Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Loser! by Tana nO cherimoYa
Pair: SasuHina
Genre: Romance & Drama
Rate: T (mungkin semi M atau M nantinya?)
Warning: GaJe abis, OOC, aneh, misstypo(s), EYD tidak sempurna(?)

\(^.^)_
Happy reading minna-san~

"Uchiha, kau duduk dengan Hyuuga di pojok belakang," ucap Kakashi yang membuat semua siswi -kecuali Hinata, menghela napas kecewa dan ingin protes. Namun siapa yang berani melawan Kakashi -guru yang selama ini sangat berwibawa di depan murid-muridnya. Sedetik kemudian pemuda raven itu menyeringai tipis hingga tak terlihat oleh siapapun.

Loser!

-2-

"Hyuuga, acungkan tanganmu," perintah Kakashi. Seketika tubuh Hinata menegak, diam terpaku. Membeku tak bergerak setelah mendengar sang sensei menginstruksikan dirinya untuk mengacungkan tangan. Semua mata beserta deathglare terbaik mengarah padanya. Dari para siswi di kelas itu tentunya. Sungguh tak rela jika 'the perfect badboy' -julukan yang diberikan fansgirl Sasuke- idola mereka harus duduk sebangku dengan Hyuuga Hinata yang -menurut mereka- culun, pemalu dan kuper. Tenten begitu ngeri mendapati temannya mendapat deathglare dari para siswi sebanyak itu.

"Aku rasa aku sudah tahu dengan siapa aku duduk," kata Sasuke begitu santai.

"Kalau begitu kau boleh duduk," ucap Kakashi datar.

"Hn." Setelah dua konsonan itu terucap, Sasuke berjalan ke arah tempat duduknya di sebelah teman sebangkunya. Ah, tak lupa seringai tampan menghiasi wajahnya.

Hinata masih membeku. Tapi sedetik kemudian ia sadar dan segera menunduk. Sasuke duduk. Kakashi berdeham untuk menetralisir suasana yang cukup mencekam akibat tatapan-tatapan membunuh, lalu pelajaran dimulai seperti biasa.

^(-,-)^

.

Belum terjadi apa pun dari kemarin hingga saat ini, detik ini. Sasuke masih belum berulah. Entah apa yang merasukinya. Setan ataukah malaikat? Ini adalah hal yang paling menakjubkan yang pernah ada. Mungkin perlu juga dicatat dalam buku rekor. Hitam di atas putih. Ia berjalan dengan santai menuju perpustakaan! Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku. Tak memakai blazer yang berarti melanggar peraturan sekolah. Ia singsingkan lengan kemeja putihnya membentuk lipatan hingga siku sementara bagian bawahnya tak dimasukkan. Dasi biru dongker bergaris kuning terpasang longgar terkesan acak-acakan. Ekspresi datar dengan pandangan mata lurus ke depan. Pemandangan ini membuat seluruh kaum hawa menjerit dan pingsan. Jika tak keduanya, pasti nosebleed.

"Kyaaaaaaaa!"

"Sasuke-kun~"

"Kereeeeeeen!"

Teriakan yang sama untuk sepasang telinga yang sama, berulang-ulang dan memuakkan. Sasuke membenci ini semua. Tak bisakah mereka diam. Dan bukan salahnya jika ia memiliki wajah di atas rata-rata bukan?

Setelah berjalan menyusuri koridor sekolah yang -tidak sepi, sampailah pemuda raven itu di tempat dimana buku-buku tersusun rapi di rak-rak tinggi yang berdampingan. Ruangan itu sepi. Meskipun saat ini jam istirahat masih berlangsung. Bahkan petugas yang harusnya melayani para peminjam buku pun tak menampakkan batang hidungnya. Membiarkan meja besar yang terbuat dari kayu berwarna coklat itu berserakan dengan buku-buku. Berdebu dan lembab. Perpustakaan memang bukan tempat favorit. Dan petugas itu tahu. Makanya ia bisa kemana pun yang ia mau. Makan gaji buta seperti tahun-tahun yang lalu.

Sasuke menjejakkan kakinya untuk mencari tempat yang nyaman. Cukup strategis untuk digunakan memejamkan mata barang sejenak. Mata onyx-nya menyusuri setiap inchi ruang yang luas dan sepi itu. Kalau-kalau ada orang di dalamnya. Meskipun Sasuke sendiri menyangsikannya. Di sekolahnya yang lama, ia bisa bebas kemana pun yang ia mau dan melakukan apa pun yang ia kehendaki. Tidur dengan nyenyak plus nyaman di ruang UKS. Berpesta pora di dalam kelas. Berkelahi tanpa sebab. Minum-minuman keras juga memenuhi buku catatan tata tertibnya setiap hari. Ciri khas berandal pada umumnya. Namun yang membedakannya adalah otaknya yang sama-sama seperti wajah malaikatnya -diatas rata-rata. Nilai ulangan harian maupun ujiannya sempurna! Tak diragukan lagi pemuda raven itu memang jenius.

"Hinata, kau beruntung sekali bisa duduk dengan Uchiha Sasuke~" Terdengar suara dengan nada memuja dari balik rak buku bertuliskan 'MATHEMATICS'. Pemuda raven itu menyeringai mendengar suara itu. Tanda ia tertarik dan -suka pada suara itu. Bukan suka pada siapa mengeluarkan suara itu. Melainkan pada siapa suara itu ditujukan, pada -Hinata. Sasuke tetap mendengarkan dari balik rak buku di sisi lain dimana Hinata dan -yang ia duga- Tenten sedang membicarakannya.

"Be-beruntung apanya Tenten-chan," nada suara Hinata lemas. Tebakan Sasuke benar. Itu Tenten, bicara pada Hinata dengan bersemangat. "Hinata! Dia itu populer dan keren." Tenten menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Pasti semua gadis akan iri," lanjut Tenten berapi-api.

"Me-menurutku d-dia itu cuma p-pecundang."

"Hi-Hinata! Kau tidak serius 'kan?" Tenten sontak tampak kaget. Bagaimana mungkin? Pemuda bermata onyx itu adalah 'the perfect badboy' yang populer dan dipuja-puja oleh semua gadis! Dan temannya yang satu ini pasti tidak normal.

"M-menurutku, dia itu h-hanya berandalan y-yang mengandalkan w-wajah dan hartanya saja, su-sungguh pecundang," ujar Hinata panjang lebar.

Sasuke keluar dari balik rak. Di belakang punggung Hinata, menampakkan seringaiannya. Ia tidak suka ada orang yang menghinanya seperti itu. Sedangkan Tenten -yang melihat langsung sosok yang baru saja mereka bicarakan- melebarkan mata. Sangat terkejut dan hampir saja memekik, kemudian menutup mulutnya yang menganga dengan tangan. Sasuke mengisyaratkan untuk menyuruhnya pergi. Perasaan takut dan terkejut menjadi satu. Tentu Tenten tahu reputasi dari sang badboy. Tenten menurut.

"A-ada ap-"

"Maaf Hinata aku harus pergi, aku ada janji dengan Matsuri." Tenten menyelesaikan kalimatnya dalam sedetik. Cepat-cepat pergi, meninggalkan temannya sendirian. Bersama 'the perfect badboy' yang mengeluarkan aura membunuh. How poor Hinata.

"Ada apa ya dengan Tenten-chan?" Hinata menaruh ujung jari telunjuknya di dagu, seperti orang yang sedang berpikir.

"Tentu saja dia meninggalkanmu." Sasuke menjawab pertanyaan Hinata dengan nada santai. Membuat Hinata berbalik ke belakang. Ke asal suara itu. Matanya membulat sempurna dan sungguh terkejut. Lagi-lagi membeku . Tak bisa menggerakkan kakinya. Hinata merutuki dirinya. Kenapa disaat seperti ini ia malah tak bisa bergerak? Mendapati orang yang baru mendapat julukan 'pecundang' darinya.

Onyx bertemu lavender. Tanpa disadarinya, mulut Hinata seperti menggumamkan sesuatu.

"U-Uchiha-san."

Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Seringaiannya semakin lebar. Bagai serigala hendak memangsa anak domba. Semakin maju mendekat ke arah Hinata. Jarak mereka kini hanya menyisakan beberapa inchi.

"Kyaa-hmph." Sasuke mendorong Hinata hingga punggungnya terjerembap ke dinding dekat rak buku. Segala pergerakan Hinata terkunci oleh satu tangan Sasuke di samping kepala Hinata. Membungkam mulut Hinata dengan tangan yang lain. Ingin sekali Hinata lepas. Kedua tangan mungilnya berusaha mendorong dada sasuke. Dengan sekuat tenaga. Namun apa daya, tenaga perempuan apalagi seperti Hinata tidak ada artinya bagi pemuda raven itu.

"Sst! Diam!" bentak Sasuke namun berbisik. Hinata mengangguk mengerti. Akhirnya tangan Sasuke berpindah ke samping kepala gadis indigo yang menunduk itu.

"A-aku m-mohon lepaskan aku," kata Hinata pelan. Sedangkan kedua tangannya masih setia di dada bidang Sasuke. Masih mencoba mendorong tubuh kekar pemuda itu -yang semakin dekat dan hampir menekan dada Hinata yang bisa dibilang di atas rata-rata. Bersembunyi di balik seragam kebesarannya selama ini. Hinata memang tidak pernah ambil pusing mengenai penampilan. Itulah yang menyebabkan ia dipandang sebelah mata atau bahkan tak dianggap sama sekali. Sasuke menyeringai. Kemudian mengunci kedua tangan Hinata di atas kepala gadis itu. Hanya dengan satu tangan. Tak ada masalah bagi pemuda raven itu. Seringaian Sasuke semakin lebar. Memegang dagu Hinata dengan ibu jari dan jari telunjuk. Memerintahkan Hinata agar mendongak. Menatap onyx di depannya. Hinata mendongak. Lagi. Onyx bertemu lavender. Sasuke semakin mendekatkan wajahnya. Mereka bisa merasakan deru napas mereka masing-masing. Tapi Hinata seolah tersihir oleh suatu mantra. Diam -hanya bisa memandang wajah di depannya. Mengagumi wajah tampan pemuda raven itu. Sedetik kemudian, mata lavendernya membulat sempurna. Bibir mungilnya telah dilahap oleh bibir Sasuke. Kedua tangan Hinata yang terkunci tak bisa berbuat apa-apa. Meronta pun mustahil. Awalnya ciuman itu begitu lembut. Tapi rupanya bibir mungil Hinata membuat Sasuke ketagihan. Kini bibir Hinata dilumat habis-habisan. Lidah Sasuke memaksa masuk ke dalam mulut Hinata.

"Akh!" Sasuke menggigit bibir bawah milik Hinata, karena menolak. Akhirnya lidah Sasuke bisa masuk, bermain-main dengan lidah gadis itu, mengabsen gigi-gigi putihnya satu persatu dan bertukar saliva.

"Kalau aku tidak mau bagaimana?" kata Sasuke dengan seringaian tampannya.

"Ka-kau m-memang pecundang!" Hinata mencoba mengumpulkan keberaniannya. Sasuke menaikkan satu alisnya.

"Apa katamu?" Pendengaran Sasuke masih normal dan berfungsi dengan baik. Hanya saja -berani sekali gadis ini. Memberi julukan 'pecundang' pada dirinya.

"Ka-kau pecundang!" Suara Hinata naik satu oktaf. Menatap onyx di depannya.

"Kau..." Sasuke menggeram marah. Menajamkan matanya. Tapi ia seorang Uchiha. Dan Uchiha selalu mampu menyembunyikan segala ekspresi. Sebagai gantinya, ia menyeringai. Namun seringaiannya kali ini begitu mengerikan. Seperti ada setan yang membisikkan sesuatu. Sasuke menyerang bibir Hinata lagi. Melumatnya. Lebih ganas. Hinata hanya mampu memejamkan mata. Puas dengan bibir, Sasuke mulai membuat kissmark di leher jenjang Hinata yang putih. Menggigit, menghisap dan menjilatinya.

"Le-lepaskan a-aku! Ngh~" Sasuke tidak menggubris permintaan Hinata dan tetap melancarkan serangannya. Bahkan tangannya mulai menyusup ke dalam seragam Hinata. "Ngh~" Hinata mengerang tertahan. Bibirnya terkunci. Ia sungguh putus asa dan sungguh malu. Menikmati perlakuan dari Sasuke. Sedari tadi wajahnya memerah seperti kepiting rebus. 'Kami-sama, tolong aku,' batin Hinata. Tak terasa bulir-bulir cairan asin mengalir di pipi mulusnya. Ia sungguh tak menginginkan ini. Hati dan pikirannya menolak.

DHUAK!

Sasuke merasakan nyeri luar biasa di pangkal selangkangannya. Kedua tangan kekar itu otomatis melepaskan kunciannya. Sontak gadis indigo itu berlari sambil menutupi leher dan mulutnya dengan punggung tangannya. Air matanya yang berkilauan melayang terbawa angin saat ia berlari. Ia sangat berterima kasih pada Kami-sama untuk ini. Ia bisa mendapat kekuatan seperti saat ia menendang pangkal selangkangan pemuda raven tadi. Membuat milik pemuda itu berdenyut nyeri cukup hebat. Pemuda raven itu hanya mampu terdiam. Memandang dinding usang dekat rak buku sambil menapakkan tangannya. Tempat ia mengunci semua pergerakan gadis itu. Menciumnya dengan ganas. Membuatnya semakin menyeringai lebar.

"Semakin menarik," gumamnya pelan. Semoga saja sang 'perfect badboy' ini tahu apa yang baru saja ia lakukan.

Gomenasai... bagi ratem lover, chap 2 Tana edit agar masih aman dikonsumsi m(_ _)m

sekali lagi arigatou..untuk yg telah R maupun RnR..

Tana (lovely-heero) ^^

Top of Form

Bottom of Form