Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke & Sakura
Genre : Romance, Fantasy
Rate : T
.
.
.
Enjoy With This Story
.
.
.
Chapter 02
'SLAP SLAP SLAP'
Sesosok pemuda tinggi tegap yang memakai sweater berwarna hitam yang lengannya digulung dengan dalaman kaos berwarna abu-abu polos berjalan dengan tenang. Tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celana hitamnya, sementara tangan kirinya terlihat menenteng sekantong penuh belanjaan. Kentara sekali bahwa pemuda itu baru saja berbelanja di supermarket. Rambut biru dongker dengan style emonya bergerak halus mengikuti gerak tubuhnya. Onyx pemuda itu menatap lurus jalanan. Wajah tampannya tetap kaku tanpa ekspresi. Kaki jenjang berbalut sepatu nike berwarna biru tua itu berjalan dengan santai. Pemuda itu lalu berbelok kearah gang sempit yang gelap. Langkah pemuda itu berhenti tiba-tiba. Onyxnya bergulir melirik tajam kesamping.
"Siapa kau?" tanya pemuda tampan itu –Sasuke memecah kesunyian. Suara baritonnya terdengar sedikit memantul.
'PLOK PLOK PLOK'
Suara tepukan tangan seseorang terdengar. Sasuke kemudian membalikkan tubuh tegapnya. Onyxnya semakin menajam melihat seorang laki-laki muncul dari balik tiang listrik. Laki-laki dengan rambut abu-abu berkuncir, dan berkacamata bulat, serta mengenakan mantel hitam panjang berdiri dengan masih memberikan tepuk tangannya.
"Wah wah wah…tak ku sangka manusia rendah sepertimu bisa tahu keberadaanku…" ucap pemuda itu seraya membenarkan kaca mata bulatnya yang sedikit melorot.
"Siapa…kau?" tanya Sasuke mengabaikan perkataan laki-laki misterius itu.
"Ah ya, baiklah aku Kabuto…dan-"
"Apa maumu?" potong Sasuke cepat.
"….Aku akan memberi peringatan padamu Uchiha Sasuke…" onyx Sasuke membesar. Dia, lelaki misterius yang bernama Kabuto mengetahui namanya? Ini aneh. Setahunya dia tak mengenal Kabuto. Tapi kenapa dia tahu mengenai dirinya? otak genius Sasuke berusaha mencerna apa yang terjadi.
"Tak usah gunakan otak geniusmu untuk mengetahui siapa aku Uchiha-kun…kau maupun keluargamu tak ada yang mengenalku. Jadi percuma saja…" ujar Kabuto dengan senyum miring.
"Apa maumu hn?" tanya Sasuke langsung.
"Mauku? Bukankah aku sudah bilang tadi…"
"….."
"Memberimu peringatan…"
"Peri…ngatan?"
'BUGHHH'
Tanpa diduga Sasuke, Kabuto bergerak melesat meninju bagian perutnya. Tubuh Sasuke lalu tersungkur di tanah. Kantong yang berisi bahan makanan yang ia pegang terlempar dari tangannya dan membentur tembok gang. Sasuke mencoba berdiri dengan tangan kanannya yang memegang perutnya. 'sakit' tentu saja itu yang dirasakannya. Apalagi dengan keadaannya yang seperti ini. Ia belum memakan apapun dari tadi. Dia hanya meminum secangkir kopi pahit tanpa gula. Tubuhnya benar-benar terasa lemas.
Bola matanya bergulir menatap barang belanjaannya yang tercecer di tanah. Kotor, rusak. Pupus sudah harapan Sasuke untuk membawa pulang bahan makanan yang sudah ia dapatkan dengan susah payah. Dia bekerja dari pagi hingga sore untuk mendapatkan bahan makanan untuk dimasak oleh ibunya. Tangan Sasuke terkepal. Rahangnya mengeras dan giginya bergemeletuk.
"Kau…apa maumu hah? Uhukk.."
"Mauku….?"
Sasuke kembali membelalak tak percaya. Kabuto secepat kilat sudah berada di hadapannya. Seringai misterius milik Kabuto terlihat jelas oleh Sasuke.
"Bagaimana kalau ini yang ku mau…."
'BUAGGHHH'
Kabuto kembali memukul Sasuke. Kali ini perut bagian atasnya yang menjadi sasaran Kabuto.
'BUAGHHH'
"Akhhh…" Sasuke meringis kesakitan kala Kabuto memukul rahangnya dengan keras. Darah keluar dari sudut bibir Sasuke yang robek. Dengan bertumpu pada tembok gang, Sasuke berusha bangkit. Pandangannya sedikit mengabur.
"Hmmm, baumu cukup enak tapi itu tak berarti karena kau hanyalah manusia rendah yang menyedihkan…hahahaha" tawa Kabuto pecah. Sasuke yang melihatnya hanya bisa menggeram marah. Dengan tenaga yang tersisa, Sasuke berusaha berdiri tegak dan berlari menghampiri Kabuto siap dengan tinjunya. Tapi itu tak berarti apa-apa. Kabuto dengan mudahnya bisa menghindari tinjuan dari Sasuke. Malah sebaliknya, dengan menyeringai senang Kabuto malah berbalik memukul Sasuke. Perut, pipi, kaki, perut lagi. Pukulan bertubi-tubi yang Kabuto berikan sudah sangat membuat Sasuke tak berdaya. Dari dulu Sasuke memang tak pandai berkelahi. Ia hanya menguasai taknik-teknik dasar saja. Ia lebih suka berkelahi dengan berbicara dari pada menggunakan fisik seperti yang sedang ia lakukan saat ini.
'BRUGHHH'
"Akhhh…" tubuh Sasuke terlempar membentur tiang besi. Darah mengalir dari mulut dan pelipisnya. Bagian bawah mata serta pipinya sudah penuh lebam. Bajunya sudah kotor terkena tanah yang sedikit basah. Melihat Sasuke yang sudah tak berdaya dan hanya terbaring meringkuk sembari memegang perutnya, Kabuto lalu mendekat kearah Sasuke. Kaki berbalut sepatu boot hitam miliknya menginjak perut Sasuke.
"Akhh, khhh…ke-kenap-pahh..khh"
"Apa? Kau berbicara apa Uchiha-kun? Aku tak mendengarmu…" ucap Kabuto seraya membungkukkan badannya dan menarik kerah baju Sasuke.
"Ke-kanappa kk-kau me-melakukanhh ini pad-padaku hahh…khhh" tanya Sasuke terbata-bata.
"Hm, kenapa? Kalau saja dari awal kau tidak menarik perhatian Oujo-sama, kau mungkin tak akan berakhir dengan menyedihkan. Kami sama sekali tak membutuhkan manusia rendahan sepertimu…" ucap kabuto seraya melepaskan dengan kasar kerah baju Sasuke. Akibatnya, kepala bagian belakang Sasuke terbentur tanah dengan keras. Dengan sisa-sisa kesadarannya, Sasuke masih bisa melihat Kabuto yang berdiri menjulang di samping tubuhnya. Kilatan kejam terlihat di mata lelaki berkaca mata bulat itu.
"Aku akan menghabisimu sekarang. Tsunade-sama pasti akan sangat senang mendengar kematian manusia rendahan tak tahu diri sepertimu…"
Sebelum kesadaran Sasuke menghilang, sayup-sayup telinganya menangkap suara seseorang. Sosok orang itu tak begitu terlihat jelas di matanya sebelum semuanya menjadi gelap.
"Apa yang kau lakukan padanya hah Kabuto !"
Kabuto terkejut melihat siapa yang datang dari ujung gang ketika dia akan memberi pukulan terakhir kepada Sasuke. Rambut merah muda sosok yang membuatnya terkejut melambai indah tertiup angin malam. Mata merah darahnya bersinar dikegelapan. Gigi taring sosok itu terlihat sangat menakutkan. Seketika, tubuh Kabuto bergetar takut.
"Sa-Sakura-sama…"
"Apa. Yang. Kau. Lakukan. Padanya HAHHH?!" teriak Sakura dengan lantangnya. Tanpa diduga Kabuto, Sakura tiba-tiba sudah berada dihadapannya dengan mata merahnya serta kuku jarinya yang memanjang.
'CRASHHHHH'
"AKKKKHHHHHH….." teriakan Kabuto memenuhi sudut gang. Darah segar mengalir dengan deras dari luka sobekan memanjang di dada sampai perut bawahnya. Tubuh Kabuto tersungkur dan menyandar pada tembok gang.
"Ap-apa yang anda lakukan Sakura-sama?"
"Apa yang aku lakukan? Tentu saja memberimu pelajaran…" jawab Sakura masih dengan menatap tajam Kabuto. Kuku-kukunya yang semula memanjang kini telah kembali seperti semula. Namun tidak dengan taring dan matanya.
"Kau sudah melukainya Kabuto…aku benar-benar marah…!" geram Sakura lagi.
"Akhhh…." Tiba-tiba muncul sulur-sulur tanaman berwarna hitam yang melilit erat tubuh Kabuto.
"Aku. Marah. Padamu. Kabuto…" geram Sakura dengan penekanan disetiap katanya. Dia lalu menggerakan tangannya seperti gerakan meremas diudara, Tiba-tiba sulur-sulur yang menjerat Kabuto menjadi semakin banyak dan semakin melilit tubuh Kabuto dengan erat. Sulur-sulur itu melilit seluruh tubuh Kabuto tanpa terkecuali. Tangan Kabuto yang sedikit bebas berusa keras untuk melepaskan sulur-sulur itu.
"Mati…"
"AKKKKKKHHHHHHHHHHHH…." Teriakan keras dari Kabuto mengakhiri hidup laki-laki berkacamata bulat itu. Tubuhnya hancur tak bersisa. Hanya sulur-sulur berwarna hitam yang tadi melilitnya yang masih tersisa melambai-lambai seolah menikmati darah yang meresap kedalam sulur. Setelah darah Kabuto seluruhnya terhisap sulur, perlahan sulur-sulur hitam milik Sakura menghilang dengan masuk kedalam tanah kembali. Taring dan mata Sakura kembali normal. Dengan segera, Sakura berlari menghampiri Sasuke yang tengah tergeletak tak sadarkan diri. Sakura lalu bersimpuh dan meletakkan kepala Sasuke dipangkuannya.
"Sasuke-kun…hei, sadarlah Sasuke-kun…" ucap Sakura dengan nada panik. Sakura lalu meletakkan tangan kanannya di atas dada Sasuke. Sinar hijau memancar dari telapak tangan Sakura dan melingkupi tubuh tak berdaya Sasuke. Perlahan tapi pasti semua luka lebam di wajah Sasuke menghilang dan kembali normal.
"Sasuke-kun…."
Panggilan halus dari Sakura menyadarkan Sasuke. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Onyx kelam miliknya mulai menampakkan sinar malamnya kembali. Mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, pandangan Sasuke lalu menangkap wajah cantik dengan air mata yang membasahi pipi pucatnya. Onyx dan emerald bertemu. Hitam dan hijau saling memandang. Bayangan wajah mereka terpantul dengan jelas di masing-masing netra milik mereka. Sasuke masih menatap dalam Sakura. Emerald milik Sakura entah kenapa membuat Sasuke terperangkap lebih dalam. Senang, Sedih, Rindu dan kecewa bisa Sasuke lihat dari mata indah milik gadis berambut merah muda yang tengah duduk memangku kepalanya. Tersadar dari keadaannya saat ini, Sasuke lalu mencoba untuk bangun dan terduduk.
"Apa yang terjadi…?" tanya Sasuke setelah ia bisa duduk dengan benar. Dengan gelagapan, Sakura lalu menjawab,"Uhmmm, ett-ettooo…"
"….."
"Uhh, kk-kau..kk-kau…" ucap Sakura semakin terbata. Semburat merah jelas terlihat di pipi pucatnya.
"Nani?"
"Uhh, kautadipingsandanakumenemukanmudisinisendiriannnnnn…!" jelas Sakura dengan ucapan tanpa jeda. Sasuke yang melihatnya malah mengangkat sebelah alisnya pertanda bingung. Sakura yang menyadari perkataannya sendiri malah membungkam kedua mulutnya dan menundukkan kepala merah mudanya tak berani menatap Sasuke.
"Pppfffttttt….hahaha, kau ini lucu sekali…"
'DEGGG'
Tubuh Sakura menegang. Dengan cepat, Sakura mendongakkan kepalanya menatap Sasuke yang kini malah tertawa dengan mata menyipit. Tawa itu..ekspresi itu… apa yang ada di hadapan Sakura sekarang benar-benar sangat mempesona. Sakura bahkan tak mampu untuk berkedip barang sekali saja. Dia merasa sesak seolah kehabisan oksigen.
"Ahhhaha, gomen, gomen…arigatou…" senyum tulus Sasuke untuk pertama kalinya Sakura lihat. Sakura masih diam sembari memperhatikan Sasuke.
'dia…'
"Hei…nona.."
'wajah itu…'
"Oi, nona…kau mendengarku?"
'tampan….'
"Heii, daijoubu desu ka?"
'DEGGG'
Pertanyaan terakhir Sasuke membuat Sakura tersadar. Semburat merah semakin terlihat di pipi pucatnya.
"Ahh, iie…da-daijoubu…" ucap Sakura dengan mengibas-ngibaskan tangannya menyilang.
"Lalu, dimana pria yang tadi…?" tanya Sasuke sembari mencoba berdiri. Setelah dapat berdiri dengan sempurna, Sasuke lalu mengulurkan tangannya guna membantu Sakura berdiri. Dengan malu-malu, Sakura menerima uluran tangan Sasuke.
"Ummm, etoo…aku tidak tahu, saat aku menemukanmu aku tak melihat siapa pun…" jelas Sakura berbohong. Tentu saja dia berbohong. Mana mungkin dia akan menjawab kalau laki-laki itu telah mati ia bunuh. Bisa-bisa Sasuke curiga padanya.
"Souka…" Sasuke lalu berjalan sekitar 5 langkah dan membungkuk mengambil belanjaannya yang rusak tercecer. Sasuke lalu memungutnya satu persatu dan memasukkannya kembali kedalam kantong keresek putih.
"Belanjaanmu…"
"Hmm…daijoubu, aku bisa membelinya lagi…"-kalau uangku masih ada. Tambah Sasuke dalam hati. Tentu saja ia tak mengatakannya secara terang-terangan. dia tak ingin dikasihani oleh orang lain terlebih itu adalah seorang gadis. Harga dirinya sebagai lelaki memang sangat tinggi. Sasuke lalu melangkah kembali melewati gang sempit tempat ia tak sadarkan diri. Melihat Sasuke beranjak pergi, Sakura lalu melangkahkan kaki jenjangnya menyusul Sasuke. Jarang-jarang ia bisa sedekat ini dengan Sasuke. Jadi ia akan memanfaatkan momen ini untuk mendekati Sasuke.
"Hei, tunggu Sasuke-kun…!"
Langkah Sasuke terhenti. Bukan karena seruan Sakura melainkan nama panggilan yang Sakura sebutkan. Setelah Sakura berada di sampingnya, tatapan Sasuke berubah menjadi tajam. Onyx kelamnya menatap lurus emerald yang terpampang indah di hadapannya.
"Kau…"
Sakura menelan ludahnya gugup.
"Dari mana kau tahu namaku?" tanya Sasuke dengan nada mengintimidasi.
'GLEKK'
Sakura lagi-lagi menelan ludahnya kasar. Tubuhnya kaku seketika. Sakura benar-benar merutuki dirinya sendiri yang kelepasan menyebut nama Sasuke. Kini ia harus mencari alasan agar Sasuke tak mencurigainya yang macam-macam.
"Ummm, ett-etto…ak-aku, bukankah kau bekerja di Coffee Café? aku sering berkunjung ke sana dan Aku pernah mendengar pelayan lain memanggilmu Sasuke….iya seperti itu. Aku pernah mendengarnya…ya mendengarnya…" jelas Sakura diiringi dengan senyum kakunya. Sasuke tak menjawab. Pandangan tajamnya malah terasa semakin tajam menusuk. Merasa tak enak, Sakura lalu menundukkan kepalanya. Dalam hati ia merutuki dirinya lagi kenapa ia tak memiliki keberanian apapun jika bersama Sasuke. Namun detik berikutnya perlakuan dari Sasuke sukses membuat Sakura merasa sesak. Usapan kecil yang Sasuke lakukan di pucuk kepalanya ternyata berdampak fatal bagi jantung dan hatinya. Walaupun ia seorang vampire tapi ia masih mempunyai perasaan layaknya seorang manusia biasa. Darahnya berdesir hebat , hatinya bisa merasakan perasaan cinta, ia pun juga bernafas walaupun hanya untuk kamuflasenya saja.
"Sa-suke-kun…"
"Hahaha, kau ini benar-benar lucu ya…" ucap Sasuke lengkap dengan senyum simpulnya. Sasuke lalu menghentikkan usapannya pada kepala Sakura lalu sedikit menunduk guna melihat langsung wajah Sakura. Karena memang Sasuke lebih tinggi dari Sakura. Tinggi Sakura hanya sebatas lehernya saja.
"Jadi, siapa namamu nona?" tanya Sasuke lagi.
"Watashi wa Senju Sakura desu…yoroshiku onegai shimasu…" ucap Sakura seraya membungkukkan tubuhnya sebagai sopan santun.
"Aku Uchiha Sasuke…"
"Sasuke-kun."
"Hn?"
"Boleh aku memanggilmu seperti itu?"
"Terserah padamu saja…"
"Arigatou, kalau begitu panggil aku Sakura saja ne…" ucap Sakura dengan senyum manis menghiasi wajah cantiknya. Melihat senyum menawan itu, dengan reflek Sasuke ikut melengkungkan bibirnya tersenyum. Entah kenapa ia jadi mudah tersenyum seperti ini pada orang yang baru saja dikenalnya. Padahal kan ia adalah orang yang dingin dan pelit senyum. Apakah ini yang dinamakan 'love at first sight'?. Sungguh konyol.
"Baiklah Sakura, kalau begitu aku pulang dulu... Jaa ne…" Sasuke lalu pergi dengan melambaikan sebelah tangannya kepada Sakura.
"Jaa ne Sasuke-kun~… hati-hati…" teriak Sakura sebelum Sasuke menghilang di belokan gang.
"Arigatou karena sudah melihatku Sasuke-kun…" ucap Sakura lirih. Lengkungan senyum manisnya tak hilang dari wajahnya yang rupawan. Detik berikutnya, tubuh Sakura lalu berubah menjadi kumpulan kelopak bunga Sakura berwarna hitam dan kemudian terbang mengikuti arus angin malam.
Sementara itu, Sasuke masih berjalan dengan santai. Pertemuan singkatnya dengan gadis merah muda bernama Sakura benar-benar membuatnya merasa aneh. Saat ia menatap langsung bola mata emerald milik Sakura, entah kenapa jantungnya mendadak berdetak cepat. 'Apakah ini cinta?' tanya Sasuke dalam hati. Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya menepis segala pikiran absurdnya. Seakan menyadari sesuatu, Sasuke menghentikkan langkahnya.
"Kenapa aku baik-baik saja? Bukankah aku….terluka cukup parah?"
.
.
.
.
To Be Continued...
Yoshhh~...saya akhirnya kembali dengan membawa chapter 2,...:D gomen kalo masih ada typo yang berserakan..:v
saatnya membalas reviews:
Hasegawa : hoho, terimakasih Hasegawa-san...#jadiMalu. Dan pas adegan sakura manggil nama sasuke itu sasukenya udah jauh jalan jauh dari Sakura, jadi Sasuke gak denger...:D. terimakasih sudah meriview^^
Luca Marvell : huwaaaa~, baru nyadar kalo yang aku publish itu yang belum diedit..:D nyadar-nyadar pas baca review kamu...hehehe terimakasih atas koreksinya...:D. kalo soal yang Luca-san tanyakan, bisa dilihat dichapter-chapter selanjutnya...kekeke dan terimakasih sudah meriview^^
nabilakumalasari1: terimakasih Nabila-san atas reviewmu...jadi tambah semangat, kekeke. ini juga udah apdet kok, semoga suka ne^^
hanazono yuri :ini juga udah lanjut kok...semoga suka^^
terimakasih buat minna-san yang sudah berkenan meninggalkan jejak baik review, follow, or fav...:D dan saya harap minna-san masih mau membaca dan mereview fanfic saya ini...terimakasih !
RnR
