100 Days

Taeyong x Mark

Two


Setelah beberapa lama beradaptasi dengan fisik barunya, Mark melangkah hendak pulang ke rumah. Tapi, langkahnya terhenti.

"Sial! Aku lupa bertanya rumah Mark ke Jin!" Dia menepuk jidatnya.

Mark menggigit bibirnya cemas. Dia benar-benar bingung harus ke mana sekarang. Tidak mungkin dia mencari Jin, karena jin itu tidak mau dicari. Dia juga tidak mau jika harus tidur di sini. Kau pikir tidur di tengah padang rumput tanpa sesuatu yang bisa menghangatkan badan itu enak? Tidak!

Mark memutar otaknya, mencari cara lain. Tapi, otaknya berjalan dengan lambat. Padahal, di raganya yang semula, otaknya tidak berjalan dengan lambat seperti saat ini. Ternyata, Mark cukup bodoh, pikirnya.

Menemukan jalan yang buntu, Mark pun mendesah kecewa. Badannya jatuh terduduk. Tangannya memainkan rumput hijau.

"Ikuti saja alurnya."

Sontak, Mark mendongak. Matanya melebar, seolah-olah baru saja mendapat jawaban. Ikuti alurnya.. Mungkinkah?

Mark tiba-tiba bangkit, lalu bertepuk sekali dengan semangat. "Ini dia! Alur! Aku hanya perlu bersikap seperti saat aku masih menjadi perempuan."

Dia terdiam beberapa saat. Wajahnya tampak aneh. "Kalau begini, rasanya lebih seperti bercermin."

"Ah, sudahlah!" Dia melangkah, pulang ke rumahnya di raga lamanya.

Di perjalanan, Mark mengerahkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada yang berbeda. Apa ini benar masa depan? Dia pikir, dia akan terlempar ke masa depan ke belasan tahun kemudian. Tapi, tampaknya ini hanya selang beberapa tahun. Entahlah, mungkin tidak kurang dari tiga tahun. Yang berarti, Minhyung masih ada. Dia harap, dia tidak harus bertemu dengan raganya. Akan terasa aneh dan canggung. Tapi, apakah Mark asli sadar kalau raganya telah tertukar dengan seorang gadis yang mengharapkan perhatian dari 'mantan'nya? Mungkin iya. Mungkin juga tidak.

Serahkan saja semuanya kepada jin aneh itu.

Oh, iya. Ke mana perginya jin itu? Dia benar-benar menghilang dan tidak minta dicari, tampaknya. Wow. Mark harus melakukan semuanya sendirian? Bahkan beradaptasi dengan tubuh laki-laki ini? Ya, Tuhan!

Mark menatap pagar rumahnya. Sedikit ragu. Rumahnya sama sekali tidak ada yang berubah. Selama beberapa menit, Mark bertanya-tanya. Siapa yang ada di dalam? Keluarga Jung, atau keluarga Lee? Kalau itu adalah keluarga Jung, apakah Minhyung ada di dalam? Kalau itu adalah keluarga Lee, sanggupkah dia bersikap normal, seakan tidak ada yang terjadi?

Mark mengacak-acak rambutnya frustasi. Kepalanya pusing memikirkan semuanya. Kini, dia menyesali pilihannya. Seharusnya, dia menolak tawaran Jin dan memutuskan Taeyong dengan mudah, lalu mencari laki-laki baru. Selesai.

Dengan kesal, Mark membalikkan badannya, hendak pergi dari sana. Mungkin, dia akan tidur di pinggir jalan, karena dia tidak membawa apapun untuk membayar motel untuk satu malam. Mungkin juga, dia harus mencari pekerjaan sampingan esoknya.

"Hyung, ngapain berdiri di situ? Tidak masuk?"

Atau, tidak.

Sontak, Mark menoleh ke kanan. Sekitar satu meter jaraknya, berdiri seorang remaja laki-laki, menatapnya bingung. Alisnya sedikit terangkat. Di tangannya, tergantung sekantong plastik belanjaan.

Siapa dia?

Tiba-tiba, orang itu berjalan ke arah Mark, membuat Mark mundur beberapa langkah. Orang itu menatap Mark semakin bingung. Tapi, kemudian, dengan sikap cueknya, dia membuka pagar rumah.

"Kau kenapa, hyung? Acara tadi berjalan lancar? Masuklah saja! Jangan bengong saja di situ. Kau membuatku takut, hyung!"

Mark tersentak. Dia lalu berjalan mengikuti orang itu masuk ke dalam rumahnya.

Ini benar-benar rumahnya. Tidak jauh berbeda. Tapi, bagaimana bisa? Apakah keluarga Jung sudah pindah? Sejak kapan?

"Hyung!"

Mark terlonjak kaget. "Oh, sial!" bisiknya.

Dia menoleh ke arah yang memanggilnya. Orang tadi menatapnya aneh. Apa ada yang salah dengan dirinya?

"Kamu aneh, hyung! Kenapa kamu menatap rumahmu seperti baru pertama kali datang ke sini? Acara tadi kacau, ya? Kamu minum sesuatu yang aneh, ya? Kamu sakit?" tanya orang itu bertubi-tubi. Tangan kanannya bergerak memegang kening Mark.

"Tidak panas, kok. Lalu, kamu ini kenapa?" Orang itu menurunkan tangannya. Dahinya berkerut, tampak berpikir keras.

Selama beberapa lama, Mark diam, terkejut. Wajahnya memerah. Jantungnya berdebar-debar. Si tampan itu baru saja menyentuhnya. Mark tersenyum malu.

Sebenarnya, siapa laki-laki di depannya? Kenapa dia memanggilnya hyung? Teman Mark, atau adik Mark?

Ketika dia sedang mengagumi pemandangan di depannya yang rasanya sayang untuk dilewatkan, tiba-tiba sebuah suara yang lebih terdengar seperti teriakan menginterupsi kegiatannya.

"Jeno-ya! Mark-a! Kalian sudah pulang? Bantu Ibu memasak makan malam! Ibu harus mandi!"

"Ah, iya, Bu! Tunggu sebentar! Aku akan ke sana!"

Orang itu mengambil kantong plastik belanjaannya, lalu menatap Mark tersenyum jahil. "Jangan datang ke dapur. Aku sudah tau kau akan menghancurkan makan malam, hyung."

Mark membelalakkan matanya. Apa yang baru saja ia katakan? Mark tidak bisa memasak?

Dia menahan tawanya. Lalu, mendudukkan pantatnya di sofa di dekatnya. Benar-benar tidak jauh berbeda dengan rumahnya yang dulu. Rasanya, dia benar-benar tidak asing dengan rumah ini. Apakah kamar Mark berada di kamar Minhyung?

Penasaran, dia pun bangkit ke kamarnya di lantai dua. Di sepanjang dinding tangga, terpasang beberapa foto keluarga Lee. Langkah Mark terhenti di depan sebuah bingkai foto yang agak besar. Ditatapnya foto itu dengan seksama.

Keluarga Lee.

Ada seorang pria paruh baya dan wanita paruh baya duduk dengan sopan di sebuah sofa, menatap ke arah kamera sambil tersenyum sopan. Di samping wanita itu, berdiri orang tadi tersenyum dengan matanya hampir tidak terlihat. Manis dan tampan. Siapa namanya? Jeno?

Mata Mark beralih ke orang di samping pria paruh baya. Sedetik kemudian, matanya membelalak lebar. Ini Mark Lee? Wajahnya mirip sekali dengan wajahku! Apa-apaan ini? Tidak mungkin kebetulan, kan?

Untuk beberapa lama, dia terdiam, mencoba mencerna semua 'kebetulan' ini. Dia rasa, ini tidak mungkin kebetulan. Wajahnya saat masih menjadi Jung Minhyung benar-benar mirip dengan wajah orang yang sedaritadi dia tatap. Dan, lagi, rumah keluarga Lee adalah rumah keluarganya. Dia sungguh tak bisa percaya itu. Dopleganger? Kembarannya? Atau, bayangan cerminnya? Ah, entahlah! Dia bingung. Apakah Mark Lee yang sebenarnya juga mengenal Lee Taeyong? Ia harap, untuk hal ini, tidak ada kebetulan yang sama lagi.

Semuanya sudah diatur Kim Seokjin. Kamu hanya perlu mengikutinya, Minhyung!

Batinnya berkata demikian. Dia tersenyum simpul, melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti ke kamarnya. Di depan pintu kamarnya, dia berhenti. Kepalanya menunduk sedikit. Dia agak ragu. Bagaimana kalau ini bukan kamar Mark? Bagaimana kalau ini adalah kamar Jeno, atau kamar orang lain? Ah, tapi rasanya tidak mungkin. Pasti ini adalah kamar Mark, mengingat sepertinya Mark adalah sisi lain dari Minhyung yang hidup di dunia lain, masa depan.

Pasti!

Dengan yakin, dia membuka pintu kamar setelah menarik napas dalam-dalam. Lalu, masuk ke dalam. Tampaknya, ini memang kamar Mark. Kakinya berputar mendekati meja belajar. Mejanya tertata lumayan rapi. Baguslah. Tampaknya, dia tidak bertukar raga dengan seorang yang bodoh dan eum.. menjijikkan?

Tak sengaja, matanya menangkap sebuah foto yang terselip di antara buku tulis yang tergeletak dengan posisi agak terbuka. Penasaran, dia mengambil foto itu. Seperti foto polaroid. Di sana, berdiri Mark di samping Jeno yang sedang dipeluk manja oleh lelaki lain, entah siapa. Mereka bertiga tersenyum bahagia ke arah kamera.

"Aku versi laki-laki ganteng juga, ternyata." gumamnya menyombongkan dirinya, tersenyum angkuh.

Setidaknya, jin itu sedikit baik hati, karena menyesuaikan kehidupan Mark dengan kehidupannya sendiri. Walaupun jin itu meninggalkannya seorang diri di tengah kebingungan. Dia masih bisa memakluminya.

Toh, dia yakin, Jin pasti sedang mengawasinya.

"Ah, rupanya kau di sini, hyung!"

Mark menoleh ke arah pintu. Jeno, orang tadi, berjalan ke samping Mark. Setelah tau yang dipegang Mark, dia tersenyum.

"Dia manis, bukan?"

"Siapa?"

Telunjuk Jeno menunjuk orang yang memeluknya di foto itu. "Jaemin."

Alis Mark sedikit terangkat. Akhirnya, dia mengetahui nama bocah manis itu.

"Bagaimana foto ini bisa ada di sini?"

Jeno mengerutkan dahinya dan menatap kakaknya bingung. "Kamu sendiri yang merebutnya dariku semalam! Bahkan, terang-terangan bilang kalau kamu menyukai wajah Jaemin dan ingin terus menatapnya sebelum tidur! Aku agak menyesal telah mengenalkannya padamu dan mengajak berfoto bertiga! Dia itu milikku, tau! Aku tau kami hanya sahabat sejak kecil. Tapi-"

Jeno mengambil napas. Tenggorokannya agak kering karena dia berbicara tanpa spasi. Sementara itu, Mark diam menatap Jeno, mendengarkannya.

Jeno menghela napas. Dia jadi agak gugup. Dia memalingkan wajahnya menghindari tatapan menginterogasi kakaknya.

"Makan malam sebentar lagi siap. Turunlah!" pintanya sebelum beranjak pergi dari kamar Mark dengan agak tergesa.

"Iya!"

Setelah Jeno menghilang di balik pintu, Mark menoleh mencari jam dinding. Masih pukul 6 sore. Kenapa sudah waktunya makan malam?

Mark mengedikkan bahunya. Berpikir, mungkin keluarga Lee memang terbiasa makan malam lebih awal. Dia pun menaruh foto polaroid itu dan beranjak turun ke ruang makan.


Mark mematung gugup. Di depannya, berdiri adiknya sedang mengamati pakaiannya. Mark bingung. Begitu dia keluar dari kamar, sudah ada Jeno menunggunya dan langsung mencegatnya pergi. Ingin mengamati pakaiannya dulu, katanya.

"Apa ada yang aneh?" tanya Mark cemas. Jeno tidak berhenti mengamatinya, membuatnya khawatir telah berbuat kesalahan.

Jeno menatap Mark tersenyum puas. "Tidak ada! Kita bisa berangkat sekarang, hyung!" Dia melangkah mendahului Mark.

Mark terdiam sesaat, lalu berjalan menyusul sang 'adik'. Jantungnya tidak berhenti berdebar-debar. Hari ini adalah hari pertama dia berkuliah. Dia tau karena saat makan malam kemarin, orang tuanya dan Jeno membahas itu.

Sialnya lagi, tempatnya berkuliah adalah tempat 'mantan'nya kuliah. Benar-benar sudah diatur dengan sangat rapi oleh Jin. Diam-diam, dia merasa bersyukur, namun juga agak takut. Takut dia tidak bisa menjalani semuanya seorang diri, apalagi bukan sebagai Jung Minhyung. Dia tidak tau apa-apa tentang Mark Lee. Yang dia ketahui hanyalah Mark Lee adalah versi laki-lakinya.

Tiba-tiba, sebuah kepala menyembul dari tangga, mengejutkan Mark dari lamunannya. "Hyung, ayo! Kita bisa telat!"

"Ah, iya!"

Tergopoh-gopoh, Mark menuruni tangga menyusul Jeno.

Biarlah. Masalah menjalani semuanya sebagai Mark Lee akan diurusnya belakangan. Sekarang, dia cukup mengikuti dan menikmati alurnya, seperti kata Jin.


Mark berjalan dengan bingung ke kantin kampus. Kampus ini benar-benar luas. Hampir saja dia tersesat kalau tidak melihat penanda jalan. Bahkan, kantin kampus ramai sekali. Matanya bergerak liar mencari makanan yang akan dia makan. Tapi, sayangnya, semua makanan yang ada di sana tidak menggairahkan menurutnya. Dia memutuskan untuk pergi dari kantin ke perpustakaan. Di sana sudah pasti tenang dan damai, ketimbang di sini.

Tapi, belum sempat dia ke luar kantin, sekumpulan orang mengerubunginya. Tentu saja dia bingung. Dia bahkan belum mulai mencari teman, tapi apa ini?

"Aku mau pergi. Permisi!" Mark menundukkan kepalanya berusaha menerobos orang-orang aneh itu.

Bahunya diremas oleh salah seorang, membuat Mark sedikit tersentak dan meringis. "Hei, hei! Mau ke mana? Kabur? Pengecut!"

Mark mengernyitkan dahinya tidak suka. Tidak sopan dan kasar, batinnya miris.

Tidak dijawab, orang itu meremas bahu Mark semakin kuat, membuat Mark kesakitan. Tangannya bergerak mencoba meloloskan bahunya dari tangan orang itu. Tapi, tenaga orang itu lebih kuat darinya.

"Kamu yang menantang kami lebih dulu dua hari yang lalu. Katamu, kita akan bertemu di sini menyelesaikan masalahnya baik-baik. Tapi, tampaknya kamu sudah lupa, ya?"

Merasa ditantang, Mark tertawa kecut. Dia mengangkat wajahnya menatap orang di depannya. "Lupa? Mungkin. Memangnya kita ada masalah apa?"

Orang di depannya tampak terkejut, tidak menyangka akan dibalas seperti itu. Perlahan, tangannya menurun dari bahu Mark. Salah satu ujung bibir Mark terangkat, membuat sebuah seringai.

"Kalau tidak ada perlu lain, saya permisi!" katanya kasar. Matanya menatap satu persatu orang-orang aneh di depannya. Tapi, begitu melihat salah satunya, dia berhenti.

Jantungnya serasa berhenti berdetak. Waktu di sekitarnya juga serasa ikut berhenti. Sementara matanya tidak mau lepas dari orang itu. Dia tidak asing di mata Mark. Bahkan, tidak mungkin Mark melupakannya. Orang itu telah memberi luka yang sangat besar di hatinya, bagaimana bisa dia melupakannya?

Dia ingin berkata-kata, tapi tidak bisa. Tenggorokannya tercekat dan lidahnya kelu. Pikirannya tiba-tiba melayang entah ke mana. Yang pasti, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Badannya membeku.

Padahal, orang itu balas menatap tajam.

"Hei, bocah!"

Mark tersentak kaget. Dia menoleh ke sumber suara. Beruntung akhirnya pandangannya terputuskan. "E-eh. Iya?"

Orang itu mendengus sebal. "Kali ini, kamu akan kami bebaskan. Tapi, hanya kali ini. Jangan harap lain kali kamu bisa lolos dari kami! Oh, iya. Namamu siapa?"

"A-ah. Namaku Ju- ah, Mark Lee!" jawabnya gugup.

Orang itu manggut-manggut. Mark kembali menoleh, menatap orang tadi. Orang tadi masih menatapnya tajam, seolah-olah mengenalinya. Mark dibuatnya ketakutan. Dengan segera, dia membungkuk penuh hormat dan berjalan melalui sekumpulan orang itu.

"Jangan kau kira kau bisa lolos dariku. Kamu mungkin lolos dari mereka, tapi tidak denganku." bisik orang aneh itu mengancam Mark ketika Mark melaluinya.

- to be continued -


helluu! kembali lagi dengan saya ehehe :D

sebelumnya, izinkan aku mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk keantusiasan kalian :")

oiya, bagi yang belum tau siapa saya, perkenalkan saya adalah manusia! /ditampar limitless/ ehe gadeng. saya adalah istri mark /shy/ dan taemark hardcore shipper.

owkay i know right, aku salah. harusnya aku memperkenalkan diri di chptr 1 ya :" kmrn lupa banget maap:( lebih baik telat daripada engga sama sekali ya kan? :'v

and i'm so sorry (again) kalo ada yg typo atau tdk sesuai kalimatnya. aku ga double check dan males ngedouble check :'v

okee segini duluu! see you next chapter /cium satu2/