UNPREDICTABLE (SIDE STORY)

.

.

.

DISCLAIMER : NARUTO by MASASHI KISHIMOTO

This story is mine

.

.

.

Pair : unknown

Rated : T

Warning : GAJE/ABAL, TYPO(s), Newbie (harap maklum), Naruto Version. DLDR.

.

.

.

H-7

Tatapan tidak percaya dilayangkan hampir seluruh penduduk Konoha yang berada di depan gedung Hokage saat itu. Tidak terkecuali para Rookie. Kenyataan bahwa Uchiha Sasuke diangkat sebagai Rokudaime Hokage benar-benar hampir tidak masuk akal, apa yang dipikirkan para tetua gila itu. Baiklah, mungkin bisa dimengerti Sasuke adalah seorang Uchiha, dan tidak ada satupun orang yang meragukan otak biadab mereka yang jenius, dan Sasuke punya andil besar saat perang dunia melawan Uchiha Madara, yang notabene adalah kakek moyangnya sendiri. Tapi apa mereka tidak berpikir menyerahkan jabatan penting itu pada seorang mantan nuke-nin. Apa Tsunade tidak melakukan apa-apa.

"Godaime Hokage sendiri yang menunjuk Sasuke-kun sebagai Hokage. Itu yang dikatakan Shikamaru", ujar Ino menjawab kegundahan teman-temannya tentang keputusan cucu Shodaime Hokage itu.

"hah?! Jangan-jangan Sasuke sudah menggunakan genjutsu sharingan pada Hokage-sama?", teriak Kiba.

"Jika memang hal itu terjadi, tak mungkin Shikamaru dan Kakashi-sensei tidak mengambil tindakan. Bukankah mereka ada di ruang Hokage saat Godaime-sama memberitahu Sasuke tentang hal itu. Jadi jangan menyimpulkan hal yang tidak-tidak Kiba?", ujar Shino yang sedang bersandar di pohon tak jauh dari tempat mereka berkumpul.

"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Naruto sejak tadi. Dimana dia?", tanya Lee.

"mungkin Naruto terpukul dengan kejadian ini. Jadi dia pergi menyendiri dulu", ujar Chouji.

"tapi,, mengingat sifat Naruto yang periang, hampir tidak mungkin dia terpuruk hanya karena kejadian ini", ujar Sai

Kiba yang hanya bisa menggerutu atas pengangkatan Sasuke sebagai Hokage hanya mendengarkan ocehan rekan-rekannya tentang keberadaan Naruto. Tanpa dia sadari, direksinya mengarah ke dahan pohon tertinggi di dekat kantor Hokage. Tampak bayangan seseorang berdiri disana. Kiba memicingkan pupil vertikalnya. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Itu Naruto, dia berdiri di atas dahan pohon. Tapi ada satu hal yang mengganjal, ekspresi Naruto. Itu bukan raut wajah yang biasa diperlihatkan si bocah Kyuubi. Raut wajahnya tampak dingin, dan direksi Naruto tepat mengarah ke mantan Nuke-nin, sang sahabat, yang sekarang berdiri diatas gedung Hokage dengan jubah Rokudaime-nya.

Sedetik kemudian siluet bocah rubah itu telah menghilang dari pandangan Kiba. Niatnya untuk memberitahukan rekan-rekannya tentang keberadaan Naruto langsung lenyap.

'mungkin dia memang butuh waktu sendiri', batin Kiba.

'Naruto-kun. Sebaiknya aku tidak menganggunya dulu', batin Hinata. Sepertinya gadis ini melihat apa yang dilihat Kiba dan memikirkan hal yang sama pula.

.

.

.

H-6

Tampak seorang wanita dengan surai pirang yang dikepang dua berjalan beriringan dengan seorang pemuda bersurai pirang spike diantara tumpukan jalanan yang bersalju menuju kesebuah gerbang.

"aku ingin beristirahat dulu untuk hari ini baa-chan. menggunakan Hiraishin dari Konoha ke Negara Besi benar-benar membuat energiku terkuras", ujar Naruto yang tampak sangat kelelahan.

"tentu, gaki. Aku tidak akan membiarkanmu mengikuti pelantikan dengan kondisi seperti ini", ujar Tsunade.

"hah? Pelantikan? Oh, ya, kau belum mengatakan apa tujuan kita kemari Baa-chan?", ujar Naruto dengan wajah penasaran.

"kau akan tahu besok. Hari ini kita istirahat dulu", ujar Tsunade dengan santai sambil memasuki gerbang Negara Besi diikuti oleh Naruto.

.

.

.

H-5

Naruto POV

Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku. Sekedar untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Pagi hari di Negara Besi dengan salju seperti ini benar-benar menyiksa untukku. Bagaimana mereka bisa hidup dengan udara sedingin ini.

Ku langkahkan kakiku menuju ruang pertemuan. Sebenarnya aku masih sedikit terpukul dengan keputusan Baa-chan yang mengangkat Sasuke sebagai Hokage. Dia adalah orang yang paling tahu kalau aku sangat menginginkan posisi itu. Ditambah lagi ekspresinya yang sama sekali tidak menampakkan perasaan bersalah dengan keputusannya itu. Lagipula, kenapa harus Sasuke? Baiklah, mungkin memang karena Kakashi-sensei menolak posisi itu dan Shikamaru yang terlalu menganggap menjadi Hokage sangat merepotkan. Tapi aku tidak bisa terima kalau jabatan Hokage harus diberikan kepada Sasuke.

Sibuk dengan pikiranku sendiri, hingga tidak menyadari kalau aku sudah berada dekat dengan pintu masuk ruang pertemuan. Saat tersadar dari lamunanku, kulihat para Daimyo, tetua dan para penagwal mereka keluar dari ruang pertemuan.

Eh, kenapa mereka keluar? Apa pertemuannya sudah selesai?

Belum terjawab semua pertanyaanku, ada seseorang yang menepuk bahuku. Saat aku berbalik, kulihat Tsunade Baa-chan berdiri dibelakangku.

"darimana saja kau,Naruto. Aku mencarimu keman-mana", ujarnya

"pertemuan hari ini dibatalkan. Mizukage belum tiba, sepertinya ada sedikit masalah diperjalanan. Mungkin nanti sore atau malam dia akan sampai disini. Jadi pertemuannya ditunda hingga besok. Kau bisa beristirhat dulu atau jalan-jalan melihat tempat ini. Tapi ingat, jangan pergi terlalu jauh dan jangan berbuat maca-macam", ujarnya memeperingatiku sambil mengacingkan telunjuknya kewajahaku, yang kubalas dengan anggukan. Apa dia pikir aku ini masih kecil, kalu pergi jauh-jauh akan tersesat begitu?

Setelah berpisah dari Baa-chan aku segera berkeliling. Hingga aku merasakan chakra yang sangat familiar berada tepat dibelakngku dan semakin mendekat. Kulihat ada seorang pria dengan rambut merah dan gentong pasir kesayangannya sudah bersidekap dada berjalan dibelakangku. Gaara.

End Naruto's POV

.

.

.

Gaara's POV

"apa yang kau lakukan disini?", aku mencoba memulai pembicaraan dengan sahabatku yang berisik. sebisa mungkin aku tidak ingin menyinggung perasaannya. Aku tahu dia sedang banyak pikiran dan agak sedikit , kalut mungkin.

"aku pengawal Hokage", jawabnya. 'hah?pengawal Hokage?, apaTsunade belum mengatakan apa-apa padanya?'.

"tidak,maksudku apa yang kau lakukan disekitar sini?"tanyaku lagi.

"oh, aku hanya berjalan-jalan saja. Membosankan sekali kalau menunggu pertemuan besok dikamar", ujarnya dengan menyilangkan kedua lengannya dibelakang kepala, dia sama sekali tidak berubah. Dia tidak tahu pertemuan kali ini untuk apa. Aa sebaiknya kuberitahu dia.

"apa kau tahu tujuan pertemuan ini Naruto?", ujarku sambil menyamakan langkahku dengannya.

"eum, aku tidak tahu. Memangnya untuk apa?", uajrnya dengan wajah innocent.

"para Kage dan Daimyo akan membentuk organisasi aliansi yang akan menaungi kelima negara besar. Besok akan dilakukan pelantikan ketua Aliansi, sekaligus menentukan anggotanya", ujarku. Kami berjalan-jalan disekitar salju. Iklim Suna yang panas membuatku sedikit kesulitan beradaptasi dengan tempat ini.

"eum, jadi begitu. Pantas Baa-chan mengatakan dia harus segera melantik Hokage baru. Jadi dia yang akan menjadi ketua aliansi, ya!", ujarnya.

Ya, dia sama sekali tidak berubah. Masih Baka seperti biasanya. Akau hanya bisa menghela nafas melihat kelaukan temanku yang satu ini. Dari mana dia mendapat kesimpulan itu.

"Naruto, sebenarnya yang akan diangkat sebagai Ketua Aliansi adalah kau", ujarku dengan wajah datar yang entah kenapa sulit sekali untuk dihilangkan.

"hah?", hanya itu responnya. Dia hanya menatapku dengan wajah yang seolah-olah mengatakan 'Gaara, telingaku sedikit terganggu, bisa kau ulangi kalimatmu tadi'.

"Uzumaki Naruto, kau akan mejadi Ketua Aliansi Shinobi, mulai Besok", ujarku menegaskan pernyataan sebelumnya.

Reaksi yang kudapatkan kali ini adalah bola matanya yang membulat sempurna dan satu detik kemudian dia sudah tidak ada dihadapanku.

"hah, kiiroi senkou", sebaiknya aku kembali kekamarku yang hangat dan nyaman

End Gaara's POV

.

.

.

BRAAAKKK

Terdengar bunyi dentuman pintu yang sangat merdu dari kamar sang Hokage yang saat ini hanya bisa memuncratkan sake tercintanya.

"tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu Narutooooooo", teriak Tsunade.

"kenapa kau tidak memberitahuku Baa-chan?", teriak Naruto balik, yang masih dengan posisi berdiri didepan pintu.

"huh?", Tsunade hanya bisa memasang wajah tidak mengerti.

"Gaara sudah mengatakan semuanya padaku. Alasan mengapa kau memintaku mengawalmu kemari", ujar Naruto.

Dan hanya seringai Tsunade yang dia dapatkan.

.

.

.

TBC

a/n :

baiklah saya tahu, saya gak konsisten sama omongan.

maunya inikan 2shoot, kok jadinya gak tamat2 gini. mohon maafkan ketidakberdayaan hamba ini #plaakkk,,

gak tau ternyata seiring berjalannya waktu perkembangan ceritanya jadi gini. tai bakal saya usahakan chapter 3 nti sudah tamat dan lanjut ke sequelnya.

mohon doakan saja.

ang the last...

.

.

.

r

e

v

i

e

w

onegaisimasu...