Love Shuffle
Disc: standard applied
.
.
Abarai Renji, duapuluh enam tahun, berdiri lemas setengah bersandar ke dinding lift yang membawanya naik ke lantai tempat tinggalnya. Tatapan matanya tertuju pada pemandangan di balik dinding kaca lift yang memungkinkannya untuk melihat pemandangan kota di malam hari seiring lift yang bergerak naik semakin tinggi. Malam ini awan mendung menutupi langit sehingga tidak ada satu pun bintang tampak di langit, namun lampu-lampu kota yang berpendar berwarna-warni terlihat indah bahkan di malam yang suram seperti ini.
Pemuda berwajah cukup tampan itu menghela napas, tiba-tiba saja ia merasa lelah. Kejadian hari ini amat sangat menyita energinya. Sepertinya tidak ada hal yang lebih buruk lagi dari ini, ia diputuskan oleh tunangannya tiga bulan sebelum hari pernikahan mereka. Tidak hanya kehilangan calon pengantinnya, kini ia juga terancam kehilangan pekerjaannya.
Mengencani putri presiden direktur tempatnya bekerja bukanlah hal yang baik ternyata.
Baru saja ia berpikir bahwa apapun yang dialaminya hari ini tidak mungkin berubah lebih buruk lagi, tiba-tiba saja lift yang dinaikinya berguncang dan berhenti.
"Apa-," tiba-tiba saja lampu penerang di dalam lift meredup sebelum kemudian padam sama sekali. Renji beranjak ke sisi lift dimana ia bisa melihat lampu seluruh kota pun serentak padam. Kini ia pun benar-benar diselimuti kegelapan, "Aaaargh!"
.
.
Ia tidak takut akan gelap. Sejak kecil ia tidak memiliki fobia pada kegelapan, ruang tertutup, atau tempat sempit. Tapi berada di ruang sempit yang tertutup dan gelap bersama dengan tiga orang pria asing yang tidak dikenalnya, kali ini Rukia merasa sedikit panik.
Paling tidak ketiga pria itu tidak terlihat jahat.
Rukia menghela napas, situasi ini benar-benar menyusahkan, seharusnya ia sudah berada di kamarnya saat ini dan beristirahat setelah hari yang melelahkan.
"Sepertinya kita akan terjebak di sini cukup lama..." Kata pria berambut hitam panjang yang tadi membukakan pintu lift untuk mereka. Baik ekspresi maupun nada bicaranya tenang dan tidak terkesan panik.
Setelah matanya terbiasa dalam kegelapan, Rukia mulai bisa melihat samar-samar ketiga pria yang sama-sama terjebak di dalam lift bersamanya itu.
"Seharusnya sih tidak lama," kata wanita bertubuh mungil itu sambil bersandar di salah satu dinding, dahinya berkerut sambil memandangi salah seorang pria berambut hitam tengah berjongkok dan mengeluarkan sesuatu dari tas hitam besar yang dibawanya, "ini Tokyo, bagaimana pun di kota metropolis seperti ini situasi begini harusnya bisa ditangani dengan cepat."
Pria berambut hitam pendek itu mengeluarkan suara kecil yang nyaris terdengar seperti suara tawa, sambil kemudian menyalakan benda yang rupanya sebuah lampu yang biasa digunakan dalam sebuah studio foto, "Justru karena ini ibu kota, maka respon dalam keadaan seperti ini akan lebih lambat." Ketika ia berdiri, ruangan itu telah menjadi lebih terang dengan bantuan lampu studio foto yang dibawanya. Pria itu tersenyum sok tahu sambil membenarkan posisi kacamata yang dikenakannya, "karena di tokyo, hampir semuanya sangat bergantung pada listrik."
Rukia menghela napas, pria bertubuh lumayan kurus itu benar juga. Mungkin mereka harus menunggu sedikit lebih lama dari yang ia inginkan.
"Jadi," Rukia menatap ketiga pria di hadapannya itu satu persatu. Meskipun ketiganya tidak tampak berbahaya tapi ia telah mempersiapkan dirinya kalau-kalau salah seorang dari mereka berusaha menyerangnya. Begini-begini, ia lumayan menguasai teknik beladiri, "kita sama-sama tinggal di lantai puncak apartemen ini tapi aku belum pernah melihat kalian sebelumnya. Bagaimana kalau kalian memperkenalkan diri kalian?" Rukia menambahkan sambil mengangkat kedua bahunya, "lagipula kalau kita terjebak bersama di lift ini paling tidak kita harus saling mengenal, kan?"
"Ah, baiklah," pria berambut merah yang bertubuh paling tinggi di antara mereka itu segera mengeluarkan dompet kulit dari saku celananya dan kemudian membagikan tiga lembar kartu nama pada ketiga orang lainnya, dalam hati Rukia menganggap perawakan dan wajahnya tidak sesuai dengan pakaian yang dikenakannya, "Aku tinggal di 28-C."
"Renji Abarai..." Rukia membaca kartu nama yang diterimanya sambil merogoh tasnya untuk mengeluarkan kartu nama miliknya, "kepala pegawai di perusahaan IT Inoue corporation."
"Wow, pekerjaanmu lumayan juga," pria berkacamata itu mengeluarkan dengusan yang menyerupai tawa menghina, "Meskipun namamu aneh..."
Pria berambut hitam panjang lainnya menaikan sebelah alis, "Namamu ditulis dengan kanji yang berarti 'cinta yang selanjutnya'," ia lalu menatap Renji dari ujung kaki ke ujung kepala dan tidak mengatakan apapun. Tapi Rukia tahu apa maksud tatapan itu. Ia pun merasa bahwa nama itu tidak sesuai dengan penampilan pemuda itu.
Renji mengerutkan dahinya, "Apa boleh buat, aku tidak bisa memilih nama yang dipilihkan orang tuaku!"
Rukia membagikan kartu nama miliknya dan membiarkan ketiga pria itu membacanya.
"Rukia. Pegawai kementrian departemen luar negeri..." Renji membaca apa yang tertulis di kartu nama itu keras-keras, "oh, wow!"
"Bagaimana kau bisa tidak memiliki nama keluarga?" tanya pemuda berkacamata itu masih sambil mengamati kartu nama gadis itu.
Rukia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Tidak ada hal yang mustahil di dunia ini kan? Kamu sendiri? Mana kartu namamu?" Rukia menadahkan sebelah tangan menagih kartu nama pemuda berkaca mata itu.
"Aku sedang kehabisan kartu nama. Biarkan aku memperkenalkan diri secara langsung, oke?" lagi-lagi ia membenarkan posisi kacamatanya, "Namaku Uryuu Ishida, aku adalah seorang fotografer."
"Uryuu Ishida?" Renji menaikan kedua alisnya mendengar nama itu.
Rukia menoleh ke arah pria dengan rambut merah panjang diikat itu, "Kalian saling kenal"
Renji menggeleng, "Tidak, hanya aku sering mendengar nama Uryuu Ishida, fotografer muda yang berbakat namun lebih memilih untuk memoto model telanjang dan erotis untuk majalah dewasa."
Rukia mengerutkan dahinya dan mundur selangkah, "Ew..."
Uryuu tidak tampak tersinggung sedikit pun, "Itu bukan foto telanjang atau erotis, itu karya seni."
"Yang kau lakukan dengan para modelmu itu bukan seni." gumam Renji entah mengapa sedikit terdengar iri tapi pria bernama Uryuu itu tidak berkomentar apapun.
"Dan anda?" Rukia memicingkan matanya pada pria muda yang berdiri di dekat pintu lift yang tertutup itu, pria berwajah tampan yang jelas tampak lebih tua dari mereka itu tampak tidak tertarik dengan pembicaraan mereka "Siapa anda? Anda tampak mencurigakan."
Tanpa berkata apa-apa, Pria mengeluarkan tiga lembar kartu nama dari dompetnya dan menyerahkan kepada ketiga tetangganya itu.
"Byakuya Kuchiki..."Rukia membaca nama pria itu keras-keras lalu dahinya berkerut. Ketiga pria yang bersamanya itu memiliki nama yang tidak lazim.
"Kuchiki Mental Clinic..." Renji membaca tulisan di kartu tersebut sebelum kembali menoleh ke arah pria tersebut, "Anda seorang dokter?"
Byakuya mengangguk, sulit untuk bisa membaca apa yang tengah ada di pikirannya, "Dokter jiwa lebih tepatnya. Kalau kalian butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan datang ke klinikku."
Baru saja seseorang dari ketiganya hendak mengatakan sesuatu untuk menanggapinya, tiba-tiba saja terdengar suara halilintar yang mengejutkan semuanya.
"Kyaaa!" Secara refleks, Rukia mendorong kuat-kuat Renji yang berdiri di sebelahnya
.
.
Tubuh Renji terlempar ke sisi lain ruangan sempit itu. Pundaknya membentur tembok lift dengan bunyi yang cukup keras. Kedua pria lainnya menatapnya tanpa berbuat apa-apa, keduanya masih sama-sama terkejut atas apa yang baru saja terjadi. Semuanya tidak menyangka dengan tubuh sekecil itu Rukia berhasil menghempaskan tubuh Renji ke sisi lain lift.
Wajah Rukia memerah. Suara petir barusan mengagetkannya dan secara refleks ia mendorong Renji yang berada di dekatnya. Ia tidak menyangka bahwa pria bermata merah yang baru ditemuinya hari ini itu akan terpental sejauh itu.
"Maafkan aku," Rukia tertawa serba salah.
Pria dengan rambut menyerupai nanas itu mencoba berdiri sambil mengusap pundaknya yang sakit, "Normalnya, gadis-gadis akan memeluk pria di saat mereka ketakutan kan?"
Rukia melipat kedua tangannya di depan dada dan menggelengkan kepalanya, "Reaksiku ini lebih alami. Mereka hanya ingin kelihatan imut. Yang kulakukan lebih natural."
Renji baru saja membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu saat Uryuu memanggilnya.
"Apa kotak itu milikmu?"
Renji melihat kotak biru kecil yang tergeletak di lantai. Buru-buru ia memungut kotak itu dan memeriksa isinya. Cincin berlian di dalamnya masih ada seperti semula dan tidak tampak lecet, ia bersyukur dalam hati. Baginya saat itu, cincin berlian itu seharga nyawanya.
"Wah, apa itu?" Mata keunguan Rukia bersinar melihat benda di tangan Renji, "Cincin? Kau akan melamar pacarmu? Waaah selamat ya!"
Renji mendengus dan menatap cincin di dalam kotak itu dengan tatapan putus asa. Ia kembali teringat kejadian hari ini dan kembali merasa terpukul teringat bagaimana tunangannya telah mencampakannya hari ini.
"Selamat ya," kata Rukia terdengar antusias, ia mengatupkan kedua tangannya dengan bersemangat, "kapan kau akan melamarnya?"
"Aku tidak akan melamarnya," gumam Renji.
"Hey," goda Rukia tanpa menyadari raut wajah Renji saat itu, "Jangan malu-malu... Kebahagiaan itu harus dibagi, cerita pada kami!"
Pria bertubuh setinggi 188 sentimeter itu menggelengkan kepalanya dan menggeram, "Aku tidak bahagia!"
Tetangganya itu menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Rukia tidak menyadari ketidaknyamanan Renji akan topik tersebut dan terus mendesaknya untuk menceritakan tentang rencananya melamar kekasihnya.
"Jangan seperti itu," Rukia mengerutkan dahinya, meskipun ia tidak suka terlibat terlalu jauh dengan orang yang baru dikenalnya namun cerita tentang hubungan cinta orang lain selalu membuatnya bersemangat, mungkin karena ia sendiri nyaris tidak pernah memiliki kisah cinta dengan siapa pun, "mungkin kamu malu, dan aku mengerti itu, tapi kalau kamu terus menolak mengakuinya, itu tidak sopan pada kekasihmu."
Uryuu tertawa datar, ia melirik Renji, "Rasanya aku cukup paham, menikah memang seperti neraka untuk tiap laki-laki muda!"
"Apa kau belum siap?" tiba-tiba saja bahkan Byakuya yang sejak tadi lebih banyak diam ikut menyumbangkan suaranya, "Merasa ragu menjelang pernikahan itu sesuatu yang wajar tapi jangan biarkan itu menghalangimu melakukan hal yang benar..."
Renji tidak mengatakan apapun. Dahinya berkerut dan matanya tertumpu pada kotak cincin yang ada di tangannya saat itu.
Rukia menghela napas, "Maksudku, kita tidak tahu sampai kapan kita akan terkurung di sini, paling tidak mendengarkan cerita bahagia dari akan membantu membunuh waktu..."
"Maka dari itu, sudah kubilang tadi kan? Tidak ada cerita bahagia..." Renji menutup kembali kotak itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya, "Tunanganku hari ini membatalkan pertunangan kami dan mengembalikan cincin ini padaku."
"Eeeeh?"
Renji sedikit terkejut saat ketiga teman barunya itu malah tampak lebih bersemangat mendengarnya. Ketiganya mendekat ke arahnya dan mengajukan pertanyaan bertubi-tubi padanya tanpa memedulikan perasaannya sama sekali. Uryuu dan Byakuya tidak tampak seantusias Rukia namun tampak ekspresi ingin tahu di wajah ketiganya.
"Eh? Apa yang terjadi? Kau selingkuh?"
"Dia selingkuh?"
"Kalian berdua selingkuh?"
Renji menggelengkan kepalanya, "Aku mencintai Orihime, dan aku tahu ia bukan tipe wanita yang akan dengan mudahnya berpaling hati..."
"Jadi?" Tanya Rukia bersemangat, "Apa yang terjadi?"
Pemuda malang itu hanya mengangkat kedua bahunya. Ia sendiri tidak tahu mengapa tunangannya itu tiba-tiba saja membatalkan pertunangan mereka tanpa alasan yang jelas.
"Ia hanya terus-terusan berkata "maaf"," kata Renji terus terang, "Aku berusaha menanyakan lebih jauh tapi tidak berhasil."
"Kalau kulihat dari sudut pandang seorang wanita," Rukia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menyentuh dinding lift dan ia menatap Renji dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilai, "kau cukup tampan, tubuhmu tinggi, dan pekerjaanmu menjanjikan. Karena kamu sanggup menyewa kamar di lantai teratas gedung ini, oh aku tahu berapa harga sewanya tentu saja, artinya penghasilanmu cukup besar..." Ia mengusap dagunya seolah berpikir, "mungkin ini soal personalitimu?"
Uryuu tertawa kecil dengan nada setengah mengejek, "Ah, ada 3P yang bisa memuaskan wanita dari seorang pria, personaliti yang unik, pengetahuan yang luas dan pen-"
"Hei," protes Rukia, "Tidak semua wanita memikirkan soal hal-hal mesum seperti itu!"
Uryuu memutar bola matanya, "Aku baru saja akan mengatakan, 'Penghasilan yang mencukupi'..."
Byakuya mengusap dagunya sambil berpikir sejenak, ekspresi wajahnya masih tenang, tidak berubah sedikit pun sejak tadi, "M ini hanya semacam sindrom ketakutan akan komitmen yang menyerang calon pengantin menjelang pernikahan mereka..."
Renji mengerang kesal, "Kenapa harus takut? Kami sudah berpacaran lima tahun lebih dan pernikahan hanyalah untuk mengganti nama belakangnya menjadi nama belakangku. Seharusnya ia tidak perlu takut!"
"Hei," protes Rukia lagi, kesal karena lagi-lagi laki-laki di sekitarnya menyalah artikan pernikahan, "bagi seorang wanita, arti pernikahan itu lebih dari itu!"
"Bagaimana denganmu?" Tanya Renji tiba-tiba mengejutkan Rukia, "Apa kau sudah pernah menikah?"
Rukia memerah, "Tentu saja belum!"
"Sudah kuduga," kata Uryuu setengah tertawa.
"Apa maksudmu?"
"Bisakah kalian berhenti saling berteriak?" Byakuya menyandarkan punggungnya di dinding lift dan melipat kedua tangannya di depan dada, "Kalian terlalu berisik."
"Bagaimana dengan Sensei?" Tanya Renji sambil menatap ke arah pria yang beberapa tahun lebih tua darinya itu, "apa Sensei sudah menikah?"
Byakuya mengangkat tangan kirinya tanpa berkata apa-apa, menunjukan jari-jarinya yang bersih dari cincin apapun.
"Pernikahan itu terlalu merepotkan," Uryuu bersandar di sudut lain lift, "di jaman seperti ini, pernikahan hanya soal hitam diatas putih. Merepotkan."
Renji baru saja akan mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba Rukia berjongkok memeluk lututnya di susut lain lift.
"Ada apa? Rukia-san?"
"Uh, aku baik-baik saja..." posisi Rukia yang berjongkok membelakangi ketiganya membuat ketiganya tidak bisa melihat seperti apa ekspresi wajahnya saat itu.
Rukia beruntung karena saat ini ia tidak ingin mereka melihat betapa merahnya wajahnya saat itu.
"Ada apa?" Tanya Uryuu menaikan sebelah alisnya.
"Kau akan melahirkan?" Renji setengah bercanda.
"Aku tidak sedang hamil!" teriak Rukia kesal, masih sambil berjongkok ia menoleh dan melotot ke arah Renji.
"Ah, aku tahu!" Renji paham, "kamu ingin buang air kecil ya?"
Wajah Rukia semakin memerah, "Aku akan menuntutmu atas pelecehan seksual!"
Ia memang sedang mati-matian menahan rasa ingin buang air kecil tapi itu tidak berarti pria yang baru dikenalnya beberapa saat yang lalu itu boleh mengatakannya terus terang seperti itu.
"Tenang saja," kata Renji jujur, "sebenarnya aku juga dari tadi..."
"Ini gawat," gumam Byakuya sambil mengerutkan dahinya, tiga pasang mata menatapnya dengan serius, "saluran kencing pada wanita lebih pendek sehingga sulit bagi wanita untuk mena-"
"Gyaaa! Hentikan, aku tidak mau dengar!" Rukia menutup kedua telinganya dengan tangan.
Renji menatap Byakuya dengan kagum, "Sensei luar biasa, karena seorang dokter, Sensei bisa mengatakan hal memalukan seperti itu dengan raut wajah tenang..."
"Tenang saja, aku punya cara," Uryuu tiba-tiba saja membuat perhatian ketiga orang lainnya terfokus padanya yang sejak tadi asyik membongkar tas kerjanya.
Uryuu mengeluarkan beberapa buah gelas kertas dari tasnya dan tersenyum lebar penuh arti pada teman-teman barunya itu.
"Jangan bilang," Rukia menghela napas, "'cara' yang kamu maksud itu..."
Uryuu mengangguk, "Kita bisa buang air di gelas kertas ini!"
"Yang benar saja!" Jerit Rukia, "Melakukannya di ruangan ini? Di depan kalian?"
Seumur hidup Rukia telah melakukan beberapa hal yang dianggapnya memalukan, tapi ia tidak akan pernah mau berbuat serendah itu. Tidak. Lebih baik ia mati.
"Kenapa tidak?" Tanya Uryuu lagi. Meskipun wajahnya tampak serius, namun sebenarnya ia hanya setengah bercanda. Tentu saja tidak semua orang memahani selera humor pemuda berkacamata itu, "kita tidak tahu sampai kapan kita akan terkurung di sini. Menahan buang air kecil itu tidak sehat lho... Kita bisa menghadap ke tiap-tiap sudut dan bernyanyi keras-keras untuk menutupi bunyinya..."
"Cukuuuuuup!" Rukia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Wajahnya bersemu merah, "aku tidak mau."
Uryuu tersenyum miring, "Aku cuma bercanda kok..."
Pemuda bertubuh ramping itu baru saja akan kembali memasukkan gelas-gelas itu ke dalam tasnya ketika Renji menjulurkan tangannya ke arah pemuda itu.
"Eh?"
"Berikan gelasnya padaku!"
"Eh?"
"Aku sudah tidak tahan!"
"Kau gila!" Tuding Rukia saat Renji membagikan gelas-gelas itu pada yang lainnya, "Aku tidak mau!"
"Kalau menahannya kamu bisa sakit!" Kata Renji terdengar serius, "kalau dilakukan bersama-sama akan terasa tidak terlalu memalukan."
"Tapi aku perempuan!"
"Tidak perlu malu!" Kata Renji lagi masih dengan keseriusan yang sama, "kalau melahirkan nanti kamu akan membuang semua rasa malu itu!"
"Sudah kubilang aku tidak hamil!"
Byakuya menatap gelas di tangannya. Ia tidak mengatakan apapun namun tatapan matanya jelas-jelas menunjukan keengganannya. Sejujurnya Ia juga ingin buang air kecil sejak tadi namun harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan hal bodoh seperti ini.
"Sudah, lakukan saja!" Kata Renji sambil berbalik arah menghadap salah satu sudut dan mulai bernyanyi keras sambil membuka risleting celananya, "You are the dancing queen..."
Uryuu mengangkat kedua alisnya, tidak menyangka kalau Renji akan benar-benar bernyanyi.
"Ah, pilihan lagu yang bagus," kata sang fotografer sambil berbalik menghadap sudut lainnya dan ikut bernyanyi lagu yang sama dengan suara nyaring, tidak setiap saat ia bisa berbuat gila seperti ini, "...young and sweet only seventeen."
Byakuya menghela napas sebelum akhirnya ikut berbalik menghadap sudut ketiga dan ikut bernyanyi.
"You can dance, You can jive..."
Rukia menatap ketiga pria yang kini telah menghadap ke tiga sudut berbeda itu dengan tatapan tidak percaya. Yang benar saja...
Di satu sisi, itu hal yang memalukan tapi di sisi lain ia sudah tidak bisa menahan diri. Ini adalah situasi darurat.
"Maafkan aku, Mama!"
Rukia baru saja akan berbalik menghadap sudutnya ketika lampu lift kembali menyala. Dalam beberapa detik lift pun bergetar dan mulai bergerak naik. Keempat penghuni apartemen yang terkurung dalam lift itu segera berlari ke arah tembok kaca panorama yang memungkinkan mereka melihat ke arah kota. Saat itu juga lampu-lampu di kota mulai kembali menyala.
Byakuya menghela nafas namun tidak mengatakan apa-apa. Ia kembali ke sudutnya dan melipat kedua tangannya kembali di depan dada. Menunggu dengan sabar sampai lift itu membawa mereka ke lantai tempat tinggal mereka.
Uryuu membenarkan letak kacamatanya, wajahnya tampak lega saat ia kembali ke posisi semula untuk mematikan dan memasukan lampu studionya ke dalam tasnya.
Renji mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangannya yang masih menggenggam gelas kertas kosong yang tadi hendak digunakannya.
"Untung saja kita belum melakukannya," kata Renji sambil tersenyum lega.
"Ah," Rukia menoleh ke arah ketiganya dan tersadar sesuatu, ia menuding ke arah ketiga pria itu sambil tertawa, "Kalian belum menaikan risleting celana kalian..."
Ketiga pria itu melihat ke diri mereka masing-masing dan tertawa menyadari kebodohan mereka, oh tentu saja sebenarnya hanya Renji yang tertawa, Uryuu dan Byakuya hanya tersenyum samar. Setelah lift kembali berfungsi dan listrik kembali menyala semua terasa lebih lucu.
"Kau tahu, Rukia, harusnya seorang gadis menjerit saat melihat hal seperti ini."
Rukia memutar bola matanya, "Yang benar saja, gadis-gadis yang berbuat seperti itu hanya ingin terlihat imut."
.
.
AUTHOR'S NOTE:
Makasih buat yg udah baca, Nasu seneng banget waktu lihat cerita ini sudah dibaca seratus kali (dan direview dua kali). Black cuma bisa nyengir, karena sepertinya nggak banyak yg tertarik dengan plot ini.
Black pikir, wah... jangan2 ini pada takut baca karena takut pairingnya nggak sesuai keinginan...
Yah... Dibaca dulu aja, nggak usah direview jg gak apa-apa... yg jelas cerita baru diupdate kalau udah ada 100hit/chapter :D
.
.
salam,
Black & Nasu Ranger
