Chapter 2 : Zero, cute!

.

Title : Angel

Disclaimer : I don't own Vampire Knight

Rated : T

Genre(s) : family, hurt/comfort, drama

Warnings : baby!Zero, OOC, typo(s), tidak sesuai dengan EYD

.

.

"Kaname."

"Pappaa..."

"Ka..na..me..."

"...Papaaa.."

"Tidak Zero, Ka-na-me."

Zero hanya tertawa girang seraya menggapai wajah Kaname dengan tangannya. Menghela napas pasrah, Kaname tersenyum lembut seraya mengusap pelan surai silver bayi dalam gendongannya itu. Sejak terbangun dari tidurnya, Zero terus-menerus bergelayut pada Kaname dan memanggilnya 'Papa'. Itu membuat sang pureblood sedikit risih. Apa pendapat orang saat melihat remaja sekolah menggendong seorang anak yang memanggilnya 'Papa'?

Rencananya, hari ini Kaname akan membeitahu para night class tentang Zero. Bagaimanapun, dia tidak mungkin bisa menyembunyikan semua ini. Dia juga membutuhkan bantuan mereka untuk merawat Zero. Karena kemampuannya dalam mengurus anak kecil nihil. Tidak bisa sama sekali. Mungkin Rima, Ruka atau Yuuki mengetahui sedikit.

"Papaaa.." Sedari tadi, Zero hanya bermain dengan rambutnya. Catat bahwa Zero membutuhkan mainan. Mungkin dia akan mengajaknya belanja beberapa pakaian juga nanti. Tidak mungkin Zero memakai pakaian yang sama sepanjang hari, bukan?

"Zero sayang, jangan makan rambutku." Helaian rambut kaname yang sedikit panjang berhasil dilamut oleh bibir tipis bayi kecil itu. Mungkin Zero juga lapar. Entah kapan terakhir kali Zero mengisi perutnya. Kaname juga tidak tahu berapa lama Zero terjebak di hutan itu sebelum dia menemukannya. Bisa saja berhari-hari, atau mungkin berminggu-minggu. Sudah pasti anak kecil ini lapar buas.

Secara perlahan dan lembut, Kaname melepas genggaman tangan Zero pada rambut coklatnya. Yang benar saja, anak itu mulai merengek, akan menangis. Mata besar amethyst yang difavoritkan Kaname itu mulai tergenang air. Bibir tipis merah muda itu mulai bergetar. Gah, imut sekali.

Kaname akui, dia mulai ketergantungan pada wajah manis dan innocent milik Zero

"Oh.. sini..sini.., Zero. Jangan menangis. Kamu pasti lapar. Aku buatkan sesuatu untukmu, oke?" ujar Kaname pelan seraya menimang-nimang Zero. Seakan memastikan kebenaran, Kaname menyentuh bibir Zero dengan jari telunjuknya. Yang benar saja, bibir Zero mulai terbuka dan menghisap pelan ujung jari itu. Bibir Zero terasa lembut dijarinya.

Oh, Kaname. Kau pedofil.

Tok! Tok! Tok!

Kaname segera menarik jarinya. Itu membuat Zero menggeliat dan merengek karena kehilangan sesuatu yang membuatnya nyaman itu.

"Kaname!"

"Masuk."

Pintu kamarnya terbuka oleh Takuma. Perlahan, vampire level B itu masuk menghampiri Kaname yang menggendong Zero seraya tersenyum lebar.

"Oh.. Zero-chan sudah bangun! Ayo, ikut Takuma-nii, yaa?" ujar Takuma seraya mengulurkan kedua tangannya pada Zero. Anak dalam gendongan Kaname hanya menatap uluran tangan itu bingung, kemudian menatap 'Papanya' bergantian.

"..Paaaa..."

"Zero, ikut Takuma dulu, yaa?" ucap Kaname sambil mencium kedua pipi Zero gemas. Itu membuat Zero memekik senang.

Takuma yang melihat itu hanya mengedip matanya berkali-kali. Dia tidak salah lihat, kan? Tidak pernah menyangka dia bisa melihat sisi 'lain' Kaname secara langsung.

Takuma yang melihat wajah tembem Zero juga mulai tidak sabar. Dia menggendongnya pelan begitu Kaname memberikan Zero padanya. Saat dalam gendongannya, tangan kecil milik Zero menepuk-nepuk pipi Takuma dengan tatapan tertarik di wajah manisnya.

"Aku akan membuatkan makanan untuknya. Bawa dia bermain dengan yang lain."

Tanpa menjawab, Takuma segera berlari keluar dari kamar Kaname.

.

.

Selama dalam perjalan menuju ruang bawah. Takuma menghibur Zero dengan segala macam cara. Mengingat Zero kini sedang lapar, Takuma memberinya sebuah bola berukuran sedang. Reflek, seorang bayi yang melihat sesuatu sudah pasti memakan dan menghisapnya. Bola itu sedikit kebesaran untuk bisa masuk kedalam mulut Zero. Lagipula. bola itu terbuat dari bahan elastis yang aman untuk bayi. Takuma sendiri yang membuatnya semalam suntuk.

Hebat, kan?

"Zero, panggil Nii-san, Ta..ku..ma.."

Zero melepas hisapan dari bola di kedua tangannya. Memandang Takuma dengan senyuman lebar.

"Maa..."

"Ta-ku-ma."

"Maaaa..maaa.." pekik Zero girang seraya bertepuk tangan dengan miliknya yang tergolong kecil itu. Bola yang akan jatuh itu segera Takuma tangkap sebelum bisa jatuh ke tanah.

Jangan sampai Zero memanggilnya 'Mama'

"Sedikit lagi, Zero-chan. Ta-ku-ma..."

"Uuuu...maaa.."

"Taa...kuuu...maaaa"

"..Taa..maaa.."

Takuma hanya menghela napas, kemudian tertawa kecil. "...Oke, itu sudah cukup," ujarnya pelan seraya mencium kening Zero. Bayi itu hanya tertawa dan terus menerus meraban tak jelas.

Perlahan, Takuma menuruni tangga menuju lantai bawah. Dimana Aidou dan yang lain sedang bersantai dan mengobrol. Mereka semua menoleh begitu mendengar Takuma mendekat. Mata mereka menangkap bayi asing yang berada dalam gendongan Takuma.

Zero yang sedari tadi bermain dengan bola yang diberikan Takuma berhenti sejenak. Kedua mata besarnya menatap orang-orang baru yang baru saja dilihatnya. "Daaa..." Kedua tangan Zero bergerak-gerak kedepan seakan meraih sesuatu. Senyuman tanpa gigi dia pamerkan dengan lebar dan leluasa. Dia terlihat sangat tertarik dengan orang baru didepannya. Saking girangnya, suara pekikkan hingga keluar dari mulut kecil Zero.

Para murid night class tercengang melihat bayi yang ada dalam gendongan Takuma. Mereka mulai berpikir yang tidak-tidak. Ekspresi di wajah mereka berwarna-warni.

"T-takuma? K-kau sudah memiliki anak?" tanya Aidou gagap dengan tatapan horor melihat senyuman cerah yang sedari tadi terpampang di wajah Takuma.

"Taaa...maaaa.." ujar Zero meraban nama Takuma begitu mendengar nama itu sambil menghisap jempol tangan kecil miliknya. Beberapa mulai luluh begitu melihat wajah Zero yang menggemaskan dan manis.

Salah satunya Senri dan Rima. Mereka menghampiri Takuma dan Zero dan menunduk pelan agar pandangan mereka sejajar dengan Zero. Begitu melihat Zero menghisap jempolnya, Senri langsung menarik jempol tersebut keluar dari bayi kecil itu.

"Jangan menghisap jempol, nanti tergigit," ujar Senri seraya menarik pelan pipi Zero yang gemuk itu. Itu hanya mengundang tawa dari Zero, dia terpekik keras seraya menepuk-nepuk wajah Senri yang tidak begitu jauh dari jangkauannya.

"Bodoh, dia masih belum punya gigi," sahut Ruka yang masih berdiri ditempatnya dengan tangan terlipat, seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi. Tetapi, masih bisa tertangkap dari ekor matanya yang melirik-lirik untuk mencuri pandangan pada Zero, bahkan kedua pipinya yang sedikit merona merah. Oh, Ruka. Kau terlalu kaku.

"Sepertinya, dia lapar. Mau pocky?" tawar Rima seraya mengambil satu pocky baru dari kotak yang dibawanya. Dia mengulurkan pocky itu ke depan mulut kecil bayi itu. Zero yang pada dasarnya akan selalu melahap apapun yang berada didekatnya langsung membuka mulut dan memakan pocky itu, atau lebih tepatnya menghisap. Mengingat dia masih belum memiliki gigi. Kedua tangan kecilnya mengambil alih untuk memegang pocky yang dia makan.

"Hei, apa itu tidak apa-apa?" tanya Kain khawatir melihat Zero yang sepertinya sedikit kesusahan untuk memakannya. Sedikit air liur menetes dari ujung bibirnya. Seharusnya dia diberi makanan yang lebih lembut dan mudah dimakan untuk bayi. Kain, ternyata kau peduli.

Tidak seperti sepupumu, Aidou yang sedari tadi hanya celingak-celinguk tidak jelas. Bisa dilihat tidak banyak keringat yang mulai mengucur di wajahnya. Kain yang melihat keadaan saudaranya itu hanya mengangkat alis.

"Hana, kau baik-baik saja?"

Dia terlihat seperti menahan sesuatu. Para night class lain pun akhirnya menatap Aidou bingung. Begitu pula Zero yang berhenti memakan pockynya dan menatap Aidou dengan mata berkilauan.

"Aaaa..Haaa..aaa..naaaa.."

Dan pada kenyataannya, itu membuat Aidou semakin gemas.

"Ahhh...dia menyebut namaku!" seru Aidou tiba-tiba seraya mendekat pada Zero, menyingkirkan Senri dan Rima yang sebelumnya berada di depan Zero. Mengundang protes dari kedua pocky lover tersebut. Pemuda blonde itu langsung merebut Zero dari Takuma dan memeluknya erat. Zero yang diperlakukan seperti itu hanya bermain dengan rambut Aidou dan memakannya. Kebiasaan. Atau mungkin dia terlalu lapar.

Wajah Takuma menunjukkan ketidakrelaaan saat Zero direbut darinya. Tetapi, pada akhirnya dia hanya menghela napas pasrah.

"Jadi, siapa namanya?" pertanyaan Aidou mewakili semua keingintahuan para night class yang lain. Hilang sudah pikirannya tentang bayi itu yang kemungkinan merupakan anak Takuma. Tidak ada roman fisik Zero yang mirip dengan Takuma. Jadi, tidak mungkin. Tentu saja.

Dengan gemas, dia menciumi wajah Zero. Setiap inci, tidak ada yang tersisa

Takuma tersenyum lebar. "Namanya-"

"Apa yang kau lakukan pada Zero, Aidou?"

Mereka semua menegang begitu mendengar suara tajam nan dingin itu. Semuanya menoleh kearah dimana suara yang menusuk itu datang. Zero yang seakan tidak terpengaruh hanya menepuk kedua tangannya seraya tersenyum lebar menatap sosok tinggi yang berada di atas tangga. Pocky yang didapat dari Rima dia biakan jatuh begitu saja.

Tawa disertai pekikkan keras keluar dari mulut Zero begitu melihat sosok tersebut berjalan semakin mendekatinya. Kedua tangannya terayun-ayun kedepan seakan ingin menggapai sesuatu.

"Aaaa...Paapaaaa.."

.

.

TBC

.

.

A/N : Hai guys! Maaf lama updatenya. Saya ingin fokus dulu ke novel. Jadi, mungkin saya tinggal sebentar. Tapi saya akan segera update lagi setelah selesai dengan novel. Paling cepet pertengahan bulan. Jadi mohon sabar menunggu, oke. ;)

Thanks buat kalian yang telah read/review/fav/follow fic saya. Love you all. Saya yakin kalian masih belum terlalu puas. Terlalu pendek kan? Saya akan kasih yang lebih panjang untuk chap depan.

.

So, review, please?