Difficult

by. sarang-baek

.

.

.

WARNING!

YAOI/BoyxBoy/Boyslove

.

.

.

Cast :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Kim Jongin

Do Kyungsoo

.

.

I just claim the story

.


"Ah, Kyungsoo kau sudah data –JONGIN!"

.

.

.

Akhir-akhir ini Kyungsoo merasa bahwa Chanyeol menjadi sangat aneh. Seperti kejadian di parkiran tadi, Chanyeol tiba-tiba saja menepis tangannya kasar, atau ketika dia memainkan ponsel Baekhyun, Chanyeol tiba-tiba saja akan merebut nya kasar dan menatap nya dengan tatapan yang tidak Kyungsoo mengerti. Kyungsoo ingin bertanya, tapi Chanyeol selalu kembali seperti Chanyeol yang biasanya ketika ia ingin bertanya.

"Jaa, sudah sampai." Chanyeol sudah kembali seperti semula. Tersenyum dengan lebar dan menatap Kyungsoo ceria.

Mereka berdua keluar dari mobil setelah Chanyeol memarkirkan mobil nya. Tapi Kyungsoo langsung berlari kecil dengan alasan ingin cepat bertemu dengan Baekhyun.

Chanyeol hanya bisa tersenyum kecil. Benar-benar sulit. Kyungsoo sangat dekat dengan Baekhyun. Semua nya jadi terasa dua kali lipat lebih berat jika Chanyeol sudah melihat betapa Kyungsoo menyayangi Baekhyun. Chanyeol benar-benar takut jika suatu saat Kyungsoo mengetahui semua nya. Harus dengan cara apalagi dia melindungi Baekhyun? Chanyeol ingin sekali menghentikan kegilaan ini, tapi terlalu sulit untuk ia lakukan. Sungguh, ia benar-benar tidak bisa melihat Baekhyun bersedih, apalagi karena laki-laki hitam itu.

Memang ini terdengar sangat tidak rasional. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan orang yang di cintai nya mencintai laki-laki lain dan bahkan dia yang membantu Baekhyun untuk menutupi semua nya dari Kyungsoo. Menyakitkan memang, Chanyeol sering kali memergoki mereka sedang berciuman atau bahkan bercinta. Walaupun Baekhyun adalah kekasih nya di mata orang-orang, tapi Chanyeol tidak pernah merasa bahkan dapat menyentuh hati Baekhyun seujung jaripun. Baekhyun begitu jauh, begitu tinggi, dan begitu dalam. Rasanya sangat sulit jika untuk memilikinya.

Jadi, Chanyeol membiarkan Baekhyun berbahagia dengan Jongin walaupun dengan cara yang salah. Chanyeol hanya bisa melindungi Baekhyun untuk melihat nya tersenyum walaupun Baekhyun berada di bawah Jongin.

.

.

.

"Jongin kau mengagetkan ku, duduklah dulu, Kyungsoo belum datang, Chanyeol sedang menjemputnya." Baekhyun berbicara tanpa menatap Jongin.

Baekhyun berniat pergi ke dapur setelah mempersilahkan Jongin duduk, tapi Jongin dengan cepat menahan pergelangan tangannya.

"Hyung

"Kumohon jangan begini, Jongin. Bagaimana jika Kyungsoo datang."

"Bisakah kita menghentikan kepura-puraan ini? Aku sudah lelah hyung.."

"Terus begini atau tidak sama sekali, Jongin.." Baekhyun berucap lirih, masih tanpa menatap Jongin.

"Lihat aku hyung, tidakkah kau ingin kita bahagia seperti pasangan lainnya?" Jongin menarik dagu Baekhyun ke atas agar memandangnya, menatapnya serius dan perlahan mendekatkan wajahnya.

Tentu saja. Tentu saja Baekhyun ingin seperti itu, pergi berkencan dengan Jongin, menonton film di bioskop, bergandengan tangan ketika berjalan di trotoar, atau hal-hal seperti itu seperti pasangan muda lainnya.

Hal itu sangat mudah di lakukan bagi pasangan-pasangan di luar sana, tapi tidak dengan hubungan mereka, itu terlalu sulit untuk di lakukan, bahkan, jalan beriringan pun tidak pernah mereka lakukan.

"Hyung.." Baekhyun tidak menjawab Jongin, ia hanya bisa memandang Jongin dengan tatapan bersalah. Dari awal ini memang salahnya. Menyuruh Jongin mendampingi Kyungsoo padahal dia sendiri sangat ingin bersama Jongin. Mereka saling mencintai, tapi tidak bisa bersama selayaknya pasangan lain karena Baekhyun terlalu memikirkan Kyungsoo.

Baekhyun sadar semuanya salah, berhubungan di belakang Kyungsoo sama saja menumpuk luka yang nantinya bahkan bisa membunuh Kyungsoo. Tapi mau bagaimana lagi, dia sangat mencintai Jongin dan semuanya sudah terlajur terjadi. Beruntung Chanyeol selalu membantu dan melindunginya ketika mereka hampir saja ketahuan oleh Kyungsoo.

"Jongin-ah.." Jongin menuntun Baekhyun menuju sofa di ruang tamu, menyenderkan kepala nya pada belakang sofa dan perlahan mencium nya dengan lembut. Tidak peduli jika Kyungsoo tiba-tiba datang dan memergoki mereka. Itulah yang Jongin inginkan. Jika Kyungsoo membenci Baekhyun dan membuangnya. Jongin akan dengan senang hati membawa Baekhyun pergi dan menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Ciuman yang tadi nya lembut kini semakin panas dan menuntut. Baekhyun ingin menolak, dia benar-benar takut jika Kyungsoo datang ketika Jongin sedang menciumnya. Tapi, bagaimana bisa dia menolak jika orang yang paling ia cintai menciumnya dengan penuh perasaan seperti ini? Baekhyun hanya bisa menerimanya dan perlahan membalas ciuman Jongin. Cumbuan Jongin selalu seperti ini, walaupun panas, tapi Baekhyun selalu merasakan cinta di dalamnya. Bukan hanya tentang hasrat, Jongin selalu menyalurkan cinta yang besar lewat sentuhan-sentuhannya, yang membuat Baekhyun semakin tidak bisa menghentikan kegilaannya.

"Enghh.." Baekhyun mendesah kecil saat Jongin menelusupkan tangannya kedalam kaus yang Baekhyun kenakan, meraba perut nya dengan gerakan memutar dan membelai puting payudaranya dengan lembut.

Jongin selalu membuat Baekhyun lupa dengan segalanya. Bahkan sekarang Baekhyun lupa dimana dia berada, dia hanya membiarkan Jongin melakukan apapun pada tubuhnya. Tidak ingat bahwa mungkin saja sekarang Kyungsoo sudah berada di depan pintu dan siap untuk membencinya seumur hidup.

Cklek.

.

.

.

"Hei jangan lari-lari bagaimana jika kau tersandung!" Chanyeol meneriaki Kyungsoo karena dia berlari begitu ia keluar dari mobil nya.

"AKU MERINDUKAN BAEKHYUNNIE KU.. hhaa.. haaa." Kyungsoo membalas nya dengan nafas terengah-engah, dia sudah berdiri di depan lift sekarang, tapi ia sangat kesal karena lift nya tidak mau terbuka juga.

"Kau ini, hanya empat belas jam tidak bertemu dengannya saja sudah seperti ini." Chanyeol mencibir Kyungsoo ketika ia sudah berdiri di sampingnya, menunggu lift terbuka.

"Kenapa tidak mau terbuka juga, apa lift nya rusak?" Kyungsoo menekan-nekan tombol lift tanpa sabar tapi pintu nya tidak mau terbuka juga.

"Tunggu saja ini baru 10 detik, Kyungsoo." Chanyeol meliriknya dengan tatapan pura-pura tajam.

TING

Begitu pintu lift terbuka Kyungsoo langsung menghambur masuk dan menarik Chanyeol agar cepat masuk juga, menekan tombol 12, lantai apartemen mereka.

Cklek.

.

.

.

Betapa terkejutnya ia ketika melihat pemandangan yang selalu membuat hatinya teriris.

"A-ah." Chanyeol berbalik lagi dan menutup pintu yang sudah ia buka dan tanpa sengaja Kyungsoo menabraknya karena ia tiba-tiba saja berbalik.

"Aduh! Kau ini!" Kyungsoo mengusap hidungnya dan meraih gagang pintu untuk membuka nya. "Minggir." Kyungsoo menggeser tubuh Chanyeol agar tidak menghalangi pintu tapi Chanyeol tidak bergeser satu senti pun.

"Aada apa, awaaas." Kyungsoo masih berusaha menggesernya tapi Chanyeol tetap tidak bergeming. Salahkan saja ukuran tubuh mereka yang seperti itu.

"Ung.. " Chanyeol berharap mereka mendengar keributan Kyungsoo dan segera menghentikan kegiatan bodoh itu di dalam sana.

"Kenapa, sih!" Kyungsoo berhenti menggeser tubuh Chanyeol karena itu membuat tenggorokannya kering, melelahkan.

"Um.. ung.. ponsel ku sepertinya tertinggal di mobil, tolong ambilkan ya? Ung.. aku tidak tahan ingin ke kamar mandi. Tolong ya." Chanyeol dengan cepat masuk dan langsung menutup pintu dan menahannya dari dalam agar Kyungsoo tidak ikut masuk juga.

"YA! Tidak mau!" Kyungsoo berteriak dan menggedor pintu karena ia ingin masuk juga.

"Tolong ambilkan ponselku dulu, Kyungsooo." Chanyeol sedikit berteriak. Dia berpikir apakah Jongin sudah gila? Kenapa ia terus mencium Baekhyun padalah ia tidak tuli untuk mendengar ada Kyungsoo di dekat mereka. Bodoh!

"Cissh!" Kyungsoo berdecak sebal, tapi Chanyeol lega karena ia mendengar derap langkah yang menjauh.

"Unghh, Jongh –hhh… hhh." Baekhyun terengah-engah, dia berusaha mendorong Jongin karena ia mendengar Kyungsoo dan Chanyeol sudah datang.

Chanyeol hanya bisa memandang mereka kosong. Benar-benar menyusahkan dan menyakitkan. Tapi ia tidak pernah bisa menghentikan ini.

Baekhyun bisa mendengar derap langkah seseorang, dan dia bisa melihat wajah terluka yang selalu Chanyeol sembunyikan.

"Jonghhh–" Bukannya berhenti, Jongin malah menciumnya dengan lebih panas. Jongin tahu ada Chanyeol sekarang. Jongin juga ingin Chanyeol berhenti melakukan semua ini, Jongin selalu berusaha membuat semua nya sulit agar Chanyeol mau menyerah.

Chanyeol benar-benar marah kali ini. Kenapa Jongin malah terus mencium Baekhyun lebih dalam? Bahkan dia tahu betapa Chanyeol sangat mencintai Baekhyun. Biasa nya Jongin akan berhenti jika ia tahu ada Chanyeol di sekitar nya, tapi kali ini Jongin malah..

"Uhhk.." Chanyeol mencekik Jongin dan menjauhkan wajah nya dari Baekhyun. Membuat bibir Baekhyun sedikit berdarah karena Chanyeol menariknya kasar.

"Kau pikir apa yang kau lakukan, idiot!" Baru kali ini Chanyeol berucap kasar dan melakukan kekerasan di depan Baekhyun. Karena biasa nya Chanyeol selalu bersikap dewasa dan mengerti Baekhyun.

"Chanyeol-ah.." Baekhyun mengenggam tangan Chanyeol yang sedang mencekik Jongin, erat. Dia menatap Chanyeol dengan tatapan memohon.

"Pergi ke kamar dan bersihkan luka itu sebersih mungkin." Chanyeol berujar dingin, masih dengan mencekik Jongin.

"Tidak sebelum kau melepaskannya! Dia bisa mati!" Baekhyun meneriaki Chanyeol. Inilah yang sangat Chanyeol benci, Baekhyun meneriaki nya dan berurai air mata hanya karena pria sialan ini.

"Jangan menangis.. basuh wajahmu, sebentar lagi Kyungsoo pasti datang, aku tidak akan menyakitinya." Chanyeol melepaskan genggamannya pada leher Jongin dan menghela napas berat.

Jongin menatap Chanyeol tajam. Kenapa hanya ada Chanyeol? Dimana Kyungsoo? Kenapa ia tidak ikut masuk dan melihat semuanya?

"Cepat pergi basuh wajahmu, Baekhyunnie." Chanyeol mendorong Baekhyun pelan agar Baekhyun cepat pergi dan membasuh wajahnya sebelum Kyungsoo datang dan melihat jejak air mata di pipinya. "Aku tidak akan menyakitinya, janji." Ucap Chanyeol meyakinkan Baekhyun.

Baekhyun bergegas pergi dan tidak lama Kyungsoo datang. Chanyeol menghembuskan napas lega karena ia yang membuka pintu terlebih dulu tadi.

"Ah, Jongin, kau disini?" Kyungsoo menghampiri Chanyeol dan Jongin di ruang tamu. "Hei ponsel mu tidak ada di mobil!" Kyungsoo memukul pelan bahu Chanyeol.

"Oh, itu. Ternyata ada di saku jaketku, maaf ya." Chanyeol tersenyum seperti biasa. Jongin menatapnya kagum, bagaimana dia bisa tersenyum seperti itu setelah kejadian tadi?

"Bodoh." Kyungsoo mencibir Chanyeol dan tersenyum pada kekasih hati nya, lalu duduk dan bergelayut manja di lengan Jongin.

Chanyeol hanya tersenyum dan meninggalkan Kyungsoo bersama kekasih nya dan menyusul Baekhyun ke kamarnya.

.

.

.

"Baekhyun?" Chanyeol membuka pintu kamar Baekhyun, tapi ia tidak bisa menemukan Baekhyun di sana.

"Huks.." Chanyeol baru saja akan keluar lagi ketika ia mendengar isakan yang ia yakin adalah Baekhyun nya, ck, Chanyeol ingin sekali saja mengatakan bahwa Baekhyun adalah Baekhyunnya.

"Hei, kenapa kau masih menangis? Tidak apa, Kyungsoo tidak melihat apa-apa." Chanyeol menutup pintu pelan dan menghampiri Baekhyun yang duduk di samping ranjang yang jika di lihat dari pintu tidak akan terlihat.

DEG

Betapa kaget nya Chanyeol ketika Baekhyun menerjangnya dan memeluknya erat. Ini memang bukan pertama kali Baekhyun memeluknya, tapi Chanyeol selalu saja merasakan ada aliran listrik jika ia bersentuhan dengan Baekhyun.

"Terimakasih, Chanyeol.. huks.. huks.." Baekhyun menangis hebat di pelukan Chanyeol. Chanyeol sangat benci seperti ini. Ketika Baekhyun menangis karena masalah gila ini. Bukan pertama kali nya Baekhyun menangis karena hal ini. Chanyeol tahu Baekhyun belum siap jika Kyungsoo harus membencinya.

"Sudah, jangan menangis, bagaimana jika Kyungsoo kesini, tadi dia berlari-lari karena bilang merindukanmu. Sudah tidak apa-apa, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu." Chanyeol menepuk-nepuk pundak Baekhyun pelan untuk menenangkannya.

"Ung.." Baekhyun menjauhkan tubuhnya dan mengusap air mata nya. Dan Chanyeol merasa ada yang hilang ketika ia tidak lagi bisa memeluk Baekhyun.

"Astaga Baekhyunnie, ada apa?" Kyungsoo masuk ke kamar Chanyeol dan Baekhyun, memukul pelan kepala Chanyeol karena ia melihat Baekhyun menangis.

"A! Kyungsoo!" Chanyeol meringin pelan karena Kyungsoo memukulnya cukup keras.

"Apa?!" Kyungsoo berteriak dan bersiap memukul Chanyeol lagi tapi Baekhyun menahannya.

"H-hei, aku tidak apa-apa, jangan memukul nya sekeras itu. Bagaimana jika dia jadi bodoh?" Ucap Baekhyun sambil sedikit bergurau.

Kyungsoo menghapus jejak air mata di pipi Baekhyun tapi dia melihat sesuatu di wajah Baekhyun yang membuat nya ingin memukul Chanyeol lagi. Tapi karena Baekhyun menahan tangannya, jadi Kyungsoo berinisiatif menendang tulang kering Chanyeol.

"Astaga! Sakit! YA!" Chanyeol melompat-lompat sambil memegangi kaki sebelah kirinya yang baru saja di tendang dengan sangat keras oleh sepupu tersayang nya itu.

"Kenapa kau kasar sekali, kau membuat bibir Baekhyunnie berdarah!" Ucap Kyungsoo setelah ia menendang keras kaki sepupu raksasanya itu.

Chanyeol berhenti melompat dan dia dapat melihat wajah Baekhyun yang di penuhi dengan rasa bersalah di belakang Kyungsoo. Chanyeol bisa melihat mata Baekhyun berkaca-kaca.

"Kalau begitu, tolong ambilkan obat di kotak obat ya, Kyungsoo." Chanyeol mendorong Kyungsoo keluar dari kamar nya. Chanyeol tidak ingin Baekhyun merasa bersalah jika Kyungsoo masih di sini, setidaknya untuk keadaan seperti ini.

"Walau tidak kau suruh pun aku akan mengambilnya." Kyungsoo keluar dari kamar mereka dan Chanyeol mengunci pintu nya dari dalam.

"Istirahatlah, Baekhyun, jangan menangis lagi." Chanyeol menuntun Baekhyun menuju ranjang mereka dan merebahkan Baekhyun di sana, menyelimutinya dan mengusak pelan rambutnya. Baekhyun hanya pasrah, menangis lumayan membuat nya lelah.

Chanyeol duduk di sisi lain ranjang memunggungi Baekhyun. Baekhyun benar-benar beruntung karena punggung itu selalu melindungi dan selalu menjadi tempat nya untuk bersandar. Kadang Baekhyun berpikir kenapa ia tidak mencintai Chanyeol saja? Mungkin semua nya akan terasa lebih mudah jika ia mencintai Chanyeol.

"Huks.." Baekhyun tidak dapat menahan isakannya jika ia ingat tentang cinta yang sulit ini.

"Hhhh–" Lagi-lagi Chanyeol harus menghela napas nya berat. Kenapa Baekhyun masih menangis juga?

"Untuk apa semua pengorbananku jika kau masih terus menangis, Baekhyun. Kumohon, berhentilah menangis." Ucap Chanyeol lembut sambil membelai surai kecoklatan Baekhyun pelan.

"Huk.." Baekhyun masih saja terisak walau Chanyeol sudah menenangkannya berkali-kali. Bibirnya bergetar karena berusaha menahan isakannya. Chanyeol melihat bibir itu, bibir merah Baekhyun yang selalu menjadi milik Jongin. Chanyeol berpikir bagaimana rasa nya bibir Baekhyun jika ia menciumnya.

Perlahan tapi pasti Chanyeol mendekatkan wajah nya pada wajah Baekhyun. Mata Baekhyun sedang terpejam sekarang, jadi mungkin ia tidak tahu jika wajah Chanyeol sudah tinggal seujung kuku di depan wajahnya.

Baekhyun membelalakan matanya begitu ia merasakan sesuatu yang begitu lembut berada di atas bibirnya. Hanya menempel. Ini adalah pertama kali nya bibir Chanyeol berada di atas bibir nya. Tidak ada pergerakan apapun dari Chanyeol, dan Baekhyun pun terlalu terkejut untuk melakukan sesuatu.

Tapi perlahan, Chanyeol mulai membuka mulut nya dan menghisap bibir bagian atas Baekhyun. Chanyeol dapat merasakan jantung nya berdetak tidak terkontrol. Ini adalah pertama kali nya ia berani menyentuh Baekhyun terlebih dahulu. Biasanya, jika mereka berpelukan atau bersentuhan, itu adalah Baekhyun yang memulainya.

Chanyeol mulai memperdalam ciumannya, membelai lembut pipi Baekhyun dan betapa senang nya ia ketika Baekhyun mulai membalas ciumannya. Perlahan Chanyeol menurunkan tangannya pada leher Baekhyun, mengusapnya pelan yang berhasil membuat Baekhyun mendesah kecil.

"Enghh.."

DOK DOK DOK

"Hei, kenapa pintu nya di kunci!" Kyungsoo mengganggu saja, pikir Chanyeol.

Dengan perlahan Chanyeol melepaskan tautan bibirnya. Mengusap bibir Baekhyun yang basah karena aktifitas lidahnya, dan beranjak ke dekat pintu.

"Biarkan Baekhyun menjadi milikku hari ini Kyungsoo, makanlah dan istrirahat." Chanyeol berucap sedikit keras karena terhalang pintu. Menarik kunci di pintu dan menyimpannya di meja nakas dekat kasur lalu kembali kepada Baekhyun yang menatapnya dengan mata sembab.


.

.

TBC

.

.


/ehem/ pertama-tama saya mau meminta maaf karena ini masih berlanjut alias to be continue.

sebenernya mau saya sudahi di sini, tapi karena ada tapi nya, ayo berlanjut di Chapter berikutnya. hehe~~

Yang jelas saya mau berterimakasih pada reviewers yang mau memberi apresiasi kepada karya saya yang tidak berharga ini. kalian Jjang!

Dan untuk siders, sampai kapan kalian mau jadi hantu? hihihi, serem juga. Curhat aja sejujurnya siders benar-benar menurunkan gairah(?) saya dalam menulis, tapi ya sudah lah, siders toh tetep siders, thanks for reading aja.

Semoga ini tidak mengecewakan, ya.

oh dan, maaf untuk typo.

Big thanks to all my beloved reviewers *Bow Bow Bow*