Naruto _ Masashi Kishimoto

Menjadi yang Sebenarnya _ Akasaka Kirachiha

Genre : Romance and Drama

Rating : T

Warning : OOC, Gender Bender, Typo (s), nggak sesuai EYD,

HAPPY READING

.

.

"Kaa-san! Dia cantik sekali!"

"Mana sayang?"

"Itu... Yahh dia sudah pergi.."

"Maksutmu kupu-kupu? Dia memang cantik sayang."

"Bukan Kaa-san tapi-"

"Kalau mau melihat banyak kupu-kupu tempatnya tidak disini sayang, ahh~~ kau benar-benar manis sekali, ayo ikut Kaa-san."

.

.

Uchiha Itachi meletakkan sebuket bunga lili putih ke gundukan tanah yang telah ditumbuhi rerumputan hijau yang indah, ia mangkupkan kedua tangannya untuk berdoa diikuti Uzumaki Naruto disebelahnya.

Kedua mata mereka yang semula tertutup mulai terbuka. Itachi mengelus batu nisan yang tertancap kuat di atas gundukan tanah hijau tersebut.

"Maaf Nii-san baru mengunjungimu hari ini, bukan berarti Nii-san melupakanmu, justru Nii-san sangat menyayangimu."

"Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja kan?"

"Kau tahu... Sampai saat ini Kaa-san masih belum menerima kematianmu, walaupun ia terlihat tegar namun ia masih menangis sembari memeluk bingkai fotomu sendirian di dalam kamarmu. Kau memang terlalu tiba-tiba untuk meninggalkan kami."

Lima tahun yang lalu, adik yang paling ia sayangi meninggal dunia karena kecelakan bus yang mengangkut dirinya dan teman sekelasnya dari pariwisata di puncak gunung. Ada 5 anak berusia 11 tahun yang meninggal, termasuk adiknya. Walaupun kenyataan yang sebenarnya, tubuh sang adik tidak di temukan di sekitar tempat kejadian.

Namun merekan telah mengikhlaskan jika sang adik telah meninggal dan mayatnya telah terjatuh dalam di jurang yang tidak bisa sampai di evakuasi oleh tim penolong.

".. tetapi entah kenapa aku masih bisa merasakan kehadiranmu di dunia ini.." Naruto menghembuskan nafasnya, air mata telah membasashi kedua pipinya sedari tadi.

"Satsuki..."

#.#.#.#.#.#.#.#.#

"Maaf aku mengajakmu keluar sampai malam begini, Neji dan Gaara pasti akan menghajarku.."

"Tidak apa-apa Nii-chan,mereka berdua aku yakin tidak bisa menghajarmu kok, lagi pula aku yakin Neji dan Gaara tidak akan khawatir jika kau yang mengajakku keluar kan?"sahut Naruto.

Itachi menganggukkan kepalanya. "Kau benar, aku tidak akan membiarkanmu terluka Naruto."

Naruto menundukan kepalanya, terkadang ia merasa kesal menjadi yang terlemah, memang ia sangat senang saat merasa banyak sekali orang yang akan melindunginya dari bahaya namun disuatu sisi ia merasa tidak berguna di dunia ini.

Itachi tiba-tiba menghentikan mobilnya, mata hitamnya memincing untuk melihat lebih jelas sesuatu di pinggir jalanan yang remang-remang.

"Ada apa Nii-chan?"

"Kau tunggulah di dalam mobil, jangan berani untuk keluar." Walaupun berkata begitu, Itachi yang cemas memutuskan untuk mengunci Naruto di dalam, meninggalkan pemuda yang merasa bingung itu.

Ia berlari kencang lalu dengan cepat menarik tangan seorang pemuda untuk berlindung di belakang tubuhnya. Membuat ke tiga lelaki berbadan besar yang sebelumnya berkelahi dengan pemuda itu segera menghentikan serangan mereka.

"Siapa kau?"tanya salah satu lelaki berbadan besar itu garang.

Pemuda yang di tariknya juga melayangkan pandangan penuh tanya kearahnya.

"Kau remaja yang aku tanyai tadi sore kan?"

Pemuda yang ia tanyai hanya terdiam lalu menganggukkan kepalanya. "Lalu? Kau bermaksud menolongku? Tidak perlu, aku bisa menghadapi mere-"

"Dengan tubuh penuh luka seperti itu?"sahut Itachi cepat. "Kau lebih baik pergi dari sini dan sembuhkan lukamu, biarkan aku yang mengurus preman ini."perintahnya.

Entah apa yang ada dalam pikiran Itachi, tetapi yang pasti ia tidak ingin pemuda yang ditolongnya ini terluka.

"Kau berani menantang kami ya?"

"Wah wah wah, berani sekali ini orang,"

"Mending langsung kita hajar saja!"

Dan ketiga orang itu bersama-sama melayangkan pukulan ke arah Itachi, lelaki itu hanya diam lalu membalas serangan mereka dengan sekali tendangan. Walaupun ketiga orang itu terlihat sangar dengan tubuh besar dan pakaian mereka yang berantakan, kekuatan bertarung mereka tidaklah sama dengan tubuh mereka. Yang mereka tahu hanya pukul tanpa bisa mempertahankan diri.

Ketiga orang itu telah tergeletak tak berdaya di pinggir jalanan yang sepi, hanya cahaya lampu jalan yang menerangi jalanan kecil ini.

Itachi membalikkan badannya lalu memandang pemuda yang lebih pendek darinya itu dengan ramah. "Sepertinya kau memang sudah terbiasa berkelahi ya?"

"Bukan urusan anda." Dan pemuda itu melenggang pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Itachi hanya tersenyum tipis lalu membalikkan badannya dan berjalan menghampiri mobilnya.

Wajah Naruto yang cemaslah yang pertama kali ia lihat saat membuka pintu mobilnya.

"Ada perkelahian ya? Nii-Chan tidak apa-apa kan?"tanya pemuda itu cemas.

Itachi menggelengkan kepalanya lalu mulai menyalakan mesin mobilnya,"Ada seorang pemuda seumuranmu yang sedang berkelahi dengan perampok dan aku membantunya, tetapi dilihat dari wajahnya ia seperti sudah sering berkelahi tetapi tetap saja aku harus menolongnya."

"Kenapa kau sangat peduli? Kau mengenalnya?"

"Tidak bisa dibilang kenal tetapi pemuda yang aku tolong tadi adalah pemuda yang aku tanyai tadi sore tentang alamat rumah kalian. Entah kenapa aku ingin sekali melindunginya."

"Apakah... Kau menyukainya?" walaupun Naruto telah menyukai sosok pemuda misterius yang menolongnya kemarin, ia tidak bisa mengelak jika ia masih sedikit merasa sesak saat melihat Itachi peduli dengan orang lain yang baru dikenalnya...

Itachi mengangkat kedua bahunya, "Entah, lihat saja nanti."

...kenapa hatinya gampang sekali bercabang?

#Kirana Sekar Sachiha#

Naruto senang bukan main, sedari tadi yang ia lakukan hanyalah tersenyum senang sembari bertingkah entah apa yang mengapresiasikan kesenangannya. Uchiha Neji yang menjadi sumber kesenangan Naruto hanya menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah 'gila' adiknya itu.

"Memang kenapa kalau Yagamura Sasuke itu bersekolah disini?"

Bermula saat Neji memanggil Naruto untuk berbicara empat mata di atap sekolah untuk membahas ancaman yang diberikan genk itu kepada adiknya dan juga seseorang yang telah menyelamatkan Naruto. Entah kenapa saat ia mengatakan jika orang yang menyelamatkan Naruto itu bersekolah disini, pemuda pirang itu langsung merasa senang.

Naruto menghentikan tingkahnya lalu memandang Neji, "Dia tampan Neji... Kenapa aku baru tahu ada lelaki se keren dia di sekolah ini!? Kau tahu, dia dengan kerennya menghajar penjahat gila itu untuk melindungiku, sayangnya ia dingin sekali dan ia juga berkata orang lemah sepertiku tidak pantas hidup di dunia yang keras, apa maksudnya coba?" ia yang sejak kecil terbiasa di lindungi memang sedikit tidak mengerti apa maksud perkataan itu, ia menjadi lemah karena ibunya lah yang menginginkannya untuk terus diam di rumah sepulang sekolah dan membantunya di dapur dan menyiram tanaman.

Neji menggelengkan kepalanya, kouhainya yang satu itu memang selalu ceplas-ceplos saat berkata kepada seseorang. Naruto yang polosnya minta ampun aja sampai tersakiti akan ucapannya bukan?

"Maksutnya-"

"Lelaki lemah sepertimu jika selalu merasa lemah seumur hidup, akan sulit untuk menghadapi dunia yang saat ini banyak dengan keburukan. Bodoh sekali kau tidak mengerti ucapanku, anak manja."

Naruto memandang orang yang telah menyerobot perkataan Neji itu sejenak lalu menundukan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca.

"Begitu saja kau sudah menangis, banyak siswa dan guru disini yang memanjakanmu, sayangnya aku tidak akan melakukannya. Sudah cukup aku melihat lelaki lemah sepertimu di sekolah ini, rasanya ingin kuhajar saja."

"Sudah Sasuke, aku memanggilmu kemari bukan untuk menghina Naruto."sela Neji mencoba menengahi.

"Lalu?"

"Soal surat ancaman itu."

"Bukankah aku sudah bilang jangan pedulikan aku? Pedulikan saja anak pengecut ini."ujarnya tanpa memandang Naruto yang mulai terisak.

"Bahkan tingkahnya lebih buruk dari perempuan-"

"Cukup Sasuke!"Neji segera merangkul leher Naruto lalu menyembunyikan wajah basah itu di pundaknya. "Kita disini untuk berbicara baik-baik, bukan untuk menghina!" ujarnya menekan lagi.

Sasuke menggertakkan giginya walau wajahnya masih terlihat datar. "Maaf saja, tetapi aku akan mengucapkan hal apapun walaupun menyakitkan sekalipun kepada semua orang, termasuk dia."tunjuknya pada Naruto.

"...dan soal ancaman itu, aku katakan sekali lagi jika yang harus kau lindungi adalah pemuda itu, jangan hiraukan aku. Mati saat melawan lebih baik bagiku dari pada kehilangan masa depan karena menjadi seorang yang pengecut, setidaknya aku sudah berusaha mempertahankan hidupku."ujarnya lalu berbalik meninggalkan mereka berdua, iris hitamnya melirik mereka berdua sejenak lalu kembali fokus kedepan.

Hanya ada dua orang yang Neji tahu berani mengkritik Naruto akan sikapnya yang kecewekan : Satu adalah pemuda yang baru saja pergi tadi dan yang satu adalah seorang gadis yang langsung mendapat tamparan keras dari sang ibu karena Naruto yang saat itu berusia 11 tahun mengadu kepada kedua orang tuanya dengan cucuran air mata.

"...aku akan mengucapkan hal apapun walaupun menyakitkan sekalipun kepada semua orang"

Neji dan Gaara yang merupakan sahabat merekalah yang menjadi saksi atas pertengkaran itu, mereka hanya diam saat melihat semua orang (– Hanya keluarganya, keluarga Gaara dan keluarga gadis itu – yang diundang pada pesta ulang tahun sang Uzumaki muda ) memandang cemas dan khawatir pada Naruto yang tengah menangis dan memandang gadis itu seakan dia adalah seorang kriminal dan merasa puas saat gadis itu ditampar dengan keras oleh ibunya

"Aku membenci kalian semua! Lebih baik aku mati dari pada hidup di antara kalian! Anggap saja aku tidak pernah ada!"

Hal yang menyakitkan adalah... Itulah ucapan terakhir sang gadis sebelum sebuah kecelakaan merengut nyawanya. Membuat dirinya benar-benar tak ada di sekeliling mereka, wanita itu meninggal dengan rasa kecewa yang mendalam...

Membuat mereka yang menghadiri pesta itu memasang wajah tak percaya.

Membuat Naruto yang walaupun polos namun merasa sangat bersalah dengan sikapnya yang kekanakan yang nyatanya belum hilang hingga saat ini..

Dan yang pasti, membuat sang ibu menjadi sedikit gila karena selalu menyesali tindakannya sebelum kematian sang putri.

Mungkin tangisan Naruto yang ini bukanlah tangisan kelemahan namun hanya tangisan kesedihan karena ia mengingat tentang hal itu, mengingat tentang kelemahannya yang membuat gadis itu membenci semuanya, termasuk dirinya.

"Neji?"panggil Naruto lirih

"Hm?"

"Ajari aku beladiri. Kumohon..."

Pemuda berambut coklat panjang itu berani bersumpah jika baru kali ini ia melihat sorot keseriusan terpancar jelas dari mata biru Naruto

Akasaka Kirachiha

Terlihat sesosok orang berjalan perlahan ke arah kamar mandi, membukanya lalu menutup kembali pintu kamar mandi, orang itu menghela nafasnya lalu membuka satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya.

Shower telah mengucurkan airnya, orang itu hanya terdiam di bawah kucuran air dingin sembari memandang dirinya sendiri dari cermin yang terpasang di dekatnya.

Matanya memincing, mata itu bahkan memandang jijik dirinya sendiri pada pantulan cermin datar itu. Ia kesal memiliki tubuh itu sebagai tubuhnya, ia kesal memiliki tubuh yang menurut kebanyakan orang adalah tubuh seseorang yang lemah.

"Belum lama aku bertemu dengannya aku malah bertemu dengan dia? Hah lucu sekali!"racaunya pada dirinya sendiri.

"Aku sudah menjadi apa yang kau inginkan orang tua! Maka dari itu aku juga menginginkan sesuatu dari kalian..."

"...Aku menginginkan kehancurkan kalian, akan kuhancurkan semua lebih dari diriku yang hancur!"

...dan sosok itu tertawa dengan kerasnya, terus tertawa bak kerasukan setan kebahagiaan. Tak memperdulikan dirinya sendiri yang tengah telanjang bulat dibawah kucuran air dingin.

Walaupun begitu sorot matanya tetap sama, dingin dan tak ada senyum sama sekali. Kedua tangannya mengepal erat dan...

PRANKK!

Kaca bening yang sedari tadi memantulkan refleksi dirinya telah hancur berkeping-keping, sebagian pecahannya mengenai tubuhnya dan juga tangan kirinya yang ia gunakan untuk menghancurkan cermin tersebut, darah mengalir dari luka yang menganga yang langsung disapu bersih oleh air yang mengalir menjadikan air berwarna merah yang tergenang di bawah.

Tak ada rintihan kesakitan, yang ada hanya rasa puas yang sosok itu rasakan.

.

.

TBC

.

.

Errrr... yang terakhir itu hampir ke Rated M ya. Tapi kalau kalian jeli, pasti tahu sosok itu lelaki atau perempuan.

Sudah kejawab kan kemana Itachi dan Naruto pergi?

Soal siapa yang cowok akan kalian ketahui kalau benar-benar teliti membacanya atau ngikutin fanfic ini sampai tamat nanti. hahahaha

Tenang aja. Naruto hanya sementara kok aku jadiin lemah, nanti lama-kelamaan dia akan kembali ke sosok 'cowok' yang kece badai.

Untuk Future Saphire, kalau nggak ada halangan bakal aku update hari sabtu nanti. Khusus Chapter 10 dan 11 nanti akan menceritakan tentang Naruto dan hubungannya dengan Sasuke, hanya mereka berdua. Yang lain cuma numpang lewat doang! XD Yang belum baca, baca Future Saphire - ku ya! hahahaha *sekalian promosi

Buat yang sudah review, terima kasih banyak ya, maaf nggak bisa balas review kalian satu satu. Review dari kalian lah yang membuatku semangat melanjutkan fanfic ini.

Ok sekian dariku (?) Review lagi ya!

Akasaka Kirachiha