Mafia's Complex

Uchiha Sasuke x Haruno Sakura

Crime, Drama, AU

Rate: M (for safe)

Naruto © Masashi Kishimoto

I do not take any profit from this story

.

.

.

Collab with Dian Hanamizuki

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

Story begin..

.

.

Pria tampan ber-emblem wakil presdir di dada mengambil langkah lebar. Menghasilkan bunyi memekik akibat gesek sepatu pantofel kulit miliknya yang beradu dengan ubin granit, menggema di sepanjang lorong lantai tertinggi gedung Haruno Corporation.

Tanpa perasaan ragu sedikit pun, pria itu menyeruak masuk ke dalam sebuah ruangan sembilan meter persegi dengan bagian pintu tertempel papan nama bertuliskan 'Presiden Direktur'. Maniknya langsung mendapati seorang wanita tengah duduk termenung dalam kursi kebesaran. Sebuah senyum kecut terlengkung di bibir tipisnya.

"Ada apa Nona memanggil saya?" pria itu mengeluarkan suara. Kembali melangkah mendekati sang wanita yang ternyata belum menyadari kehadirannya. Wanita cantik itu masih termenung dengan pandangan kosong lurus ke depan.

"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya pria itu lagi. Manik matanya tak berhenti menelisik setiap jengkal tingkah polah wanita yang dipanggil nona tersebut.

"Sai-san..." Menghela napas kasar, wanita itu memanggil si pria dengan suara rendah. Namun atensinya tak teralih untuk sekedar menatap sang pria. "Aku gagal memenangkan tender itu," adunya tercekat.

Manik wanita itu terpejam sesaat seiring terlepasnya hidrogen dari dalam tubuh. Masih tak percaya dengan kejadian yang dialaminya beberapa jam lalu. Impulsnya berusaha bekerja lebih keras untuk menemukan sebuah alasan agar kejadian di Bangkok bisa diterima logika. Sekali lagi dengusan keras tercipta dari bibirnya.

Kening Sai seketika membentuk sekumpulan garis tipis. Tangan yang sedari tadi ia masukkan ke saku celana beralih menyidekap di depan dada. "Apa? Bagaimana bisa, Nona?"

Kornea Haruno Sakura bergerak menatap Sai yang berdiri tepat di depan mejanya. Ia menarik napas berat sesaat sebelum kembali bersuara. "File yang sudah kusiapkan tak dapat terbuka. Aku tidak mengerti."

Sai bergeming. Kilat matanya masih menatap wanita angggun itu dengan sorot yang menyiratkan 'Bagaimana bisa?'. Namun sebelum Sakura menyergah semua yang tersirat di matanya, pria itu terlebih dahulu bersuara. "Maafkan saya. Tapi hal yang sama juga terjadi saat rapat, Nona."

Sakura mendelik tajam ke arah Sai namun pria itu hanya mengangkat bahu tak acuh, seketika membuat bahu wanita cantik itu melemas dalam hitungan detik. Kilat matanya pun terlihat semakin meredup kala kalimat yang dikeluarkan Sai menyapa gendang telinga. Kepala Sakura juga semakin berdenyut bagaikan dipukul dengan palu. Sekarang denyutan itu berubah menjadi dengkungan panjang, lalu berubah mendengung.

"Nona, Anda baik-baik saja?" pertanyaan retoris itu kembali menguar dari mulut Sai. Ia merasa khawatir dengan raut atasannya yang seketika berubah pucat pasi.

Wanita itu menatap Sai dengan sorot kuyu, "Aku baik-baik saja." Sekali lagi Sai mendengar Sakura menghela napas. "Lalu bagaimana dengan rapatnya? Apakah tetap berjalan?"

Sai mengangguk pelan dengan seulas senyuman pahit. "Ya. Kami membahas tentang permasalahan yang terjadi di perusahaan akhir-akhir dan juga tentang Nona."

Kedua alis Sakura bertaut. Tepatnya tidak mengerti dengan pembahasan seperti yang dimaksudkan Sai. Telunjuk kurus itu menunjuk wajahnya sendiri. "Aku?"

"Sebelumnya saya meminta maaf jika hal ini menyinggung perasaan Nona, tetapi mereka semua mengeluhkan kualitas perusahaan semenjak jatuh ke tangan Anda," Sai menunduk beberapa saat untuk meminta maaf. Sungguh ia merasa lancang dengan pembahasan seperti ini.

Sakura membeku beberapa detik. Tak memberikan tanggapan sama sekali atas ucapan Sai. Otaknya yang belum kembali terasa sehat terpaksa menelan langsung kalimat yang dilontarkan Sai. Dan entah mengapa rasa ketakutan tiba-tiba menyergapi hati Sakura kala pikiran negatif tentang Haruno Corporation runtuh di tangannya kembali berkelebat.

"Mereka mengatakan, saat perusahaan masih di bawah kepemimpinan Tuan Haruno Kizashi hal-hal semacam ini tidak pernah terjadi. Saham perusahaan juga tidak pernah kecolongan posisi untuk bertahan di tiga besar bursa saham dan juga... perusahaan tidak pernah mengalami krisis inflasi yang membengkak."

Sai terus berceloteh membeberkan seluruh hasil rapat diskusi panjangnya bersama direksi tanpa mengindahkan wanita di hadapannya yang sudah membenamkan wajah di meja; tanda jika wanita itu mulai kelelahan dengan beban yang semakin berat menumbuk di kedua bahunya.

"Bisakah kauhentikan ocehanmu?" Sakura mengangkat kepala dan memohon pada Sai untuk membungkam mulutnya beberapa saat saja. "Rasanya kepalaku hampir meledak," keluhnya memijit pelipis yang terasa berdenyut sakit. Ini benar-benar di luar kendali.

Iris Sai seketika melebar. Ia baru tersadar ucapannya tadi telah membuat beban Presdirnya semakin memberat. "Ah. Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya..."

"Tidak apa-apa. Aku mengerti," potong Sakura mendengus cukup kentara. Ia meraih secangkir teh oolong yang sudah tiga puluh menit tersaji di sisi kanan lalu menyesapnya. Sakura berharap aroma relaksan yang dihasilkan teh tersebut mampu menghilangkan sakit kepalanya.

"Sai-san," panggilnya setelah menandaskan teh dari cangkir.

Sai yang masih terdiam dengan wajah sedikit menunduk kembali menegakkan tubuh. "Ya, Nona?"

"Apa kau juga berpikir kalau aku tidak pantas memegang jabatan ini?" Sakura memalingkan wajah, berusaha menahan air mata yang hendak menyeruak. Seharusnya dari awal ia menolak jabatan yang disodorkan ayahnya karena ia seorang wanita. Pekerjaan ini terlalu berat untuknya. Jika ia bertahan beberapa tahun lagi, dapat dipastikan rambut pink kebanggaannya akan semakin menyusut. Sakura jelas tidak akan rela.

"Err...," Sai segera memangkas kalimat yang hampir saja tercetus dari mulutnya dengan sebuah tawa hambar. Ia terkekeh pahit tentang hal-hal yang seharusnya tak perlu atasannya katakan. Tetapi ia berusaha menjadi seorang pendengar yang baik.

"Apa kau berpikir aku terlalu ceroboh untuk menerima semuanya?" Masih dengan tema sama, Sakura tidak bosan untuk melontarkan pertanyaan retoris macam itu. Sedangkan Sai masih bertahan dengan ekspresi bingungnya. Pria itu kehilangan ide untuk memasang ekspresi yang mana yang terbaik di hadapan Sakura.

Iris emerald Sakura bergerak menatap wajah tampan Sai. Memastikan reaksi apa yang ditunjukkan pria itu tentang pertanyaannya, kemudian ia mengulum senyum tipis ketika ekspresi bingung yang ia dapat. "Ah. Lupakan saja," seloroh wanita itu. Membuat Sai kembali mengumbar tawa hambar.

"Ah, Sai-san, tolong masalah ini jangan sampai ayah mendengarnya," pinta Sakura dengan ekspresi putus asa. Pupilnya menatap memohon pada wakil presdir yang masih berdiri di hadapan.

Sai mengangguk mantap, mengulas senyum simpul. "Baiklah, Nona."

.

.

.

Iris sehitam arang memandang dari balik jendela. Menyidekap kedua tangan di dada, ia membenarkan letak surai raven-nya yang tertimpa angin. Dingin pagi dan pria tampan dengan balutan jubah mandi di sebuah kamar hotel mewah bukan sebuah rahasia lagi. Ia menghela napas berat.

Kepalanya sedikit memutar ke kiri di mana seorang wanita masih tertidur lelap dengan selimut menutup sampai batas leher. Pria itu tersenyum kecut. Meraih ponsel pintar, ia lantas menghilang di balik pintu kamar mandi.

Lima belas menit kemudian pria itu telah rapi dengan setelan jas mahal juga sepatu hitam yang tampak mengkilap. Melenggang begitu saja meninggalkan sang wanita yang bahkan masih akrab dengan mimpinya. Memainkan kunci, satu tangan ia masukkan ke dalam saku celana.

Sekali lagi ia menghela napas mengecek arloji mahal yang melingkari lengan kirinya. Pukul lima lebih tiga puluh empat menit, pantas saja lift yang ia tumpangi hanya berisikan dia seorang. Membosankan, pikirnya melangkahkan kaki setelah pintu lift berdenting dan terbuka dengan sendirinya.

Pagani Huayra warna merah menyala menyambutnya di lobby hotel. Dengan segera ia naik, berlalu dengan kecepatan tinggi di pagi yang seharusnya masih tenang itu.

.

.

.

"Nara Shikamaru."

Pria yang sedari tadi berkutat dengan Macbooknya mengalihkan pandangan. Di hadapannya seorang wanita muda bersurai pirang menghempas bobot tubuhnya ke kursi. Memberikan tatapan menyelidik pada tumpukan kertas hasil print out, juga dua Macbook yang masing-masing masih menyala.

Shikamaru menunduk singkat menyunggingkan seringai tipis. "Sebuah kehormatan Nona muda mengunjungi saya," ucapnya merapikan kertas-kertas yang berserakan.

Wanita itu mengangguk, memerhatikan deretan kanji pada kertas-kertas yang sedang Shikamaru bereskan. "Apa yang sedang kaukerjakan?"

Shikamaru mendesah sebelum menyamankan tubuhnya di bantalan kursi. Matanya menengadah langit-langit, cukup lama memerhatikan warna putih cat dan lampu gantung. Terlihat seperti sedang menimang sesuatu. "Hanya sedikit laporan mengenai Haruno Corporation," Shikamaru kembali menatap nona muda di hadapannya. Ia menyeringai, "Dan tentunya kinerja teman-teman kecilku di sana."

.

.

.

Suara tepuk tangan menggema memadati cafe yang ramai pengunjung hari ini. Tak terkecuali di meja nomor empat; tiga pria tampan berpakaian mahal, dua di antara mereka bahkan dengan repot-repot bersiul saat penyanyi cantik berbusana minim turun dari panggung. Sementara pria yang satu lagi tetap bersikap datar, hanya menyesap sedikit espresso yang sudah mulai mendingin tanpa berniat menanggapi.

"Sudah kubilang Shion memang penyanyi terbaik cafe ini. Akui saja, kalian juga berpendapat sama, 'kan?" pria dengan jaket biru tersenyum lebar menepuk pundak kedua temannya.

"Yeah. Kuakui seleramu kali ini bagus Namikaze Naruto." Pria dengan kupluk hitam memiringkan kepalanya menatap Naruto. Lalu atensinya teralih pada satu-satunya pria yang sedari tadi tak membuka mulut. "Hei Sasuke, kau setuju tidak?"

Pria yang dipanggil Sasuke menengadah. Kedua matanya memutar jengah menatap Naruto yang makin melebarkan cengiran. Juga Sasori-pria dengan kupluk hitam-yang menunggu jawabannya. "Lumayan." Tanpa aba-aba ia menyambar jaket yang tersampir di bantalan kursi, memakainya asal menyambar resleting. "Akasuna, kau traktir dulu Naruto. Aku harus pergi."

.

.

.

Segelas Milagro Tequila berwarna silver kembali tersaji di atas meja bar. Jika dihitung sudah yang ketiga kalinya minuman itu tertuang. Ruas jemari panjang milik satu-satunya wanita yang terduduk di meja bar dengan sigap meraih gelas sloki yang tersodor ke arahnya. Ia menenggak tequila di genggaman kemudian dengan segera menggigit sepotong jeruk nipis.

Wanita itu mendesah saat rasa getir dari tequila bercampur rasa asam dari jeruk nipis itu melewati tenggorokannya. Ternyata rasanya masih tetap sama; rasa getir bercampur asam itu tetap tidak mempan meluruhkan sampah pikiran yang rasanya sudah membebal di otaknya. Wanita itu mendesah sekali lagi.

Bartender yang sejak tadi melayani wanita itu tampak menyeringai kecil, dengan ujung mata yang tak pernah terputus menatap wajah porselen tertimpa cahaya warna warni dari lampu bola berpendar di langit-langit itu. "Tambah lagi, Nona?" tawarnya menyeringai puas.

Haruno Sakura-wanita yang dipanggil nona-mengangkat tangan kemudian mengangguk pelan. "Satu lagi," pintanya menyodorkan gelas sloki yang sudah kosong.

Seringaian bartender itu semakin melebar. Ia mengangkat botol tequila yang masih setia berada di tangan kirinya, kembali menuangkan cairan bening ke dalam sloki. Satu sloki Milagro Tequila kembali ia sodorkan bersama satu jeruk nipis yang sebelumnya telah ia potong kecil-kecil.

Sebuah tangan besar tiba-tiba merampas sloki berisikan tequila yang tersodor untuk Sakura sebelum wanita itu sempat meraihnya. Membuat kepala Haruno Sakura yang sudah memberat terpaksa terangkat untuk melihat si pemilik tangan besar yang sudah merampas minumannya.

"Rasanya kurang enak jika minum sendirian, bukan?" pria itu meraih potongan jeruk nipis. Ia menegak tequila, kemudian menyesap jeruk nipisnya.

Sakura berdesis sebal menatap sinis pria yang sedang menikmati tequila miliknya. Pria itu mengacungkan telunjuk, memberi kode pada sang bartender untuk menyajikan satu sloki tequila lagi untuknya.

"Sendirian?" tanyanya sambil menyeringai. Ia menghempas bobot tubuhnya di kursi kosong samping kursi Sakura.

Sakura terkekeh kecil. Ia merebut gelas sloki tequila yang tersodor untuk pria itu sebelum menjawab. "Retinamu masih normal, 'kan?" tanyanya ketus.

Pria itu terkekeh. Menurut pemikirannya wanita cantik yang berada di kursi samping sangatlah menarik, dan jika boleh menilai ia percaya wanita ini sudah terbiasa dengan anggur merah; terlihat dari caranya menegak tequila yang seperti seorang profesional. Dan tentu saja area seringainya semakin melebar. Pria itu sangat menyukai wanita liar.

"Siapa namamu?" dengan lancang pria itu mengguit dagu Sakura. Seringai yang sedari tadi terpampang di bibirnya juga tak pernah lekang.

Sakura menatap sinis pria yang baru ia sadari sudah duduk di sampingnya kemudian mendengus kasar. "Kau terlalu banyak bicara!" sungutnya merogoh tas, melempar kartu nama pada pria itu. "Itu namaku. Kuharap pria sepertimu masih ingat bagaimana caranya membaca," kali ini Sakura yang menyeringai jahil.

Pria itu meraih kartu nama yang terlempar ke arahnya. Ia mengeja nama dalam kartu itu, seringai lagi-lagi terpampang di wajahnya. "Haruno Sakura, nama yang cantik."

Wanita itu hanya menyeringai. Ketika ia hendak meminum tequila yang belum sempat ditenggak, tiba-tiba pria aneh itu kembali merampas slokinya. "Mau mencoba Tequila's Strong Love?"

"Boleh," Sakura antusias. Membuat pria itu menyeringai. Ia mengambil potongan jeruk nipis kemudian diletakkan di mulutnya agak sedikit mencuat keluar agar nanti Sakura bisa menggigitnya dengan mudah. Lalu Sakura menenggak sekali lagi satu sloki tequila, kemudian dengan segera ia menyambar jeruk nipis yang ada di bibir pria itu. Sakura menyesap dalam-dalam jeruk nipis hingga sarinya mengering. Sementara pria itu menyeringai merengkuh pinggang Sakura agar tidak merosot jatuh.

"Satu voucher menginap di hotel Yamanaka Corp dan satu botol Margarita untuk anda, Tuan," sang bartender mengangsurkan sebuah voucher dan sebotol margarita ke arah pria tadi. Tangan bebas pria itu terjulur meraba meja bar, meraih voucher tersebut kemudian mengacungkannya, dan bartender itu sekali lagi menyeringai.

"Sebelum itu, boleh aku tahu namamu, Tuan Tidak Sabaran?" Sakura yang sedari tadi menyamankan diri di pelukan pria itu menengadah. Memerhatikan rupa pria yang akan menikmati malam indah bersamanya.

Pria itu menyeringai kecil. Ia mencoba berjalan dengan posisi memeluk bahu Sakura. "Panggil aku Sasuke."

To Be Continued..

A/N: Kyaaa seneng banget dapet respon dari kalian yg review maaf yah belum bisa dibales satu2 tapi dibaca semua kok ^^ hehe. Terima kasih juga buat yg sudah favorite & follow, semoga chapter ini memuaskan yah ^^

Regards,

Nadhea Rain