Title: Unforgotten Wish
Author: CLA
Rated: T
Genre: Romance, supernatural
Pair: Kyuhyun and Sungmin from Super Junior. Possible for slight pair.
Disclaimer: I own the story. God own the casts. I just borrow their name.
Warning: Genderswitch for Sungmin, Ooc, typos, etc. Please do remember this is just a fiction, which means, not real.
.
Seorang pemuda tinggi berambut cokelat ber-kemeja putih lengan panjang dipadukan dengan celana jins hitam se-lutut, sepatu kets hitam dan sunglasess ber-merek terlihat tengah bersandar pada sebuah lamborghini hitam yang terparkir di sisi jalan. Ia bersedekap dada dan berpandangan lurus menatap sekumpulan murid yang sedang berolahraga di halaman sekolah khusus seni yang kurang begitu terkenal namanya. Walaupun terhalang oleh gerbang sekolah, namun ia tetap dapat memperhatikan setiap gerik dari siswi yang sejak beberapa waktu lalu menjadi targetnya.
Pria itu sedikit membulatkan matanya saat beberapa murid mulai menyadari keberadaannya, terutama dari kaum putri. Mereka berbisik satu sama lain dan saling menyenggol, hingga akhirnya dimulai dari seorang siswi yang tak tahan lagi membuka mulut, semuanya pun menjadi ikutan heboh.
"Ya ampun! Itu Cho Kyuhyun!"
"Seungjae! Lihat ada Kyuhyun hyung!"
"Hwaaa! Kyunnie oppaaa!"
Kyuhyun menggaruk kepalanya sambil menyengir, lalu melambaikan tangan menyapa para murid yang sedang sibuk menunjuk-nunjuk kearahnya. Saat murid-murid itu semakin heboh, Kyuhyun menempelkan telunjuknya pada bibir, mengisyaratkan murid-murid itu untuk tenang.
"Aku" Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri, "akan kembali." Ia menunjuk kearah jalanan di belakangnya dan mengetuk-ngetukkan jarinya pada jam tangan, "Sampai jumpa." Terakhir ia melambaikan tangannya dan tersenyum saat murid-murid itu menganggukkan kepalanya walaupun setengah rela, lalu masuk ke dalam mobilnya. Tak menunggu lama, lamborghini yang menarik perhatian itu berjalan, meninggalkan beberapa murid yang menatapnya tak rela.
Kyuhyun mengemudikan mobilnya penuh senyuman. Tak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini keberadaannya di sadari oleh semua murid tak terkecuali anak yang menjadi pusat perhatiannya.
Lee Sungmin.
Tak seperti murid lain yang terlihat sangat antusias saat melihatnya, tatapan Sungmin tadi menunjukkan betapa ia sangat tidak tertarik dengan Kyuhyun, bahkan sedikit terpancar kilatan gundah dari manik matanya. Gadis itu pun lebih memilih untuk berlatih basket sendiri sambil menunggu guru olahraga datang daripada menatapnya. Meskipun tingkahnya membuat Kyuhyun sedikit kecewa, namun ia tetap senang sebab untuk pertama kalinya, Sungmin akhirnya menatapnya. Tidak. Mereka bahkan bertatap mata.
"Tuhan, lihatlah! Kami akhirnya bertemu lagi! Woohoo!" serunya bangga. Lidahnya merasa sedikit janggal dengan penggunaan kata 'Tuhan' yang merupakan sebutan oleh kaum manusia sementara ia biasanya memanggilnya 'Dewa'.
"Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan, aku akan memanfaatkan sebaik-baiknya!" gumamnya. Tuhan tak berbohong saat mengatakan akan mengirimnya ke dunia manusia. Walaupun aneh rasanya karena ia muncul kembali di bumi langsung sebagai wujud orang dewasa, setidaknya beribu alasan untuknya bertahan hidup di dunia manusia telah disediakan. Ia juga dilengkapi dengan kemampuan berbahasa manusia dan dengan pekerjaan serta kebutuhan yang sangat memadai, tak lupa dengan keahlian yang jauh lebih baik di bandingkan orang lain seakan ia mempelajari mereka sejak kecil.
"Woohoo! Tuhan I LOVE YOU!" teriaknya keras.
TIN TIIIINNN
"Woah!" Kyuhyun membelokkan stir-nya sedikit ke kanan sebelum akhirnya mengemudi kembali dengan normal. Jantungnya berdegup dengan kencang, nafasnya memburu dan matanya membulat. Nyaris. Nyaris saja. Untung saja truk tadi tidak ditabraknya. Bisa bahaya kalau dia mati duluan saat baru kembali menginjakkan kaki beberapa hari di bumi.
"Oke, peringatan dari Tuhan karena terlalu berlebihan."
.
.
.
.
.
.
.
Kehebohan masih saja tak mereda dalam kelas Lee Sungmin. Sejak melihat kemunculan seorang artis muda yang sedang naik daun di depan gerbang sekolah 3 jam lalu, anak-anak laki-laki yang biasanya sedikit pendiam menjadi heboh, apalagi anak perempuan yang biasanya heboh menjadi lebih heboh. Sungmin menggelengkan kepala saat murid-murid mulai membentuk gerombolan di meja Tifanny, si ketua kelas yang paling update soal informasi terbaru artis populer.
"Ugh... berisik." gerutu Sungmin setengah berbisik. Mau bergabung pun ia tak bisa mengingat saat olahraga tadi ia sedang sibuk dengan olahraga favoritnya dan hanya melihat sekilas dari jarak jauh si artis yang dihebohkan itu. Sungmin sejak awal memang tidak terlalu tertarik dengan artis atau apapun itu, lagipula ia juga memiliki pengelihatan yang sedikit buruk. Kalau mendengar lagu pun, ia hanya modal meminta kepada teman lain atau malah ia hanya men-download lagu-lagu klasik. Pemain musik muda favorit buatan dalam negeri? Sungha Jung dong.
"Ming!"
Lemparan bulatan kertas menyadarkan Sungmin dari lamunannya. Ia melihat sekelilingnya yang sudah mulai kembali tentram dan kerumunan di meja Tifanny sudah menghilang. Sungmin mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menyadari guru Kim yang sedang menulis-nulis di papan tulis sana.
"L-loh? Istirahat sudah selesai?" bisik Sungmin pada teman di sebelahnya, Ryeowook. Anak itu mengangguk-ngangguk dan menunjuk buku paket yang berada di kolong meja Sungmin.
"Halaman 49 paragraf 3 dari bawah. Guru itu sedang menerangkannya di depan."
"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanyanya khawatir. Ryeowook menggeleng.
"Belum kelewatan apa-apa sih, pelajaran baru kembali di mulai. Coba kalau nggak kupanggil, pasti sudah kelewatan banyak deh. Bengong terus sih!"
"Ah..." Sungmin menggaruk kepala. "Jadi aku harus berterima kasih nih?" tanyanya setengah niat. Ryeowook memutar matanya. "Ayolah Ming, fokus ke pelajaran jangan bercanda!"
"Iya, iya." jawabnya malas. Tepat saat Sungmin baru melirikkan matanya ke buku, guru Kim berseru kepada para murid untuk membentuk kelompok yang terdiri dari 2 orang bersebelahan. Sungmin kembali mengerjapkan matanya.
"Tunggu apalagi? Geser meja-mu!" panggil Ryeowook, kembali menyadarkan Sungmin. Sesegera mungkin gadis itu menempelkan meja-nya pada Ryeowook sebelum ia benar-benar tertinggal pelajaran.
"Baru selesai ngobrol kita malah ketemu lagi. Takdir ya?"
"Takdir yang buruk." jawab Ryeowook. Sekilas Sungmin menggembungkan pipinya.
"Apa maksudmu hah?"
"Hehe bercanda Ming, bercanda!" balas Ryeowook. "Eh, iya. Kau tadi tidak ikutan menggerombol?"
"Malas." jawab Sungmin seadanya. "Memang kenapa?"
"Kau tidak seru ah!" tukas Ryeowook, memukul pelan lengan Sungmin, "Padahal kan jarang-jarang kita bisa ngomongin artis bareng-bareng! Apalagi dia muncul di depan sekolah! Bayangkan! Uwaaahh!"
"Aku tak terlalu tertarik ah. Lagipula- Tunggu! Kita harusnya mengerjakan tugas yang diberikan!"
Ryeowook menyengir mengangkat buku paket-nya dan menunjukkan beberapa halaman yang sudah dipenuhi tulisan-tulisan super kecil dan irit. Dibolak-baliknya halaman tersebut membuat Sungmin melongo karenanya. "Sudah kukerjakan duluan di rumah hehe. Lagipula kita hanya disuruh mengumpulkan salah satu buku kan? Pakai buku-ku saja."
Sungmin mengerjapkan matanya berkali-kali. "Oke tadi kita ngomongin apa?"
"Kyuhyun oppa astaga! Masa kau-"
"Hah?"
"KYU. HYUN. OP. PA."
"Kyu... hyun?" ulang Sungmin dijawab anggukan Ryeowook. Ryeowook yang merasa Sungmin tiba-tiba menjadi agak sedikit aneh memiringkan kepalanya. "Kenapa?"
"T-tidak." Sungmin menggelengkan kepalanya. "Hanya saja... Namanya mirip dengan anjingku yang sudah mati 8 tahun lalu." jawabnya jujur.
Dan Ryeowook terpaksa menahan tawa-nya yang hampir meledak.
.
.
.
.
.
.
.
Entah memang sedang tak ada kerjaan atau apa, setiap kelas Sungmin sedang pelajaran olahraga ataupun piket membersihkan halaman, Kyuhyun selalu mampir dan menetap di tempat yang sama, mengundang berbagai kecurigaan yang muncul dari kalangan murid. Ah, peduli amat dengan curiga ini-itu. Yang penting, mereka menjadi sering bertemu Kyuhyun. Titik.
Sungmin sudah lelah dengan semua kebisingan ini. Manusia-manusia yang awalnya bawel itu kini semakin menjadi, membuat telinganya terasa pengang karena setiap hari membicarakan hal yang sama berulang-ulang seakan tak ada habisnya. Biasanya kalau Kyuhyun mulai datang, ia akan menyapu di tempat yang jarang di sapu oleh murid kelasnya sekalian menghindari kebisingan tingkat maksimal. Di kelas pun begitu. Saat yang lain membicarakan Kyuhyun, ia malah memilih membuat grafiti di meja.
"Ryeonggu! Jangan diungkit terus ah!"
"Habis lucu sih!" Ryeowook menahan tawa-nya. "Aku masih heran kenapa namanya bisa sama dengan seekor anjing yang sudah mati. Jangan-jangan dia reinkarnasinya lagi." cetus Ryeowook tanpa mikir.
"Hush!" Sungmin menghentikkan kegiatan menyapunya dan menyenggol lengan gadis itu, "Ngomong tuh jangan sembarangan! Kalau dia reinkarnasinya Kyuhyun-ku, dia pasti masih umur 8 tahun!"
"Yah, mungkin percepatan tumbuhan?" Ryeowook kembali bercanda. "Ryeonggu! Tidak lucu ah! Aku ser-"
"BERHENTI SEBENTAR!" Ryeowook memerintahkan dan memotong ucapan Sungmin. "Sini deh!" Ryeowook mengajaknya bersembunyi di balik tembok, menunggu sebentar sebelum akhirnya mengintip keluar.
"Apaan sih?"
"Sshhttt! Kyuhyun datang lagi!"
"Terus kenapa?"
Ryeowook memutar badannya menghadap Sungmin dan menyuruhnya diam, lalu berbisik membuat Sungmin semakin heran.
Sungmin membulatkan matanya, alis matanya bertaut. Tepat setelah Ryeowook selesai berbisik, ia menatap Ryeowook dengan tak percaya.
"Tidak mung-"
"Sshhttt!"
.
.
.
.
.
.
.
Kyuhyun tersenyum menanggapi fans dari jarak jauh seperti biasa. Dan seperti biasa pula ia menyuruh fans untuk tidak mendekatinya beramai-ramai agar tak menjadi pusat perhatian. Walaupun sekarang adalah jam piket yang berarti warga sekolah banyak yang sudah kembali ke rumahnya, tapi ia selalu menjaga jarak agar tak terlalu 'ditemukan' orang-orang.
Dibalik sifat Kyuhyun yang tenang, mata pria ini sebenarnya kelabakan mencari Sungmin dari balik kacamata hitamnya. Tak seperti biasanya, Sungmin tak terlihat ikut menyapu halaman hari i-
"Akhirnya..." Kyuhyun bergumam dan bernafas lega, senyum ramahnya berganti menjadi senyuman yang benar-benar murni karena bahagia. Sekilas ia melihat mata Sungmin yang melirik ke arahnya. Kyuhyun mengerjapkan mata dan melepas kacamatanya, memastikan apa yang ia lihat benar dan ternyata, memang benar Sungmin mencuri lirik padanya.
Jantung Kyuhyun berdegup. Ada rasa dimana ia seperti ingin melompat-lompat di atas mobil mahalnya sambil berteriak mengucap syukur kepada Tuhan.
Kyuhyun membenarkan jaket hitam-nya dan kembali memakai kacamata-nya. Terlalu lama menghabiskan waktu di dunia manusia dengan segala kesempurnaan yang telah diterimanya bisa membuat segala rencananya mengabulkan harapan Sungmin tersapu oleh waktu, karena itu ia memutuskan kalau sekarang adalah saat yang tepat untuk mengenal dekat Sungmin. Perkenalan 'pertama', apa yang kira-kira harus dikatakan?
"Sungmin majikanku! Ingatkah kau dengan anjing kesayanganmu, Kyuhyun ini?"
Tidak, tidak, tidak. Bisa-bisa ia dianggap gila.
"Hai Sungmin, seperti yang kau tau, aku adalah Cho Kyuhyun yang paling populer se-Korea."
Tidak. Itu terkesan terlalu pamer. Lagipula bagaimana dia bisa tau nama Sungmin?
"Hello beautiful. Cuaca hari ini sangat cerah, secerah wajahmu."
Mati saja.
Kyuhyun menampar pelan pipi-nya. Berkaca pada spion mobil, Kyuhyun membenarkan rambutnya sekaligus mengecek apakah nafas mulutnya memiliki kadar bau yang bisa ditoleransi hidung manusia.
Siap, Kyuhyun berjalan menyeberangi jalan yang muat dijajarkan 4 mobil. Senyumnya merekah saat melihat Sungmin yang sama sekali tak memutus kontak mata-nya.
Mungkin hari ini cukup sial. Sebelum Kyuhyun sempat mendekati pagar sekolah, Sungmin malah berbalik badan dan meninggalkannya, menimbulkan kekecewaan yang teramat sangat padanya. Lebih naas lagi, kalau ia berbalik kembali ke mobilnya dan ketahuanlah motifnya untuk mendekati Sungmin. Bisa-bisa Kyuhyun dikira penculik.
Kyuhyun menghela nafas. Mungkin melakukan meet and greet dadakan sekaligus menanyakan tentang Sungmin bukan pilihan buruk. Mengatasi skandal? Itu mudah. Dan hanya Kyuhyun yang sanggup mengatasi masalah seperti ini diantara jutaan artis di luar sana.
"Woah! K-Kyuhyun oppa datang ke sini!"
"Astaga! Ini pertama kalinya aku melihatnya dari dekat!"
"Ya Tuhan, aku sedang beruntung hari ini!"
Dan segala kalimat sejenis Kyuhyun dengar. Ia menyapa semuanya dan bercanda dengan murid setempat, hitung-hitung sebagai bonus karena mereka tidak terlalu bising atas keberadaannya. Dan terakhir, Kyuhyun benar-benar memberanikan diri untuk menanyakan tentang Sungmin.
"Sungmin? Maksudnya Lee Sungmin atau Park Sungmin?"
"Ehm... Lee Sungmin."
"Yang nilai lukisnya selalu sempurna itu? Oppa kenal?" salah seorang murid membulatkan matanya kaget. Kyuhyun mengangguk jujur. Beberapa bisikan tentang betapa beruntungnya Sungmin kerap menyapa gendang telinga Kyuhyun.
"Oppa kenapa mencari Sungmin? Memang dia siapa?"
Ah sial. Ia belum mempersiapkan alasan ini.
"Ehm..." Kyuhyun memutar otak sementara ekspresinya terlihat se-normal mungkin. "Dia sepupu-ku. Saudara jauh." jawabnya lancar, berharap saja tak ada yang curiga dengannya. Ya, kau pintar Kyu.
Seruan 'kyaaa' dan 'aww' terdengar dimana-mana. Kyuhyun menahan diri untuk tidak menghela nafas. Bukannya memberitahukan dimana orang yang ia cari, mereka malah sibuk heboh sendiri.
"Jadi-"
"Oppa mau kupanggilkan Sungmin?" salah satu putri bertanya.
Begitu dong dari tadi.
"Ehm... tidak usah. Aku hanya ingin tau kabarnya saja." jawab Kyuhyun. Ah dasar mulut bodoh! Kenapa hanya kabarnya saja?
"Ah, setelah ini aku ada kerjaan. Terima kasih telah menemaniku hari ini. Dadah." ucapnya dan berbalik badan ditambah dengan mata kirinya yang mengedip genit, menciptakan suasana yang lebih ribut dibanding sebelumnya di balik gerbang sekolah sana.
Kyuhyun menutup pintu mobilnya dan menghela nafas. Kalau begini caranya sih... bakal susah untuk menemui Sungmin.
"Apa besok saja ya? Hmm..."
.
.
.
.
.
.
.
Sejak percobaan yang dikepalai Ryeowook kemarin berhasil dilancarkan, gadis itu terus berkicau tiada henti. Sungmin menopang dagu dan memasang ekspresi wajah sebosan mungkin, berharap si teman sebangku yang hampir merangkap sebagai sahabat sadar akan eskpresi bosannya dan berhenti berbicara namun sepertinya Ryeowook terlalu asik dengan hasil penyelidikannya sendiri.
Sungmin menutup buku bacaannya yang sama sekali tak terbaca karena ocehan Ryeowook. Padahal sebentar lagi ulangan teori, tapi Sungmin belum belajar. Salah dia juga sih yang sejak malam malah sibuk mensketsa ini-itu yang tak terlalu penting. Yah, tapi memang namanya anak berjiwa seni, nekat-nekat sedikit demi kesenangan pribadi tak apalah...
"Ryeonggu, bisa ganti topik lain?" tanya Sungmin sehalus mungkin. Ia sadar kalau menghentikkan Ryeowook itu memang harus diucapkan, bukan diperlihatkan dengan bahasa tubuh frontal-frontalan. Melihat Ryeowook sekarang ini, Sungmin merasa ia telah membuktikan teori yang menyatakan bahwa semakin dekat seseorang, sifat gila-gilaannya semakin keluar. Buktinya, inilah hasil dari Ryeowook yang terlihat dewasa saat pertama kali dikenal Sungmin tahun lalu.
"Tapi Min, aku serius tentang Kyuhyun itu! Aku bisa melihat dari kemarin kalau dia memang mencarimu!"
"Aku tau, tapi bisakah ganti topik yang lain? Nama Kyuhyun itu membuatku merasa tidak nyaman, apalagi kau telah menyebutnya beribu kali."
"Tapi Min, Kyuhyun-"
"Ryeonggu, plis ganti topik."
"Tapi si Kyuhyun memang-"
"Ganti topik ya? Tentang memasak atau-"
"Kyuhyun kan-"
"Apapun deh, pelajaran, novel-"
"Tapi Kyuhyun-"
"Ryeonggu-"
"Kyu-"
"Ryeonggu-"
"Dia memang mencari-"
"Kita bisa mengganti-"
"Kyuhyun itu-"
"Ryeonggu aku-"
"Sungmin, dia-"
"Wook-"
"Tapi dia-"
"KIM RYEOWOOK!"
Seisi kelas Sungmin mendadak diam. Murid-murid yang awalnya sibuk belajar untuk ujian yang diadakan di jam pelajaran terakhir langsung menatap Sungmin dalam diam. Sungmin menatap sekelilingnya tak enak, lalu meminta maaf hingga akhirnya aktifitas kembali seperti semula. Sungmin menghela nafas dan kembali menatap Ryeowook yang sepertinya mulai ikutan belajar.
"Maaf Ryeong, aku tak bermaksud meneriaki mu."
Ryeowook memasang wajah kesalnya dan tanpa menunggu lama, ia menolak permintaan maaf Sungmin. Sekarang, Sungmin yang agaknya syok dan merasa tidak enak.
Ryeowook melirik kearah Sungmin dan menggigit bibirnya, mencoba mempertahankan ekspresi kesalnya namun sepertinya ia tak bisa. Pada akhirnya, gadis cerewet itu tersenyum dan berkata kalau ia sedang bercanda.
"Ih, apaan sih! Kukira kamu beneran marah tau!" Sungmin memukul lengan Ryeowook cukup keras. Sebenarnya bercanda, namun karena Sungmin pernah belajar bela diri yah... perbandingan tenaganya berbeda jauh dengan anak-anak pada umumnya.
"Aku kan meneriakimu juga ada alasan! Siapa suruh kamu malah menyela omonganku terus! Apalagi aku sudah bilang aku gak terlalu nyaman mendengar nama Kyuhyun."
"Yah, habisnya..." Ryeowook menggembungkan pipinya. Sungmin menggelengkan kepala.
"Begini deh, kalau kamu mau ngomong lagi tunggu selesai ulangan. Setelah itu terserah deh kamu mau jadi sales mobil, pembawa berita, tukang promosi, atau tukang obat. Asal ingat! Nggak pake Kyuhyun-Kyuhyunan." Sungmin memperingatkan, menimbulkan desahan kecewa dari Ryeowook. Padahal gadis itu baru saja kembali bersemangat, tapi begitu mendengar peringatan Sungmin, rasa semangat itu melayang entah kemana.
"Yah, kenapa?" seruan kecewa Ryeowook utarakan.
"Pertama, aku masih harus belajar menerima keberadaan nama seekor anjing yang diadopsi menjadi nama manusia sepertinya. Kedua, teorimu bisa saja salah." Alasan logis Sungmin ungkapkan agar temannya benar-benar berhenti membicarkan tentang si artis muda yang sedang naik daun itu.
"Tapi Tifanny bilang Kyuhyun memang mencari-mu!"
"Wook, dia ratu gosip."
"Seohyun yang jujur juga bilang begitu."
"..."
"Naeun juga bilang begitu."
"..."
"Malahan Chaerin yang sekedar numpang lewat juga bilang kalau dia mengaku sebagai saudara jauh-mu!" lanjut Ryeowook, benar-benar membuat Sungmin bungkam. Kalau begini caranya, tak ada alasan baginya untuk mengelak analisis Ryeowook yang terdengar sedikit banyak agak benar.
"Oke," Sungmin menepuk tangannya, "jadi inti-nya sekarang aku mau belajar. Aku belum belajar semalam."
Ryeowook membulatkan matanya. "Serius? Kenapa tidak bilang dari tadi? Anak kelas sebelah bilang soalnya susah loh!"
"Makanya Ryeonggu, sekarang aku mau belajar!"
Ryeowook mengangguk maklum, "Oke, semangat ya belajarnya. Ingat! Kalau tak bisa mengerjakan, batuk 3 kali oke? Itu kesepakatan kelas kita. Jadi bisa dipastikan apa kita /italic/re-test/italic/ atau nggak."
"Oke."
.
.
.
.
.
.
.
Sungmin berjalan dengan lemas sejak keluar dari kelas. Ia ingat sekali di kelas beberapa jam yang lalu, ialah yang batuk paling pertama dan satu-satunya yang memberi kode batuk di kelas, yang berarti semuanya bisa mengerjakan soal ulangan kecuali dia. Nilai praktek Sungmin memang selalu bagus, tapi kalau soal teori, buang saja ke laut. Pada akhirnya, Sungmin mengerjakan ujian semampunya dengan ingatan pas-pas an dan sisanya asal jawab atau main tebak-tebakan.
Sekarang langit sudah mulai gelap. Belum terhitung malam sih, tapi ia berani bertaruh kalau dia satu-satunya murid yang masih berada dalam gedung sekolah.
Ah, tidak juga.
Lampu ruang guru masih menyala, yang berarti masih ada orang.
Peduli amat.
Sungmin kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga, hingga berjalan ke arah gerbang sekolah. Ia menatap langit yang sepertinya mulai mendung, lalu ia menatap pos satpam yang berada persis di samping gerbang sekolah. Ia berhenti di tengah jalan sebentar.
"Waduh, satpamnya tidur! Kalau tiba-tiba ada maling gimana? Gerbang kan belum di tutup!" Sungmin mengoceh sendiri. Tiba-tiba dia teringat kalau dia, lagi-lagi lupa membawa payung. pepatah mengatakan, sedia payung sebelum hujan. Tapi menurut Sungmin, melakukan hal seperti itu malah merepotkan, jadi ia selalu membawa payung saat diperkirakan akan hujan saja. Lagipula, hampir semua orang melakukan hal yang sama kan?
"Ah, mana nggak bawa payung lagi!"
Biasanya kalau ia lupa bawa payung saat hujan, ia meminjam payung yang sudah tersedia di pos satpam, yang memang sengaja di letakkan untuk di pinjam murid. Tapi, payung itu ada di laci yang dikunci dan kuncinya biasa di pegang oleh satpam.
"Ya sudahlah. Hujan-hujanan juga seru kok. Kalau ulangan jelek, bilang aja ke guru pas ngerjain lagi tidak enak badan." oceh Sungmin sementara kakinya tetap berjalan lurus ke depan.
Ah, Sungmin tak tau ya kalau Kyuhyun sedang menunggunya di depan?
Pria itu melepas kacamatanya saat melihat Sungmin yang hendak keluar gerbang. Tanpa menunggu, ia langsung menghampiri Sungmin sambil membawa payung. Jaga-jaga saja siapa tau benar-benar hujan.
"Ehm... Lee Sungmin?"
Sungmin menoleh dan terkejut. Pria ini...
"Siapa ya?"
Kyuhyun yang awalnya tersenyum lebar menggaruk kepalanya. Ternyata Sungmin tak mengenalinya, padahal bisa dibilang Kyuhyun selalu hadir di media apa saja, entah itu mengiklankan produk makananlah, sabunlah, obat perawatan wajahlah, drama, musikal, lagu, dan segala macamnya. Ah, mungkin dia tak suka menonton televisi atau baca majalah.
"Ehm... namaku Cho Kyuhyun."
"Oh, artis itu..." gumaman Sungmin terdengar begitu keras, namun untuk tak terkesan sok ikut campur, Kyuhyun pura-pura tidak dengar.
"Aku bekerja sebagai-"
"Artis kan?" sela Sungmin. Kyuhyun mengangguk.
"Terus kenapa kau tidak bekerja? Kenapa malah ada disini?"
"Jadwalku sedang bebas. Semuanya sudah di padatkan bulan lalu. Ehm..." Ayo Kyu, ayo! Jangan gugup! "Kau pulang sendiri? Kenapa sore sekali?"
Sungmin yang sebenarnya memang agak sedikit anti dengan Kyuhyun tersenyum canggung. Rasanya ingin sekali Sungmin lari secepat mungkin dari hadapan pria di hadapannya ini. Kalau fansnya lihat, pasti Sungmin bisa dikatai tak tau beruntung.
"Ah... Tadi baru menyelesaikan tugas mingguan. Aku biasanya selalu pulang sendiri kok."
Kyuhyun membulatkan matanya. "Benarkah? Kau pulang sendirian? Kau berani?"
Sungmin mengangguk. "Aku pernah les bela diri. Ehm... maaf, tapi sebentar lagi hujan, aku ingin segera pulang. Permisi." Sungmin dengan sopan pergi mendahului Kyuhyun, namun Kyuhyun terlebih dahulu menarik tangannya, sehingga Sungmin tertahan.
Sungmin melihat pergelangan tangannya yang dipegang erat oleh Kyuhyun. "Maaf-"
"Ah, maaf! Maaf!" Kyuhyun yang sadar akan ke-refleks-an tangannya langsung melepas Sungmin dan melangkah mundur. Sungmin tersenyum penuh etika walaupun dalam hatinya, ia agak sedikit mengutuk pemuda ini.
"Tak apa. Sepertinya kau ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Tapi maaf, aku takut sebentar lagi hujan." Dan benar saja, suara guntur mulai bermunculan di mana-mana.
"Ah, kan. Langit sudah berisik. Mohon maaf, tolong simpan dulu kalimatmu. Mungkin-"
"Tidak, tidak, tak ada yang penting." Walaupun sebenarnya ada, "Aku hanya ingin kau membawa payung ini mengingat sebentar lagi hujan." Kyuhyun menyodorkan payungnya.
"Tidak perlu, terima kasih. Kau simpan saja. Nanti kau kehujanan." Sungmin menolak halus.
"Tidak apa-apa, bawa saja. Mobilku ada di seberang." tunjuknya ke arah lamborghini hitam yang terparkir.
"Oh, begitu ya. Tapi tetap saja, tak usah, mana tau nanti kau butuh. Lagipula, kalau aku sakit, aku bisa ada alasan andai saja ujianku tidak lulus." Sungmin kembali menolak halus setengah bercanda. Sungmin bukannya bodoh. Ia tau maksud dari Kyuhyun. Kalau dilihat dari sisi normalnya, Kyuhyun memang baik hati meminjamkan payung. Tapi kalau dilihat dari segi pandang Sungmin yang sering membaca manga, Kyuhyun pasti meminjamkan payung itu supaya nanti Sungmin mengembalikannya dan mereka bisa bertemu lagi.
Memang benar seperti itu rencana terselubung Kyuhyun.
Setetes demi setetes, hujan mulai turun. Tanpa berpikir lebih lama, Kyuhyun membukakan payung dan membuka kepalan tangan Sungmin, memaksa gadis itu memegangnya.
"Maaf, aku harus segera kembali ke mobil. Aku bawa ponsel, takutnya basah." Dengan sesegera mungkin Kyuhyun menaiki mobilnya dan memutarnya mendekati Sungmin. jendela-nya ia buka. "Kau jalan saja dulu. Atau kau mau kuikuti sampai ke rumahmu? Atau kau mau kuantar sekalian?" tawar Kyuhyun. Sungmin menggeleng.
"Baiklah, aku duluan ya. Payung itu untukmu saja. Sampai jumpa."
Mobil itu bergerak menjauhi Sungmin. Rencana awalnya untuk menjadikan payung sebagai alasan bertemu Sungmin lagi ia batalkan. Biarlah payung itu untuk Sungmin. Ia masih bisa membeli yang baru lagipula, Sungmin lebih mudah didekati daripada yang ia kira.
Sungmin menatap mobil itu hingga tak terlihat bayangannya. Ia lalu menatap langit, payung, sebelum akhirnya ke tangannya sendiri. Sungmin menghela nafas. Kalau saja dia tidak kaget tadi, pasti payung ini sudah kembali ke tangan pemiliknya. Tapi mau bagaimana lagi?
"Hah... ternyata memang ditakdirkan untuk tidak hujan-hujanan. "
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N:
Oke, jadi ceritanya IPS itu sibuk. Jadi, ngerjain FF harus satu-satu dan kalau bisa cepet aja udah bagus ._.
Soal penggunaan bahasa nggak baku disini, itu disengaja. Kalo nggak, nanti rasanya aneh-aneh gimana gitu :c
Terus terus! Ceritanya Sungmin bener-bener masih gak rela ditinggal sama anjingnya. Oke, ini emang lebay, tapi inilah karakter Sungmin di FF ini /o\
Special thanks bagi kalian yang udah review kemaren itu ^^ apalagi yang follow dan favorit! Maaf banget gak bisa tulisin nama satu-satu oke :( lagi ada sedikit masalah kesehatan
See U!
