"Hyung gwenchana?" Jisung bertanya dengan raut khawatir, segera menyodorkan tisu kepada Taeyong.

"Hyung tidak apa-apa Jisung, uhukk...uhukk" Taeyong menundukkan kepala dengan masih terbatuk-batuk. Taeyong merasa badannya merinding, dan wajahnya panas. Ia menyahut tisu dari adiknya dan mengelap sudut bibirnya. Ia tidak sadar jika sepasang sepatu telah berada tepat di depannya.

"Taeyong hyung?"

Taeyong semakin merinding mendengar suara itu. Ia panas dingin, takut untuk menunjukkan wajahnya dan terus menunduk. Taeyong panik dan tidak tahu harus bagaimana. Ia berpura-pura mengelap bibirnya dengan meminta beberapa tisu lagi pada Jisung. Padahal bibir merahnya sudah bersih.

"Hyung, tidak apa-apa?" Namja itu kembali bertanya, tangannya ingin meraih bahu Taeyong, sebelum...

"AKU TIDAKK APA-APAAA, UHUKK...UHUKKK... TUNGGU SEBENTAR YA TUNGGU ! AKU INGIN KE KAMAR KECIL, TOLONG JAGA ADIKKU SEBENTAR !" Taeyong berusaha keras untuk bersuara, tenggorokannya sangat gatal, wajahnya memanas. Ia beranjak untuk ke kamar kecil tetap dengan menundukkan kepalanya sambil berjalan menjauh. Sempat ia menubruk beberapa orang dan menggumamkan kata maaf. Salah satu fakta Taeyong, CE-RO-BOH. Sedangkan namja itu dan Jisung hanya melihatnya dengan melongo.

Di kamar kecil

Taeyong terburu-buru membasuh wajahnya dengan air yang mengucur dari keran. Ia melakukannya untuk menghilangkan rasa panas di wajahnya tetapi sia-sia. Pipinya masih merona dan jantungnya seperti melompat-lompat. Nafasnya memburu.

"Ahhhh, aku tidak akan kembali dengan wajah yang memerah seperti ini. Aku malu...dan takut..." Taeyong menghentak-hentakan kakinya dengan wajah yang terlihat tertekuk di kaca. Untungnya tidak ada orang lain disitu, sehingga ia bebas bertingkah laku seperti anak kecil.

"Aku akan diam disini sampai wajahku kembali normal. TAPI JISUNG?! Pasti dia baik-baik saja kan dengannya? Huhuhu... dongsaeng mianhae..." Taeyong berusaha mengipasi wajahnya agar terlihat normal kembali, tanpa semburat merah tentunya.

Kembali ke meja Jisung

"Eungg, hai ! Apa hyung boleh duduk disini?" Namja berambut dark brown itu bertanya pada Jisung. Jisung yang masih bingung ada apa dengan kakaknya hanya bisa mengangguk kecil.

Keduanya duduk bersampingan. Jisung anak ayam diam, sesekali menoleh kecil. Tanpa sengaja, namja di sampingnya menoleh juga ke arahnya, dan mereka menjadi semakin awkward. Akhirnya namja itu memutuskan untuk memainkan ponselnya sambil menunggu Taeyong kembali dari kamar kecil, sambil sesekali menyesap Cup Americano nya.

Jisung merasa bahwa namja di sampingnya adalah penyebab dari peristiwa tersedaknya Taeyong hyung. Ia menatap namja itu dengan wajah kesalnya.

"Ehmmm, hyung..." Jisung memulai pembicaraan.

"Eungg, kau berbicara padaku?" Namja itu balik bertanya sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri, menoleh ke kanan kiri sebentar.

"Hyung pasti berbuat jahat pada Taeyong hyung, mengakulah !" Jisung menunjuk-nunjuk namja itu dengan garpunya. Wajahnya tetap kesal. Seperti anak ayam.

"Eummm, hehehehe...hyung tidak bisa menjelaskannya adik manis. Apakah kau adik Taeyong hyung?" Namja itu mengusak tengkuknya karena tidak dapat menjawab pertanyaan Jisung, lalu ia tersenyum kecil memamerkan dimplenya.

"EHMM EHMM IYA BENAR AKU ADIK TAEYONG HYUNG, NAMAKU JISUNG LEE. AKU ADIK TAEYONG HYUNG DAN JUGA PELINDUNGNYA. TIDAK BOLEH ADA YANG MENYAKITI TAEYONG HYUNG. TIDAK ADA YANG BOLEH MEMBUAT TAEYONG HYUNG TERSEDAK !" Jisung menjawab dengan menggebu-gebu.

"Ahhhh lucu sekali, aku baru tau Taeyong hyung mempunyai adik yang sangat mirip dengan anak ayam. Perkenalkan dongsaeng, namaku .."

"EHMM, JAE-JAEH-JAEHYUN-aa..." itu suara Taeyong. Ia akhirnya telah kembali dari kamar kecil. Ia gagal. Gagal menghilangkan rona merah pipinya. Wajahnya tetap memanas. Taeyong hanya diam berdiri sampai akhirnya Jisung menariknya untuk duduk.

"Hyung..Apaa.."

"Taeyong hyung ! Apa hyung tidak apa-apa? Jisung khawatir ..." Jisung mencicit di samping Taeyong.

"Hyung tidak apa-apa Jisung, hyung hanya tersedak" Taeyong tersenyum sambil mengusak gemas rambut adiknya, lalu ia kembali menatap ke depan. Mau tidak mau ia harus berani menatap namja yang duduk di depannya ini. Namja dengan wajah tampan dan tubuh seksinya. Taeyong sebenarnya tidak kuat, banyak sekali perasaan yang membuncah dan bercampur di batinnya. Tapi ia harus menyapa namja di depannya ini dengan sopan, senyum palsu yang sangat amat kentara.

"Eung hai Jaehyun, apa kabar?" suara Taeyong yang sangat kecil untuk didengar. Untung Jaehyun memiliki pendengaran yang bagus, sehingga ia langsung bisa menjawab pertanyaan Taeyong.

"Hai juga hyung, eung aku baik-baik saja, hyung bagaimana?" Jaehyun tersenyum, kedua dimplenya kembali merekah.

Aduh dimplenya ingin sekali dikecup..uhhhh. Ini adalah suara batin Taeyong.

"Eung ya aku juga baik-baik saja. Aku terbebas dari tugas kuliah yang menumpuk karena sekarang masih liburan, hehe..." Taeyong tertawa, sangat memaksa.

"Hyung...hyung... " Jisung menarik-narik sweater Taeyong.

"Iya kenapa Jisungie?"

"Eung ayo pulang hyung, siang ini aku berjanji akan bermain dengan Jeno hyung, Jaemin hyung, Donghyuk hyung, di rumah Mark hyung..." Jisung terdengar mencicit.

"Tapi Jisungie, ada teman hyung disini, eung bagaimana ya?" Taeyong menggaruk-nggaruk kepalanya.

Kringgg...kringgggg... bunyi lonceng kafe. Berbunyi jika ada yang membuka pintu kafe. Taeyong langsung menangkap sosok yang dikenalnya memasuki kafe, dan langsung memanggilnya.

"Makeuu... Makeuuu" Taeyong berteriak, dan seorang namja melambai dari arah pintu. Namja itu segera menghampiri meja Taeyong.

"Wassup hyung, oh hai Jisungie, whoahhh anyeong haseyo Jaehyun sunbae.."

Wow, Mark mengenal Jaehyun sexy... Ahh aku hampir lupa kalau kami bertiga memang satu sekolah sebelumnya.

"Eung Mark, kata Jisung kalian akan bermain? Apa Jisung bisa ikut denganmu sekarang? Aku menitipkannya padamu ya?"

"Jisungie, kau mau ikut dengan Makeu hyung sekarang? Nanti sore hyung akan menjemputmu, okay?"

"Hmm baiklah, hyung nanti jangan lupa jemput aku yaa?" Jisung berbisik sebentar lalu segera berlari menarik Mark keluar.

"HAHAHAHAHA.." Taeyong tiba-tiba meledak dalam tawa, sampai Jaehyun kaget.

"Hyung gwenchana?"

"Gwenchana HAHAHA, kata Jisung kau jelek, Jaehyun, HAHAHA kata Jisung kau mirip moomin.." Taeyong tertawa sampai matanya berkaca-kaca.

"Aishhhh jinjja, kenapa semua orang bilang aku mirip moomin sih.. huft" Jaehyun cemberut.

Ahhhh bagaimana ini aku ingin sekali mencubit pipinya, uhhhh pipinya chubby sekali ingin sekali dikecup, lagi-lagi itu batin Taeyong.

Drrttt Drrrtttt, ponsel Taeyong di atas meja bergetar. Baru saja ia tertawa karena adiknya, wajahnya menjadi kesal karena ada pesan masuk. Tanpa membacanya, Taeyong sudah tahu itu dari siapa. Ia lalu mematikan ponselnya dan tanpa sadar membantingnya pelan.

"Kenapa dimatikan hyung? Apakah tidak penting?" Jaehyun bertanya dengan hati-hati.

"Sangat tidak penting Jaehyun. Benar-benar sangat tidak penting, huhhhh aku kesal Jaehyun. Bagaimana ini, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak pernah sedetikpun menganggapnya sebagai kekasih ! Ishh mengganggu saja ! OOPS..." Taeyong reflek menutup mulutnya, ia kaget karena secara blak-blakan dan tanpa sadar telah membeberkan rahasianya sendiri.

"Ohhh hyung jadi kau sudah memiliki kekasih?" Jaehyun sedikit meninggikan suaranya dengan raut wajah tidak dapat terbaca.

"Ani, bukan seperti itu Jaehyuniee, aku tidak ingat pernah menerima pernyataan cintanya. Tetapi tiba-tiba dia selalu menganggapku sebagai kekasihnya kurang lebih dua minggu ini, aku tidak ingin seperti ini..." Taeyong memelankan suaranya, kesedihan tiba-tiba muncul di benaknya. Ia menautkan jari-jarinya di atas meja.

"Hyung..." Jaehyun tiba-tiba meraih tangan Taeyong.

CASPER SIALAN, SINGKIRKAN TANGANMU ITU ! YA AMPUN TANGANMU HALUS DAN BESAR SEKALI, HANGAT JUGA URGHHHH... itu batin Taeyong, lagi.

Taeyong merasakan getaran listrik menjalar di tubuhnya. Lagi-lagi ia merasa seperti orang sekarat yang tidak tahu bagaimana cara menghirup udara dengan benar.

"I..iyaa Jaehyun ada apa?" tanya Taeyong 'sok' gugup.

"Mau bercerita kepadaku? Aku akan menjadi pendengarmu hari ini." Suara Jaehyun terdengar seperti suara malaikat yang akan menjemput Taeyong kembali ke surga. Taeyong terpana. Taeyong melongo. Ia lalu bersuara pelan lalu menatap Jaehyun dengan mata puppynya.

"Bolehkah?"

"Tentu saja boleh hyung.." Jaehyun terus mengusap pelan jari-jari Taeyong. Lalu tersenyum tampan.

HAHAHAHAHAHAHA DASAR JAEHYUN BAJINGAN SEKALI TAPI BEGITU TAMPAN... HAHAHAHA JARI-JARIKU ... BERSENTUHAN DENGANNYA, HAHAHAHA... itu batin Taeyong. Lagi. Lagi.