Suasana di kamar Chosokabe Motochika mulai hening, sedikit terselingi dengan rasa tegang di antara dia dan Date Masamune. Lampu minyak menjadi satu-satunya penerangan di sini. Keduanya kini duduk berhadapan. Motochika bisa melihat jelas bagaimana tampilan daimyo Oshuu yang tengah duduk bersimpuh di hadapannya. Laki-laki berambut cokelat gelap itu benar-benar mengenakan kimono wanita berwarna kuning dengan motif dedaunan berwarna hitam. Rambut cokelatnya digelung dan diberi hiasan bunga. Yang paling menarik perhatiannya adalah riasan di wajahnya yang membuatnya semakin bercahaya. Dia tidak lagi ingin memikirkan bagaimana Tokugawa Ieyasu mengubahnya menjadi demikian eloknya.
"Dokuganryu…" ucapnya kemudian memecah keheningan. "Kau…err…"
"Ada apa, Motochika?" tanya Masamune.
"Uuukh…kau itu…penuh kejutan…" jawab Motochika gugup. "Aku tidak menyangka kau akan meminta bantuan Ieyasu untuk tampil seperti ini. Secara tidak langsung, kau sudah memberitahunya kalau kita punya hubungan istimewa."
"Tidak usah diberitahu pun dia sudah mengetahuinya. Kalian juga punya hubungan persahabatan yang sangat kental kan? Dia dengan mudah mengetahuinya karena dia adalah sahabatmu."
"Bagaimana mungkin dia mengetahuinya? Seharusnya tadi kutanya dulu sebelum—"
"Hey, kau pikir malam ini tidak cepat berlalu, hah? Akan butuh waktu lama untuk Ieyasu menjelaskannya padamu! Sekarang bukan waktunya menjelaskan dari mana semua ini berawal. Aku harus meneruskan roleplay ini atau aku tidak akan punya kesempatan lain lagi."
Motochika menghela nafas dan memilih untuk tidak berdebat lagi. Tampilan Masamune terus terang sudah mampu mengalihkan dunianya. Dia tidak akan mampu memikirkan hal yang lain karena apa yang ada di depannya jauh lebih menggodanya. Ieyasu sudah memasrahkan Masamune kepadanya, jadi sekarang tinggal terserah dia mau melakukan apa padanya.
"Saikai no Oni, buka bajumu dan berbaringlah di tempat tidurmu," kata Masamune tiba-tiba mengejutkannya.
"Ka—kau mau apa, Dokuganryu? Bisakah kita melakukan pemanasan sebelum—"
"Oh, come on! Jangan salah tangkap dulu lah! Aku ingin memijat badanmu. Lihat, aku bawa minyak zaitun yang kupinjam dari Ieyasu," potong Masamune sebelum Motochika protes lagi. Dia mengeluarkan botol kaca berisi minyak zaitun yang dia simpan di balik obi kimononya. Dia lalu beringsut mendekati Motochika dan berhenti tepat di depan lututnya. Satu tangannya bertumpu di pahanya dan dia berkata, "This is my extra service. Sekarang, buka bajumu dan berbaringlah…"
Motochika rasanya tidak punya kuasa untuk melawan. Dia akhirnya menurut untuk membuka yukatanya dan berbaring di tempat tidur. "Fundoshiku juga?" tanya dia sedikit tersipu. Masamune hanya mengangguk, dan Motochika pun melepas fundoshinya. Tidak hanya dia yang tersipu, wajah Masamune ikut merona melihat dia membuka fundoshinya. Segera setelah laki-laki itu berbaring telungkup, dia menutupi pinggulnya dengan selembar kain. Hanya badan dan kakinya saja yang terlihat.
"Kuperingatkan padamu, Dokuganryu. Otot-ototku ini sangat besar, kau perlu tenaga cukup kuat jika ingin memijatku," jelas Motochika.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin memberikan pijatan terbaik untukmu, Saikai no Oni. Jika aku tidak bisa memuaskanmu, aku akan mengecewakan tuanku," jawab Masamune sambil melipat lengan kimononya supaya tidak mengganggunya saat harus bekerja nanti.
Yang dilakukan Masamune pertama kali adalah membelai punggung pria berambut perak itu dari leher sampai ke batas pinggang. Dirasakan otot-ototnya berjengit di telapak tangannya karena sentuhan itu. Kemudian dia menuang minyak zaitun ke telapak tangannya dan dibalur ke punggung kekar itu. Setelah merata, dia mulai memijat bagian pundak dan leher. Benar kata Motochika, otot-ototnya sangat besar. Dia harus menggunakan tenaga yang besar pula supaya pijatannya terasa menembus sampai ke urat-uratnya.
"Hmm…nikmat sekali pijatanmu, Dokuganryu…" gumam Motochika menikmati setiap gerak telapak tangan Masamune di pundak dan lehernya.
"Ini baru permulaan. Aku senang kau menikmatinya," jawab Masamune kemudian meneruskan pijatannya ke bagian punggung. Kali ini dia menggunakan 2 kepalan tangan untuk mengurut dari garis pinggang ke bagian leher.
"Katakan padaku, apa yang mendorongmu melakukan ini, Masamune?"
"Dari persepsiku, atau dari persepsi Ieyasu?"
"Hey, aku tidak bertanya soal Ieyasu. Aku bertanya soal kau. Mengerti?"
Masamune mendengus tertawa dan tidak ingin menjawab dulu selagi dia meneruskan pijatannya yang sekarang diarahkan ke lengan kekar Motochika. Dalam hati, dia memuji betapa sempurna otot-otot Iblis Penguasa Lautan yang sedang dipijatnya ini. Dia sebagai laki-laki, mengaku iri padanya. Keduanya sama-sama petarung hebat, tetapi fisik mereka menjadi perbedaan yang sangat mencolok.
"Aku ingin membuatmu merasa nyaman selagi berada di sini, Saikai no Oni…" jawab Masamune kemudian. "Di hari pertama kau datang ke Sunpu, aku merasa kau sedang membangun dinding tebal dan tinggi sehingga aku tidak bisa menjangkaumu dengan tanganku. Sekalinya aku bisa menjangkaumu, kau menjauh dariku."
"Aku mengerti perasaanmu. Maka itu aku minta maaf, Dokuganryu," kata Motochika menanggapinya.
"Ini bukan salahmu, aku tahu. Kau perlu ruang dan waktu sendiri untuk menyelesaikan masalahmu dengan Ieyasu. Aku senang semuanya berakhir dengan baik, tanpa ada pihak yang dirugikan."
"Ini juga berkat bantuanmu. Jika kau tidak membantu kami, mungkin kami akan saling memunggungi sampai sekarang."
"Untuk kau tahu, aku tidak melakukan ini untuk kalian. Aku melakukan ini untuk diriku sendiri."
"Apa maksudmu, Masamune?"
Masamune menuang minyak zaitun untuk melicinkan telapak tangannya sekali lagi. Dia mengulang pijatannya di bagian pundak dan punggung beberapa kali karena otot-otot di sana terasa kaku. Motochika selalu memanggul jangkar besarnya di sana, maka daerah ini harus dipijat lebih banyak. Dia melakukannya sambil meneruskan kata-katanya, "Aku ingin masalahmu cepat selesai. Dengan begitu, kau akan memberikan perhatianmu padaku."
Daimyo Oshuu itu tidak tahu kalau Motochika sekarang sedang tersenyum lebar menanggapi kata-katanya barusan. Kepalanya telungkup beralaskan kedua tangannya yang dilipat. Dia merasa lega. Setelah urusannya dengan Ieyasu sudah selesai, dia telah merobohkan dinding pemisahnya dengan Masamune. Mereka nyaris tidak berbicara banyak ketika dia sedang dilanda masalah besar. Naga Bermata Satu itu berusaha memberikan perhatian padanya. Namun suasana hatinya sedang tidak baik, sehingga dia memilih untuk menjauh dulu.
Malam ini, mereka seperti ini mengukuhkan kembali hubungan mereka yang sempat berjarak. Yang tidak disangka oleh Motochika adalah cara yang digunakan Masamune ini terlalu gila. Sampai harus melibatkan Ieyasu sebagai perantara mereka. Walau katanya hanya sebuah permainan, tapi ini terlihat serius di matanya.
"Aku buka sebentar kainnya, karena aku harus memijat pinggul dan pahamu," kata Masamune kemudian membuka kain penutup pinggul Motochika. Dia menuang minyak zaitun ke telapak tangan dan mulai memijat.
"Mmh…di situ, Masamune. Coba lebih kuat lagi," kata Motochika, merasakan pijatan Masamune kurang kuat di sekitar pahanya. Benar, karena ototnya besar, jadi Masamune harus memijatnya lebih kuat lagi. Dia bahkan harus menegakkan badannya supaya bisa mendapat tenaga lebih besar. Dari situ, dia kemudian turun ke betis dan sampai ke pergelangan kaki. Sekali lagi Masamune menggunakan kepalan tangannya untuk mengurut naik dari telapak kaki, ke betis, ke paha sampai ke garis pinggulnya, lalu turun kembali ke pergelangan kaki.
"Dari mana kau belajar memijat seperti ini, Masamune?" tanya Motochika.
"Aku tidak belajar, tapi aku sering dipijat oleh Kojuuro untuk menjaga kebugaran badanku," jawab Masamune sambil menekan-nekan tumit dan telapak kaki Motochika. "Apa aku cukup kuat melakukannya, Saikai no Oni?"
"Aku sangat menikmatinya. Aku bisa tidur nyenyak setelah kau pijat seperti ini. Mmh, nikmatnya pijatanmu di betisku. Sekali lagi, Dokuganryu."
"Hai'…" sesuai permintaan Motochika, Masamune mengulang pijatan di betisnya. Dia mendengar Motochika mendesis dan bergumam merasakan kenikmatannya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat ketika suara pria itu menggema di kepalanya. Sebisa mungkin dia tetap tenang, jangan sampai Motochika tahu bagaimana perasaannya sekarang ini.
Minyak zaitunnya dituang lagi ke telapak tangannya, dan kali ini lebih banyak. Dia akan mengurut dari ujung kaki sampai ke leher dengan sekali dorongan kuat. Dia berpindah posisi ke bawah kaki. Dengan segenap kekuatannya, dia mulai mendorong tangannya dari pergelangan kaki Motochika. Naik ke betis, ke paha, dan turun sekali lagi ke betis untuk mengulang gerakannya. Setelah itu, dia naik ke pinggul dan menambah tenaganya ketika harus memijat area punggung dan pundaknya. Motochika sekali lagi mendesis dan bergumam, "Oh…enak sekali, Masamune. Lebih kuat lagi…"
Masamune kini duduk di atas pinggul Motochika, mengerahkan tenaganya untuk memijat punggung kekar Bajak Laut itu. Dia sendiri mulai tidak tenang sebenarnya. Merasakan kulit gelap Motochika bersentuhan langsung dengan telapak tangannya memberikan sensasi kenikmatan tersendiri untuknya.
"Saatnya berbalik, aku akan memijat bagian depan badanmu," katanya kemudian bangkit dari pinggul Motochika.
Melihat pria berkulit gelap itu membalik badan dan berbaring telentang, jantung Masamune kembali berdegup kencang dan kali ini wajahnya merona. Dia tidak berhenti memuji betapa indahnya badan Motochika. Mata kelabunya bahkan sempat menatap sejenak 'milik' Motochika yang membesar. Dia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Namun dia tidak ingin mencuri awalan. Dia akan tetap berada pada naskah permainannya.
"Dokuganryu?" suara Motochika lalu membuyarkan lamunan sesaatnya. Dia lantas mengambil botol minyak zaitun dan menuangnya ke tangannya. "Hey, Dokuganryu. Naiklah ke sini," perintah Motochika kemudian sambil menunjuk ke perutnya. Tanpa melawan, Masamune pun menurutinya. Dia duduk membelah kakinya ke sisi pinggang Motochika dan mulai memijat. Di mulai dari pundak dan dadanya, kemudian turun ke bagian perutnya yang terbentuk sempurna. Masamune berusaha menjaga baik-baik nafasnya supaya tidak terdengar memburu.
Mungkin lebih baik dia tidak bersuara…
Dia harus konsentrasi dengan pekerjaannya sekarang…
Selesai memijat badan, dia mengangkat satu tangan Motochika dan mengurut dari pergelangan hingga ke lengannya. Kemudian ditarik kembali ke pergelangannya. Dia melakukan hal yang sama di tangan satunya. Telapak tangannya dan jari-jarinya juga dipijat. Di tangan terakhir, dia melakukan hal yang mengejutkan Motochika. Jari-jari pria itu dicium dan dijilatnya, sambil mengarahkan pandangan tajam ke mata biru pria itu.
"Sudah tidak sabar ya?" goda Motochika kemudian membelai garis dagu Masamune.
"I tried…" gumam Masamune masih terus menjilat jari dan telapak tangan Motochika.
Satu hisapan panjang mengakhiri urusan Masamune di jari-jari tangannya. Dia lalu berbalik dan memunggungi Motochika karena dia akan memijat kakinya. Saat dia memijat, dia merasakan 'milik' Motochika berdenyut menegang. Sebisa mungkin dia tidak menghiraukannya, khawatir ini malah mengacaukan konsentrasinya. Tidak disangka pijatannya malah bisa membuat pria itu terangsang.
"Dokuganryu, tetap pada tempatmu…" tiba-tiba Motochika menyelipkan tangannya ke bawah kimono Masamune. Dia menyentuh pinggul Masamune dan menyebabkan laki-laki itu berjengit terkejut sampai harus menghentikan pijatannya. Saking terkejutnya, dia sampai bertumpu di kedua paha Motochika.
"Apa yang kau lakukan?!" sentaknya.
"Tidak ada yang menyuruhmu berhenti. Lanjutkan pijatanmu."
"Tapi—ah!" Masamune semakin tidak tenang ketika 2 jari Motochika masuk ke belahan bokongnya, dan didorong masuk ke lubangnya. Bagaimana dia akan meneruskan pekerjaannya jika Motochika melakukan ini padanya? "Hentikan…keluarkan…" katanya memohon.
"Kau tidak lupa dengan tugasmu kan? Jangan buat tuanmu kecewa, Dokuganryu. Kau harus memuaskan aku malam ini."
Tidak ada pilihan kecuali menurutinya. Masamune sebisa mungkin meneruskan pijatan di kaki Motochika. Dia menggunakan kepalan tangannya untuk didorong dari paha sampai ke pergelangan kaki, lalu kembali naik ke pahanya. Seiring dengan itu, Motochika mendorong semakin dalam jarinya ke 'bagian belakang'nya. Hal ini menyebabkan pijatannya tidak sekuat yang sebelumnya.
"Mengapa tiba-tiba kekuatanmu menghilang, Dokuganryu?" tanya Motochika. "Kakiku sedang sangat pegal. Jika kau tidak memijatnya dengan kuat, pegalnya tidak hilang."
"Ngh…maka itu hentikan…" balas Masamune gelisah.
"Ayolah, Sayang. Sedikit lagi selesai kan?"
Masamune menggigit bibir bawahnya, mencoba melawan kegelisahan yang melandanya. Dia menuang minyak zaitun ke telapak tangannya dan kembali mengurut kaki Motochika. Jika dia tidak sedang dalam perannya sekarang, dia bisa saja memuntir salah satu kaki pria ini demi menyuruhnya berhenti menggodanya.
"Oh tidak! Di sana! Motochika, di sana…nngh!" tiba-tiba dia terlonjak kaget ketika jari Motochika menekan titik paling peka di dalam sana. Gerak jarinya semakin membuatnya gelisah, desahan pelan terselip keluar dari mulutnya. Kedua tangannya terkepal kuat, hasrat dalam tubuhnya mulai membakarnya.
Pemandangan di depan mata pria berambut perak itu semakin memancing hasratnya. Pijatan yang diberikan Masamune malah membuatnya terangsang dan dia tidak sabar ingin segera menikmati tubuh laki-laki berbalut kimono ini. Dia lalu bangkit dan duduk mendekap Masamune dari belakang. Dagunya ditarik dan bibirnya dicium. Akhirnya dia bisa mencium bibir merah jambu laki-laki ini penuh nafsu. Lidah mereka bertemu dan suara decaknya terdengar jelas. Selesai mencium bibirnya, dia menjilat telinganya hingga Masamune tidak lagi menahan suaranya.
"Hentikan…nngh…Motochika…"
Motochika menyeringai dan berkata, "Kau benar-benar menggoda, Dokuganryu. Dari mana kau mendapatkan ide gila macam ini untuk menggodaku, hm? Benarkah kau yang meminta bantuan Ieyasu untuk bisa tampil seperti ini?"
"Aku tidak bohong…" Masamune menarik dekat wajah pria itu dan meneruskan, "Aku memang ingin memberikan extra service kepadamu dengan cara ini."
"Bagaimana tanggapan Ieyasu mendengar ide gilamu ini?"
"Dia sama terkejutnya denganmu. Tapi toh dia setuju untuk membantuku melakukannya. Dia malah senang, kau bisa lihat bagaimana dia mencoba memancingmu kan?"
"Sialan, kalian ini…" Motochika mencium lagi bibir Masamune dan kali ini lebih bernafsu. Sambil terus berciuman, dia mendorong pelan tubuh Naga Bermata Satu itu berbaring ke lantai.
"Ngh…sebentar, Motochika…" Masamune lalu menarik diri dari ciumannya. Dia memegang kedua pundak Motochika dan berkata, "Aku tidak ingin merusak kimononya."
"Tapi aku tidak ingin kau membukanya, Masamune. Aku ingin terus melihatmu dengan tampilan seperti ini."
"Tidak, aku tidak bisa. Tuanku bisa marah jika kimononya rusak. Bisa-bisa, setelah ini dia akan menghukumku."
"Kau takut akan merusak kimononya atau takut pada tuanmu, hah?"
"Jangan memberiku pilihan sulit…"
Motochika mencium kening Masamune dan berkata, "Baiklah, lepas dulu kimononya sebelum kita melanjutkannya."
"…Hai'…"
Demi memberi ruang untuk Masamune melepas kimononya, Motochika mengangkat badannya sedikit menjauh darinya. Pemandangan di bawahnya ini sukses mengacaukan pikirannya. Rona merah di pipi Masamune semakin jelas, sedikit tersamarkan dengan tata rias di wajahnya. Dia masih tidak percaya bahwa laki-laki yang dipujinya di medan perang ini bisa tampil demikian elok dan manis. Melihatnya sedang membuka lapis demi lapis kimononya, dia semakin terlihat menggoda.
Kini tubuh Masamune terbuka seutuhnya. Tidak ada lagi lembaran benang setipis apa pun yang menutupinya. Motochika membelai wajahnya, kemudian memainkan jarinya di garis dagu sampai ke lehernya. Dia lalu merendahkan wajahnya dan berkata, "Kau benar-benar indah, Masamune. Aku sangat beruntung bisa melihatmu seperti ini."
"Motochika…" ucap Masamune lirih.
"Aku tidak akan membagi keindahan ini dengan siapa pun. Kau seutuhnya milikku…"
BRAK!
Mendadak apa yang sedang mereka lakukan harus terhenti ketika pintu kamar terbuka dan…
"Jadi, kau tidak akan rela berbagi keindahannya? Meski itu denganku, Motochika?"
-to be continue-
Chapter 3 coming up next!
