique mengangguk sambil tersenyum lembut dan menarik tangan Rose. Mereka berdua berjalan menuju ruang rekreasi bersama, dimana para sepupunya sudah menunggu.
Al, Fred dan James duduk di depan meja yang berada di ruang rekreasi. James dan Fred sedang asik berdiskusi untuk lelucon selanjutnya, sedangkan Al sedang menatap tangga menuju kamar khusus perempuan. Mereka bertiga masih menunggu Dominique dan Rose karena belum terlalu lapar, lagipula Aula Besar masih lumayan ramai.
Dan Al sangat penasaran.
Akhir-akhir ini Rose selalu bersikap aneh seperti seseorang. Tapi, siapa?
"Hai," Al mengangkat wajahnya dan menemukan Dominique yang sedang menuruni tangga bersama Rose. Al mengernyitkan dahinya ketika menemukan mata Rose yang bengkak, tapi dia memilih untuk tidak bertanya. Dominique langsung bergabung ke James dan Fred, "Apa kalian sudah menunggu lama?"
Rose duduk di samping Al yang membuat Al sedikit tersentak karena perbuatannya. Rose menatapnya heran, "Kau kenapa? Dari tadi diam saja."
"Tidak."
"Kau sedikit aneh hari ini, Al." Balas Rose yang membuat Al memutar kedua bola matanya malas. "Yang ada kau yang aneh, bukan aku."
"Aku? Kenapa?" Tanyanya syok. Seperti yang sudah Al tebak, dugaannya benar. Lihat saja reaksi Rose sekarang seperti dia sudah ketahuan, padahal Al juga tidak tahu sama sekali. Al menatap Rose tajam, "Tingkah lakumu mengingatkanku dengan seseorang."
"Siapa?"
Al mengacak-acak rambut hitamnya, "Aku tidak ingat. Tapi, aku yakin tingkah lakumu sekarang ini persis dengan seseorang itu."
"Jangan mengada-ada, Al. Kau ini." Balas Rose sambil bergerak tak nyaman. Albus mengangkat kedua tangannya layaknya tersangka yang ditangkap polisi, "Oke, aku menyerah."
Rose bangun dari sofa dengan cepat sambil memandang mereka semua, "Tidakah kalian lapar? Aku sangat lapar sekarang. Ayo pergi ke aula."
"Sekarang? Baiklah." Balas Dominique sambil ikut berdiri. Lalu dia menarik James dan Fred agar mereka berdua menyudahi pembicaraan rencana membeli banyak petasan untuk bersenang-senang. Bagi Dominique, itu hanya membakar duit saja, jadi dia melarangnya, tapi tetap saja kelakuan mereka berdua susah dihentikan. Pada akhirnya, James dan Fred mengikuti Rose dan Dominique yang sudah duluan pergi ke aula.
Sedangkan Al, dia berjalan di paling belakang sambil memikirkan Rose. Aku yakin dia mirip seseorang, tapi—siapa? Kenapa aku bisa lupa?!
Suara tawa tak asing memenuhi lorong dan Al melihat gerombolan Slytherin—atau teman seasramanya sendiri. Gerombolan yang dipimpin Scorpius Malfoy baru keluar dari aula, Al yakin itu. Lalu, Al menyaksikan reaksi Scorpius ketika mata mereka tak saling bertemu dan Scorpius membeku tiba-tiba setelah melihat seseorang selain dirinya. Al mengernyitkan dahinya. Kenapa dia bersikap aneh seperti itu?
"Rose, tunggu kami!" Al tersadar dari lamunannya dan baru menyadari bahwa Rose sudah jauh di depan—bahkan Dominique sedang mengejarnya. James menghela nafas panjang, "Kenapa tiba-tiba dia seperti itu?"
Fred mengangkat kedua bahunya, "Entahlah. Apa karena aku suka mengejeknya dengan Malfoy?"
"Mungkin," Balas James. "Kalau begitu jangan diulangi lagi. Dia kelihatan sangat tidak nyaman sekarang jika kita mengejeknya dengan membawa-bawa Malfoy."
"Aku mengingatnya sekarang."
Fred dan James saling melempar pandangan sebelum akhirnya memandang Al bingung, "Kau bilang apa tadi?"
"Aku punya pertanyaan untuk diriku sedari tadi," Balas Al sambil mendahului James dan Fred, tapi tetap mengoceh. "Tapi, sekarang aku sudah tahu apa jawabannya."
"Memangnya apa jawabannya?"
"Scorpius Malfoy."
Scorpius memutuskan untuk membaca buku di ruang rekreasi. Pintu asrama terbuka dan dia melirik sekilas untuk melihat siapa yang baru masuk, ternyata adalah Al. Lelaki itu langsung menghempaskan tubuhnya di samping Scorpius layaknya teman akrab. Scorpius mencoba untuk tidak mempedulikannya.
"Sejak kapan kau membaca buku terbalik, Malfoy?"
Scorpius tersentak mendengarnya dan baru menyadari bahwa dia memegang buku secara terbalik. Scorpius mengumpat pelan sebelum akhirnya menyindir Al, "Kebiasaanmu itu mengintip kegiatan orang lain ya, Potter?"
Al mendecak pelan, "Lucu sekali. Untuk apa aku mengintipmu? Tidak ada kerjaan sama sekali."
"Kalau begitu berhentilah memperhatikanku." Balas Scorpius kesal. Dia segera bangun dari sofa untuk menghindari pertengkaran dengan Al. Biasanya dia akan meladeni, tapi kali ini dia benar-benar lelah.
"Kau pasti menyembunyikan sesuatu bersama Rose, bukan?"
Scorpius langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar Al menyebut nama Rose. Scorpius berbalik dan menemukan Al masih diposisi semula sambil memandangnya dengan raut wajah yang tak bisa Scorpius baca, "Kenapa kau bawa-bawa dia?"
"Rose jadi aneh gara-gara kau, tahu."
Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Scorpius menjawab, "Aku tidak melakukan apapun, Potter. Dan jangan ikut campur."
"Jangan ikut campur?" Al bangun dari duduknya. "Seenaknya kau bilang seperti itu. Dia sepupuku, sudah sewajarnya aku menjaganya."
Scorpius diam-diam menahan emosinya. Menjaganya? Batin Scorpius kesal. Yang ia lihat selama tiga tahun ini adalah bagaimana Al yang selalu mengekori Rose kemanapun dan menempel dengannya seakan-akan tidak membiarkan celah baginya atau yang lain untuk mendekatinya. Apa ia terkena sindrom dengan sepupunya sendiri? Apa namanya—ah, aku tidak peduli.
"Kau tidak perlu khawatir, Potter. Aku tidak melakukan hal berbahaya ataupun kejahatan lainnya. Atau hal-hal yang kau pikirkan sekarang." Scorpius mulai menyadari bahwa beberapa pasang mata tertarik dengan pertengkaran kecil mereka dan dia khawatir. Topik kali ini adalah Rose—ia tidak mau gadis itu kenapa-kenapa.
Al mendekatinya hingga satu jarak di antara dirinya dengan Scorpius, "Jika kau menyakitinya—tidak, jika kau mendekatinya, lihat saja akibatnya, Malfoy."
"Aku tidak peduli denganmu, Potter. Lakukan sesukamu." Dan aku tidak takut sama sekali, lanjut Scorpius dalam hati. Dia pergi meninggalkan Al yang masih mematung mendengarnya dan Scorpius tidak peduli. Karena apapun yang Al akan lakukan nanti, dia akan tetap teguh dengan pendiriannya; tidak menyerah.
Rose duduk di pinggir danau hitam setelah dua minggu lamanya tidak mengunjunginya lagi—karena Scorpius, tentu saja. Jadi, dia berdoa dalam hati semoga Scorpius tidak datang dan mengacaukan sorenya. Rose memejamkan kedua matanya ketika angin bertiup menyentuh kulitnya. Dingin, tapi menyejukan.
Tiba-tiba Rose tersentak ketika seseorang dengan cepat menaruh jaket disekujur tubuhnya. Rose ternganga saat menemukan Scorpius yang langsung duduk di sampingnya dengan santai layaknya tidak merasakan hal yang seperti Rose rasakan sekarang.
"Kenapa kau di sini, Malfoy?" Tanya Rose tanpa melepaskan jaket yang diberi Scorpius tadi. Dia juga tidak langsung kabur seperti biasanya. Dia—entah. Membiarkan dirinya menuruti kata hatinya untuk tinggal, mungkin.
"Menunggumu. Sudah dua minggu dan aku tidak menghasilkan apapun," Balas Scorpius sambil memandang gadis di sampingnya. "Dan sekarang sudah ada hasilnya."
Rose menghindari kontak mata dengan Scorpius. Dia melihat danau hitam seperti aktivitas sebelumnya dan mulai berceloteh, "Ini salah, Malfoy."
"Apa yang salah, Weasley?" Suara dingin itu seakan-akan menusuk dirinya sekarang—bertanya tentang kesalahan apa yang ia maksud karena dia tidak terima dengan kata salah yang baru Rose ucap tadi. Rose memberanikan diri menatap pasang mata abu-abu tersebut, "Kita yang salah."
"Kenapa kau bisa berpikiran kalau kita ini salah?" Balas Scorpius sambil menekankan kata kita. Scorpius terlihat tidak bisa menerima kata tersebut sama sekali.
Rose mengigit bibir bawahnya gugup sebelum akhirnya memandang ke rumput hijau yang ia duduki, "Merlin. Ini sangat-sangat salah. Seharusnya aku menghindarimu seperti biasanya, menjauhimu sebisa mungkin dan mendorongmu jauh-jauh dari garis kehidupanku. Bukannya membalas ciumanmu tempo hari dan bersikap gugup seperti sekarang ini, Malfoy. Kita berdua dari dulu salah. Kau masih tanya kenapa? Keluarga! Aku Weasley dan kau Malfoy, itu masalah utamanya."
Rose melepas jaketnya dan memberinya ke Scorpius asal. Tapi, dia terjungkal karena jaket yang dia lempar tadi masih ia genggam dan Scorpius menariknya pelan. Rose ingin sekali memaki tepat di wajah Scorpius saat ini, "Apa lagi?"
"Duduklah. Mari kita bicarakan ini dengan santai—"
"Aku tidak bisa santai saat ini, Malfoy! Jangan bercanda!"
"Duduklah, aku mohon." Rose berhenti berontak karena kaget mendengar Scorpius yang memohon serta raut wajahnya yang sudah putus asa. Ketika dirinya dituntun untuk duduk ke tempat semula, dia hanya mengikuti.
"Ayo kita coba."
Rose mengernyitkan dahinya, "Coba—apa?"
"Berpacaran. Setelah itu kita bisa memutuskan apakah semua yang kita lakukan benar atau tidak. Bagaimana?" Rose menatap Scorpius tak percaya, "Apa katamu? Berpacaran?"
"Ya," Balas Scorpius santai bukan main. "Kau tak mau, Weasley?"
Melihat reaksi Scorpius yang santainnya bukan main membuat Rose marah. Bagaimana bisa dia seenaknya seperti itu? Pasti dia sering memperlakukan gadis lain seperti ini. "Malfoy, kau sering melakukan ini bukan ke gadis lainnya jadi kau mengangap aku mudah untuk ditaklukan seperti mereka?"
"Akui saja, Weasley. Kau juga suka denganku, bukan?"
Rose mendecak pelan, "Hentikan sifat terlalu percaya dirimu itu—"
"Jadi, bagaimana? Kau mau atau tidak?"
"Aku—" Rose tidak bisa mengatakan apapun seakan-akan semua kata-kata yang ingin ia ucapkan tertahan ditenggorokannya. Terlebih lagi saat Scorpius mulai mengenggam tangannya, Rose semakin tidak tahu harus bereaksi apa. "—akan memikirkannya."
"Sayang, bangun. Sudah pagi." Suruh Ibunya—Ginny Potter yang membuat Lily terpaksa membuka kedua matanya dengan perlahan. Ia lihat ibunya sedang membereskan kamarnya yang sedikit berantakan dan membuat Lily menatap sang ibu bersalah, "Mum…"
Ginny berbalik dan menatap putrinya itu, "Ada apa, Lils?"
"Kamarnya berantakan karena aku bermain dengan Hugo kemarin. Dan Mum membereskannya sekarang. Aku saja yang membereskannya." Balas Lily sambil turun dari ranjangnya dan menarik lengan Ginny untuk menjauh dari tempat berantakan bekasnya bermain bersama Hugo.
"Sekarang Mum keluar saja. Aku akan membereskannya sekarang."
Ginny menatap Lily bangga sekaligus haru melihatnya, "Baiklah, Lils. Mum akan membantu Adena kalau begitu."
Lily mengangguk semangat dan mulai membereskan bekas mainannya. Oh—dia baru sadar kalau banyak sekali kertas di sini. Lalu, dia menepuk jidatnya pelan saat dia mengingat bahwa dia dan Hugo membuat kapal-kapalan. Dia memungutinya satu persatu dan membuangnya ke tong sampah. Lalu, dia melipat selimut biru kesayangannya dengan rapi. Dia menyapu lantai kamarnya dan kamarnya sudah bersih sekarang.
Dia keluar dari kamar dan berjalan dengan riang menuju ruang makan. Saat Lily baru masuk ke ruang makan, Harry memandangnya lembut, "Kesiangan, Lils?"
Lily duduk di samping Harry dan berhadapan dengan Ginny, "Tidak, Dad. Tadi aku membereskan kamarku dulu."
"Dia sudah besar kan, sayang?" Tanya Ginny dengan bangga yang membuat Lily cemberut. "Aku sudah besar, Mum. Sebentar lagi aku akan masuk Hogwarts."
Harry mengusap rambut merah Lily, "Ya, kau sudah besar, Lils."
"Adena?" Panggil Ginny pelan. Bunyi ledakan kecil terdengar dan Adena berdiri di belakang Ginny, "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Bisa kau ambilkan sarapan untuk Lily dan menemaninya sebentar? Aku ingin mengantar Harry." Balas Ginny yang disambut anggukan hormat oleh Adena. Tak lama kemudian Adena muncul kembali dengan membawa nampan berisikan sarapan untuk Lily dan memberinya, "Silahkan dimakan, Nona."
Lily menatap Adena dengan senyum lebar, "Terimakasih, Adena."
Lalu Adena menghilang yang disusul suara ledakan kecil. Harry bangkit dan mencium kening Lily, "Dad pergi dulu, Lils."
"Hati-hati, Dad!" Balas Lily semangat. Dia melambaikan tangannya dengan mulut yang penuh dengan roti panggang dan Harry menyambut hangat lambaiannya.
Scorpius dan Rose berjalan beriringan merupakan hal yang jarang sekali. Tentu saja. Para murid lebih terbiasa melihat kedua insan tersebut saling memaki satu sama lain, atau menyindir dan hal tak mengenakan lainnya. Dan sekarang? Mereka berdua hanya diam dan menghiraukan pandangan yang mereka dapatkan saat ini.
Rose memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, tanpa memandang Scorpius, dia mulai berbicara, "Sebaiknya kau pergi duluan."
"Kenapa?"
Rose berhenti, "Kau benar-benar tidak peka, ya? Bagaimana—"
"Oke, aku akan ke Aula Besar duluan," Potong Scorpius. Ketika tangannya ingin menggapai kepala Rose, Rose langsung menepisnya pelan. "Apa lagi sekarang?"
"Aku hanya ingin mengusap kepalamu, apa aku salah?"
"Salah," Balas Rose tanpa berpikir dua kali. "Pergilah sekarang."
Scorpius menghela nafas panjang, "Lebih baik kau duluan saja."
"Bisa-bisa di antara kita tidak akan ada yang masuk jika seperti ini terus," Scorpius mengangkat kedua bahunya dan membuat raut wajah lucu yang membuat Rose hampir tertawa. "Oke, aku akan masuk duluan."
Rose berjalan masuk ke dalam Aula Besar yang dimana para murid rata-rata sudah duduk di tempat mereka masing-masing sambil mengisi perut mereka yang kosong. Rose melihat para sepupunya dan langsung menghampiri mereka dengan cepat, "Hai, maaf soal aku yang pergi tanpa bilang apapun."
"Tidak apa-apa." Balas Dominique sambil meminum jus labunya. James yang di sampingnya juga mengangguk, "Benar apa kata Dom, tidak apa-apa. Kau baik-baik saja, kan?"
"Aku? Aku baik saja. Seperti biasanya." Kata Rose sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal sama sekali. Lalu, dia mengisi piring kosongnya dengan berbagai macam makanan dan melirik ke meja asrama Slytherin. Dia melihat Scorpius baru saja duduk dan juga sedang melihatnya. Buru-buru Rose mengalihkan pandangannya sebelum Scorpius menyadarinya.
"Dimana Al? Kenapa dia belum datang juga?"
Rose baru tersadar saat James menanyakan Al. Dirinya memperhatikan meja panjang Gryffindor, dan Al sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Dia meminum jus labunya, sebelum beberapa saat Al muncul tepat di hadapannya dengan raut wajah yang aneh. Rose menatapnya bingung, "Kenapa?"
"Al! Kemana saja kau?"
Al duduk di depan Rose, dan tanpa sengaja menghalangi pandangan antara dirinya dengan Scorpius. Rose berusaha untuk menyembunyikan rasa kecewanya dengan seteguk jus labu lagi.
"Rose,"
"Hm."
"Aku dengar Malfoy sudah punya pacar," Rose hampir tersedak karenanya. "Aku baru mendengarnya tadi saat mau masuk. Karena itu, jauhi dia."
Rose tertawa kaku, "Sejak kapan aku dekat dengannya? Jangan mengada-ada. Dia punya pacar atau tidak, itu juga bukan urusanku."
"Benar sekali." Balas Al sambil mengunyah makanannya. Diam-diam Rose menghela nafas sepelan mungkin agar tidak ada yang menyadarinya.
Dan pada saat itu, dia melihat Scorpius yang berubah posisi tempat duduk—dimana di serong kanan Rose dan sedang menatapnya dari jauh. Rose menahan senyumnya, sebelum akhirnya menunduk karena takut senyum lebarnya terlihat.
Jadwal pagi kelas Rose hari ini adalah kelas Ramuan yang diajarkan oleh Professor Slughorn. Pelajaran kesukaannya, tetapi tidak dengan gurunya, walaupun Professor Slughorn selalu memberikan perhatian lebih ke anak-anak pintar seperti dirinya, tetap saja dia tidak suka.
Saat Rose menguap lebar, dia langsung menutupnya dengan telapak tangannya, dan langsung berhenti tepat ketika Scorpius dengan gengnya muncul dari arah berlawanan. Dia berdecak dalam hati—dia baru mengingat jika kelas pagi ini bersama dengan anak Slytherin.
Rose memutuskan untuk mengambil beberapa langkah ke belakang agar tidak masuk secara bersamaan dengan geng Scorpius. Dan Scorpius, mengikuti hal yang sama. Alhasil, mereka berdua bersampingan sekarang.
"Masih mengantuk, Weasley?" Tanyanya yang cukup membuat jantung Rose berdebar tak karuan. Rasanya dia ingin memaki diri sendiri berkali-kali. "Um, ya. Tadi malam tidak bisa tidur nyenyak."
"Memangnya kenapa?"
"Ginger dan Jasmine—seperti biasa. Berdebat, dan tidak ada yang mengalah. Sangat berisik." Kata Rose. Dua teman terbaiknya itu memang selalu seperti itu. Jadi, dia atau Penelope harus melerainya, jika tidak, akan terus berlanjut. Scorpius prihatin mendengarnya, "Lebih baik kau tidak usah pedulikan mereka. Lihat kantung matamu."
"Aku baik-baik saja," Balasnya. Rose menunjuk kantung matanya. "Lagipula, kantung mataku sudah seperti ini sedari dulu."
"Tidak. Dulu tidak seperti itu."
Mereka berdua membeku saat mendengar suara batuk yang berasal dari belakang mereka. Keduanya berbalik secara perlahan-lahan bersama, dan menemukan Al yang masih dengan rambut kusutnya—dia memandang heran Rose dan Scorpius yang tingkahnya sangat tidak biasa.
"Kalian sedang apa?"
Rose menoleh ke Scorpius, sebelum akhirnya mengambil alih. "Masuk kelas. Hari ini kita sekelas, bukan?"
"Ya," Balasnya. Al memandang Scorpius dari atas ke bawah, "Tapi, bersamanya—?"
"Kenapa kau sensitif sekali akhir-akhir ini, Potter?" Rose memberi tatapan tajam ke Scorpius. "Maaf, aku lupa. Kau selalu sensitif setiap saat."
"Jaga omonganmu, Malfoy."
"Apa yang kalian bertiga lakukan di depan pintu? Masuk sekarang!"
Mereka bertiga tersentak, lalu masuk ke dalam kelas tanpa basa basi. Rose langsung duduk di barisan kedua, dan Scorpius tiba-tiba juga ikut duduk di sampingnya yang membuatnya kaget. Lalu, Al duduk di samping kanannya. Rose menatap mereka berdua secara bergantian, "Kenapa kalian memilih tempat duduk di sini?"
"Aku selalu duduk bersamamu jika kelas kita digabung. Tapi, dia—"
"Jangan seperti itu, Potter. Aku payah di pelajaran ini, jadi aku duduk di sampingnya agar bisa bertanya."
"Tapi, kau bisa menanyakan pertanyaanmu langsung ke Professor Slughorn, Malfoy."
Rose mulai risih dengan perdebatan antara Al dan Scorpius, "Hentikan. Kita akan terkena omel Professor Slughorn lagi."
Al berdecak pelan, "Kau terlalu baik padanya, Rosie."
"Tentu saja dia baik kepadaku." Rose melotot ke arah Scorpius yang masih memasang tampang tak bersalah. Professor Slughorn mulai berdiri dari kursi kesayangannya.
"Selamat pagi, anak-anak."
"Selamat pagi, Professor." Jawab mereka semua kompak.
Professor Slughorn berjalan, dan berdiri di tengah-tengah, "Baiklah, anak-anak. Hari ini kalian akan membuat ramuan Penggelitik yang termasuk sulit. Jadi, aku ingin kalian membuat kelompok."
Kelas langsung ricuh. Ada yang berteriak senang, dan juga bergumam sedih. Rose menutup wajahnya dengan telapak tangannya tanda ia frustasi. Dia tidak masalah dengan tugas kali ini, tetapi memikirkan kelompok selalu membuatnya pusing bukan main."
"Ayo, kita bertiga satu kelompok," Saut Scorpius enteng. Rasanya Rose ingin menjitak jidat kekasihnya itu. "Kapan lagi—Potter, Weasley, dan Malfoy bersama-sama seperti ini, bukan?"
BERSAMBUNG
Youngie : Yaampun. Aku baca komen kamu rasanya campur aduk. Pembaca lama yang bikin aku nggak nyangka klo msh ada yg suka nunggu ff abal ini. Tenang yah.. Aku bener-bener selesain kok, biar tenang juga :')
Flower : Hehe kalo setiap hari gabisa akuuu. Aku usahain seminggu sekali yah. Hehe pantengin trs okok?!
Quin : Siappp!
Pembaca yang baik adalah mereka yang meninggalkan jejak. Sampai berjumpa di chapter selanjutnya!
