Disclaimer : Selain cerita bukan punya saya.

Kirigakure Playground

10 Desember X784

16.50 p.m

Langit sore terlihat indah di kala itu. Burung-burung pun berterbangan untuk kembali ke sarang mereka. Suasana disini merupakan suasana sore yang sempurna. Anak-anak kecil pun bermain dengan riangnya di taman bermain. Pemandangan seperti ini membuat Naruto merasa nyaman.

Naruto kini sedang duduk di sebuah bangku berseberangan dengan taman bermain di depannya. Di sampingnya juga ada Kiba yang menemani. Naruto sungguh menikmati suasana sore kali ini.

"Naruto..." suara Kiba lirih.

Naruto tidak merespons panggilan Kiba. Dia tetap memandang lurus ke arah anak-anak yang sedang bermain.

"Naruto, apapun yang ingin kau lakukan aku akan selalu mendukungmu. Kau tahu kan, kalau kita ini saudara? Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku akan selalu di sampingmu apaun yang terjadi," ucap Kiba.

Naruto tidak memberikan respons yang berarti. Dia masih diam dan fokus ke taman bermain di depannya.

"Hahh, kau tahu Naru-Nii. Setahuku tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Walaupun itu kanker komplikasi sekalipun," ucap Kiba.

Kanker? Ya. Setelah pertarungannya dengan Mizukage, dia tiba-tiba pingsan lalu dibawa ke rumah sakit. Setelah didiagnosis ternyata Naruto mengalami kanker yang parah, bahkan sangat parah.

"Ya kau benar. Kankernya hanya ada di hati, paru-paru, prostat, dan otak. Aku masih dapat hidup tanpa semua itu," ucap Naruto. Dia merasa dirinya benar-benar akan mati dalam waktu dekat. Dia merasa putus asa.

"Apapun yang kau katakan, aku yakin kau adalah orang yang sama. Naru-nii yang aku kenal tidak pernah putus asa. Yah, mungkin biasanya kau putus asa tapi dalam waktu dekat kau akan merasa optimis lagi. Itulah kelebihanmu yang tidak dimiliki orang lain."

Naruto tersenyum kecil. Dia menoleh kearah Kiba dan menepuk pundaknya. "Terima kasih Kiba. Kau memang seorang saudara terbaik di dunia." Kiba tersenyum mendengarnya.

"Kau tahu Kiba? Kau memang benar. Penyakit seperti apapun itu pasti masih ada obatnya. Walaupun kata mereka tidak mungkin, aku yakin masih ada yang bisa menyembuhkannya," ucap Naruto sambil tersenyum.

Kiba menambah senyumannya. Dia lalu menyerahkan sebuah kotak yang daritadi dia sembunyikan.

Naruto mengernyit heran. "Apa ini?" tanya Naruto sambil mengambil kotak yang diserahkan Kiba.

Kiba berdiri dari duduknya dan berucap, "Ini adalah pemberian dari semua teman-temanmu Naru-Nii. Tapi jangan berpikir ini adalah hadiah terakhir sebelum kematianmu, haha. Kami berharap kau dapat bersemangat kembali seperti biasanya. Sudah ya, aku ingin pulang dulu. Dan sebaiknya kau juga segera pulang sebelum makan malam." Kiba melenggang menjauh dari Naruto bersama para orang tua yang menjemput anaknya.

Naruto membuka kotak berukuran lumayan besar itu. Dan kini terlihat isi dari kotak itu. Puluhan lembar foto dan beberapa benda yang dibungkus. Naruto melihat foto-foto di kotak itu. Foto-foto itu merupakan kenangan-kenangan Naruto selama berada disini. Ada foto saat dia Mihawk saat bertarung bokken, saat umurnya 7 tahun. Saat dirinya belajar memasak dengan Zeff dan Sanji. Saat dirinya, Kiba, Perona, dan Sanji sedang makan es krim di taman. Saat dirinya, Kiba, dan Sanji dihukum karena telah menyusup dalam medan perang. Dan masih banyak lagi foto-fotonya.

Naruto mulai menitikkan air matanya. Semua kenangan ini merupakan kenangan berharga baginya. Dia tidak ingin semua kenangan ini akan berakhir disini. Dia ingin sembuh, demi semua orang yang dia sayangi, dan yang menyayanginya.

Dia mengambil salah satu benda yang terbungkus. Sebuah pedang seukuran telapak tangannya. Dia membuka bungkus-bungkus yang lain. Boneka, pedang, spatula, topi koki, dan beberapa lainnya. Dia mengerti, benda-benda ini merupakan simbol dari semua teman-temannya.

Seorang pria paruh baya berjalan mendekati Naruto. Pria itu duduk di aamping Naruto. "Kau punya teman-teman yang baik," ucap pria itu. Naruto mengangguk mengiyakan.

"Sayang sekali kau akan meninggalkan mereka setelah mati akibat kanker," ucap pria itu.

Naruto heran karena orang disampungnya tahu dia terkena kanker. Naruto menoleh ke pria disampingnya. Dia melihat seorang pria berambut hitam panjang dengan mata merah menyala sedang bersandar disampingnya. Pria itu tersenyum misterius kepadanya.

"Bagaimana kau bisa tahu? Siapa kau?" tanya Naruto selidik.

"Perkenalkan namaku Kokabiel. Aku dari divisi kesahatan Kirigakure. Aku ingin menawarkanmu sesuatu."

"Menawarkan apa?" tanya Naruto. Dia tampak belum sepenuhnya percaya pada orang yang bernama Kokabiel ini.

"Aku ingin menawarkan kesembuhanmu. Kami bisa menyembuhkan kankermu dengan metode yang sedang kami kembangkan. Kami dapat menyembuhkanmu 100 persen."

Naruto terkejut mendengarnya. Dia merasa sangat senang sekali saat ini. Sepertinya memang madih ada harapan untuknya. "Kau-kau serius? Tapi, mereka bilang tidak ada yang bisa menyembuhkan."

"Yah, ini memang masih kami kembangkan. Belum banyak orang yang mengetahuinya. Kau akan menjadi yang pertama menjalani pengobatan ini."

"Begitu ya," ucap Naruto lirih. Ini merupakan kesempatan emas baginya. Tapi, dia tidak dapat sepenuhnya percaya pada orang yang baru saja ia temui ini. Tapi jika ia menolak, mungkin dia tidak akan pernah punya kesempatan lagi.

"Akan kupertimbangkan," ucap Naruto.

"Bagus. Aku harap kau cepat mengambil keputusan. Karena tidak ada yang tahu kapan kau akan mati. Ini kartu namaku. Datangi aku di tempat ini," ucap Kokabiel sambil menyerahkan sebuah kartu yang berisi data dirinya dan tempatnya.

"Sudah dulu ya. Aku mau pergi dulu." Kokabiel pun melenggang pergi dari tempat itu.

Naruto menatap lekat kartu yang diberikan Kokabiel. Dia memasang ekspresi yakin di wajahnya.

'Tidak ada pilihan lain. Aku akan melakukannya.'

.

Dracule's Sword Dojo

11 Desember X784

03.00 a.m

Naruto kini sedang bersiap-siap. Dia membawa semua pedangnya dan memakai pakaian yang sama saat bertarung dengan Mei. Naruto berniat untuk pergi ke tempat Kokabiel tanpa memberitahu semuanya. Dia tidak ingin semua orang mengkhawatirkannya lagi. Dia membuka pintu geser kamarnya dengan sangat pelan agar Kiba tidak terbangun.

"Mau kemana Naru-Nii?" tanya Kiba yang ternyata sudah terbangun.

Naruto terkejut. "Eh, aku-aku ingin ke kamar mandi. Ya, aku ingin ke kamar mandi hehe," balas Naruto sambil tertawa canggung.

"Jangan bohong padaku. Sebenarnya mau kemana kau Naru-Nii?" tanya Kiba lagi. Naruto menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin memberitahukannya pada Kiba.

"Huft, jadi kau tidak mauemberitahuku ya? Baiklah jika itu maumu. Aku tidak memaksamu. Aku sudah bilang aku akan selalu mendukungmu."

Naruto mengangkat kepalanya. "Hei Kiba, tolong jangan beritahu siapapun. Aku mohon padamu."

Kiba tersenyum. "Baiklah, tapi kau harus menjanjikan satu hal."

Naruto penasaran dengan janji yang dimaksud Kiba. "Menjanjikan apa?"

"Kau harus janji kau harus pulang dengan selamat."

Naruto terdiam. Dia lalu tersenyum. "Tentu saja dasar bodoh. Aku akan pulang. Lagipula aku tidak akan pergi lama." Kiba tersenyum lega. Ini membuat dirinya tidak khawatir lagi mengenai Naruto.

Naruto membuka pintu. "Sudah ya. Sampai jumpa lagi Kiba." Naruto beranjak keluar. Sekarang tujuannya adalah alamat di kartu itu.

.

Skip Time

Naruto sekarang berdiri di depan sebuah pintu besi di dalam hutan. Tempat ini sangat sepi hanya ada dia seorang disini. Dia tidak yakin ini adalah tempat yang dikaakan Kokabiel. Tapi, dilihat dari peta kecil di tangannya ini memang tempatnya. Dia membuka pintu besi yang bersatu dengan sebuah pohon itu.

Di dalam pintu terdapat tangga menurun. Naruto turun melalui tangga itu. Saat sampai dibawah dia membuka lagi sebuah pintu di depannya. Dan sekarang dia berada di sebuah lorong. Di dalam sini dia melihat beberapa orang memakai jas putih yang dia asumsikan jas lab. Seorang perempuan berambut hitam panjang berjalan mendekatinya.

"Apa kau Naruto?" tanya perempuan itu. Naruto mengangguk.

"Kokabiel-sama sudah menunggumu. Mari ikut denganku. Aku akan mengantarkanmu padanya," ucap si perempuan.

Naruto mengikuti perempuan tadi. Mereka berdua berjalan dalam diam. Dalam perjalanan itu Naruto dapat melihat orang-orang berjas putih berjalan mondar-mondir di lorong itu. Mereka berdua berhenti di depan sebuah pintu. Perempuan itu membuka pintunya.

"Permisi," ucapnya.

"Masuk." Perempuan itu dan Naruto masuk ke dalan ruangan.

"Oh, Raynare... dan juga Naruto-san ya?" ucap pria yang duduk di belakang meja kerjanya.

"Benar Kokabiel-sama. Saya sudah mengantarkannya kesini sesuai permintaan anda," ucap perempuan yang dipanggil Raynare itu.

"Terima kasih. Kau boleh pergi sekarang Raynare," ucap Kokabiel. Raynare menundukkan badannya sebelum keluar dari ruangan itu.

"Terima kasih sudah mau datang Naruto-san."

Naruto tidak menggubris ucapan terima kasih Kokabiel. Dia memberikan pertanyaan kepada Kokabiel. "Jadi, bagaimana? Bagaimana caranya kau akan menyembuhkan penyakit ini?"

"Huh, kau sudah tidak sabar ya? Baiklah, ayo ikut aku."

Kokabiel membuka pintu di belakangnya. Naruto mengikuti Kokabiel ke ruangan sebelah. Di ruangan ini Naruto dapat melihat bantak peralatan-peralatan yang dia asumsikan adalah benda-benda kedokteran. Dia juga dapat melihat beberapa orang yang berbaring di atas tempat tidur.

"Ini adalah tempat kami untuk melakukan penyembuhan. Semua dokter dan ilmuwan disini dapat diandalkan," ucap Kokabiel. Kokabiel berhenti di salah satu tempat tidur yang kosong dan mempersilahkan Naruto untuk berbaring. "Berbaringlah disini."

Naruto mengikuti kara Kokabiel. Dia berbaring di atas kasur itu. Kokabiel merapal beberapa handseal.

"Fuinjutsu: Power Lock!" Kokabiel meletakkan tangannya di aras perut Naruto. Sebuah segel terbentuk di atas perut Naruto.

"Apa ini?" tanya Naruto kebingungan.

"Aku mengunci kekuatanmu. Tapi, tidak seluruhnya. Aku melakukan ini agar proses penyembuhannya berjalan dengan baik. Kuharap kau tidak keberatan," ucap Kokabiel. Dia mengikatkan tangan, kaki, dan leher Naruto di tempat tidurnya.

"Kenapa kau mengikatku?" tanya Naruto. Dia mempunyai firasat buruk tentang hal ini.

"Agar kau tidak banyak bergerak saat operasi dimulai. Kami tidak akan menggunakan obat bius dalam operasi ini," ucap Kokabiel. Dia tersenyum aneh kepada Naruto. "Tenang saja, kau akan baik-baik saja."

"Lalu, kapan operasinya akan dimulai?" tanya Naruto.

"Sekarang. Aku akan membawamu ke tempat kita akan melakukan operasi. Operasi ini mungkin akan memakan waktu lama. Jadi, aku harap kau merasa nyaman dengan ini semua."

Kokabiel membawa mendorong tempat tidur Naruto. Ini merupakan operasi yang akan menentukan hidup mati Naruto. Sementara Kokabiel tersenyum misterius. Sebenarnya apa yang dipikirkan Kokabiel?

.

Kokabiel's Hideout

5 Maret X785

05.00 a.m

Tempat ini bukanlah tempat penyembuhan atau rumah sakit. Rumah sakit merupakan tempat dimana pasien mendapatkan perawatan yang nyaman oleh para dokter dan perawatnya. Tempat ini merupakan kebalikan dari semua itu. Bukanlah perawatan yang pasien dapatkan. Justru siksaan menyakitkan yang tiada henti tiap harinya. Semua siksaan itu merupakan metode penyembuhan yang diterapkan Kokabiel. Tubuhmu akan diberi rasa sakit secara terus menerus agar sel-sel dalam tubuhmu dapat menjadi lebih kuat, sampai kau menjadi makhluk hidup baru. Mutan.

Naruto kini sedang menghadapi siksaannya. Hari ini dia disetrum dengan listrik bertegangan tinggi. Dirinya sungguh merasakan sakit yang amat sangat di sekujur tubuhnya. Dirinya telah menerima berbagai macam siksaan setiap harinya. Akibatnya, tubuhnya kini sudah tidak seperti sedia kala lagi. Luka-luka sayatan di seluruh badannya dan juga luka-luka bakar menyelimuti seluruh tubuhnya. Bekas-bekas luka itu permanen.

Naruto diseret keluar dari kurungan besi itu. Dia dibaringkan dengan kasar di atastempat tidurnya. Tangan, kaki, dan lehernya diikat agar dia tidak bisa bergerak. Lalu, dia ditempatkan di sebuah ruangan bersama dengan 'pasien' lainnya.

Naruto menengok ke samping dan dapat melihat seorang pria paruh baya yang bernasib sama dengannya. Pria itu juga menatap balik Naruto.

"Kasihan sekali kau nak. Kau masih muda dan sudah terjerumus ke tempat ini," ucap kakek itu. Dia mengalihkan pandangannya ke langit-langit.

"Kau tahu, aku punya seorang anak perempuan. Dia sangat cantik dan imut. Persis seperti ibunya." Pria itu menitikkan air mata. Bagi dirinya, meninggalkan anaknya adalah hal paling menyakitkan. Dirinya sungguh menyesal telah meninggalkan anaknya dan malah terjerumus ke tempat seperti ini.

Pria itu menoleh ke Naruto. "Siapa namamu?"

"Naruto," jawab Naruto singkat.

"Naruto ya, perkenalkan namaku Bar-"

"Wah wah wah, apa ini? Jadi kau sudah punya teman disini ya, Naruto?" ucap Kokabiel. Sia berjalan mendekati Naruto.

Sementara itu, Naruto muak mendengar suara ini lagi. Dulu, dia pikir orang ini adalah seorang dokter yang baik. Tapi, semua itu berubah semenjak dia tahu rencana sebenarnya dari orang ini.

Kokabiel menoleh kearah pria yang berbicara dengan Naruto. "Huh, kau rupanya," ucap Kokabiel.

Pria yang dibicarakan oleh Kokabiel menggeram marah. "Cepat lepaskan aku brengsek! Aku akan memukul wajah bedebahmu sekarang juga!"

Kokabiel terkekeh, "hehe, aku harap kau bisa melupakan masa lalu dan memikirkan masa depan. Aku juga berterima kasih padamu. Jika bukan karenamu penelitian ini tidak akan pernah berhasil."

"Dasar kau brengsek! Aku akan membunuhmu!" teriak pria itu. Kokabiel menghiraukannya.

"Apa kalian tahu kenapa aku melakukan semua ini?" ucap Kokabiel. Keduanya diam.

"Sebenarnya aku ingin menjual kalian sebagai budak. Banyak orang yang membutuhkan budak dengan kemampuan mutan. Itu adalah bisnis yang menguntungkan. Tapi, bukan hanya itu." ucap Kokabiel.

"Aku ingin membuat pasukan mutanku sendiri. Mutan lebih kuat daripada manusia biasa. Jika aku punya pasukan mutan dan banyak uang, itu sangat menyenangkan iya kan?" ucap Kokabiel. Kedua orang yang dia ajak bicara merasa marah.

Kokabiel menatap Naruto. "Kau tahu Naruto, kau sudah terlalu lama menjalani 'pengobatan' dan belum memberikan hasil yang signifikan," ucap Kokabiel pada Naruto. Naruto masih diam saja.

"Aku akan memberimu 'pengobatan' yang terakhir. 'Pengobatan' ini hanya akan berakhir jika kau berhasil menjadi mutan atau jika kau mati. Kau adalah pasien pertama yang masih hidup setelah menjalani 'pengobatan' selama hampir 3 bulan. Kau seharusnya bangga dengan itu." ucap Kokabiel. Dia mengambil sepuntung rokok dan korek api dari saku celananya.

Naruto mencoba berontak dari ikatan di lehernya. Dia membenturkan kepalanya dengan kepala Kokabiel. Rokok dan korek api Kokabiel pun jatuh dari tangannya.

"Fufufu, kau memang orang yang tak kenal menyerah ya? Kalau begitu ayo kita pergi," ucap Kokabiel.

.

Skip Time

Naruto kini dibaringkan di sebuah tempat tidur berbentuk tabung yang terbuat dari kaca. Dihadapannya berdiri Kokabiel dan Raynare bawahannya.

"Kau tahu, kami jarang menggunakan benda ini. Benda ini adalah siksaan terberat kami," ucap Kokabiel.

"Tabung ini akan disedot oksigennya sampai kau akan merasakan sensasi tercekik. Semakin lama semakin banyak pula oksigen yang akan disedot. Kau akan bersusah payah untuk bernafas, jadi kusarankan kau untuk menghemat oksigen," ucap Kokabiel. Naruto masih bungkam.

"Baiklah kalau begitu. Raynare, lakukan sekarang," ucap Kokabiel pada perempuan disampingnya. Raynare mengangguk. Dia menutup tabungnya lalu mengaktifkan penyedot oksigennya.

Seketika mata Naruto membulat. Dia merasa kesulitan untuk bernafas. Dia tidak dapat merasakan udara di sekitarnya. Lehernya terasa tercekik dengan sangat kuat seakan diikat dengan ikatan yang kencang. Dia berusaha berontak tapi apa daya dia tidak punya kekuatan untuk lepas dari ikatannya ini. Perlahan demi perlahan tubuhnya menjadi buruk rupa (A/N: seperti Deadpool atau Wade Wilson).

.

Skip Time

Beberapa jam telah berlalu. Naruto terkulai tidak kuat dia gerakkan lagi. Dia mengambil nafas pendek-pendek. Kokabiel berjalan mendekati Naruto. Dia membuka tabung yang menutupi Naruto. Seketika Naruto menarik nafas panjang. Dirinya merasa sangat lega karena dapat menghirup udara yang cukup lagi.

"Hmm, apa ini? Apakah efek samping? Yah, hal seperti ini memang bisa saja terjadi tapi ini jarang terjadi. Untungnya, efeknya belum mengenai wajahmu ya. Kalau tidak kau pasti terlihat seperti monster," ucap Kokabiel. "Selain itu, sel mutan dalam tubuhmu belum juga terbentuk ya?" sambungnya.

Dalam hati Naruto menggeram marah. Sungguh, dia ingin sekali memukul wajah orang brengsek ini.

"Kalau begitu, apa boleh buat. Aku akan memulainya lagi sampai kau benar-benar menjadi muran atau mati. Sayang sekali, kalau kau harus mati. Kau mempunyai kemampuan bertarung yang hebat Naruto," ucap Kokabiel. Dia menutup kembali tabungnya dan melakukan penyedotan oksigen. Dia lalu meninggalkan Naruto sendiri.

Sekali lagi Naruto harus menahan rasa sakit cekikan di lehernya. Setiap kali dia mencoba menarik nafas semakin kuat juga rasa cekikan di lehernya. Dia menoleh kearah kirinya. Dia melihat sebuah lubang kecil yang diatasnya tertulis 'Oxygen'.

'Sial! Kenapa aku baru menyadarinya!' umpat Naruto dalam hati.

Dia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Itu adalah sebuah batang korek api yang dia dapat dari Kokabiel saat ingin menyalakan rokoknya. Dia mengambil korek itu untuk jaga-jaga kalau dia sewaktu-waktu membutuhkannya. Dia meniupnya ke tangan kirinya dan dia tangkap. Dia mencoba menyalakannya dengan menggesekkannya dengan permukaan besi yang kasar di sampingnya.

'Bagus!'

Korek api tersebut berhasil dia nyalakan. Dia mengarahkan koreknya kearah lubang oksigen disampingnya. Dia melemparkannya dan berhasil jatuh tepat di lubang oksigen.

'Yeah! Sekarang bersiap untuk kejutannya.' Naruto menutup matanya.

Oksigen merupakan zat yang mudah terbakar. Jika api dari korek itu merambat dari pipa itu sampai ke tabung penyimpan oksigennya, maka yang akan terjadi adalah...

Boom!

Ledakan pun terjadi. Seluruh ruangan tempat Naruto berada sudah hancur berantakan. Tabung yang menutupi dirinya pun juga ikut hancur. Semua ikatan yang megikat dirinya sudah terlepas. Dia bangun dari tidurnya. Dia menatap keadaan tubuhnya. Sudah hancur. Semuanya sudah hancur terutama badannya kecuali wajah, tangan, dan kakinya akibat efek sampingnya.

Shinobi-shinobi penjaga bermunculan dari pintu ruangan. Mereka melihat Naruto yang berjalan kearah mereka. "Hei, berhenti disana! Aku bilang berhenti atau kami akan membunuhmu!" teriak salah satu dari mereka. Seakan tidak mendengarkan, Naruto tetap saja berjalan kearah mereka.

Para shinobi mulai memegang kunai dan shuriken mereka masing-masing. "Aku peringatkan sekali lagi! Diam disana atau maju selangkah lagi dan kau akan mati!" ucap salah satu dari mereka. Naruto terdiam sebentar. Dia lalu berjalan lagi kearah mereka.

Para shinobi itu melemparkan kunai dan shuriken mereka masing-masibg kearah Naruto. Semua tembakan mereka tepat sasaran dan mengenai tubuh Naruto, beberapa ada yang mengenai organ vital.

"Sudah kubilang kan? Baiklah semuanya, ayo kita bersihkan tempat ini!"

Tak diduga, Naruto masih dapat bergerak dan mencabut salah satu shuriken yang menancap di tubuhnya. Dia melemparkan shuriken itu kearah salah seorang shinobi disana. Shuriken tersebut mengenai tenggorokannya dengan sempurna dan membuatnya mati seketika.

'Ti-tidak mungkin."

"Dia masih hidup?"

"Ba-bagaimana bisa?"

Luka bekas tancapan shuriken tadi mulai sembuh dengan cepat. Para shinobi yang melihatnya membulatkan matanya tidak percaya. Bagaimana mungkin lukanya bisa sembuh secepat itu?

Naruto mengambil lagi shuriken-shuriken dan juga kunai-kunai yang menancap di tubuhnya. Dia melihat ada 10 orang di depannya dan 7 senjata ditangannya. Dia melemparkan semuanya dalam satu kali lemparan. 4 kunai sukses mengenai 4 orang dan sisanya dapat menghindarinya.

'Cih, sial! Jika saja orang brengsek itu tidak menyegel kekuatanku, aku pasti bisa mengalahkan mereka dengan mudah,' umpat Naruto dalam hati.

Naruto mengambil 2 kunai lagi yang masih tersisa di tubunya. Dia sedang mengincar orang yang dia pikir paling lengah.

'Yang itu.'

Dia melihat kearah shinobi yang bertubuh paling kecil. Dia berlari kearahnya sekuat tenaganya. Si shinobi berambut coklat incaran Naruto mengeratkan pegangan kunainya. Naruto berada tepat dihadapannya sekarang. Sepersekian detik kemudian, Naruto menghilang dari pandangannya.

"Apa!? Semuanya, jaga-jaga!" ucap shinobi berambut coklat.

Setelah itu, Naruto muncul lagi dibelakang shinobi lain yang berbadan besar. "Dasar bodoh. Kau ini ingin bertarung atau menari, hah?" ucap Naruto. Dia menusukkan kunainya ke belakang punggung shinobi itu. Shinobi itu pun mati seketika. Naruto mengambil semua peralatan ninja miliknya. Dia mengeluarkan 2 bom asap dari kantung ninjanya.

"Sial! Dia ingin menggunakan bom asap! Dia ingin kabur! Cepat hentikan dia!" ucap shinobi berambut coklat. Dia dan teman-temannya berlari dengan cepat kearah Naruto. Tapi terlambat. Naruto meledakkan kedua bom asapnya lebih dulu.

"Siapa yang ingin kabur?"

Shinobi berambut coklat itu tersentak kaget. Dia mendengar suara tebasan dari belakangnya.

"Kau!? Dasar pengecut! Lawanlah aku tanpa menggunakan trik licik seperti ini!" Teriaknya. Dia mendengar suara tebasan lagi dari kanannya.

"Arrghh!" Terdengar jeritan dari temannya. Orang ini benar-benar berbahaya.

"Jika kalian masih menyayangi nyawa kalian. Cepat pergilah! Kalau tidak, tunggulah giliran kalian untuk mati," uxap Naruto.

Shinobi berambut coklat itu mengumpat dalam hati. Apa yang harus dia lakukan? "Tidak akan, brengsek! Kaulah yang seharusnya menyerah! Kau kalah jumlah!" Teriaknya.

Naruto tertawa dalam hati. Memang benar dia kalah jumlah. Tapi dialah yang mempunyai keuntungan disini. "Baiklah. Bersiaplah!"

Shinobi itu bersiap-siap akan datangnya serangan. Dia mendengar suara tebasan di kanannya. Tak lama kemudian, dia juga mendengar tebasan lagi dari depannya.

"Arggh!"

'Sial! Apa dia sudah berhasil mengalahkan mereka semua!? Dia benar-benar berbahaya.' batinnya.

Setelah semua temannya kalah, kini tinggallah dia seorang yang masih bertahan. Dia mengeratkan pegangannya pada kunainya. Dia sudah siap akan datangnya serangan darimana saja.

Dia merasakan pergerakan dari depannya. Dan benar saja, Naruto melesat kearahnya dengan kaki kanannya mengarah ke perutnya. Dia memegang kaki Naruto dengan kedua tangannya. Lau, dia membanting Naruto ke tanah.

Naruto berusaha bangkit kembali. Shinobi itu melemparkan sebuah kunai dengan kertas peledak kearah Naruto. Naruto yang melihat itu mengambil kunai itu dan melemparkannya kembali ke shinobi dengan cepat. Naruto melempar kunainya kearah kunai dengan kertas peledak. Kunai itu saling bergesekan membuat percikan api mengenai kertas peledak. Kertas itu meledak saat berada di dekat shinobi.

Shinobi itu jatuh ke tanah. Tubuhnya terkulai akibat dari ledakan tadi. Naruto mendekati shinobi itu. Dia menghunuskan kunai ke leher shinobi itu.

"Cepat katakan dimana Kokabiel sekarang!" perintah Naruto. Shinobi itu diam saja. Dia tidak mau membeberkannya pada orang ini.

"Kalau kau tidak segera memberitahuku, aku akan membunuhmu! Cepat katakan!" ancam Naruto sambil menekankan kunainya lebih dalam ke leher si shinobi. Shinobi itu mengerang kesakitan.

"Tidak akan! Aku tidak akan memberitahukannya!" ucap si shinobi.

"Baiklah." Naruto menusukkan kunainya ke leher si shinobi. Membuat si shinobi tidak bernyawa lagi.

"Huh, aku tidak pernah membunuh orang sebanyak ini semenjak perang berakhir," ucapnya. Dia mengganti baju pasiennya dengan pakaian milik si shinobi.

"Aku harus kembali ke dojo ayah, atau memberitahukan ini kepada Mei-Baa-chan. Masalah Kokabiel bisa diurus belakangan. Tapi..." Naruto mengambil satu kunai dari lantai. Dia menggoreskan kunainya ke tangannya. Satu detik kemudian goresan yang ia buat sembuh kembali dengan sempurna.

"Oh Boy..."

.

Dracule's Sword

6 Maret X785

09.00 a.m

Kiba dan Perona sedang duduk di depan dojo. Mereka berdua sedang makan bento mereka. Perona menyandarkan kepalabya pada bahu Kiba. Mereka berdua terlihat menampakkan ekspresi sayu.

"Hei, Kiba-kun. Apa Naru akan kembali?" tanya Perona. Sudah hampir 3 bulan dia tidak melihat si makhluk kuning itu. Hal yang tidak pernah ia sangka kini terjadi. Dia merindukannya. Sangat.

"Dia pasti akan kembali Perona. Dia sudah janji akan kembali. Dia tidak akan ingkar," ucap Kiba. Dia mengetahui bahwa Perona merindukan sosok Naruto yang setiap hari bertengkar dengannya. Dan dirinya juga merindukan sosok kakaknya itu.

Perona mengangguk. Dia mencomot sebuah bento lagi. Dia pikir dengan makan bento akan meredam sedikit kesedihannya. Dia memeluk boneka beruangnya dengan erat.

"Apa kau mau ke tempat Mizukage, Perona? Ayo kita ajak mereka makan siang nanti," ajak Kiba. Di saat seperti ini, berkumpul dengan semua teman-teman adalah hal terbaik menurutnya. Setelah kepergian Naruto, mereka juga masih terguncang atas kepergian orang lain yang penting dalam hidup mereka.

Perona membalas Kiba dengan anggukan.

.

Mizukage Office

6 Maret X785

11.59 a.m

Mei sedang duduk termenung di kursinya. Di depannya ada banyak sekali kertas yang tertumpuk. Dia tidak memedulikannya. Dia lebih memilih untuk memikirkan hal yang lain. Dimana Naruto sekarang?

"Umm, Mizukage-sama. Apakah anda bisa menyelesaikan semua ini dulu?" ucap Ao yang ada disampingnya. Daritadi dia hanya melihat mizukagenya ini melamun. Akibatnya dialah yang harus menyelesaikannya.

"Ao, apa ada kabar tentang keberadaan Naruto?" tanya Mei.

Ao menggeleng. Dia mengerti bahwa Mei sangat mengkhawatirkan Naruto ini. Setiap saat Lady Mizukage ini selalu menanyakan hal itu padanya. Sebenarnya dia juga khawatir tentang Naruto.

Para tetua desa yang mengetahui ini pun curiga. Mereka berpikir Naruto telah menjadi pengkhianat dan meninggalkan desa. Dengan kemampuannya yang mampu mengimbangi Mizukage tentu saja itu hal yang sungguh berbahaya. Oleh karena itu, para tetua menyatakan Naruto sebagai buronan desa. Mizukage tentu tidak setuju, akan tetapi pernyataan itu disetujui oleh daimyo Mizu no Kuni.

"Begitu ya."

Suara ketukan terdengar dari pintu.

"Masuk," ucap Mizukage.

Dari pintu itu muncul Kiba dan juga Perona. Mei berbinar melihat mereka. Dia langsung melompat dan memeluk mereka. "Ah, aku senang sekali melihat kalian berdua Kiba-chan Perona-chan," ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.

"Ah, kami juga senang Mizukage-sama."

"Ugh, lepaskan aku! Sesak!"

Mei melepaskan pelukannya. Dia tersenyum manis pada mereka berdua. "Ada apa Kiba-chan, Perona-chan?" tanya Mei.

"Kami ingin mengajak anda untuk makan siang di restoran Zeff-san. Tapi, jika anda sibuk-"

"Oh, benarkah? Aku sangat senang bisa makan siang bersama kalian. Tentu saja aku mau," ucap Mei dengan riang.

"Ao, ayo ikut dengan kami," ajak Mei pada Ao. Ao terlihat ragu. Masih ada banyak pekerjaan disini. Dia tidak bisa menelantarkannya begitu saja.

"Ayolah Ao! Cuma sekali ini saja,"

Ao pun setuju. Sekali-kali dia melupakan pekerjaannya tidak apa-apa kan?

"Baiklah, kalau begitu ay-"

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu terdengar. Mei menggurutu sebal dengan orang yang mengganggu kesenangannya ini. "Masuk!"

Pintu pun terbuka memunculkan seorang berambut pirang jabrik dengan tiga kumis di masing-masing pipinya. Dia membawa berbagai macam pedang.

Mei dan yang lainnya spontan terkejut. Mereka membulatkan mata mereka. "N-naruto?"

"Ya, ini aku. Apa kabar semuanya?" ucap Naruto sambil tersenyum. Perona berlari kearah Naruto dan memeluknya dengan sangat kuat.

"Na-Naru... kemana saja kau selama ini, hah? Kenapa kau meninggalkan kami tanpa bilang apapun?" ucap Perona sambil menitikkan air mata. Naruto membalas pelukan Perona dengan lembut.

"Maafkan aku ya. Aku benar-benar minta maaf karena tidak memberitahu terlebih dahulu. Aku hanya tidak ingin kalian mengkhawatirkanku," ucap Naruto.

"Dasar bodoh! Justru itu membuat kami lebih khawatir tahu! Setidaknya kau memberitahu kami bodoh!" ucap Mei marah.

"Begitu ya? Aduh, aku sungguh minta maaf. Aku tidak tahu malah akan terjadi seperti ini," ucap Naruto sambil menggaruk kepalanya.

"Naru-nii, apa yang terjadi? Sebenarnya kau pergi kemana? Apakah kankermu sudah sembuh?" tanya Kiba.

"Kurasa sudah sembuh. Dan ceritanya panjang," ucap Naruto. Mungkin kalau dia memberitahu mereka, mereka malah tambah shock. "Sebenarnya aku-"

"Ceritanya nanti saja ya Naru-chan. Ayo kita pergi ke restoran Zeff dulu. Kita makan disana dan kau bisa menceritakan semuanya disana," ucap Mei.

Naruto mengangguk.

.

Skip Time

Naruto dan yang lainnya sudah berada di restoran Baratie. Mereka berada si tempat yang tertutup. Hanya ada dia dan teman-temannya disini, termasuk Zeff dan Sanji. Di atas meja juga sudah tersedia berbagai macam masakan.

"Kokabiel? Dasar si brengsek itu! Aku akan menghajarnya atas apa yang telah dia lakukan! Dia juga membuat Naru-chan menjadi buronan." geram Mei. Kokabiel adalah orang yang telah mengusulkan agar Naruto dijadikan buronan. Dia melakukannya agar tidak ada seorangpun yang akan mempercayai Naruto jika saja dia berhasil kabur.

"Kankerku telah sembuh total. Dan lebih dari itu, aku pikir aku tidak akan pernah terkena penyakit lagi." ucap Naruto.

Semuanya yang ada disitu tidak mengerti dengan perkataan Naruto.

"Apa maksudmu Naruto?" tanya Zeff.

Naruto mengambil belatinya. Dia menggoreskannya ke tangan kirinya. Sebuah goresan panjang pun tercipta dan sedetik kemudian goresan tersebut hilang.

Semuanya membulatkan matanya.

"A-apa!?"

"Lukanya sembuh dengan cepat sekali."

"Apa ini yang disebut kemampuan regenerasi?"

"I-ini mustahil."

"Ada satu hal lagi." Naruto membuka bajunya. Dan kini terpampang luka-luka yang Naruto yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

"Inikah hasil dari siksaan yang kau bilang tadi Naruto? Ini parah sekali." ucap Sanji. Dia tidak percaya temannya ini menerima luka yang sangat parah seperti ini. Naruto mengangguk.

"Naru-nii, ada satu hal lagi yang ingin kami sampaikan." ucap Kiba.

"Hmm, apa itu?"

"Mihawk-jiji sudah meninggal dunia," ucap Perona.

Naruto terkejut tak percaya. Ayahnya sudah mati? Yang benar saja. Ayahnya itu adalah pendekar pedang terkuat. Tidak mungkin dia akan mati dengan mudah.

"Jangan bercanda. Tou-san tak mungkin mati saat ini. Dia itu orang yang kuat," ucap Naruto dengan nada bergetar.

"Kami tidak bercanda Naru. Dia memang sudah mati. Kami juga tak percaya dia akan mati secepat ini," ucap Perona. Naruto terdiam membeku.

"Kami menemukannya jatuh tak bernyawa di kamarnya. Dia mati karena teh yang dia minum telah diracuni. Kami tidak tahu siapa yang meracuninya," ucap Kiba.

Ini tidak mungkin kan? Dia melakukan semua ini untuk ayahnya. Dan sekarang dia sudah...

"Aku akan mengantarkanmu ke makamnya," ucap Kiba.

.

Skip Time

"Tinggalkan aku sendiri," ucap Naruto.

"Tapi, Naru-"

"TINGGALKAN AKU! PERGI SANA!" Teriak Naruto.

Semuanya yang ada disana terkesiap. Lalu, mereka pergi meninggalkan Naruto. Mereka mengerti jika Naruto butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri saat ini.

Naruto jatuh berlutut. Dia menangis di depan makam ayahnya yang terletak di belakang dojonya. Kenyataan ini sungguh tidak dapat ia terima. Ayahnya yang sangat ia sayangi mati.

"Ayah..." ucap Naruto di sela tangisnya. Dia menatap foto ayahnya sekali lagi. Wajah itu sangat ia rindukan. Wajah orang yang telah menjaganya dan melatihnya selama ini.

Dia mengusap air matanya. Dia berdiri. Dia menarik salah satu pedang panjangnya. Shuusui. Pedang pertama yang ayahnya berikan padanya. Pedang ini adalah pemberian ayahnya yang paling berharga baginya. Dia mencengkram pedangnya dengan kuat. Dia ingin sekali membalas dendam pada orang yang telah membunuh ayahnya, tapi ayahnya bilang padanya kalau dendam adalah sumber kehancuran.

Dia menyarungkan pedangnya. Dia menatap langit yang biru itu. "Aku berjanji ayah, aku akan membuatmu bangga. Aku akan menjadi pendekar pedang terbaik yang pernah ada!" Ucapnya.

"Tidak, tidak, bukan itu... "

"Aku akan menjadi petarung terkuat yang pernah ada."

.

Skip Time

Saat ini sudah tengah malam. Tidak ada seorangpun yang ada di luar. Kecuali, untuk Naruto dan teman-temannya. Mereka saat ini berada di pintu keluar desa.

"Apa kau yakin dengan ini Naruto?" tanya Sanji.

"Ya, aku pikir aku tidak punya pilihan lain. Jadi mau bagaimana lagi?" ucap Naruto. Dia akan pergi meninggalkan desa. Dia sudah menjadi seorang buronan bagi ninja Kirigakure. Banyak orang yang mengincarnya nanti jika dia masih tinggal disini.

"Lalu kemana tujuanmu nanti?" tanya Perona.

"Aku tidak tahu. Sebelumnya, aku tidak pernah pergi ke luar desa. Aku juga tidak tahu banyak tempat di luar desa," ujar Naruto.

"Lalu, bagaimana kau bisa ber-"

"Tenang saja. Aku tidak akan kenapa-napa. Kau tahu aku ini kuat kan?"

"Tapi... "

"Iya Naruto. Sebaiknya kau pergi bersama seseorang," ujar Ao.

"Kalau begitu, aku saja yang akan ikut," ucap Perona.

"Tidak. Kau tidak perlu ikut. Aku saja. Aku akan menjaga Naru-nii" ucap Kiba.

"Aku juga akan ikut. Aku bisa mengurus soal makanan nanti," ucap Sanji.

"Tidak perlu. Tidak ada yang perlu ikut. Aku akan pergi sendiri. Aku tidak mau kalian repot-repot menjagaku. Aku bisa menjaga dan melindungi diriku sendiri. Kalian tidak perlu khawatir," ujar Naruto sambil tersenyum.

Perona mulai menitikkan air mata. Walaupun dia terlihat egois, jahil, dan nakal, dia merasa berat jika harus ditinggal Naruto. Naruto adalah teman dan musuh yang paling akrab dengannya. Setiap hari dia selalu melakukan keusilan kepada Naruto. Jika tidak ada dia, dapat dipastikan hidupnya akan terasa hambar.

"Sebaiknya aku tidak membuang banyak waktu. Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Sampai jumpa semuanya," ucap Naruto.

Dia ingin berjalan pergi tapi terhenti saat Perona memeluknya. Kiba juga mendekati dan memeluk begitu juga Sanji yang terlihat ragu. Perona menangis. Sungguh, hati seorang perempuan itu lembut tidak peduli dengan wataknya. Naruto membalas pelukan mereka.

Beberapa saat kemudian, mereka melepasjan pelukan. Naruto tersenyum lebar. "Sudahlah, kalian tidak perlu khawatir. Ini bukan perpisahan. Aku hanya akan pergi untuk sementara waktu. Aku pasti akan bertemu kalian lagi, aku janji."

Semuanya yang mendengarnya pun tersenyum. Mereka mengetahui jika Naruto menjanjikan sesuatu, dia pasti akan menepatinya.

"Iya, tapi jangan lama-lama ya."

Naruto mengangguk pasti. Dia membalikkan badannya dan berjalan pergi. "Sampai jumpa ya semuanya! Jaga diri kalian masing-masing hingga aku kembali nanti. Aku akan membawa oleh-oleh!" ucap Naruto dengan suara keras. Semuanya tersenyum.

Ini bukanlah perpisahan. Ini adalah awal. Awal dari perjalanan luar biasa dari orang yang akan menjadi pusat perhatian seluruh Negara Elemental. Tidak bukan itu. Ini adalah awal perjalanan luar biasa dari orang yang akan menjadi pusat perhatiab seluruh dunia. Orang yang akan menjalani kehidupan yang keras di dunia shinobi yang kejam ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya padanya?

.

TBC

Fiuh selesai juga. Hai semuanya yang sudah membaca. Sebelumnya saya berterima kasih pada anda yang telah membaca fic saya ini. Saya menyadari kalau masih ada banyak kekurangan mungkin bahasanya kaku?

Chap 1 dan 2 adalah bagian masa lalu Naruto. Chap-chap selanjutnya baru akan menceritakan perjalanan yang sesungguhnya.

Dan mengenai review saya sangat berterima kasih untuk saran yang diberikan, sangat membantu. Dan dengan yang bikang Ada hal aneh pada tubuh Naruto itu memang benar. Pada masa lalunya dia mengalami suatu insiden yang membuatnya kehilangan chakranya.

Untuk yang udah Favs, Follows, dan Review saya berterima kasih banyak. Walaupun tidak banyak tapi tetap saja.

Mungkin itu saja ya. Saya pamit undur diri. Sampai jumpa lagi.

See You!