Yami atau Yugi

Yu-Gi-Oh © Takahasi Kazuki

Yami atau Yugi ® Al Landers


002 Ushio hadir

Pelajaran hari ini terasa amatlah membosankan. Bagaimana tidak membosankan, apalagi bila kalian duduk di depan dengan hujan lokal gratis dari gurumu tercinta yang menerangkan pelajaran dengan menggebu-gebu. Sudah bukan rahasia umum kalau bangku depan adalah bangku keramat pengantar DO paling unggul seantero SMA Domino Plus. Sedangkan di lain tempat teman-temanmu telah sukses terlelap berlindung pada punggungmu yang berusaha tegap di depan gurumu yang siap menendangmu 12/6 keluar dari sekolah. Itulah apa yang dirasakan Atem dan ketiga orang lain di sampingnya kecuali untuk Yugi. Ia mendengarkan guru dengan baik dengan sedikit terkantuk-kantuk.

Mungkin saja kalau pelajaran hari ini ada pelajaran lainnya Atem akan bersemangat mempelajari apa yang dibutuhkan semi mengungguli yang lainnya.

Namun sial, pelajaran hari ini dipenuhi oleh pelajaran yang benar-benar ia benci, apalagi pelajaran sejarah, musik, dan seni rupa. Pelajaran otak kanan yang membuatnya berputar tujuh keliling ini adalah kutukan bagi Atem yang senang olahraga di luar dan menghafal dan menganalisis apa yang ia ketahui di dalam pelajaran. Tak usah tanya aibnya apa, takkan ia beritahu. Padahal nih kalau mau ngesok dia bisa memperlihatkan nilai pelajaran lain yang dihiasi huruf A* bukan hanya sembarang A.

Tapi entah mengapa hari ini sangat-sangat membosankan... .

"Anak-anak, besok Kalian Saya tugaskan menggambar kecebong-kecebong eksotis ini dan dikumpulkan besok. Bagi yang tidak punya... Kasihan de Lo!"

Atem cuma bisa pasrah melihat kelakuan ababil gurunya. Mereka secara jujur tidak mengerti bagaimana sekolah yang dianggap paling elit ini menerima guru-guru baru secara mudah atau karena minimnya calon guru berminat mengajar di sekolah ini. Kalau tidak, sejak kapan gurunya menjadi begitu alay, sampai-sampai kecebong hitam itu dia anggap eksotis. Sedangkan Yugi sedang asik menggambar kecebong berotot yang tak tahu bagaimana caranya si kecebong bisa berotot. Mungkin hanya Yugi dan Ra di atas sana yang mengerti otot-otot atletis itu ditaruh di bagian mana si kecebong.

/KRIIIIIIIIIIING/

'Oh My God! Bel dari surga sudah datang.' Atem mengejek dalam hati ketika hampir setengah dari kelas bersorak gembira.

"Kalian mau pergi ke mana sekarang?" Yugi tersenyum simpul sambil menunggu teman-teman barunya yang masih tampak lelas setelah begitu banyak pelajaran di hari pertama sekolah mereka di SMA. Bahkan sepertinya sekolah ini tidak mempedulikan ospek yang seharusnya ada sebelum pelajaran. Mungkin karena tidak banyak perubahan pada muka murid-muridnya.

"Biasa di kantin di mana para murid bertarung satu sama lain demi mempertahankan roti yang akan mereka beli dan makan untuk melanjutkan hari-harinya!" Joey berdiri di atas meja dengan aura berkobar-kobar seolah tengah menempuh perang yang berkepanjangan.

"Lebe amat Lo Joey... ." Tristan menyahuti betapa semangat Joey membeli roti melon favorit yang selalu dimakannya setiap hari.

"Biarin! Yang penting Gue dapat roti yang Gue incer hari ini! Atem hari ini Lo mau perang lagi nggak?" Si Joey menatap Atem yang menenteng bekal makan siangnya.

"Hari ini Gue dapet makan siang dari Nyokap pemberian Yugi." Atem tersenyum ciri khasnya. Ia tak perlu lagi berebut roti karena bokapnya dengan malas mengantar tanpa memberinya makan siang. Katanya itulah perjuangan dari seorang murid. Bisa mendapat roti yang ia incar di kantin sekolah.

"Yug... , Gue minta juga dong besok. Berapa pun harganya Gue bayar." Joey memelas menatap Yugi berharap ia juga bisa mendapatkan makan siang tanpa harus bersusah payah dan mengantuk di jam pelajaran berikutnya. Sebenarnya sih tak mengapa karena kursi miliknya berada beberapa bangku di kursi depan. Namun ia ingin mengimbangi nilainya yang makin lama makin buruk ketika di SMP.

"Gue juga Yug."

"Aku usahain deh." Yugi tersenyum pada semuanya. "Lagipula aku kan mau main game terbaru, jadi suka agak-agak lupa nanyain."

/BRUUUK/

"REBECCA!" Yugi sedikit berteriak karena ia tak sengaja menabrak atau mungkin saja Rebecca sengaja menabrak Yugi untuk mendapat perhatiannya. Benar saja Yugi langsung menggendong Rebecca dan berlari menuju klinik untuk bertanya pada sang dokter perihal Rebecca. Sedangkan Tea dan Atem hanya dapat melihat Yugi yang menjauh dari pandangan.

"Ada yang iri euy!" Joey menyanyikan ucapannya pada Tea yang hanya dapat memandang dari jauh. Dia tahu kalau Rebecca sengaja menabrakkan diri pada Yugi yang baik. Atem pun sebenarnya iri karena ketika kecil ia pun pernah diangkat Yugi lalu dibawa lari ke puskesmas terdekat ketika tak sengaja jatuh dari pohon. Ia kira hanya ia yang boleh mendapatkan hal yang serupa.

"Hust nanti pada berantem." Tristan menutup perkataan Joey. Ia tak mau melihat Rebecca dan Tea berantem karena masalah sepele apalagi Atem. Apalagi sekarang kedua orang itu sedang merebutkan status sebagai pacar dari Yugi yang polos.

"Jadi nggak ada yang salah dengan si boncel ini kan Yugi?" Tea mencibir melihat Yugi kembali.

"Tidak. Untunglah er... Rebecca ... ." Sebelum Yugi selesai berbicara sudah dihadang oleh perkataan Rebecca yang ingin menakali Tea.

"Kan Yugi baik mau menemani aku beda sama cowok di sana. Masa Gue sakit aja masih ditanya." Rebecca tersenyum puas melihat wajah Tea yang cemberut. Mereka tak tahu sejak kapan menjadi musuh. Apa mereka memang ditakdirkan menjadi kucing dan anjing pun hanya RA disana yang maha tau akan semuanya.

/BRUUUUUK/

Lagi-lagi Yugi tak sengaja menabrak anak paling berandal yang juga keluar dari SMP Tokyo yang terkenal dengan keberangasannya. Tak percaya, kalau orang yang pernah ia temui di SMP diterima di sini. Menurut desas-desus Ushio adalah namanya dan orang yang berhasil mengalahkan dan memerintah dirinya hanya ada satu orang. Yami. Oleh sebab itu semua orang berlomba-lomba berteman dengan Yugi yang merupakan satu-satunya teman yang diakui Yami selama hidupnya ketika ia di Tokyo.

"AW bocah lihat kemana Elo berjalan." Ushio menatap tajam Yugi. "Yugi kemana Yami Lo? Apa Lo berpindah ke kepala ayam item yang mirip dengannya?" Ia berusaha menahan tawa. Sedangkan Atem hanya tertawa terpaksa karena dianggap kepala ayam item.

'Ni orang minta berantem banget.' Atem hanya terdiam menatap Ushio yang memanggilnya kepala ayam hitam.

Di lain pihak, Joey yang tidak terima idolanya dianggap kepala ayam ingin membalas, namun sayang Tristan menghalagi.

"Hahaha... ." Yugi hanya dapat tertawa tidak tahu mau mengatakan apa ketika mendengarnya. 'Mau apa lagi sih Dia?'

Namun keheningan tercipta, sehingga Yugi sengaja memulai percakapan dengan membenarkan fakta yang salah tangkap. "Nggak kok. Namanya Atem, Ushio. Yami masih banyak urusan jadi belum bisa ke sekolah. Katanya dia akan tiba sebentar lagi."

"Aku pegang ucapanmu Yugi!" Ushio berkata sambil menunjuk Yugi. "Kalau mereka berbuat nakal padamu. Ingat saja Gue akan ada buat Lo sebagai bodyguard Lo yang amat terpercaya." Ushio tersenyum licik lalu pergi dari tempat mereka berdiri.

"Ushio! Suatu hari nanti Gue akan menendang bokongmu yang tidak keren itu!" Joey berteriak sekencangnya namun tampak Ushio sudah pergi entah ke mana.

"Benar dan kubuat dia tidak bisa memanggilku kepala ayam hitam lagi!" Atem ikutan membalas.

"Dan membuatnya menjauh dari Yugi." Rebecca benar-benar benci anak lulusan Tokyo yang menelurkan banyak brandalan jalanan. Bagaimana mereka bisa diterima di sini dengan mudah. Tentunya pengecualian bagi Yugi yang baru pindah dari Tokyo.

"Ya sudah ayo kita makan saja." Yugi mengajak yang lain pergi ke kantin. Namun sebentar ia terdiam lalu berjalan lagi. "Kalian nonton penampilan Yami yang mengalahkan Seto di game Duel Monster lagi?"

"Elo nonton juga Yug! Keren juga Lo! Gue duluan ke kantin ya, Gue nanti kehabisan roti dan kelaperan sampai pulang!" Joey dan Tristan berlari untuk mendapat jatah mereka di kantin sebelum seseorang berhasil merebutnya dari mereka. Sedangkan Yugi, Atem, Tea dan Rebecca duduk di banku kantin dan mulai makan jatah makan siang mereka. Tambahan Rebecca memakan jatah Yugi sebenarnya dan Atem memberi sedikit jatanya pada Yugi dan Tea hanya memandangi mereka sambil tersenyum.

tbc


Hi! Akhirnya chapter 2 launching juga. Cerita juga belum sampai di titik puncak yang tepat tetapi sudah termasuk sampai di bagian penting pertama karena sudah bertemu dengan Ushio si berandal. Berarti rahasia si Yugi siap diungkit chapter depan.

Yugi: Hahahaha... Ok2 mari kita bahas saja reviewnya dari kalian semua xD lebih asik di dalam fic ya~

Yami: Yap

Al: ok yang pertama dari Gia-XY, aku juga masih bingung mau dibawa dan Yuginya yang kemungkinan OOC bakal tambah banyak di kemudian chapter.

Yami: Jangan ah...

Al: er kalimat apa ya? Oh ya maksudnya seperti ini Papanya Yugi itu adalah Papanya Atem dan Mamanya Yugi adalah Mamanya Atem. Ceritanya mereka cerai. Makanya Yugi menerima pesan dari papanya bukan dari Suugoroku. Maaf kalimatnya sedikit ambigu. Dan thanks buat pembetulan! Sudah kubetulkan loh~. Thanks banget abisnya entah kenapa suka pake bahasa gaul sekarang :3 Ok! Sudah diupdate nih~

Yugi: Yang kedua dari EstrelaNamikaze thanks banget reviewnya, oh soal itu masih rahasia RA dan author Al ^_^ bener atau tidaknya dibuktikan di chapter berikutnya. Maaf ya agak lama, author baru selesai ujian ~

Yami: Yang ketiga dari Yinny 'Willy-Chan' Chawade terima kasih reviewnya. Karena itu auth tulis dia kemungkinan OOC tinggi, maafkan ia. Sebenarnya aku sebagai aibounya juga merasa risih akan sifat Yugi. Tapi mau gimana lagi, aku cuma karakter. Sudah diupdate nih~

Al: Terakhir dari zaky uzumo Makasih reviewnya ya~ ini juga sudah usaha eyd tapi mau gimana lagi beberapa bahasa gaulnya membuat garis merah #cry aloud ini sudah diusahakan update ^_^

Dan thanks lagi buat semua yang sudah mereview, jadi tambah semangat lanjutin karena adanya kalian. Sampai berjumpa di chapter 3. Ada kritik dan saran?